Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Pengaruh Terapi Seft Terhadap Penurunan Tingkat Kecemasan Pada Para Pengguna Napza Dewi, Inggriane Puspita; Fauziah, Diana -
Jurnal Keperawatan Muhammadiyah Vol 2, No 2 (2017): JURNAL KEPERAWATAN MUHAMMADIYAH
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (246.63 KB) | DOI: 10.30651/jkm.v2i2.1094

Abstract

AbstrakGangguan kecemasan adalah suatu perasaan subjektif mengenai ketegangan mental yang menggelisahkan sebagai reaksi umum dan ketidakmampuan mengatasi suatu masalah atau tidak adanya rasa aman. Sedangkan terapi SEFT adalah gabungan antara Spiritual Power dan Energy Psychology yang dapat mengubah kondisi kimia di dalam otak (Neurotransmitter) yang selanjutnya dapat mengubah kondisi emosi seseorang termasuk depresi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adakah pengaruh terapi SEFT terhadap penurunan tingkat kecemasan pada para pengguna NAPZA di Yayasan Grapiks Kecamatan Cileunyi Kabupaten Bandung. Penelitian ini menggunakan rancangan kuantitatif dan berjenis pra-eksperimental. Pendekatan yang digunakan adalah one-group pre-post test design. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah consecutive sampling dengan jumlah sampel 23 responden. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh terapi SEFT terhadap penurunan tingkat kecemasan pada para pengguna NAPZA di Yayasan Grapiks Kecamatan Cileunyi Kabupaten Bandung, dengan nilai p < 0,001. Karakteristik responden meliputi jenis kelamin, kategori pecandu dan jenis NAPZA yang digunakan tidak berpengaruh terhadap penurunan tingkat kecemasan pada para pengguna NAPZA yang diberikan terapi SEFT, terkecuali usia. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi rujukan untuk melakukan penelitian lanjutan. Kata Kunci      :Kecemasan, NAPZA, SEFT, Tapping, Remaja Akhir, Dewasa Awal.
KUALITAS TIDUR PASIEN GAGAL JANTUNG DAN PENANGANANNYA Puspita Dewi, Inggriane
Jurnal Keperawatan Komprehensif Vol 3, No 1 (2017): Jurnal Keperawatan Komprehensif
Publisher : STIKep PPNI Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (295.836 KB)

Abstract

Prevalensi gagal jantung meningkat seiring dengan usia, dan mempengaruhi 6-10% individu lebih dari 65 tahun. Penderita gagal jantung sering mengalami hipersomnia di siang hari, tetapi kurang tidur atau sering terbangun dari tidur di malam hari karena sesak. Gangguan tidur ini dapat berupa SDB (sleep disordered breathing), DMS (difficulties maintaining sleep) dan EDS (excessive daytime sleepiness) lebih sering terjadi pada lansia dengan gagal jantung. Literature review ini bertujuan untuk menemukan bukti-bukti (evidence) kualitas tidur pada pasien gagal jantung serta penanganannya. Studi literatur dari beberapa jurnal yang bersumber dari medline, dengan kata kunci Sleep Quality dan Heart Failure, sebanyak 5 jurnal dipilih untuk direview. Hasilnya adalah kekurangan tidur pada penderita gagal jantung berdampak terhadap kualitas hidupnya, cenderung menderita depresi yang berdampak terhadap peningkatan kematian, sudden cardiac death dan ventrikuler aritmia. Penanganan berupa terapi farmakologis dan non farmakologis. Implikasi terhadap ilmu keperawatan dari masalah kualitas tidur pasien gagal jantung, diupayakan mengembangkan model terapi regimen non farmakologi, dengan mempertimbangkan aspek psikososial dan spiritual.
Pemanfaatan Seft Sebagai Modalitas Therapy Community (TC) Untuk Kesehatan Mental Dan Spiritual Pecandu Napza Inggriane Puspita Dewi; Siti Ulfah Rifa’atul Fitri
Jurnal Pengabdian UntukMu NegeRI Vol 4 No 1 (2020): Pengabdian Untuk Mu negeRI
Publisher : LPPM UMRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (544.613 KB) | DOI: 10.37859/jpumri.v4i1.1895

Abstract

National Narcotics Agency (BNN) of Bandung records that there are 25,000 young people in Bandung who are drug users. Based on the results of interviews with ten prisoners said they often feel bored, stressed, depressed, sad and hopeless. Based on this phenomenon it was necessary to support rehabilitation programs for drug addicts through therapy with a spiritual approach. A spiritual approach is Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) therapy, which is a combination of Spiritual Power and Energy. The results of the activity showed that the participants were able to do self-healing using the SEFT method, which was felt to be effective in helping participants manage emotional and spiritual problems during the prison, evidenced by an increase in the percentage of self-control ability and a positive effect, while anxiety and depression decrease. Participants also experienced an increase in the percentage of positive religious coping. Therefore, prisons are advised to keep monitoring self-healing activities with SEFT which is recommended to be routinely carried out by rehabilitation participants even though the program has finished, because at any time the participants' mental and spiritual health conditions may change. Keywords : addicted, SEFT, spiritual, mental
Hubungan Karakteristik Perawat Dengan Pelaksana Asuhan Keperawatan Spiritual Islami Di Ruang Inap Dewasa Rumah Sakit Kabupaten Bandung Inggriane Dewi; Rahmat Rahmat; Suryadi Alamsyah
Jurnal Smart Keperawatan Vol 7, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Karya Husada Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34310/jskp.v7i2.346

Abstract

Kesenjangan antara pemenuhan kebutuhan spiritual oleh perawat dengan yang diterima oleh pasien rawat inap dewasa di rumah sakit Kabupaten Bandung ini mendorong sebuah penelitian dengan tujuan menganalisis implementasi asuhan keperawatan spiritual muslim di ruang rawat inap dewasa. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif korelatif, dengan pendekatan Cross Sectional sampel dalam penelitian ini adalah semua perawat pelaksana yang melakukan tindakan langsung kepada pasien yaitu sebanyak 39 orang dan pasien yang telah dirawat di ruangan ≥ 3 hari. Teknik pengambilan data dengan menggunakan kuesioner bagi perawat dan pasien, selain itu peneliti melakukan observasi terhadap dokumentasi asuhan spiritual Islami yang telah dilakukan perawat serta wawancara pada perawat.Hasil penelitian menunjukan pelaksanaan spiritual care Islami di ruang rawat inap dewasa ini, sebagian besar belum terlaksana (53%), data didukung oleh pernyataan pasien (68%) mengatakan kurang mendapatkan asuhan spiritual dari perawat serta aspek pendokumentasian yang kurang (33%) untuk pengkajian dan penegakan diagnosa keperawatan, sementara untuk perencanaan, implementasi dan evaluasi 100% tidak terdokumentasi. Terdapat hubungan antara jenis kelamin, pelatihan dan lama kerjaperawat  dengan pelaksanaan asuhan keperawatan spiritual Islami (nilai P = 0,000) dan terdapat hubungan jenis kelamin dan lama kerja perawat dengan pendokumentasian asuhan keperawatan spiritual Islami dengan (nilai P 0,000).Kata kunci                : asuhan keperawatan spiritual islami; perawat; dokumentasiTHE CORRELATION BETWEEN NURSE CHARACTERISTICS AND THE IMPLEMENTATION OF ISLAMIC SPIRITUAL NURSING CARE IN ADULT WARD OF BANDUNG DISTRICT HOSPITAL Abstract  The gap between the fulfillment of spiritual needs by nurses and those received by adult inpatients room at Bandung Regency hospital encourages a study with the aim of analyzing the implementation of Muslim spiritual nursing care in adult inpatients. The research design used in this study was descriptive correlative, with a cross sectional approach. The sample in this study were all nurses who took direct action on the patient, as many as 39 people and patients who had been treated in the room ≥ 3 days. The data collection technique used a questionnaire for nurses and patients. In addition, the researcher made observations on the documentation of Islamic spiritual care that had been carried out by nurses and interviews with nurses. The results of the study show that the implementation of Islamic spiritual care in inpatient rooms today has not largely been implemented (53%), the data is supported by statements of patients (68%) saying they do not get spiritual care from nurses and lack of documentation (33%) for assessment and enforcement of nursing diagnoses, while for planning, implementation and evaluation they are 100% undocumented. There is a relationship between gender, training experience and length of work of nurses with the implementation of Islamic spiritual nursing care (value P = 0.000) and there is a relationship between gender and length of work of nurses with documentation of Islamic spiritual nursing care with (P value 0,000).. Keywords: islamicspiritual nursing care;nurse; documentation
Edukasi Protokol Kesehatan untuk Komitmen Kepatuhan Pencegahan Penularan dan Edukasi Spiritual untuk Menurunkan Kecemasan Masa Pandemi Covid-19 Melalui Kulwap Inggriane Puspita Dewi
Media Karya Kesehatan Vol 4, No 1 (2021): Media Karya Kesehatan
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/mkk.v4i1.28940

Abstract

Pemerintah telah menetapkan berbagai kebijakan terkait pencegahan penularan Covid-19 ini, diantaranya kebijakan social distancing, edukasi tentang pola hidup bersih dan sehat, serta pembatasan sosial berskala besar (PSBB), namun kenyataannya, masih banyak terlihat pelanggaran – pelanggaran yang dilakukan masyarakat terkait kebijakan pemerintah ini, sehingga resiko penularan dan peningkatan kasus penyakit akibat Covid 19 ini bisa meningkat. Dampak Covid-19 salah satunya adalah menimbulkan kecemasan terhadap masayarakat karena penyakit ini dianggap mengancam kehidupan masyarakat. Edukasi diberikan meliputi tema tentang pengenalan penyakit Covid-19, dampak yang bisa ditimbulkan, pencegahan penyakit, serta protokol kesehatan yang harus dilakukan agar penularan dapat diminimalisir, seperti kebiasaan hidup bersih dan kepatuhan menjaga jarak, juga diskusi spiritual, untuk membingkai ulang tentang persepsi penyakit dan sikap positif menghadapi pandemik Covid-19. Hasil dari pengabdian masyarakat ini menunjukan adanya peningkatkan komitmen sebesar 11%  untuk menjaga jarak serta kebiasaan hidup bersih dan menurunnya level kecemasan sebanyak 77% menjadi tidak  cemas. Kesulitan menjaga jarak karena tuntutan pekerjaan yang mengharuskan tetap bekerja seperti biasa. Pemanfaatan media sosial seperti kuliah melalui Whatsapp (KulWap), menjadi salah satu solusi untuk mengedukasi masyarakat baik edukasi tentang kesehatan fisik maupun mental-spiritual.Kata kunci: Cemas, covid 19, edukasi, kepatuhan, spiritual. 
Determinant Factors of Supervisor Model 4S (Structure, Skill, Support, Sustainability) Against the Implementation of Islamic Spiritual Care Inggriane Puspita Dewi; Dewi Mustikaningsih
Jurnal Keperawatan Vol. 12 No. 1 (2021): January
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.872 KB) | DOI: 10.22219/jk.v12i1.13231

Abstract

Introduction: The supervision model commonly applied in nursing is the 4S model, namely the Structure, Skill, Support and Sustainability (4S) stages. This supervision model can be applied by the head of the room and the head of the shift as a supervisor in overseeing the implementation of Islamic spiritual nursing care in adult inpatient rooms. Purpose: to analyze the relationship between the role of the 4S supervisor model and the implementation of Islamic spiritual nursing care in adult inpatient rooms. Methods: the study used a cross sectional method. The sampling technique with a proportionate stratified random sampling was 62 nurses. Data analysis used univariate, bivariate analysis with Spearman test, and multivariate with logistic regression. Results: showed the role of the 4S supervisor model was good (88.7%), the implementation of Islamic nursing care was good category (52%), there was a relationship between the role of model supervision 4S with the implementation of Islamic spiritual care, with a significance value of <0.0001 and the strongest relationship between the 4S model and the implementation of Islamic spiritual care is the variable skill and sustainability, seen from the significance value for skills of 0.05 (Pvalue ≤0.05), and sustainability of 0.01 (Pvalue ≤0.05). The strength of the relationship is seen based on the OR [EXP {B}] value, respectively, skill (0.194) and sustainability (0.109). Discussion: The probability of nurses implementing Islamic nursing care well is 90% if they provide Islamic spiritual nursing care skills and continuous supervision by the hospital supervisor. 
Analysis of Nurses' Knowledge in Determining Diagnosis of Islamic Spiritual Nursing Care in Sharia Hospitals Inggriane Puspita Dewi; Nurohmah Suwandi; Fikri Rizki Fadlurrahman
Jurnal Ilmiah Keperawatan Indonesia [JIKI] Vol 4, No 1 (2020): Jurnal Ilmiah Keperawatan Indonesia [JIKI]
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/jiki.v4i1.2925

Abstract

One of the standards that must be met by sharia hospitals is to provide comprehensive Islamic spiritual services, by all hospital staff, including in nursing services. Determination of Islamic spiritual nursing diagnosis in sharia hospital services is the main thing that must be known by nurses. This study aims to analyze the level of knowledge of nurses in determining the diagnosis of Islamic spiritual nursing care in a Sharia hospital in Bandung, through a correlational research method with a cross sectional approach. The sampling technique used was simple random sampling, a total of 50 adult inpatient nurses who met the inclusion and exclusion criteria. The results showed that the average value obtained by nurses after filling out a questionnaire about determining spiritual nursing diagnoses was 44.16, the level of knowledge of nurses in determining spiritual nursing diagnoses in sharia hospitals was a sufficient category (42%), but on average they were not able to differentiate (C3) definitions between spiritual nursing diagnoses (≥50%). Spiritual care education and training have a close relationship with the knowledge level of nurses, with a significant value <0.0001 and a correlation coefficient of 1.00. The results of the research can be used as a reference for training and further education for nurses so that their knowledge can increase and become basic data for further research. Keywords: Knowledge, Nursing diagnosis, , Spiritual
Pengaruh Terapi Bacaan Al-Qur’an (TBQ) sebagai Biblioterapi Islami pada Kesehatan Mental Narapidana Lesbian Inggriane Puspita Dewi; Redita Aida Suryadi; Siti Ulfah Rifa’atul Fitri
Faletehan Health Journal Vol 7 No 02 (2020): Faletehan Health Journal, Juli 2020
Publisher : Universitas Faletehan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33746/fhj.v7i02.135

Abstract

The capacity of detention and prisons in Jawa Barat currently has an excess of up to 52%, one of the impacts that occur is sexual behavior distortion. Deviations in sexual behavior can be caused by low mental of inmates. The use of Islamic bibliotherapy as an intervention for mental health has not been done in this lesbian group. The purpose of this study to find out the effect of Islamic bibliotherapy on mental health of female prisoners who experience sexual orientation deviations (lesbian). Quantitative research with quasi-time series design experiments. The sample of this study was 22 respondents. Respondents were given a Mental Health Inventory, then were given interventions: 1) Al-Quran reading session and 2) reading Islamic bibliotherapy one time every Friday for three consecutive weeks with different themes. The bivariate analysis in mental health used the Repeated Measures Anova. There is an effect of Islamic bibliotherapy therapy mental health (p = 0.001). Islamic bibliotherapy can be an option for spiritual intervention for a group of lesbians to improve their mental health.
Pelatihan Kader Kesehatan Remaja untuk Meningkatkan Capaian Indikator Sehat Siswa/I di Pondok Pesantren Inggriane Puspita Dewi; Santy Sanusi; Imas Maryati
ABDIMAS: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 2 No. 1 (2019): ABDIMAS UMTAS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : LPPM Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (419.535 KB) | DOI: 10.35568/abdimas.v2i1.263

Abstract

Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) adalah usaha untuk membina dan mengembangkan kebiasaan dan perilaku hidup sehat pada peserta didik usia sekolah yang dilakukan secara menyeluruh (komprehensif) dan terpadu (integrative). Hasil pengkajian awal bekerjasama dengan tim UKS pondok pesantren Baiturahman-Ciparay, didapatkan data angka kesakitan yang dialami siswa secara umum baik SMP maupun SMA adalah 43% mengeluh batuk-pilek, 15% mual-muntah, 30% demam tinggi, lain-lain 12%, dari total jumlah siswa/i sebanyak 430 orang. Selain itu wawancara secara acak, beberapa siswa/i merasa tidak nyaman berada di asrama dan jauh dari orangtua. Pihak pondok pesantren telah berupaya untuk menekan angka kesakitan, salah satunya dengan membentuk kader kesehatan remaja (KKR) , terdiri dari peserta didik yang dipilih guru guna ikut melaksanakan sebagian usaha pelayanan kesehatan terhadap diri sendiri, teman peserta didik pada khususnya dan sekolah pada umumnya, belum ada pelatihan yang terstruktur berdasarkan kurikulum kesehatan remaja. tujuan dari pengabdian masyarakat yang dilakukan ialah memberikan pelatihan pada KKR agar mampu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan KKR untuk meningkatkan capaian indikator sehat yang telah ditetapkan oleh UKS. Kegiatan pelatihan meliputi pemberian materi, praktik serta demonstrasi keterampilan seperti P3K, penanganan kasus diare, identifikasi siswa/i yang sakit fisik dan psikososial, serta simulasi bencana alam. Pelatihan berlangsung selama 8 bulan dengan hasil menunjukkan adanya penurunan angka kesakitan siswa/i, presensi kelas meningkat, wawasan siswa/i tentang prilaku sehat meningkat. Kesimpulan : kegiatan pelatihan kader kesehatan remaja menjadi unsur yang penting dalam upaya mewujudkan prilaku hidup sehat siswa/i di asrama dan sekolah. Sarannya kegiatan sejenis dengan tema yang berbeda dapat dilanjutkan
Qur’anic Therapy (Islamic Bibliotherapy) To Improve Religious Coping In Hemodialysis Patient Inggriane Puspita Dewi; Anggriyana Tri Widiyanti
Media Keperawatan Indonesia Vol 1, No 3 (2018)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (491.289 KB) | DOI: 10.26714/mki.1.3.2018.12-17

Abstract

Patients with chronic kidney disease and receiving hemodialysis,  they will deal with chronic stress related to time restriction, financial and functional limitations, dietary restrictions, and drug side effects.  The purpose of the present study was to determine the effect of psychoreligius therapy: Qur'anic therapy (Islamic bibliotherapy) on the religious coping of hemodialysis patients. The study was conducted at Al-Islam Bandung Hospital used  pre-experimental with pre and post-test design. We used purposive sampling, 22 sample, they were 5 years undergoing hemodialysis, able to read and Muslim. Psychological Measure of Islamic Religiousness (PMIR) to measure religious coping with a correlation coefficient of 0.88. ). The sample was given reading with sincere themes, patience, gratitude according to al-Qur' values for 1 month (8 reading themes), about 30 minutes, religious coping measured before and after the intervention. There was a significant effect of the intervention of Quranic therapy on religious coping (p = 0.048 , the analysis used Paired T-test. Islamic psychoreligius Therapy: Qur'anic Therapy promoted to improve religious and coping skills in hemodialysis patients through Quranic Therapy. Therefore, in cases of chronic diseases such as chronic renal failure, nurses should apply a holistic care approach with emphasis on spirituality-based intervention.