Claim Missing Document
Check
Articles

Complaining Expression Used by the Character King Trition in the Movie “The Little Mermaid (Live Action 2023)” Directed by Rob Marshall Maulidya, Syafina; Apriliana, Priscila; Rosalinah, Yanti
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Studi ini menyelidiki penggunaan ekspresi gerutuan oleh Raja Triton dalam versi live-action The Little Mermaid yang dirilis pada tahun 2023, disutradarai oleh Rob Marshall. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, studi ini menemukan strategi pengaduan yang berbeda yang digunakan oleh Raja Triton dan mengkategorikannya menggunakan kerangka kerja Anna Trosborg (1995) tentang pengaduan dalam pragmatik. Temuan menunjukkan bahwa kritik Raja Triton berkisar dari petunjuk halus hingga tuduhan dan kutukan yang jelas, yang menunjukkan hubungannya yang rumit dengan putrinya, Ariel, serta posisinya yang anti-manusia yang dimotivasi oleh masalah pribadi dan lingkungan. Pemeriksaan ini berfokus pada bagaimana metode pengaduan dapat digunakan untuk menciptakan karakter dan mengekspresikan ketegangan interpersonal dalam alur cerita film.
Maxim Violation in The Fall Guys Movie Through Lens of Gricean Maxim Rosalinah, Yanti; Afriyandi, Herry; Arief, Mohammad
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini terutama difokuskan pada Pelanggaran Maksim Prinsip Kooperatif, sebuah teori oleh (Grice, 1975) pada sebuah film yang disutradarai oleh David Leitch, yang disebut The Fall Guy. Orang-orang selalu menggunakan bahasa sebagai alat untuk berkomunikasi, dan kita berkomunikasi untuk mencapai pemahaman antara pembicara dan pendengar. Namun dalam beberapa skenario, pembicara dan pendengar tidak mencapai pemahaman, dan itu terjadi peserta percakapan melanggar aturan percakapan, dan kami menyebut aturan itu sebagai Maksim. Untuk mencapai pemahaman, Maksim harus dipatuhi. Makalah penelitian ini menggunakan pendekatan Kualitatif Direktif dengan studi pragmatis untuk menyelidiki bagaimana pepatah dilanggar dalam Film The Fall Guy. Namun, pepatah ini sering dilanggar, baik sengaja atau tidak sengaja, yang menghasilkan makna yang kompleks dan berlapis-lapis. Ada 1 pertanyaan utama di balik alasan mengapa analisis ini ada, dan itu adalah Maksim Gricean seperti apa yang dilanggar dalam Film ini. Dengan menganalisis transkrip film, peneliti harus mengidentifikasi bagaimana karakter tersebut melanggar maksim, dan memeriksa alasan dan konteks di baliknya dalam konteks sosial tertentu. Dengan menggunakan metode ini, peneliti menemukan 11 data yang dapat disimpulkan bahwa maksim kuantitas merupakan maksim yang paling banyak dilanggar dalam film ini.
Pragmatic Analysis of Maxim Flouting in Cruella (2021) by Craig Gillespie Novelia, Rara; Sahel, Mayadha; Rosalinah, Yanti
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji pelanggaran maksim dalam Cruella (2021) karya Craig Gillespie untuk lebih memahami bagaimana pelanggaran maksim digunakan untuk pengembangan karakter dan mengkomunikasikan makna yang disimpulkan. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab dua pertanyaan kunci: Seberapa banyak pelanggaran maksim dalam film Cruella (2021); Yang mana Maxim paling banyak dilanggar di film Cruella. Penulis memilih pelanggaran maksim karena memungkinkan karakter menyampaikan pesan secara tidak langsung, sehingga menambah tingkat signifikansi pada interaksi dan cerita. Cruella dipilih sebagai subjek kajian karena tokoh-tokohnya, khususnya Estella/Cruella, sering menggunakan bahasa yang bertentangan dengan konvensi komunikasi untuk menekankan identitas mereka yang berbeda dan rumit. Dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif dan teori maksim Grice, penelitian ini mengidentifikasi empat jenis pelanggaran maksim dalam dialog film: kuantitas, kualitas, relevansi, dan cara. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 66 pelanggaran maksim, dengan relevansi paling sering muncul (35 kali), disusul cara (15 kali), kuantitas, dan kualitas (masing-masing 8 kali). Studi ini menunjukkan bahwa pelanggaran maksim tidak hanya memberikan makna atau humor tersembunyi, tetapi juga meningkatkan narasi dan mengembangkan pengembangan karakter, khususnya peralihan Estella ke Cruella yang ambisius dan misterius.
5 Love Languages Scale in “Aladdin” (2019) Directed by Guy Ritchie Rosalinah, Yanti; Haifa, Yasmin; Afni, Jhesti Tiara
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Studi ini berfokus pada interaksi dan hubungan antara karakter utama dalam film yang dianalisis menggunakan teori Lima Bahasa Cinta Chapman, yang meliputi Kata-kata Peneguhan, Tindakan Melayani, Menerima Hadiah, Waktu Berkualitas, dan Sentuhan Fisik. Studi ini menyelidiki bagaimana bahasa cinta diekspresikan dalam komunikasi dan dinamika relasional dengan melakukan pemeriksaan kualitatif terhadap perilaku Aladdin, Jasmine, dan karakter relevan lainnya. Setelah menemukan jenis-jenis dari 5 Bahasa Cinta, studi ini akan mengidentifikasi bahasa cinta mana yang lebih dominan dalam film ini. Temuan tersebut menunjukkan bahwa bahasa cinta lebih sering ditampilkan, yang mencerminkan tema film yang lebih luas tentang cinta dan hubungan. Investigasi ini menambah pemahaman kita tentang bagaimana gagasan bahasa cinta klasik dapat tercermin dan diubah dalam narasi sinematik modern.
Code-Switching in Podcast Rintik Sedu “Suka Sendiri, Rindu Sendiri, Excited Juga Sendiri” Rosalinah, Yanti; Maulina, Rizda; Nursasliza, Naufara
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam penelitian ini, penggunaan alih kode oleh podcast populer Indonesia Rintik Sedu dikaji dalam episode "Suka Sendiri, Rindu Sendiri, Excited Juga Sendiri." Teknik pergantian bahasa selama percakapan, yang dikenal sebagai "alih kode," sering digunakan untuk mengomunikasikan ekspresi budaya yang bernuansa dan emosi kompleks yang mungkin sulit disampaikan dalam satu bahasa. Penelitian ini menggunakan kerangka kerja (Appel & Muysken, 1987) tentang tag-switching, intrasentential-switching, dan intersentential-switching untuk menganalisis dan mengklasifikasikan secara kualitatif contoh-contoh alih kode dalam episode tersebut. Selain itu, penelitian ini menambahkan teori (Hoffman, 1991) untuk melihat bagaimana alih kode melibatkan pendengar dan meningkatkan ekspresi emosional, terutama bagi mereka yang mengidentifikasi diri sebagai bilingual atau multilingual. Hasilnya menunjukkan bahwa alih kode sengaja digunakan dalam Rintik Sedu untuk menonjolkan empati, memperkuat identitas, dan menghubungkan kiasan linguistik dan budaya, yang meningkatkan resonansi dan keterkaitan narasi bagi khalayak yang lebih luas.
Exploring Characterization of Main Character: Christopher Mccandless in Movie “Into The Wild” Rosalinah, Yanti; Sudarmo, Indah Rahmawati; Anshorullah, Muhammad Faiq
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Studi ini mengeksplorasi karakterisasi Christopher McCandless dalam film “Into the Wild” (2007) melalui teori karakterisasi (Wellek & Warren, 1954), dengan fokus pada dimensi psikologis, sosiologis, dan fisiologis. Dengan menggunakan metode kualitatif, analisis ini mengacu pada pengamatan interaksi, dialog, dan tindakan McCandless, yang menyoroti kepribadian dan motivasinya yang kompleks. Secara psikologis, McCandless didorong oleh keinginan kuat untuk kebebasan dan keaslian, menolak nilai-nilai masyarakat dan materialisme untuk mencari kehidupan yang lebih dalam dan mandiri. Secara sosiologis, hubungannya yang tegang dengan keluarga dan keterpisahan dari norma-norma masyarakat mencerminkan kekecewaannya dengan harapan konvensional. Secara fisik, perjalanan dan penurunannya pada akhirnya menggarisbawahi konsekuensi dari cita-citanya, karena isolasi dan pengejarannya untuk bertahan hidup menyebabkan kemerosotan yang terlihat. Studi ini menunjukkan bagaimana pengembangan karakter McCandless menyampaikan tema yang lebih luas tentang motivasi manusia dan biaya individualitas yang pantang menyerah. Penelitian ini menekankan peran penggambaran karakter dalam mengeksplorasi kedalaman identitas pribadi, kebebasan, dan tantangan penemuan jati diri.
A Morphological Analysis of Affixes in Taylor Swift Song Lyrics “Blank Space” Alga, Alifah Junis; Waspodo, Marcellinus Bhanu K; Rosalinah, Yanti
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 9 No. 1 (2025)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi berbagai kosakata dan kalimat yang terbentuk dari struktur afiks morfologis yang terdapat dalam lirik lagu blank space karya Taylor Swift. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Penulis mencari kalimat dan kata dari lirik lagu Taylor Swift yang berjudul blank space yang terbentuk dan berasal dari struktur afiks morfologis. Hasilnya adalah dalam lirik lagu Blank Space karya Taylor, sufiks lebih banyak digunakan daripada prefiks dan infiks tidak digunakan dan tidak ditemukan dalam lagu ini. Dari beberapa kata yang terdapat dalam lirik lagu tersebut hanya beberapa kata yang digunakan sebagai prefiks. Dan tujuan dari penelitian ini adalah penulis ingin mengetahui dan memahami bagaimana struktur afiks morfologis digunakan dalam lagu Taylor Swift yang berjudul blank space. Makalah ini juga menjelaskan kata dan kalimat yang mengandung prefiks, sufiks, dan infiks. Berapa banyak sufiks, prefiks, dan infiks dalam lagu ini. Dan seberapa penting afiks morfologis dapat dikaitkan dengan makna. Awalan, akhiran, dan sisipan dalam lagu ini. Sisipan dalam lagu ini tidak ada apa-apanya.
Sociolinguistic Perspective on Digital Communication: Understanding Gen Alpha Language Use in Tiktok Putri, Bernadeta Kartika Buana Prima; Soraya, Najwa; Rosalinah, Yanti
Golden Ratio of Data in Summary Vol. 5 No. 1 (2025): November - January
Publisher : Manunggal Halim Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52970/grdis.v5i1.886

Abstract

This study explores the sociolinguistic characteristics of Generation Alpha's language use on TikTok, a platform blending creativity and social interaction. Examining code-switching, slang, and the influence of visual elements highlights how these features shape digital identities and cultural expression. The research uses qualitative methods like content analysis and user interviews to reveal how Gen Alpha adapts language to TikTok’s standards while challenging traditional linguistic norms. The findings demonstrate that digital communication significantly impacts the language of today’s youth, showcasing Generation Alpha’s sensitivity and inventiveness in coining new terms driven by rapid technological advancements. Social, cultural, and technical factors influence these communication patterns, with video and visual exchanges enhancing communication skills, shaping social identities, and fostering intergenerational connections. This research emphasizes the role of platform-specific language practices in shaping teenage culture and advancing sociolinguistics in social media contexts. It concludes that Generation Alpha employs a relaxed, creative, and trend-sensitive vocabulary, particularly on TikTok, reflecting contemporary digital communication trends. The study underscores the importance of understanding language dynamics in an ever-evolving digital landscape.
Long and Short Vowel Sounds in “Gasoline” and “Colors” Song Lyrics by Halsey Rosalinah, Yanti; Alya, Wulansari Regina Shafa; Yasmin, Zahra
Golden Ratio of Data in Summary Vol. 5 No. 1 (2025): November - January
Publisher : Manunggal Halim Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52970/grdis.v5i1.888

Abstract

This study uses a phonetic technique to analyze the vowel sounds in Halsey's “Gasoline” and “Colors” songs. The use of long and short vowels in the lyrics is the subject of the examination. The study aims to present research findings on the long and short vowels in Halsey’s songs “Gasoline” and “Colors.” The writer also determines the impact of long and short vowels on the songs. The research methodology is a qualitative approach. The writer uses phonetics studies to analyze the long and short vowel sounds displayed in a table to provide a thorough understanding of the vowel sounds in the lyrics. According to the study, Halsey's songs' emotional effect is greatly influenced by phonetics, particularly long and short vowels. There are 87 examples of long vowels and 49 of short vowels. In the song "Colors” there are 72 examples of long vowels and 28 of short vowels, demonstrating how vowel articulation such as /iː/, /ɑː/, and /uː/ may improve emotion and intelligibility. Research on the significance of vowel sounds in successful vocal performance is supported by the notion that anatomical elements, such as the location of the tongue and lips, are necessary for appropriate pronunciation. The results provide insights into phonetics and linguistics in lyrics and demonstrate how vowel usage enhances emotional expressiveness in music.
An Analysis of Gen Z’s Digital Slang: Patterns from TikTok Comment Sections Susana Hamu Eti; Rosalinah, Yanti
IDEAS: Journal on English Language Teaching and Learning, Linguistics and Literature Vol. 12 No. 2 (2024): IDEAS: Journal on English Language Teaching and Learning, Linguistics and Lite
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24256/ideas.v12i2.5911

Abstract

The digital communication landscape has undergone a profound transformation, with social media platforms like TikTok emerging as critical sites for linguistic innovation. This research examines the intricate mechanisms of digital slang generation among Generation Z, exploring the complex interplay between technological architecture, user creativity, and sociocultural dynamics. Employing a qualitative content analysis approach, the study investigates linguistic practices within TikTok comment sections, focusing on slang formation mechanisms, algorithmic dissemination, and cultural identity functions. The research reveals sophisticated linguistic strategies including zeroidation, diphthongization, lexical shifts, and code-mixing, demonstrating how Gen Z actively reconstructs communication paradigms. The platform's algorithmic recommendation system facilitates unprecedented rapid language evolution, with slang terms transitioning from marginal usage to widespread adoption within hours. Digital slang serves multifaceted purposes: creating humor, signaling contemporaneity, facilitating social relations, and establishing intimate group identities. The study highlights the tension between linguistic innovation and preservation, suggesting that digital platforms are not passive mediums but active agents in linguistic transformation. By providing a nuanced sociolinguistic lens, the research contributes crucial insights into how digital technologies reshape communicative landscapes and generational identity construction in the 21st century. Keywords: Digital Slang, Gen Z, TikTok, Linguistic Innovation, Social Media Communication
Co-Authors Adiningsih, Sekar Safitri Dhita Afni, Jhesti Tiara Afriyandi, Herry Aimar, Juan Pablo Alga, Alifah Junis Alhaq, Muhammad Wafdan ALOYSIUS RANGGA ADITYA NALENDRA, ALOYSIUS RANGGA Alya, Wulansari Regina Shafa Ambanilah, Eldalati Andika Hendra Mustaqim, Andika Hendra Anshorullah, Muhammad Faiq Anti, Upi Aprilia, Intan Ika Apriliana, Priscila Arif - Hidayat, Arif - Arif Hidayat Ary Iswanto Wibowo Asti, Astuti Alawiyah Athaillah, Siti Adhwa Avanti Nur Febrianingsih Azhari, Jihan Eldalani Ambanilah Fadhila, Radhiazka Ariq Faswanadina, Feras Fauzi, Fera Fitri Fazari, Tengku Nizar Feras Faswanadina Haifa, Yasmin Hakim, Aulia Ibnu Subroto Ibnu Subroto Ibnu Subroto Ibnu Subroto Inggit Dessy Susanti Khairunisa, Naila Putri Ma'wa, Kesya Asyura Mathilda, Bonaventura Maulavi, Astraditya Ikhsan Maulidya, Syafina Maulina, Rizda Mohammad Arief Nabila, Bella Namira Salsabila Novelia, Rara Nurhaliza, Ananda Nursasliza, Naufara Nurul Khilda Putri, Bernadeta Kartika Buana Prima R.R. Okky Luthfiana Rahma, Adelia Raudatul Rahmawati, Anisya Dewi Ravi, Muhammad Retno Rahayuningsih Rina Lestari Rina Lestari Rini, Diah Sekar Sahel, Mayadha Salsabila, Namira Sari, Alexys Kartika Sari, Margareta Anita Soraya, Najwa Sri Arfani Subroto, Ibnu Sudarmo, Indah Rahmawati Surahman, Fauzi Akbar Surya, Annisa Keyshawardhana Susana Hamu Eti Sutju, Mihkael Sulaeman Syawal, Ifra Putra Syifa Aulia Tiara Apriella Tias Mawarni Waspodo, Marcellinus Bhanu K winda pratiwi Yasmin, Zahra Zachary, Ferraz Aditya Zaidan, Muhammad Ariq Zein, Ratu Azizah Arzellya