Claim Missing Document
Check
Articles

ANALISA JUMLAH TITIK PANAS (HOTSPOT) TERHADAP INDEX STANDAR PENCEMARAN UDARA (ISPU) SEBAGAI INDIKATOR KUALITAS UDARA DI KOTA PONTIANAK Rezki Maulana; Dian Rahayu Jati; Laili Fitria
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 5, No 1 (2017): JURNAL 2017
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtllb.v5i1.19650

Abstract

ABSTRAKPencemaran udara di Kota Pontianak sebagian besar disebabkan oleh pembukaan lahan yang di lakukan oleh masyarakat untuk membuka lahan pertanian baru, perumahan serta industri. Aktivitas ini selain menyebabkan dari pencemaran udara juga mengakibatkan munculnya Titik Panas (Hotspot) dari kebakaran hutan yang terjadi paling banyak pada musim kemarau. Sebagian besar kebakaran hutan terjadi pada lahan gambut yang berpotensi menghasilkan kabut asap. Kabut asap ini menyebabkan adanya perubahan kualitas udara. Untuk mengetahui adanya hubungan antara memburuknya kualitas udara akibat kebakaran hutan maka perlu dilakukan penelitian untuk melihat korelasi antara ISPU dengan jumlah titik panas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah titik panas (Hotspot) tahun 2010 – 2015 di Kota Pontianak, mengetahui konsentrasi parameter kualitas udara () dari data Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU)dan menganalisa hubungan antara jumlah titik panas (Hotspot) dengan konsentrasi parameter () dari data Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di Kota Pontianak tahun 2010 – 2015. Data yang digunakan adalah data titik panas (Hotspot) yang didapat dari Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat dan nilai  dari data Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) yang di dapat dari Dinas Badan Lingkungan Hidup Kota Pontianak dengan menggunakan alat Fix Station AQMS. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis statistik korelasi terhadap dua data tersebut. Hasil penelitian menunjukan bahwa pada rentang tahun 2010 hingga 2015, jumlah titik panas (Hotspot) tertinggi terjadi pada tahun 2014 pada bulan Februari dengan jumlah 37 titik panas (Hotspot). Nilai Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) tertinggi terjadi pada tahun 2010 pada Bulan Oktober dengan jumlah rata-rata 256,38 ug/m3. Sementara titik panas (Hotspot) terendah terjadi pada tahun 2010 pada Bulan Januari dengan jumlah 2 titik panas (Hotspot), sedangkan nilai Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) terendah terjadi pada tahun 2013 pada Bulan Maret dengan jumlah rata-rata 121,1 ug/m3. Hal ini terjadi karena titik panas (Hotspot) yang tertangkap oleh satelit NOAA bukan hanya berasal dari kebakaran hutan tetapi juga dari sumber lain sepeti asap transportasi, pabrik maupun pembakaran untuk buka lahan pertanian dan perumahan yang baru. Satelit NOAA dapat menangkap titik  yang lebih panas dari lingkungan sekitarnya.Untuk mengetahui kekuatan hubungan antara kedua variabel tersebut, dilakukan analisa korelasi dengan program SPSS. Pada uji korelasi antara jumlah Hotspot dengan nilai  pada tahun 2014, didapatkan nilai signifikan 0,028 (kurang dari 0,05), yang berarti ada hubungan secara signifikan antara jumlah hotspot dengan nilai PM10.Pada tahun 2010, didapatkan nilai signifikan 0,552 (lebih dari 0,05) yang artinya tidak ada hubungan secara signifikan antara jumlah hotspot dengan nilai PM10. Kata Kunci : Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU), kualitas udara,titik panas (hotspot) 
UJI TOKSISITAS AKUT LIMBAH CAIR RUMAH MAKAN TERHADAP IKAN MAS (Cyprinus Carpio L.) Yonky Dwi Putra; Laili Fitria
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 3, No 1 (2015): JURNAL 2015
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtllb.v3i1.12865

Abstract

ABSTRAKKeadaan air sungai di Kota Pontianak saat ini semakin mengkhawatirkan, dimana semakin banyak industri dan tempat usaha yang bermunculan. Salah satunya usaha rumah makan yang membuang limbahnya ke badan air tanpa pengolahan. Hal ini menjadi salah satu sumber pencemar perairan yang menyebabkan kematian biota air. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai LC50, mengetahui karakteristik limbah cair rumah makan di Kota Pontianak dan memberikan rekomendasi bagi pemerintah. Sampel limbah cair diambil dari sisa pencucian bahan makanan dari pagi hingga siang hari. Uji toksisitas akut dilakukan dengan metode statis dalam waktu 24 jam menggunakan hewan uji ikan mas (Cyprinus carpio L) setelah itu dibuat variasi konsentrasi untuk menentukan nilai konsentrasi yang menyebabkan kematian hewan 50% dengan uji pendahuluan dan uji lanjut. Hasil uji Parameter BOD, TSS, minyak lemak, pH dan suhu limbah cair rumah makan masing-masing sebesar 692,48 mg/l; 1700 mg/l; 46 mg/l; 6,59 dan 25,8 0C. Nilai parameter limbah rumah makan tersebut melewati baku mutu KEP/MENLH/ No. 5 Tahun 2014 tentang Baku Mutu Limbah Cair Domestik. Nilai LC50 rata-rata didapatkan 0,614% dan rekomendasi yang bisa diberikan kepada pemerintah yaitu penegasan tentang adanya IPAL di setiap rumah makan seperti yang tercantum di dalam PERDA/WALIKOTA/03/2004.Kata kunci : toksisitas akut, limbah cair rumah makan, ikan mas (Cyprinus carpio L.)
UJI TOKSISITAS LIMBAH CAIR TAHU TERHADAP KUTU AIR TAWAR (DAPHNIA MAGNA) Annisa Wulandari0; Laili Fitria
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 4, No 1 (2016): Jurnal 2016
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtllb.v4i1.17760

Abstract

ABSTRAKLimbah cair industri tahu yang dibuang ke badan air penerima tanpa pengolahan merupakan salah satu sumber pencemar di perairan yang menyebabkan kematian biota akuatik sehingga perlu dilakukan uji toksisitas akut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai LC50 limbah cair dari industri tahu yang terdapat di Kota Pontianak. Uji toksisitas akut dilakukan dengan metode statis dalam waktu 48 jam menggunakan hewan uji kutu air tawar (Daphnia magna). Konsentrasi           rata-rata parameter limbah cair dari industri tahu yang didapatkan yaitu BOD sebesar 532,46 mg/L, COD 1870,20 mg/L, TSS 747 mg/L, amonia 432,50 mg/L, pH 5,58 dan suhu 32 oC. Nilai parameter limbah cair tahu tersebut melewati baku mutu KEP/MENLH/ No.5 Tahun 2014 tentang Baku Mutu Air Limbah bagi Usaha dan/atau Kegiatan Pengolahan Kedelai dan KEP/MENLH/ No.3 Tahun 2010 2010 tentang Baku Mutu Air Limbah bagi Kawasan Industri. Nilai LC50 rata-rata dari limbah cair tahu sebesar 3,56%. Peningkatan nilai BOD, COD, TSS, amonia dan pH akan menyebabkan peningkatan mortalitas hewan uji..Kata Kunci : LC50-48 jam, toksisitas, limbah cair tahu, kutu air tawar (Daphnia magna) 
KAJIAN TEKNIK OPERASIONAL PENGEMBANGAN TPST EDELWEISS SEBAGAI UPAYA PENGELOLAAN SAMPAH SKALA KAWASAN Fitra Muthia Khanza; Laili Fitria; Ulli Kadaria
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 6, No 1 (2018): Januari 2018
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtllb.v6i1.28007

Abstract

ABSTRAKTPST adalah tempat dilakukannya kegiatan pengumpulan, pemilahan, penggunaan ulang, pendaur ulang, pengolahan dan pemrosesan akhir sampah. TPST merupakan bagian dari pengelolaan sampah yang dapat mereduksi sampah yang masuk ke TPA. Di Kota Pontianak, sudah terdapat TPST Edelweiss yang berdiri sejak tahun 2015. Namun hingga tahun 2017, TPST Edelweiss hanya mengelola sampah Pasar sehingga diperlukan pengembangan luas TPST yang mengelola sampah skala kawasan. Tujuan penelitian ini, menganalisis timbulan sampah yang terdapat di Pasar Pagi dan kondisi eksisting TPST Edelweiss dari segi aspek teknik operasional, menganalisis pengembangan pengelolaan sampah di TPST Edelweiss skala pasar menjadi skala kawasan. Perhitungan jumlah sampel sampah menggunakan metode proportionate statified random sampling. Teknik pengambilan dan pengukuran sampel sampah mengacu pada SNI 19-3694-1994  dilakukan selama 8 hari. Timbulan sampah organik Pasar Pagi 0,386 m3/unit/hari dan anorganik 0,002 m3/unit/hari. TPST Edelweiss  memiliki area penumpukan dan pemilahan 12 m2, pencacahan dan penimbangan 12 m2, 21 bak pengomposan, pengayakan dan pengemasan kompos 9 m2, dan 1 reaktor biogas fixed dome 10 m3. Pengembangan TPST Edelweiss menjadi skala kawasan membutuhkan area penumpukan 100 m2, area pemilahan 157,44 m2 dengan conveyor belt, area pencacahan 30,176 m2, area pengomposan metode open windrow composting dengan luas area 3421,83 m2, area pengayakan dan pengemasan kompos dengan luas area 16,5 m2, area anorganik dan B3 membutuhkan luas  94,64m2, reaktor biogas tipe fixed dome 10 m3, gudang 80 m2, lahan parkir 34,44 m2, rumah jaga 24 m2. Luas yang dibutuhkan untuk mengelola sampah dalam skala kawasan adalah 4458,143 m2. Kata Kunci: Pengelolaan Sampah, Pengembangan, TPST ABSTRACTTPST is a place for activities such as collecting, distinguishing, reusing, recycling and processing as the final phase of waste management. TPST is a phase of waste management that possible to reduce the waste that goes to waste disposal. In Pontianak, TPST Edelweiss had established since 2015. Whereas until 2017 TPST Edelweiss only worked with the market’s waste, which is necessary to be developed for waste management in district scale. The purpose of this research are analyzing the waste pile at the Pasar Pagi and condition of how the existing of TPST Edelweiss can be turned from market’ scale into district scale, according to several aspects such as operational technique, analysis on the development of waste management in TPST Edelweiss. The calculation of the amount of waste sampling by using proportionate statified random sampling method. The measurement technique of the waste sampling refers to SNI 19-3694-1994 that have been doing in eight days. Organics waste pile at the Pasar Pagi 45,174 m3/days while anorganics 0,242 m3/days. TPST Edelweiss has 12 m2 area for collecting and distinguishing the waste, devastating and scaling area 12 m2, 21 compost bin, shifting and packaging compost 9 m2, and 1 biogas fixed dome reactor 10 m3. The development of TPST Edelweiss into district scale needs 100 m2 for collecting area. 157.44 m2 for distinguishing area with conveyor belt. 30.176 m2 for devastating area. Compost area with open windrow composting method within 3421.83 m2. 16.5 m2 for compost’s shifting and packaging area. Anorganics and B3 area need 94.64m2. Biogas fixed dome type reactor within10 m3. Storehouse 80 m2. Parking lot 34.44 m2. Maintenance house 24 m2. The space needs for waste management in district scale is 4458,143 m2. Keywords: Waste Management, Development, TPST
Pengolahan Air Gambut dengan Media Filter Keramik Berpori (Peat Water Treatment Using Portable Ceramic Filter Media) Yudi Ayunata; Laili Fitria; Ulli Kadaria
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 8, No 2 (2020): Juli 2020
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtllb.v8i2.43030

Abstract

AbstractAreas characteristic of the soil peaty usually contains brown water, PH (3-5), humus acid, organic substances, and high iron. In this research samples of raw water from the river agreed II which has a pH of 5.67, organic substances 232.17 mg/L, color is 1,346 PT-CO, and Iron Metal (Fe) is 0.96 mg/L. Quality of the parameter is not qualified (PERMESKES No 32 the year 2017) hygiene sanitation and clean water. This study knows the effectiveness of porous ceramic filters with a mixture of eggshells, zeolite, and polyvinyl alcohol (PVA) in sintering at 220 oC for 6 hours. Mixed variation of eggshell, zeolite, and PVA made is type (I) 67.5%: 22.5%: 10%, type (II) 45%: 45%: 10%, and type (II) 22.5%: 67,5%: 10%. Results showed a porous ceramic filter with a mixture of eggshells, zeolite, and PVA for each type filter (I), type (II), and type (III) have the density of 2, 092gr/CM3, 2, 080gr/CM3, 2, 006gr/Cm3. Porosity of 18%, 43%, and 69% as well as flux 1305 L/m2. Jam, 1813 L/m2. Clock, and 2209 L/m2. Jam. The highest color loss effectiveness in type Filter (II) 40% from 1001 TCU to 592.5 TCU.  The type (I) effectiveness increases peat water pH from 5.67 to 6.84 by 17%. The highest efficacy organic substances Parameter type (II) amounted to 77% from 232.17 mg/L to 51.64 mg/L. turbidity of highest efficacy type (III) 48% of 29.6 mg/L to 15.35 mg/L. Iron Parameters Highest efficacy type (III) amounted to 53.12% from 0.96 mg/L to 0.45 mg/L and the highest effectiveness parameters of the type (III) of 78% from 139.44 mg/L to 59.91 mg/L. Keywords: peat water, eggshells, ceramic filters, zeolite Abstrak Daerah karakteristik tanah bergambut biasanya mengandung air berwarna coklat, pH (3-5), berkadar asam humus, zat organik,dan  besi yang tinggi. Dalam penelitian ini sampel air baku dari sungai Sepakat II yang memiliki pH 5,67, zat organik 232,17 mg/L, warna adalah 1.346 pt-co, dan logam besi (Fe) adalah 0,96 mg/L. Kualitas parameter tersebut tidak memenuhi syarat (PERMESKES No 32 Tahun 2017) higiene sanitasi dan air bersih. Penelitian ini mengetahui efektivitas filter keramik berpori dengan campuran media cangkang telur, zeolit, dan Polivinil Alkohol (PVA) yang disintering dengan suhu 220 oC selama 6 jam. Variasi campuran bahan cangkang telur, zeolit, dan PVA yang dibuat adalah Tipe (I)  67,5 % : 22,5 % : 10%, Tipe (II)  45%:45% : 10%, dan Tipe (II) 22,5% : 67,5%:10%. Hasil menunjukan filter keramik berpori dengan campuran cangkang telur, zeolit, dan PVA untuk setiap filter Tipe (I), Tipe (II), dan Tipe (III) yaitu memiliki densitas sebesar 2,092gr/Cm3, 2,080gr/Cm3, 2,006gr/Cm3. Porositas sebesar 18%, 43%, dan 69% serta Fluks 1305 L/m2.jam, 1813 L/m2.jam, dan 2209 L/m2.jam. Penurunan warna efektivitas tertinggi pada filter Tipe (II) 40% dari 1001 TCU menjadi 592,5 TCU.  Tipe (I) efektivitas meningkatkan pH air gambut dari 5,67 menjadi  6,84 sebesar 17%. Parameter zat organik efektivitas tertinggi Tipe (II) sebesar 77% dari 232,17 mg/L menjadi 51,64 mg/L. Kekeruhan efektivitas  tertinggi Tipe (III) 48% dari  29,6 mg/L menjadi 15,35 mg/L. Parameter besi efektivitas tertinggi Tipe (III) sebesar 53,12 % dari 0,96 mg/L menjadi 0,45 mg/L dan parameter kesadahan efektivitas tertinggi Tipe (III) sebesar  78% dari 139,44 mg/L menjadi 59,91 mg/L. Kata Kunci: peat water, eggshells, ceramic filters, zeolite
PENURUNAN KEKERUHAN AIR BAKU PDAM GUNUNG POTENG SINGKAWANG DENGAN MENGGUNAKAN KOAGULAN TAWAS DAN PAC BEWA MULYATAMA; Laili Fitria; Ulli Kadaria
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 4, No 1 (2016): Jurnal 2016
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtllb.v4i1.17889

Abstract

ABSTRAKPengolahan air baku di PDAM Gunung Poteng Singkawang menggunakan proses pengolahan konvensional lengkap. Koagulan yang digunakan adalah tawas. Hasil pengolahan air baku masih belum konsisten. Pengolahan air baku pada tahun 2015 menghasilkan kekeruhan antara 0,2 NTU sampai 9,2 NTU. Upaya perbaikan untuk masalah di PDAM Gunung Poteng Singkawang adalah dengan mencampurkan koagulan tawas dan PAC yang diharapkan dapat mengurangi kekeruhan dari hasil pengolahan air baku. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah sebagai berikut: Menganalisis efektifitas penurunan kadar kekeruhan dengan pencampuran koagulan tawas dan PAC untuk memperbaiki tingkat kekeruhan air baku di PDAM Gunung Poteng Singkawang sesuai baku mutu dan menganalisis perbandingan dosis pencampuran koagulan tawas dan PAC yang optimum terhadap tingkat kekeruhan di PDAM Gunung Poteng Singkawang. Pengujian yaitu dengan mengadakan eksperimen pengolahan air baku menggunakan koagulan Tawas dan PAC yang dilakukan dengan menggunakan metode Jar Test. Percobaan dilanjutkan dengan pemeriksaan kualitas air yang meliputi kekeruhan dan pH yang akan dilakukan sebelum dan setelah jar test. Variasi larutan Tawas dan PAC dengan perbandingan 1:0, 1:1, 1:2, 2:1, 1:3, 3:1 dan 0:1. Hasil dari penelitian didapat bahwa dosis 1:0 dan 0:1 menghasilkan kekeruhan yang buruk daripada perbandingan dosis lainya. Pengkondisian kekeruhan dari data sekunder kualitas air baku PDAM Gunung Poteng Singkawang tahun 2015 didapat kekeruhan 116 NTU untuk kekeruhan tertinggi dan 9,6 NTU untuk kekeruhan terendah. Pengujian penegasan dilakukan dengan kondisi kekeruhan sebenarnya di lapangan didapat kekeruhan 22,42 NTU. Perbandingan yang efektif untuk kondisi kekeruhan 116 NTU adalah 1:2 dengan efektivitas penurunan kekeruhan mencapai 98,9 % dan kondisi kekeruhan 9,6 NTU adalah 1:3 dengan efektivitas penurunan kekeruhan 93,5 %. Hasil uji penegasan menghasilkan perbandingan efektif dengan kondisi kekeruhan 22,42 NTU (kekeruhan air baku bulan September tahun 2016) adalah 1:2  dengan efektivitas penurunan kekeruhan 96,3 %. Penggunaan perbandingan dosis pencampuran koagulan dapat menunjukkan bahwa pada kondisi kekeruhan kurang dari 10 NTU sampai 20 NTU dapat menggunakan perbandingan dosis 1:3. Kekeruhan pada nilai 21 NTU sampai 116 NTU dapat menggunakan dosis pencampuran 1:2.Kata Kunci : Kekeruhan, air baku, koagulan, tawas, PAC
Potensi Cangkang Telur Ayam sebagai Media Filter untuk Meningkatkan pH pada Pengolahan Air Gambut (The Potential of Chicken Eggshells as a Filter Media to Increase pH for Peat Water Treatment) Novianti Novianti; Laili Fitria; Ulli Kadaria
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 7, No 2 (2019): Juli 2019
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtllb.v7i2.37234

Abstract

Abstract The availability of clean water in peat areas is limited, for the color of the water in these areas are having some shade of dark brown, the content of organic matter is high, but has a level of acidity (pH), thus making the peat water not fit for consumption and a treatment is needed in advance to use the water suitable for daily use. Therefore, this study aims to analyze the ability of the filter media with a variety of chicken egg shell thickness of 20 cm, 30 cm and 40 cm to increases of pH level of peat water. The use of debit inlet in this matter is 8,3 x 10-3 m3/h and is repeated 2 times (Duplo) on trial. Peat water test results prior to the processing of pH is 4.63 and doesn’t fullfil the quality standard of PERMENKES (minister of health regulation) No. 32 of 2017. The best results were obtained for pH of 4.63 becomes 7.78 with 40.45% efficiency. Optimum results obtained at a thickness of 20 cm filter media has been able to increase pH become 7,31.Keywords: Peat water, Chicken Egg Shells, Filtration  Abstrak Ketersediaan air bersih menjadi terbatas pada wilayah dengan jenis tanah gambut yang memiliki air berwarna merah kecoklatan, kandungan zat organik yang tinggi, namun mempunyai derajat keasaman (pH) yang relatif rendah sehingga membuat air gambut tidak layak konsumsi dan diperlukan pengolahan sebelum menggunakan air tersebut. Oleh sebab itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan media filter cangkang telur ayam dengan variasi ketebalan 20 cm, 30 cm dan 40 cm dalam meningkatkan pH pada air gambut. Debit inlet yang digunakan yaitu 8,3 x 10-3 m3/jam. Dilakukan pengulangan sebanyak 2 kali (duplo) pada percobaan. Hasil uji air gambut sebelum pengolahan untuk pH sebesar 4,63 dan tidak memenuhi baku mutu PERMENKES No 32 Tahun 2017. Hasil terbaik yang diperoleh untuk pH 4,63 menjadi 7,78 dengan ketebalan 40 cm dengan efisiensi sebesar 40,45%. Hasil optimal diperoleh pada ketebalan media filter 20 cm telah dapat meningkatkan pH menjadi 7,31.Kata Kunci: Air Gambut, Cangkang Telur Ayam, Filtrasi
INVENTARISASI EMISI CH4 DI TPA BATU LAYANG KOTA PONTIANAK PROVINSI KALIMANTAN BARAT Mutiara Rizki Khatulistiwa; Dian Rahayu Jati; Laili Fitria
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 4, No 1 (2016): Jurnal 2016
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtllb.v4i1.13572

Abstract

ABSTRAKSalah satu gas rumah kaca penyebab perubahan iklim adalah CH4, yang dihasilkan oleh timbunan sampah. Emisi CH4 dari sampah merupakan hasil dekomposisi anaerobik dari bahan organik dalam sampah. Timbunan sampah yang semakin tinggi di TPA tanpa pengolahan lebih lanjut dapat menimbulkan emisi CH4 yang semakin besar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui timbulan dan komposisi sampah TPA Batu Layang Kota Pontianak, menentukan estimasi emisi CH4 di TPA Batu Layang Kota Pontianak dengan menggunakan rumus IPCC dan memberikan rekomendasi berupa upaya mitigasi dan adaptasi berdasarkan jumlah emisi CH4 di TPA Batu Layang Kota Pontianak. Perhitungan emisi CH4 menggunakan acuan rumus IPCC Waste Model Calculation tahun 2006 dengan Tier-2. Hasil penelitian menunjukkan Timbulan sampah Kota Pontianak pada tahun 2015 adalah 0,52 kg/org/hari dengan komposisi sampah yang didominasi oleh sampah organik dengan presentase 81,4% dan sampah anorganik  18,6%. Nilai potensi emisi CH4 di TPA Batu Layang Kota Pontianak Tahun 2015 adalah 4298,95  ton/tahun dan pada proyeksi Tahun 2020 adalah 4720 ton/tahun. Upaya mitigasi dan adaptasi yang dapat direkomendasikan adalah dengan sosialisasi teknik 3R, optimalisasi pengomposan dari sumber maupun TPA, peningkatan pengoperasian TPA dengan mengaplikasikan tanah penutup secara berkala, dan pemanfaatan volume gas yang lebih banyak di TPA, sehingga dapat mengurangi emisi CH4 yang lepas keatmosfer. Kata Kunci : Sampah, CH4, TPA Batu Layang.
EVALUASI TEKNIK OPERASIONAL PERSAMPAHAN KECAMATAN SAMBAS Agung Ananda Saugi; Dian Rahayu Jati; Laili Fitria
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 5, No 1 (2017): JURNAL 2017
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtllb.v5i1.18406

Abstract

ABSTRAKPermasalahan sampah timbul karena tidak seimbangnya produksi sampah dengan pengelolaannya. Menurut data dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, Kecamatan Sambas memiliki 56.787 warga pada tahun 2015. Setiap hari warga Kecamatan Sambas menghasilkan sampah sekitar 156,164 m3/ hari dan hanya 45% warga yang terlayani dengan asumsi satu orang menghasilkan 2,75 liter sampah perhari. Kinerja dari sistem pengelolaan sampah pada suatu kawasan atau wilayah akan menentukan kondisi lingkungan pada wilayah tersebut. Pengelolaan sampah di Kecamatan Sambas merupakan suatu permasalahan yang menjadi prioritas untuk diselesaikan. Peningkatan volume sampah yang dihasilkan dari berbagai aktivitas masyarakat membutuhkan penanganan dengan teknik operasional pengelolaan sampah perkotaan agar sampah – sampah yang dihasilkan oleh aktivitas masyarakat tidak menimbulkan berbagai masalah yang dapat mengganggu lingkungan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui umur zona timbunan TPA Sorat dan mengevaluasi teknik operasional persampahan di Kecamatan Sambas. Metode yang digunakan adalah pengamatan langsung di lapangan dan membandingkan antara kondisi teknik operasional di Kecamatan Sambas dengan SNI 19-2454-2002 tentang Tata Cara Teknik Operasional Pengelolaan Sampah Perkotaan. Analisis data dilakukan dengan melakukan perhitungan sesuai dengan SNI 3242-2008 tentang Pengelolaan Sampah di Permukiman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa umur zona timbunan TPA Sorat diprediksi dapat mencapai hingga 9 tahun kedepan dengan akumulasi timbunan sampah mencapai 122.315 m3 dan zona timbunan yang dipersiapkan seluas 1,25 Ha, yaitu dari tahun 2016 sampai tahun 2025 serta teknik operasional persampahan pada aspek pengumpulan sampah dan pengangkutan sampah di Kecamatan Sambas masih belum seluruhnya menerapkan SNI 19-2454-2002.Kata Kunci : Kecamatan Sambas, TPA Sorat, Teknik Operasional
EFISENSI PENGOLAHAN LIMBAH CAIR HOTEL MENGGUNAKAN MOVING BED BIOFILM REACTOR (MBBR) Dhuhan Dhuhan; Laili Fitria; Ulli Kadaria
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 9, No 2 (2021): Juli 2021
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtllb.v9i2.47491

Abstract

Abstract The increase in the number of hotels in Pontianak City has a impact, namely the increase in the generation of wastewater. The hotel wastewater treatment process is widely used by hotels in Pontianak, especially at the Aston hotel, which already has a sewage treatment plant with suspended biological treatment. The processed water often does not meet the quality standards of wastewater which may be disposed of in accordance with PERMEN/LH/68/2016 concerning domestic wastewater quality standards. In this study, the parameters measured were BOD, TSS and pH. The purpose of this study was to determine the efficiency of Aston hotel wastewater treatment using an attached reactorMBBR (moving bed biofilm reactor) with Kaldnes K3 media in reducing BOD and TSS parameters. Growing microorganisms and biofilms on adhesive media for 14 days. Giving Kaldnes K3 adhesive media as much as 30%. Based on the research results of Aston hotel wastewater treatment with attached reactor MBBR able to reduce BOD and TSS parameters. Best lowering efficiency in attached reactor MBBR with the best time of 7 days was able to reduce the BOD parameter from 109.81 mg/L became 7.28 mg/L with an efficiency of 93.37%, and the TSS parameter decreased from the initial concentration of 78 mg/L to 8 mg/L and the efficiency was 89.74%.  Keywords : BOD, Kaldnes, Hotel Waste Waste, MBBR, TSS Abstrak Peningkatan jumlah hotel di Kota Pontianak memberi dampak, yaitu meningkatnya timbulan limbah cair. Proses pengolahan air limbah hotel banyak digunakan hotel-hotel di Pontianak. Hotel Aston telah memiliki instalasi pengolahan limbah dengan pengolahan biologi tersuspensi. Air hasil olahannya sering kali belum memenuhi baku mutu air limbah yang boleh dibuang sesuai dengan PERMEN/ LH/ 68/ 2016 tentang baku mutu air limbah domestik. Pada penelitian ini parameter yang diukur yaitu BOD, TSS dan pH. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efisiensi pengolahan limbah cair hotel Aston menggunakan reaktor terlekat MBBR (moving bed biofilm reactor) dengan media Kaldnes K3 dalam menurunkan parameter BOD dan TSS. Dilakukan penumbuhan mikroorganisme dan biofilm pada media lekat K3 selama 14 hari. Pemberian media lekat Kaldnes K3 sebanyak 30% dari volume reaktor. Berdasarkan hasil penelitian, pengolahan limbah cair hotel Aston dengan reaktor terlekat MBBR mampu menurunkan parameter BOD dan TSS. Efisiensi penurunan terbaik pada reaktor terlekat MBBR dengan waktu 7 hari, mampu menurunkan parameter BOD dari 109,81 mg/L menjadi 7,28 mg/L dengan efisiensi 93,37 %, dan penurunan parameter TSS dari konsentrasi awal 78 mg/L menjadi 8 mg/L (efisiensi 89,74%). Kata Kunci : BOD, Kaldnes, Limbah Cair Hotel, MBBR, TSS.
Co-Authors Afifah Yusrina Agung Ananda Saugi Ahmad Daudsyah Imami Andriastuti, Bella Tri Anggamulia, Muh. Ilham Ani Purwanti Annisa Wulandari0 Arifin Arifin Arifin Arifin Atni Asdiantri Azizah, Rifka Noor Azwir Anhar Bella Tri Andriastuti BEWA MULYATAMA Desmaiani, Herda Dhuhan Dhuhan Dhuhan Dhuhan Dhuhan Dian Rahayu Jati Dion Awfa Edo Barlian Eka Pratama Kurniawan Erland Evansta Sulisuka Fairuza Marhamah Fitra Muthia Khanza Fitrianingsih, Yulisa Hafiz Achmad Fauzan Harry Wibowo Hendri Sutrisno Hendri Sutrisno Hilman, Zaki Hutasoit, Jenri P I Wayan Koko Suryawan Ikhwali, Muhammad Faisi Imami, Ahmad Daudsyah Istiqomah Shariati Zamani Janter Pangaduan Simanjuntak Jati, Dian Rahayu Jumiati Jumiati Jumiati Jumiati Kartini Idris Kiki Prio Utomo Kiki Prio Utomo Kurniawan, Eka Pratama Kusuma, Dhimas Aji Liza Syafitri Liza Syafitri Lufri Lufri Lumbantobing, Valen Elflina Marcelina Marcelina, Marcelina Maulana, Rezki Mirzal Yacub Muammar Qadafi Muhammad Qarinur Muklis Muklis MULYATAMA, BEWA Mutiara Rizki Khatulistiwa Mutiara Rizki Khatulistiwa, Mutiara Rizki Nahesson H. Panjaitan Nasution, Bagas Arya Natalia Siska Novi Fitria Novi Fitria Novianti Novianti Novianti Novianti Novrianty, Irma Nur Novilina Arifianingsih Nurhayati Nurhayati Pandi M Pugel Pane, Fikryah Atikah Panjaitan, Nahesson Hotmarama Parabi, Astisza Syahla Ludmilla Prayogo, Wisnu Purnawan Purnawan Putri Lynna A. Luthan Putri Lynna A. Luthan Putri, Anni Zahara Rachma Yuwita Rachmat Mulyana Rahmawati Rahmawati Rahmawati Rahmawati, Rahmawati Rezki Maulana Rifka Noor Azizah Risma Pradina Kusuma Rozy Medi Wilian Sarra Rahmadani Saugi, Agung Ananda Septiariva, Iva Yenis Siska, Natalia Sitepu Amrina Rosyada Siti Marsyah Putri Lestari Sri Sunarsih Sulisuka, Erland Evansta Suryawan, I Wayan Koko Sutrisno, Hendri Syafitri, Liza Syafrianto, M Khalid Syahrul Khairi Tri Rahayu Ulli Kadaria Ulli Kadaria Ulli Kadaria Ulli Kadaria Ulli Kadaria Vemi Ridantam Wilian, Rozy Medi Wisnu Prayogo Wisnu Prayogo Wisnu Prayogo Wulandari0, Annisa Yonky Dwi Putra Yonky Dwi Putra, Yonky Dwi Yudi Ayunata Yulisa Fitrianingsih Yulisa Fitrianingsih Yuni Yolanda Zul Pratomo, Dicky Reno