Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

Daya Hambat Obat Kumur dengan Kandungan Povidone Iodine dan Metil Salisilat Terhadap Pertumbuhan Staphylococcus Aureus Supriyatin, Supriyatin; Solikhah, Solikhah; Al Sas, Oktafirani
Jurnal Multidisiplin Indonesia Vol. 2 No. 1 (2023): Jurnal Multidisiplin Indonesia
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/jmi.v2i1.145

Abstract

Obat kumur merupakan suatu larutan atau cairan yang digunakan untuk membantu memberikan kesegaran pada rongga mulut serta membersihkan mulut dari plak dan organisme yang menyebabkan penyakit di rongga mulut. Kandungan bahan aktif Povidone Iodine sebagai antiseptik dan memiliki spektrum yang luas terhadap aktivitas antibakteri, jamur, protozoa dan virus, digunakan untuk prosedur oral hygiene rutin, sedangkan kandungan metil salisilat berfungsi sebagai antiseptik yang mampu mengatasi kuman penyebab bau mulut, plak dan membantu menjaga kondisi gusi lebih sehat, sebagai antiseptik karena agresi terhadap mikroba bakteri yang tidak diikuti dengan perusakan jaringan sekitarnya. Staphylococcus aureus merupakan bakteri gram positif yang termasuk jenis bakteri flora normal yang terdapat pada kulit, saluran pernafasan serta saluran pencernaan manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui zona hambat Obat kumur dengan kandungan bahan aktif povidone iodine & metil salisilat dalam pertumbuhan bakteri dan mengetahui perbedaan zona hambat dari masing- masing kandungan obat kumur. Metode penelitian yang digunakan yaitu deskriptif dengan teknik sampling yaitu purposive. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh zona hambat obat kumur dengan kandungan bahan aktif povidone iodine mempunyai zona hambat dalam pertumbuhan Staphylococcus dengan diameter kategori Kuat dari 11,50-15,00 mm, Sedang 6,00-9,50 mm, Lemah 0,00 mm dan obat kumur dengan kandungan bahan aktif metil salisilat mempunyai kemampuan dalam menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus dengan diameter kategori Kuat dari 11,00-15,00, Sedang 5,50-8,50 mm, Lemah 4,50 mm. Berdasarkan uji statistik anova tidak terdapat perbedaan zona hambat dari masing-masing merek obat kumur yang memiliki kandungan bahan aktif povidone iodine dan metil salisilat dalam pertumbuhan Staphylococcuas aureus diperoleh nilai signifikansi adalah 0,46.
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT KELURAHAN TUKMUDAL DALAM PENCEGAHAN MALNUTRISI MELALUI PROGRAM “GEMA NUTRISI LANSIA”: EMPOWERMENT OF THE TUKMUDAL VILLAGE COMMUNITY IN MALNUTRITION PREVENTION THROUGH THE "SENIOR NUTRITION ECHO" PROGRAM Al Sas, Oktafirani; Alkhowarizmi, Annas
GEMAKES: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2025): GEMAKES: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes RI Jakarta I

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36082/gemakes.v5i2.2054

Abstract

Seseorang yang telah berusia 60 tahun atau lebih disebut sebagai lansia.  Proses penuaan dipengaruhi oleh asupan nutrisi yang diperoleh tubuh. Lansia sering mengalami masalah kesehatan yang dapat mengganggu penyerapan nutrisi, seperti penurunan produksi air liur, kesulitan menelan, dan perlambatan proses pencernaan. Kondisi ini membuat lansia rentan terhadap kekurangan gizi karena makanan tidak terserap oleh tubuh dengan baik. Malnutrisi merupakan kondisi yang dapat diakibatkan oleh kurangnya asupan makanan atau gangguan pada proses penyerapan, pencernaan, dan pemanfaatan zat gizi dalam tubuh. Kondisi ini dapat muncul baik akibat kekurangan maupun kelebihan nutrisi. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan kesadaran lansia tentang pentingnya gizi seimbang melalui pelatihan dan pemberdayaan, sebagai langkah awal identifikasi status gizi mereka, dan juga ikut serta dalam program PUSKESOS di Kelurahan Tukmudal Kecamatan Sumber Kabupaten Cirebon. Metode pengabdian masyarakat yang dilakukan adalah dengan melakukan pelatihan dan pemberdayaan masyarakat sebanyak 15 orang lansia melalui program gema nutrisi lansia. Kegiatan dilakukan dmulai dengani makan bersama, penyuluhan, dan berkebun.  Hasil kegiatan pemeriksaan IMT terakhir di bulan Agustus 2024 terhadap 15 orang lansia dengan keadaan gizi baik (non malnutrisi) . Kesimpulan kegiatan ini terdapat peningkatan non malnutrisi yang signifikan dibandingkan dengan pemeriksaan bulan Mei yang menemukan 5 orang lansia dengan keadaan malnutrisi.
Gambaran Kadar Alkaline Phosphatase (ALP) Pada Petugas Finishing Rotan yang Terpapar Bahan Kimia Al Sas, Oktafirani; Choliq, Rochman; Muhlisanie, Kholisah
Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada: Jurnal Ilmu-ilmu Keperawatan, Analis Kesehatan dan Farmasi Vol 25 No 2 (2025): Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada Volume 25 Nomor 2 Tahun 2025
Publisher : LPPM Universitas Bakti Tunas Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36465/jkbth.v25i2.1694

Abstract

ABSTRAK Kadar hemoglobin rendah selama kehamilan adalah masalahan yang sering muncul pada kesehatan ibu hamil. Kadar hemoglobin yang berada di bawah batas normal dapat menyebabkan anemia, yaitu kondisi yang timbul akibat kekurangan nutrisi penting. Anemia dapat dicegah dengan mencukupinya asupan nutrisi yang diperlukan. Mengonsumsi makanan yang sehat dan seimbang, terutama makanan seperti hewani kaya zat besi, akan membantu mencegah rendahnya kadar Hb. Kekurangan zat besi pada ibu hamil dapat menurunkan kadar hemoglobin, yang berisiko mengganggu pertumbuhan dan perkembangan janin. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kadar hemoglobin pada ibu hamil dengan kekurangan energi kronis (KEK) dan untuk mengetahui persentase kadar hemoglobin yang rendah pada ibu hamil dengan kekurangan energi kronis (KEK). Metode penelitian ini menggunakan metode survey deskriptif kuantitatif. Untuk analisa data menggunakan program SPSS memakai uji statistik deskrtif frequency didapat nilai rata-rata kadar hb 11.84 g/dl, kadar tertinggi 14,8 g/dl, dan kadar terendah10,1 g/dl yang telah dilakukan terhadap 30 sampel darah vena dari ibu hamil dengan kekurangan energi kronis (KEK) di Puskesmas Kiajaran Indramayu. Hasil penelitian pemeriksaan kadar hemoglobin pada Ibu hamil dengan kekurangan energi kronis (KEK) di Puskesmas Kiajaran Wetan Indramayu dengan jumlah 30 orang mempunyai kadar hemoglobin dengan rata- rata 11.84 g/dl, kadar tertinggi 14.8 g/dl dan kadar terendah 10.1 g/dl. Persentase kadar hemoglobin yang rendah sebanyak 16 ibu hamil KEK dengan persentase yaitu 53.3%. Kesimpulan bahwa kadar hb rendah pada ibu hamil KEK dapat berisiko anemia.Kata Kunci : Kadar Hemoglobin, Ibu Hamil, KEK, Anemia, Kekurangan Zat Besi .
Gambaran Kadar Kalsium Serum Pada Lansia Di Kecamatan Sumber Kabupaten Cirebon Usdiyanto Usdiyanto; Ikhawni Ikhawni; Oktafirani Al Sas
Inovasi Kesehatan Global Vol. 1 No. 3 (2024): Agustus : Inovasi Kesehatan Global
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62383/ikg.v1i3.682

Abstract

Metabolic processes in the body decrease with age. One of them occurs in calcium, when the age of more than 50 years, the amount of calcium in the body decreases by 30%. Meanwhile, if more than 70 years old, it decreases by about 50%. The imbalance of calcium levels in the body causes various diseases, one of which is osteoporosis. Osteoporosis occurs because the bones experience a decrease in bone mass due to lack of calcium intake in the body so that the body uses calcium reserves in the bones and teeth to meet calcium needs in the body. Because of the use of calcium in the bones, it causes the bones to lose mass so that they become porous, brittle, and even broken. One group that is prone to osteoporosis is the elderly. The purpose of this study was to determine serum calcium levels below normal values and the percentage of serum calcium levels below normal values in the elderly. The research method used was analytic survey, while the examination method used Cresolphtalein Complexone (CPC). The population in the study were 33 elderly aged 60 - 74 years in RW 03 Kaliwadas Village, Sumber District, Cirebon Regency. This study used a total sampling technique, so the sample used was the entire elderly population aged 60 - 74 years in RW 03 Kaliwadas Village. The research data were analyzed using the SPSS chi-square test program, and the value of Asymp. Sig. (2- Sided) is less than 0.05 which is 0.010. There are serum casium levels that are below normal values in the elderly with a percentage of 66.7%.
Analisis Cemaran Bakteri Pada Teh Manis Oktafirani Al As; Misika Alam; M. Ibnu Ubaidillah; Dina Anjani
Inovasi Kesehatan Global Vol. 1 No. 3 (2024): Agustus : Inovasi Kesehatan Global
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62383/ikg.v1i3.683

Abstract

Sweet tea drinks sold by street vendors are susceptible to contamination by bacteria. The presence of excess or pathogenic bacteria in sweet tea can cause health problems such as gastrointestinal infections, hence it is important to ensure sweet tea is free from bacterial contamination that is harmful to consumers' health. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui angka cemaran bakteri pada teh manis yang dijual oleh pedagang es teh manis di Kecamatan Plumbon Kabupaten Cirebon dan untuk mengetahui persentase teh manis yang tidak memenuhi syarat peraturan Badan POM RI No. 13 Tahun 2019 dalam parameter Angka Lempeng Total Bakteri dengan pemeriksaan pour plate (cawan tuang). This study used a survey research method. Sampling was done by total sampling. The samples of this study were 12 samples of sweet tea sold by sweet iced tea traders in Plumbon District, Cirebon Regency. Data analysis using percentages with simple calculations. Based on the results of the study, the highest bacterial contamination value was 16 × 105 colonies/mL and the lowest was 1.5 × 104 colonies/mL. Analysis of percentage data on 12 samples of sweet tea sold by sweet iced tea traders in Plumbon District, Cirebon Regency, 100% exceeded the threshold of the requirements of the Indonesian Food and Drug Administration Regulation No. 13 of 2019, making it unfit for consumption.
Deteksi Dini Pencegahan Stunting pada Remaja melalui Pemeriksaan Laboratorium : Kalsium Darah Al Sas, Oktafirani; Setiawan, Fiki; Aji, Rizal Ibrahim
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 8, No 5 (2025): Volume 8 No 5 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v8i5.19913

Abstract

ABSTRAK Stunting merupakan gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak karena kekurangan makanan bergizi, sering sakit, atau kurang stimulasi. Kekurangan protein dan mikronutrien, termasuk kalsium, merupakan faktor risiko utama stunting. Berdasarkan data tahun 2014 menunjukkan bahwa 23,8% anak di seluruh dunia dan 33,5% anak di negara-negara berkembang mengalami stunting atau pertumbuhan terhambat. Di Indonesia, berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2013, prevalensi stunting pada remaja mencapai 35,1%. Provinsi Jawa Timur prevalensi stunting pada remaja mencapai 31,1%, sebanyak 10,8% dikategorikan sangat pendek dan 20,3% lainnya dikategorikan pendek. Pemeriksaan kalsium darah pada remaja awal sangat penting karena kalsium tidak hanya penting untuk pertumbuhan tulang, tetapi juga berperan dalam berbagai fungsi tubuh lainnya, seperti kontraksi otot, transmisi saraf, dan pembekuan darah. Dengan melakukan pemeriksaan secara rutin, kekurangan kalsium dapat dideteksi dini dan segera diberikan pencegahan yang tepat. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan tentang pentingnya gizi seimbang sejak dini, terutama terkait dengan peran kalsium dalam pertumbuhan tulang. Manfaat pemeriksaan kadar kalsium darah, diharapkan dapat mendeteksi potensi risiko stunting pada generasi mendatang dan mendorong remaja untuk melakukan gaya hidup sehat. Kegiatan ini di laksanakan di SMAN 1 Dukupuntang, Dukupuntang, Kabupaten Cirebon. Pelaksanaan kegiatan PKMD ini pada tanggal 02 September 2024 sampai tanggal 09 September 2024. Hasil pemeriksaan kadar kalsium darah pada seluruh responden (48 orang) menunjukkan bahwa 100% memiliki kadar kalsium di bawah normal. Kata Kunci: Stunting, Remaja, Kalsium Darah  ABSTRACT Stunting is the impaired growth and development of children due to lack of nutritious food, frequent illness or lack of stimulation. Protein and micronutrient deficiencies, including calcium, are major risk factors for stunting. Based on 2014 data, 23.8% of children worldwide and 33.5% of children in developing countries experience stunting or stunted growth. In Indonesia, based on the results of the Basic Health Research in 2013, the prevalence of stunting in adolescents reached 35.1%. In East Java, the prevalence of stunting in adolescents reached 31.1%, with 10.8% categorized as very short and 20.3% categorized as short. Checking blood calcium in early adolescents is very important as calcium is not only essential for bone growth, but also plays a role in various other bodily functions, such as muscle contraction, nerve transmission, and blood clotting. By conducting regular checks, calcium deficiency can be detected early and appropriate prevention can be given immediately. The purpose of this activity is to increase knowledge about the importance of balanced nutrition from an early age, especially related to the role of calcium in bone growth. Through checking blood calcium levels, it is expected to detect the potential risk of stunting in future generations and encourage adolescents to adopt a healthy lifestyle. This activity was carried out at SMAN 1 Dukupuntang, Dukupuntang, Cirebon Regency. The implementation of this PKMD activity was on September 02, 2024 to September 09, 2024. The results of checking blood calcium levels in all respondents (48 people) showed that 100% had calcium levels below normal. Keywords: Stunting, Adolescents, Blood Calcium
Skrining Bank Darah untuk Pemeriksaan HBsAg di Kelurahan Pasalakan Kecamatan Sumber Al Sas, Oktafirani; Supenah, Pipin; Solikhah, Solikhah
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 7, No 1 (2024): Volume 7 No 1 2024
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v7i1.12166

Abstract

ABSTRAK Tes HBsAg (Hepatitis B Surface Antigen) adalah tes darah yang digunakan untuk mendeteksi keberadaan antigen permukaan virus hepatitis B. Tes ini penting untuk mengetahui apakah seseorang terinfeksi virus hepatitis B atau tidak. Virus ini merupakan salah satu dari berbagai virus yang menginfeksi hati. Faktor penyebabnya antara lain penggunaan jarum suntik secara bersamaan, hubungan seks bebas, melalui cairan tubuh penderita, serta dari ibu yang menderita hepatitis B kepada bayi yang akan dilahirkannya. Beberapa cara untuk mengobati dan mengendalikan penyakit hepatitis B adalah dengan menghindari berbagi peralatan pribadi, melakukan hubungan seksual yang aman, dan menjaga pola hidup sehat. Kematian dilaporkan di Amerika Serikat pada tingkat 1%. Infeksi Hepatitis B akut pada orang dewasa menyebabkan kesembuhan total dengan dikeluarkannya HBsAg dari darah dan produksi anti-HBs yang memberikan kekebalan terhadap infeksi berikutnya. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang pentingnya pencegahan penyakit hepatitis B. Metode yang digunakan adalah edukasi kepada masyarakat dengan menyebarkan angket sebelum pengambilan sampel darah untuk pemeriksaan lebih lanjut. Hasil skrining bank darah menunjukkan pemeriksaan imunoserologi HBsAg non reaktif. Kesimpulan dari kegiatan ini adalah seluruh responden dinyatakan sehat atau tidak tertular virus Hepatitis B. Saran dari kegiatan ini adalah agar responden tetap menjaga kesehatannya agar tetap sehat dan terhindar dari virus Hepatitis B. Kata Kunci: Hepatitis B, Pemeriksaan HBsAg, Skrining Bank Darah  ABSTRACT The HBsAg (Hepatitis B Surface Antigen) test is a blood test used to detect the presence of the hepatitis B virus surface antigen. This test is important to find out whether a person is infected with the hepatitis B virus or not. This virus is one of the various viruses that infect the liver. The causal factors include using injection needles at the same time, free sex, via the patient's body fluids, as well as from mothers suffering from hepatitis B to the babies they will give birth to. Some ways to treat and control hepatitis B are avoiding sharing personal equipment at the same time, having safe sexual relations, maintaining a healthy lifestyle. Deaths are reported in the United States at a rate of 1%. Acute Hepatitis B infection in adults causes complete recovery with the removal of HBsAg from the blood and the production of anti-HBs providing immunity against subsequent infections. The aim of this activity is to provide knowledge to the public about the importance of preventing hepatitis B. The method used is education to the public by distributing questionnaires before taking blood samples for further examination. The results of the blood bank screening showed that the HBsAg immunoserological examination was non-reactive. The conclusion of this activity is that all respondents were declared healthy or not infected with the Hepatitis B virus. The suggestion for this activity is for respondents to maintain their health so that they stay healthy and avoid the Hepatitis B virus. Keywords: Hepatitis B, Hbsag Test, Blood Bank Screening
Examination of Calcium Oxalate Crystals In Mountain Water Consumers In Kuningan Regency Al Sas, Oktafirani; Prambudi, Hery; Syafitri, Mutiara
Jurnal Health Sains Vol. 5 No. 4 (2024): Journal Health Sains
Publisher : Syntax Corporation Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46799/jhs.v5i4.1259

Abstract

Urine, a byproduct of metabolism occurring in the kidneys, serves as a crucial diagnostic medium in laboratory settings, including the microscopic examination of calcium oxalate crystals. Influenced by various factors, such as demographics and environmental conditions, the formation of these crystals underscores broader health considerations. Mountain water, renowned for its mineral content, constitutes a significant source of daily hydration. However, the dominance of calcium and magnesium elements in surface water raises concerns regarding calcium oxalate crystallization. This study investigates the prevalence of calcium oxalate crystals in mountain water consumers within Kuningan Regency. Employing descriptive research methods and random sampling techniques, the study examined urine samples from 38 individuals. Results revealed calcium oxalate crystals in 11 participants, constituting 28.95% of the sample. This finding underscores the need for further research into water quality and its implications for public health in the region. By elucidating the relationship between water composition and urinary crystal formation, this study informs strategies for safeguarding community health and informs future policy initiatives regarding water resource management.
Penyuluhan Kesehatan: Pengaruh Konsumsi Vitamin C Terhadap Peningkatan Kadar Hemoglobin Pada Remaja Putri Pondok Pesantren Tarbiyatul Banin Kaliwadas Cirebon Supriyatin Supriyatin; Muhammad Ibnu Ubaidillah; Fiki Setiawan; Usdiyanto Usdiyanto; Ikhwani Ikhwani; Oktafirani Al Sas; Shinta Nur Asih
KREATIF: Jurnal Pengabdian Masyarakat Nusantara Vol. 1 No. 4 (2021): Desember : Jurnal Pengabdian Masyarakat Nusantara
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/kreatif.v1i4.3687

Abstract

Adolescents need iron intake and micronutrients that can help the absorption of iron, including vitamin C, therefore consuming vitamin C supplements that are water-soluble and widely distributed in food for the body plays a very important role in body health. The content of vitamin C is also found in vegetables, fruits and vitamin C supplements. The activity aimed to provide information about the significant effect on hemoglobin levels before and after consuming vitamin C in adolescent girls at the Tarbiyatul Banin Kaliwadas Cirebon Islamic Boarding School. Community service method by conducting observations, determining treatment targets and hemoglobin examinations. The results showed that there was a significant increase in hemoglobin levels before and after consuming vitamin C. The conclusion was that vitamin C could be used to help increase Hb levels in adolescent girls at the Tarbiyatul Banin Kalibadas Islamic Boarding School.
Application of Artificial Intelligence in White Blood Cell Classification Based on Microscopic Images: A Scoping Review Hasanah, Annisa Nur; Sas, Oktafirani Al; Kosen, Yosua Darmadi
Jurnal Kesehatan Budi Luhur: Jurnal Ilmu-Ilmu Kesehatan Masyarakat, Keperawatan, dan Kebidanan Vol. 18 No. 2 (2025): July 2025
Publisher : STIKes Budi Luhur Cimahi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62817/jkbl.v18i2.432

Abstract

White blood cell (WBC) classification plays a crucial role in hematological diagnosis and is typically performed manually using microscopic images. However, manual analysis is limited by subjectivity and time inefficiency. With recent technological advances, artificial intelligence (AI) offers promising solutions for automated WBC classification that enhance accuracy and efficiency. This study presents a scoping review of 20 scientific publications discussing AI applications in microscopic image-based WBC classification. Literature searches were conducted in PubMed, ScienceDirect, Institute of Electrical and Electronics Enginers (IEEE) Xplore, and Google Scholar using relevant keywords such as “AI”, “white blood cell”, and “microscopic image”. Findings indicate that the most commonly used method is Convolutional Neural Network (CNN), either standalone or hybrid (e.g., YOLOv5, ResNet, Vision Transformer), achieving accuracies up to 99.7%. The datasets were mostly public Blood Cell Count and Detection (BCCD), Leucocyte Images for Segmentation and Classification (LISC), Raabin-WBC or local laboratory sources. The reviewed studies aimed at automatic WBC detection, classification, and morphological identification. Despite encouraging outcomes, challenges such as external validation and limited access to real clinical data remain. Overall, AI has proven effective in enhancing speed, accuracy, and objectivity in WBC classification. Further research is needed to support AI integration into real-world clinical laboratory practice.