Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Korelasi antara Antropometri dan Caliper terhadap Kadar Hidrasi, Air, dan Minyak Kulit secara Segmental: Correlation between Anthropometric Measures and Skinfold Caliper Measurements with Segmental Skin Hydration, Water, and Oil Levels Sukmawati Tansil Tan; Alexander Halim Santoso; Bryan Anna Wijaya
Jurnal Keperawatan Bunda Delima Vol 8 No 3 (2026): EDISI MARET
Publisher : Akademi Keperawatan Bunda Delima Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59030/jkbd.v8i3.263

Abstract

Latar Belakang: Parameter antropometri, seperti IMT, lingkar tubuh, dan rasio distribusi lemak, serta pengukuran ketebalan lemak subkutan dengan caliper telah lama digunakan untuk menilai status gizi dan risiko metabolik, namun indikator sederhana yang dapat digunakan untuk memperkirakan kondisi hidrasi dan kesehatan kulit secara praktis belum ada. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi hubungan antara parameter antropometri dan ketebalan lipatan kulit dengan kadar hidrasi, air, dan minyak kulit secara segmental pada populasi dewasa di Kelurahan Kota Bambu, Jakarta Barat. Metode: Desain penelitian menggunakan metode potong lintang dengan melibatkan 135 responden yang menjalani pemeriksaan antropometri, pengukuran lipatan kulit menggunakan caliper, serta evaluasi kondisi kulit menggunakan skin analyzer pada kedua lengan. Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa hidrasi kulit tidak memiliki korelasi bermakna dengan seluruh parameter antropometri maupun ketebalan lemak subkutan, menegaskan bahwa hidrasi epidermal terutama dipengaruhi oleh integritas skin barrier dan mekanisme homeostatik stratum korneum. Sebaliknya, kadar air dan minyak kulit menunjukkan korelasi positif konsisten dengan lingkar leher dan lingkar betis, serta korelasi negatif dengan beberapa lipatan kulit, yang mengindikasikan bahwa massa otot segmental dan perfusi mikrovaskular berperan dalam mempertahankan kadar air dan aktivitas kelenjar sebasea, sedangkan akumulasi lemak subkutan cenderung menurunkan keduanya. Kesimpulan: Temuan ini menegaskan bahwa ukuran tubuh global seperti IMT atau lingkar perut bukan prediktor utama karakteristik kulit, dan bahwa kualitas kulit lebih ditentukan oleh faktor lokal. Penelitian lanjutan dengan desain longitudinal serta integrasi parameter fisiologi kulit tambahan, seperti aliran darah, TEWL, dan biomarker epidermal, diperlukan untuk memperkuat pemahaman mekanistik dan mendukung pengembangan strategi intervensi dermatologis yang lebih presisi dan segmental.
Korelasi Komposisi Tubuh dengan Risiko Penyakit Jantung berdasarkan Framingham pada Wanita Kelurahan Kota Bambu Christian Wijaya; Alexander Halim Santoso; Bryan Anna Wijaya
Jurnal Keperawatan Bunda Delima Vol 8 No 3 (2026): EDISI MARET
Publisher : Akademi Keperawatan Bunda Delima Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59030/jkbd.v8i3.264

Abstract

Latar Belakang: Perubahan komposisi tubuh pada perempuan, termasuk peningkatan adipositas sentral dan penurunan massa otot, berperan penting dalam meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular. Framingham Risk Score (FRS) memberikan estimasi risiko 10-tahun yang dapat digunakan untuk menilai pengaruh parameter tubuh terhadap profil risiko tersebut. Tujuan: Menilai hubungan antara komposisi tubuh dengan risiko penyakit jantung berdasarkan FRS pada perempuan di Kelurahan Kota Bambu. Metode: Penelitian potong lintang dilakukan pada 82 perempuan. Parameter komposisi tubuh meliputi indeks massa tubuh, lemak subkutan, lemak visceral, serta massa otot rangka. Risiko penyakit jantung dinilai menggunakan FRS. Analisis korelasi Spearman digunakan untuk mengevaluasi hubungan antara variabel. Hasil: Mayoritas responden berada pada kategori risiko rendah, namun variasi skor FRS cukup luas (0–15). Terdapat korelasi positif signifikan antara lemak tubuh total (r = 0,224; p < 0,05), IMT (r = 0,261; p < 0,05), dan terutama lemak visceral (r = 0,360; p < 0,01) dengan FRS. Sebaliknya, massa otot tubuh utama berkorelasi negatif signifikan dengan FRS (r = –0,257; p < 0,05), menunjukkan efek protektif.Kesimpulan: Adipositas sentral dan total berperan dalam peningkatan risiko penyakit jantung pada perempuan, sedangkan massa otot menunjukkan kontribusi protektif. Parameter komposisi tubuh dapat dimanfaatkan sebagai alat skrining dini di komunitas untuk menilai risiko kardiovaskular. Penelitian longitudinal diperlukan untuk memperkuat temuan ini.
Correlation between Muscle Strength, Calf Circumference, Vitamin D, and IGF-1 on Depression in the Elderly Paskalis Andrew Gunawan; Anastasia Ratnawati Biromo; Alexander Halim Santoso; Bryan Anna Wijaya; Kasvana Kasvana; Louise Audrey Sukianto; Yohanes Firmansyah
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 5 (2026): Volume 6 Nomor 5 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i5.22435

Abstract

ABSTRACT Depression in the elderly is a multifaceted issue influenced by various physiological factors. This study investigates the correlation between muscle strength, calf circumference, Vitamin D, and Insulin-like Growth Factor 1 (IGF-1) levels and their collective impact on depression among the elderly.  This study aims to understand the correlation between muscle strength, calf circumference, Vitamin D, and IGF-1 levels on depression to develop targeted interventions to improve mental health outcomes in this demographic. This cross-sectional study involved 82 older people at RPTRA Krendang. Depression is measured using the Geriatric Depression Scale (GDS). Data were analyzed using Spearman's Rho to see the Correlation between Muscle Strength, Calf Circumference, Vitamin D, and IGF-1 on Depression in the Elderly. The study found most respondents were female (78%), with an average age of 74.34 years, and according to the Geriatric Depression Scale, the majority (59.8%) of respondents were normal. This study highlighted significant correlations between muscle strength, calf circumference, and decreased Vitamin D and IGF-1 levels with higher depression scores. These findings suggest that diminished physical health markers and nutrient deficiencies are associated with increased depressive symptoms in the elderly. Measuring muscle strength, calf circumference, Vitamin D, and IGF-1 levels is a good approach to understanding depression in the elderly that will lead to effective interventions by health workers and improve quality of life. Keywords: Calf Circumference; Depression; IGF-1; Muscle Strength; Vitamin D. 
DETEKSI DINI HIPERTENSI MELALUI SKRINING TEKANAN DARAH SEBAGAI INTERVENSI PROMOTIF-PREVENTIF DALAM MENGURANGI RISIKO KOMPLIKASI KARDIOMETABOLIK PADA POPULASI UMUM DI JAKARTA SELATAN Johan Johan; Alexander Halim Santoso; Bryan Anna Wijaya; Axsel Harsono; Evelyn Evelyn
Jurnal Pengabdian Kolaborasi dan Inovasi IPTEKS Vol. 3 No. 6 (2025): Desember
Publisher : CV. Alina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59407/jpki2.v3i6.3249

Abstract

Pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan deteksi dini hipertensi melalui skrining tekanan darah sebagai intervensi promotif-preventif dalam mengurangi risiko komplikasi kardiometabolik pada populasi lansia di Jakarta Selatan. Metode pengabdian yang digunakan meliputi edukasi kesehatan terkait hipertensi dan faktor risikonya, skrining tekanan darah menggunakan prosedur standar, serta konseling dan rujukan bagi peserta dengan tekanan darah tinggi, yang diselenggarakan melalui siklus Plan-Do-Check-Act (PDCA). Hasil pengabdian menunjukkan bahwa dari 99 partisipan, 44,4% memiliki tekanan darah normal, 17,2% prehipertensi, dan 38,4% hipertensi, dengan mayoritas peserta perempuan dan rerata usia 71,85 tahun. Simpulan, skrining tekanan darah berbasis komunitas efektif meningkatkan deteksi dini hipertensi, meningkatkan kesadaran peserta terhadap faktor risiko, serta berpotensi mengurangi risiko komplikasi kardiometabolik, sehingga mendukung strategi promotif-preventif kesehatan masyarakat.
Edukasi dan Skrining Kesehatan melalui Pemeriksaan Asam Urat dan Kekuatan Genggaman Tangan pada Masyarakat Dewasa di Jelambar: Education and Health Screening through Uric Acid Examination and Handgrip Strength Assessment among Adults in Jelambar Sukmawati Tansil Tan; Alexander Halim Santoso; Bryan Anna Wijaya; Fidelia Alvianto; Aditya Pratama
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bunda Delima Vol 5 No 1 (2026): EDISI FEBRUARI
Publisher : Akademi Keperawatan Bunda Delima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59030/jpmbd.v5i1.124

Abstract

Pendahuluan: Hiperurisemia dan sarkopenia merupakan dua kondisi metabolik dan muskuloskeletal yang prevalensinya meningkat seiring bertambahnya usia dan perubahan gaya hidup masyarakat perkotaan. Kondisi ini sering kali tidak terdeteksi pada tahap awal karena kurangnya pemeriksaan rutin di tingkat layanan primer. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan kesadaran dan melakukan deteksi dini terhadap risiko hiperurisemia dan sarkopenia melalui pemeriksaan kadar asam urat dan kekuatan genggaman tangan (handgrip strength, HGS) pada masyarakat dewasa di Kelurahan Jelambar, Jakarta Barat. Metode kegiatan meliputi edukasi kesehatan, pemeriksaan asam urat kapiler menggunakan alat digital, dan pengukuran HGS dengan hand dynamometer sesuai prosedur standar. Sebanyak 46 partisipan berusia 20–63 tahun berpartisipasi secara sukarela. Hasil menunjukkan rerata kadar asam urat sebesar 6,56 ± 1,83 mg/dL dengan proporsi hiperurisemia 50%, sedangkan rerata kekuatan genggaman tangan 24,49 ± 8,55 kg dengan 30,4% peserta menunjukkan indikasi penurunan kekuatan otot. Data ini menegaskan adanya kecenderungan gangguan metabolik dan muskuloskeletal pada populasi usia produktif. Kesimpulan: Pelaksanaan skrining sederhana ini terbukti efektif dan mudah diaplikasikan di komunitas serta meningkatkan literasi kesehatan mengenai gaya hidup aktif, hidrasi, dan konsumsi protein adekuat. Integrasi pemeriksaan asam urat dan HGS dapat menjadi model promotif–preventif untuk pencegahan hiperurisemia dan sarkopenia di tingkat layanan primer.
Skrining Kesehatan Mental Berbasis DASS-Y sebagai Upaya Promotif–Preventif pada Anak Sekolah di Jakarta Barat: Mental Health Screening Using DASS-Y as a Promotive–Preventive Effort among School-Aged Children in West Jakarta Naomi Esthernita Fauzia Dewanto; Alexander Halim Santoso; Bryan Anna Wijaya; Diana Dinali; Disya Gwyneth Aziel
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bunda Delima Vol 5 No 1 (2026): EDISI FEBRUARI
Publisher : Akademi Keperawatan Bunda Delima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59030/jpmbd.v5i1.125

Abstract

Pendahuluan: Kesehatan mental remaja merupakan isu penting kesehatan masyarakat yang membutuhkan deteksi dini dan intervensi preventif. Program pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk melakukan skrining gejala depresi, ansietas, dan stres pada siswa sekolah menggunakan Depression Anxiety Stress Scale–Youth (DASS-Y) serta meningkatkan literasi kesehatan mental di lingkungan pendidikan. Kegiatan dilaksanakan di Sekolah Mutiara Bangsa 3, Jakarta Barat, melibatkan 306 siswa usia 11–18 tahun. Metode: pendekatan Plan–Do–Check–Action (PDCA). Tahap plan meliputi koordinasi lintas sektor, sosialisasi, dan persiapan instrumen. Tahap do mencakup pelaksanaan skrining DASS-Y dan edukasi mengenai regulasi emosi, manajemen stres, serta gaya hidup mental sehat. Tahap check dilakukan melalui skoring dan kategorisasi hasil, sementara tahap action berupa konseling singkat dan rekomendasi rujukan bagi partisipan dengan skor sedang hingga berat. Hasil menunjukkan tingginya proporsi gejala emosional pada peserta. Sebanyak 73,5% siswa mengalami stres ringan hingga sangat berat; 100% siswa memiliki tingkat ansietas mulai dari ringan hingga sangat berat; dan seluruh siswa menunjukkan gejala depresi dengan derajat bervariasi. Kesimpulan: Temuan ini menegaskan urgensi skrining berkala di lingkungan sekolah sebagai upaya promotif–preventif. Program ini juga meningkatkan pemahaman siswa dan guru mengenai kesehatan mental. DASS-Y terbukti praktis, mudah diterapkan, dan relevan sebagai alat skrining berbasis sekolah. Implementasi berkelanjutan serta kolaborasi dengan fasilitas kesehatan diharapkan dapat memperkuat dukungan psikososial remaja dan mencegah konsekuensi jangka panjang gangguan kesehatan mental.
Peningkatan Kesadaran Kesehatan Kulit melalui Edukasi dan Pemeriksaan Hidrasi Kulit pada Penduduk di Kelurahan Kota Bambu, Jakarta Catharina Sagita Moniaga; Alexander Halim Santoso; Bryan Anna Wijaya
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bunda Delima Vol 5 No 1 (2026): EDISI FEBRUARI
Publisher : Akademi Keperawatan Bunda Delima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59030/jpmbd.v5i1.126

Abstract

Pendahuluan: Kesehatan kulit merupakan salah satu indikator penting yang mencerminkan keseimbangan antara faktor internal dan eksternal. Hidrasi, kadar minyak, dan kadar air kulit merupakan parameter utama yang menentukan elastisitas, fungsi protektif, serta penampilan kulit. Namun, kesadaran masyarakat untuk memeriksakan kondisi kulit secara komprehensif masih rendah. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan kesadaran kesehatan kulit sekaligus melakukan skrining sederhana pada masyarakat perkotaan. Metode: Kegiatan dilaksanakan di Kelurahan Kota Bambu, Jakarta Barat, pada Juni 2025 dengan melibatkan 168 peserta dari berbagai kelompok usia. Pendekatan Plan-Do-Check-Act (PDCA) yang digunakan mencakup edukasi interaktif mengenai kesehatan kulit serta pemeriksaan menggunakan skin analyzer digital untuk kadar air dan minyak, dan hidrometer kulit untuk menilai hidrasi. Hasil: Pemeriksaan menunjukkan rata-rata hidrasi kulit 58,71%, kadar air 69,08%, dan kadar minyak 32,50%, dengan variasi yang cukup luas antar individu. Hasil penelitian memperlihatkan mayoritas subjek berada pada kategori kulit normal, meskipun masih terdapat kelompok dengan kulit kering dan berminyak. Hal ini mengindikasikan adanya kebutuhan akan edukasi perawatan yang lebih terarah dan menyeluruh. Kesimpulan: Pemeriksaan sederhana terhadap hidrasi dan komposisi kulit dapat menjadi alat skrining komunitas yang efektif. Selain memberikan gambaran kondisi kulit masyarakat, kegiatan ini juga berperan dalam mendorong kesadaran dan perubahan perilaku menuju pola hidup sehat serta perawatan kulit yang tepat.