Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

PERHITUNGAN EFISIENSI PADA BOILER di PT. PLTU TANJUNG AWAR-AWAR Dendrifika Anggun Maharani; Eko Naryono; Arif Eko
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 7 No. 2 (2021): August 2021
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v7i2.232

Abstract

PT. PLTU Tanjung Awar Awar merupakan Perusahaan pembangkit listrik tenaga uap yang menggunakan batu bara sebagai bahan bakar. Energi panas pembakaran digunakan untuk memanaskan air , menghasilkan uap jenuh dan uap lewat jenuh. Selama proses berlangsung dimungkinkan terjadi kehilangan panas atau kalor. Kehilangan panas ini dapat menurunkan efisiensi penyerapan panas dari boiler . Kehilangan panas ini perlu dievaluasi secara rutin dengan cara dilakukan perhitungan efisiensi boiler . Perhitungan dilakukan berdasarkan perhitungan HHV (High Heating Value), batu bara, Q pada boiler dan efisiensi penyerapan panas dari boiler . Dari hasil perhitungan diperoleh efisiensi penyerapan panas pada boiler sebesar 76,92 % pada umpan batu bara sebesar 200 Ton/h.
EVALUASI EFEKTIVITAS ALAT HEAT EXCHANGER 11E-25 PADA KILANG FUEL OIL COMPLEX (FOC) I DI PT PERTAMINA RU-IV CILACAP Khairunnisa Khairunnisa; Eko Naryono; M Ismail A
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 7 No. 2 (2021): August 2021
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v7i2.231

Abstract

Heat exchanger merupakan suatu alat yang berfungsi untuk mentransfer energi panas antara dua fluida berdasarkan perbedaan temperatur. Pada PT Pertamina RU-IV Cilacap, Heat Exchanger 11E-25 digunakan untuk memanaskan crude oil sebelum memasuki ke furnace. Lokasi Heat Exchanger 11E-25 ini berada di Crude Distilling Unit (CDU) I pada Kilang Fuel Oil Complex (FOC) I. Sistem peralatan ini telah relatif lama dioperasikan, yang diperkirakan efektivitas dari Heat Exchanger 11E-25 ini menurun sehingga perlu diketahui. Metode evaluasi efektivitas alat heat exchanger dilakukan dengan cara pengambilan data suhu pemanas masuk dan keluar saat kondisi di lapangan, data pada control room berupa flowrate crude oil dan long residue, hasil dari laboratorium pengujian hasil produk berupa viskositas crude oil dan long residue serta buku literatur. Berdasarkan hasil perhitungan didapatkan nilai Dirt Factor (Rd) sebesar 0,0146 hr.ft2.°F/Btu dengan nilai yang diperbolehkan sebesar 0,003 hr.ft2.°F/Btu. Pada Pressure Drop (ΔP) didapatkan nilai sebesar 7,160 Psi dengan nilai yang diperbolehkan sebesar 10 Psi. Efektivitas pada kondisi aktual (kondisi saat di lapangan) sebesar 38% dengan nilai yang diperbolehkan sebesar 30%. Berdasarkan harga Rd sebesar 0,0146 hr.ft2.°F/Btu dengan melebihi nilai yang diperbolehkan maka Heat Exchanger 11E-25 masih layak dioperasikan namun demikian perlu dilakukan pembersihan secara berkala agar dapat bekerja secara maksimal.
STUDI KELAYAKAN PEMANFAATAN LIMBAH (BLOTONG, AMPAS TEBU, TETES) SEBAGAI BIOBRIKET Ahmad Haris Firmansyah; Windi Zamrudy; Eko Naryono
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 9 No. 3 (2023): September 2023
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v9i3.3798

Abstract

Peningkatan produksi gula di Indonesia sebanding dengan limbah yang dihasilkan, salah satunya adalah limbah blotong. Limbah jenis ini menyebabkan pencemaran lingkungan dan menimbulkan bau menyengat yang menganggu masyarakat sekitar sehingga perlu diolah lebih lanjut. Pemanfaatan limbah blotong dipadukan dengan ampas tebu dan tetes sebagai biobriket diharapkan dapat menjadi solusi penanganan limbah industri dan untuk pencarian energi alternatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan variasi arang blotong dan ampas tebu terbaik dalam pembuatan biobriket limbah produksi gula dan mengetahui kelayakan biobriket dari blotong tebu ditinjau dari aspek ekonomi dan sosial. Pembuatan biobriket dilakukan dengan metode kuantitatif eksperimental diawali dengan pengeringan, dilanjutkan dengan karbonisasi dan pembriketan. Pembuatan biobriket dilakukan dengan variasi perbandingan bahan baku arang blotong dan ampas tebu sebesar  100:0, 95:5, 90:10, 85:15, 80:20. Hasil terbaik biobriket diperoleh pada variasi perbandingan blotong dan ampas tebu (90:10) yang menghasilkan kadar air briket 4,35%, laju pembakaran 0,107 g/menit dan nilai kalor 3.2520 kal/g.  Analisis ekonomi yang telah dilakukan menunjukkan adanya prospek ekspor yang cukup besar diberbagai negara. Selain itu,  produksi biobriket ini diproyeksikan menghasilkan laba bersih sebesar Rp  1.676.372.932,60 dan titik impas sebesar 75% dengan waktu pengembalian modal selama 2,1 tahun. Analisis aspek sosial lingkungan menunjukkan adanya peningkatan mutu hidup dan penyerapan tenaga kerja untuk masyarakat sekitar.  Studi yang telah dilakukan menunjukkan bahwa bisnis biobriket berbahan baku blotong dan ampas tebu layak dilakukan jika ditinjau dari segi ekonomi dan sosial.
DESAIN COOLER PADA PRARANCANGAN PABRIK DISPROPORTIONATED ROSIN DARI GONDORUKEM GRADE WG DENGAN KAPASITAS 3000 TON/TAHUN Anne Rahma Salsabila; Achmad Chumaidi; Eko Naryono
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 9 No. 4 (2023): December 2023
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v9i4.4181

Abstract

Tahapan proses pada pembuatan disproportionated rosin dari gondorukem yaitu tahap persiapan, pencampuran, reaksi kimia, pengendapan, pemisahan, dan pemurnian. Pada tahap pemurnian, disproportionated rosin produk dari evaporator didinginkan sebelum disimpan dalam tangki penyimpanan menggunakan cooler. Tujuan pendinginan untuk menurunkan suhu disproportionated rosin produk evaporator agar sesuai dengan kondisi operasi tangki penyimpanan. Oleh karena itu diperlukan desain cooler yang sesuai untuk menurunkan suhu disproportionted rosin. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan desain cooler pada prarancangan pabrik disproportionated rosin dengan kapasitas 3000 ton/tahun. Acuan yang digunakan pada perhitungan desain cooler adalah buku Process Heat Transfer oleh Donald Q. Kern menggunakan bantuan microsoft excel. Dari hasil perhitungan didapatkan tipe cooler yaitu Double Pipe Heat Exchanger (DPHE) dengan dimensi ukuran 2x1¼, NPS 1¼, schedule 40, diameter dalam pipa 0,115 ft, diameter luar pipa 0,138 ft, panjang pipa 20 ft, dan jumlah hairpin sebanyak 3 buah. Desain cooler ini diharapkan dapat menjadi acuan desain kebutuhan alat pada proses industri.
ANALISIS EFEKTIVITAS PROSES FILLING AND PACKING DI PERUSAHAAN AGRIKULTUR Safira Fereste; Eko Naryono
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 10 No. 1 (2024): March 2024
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v10i1.4183

Abstract

Suatu perusahaan manufaktur dalam menghasilkan produk yang baik hingga mencapai target, memerlukan metode untuk meningkatkan produktivitas para operatornya. Setiap harinya dalam melakukan proses produksi, Perusahaan agrikultur memberlakukan pembagian kerja operator menjadi 3 shift dengan total jam kerja per shift 8 jam.  Beban kerja pada area produksi dalam tiap shiftnya perlu dilakukan evalusi agar lebih efektif. Dengan demikian dapat diketahui apakah pembagian beban kerja tiap pekerjaan yang dilakukan oleh masing – masing operator telah merata. Hal ini bertujuan menghindari adanya beberapa operator yang mendapatkan beban kerja melebihi batas standart. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis beban kerja masing – masing operator dalam satu area produksi filling and packing. Penentuan beban kerja operator dilakukan dengan menggunakan Time Motion Analysis dengan alat stopwatch untuk mendapatkan cycle time per masing – masing kegiatan. Setelah melakukan analisis beban kerja menggunakan Time Motion Analysis, peneliti dapat memberikan usulan kepada Perusahaan agrikultur agar Perusahaan agrikultur dapat meningkatkan produktivitas operator. Hasil penelitian ini yaitu beban kerja operator pada Perusahaan agrikultur belum merata. Berdasarkan % beban kerja  OPT 1 dan OPT 2 bisa dilakukan oleh satu orang karena pada supply botol telah menggunakan mesin unscramble. Berdasarkan % beban kerja OPT 6 melebihi standart dikarenakan proses pembuatan box dilakukan secara manual.
PENGERINGAN SAMPAH PADAT ORGANIK MENGGUNAKAN METODE BIO-DRYING DI SALAH SATU PASAR KOTA MALANG Melly Handayani; Ananda Rizky Mahendra; Eko Naryono
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 10 No. 2 (2024): June 2024
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v10i2.5071

Abstract

Manusia dalam melakukan aktivitas sehari-hari, akan menghasilkan sampah baik jenis organik maupun anorganik. Pengelolaan sampah khususnya daerah perkotaan perlu diklakukan sebagai upaya dalam mengurangi timbunan sampah pada Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Salah satu metode pengelolaan sampah yang efektif digunakan dan ramah lingkungan adalah metode bio-drying. Pengeringan biologis (bio-drying) merupakan salah satu alternatif biokonversi mekanis-biologis pada pengolahan sampah organik. Penerapan  hasil rancangan ini diharapkan dapat mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan ke lingkungan terutama timbulnya bau tidak sedap yang ditimbulkan oleh tumpukan sampah di TPS salah satu Pasar Kota Malang. Penelitian ini dilakukan menggunakan reaktor tray bio-drying dengan massa sampah padat organik 5 kg pada setiap tray dengan laju alir aerasi 0,04167 m3/menit pada masing-masing tray. Hasil penelitian menunjukan bahwa dengan metode tray bio-drying mampu menurunkan kadar air awal sebesar 62.69% hingga menjadi 9.49%. Hasil rancangan pada kapasitas 4 m3 sampah per hari, untuk digunakan mengolah sampah di salah satu Pasar Kota Malang dengan bentuk reaktor empat persegi panjang dengan ukuran Panjang 8 m, lebar 3,3 m, dan tinggi 2,5 m. Pada sisi bawah dasar reactor dipasang kawat ram. Blower yang digunakan 2 buah dengan kapasitas masing masing 20 m3 /menit. Tujuan dari rancangan reaktor ini dapat bekerja secara kontinyu yang bertujuan untuk mengeringkan sampah sebesar 4m³ per hari, dengan produk sampah kering yang dihasilkan sekitar 250kg per hari sehingga dapat mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan ke lingkungan terutama meminimalkan timbulnya bau yang tidak sedap.
EVALUASI KINERJA ALAT LOW PRESSURE HEATER PT PLN NUSANTARA POWER UP TANJUNG AWAR-AWAR Salsabila Putri Rizaldi; Eko Naryono; Rizqi Rajiv Effendi
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 10 No. 3 (2024): September 2024
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v10i3.6241

Abstract

PT PLN Nusantara Power UP Tanjung Awar – Awar merupakan salah satu pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berkapasitas 2 × 350 MW di Indonesia yang menggunakan batubara sebagai bahan bakar utamanya. Proses pada PLTU melibatkan penggunaan steam untuk memutar sudu turbin guna menghasilkan gerakan mekanik yang kemudian dikonversi menjadi listrik melalui generator. Steam yang digunakan berasal dari pemanasan air di dalam boiler untuk di ubah fasenya menjadi uap kering melalui panas hasil pembakaran batubara. Guna meningkatkan efisiensi produksi pabrik, serta meringankan beban boiler dan konsumsi batubara maka diperlukan evaluasi alat low pressure heater. Evaluasi ini bertujuan untuk mengetahui kinerja low pressure heater (LPH) apakah alat tersebut masih layak atau perlu dilakukan perbaikan. Metode yang digunakan untuk menghitung kinerja low pressure heater menggunakan The American Society of Mechanical Engineers Performance Test Codes (ASME PTC) 12.1, dengan menghitung variabel nilai Terminal Temperature Difference (TTD), Drain Cooler Approach (DCA), dan Temperature Rise (TR). Hasil perhitungan menunjukkan bahwa kinerja low pressure heater di PLTU Tanjung Awar – Awar masih berfungsi dengan baik. Kesimpulan dari evaluasi ini adalah bahwa alat low pressure heater masih layak digunakan dan tidak memerlukan perbaikan saat ini.
EVALUASI KINERJA ALAT HIGH PRESSURE HEATER PT PLN NUSANTARA POWER UP TANJUNG AWAR – AWAR Paska Maryanti Sinaga; Eko Naryono; Rizqi Rajiv Effendi
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 10 No. 4 (2024): December 2024
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v10i4.6623

Abstract

PT PLN Nusantara Power UP Tanjung Awar – Awar merupakan salah satu pembangkit listrik tenaga uap di Indonesia dengan bahan bakar utama batubara. Prinsip kerja dari pembangkit listrik ini adalah memanaskan air dan mengubah air menjadi uap kering dalam boiler menggunakan panas dari pembakaran batubara. Sebelum air memasuki boiler, air dipanaskan pada alat penukar panas yaitu high pressure heater (HPH). Pada PLTU ini, terdapat tiga alat high pressure heater (HPH) yaitu HPH 1, HPH 2, dan HPH 3. Pemanasan air umpan sebelum menuju boiler bertujuan untuk meningkatkan kinerja boiler dan mengurangi penggunaan batubara pada produksinya. Dengan tujuan tersebut, maka menjadi penting untuk menjaga efektifitas kinerja dari alat HPH. Penurunan efisiensi efektivitas kinerja alat HPH dapat menyebabkan suhu air umpan yang masuk boiler lebih rendah, sehingga dibutuhkan pemanasan yang lebih besar dalam boiler. Evaluasi ini bertujuan untuk menghitung kinerja alat HPH dengan menggunakan metode The American Society of Mechanical Engineers Performance Test Codes (ASME PTC) 12.1.  Pada Evaluasi ini dilakukan perhitungan nilai TTD (Terminal Temperature Difference), DCA (Drain Cooler Approach), dan TR (Temperature Rise) yang kemudian dibandingkan dengan data desain dari setiap alat HPH. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa kinerja alat high pressure heater di PLTU Tanjung Awar – Awar masih berfungsi dengan baik karena nilai TTD, DCA, dan TR berada pada batas desain. Berdasarkan hasil perhitungan, nilai TTD untuk HPH 1, 2, dan 3 masing-masing adalah 5.35°C; 4.37°C; dan 3.5°C, sedangkan nilai DCA masing-masing adalah 6.3°C; 8°C; dan 4.2°C. Adapun nilai TR untuk HPH 1, 2, dan 3 berturut-turut adalah 35.4°C; 35°C; dan 23.3°C.
PERHITUNGAN NILAI PARAMETER KELARUTAN HILDEBRAND PELARUT CAMPURAN ORGANIK DALAM EKSTRAKSI BITUMEN Galih Pamungkas Indragiri; Zakijah Irfin; Dwina Moentamaria; Eko Naryono
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 11 No. 1 (2025): March 2025
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v11i1.6925

Abstract

Pemilihan pelarut dalam ekstraksi bitumen berdasarkan nilai rendemen yang dihasilkan menghabiskan biaya besar dan proses panjang. Pelarut yang belum banyak digunakan adalah pelarut campuran organik. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kemampuan pelarut campuran organik serta mencari formulasi pelarut yang sesuai untuk ekstraksi bitumen. Penentuan formulasi ini menggunakan parameter kelarutan hildebrand yang berfungsi untuk mendapatkan indeks kelarutan yang mendekati dengan bitumen asbuton yang akan diekstrak dengan berbasis pada pelarut campuran organik untuk cat yaitu thinner. Formulasi ini mengacu pada pemilihan bahan organik dengan campuran low boiling point 10-30%, medium boiling point 25-45%, high boiling point 45-60%. Dengan acuan tersebut dalam penelitian ini menggunakan formula 60[T]:30[PA]:10[EP], 55[T]:35[PA]:10[EP], 45[T]:45[PA]:10[EP], 60[T]:25[PA]:15[EP], 50[T]:30[PA]:20[EP], 55[T]:30[PA]:15[EP], dan 55[T]:25[PA]:20[EP] dimana [T] adalah toluen, [PA] adalah propil asetat, dan [EP] adalah etil propionat. Nilai parameter tersebut dihitung menggunakan Ms. Excel. Nilai parameter kelarutan hildebrand formula tersebut adalah 18,0401; 17,9919; 17,8779; 18,0472; 17,9505; 18,0024; dan 18,0010 MPa0,5 berturut-turut. Pelarut campuran organik dari toluen, propil asetat dan etil propionat dapat melarutkan bitumen dari asbuton. Formula komposisi yang memiliki kedekatan nilai parameter kelarutan Hildebrand dengan bitumen 19,1502 MPa0,5 adalah 60[T]:25[PA]:15[EP] sebesar 18,0472 MPa0,5.
ANALISIS KINERJA HEAT EXCHANGER PADA LUBE OIL COMPLEX III (LOC III) BERDASARKAN FOULING FACTOR DAN PRESSURE DROP PT. PERTAMINA RU-IV CILACAP Putri Rahmadhani; Eko Naryono; Bhama Andy
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 11 No. 1 (2025): March 2025
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v11i1.6978

Abstract

Heat Exchanger (HE) merupakan alat yang digunakan untuk memindahkan panas antara dua fluida yang berbeda temperaturnya. HE yang telah dioperasikan pada jangka waktu tertentu perlu dievaluasi kinerjanya berdasarkan nilai fouling factor, pressure drop dan efisiensi. HE yang dievaluasi adalah HE Lube Oil Complex-III pada unit Fresh Gas and Recycle Gas di PT. Pertamina RU IV Cilacap. Pertukaran panas terjadi antara charge oil dengan gas hydrogen hasil reaksi dari reaktor berkatalis. Pada HE dapat terjadi kerak akibat akumulasi bahan pengotor dari reaksi berkatalis yang terbawa oleh gas hydrogen dari reaktor ke HE akibat katalis yang sudah jenuh dan dapat meningkatkan nilai fouling factor, pressure drop dan menurunkan efisiensi. Untuk itu perlu dilakukan pergantian katalis pada reaktor untuk mengurangi akumulasi pengotor yang terbawa dari reaktor ke HE. Tujuan studi ini adalah mengevaluasi pengaruh pergantian katalis terhadap perubahan nilai fouling factor, pressure drop dan efisiensi HE. Evaluasi dilakukan dengan menghitung ketiga nilai tersebut berdasarkan data sekunder dari lapangan yang dikumpulkan tahun 2022 dan 2023. Data tersebut kemudian dihitung rata rata dan digunakan untuk menghitung nilai fouling factor, pressure drop dan efisiensi HE sebelum dan sesudah pergantian katalis. Hasil yang didapatkan setelah pergantian katalis terjadi penuruan fouling factor dari 0,001658 ft2.F/Btu menjadi 0,001575 ft2.F/Btu, pressure drop 10,6811 psi menjadi 9,5364 psi untuk shell dan 18,9667 psi menjadi 8,6353 psi untuk tube, efiensi naik dari dari 80,76% menjadi 80,97%. Pergantian katalis berpengaruh pada fouling factor dan pressure drop dengan kenaikan efisiensi yang kecil.