Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Implementasi Pembiasaan Moderasi Beragama Sebagai Pencegahan Sikap Intoleransi: Studi Kasus Sekolah Menengah Pertama Bima Purba; Daffa Fakhri Maulana; Anik Widiastuti; Moh Irsyad Fahmi MR
Didaktika: Jurnal Kependidikan Vol. 14 No. 4 Nopember (2025): Didaktika Jurnal Kependidikan
Publisher : South Sulawesi Education Development (SSED)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58230/27454312.2892

Abstract

Era teknologi saat ini mengancam penurunan karakter dan toleransi beragama peserta didik. Situasi ini berdampak pada peningkatan kerentanan akan sikap intoleransi peserta didik. Untuk menjawab tantangan tersebut, dibutuhkan pendekatan edukatif serta pembiasaan untuk menginternalisasi nilai-nilai moderasi beragama. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi praktik moderasi beragama melalui pembiasaan moderasi beragama di SMP Negeri 8 Yogyakarta. Model penelitian yang digunakan adalah kualitatif melalui pendekatan studi kasus. Subjek dalam penelitian ini adalah Wakil kepala sekolah urusan kurikulum, guru mata pelajaran PPKN, dan guru pendidikan agama. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan analisis interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan praktik moderasi beragama dilakukan melalui kegiatan pendidikan dan pengajaran, kegiatan ekstrakurikuler, peringatan hari besar keagamaan, dan pembiasaan secara kultural peserta didik. Disimpulkan bahwa pelaksanaan praktik pembiasaan dalam menumbuhkan moderasi beragama melalui giat keagamaan pagi sebagai pencegahan sikap intoleransi tergolong sangat baik dengan pelaksanaan yang efektif dalam menanamkan nilai toleransi, keseimbangan dan keadilan.
Learning Patterns of Deaf Students in Islamic Religious Studies Moh. Irsyad Fahmi MR; Khabibur Rohman
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol. 6 No. 1 (2019): June 2019
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v6i1.3821

Abstract

AbstractThis research is intended to learning patterns of deaf students in Islamic Religious Studies (IRS) class at the elementary school level, determine the preparation of students, and identify the factors that support and hinder the learning process. The method used in this research is qualitative, with a case study approach. Data was collected using the interview and documentation approaches. Data analysis involved content analysis. The study finds that deaf students follow traditional learning patterns, in which teachers are equipped with materials, tools, and media that can be used to convey abstract ideas. In such a learning pattern, teachers play the most important role in determining content and methods to enable students to follow the lessons. Factors supporting the learning process include parent concern and teacher cooperation. A major factor hindering the learning process, meanwhile, is students' limited linguistic abilities, as a result of which they have difficulty understanding the lessons.Keywords: deaf, learning patterns, special education.AbstrakPenelitian ini dimaksudkan untuk menguraikan pola pembelajaran siswa tunarungu di kelas Pendidikan Agama Islam (PAI) pada tingkat sekolah dasar, memahami persiapan siswa, dan mengidentifikasi faktor-faktor yang mendukung dan menghambat proses pembelajaran. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif, dengan pendekatan studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah analisis isi. Penelitian ini menemukan bahwa siswa tunarungu masih mengikuti pola pembelajaran tradisional, di mana guru dengan menggunakan bahan, alat, dan media menyampaikan ide-ide abstrak. Dalam pola pembelajaran tersebut guru memainkan peran paling penting dalam menentukan konten dan metode yang memungkinkan siswa untuk mengikuti pelajaran. Faktor pendukung proses pembelajaran meliputi perhatian orang tua dan kerjasama guru. Faktor utama yang menghambat proses belajar adalah kemampuan linguistik siswa yang terbatas, sehingga mereka mengalami kesulitan dalam memahami pelajaran.Kata kunci: tunarungu, pola pembelajaran, pendidikan khusus.
OPTIMALISASI PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI MELALUI IMPLEMENTASI ASESMEN DIAGNOSTIK DI SMP Widiastuti, Anik; MR, Moh Irsyad Fahmi; Azizah, Primanisa Inayati; Kurniawan, Syamsul; Rohmah, Yunita Laila; Andjasmara, Adhietya Eka
Jurnal Wawasan Pendidikan Vol 5, No 2 (2025): Agustus 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Persatuan Guru Republik Indonesia Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembelajaran berdiferensiasi masih belum sepenuhnya berjalan optimal dalam implementasinya di sekolah. Salah satu dasar yang dapat digunakan guru untuk merancang pembelajaran berdiferensiasi adalah dengan melakukan asesmen diagnostic. Penelitian ini bertujuan untuk menggali implementasi asesmen diagnostik untuk optimalisasi pembelajaran berdiferensiasi di SMP. Menggunakan metode kualitatif deskriptif, penelitian dilakukan di salah satu SMP Negeri di Kabupaten Sleman Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta pada semester gasal tahun ajaran 2025/2026. Data penelitian dikumpulkan dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi kepada guru IPS SMP kelas VII, VIII, dan IX. Teknik analisis data menggunakan analisis interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) implementasi asesmen diagnostik untuk optimalisasi pembelajaran berdiferensiasi dilakukan melalui tahapan persiapan dan perencanaan, pelaksanaan asesmen diagnostik, analisis hasil asesmen, penyusunan strategi pembelajaran berdiferensiasi, implementasi pembelajaran berdiferensiasi, serta refleksi dan penyesuaian disertai tujuan dan rincian kegiatan masing-masing tahapan; 2) Optimalisasi pembelajaran berdiferensiasi dilakukan dengan identifikasi kebutuhan belajar peserta didik melalui asesmen diagnostic yang disertai tindak lanjut sesuai kategori kebutuhan. Temuan penelitian dapat menjadi rekomendasi bagi guru agar melakukan asesmen diagnostic terlebih dahulu sebagai dasar dalam merancang pembelajaran berdiferensiasi agar optimal, sehingga strategi pembelajaran yang diterapkan guru dapat memfasilitasi peserta didik dan sesuai dengan kebutuhan belajarnya.
The Effect of Video-Based Learning Media on Social Studies Learning Outcomes Vivit Sriwatie; Raras Gistha Rosardi; Moh Irsyad Fahmi MR; Agustina Tri Wijayanti; Saliman
JIPSINDO Vol. 13 No. 1 (2026): JIPSINDO (Jurnal Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Indonesia)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/jipsindo.v13i1.90934

Abstract

This study was motivated by the low Social Studies learning outcomes of Grade IX students at SMPN X di Gunung Bintang Awai, where 40% of students failed to meet the minimum mastery criteria (KKM) due to monotonous, lecture-dominated teaching methods. This study aimed to examine the effect of video-based learning media, integrated with structured discussion and interactive quizzes, on students’ Social Studies learning outcomes. A pre-experimental one-group pretest-posttest design was employed, involving 28 students (12 male, 16 female) selected through total sampling. The intervention was implemented over five months (March–July 2025) and combined video-based instructional media with structured group discussions using guided worksheets (Lembar Kerja Peserta Didik) and interactive gamified quizzes. Learning outcomes were measured using a cognitive achievement test administered before (pretest) and after (posttest) the intervention. Data were analyzed using a chi-square test of association to examine the difference in classical completeness proportions between the two measurements. Results showed that the proportion of students achieving learning completeness increased significantly from 35.7% at pretest to 92.8% at posttest, χ²(1) = 17.50, p < .001, with a large effect size (φ = 0.60). These findings indicate that video-based learning media, when embedded within an active pedagogical design, significantly improves cognitive learning outcomes. However, because instructional components were introduced progressively within a single group and no control group was included, causal attribution to video media in isolation should be interpreted with caution. Further quasi-experimental research incorporating a control group is recommended to confirm these findings.
The Dialectics of Metacognition and Spirituality: Integrating Self-Regulated Learning within the Islamic Intellectual Tradition Ahmad Muzakkil Anam; Alparslan Acikgenc; Moh Irsyad Fahmi MR; Noor Alwiyah
Dialogium: Journal of Islamic Studies Vol. 1 No. 1 (2026): Dialogium: Journal of Islamic Studies
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Islam - Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/djis.v1i1.95873

Abstract

In the 21st-century educational landscape, the focus has shifted from content acquisition to the mastery of "how to learn," placing Self-Regulated Learning (SRL) as a pivotal competency. However, modern SRL often lacks a spiritual dimension, appearing mechanistic in its approach. This study aims to explore the integration of SRL with Islamic values to create a more holistic and transcendental learning model. Using a qualitative-descriptive method with a literature review approach, this study synthesizes modern cognitive theories with classical Islamic intellectual traditions, specifically the concepts of muhasabah (self-reflection) and muraqabah (mindfulness of God). The findings reveal that integrating Islamic values into SRL transforms learning from a secular necessity into a form of "intellectual worship" (thalabul ilmi). The phase of forethought is strengthened by niyyah (intentionality), performance is guided by istiqamah (consistency) and muraqabah, and self-reflection is manifested through honest muhasabah. This synergy creates a "theocentric metacognition" that fosters not only academic excellence but also moral integrity. The study concludes that revitalizing Islamic education through an integrated SRL framework is essential for developing lifelong learners who possess both intellectual sovereignty and spiritual wisdom, enabling them to navigate the disruptions of the digital era with a grounded religious identity.
The Meaningful-Rhizomatic Paradigm of Alternative Education in the Tanoker Ledokombo Community Moh Irsyad Fahmi MR; Saliman; Sudrajat; Satriyo Wibowo; Danang Ade Agustinova
SOCIA: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial Vol. 22 No. 2 (2025): Socia: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/socia.v22i2.101132

Abstract

This study examines alternative education practice at the Tanoker Community in Ledokombo, Jember, East Java, through the lens of a meaningful-rhizomatic paradigm that integrates Ausubel's meaningful learning with the rhizomatic learning developed by Deleuze and Guattari and extended by Cormier. Using a qualitative grounded theory design, data were collected over seven months through participatory observation, in-depth interviews with 24 purposively and theoretically sampled informants, four focus group discussions, and documentation study, then analyzed through open, axial, and selective coding. Findings show that learning at Tanoker embodies five interrelated elements: egrang (traditional stilt-walking) as a cultural tool integrating cognitive, affective, and psychomotor dimensions; a non-hierarchical learning structure with multiple entry points; learning as a socio-communal process in which knowledge is collectively constructed; learning tightly connected to local reality and context; and collaborative parenting (pengasuhan gotong royong) as a supporting ecosystem. Rhizomatic characteristics manifest through multidirectional connectivity, heterogeneity of actors and methods, multiplicity of learning pathways, and adaptive resilience (asignifying rupture). Meaningfulness was experienced across cognitive, affective, social, and cultural dimensions by children, parents, facilitators, and the wider community. The study contributes a six-component operational model — core learning, child organization, parent empowerment, formal-informal integration, cultural celebration, and community-based tourism — offering a theoretically grounded, fifteen-year-tested reference for developing community-based alternative education in other contexts.
Pengelolaan enceng gondok untuk perkembangan perekonomian masyarakat Desa Jabung di Waduk Wlingi Raya Azwar Riza Habibi; Yudistira Arya Sapoetra; Nicholaus Wayong Kabalen; Moh Irsyad Fahmi MR; Saliman
Jurnal Ilmiah WUNY Vol. 7 No. 1 (2025): Jurnal Ilmiah WUNY
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/jwuny.v7i1.78434

Abstract

Masyarakat yang tinggal di sekitar Waduk Wlingi Raya sekarang bergantung pada tanaman enceng gondok sebagai sumber pendapatan utama mereka karena nilai ekonominya yang tinggi, terutama sebagai pakan alternatif yang sangat dibutuhkan dalam industri perikanan dan peternakan. Selain memiliki manfaat sebagai pakan, tanaman enceng gondok diproses menjadi berbagai produk lain, yang memiliki dampak ekonomi yang lebih besar pada masyarakat di sekitarnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menemukan dan memahami berbagai cara penggunaan enceng gondok di Waduk Wlingi Raya dan menyiarkan bagaimana hal itu berdampak pada perekonomian masyarakat Desa Jabung. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan dan wawancara langsung dengan anggota masyarakat yang terlibat dalam pemanfaatan tanaman ini. Metode pengumpulan data ini dikenal sebagai pendekatan deskriptif kuantitatif. Orang-orang di Desa Jabung menggunakan enceng gondok dalam kehidupan sehari-hari mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa enceng gondok meningkatkan aktivitas ekonomi lokal di Waduk Wlingi Raya. Tanaman ini dimanfaatkan oleh masyarakat setempat untuk berbagai pekerjaan produktif, seperti mencari, mengumpulkan, dan kemudian mengolah menjadi produk yang bermanfaat seperti kerajinan tangan dan bahan baku industri kreatif. Penduduk desa melihat peningkatan pendapatan dan peluang kerja baru, terutama bagi mereka yang sebelumnya tidak memiliki pekerjaan tetap.
DESA HARMONI: PENGUATAN MODERASI BERAGAMA BERBASIS KEARIFAN LOKAL DI DESA WISATA GULUREJO KULONPROGO Moh Irsyad Fahmi MR; Syukri Fathudin Achmad Widodo; Ajie Wicaksono
Bakti Nusantara Linggau: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2025): Bakti Nusantara Linggau
Publisher : LP3MKIL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55526/bnl.v5i2.958

Abstract

Desa Harmoni" adalah program pengabdian yang berfokus pada penguatan moderasi beragama berbasis kearifan lokal di Desa Wisata Gulurejo, Kabupaten Kulon Progo. Program ini dirancang untuk mengatasi tantangan yang muncul dari masuknya paham keagamaan ekstrem yang mengancam keharmonisan sosial dan citra desa wisata. Urgensi program ini terletak pada fenomena menurunnya partisipasi pemuda dalam tradisi kultural seperti "Merti Desa", "Gejog Lesung", dan "Nyadran", serta munculnya konflik terkait penggunaan fasilitas umum dan penyelenggaraan atraksi wisata budaya. Melalui pendekatan partisipatif dan kolaboratif, program ini bertujuan untuk mengembangkan model moderasi beragama berbasis kearifan lokal, membangun kapasitas tokoh agama, adat, dan pengelola desa wisata, mengembangkan Kelompok Usaha Bersama, serta mengembangkan paket wisata edukasi "Gulurejo Harmoni". Program menggunakan metode Participatory Rural Appraisal (PRA) untuk pemetaan kearifan lokal dan Training of Trainers (ToT) untuk membangun kapasitas fasilitator lokal. Hasil pengabdian menunjukkan peningkatan kapasitas tokoh agama dan pemuda dalam mempromosikan narasi moderasi beragama, penguatan forum dialog, peningkatan partisipasi dalam tradisi lokal, dan terintegrasi-nya nilai-nilai moderasi beragama dalam pengembangan desa wisata. Program ini relevan dengan upaya pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) perguruan tinggi dan mendukung implementasi program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) bagi mahasiswa
Harmonious Values of Kupatan Tradition on Plosokandang Society, Tulungagung Khabibur Rohman; Moh. Irsyad Fahmi Malik Rahma; Nailul Wirdah
KARSA Journal of Social and Islamic Culture Vol. 29 No. 1 (2021)
Publisher : Universitas Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/karsa.v29i1.3781

Abstract

This article aims to draw a comprehensive overview of some values which exist in Kupatan tradition on Plosokandang society, Tulungagung. The current research implements descriptive analysis, meanwhile the data collection method are interview, observation, and documentation. Kupatan is one tradition which happens by the reason of as a celebration that occurs after Eid al-Fitr. On Plosokandang-Tulungagung, Kupatan is held on the seventh day of Shawwal or 7 days after Eid. The result of the study shows that there is a value of harmony among society while applying kupatan. During kupatan, the people of Plosokandang distributed some kupat and various traditional foods to everyone who came to visit at this event who they didn't even know before. Moreover, the value of social harmony contained in the activity of Kupatan not only in according to Islam, but is also needed for a multicultural country like Indonesia.