Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

Hubungan Asupan Zat Gizi Mikro, Pola Tidur dan Kebiasaan Meorok dengan Kejadian Hipertensi pada Laki-laki Usia 26-45 tahun di Desa Gunungkencana Kabupaten Lebak Utami, Kurniyati; Yuliyana, Triagung; Badriyah, Lulu’ul
Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol 22 No 02 (2023): Jurnal Ilmiah Kesehatan terbitan Agustus Volume 22 Nomor 02 Tahun 2023
Publisher : UIMA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33221/jikes.v22i02.2483

Abstract

Hipertensi sering diberi gelar The Silent Killer karena merupakan pembunuh tersembunyi yang prevalensinya sangat tinggi dan cenderung meningkat di masa yang akan datang, juga karena tingkat keganasannya yang tinggi berupa kecacatan permanen dan kematian mendadak. Di Puskesmas Gunungkencana hipertensi termasuk dalam peringkat ke 1 untuk penyakit tidak menular yaitu sebanyak 5.443 kasus. Banyak faktor resiko yang menyebabkan terjadinya hipertensi, terutama pola makan dan gaya hidup. Penelitian ini bertujuan mengetahui ada tidaknya hubungan asupan zat gizi mikro, pola tidur dan kebiasaan merokok dengan kejadian hipertensi pada laki-laki usia 26-45 tahun di Desa Gunungkencana Kabupaten Lebak. Penelitian ini bersifat analitik dengan desain cross sectional dan menggunakan tehnik total sampling. Responden penelitian ini 45 orang laki-laki usia 26-45 tahun yang datang ke posbindu di Desa Gunungkencana. Pengukuran asupan zat gizi mikro, pola tidur dan kebiasaan merokok dengan menggunakan kuesioner dan pengukuran tekanan darah menggunakan tensimeter. Hasil analisis chi-square didapatkan ada hubungan antara asupan natrium dengan kejadian hipertensi dengan nilai p=0,05, ada hubungan pola tidur dengan kejadian hipertensi dengan nilai p=0,000, dan ada hubungan kebiasaan merokok dengan kejadian hipertensi dengan nilai p=0,004. Asupan natrium tinggi, pola tidur buruk, dan perokok memicu angka kejadian hipertensi yang lebih tinggi.
Perbedaan Faktor Risiko Obesitas di Pedesaan dan Perkotaan pada Orang Dewasa di Indonesia; Analisis Data Riskesdas 2018 Badriyah, Lulu'ul; Ekaningrum, Annisa Yuri
Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyarakat : Media Komunikasi Komunitas Kesehatan Masyarakat Vol 14 No 4 (2022): JIKM Vol. 14, Edisi 4, November 2022
Publisher : Public Health Undergraduate Program, Faculty of Health Science, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52022/jikm.v14i4.377

Abstract

Abstract Latar belakang: Obesitas menjadi tantangan besar masalah kesehatan masyarakat global yang terkait dengan peningkatan risiko penyakit. Tempat tinggal menjadi faktor risiko paling dominan berhubungan obesitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan faktor risiko obesitas pada orang dewasa di Indonesia di pedesaan dan perkotaan. Metode: Penelitian ini menggunakan data sekunder Riskesdas 2018. Populasi penelitian adalah seluruh individu berusia >18 tahun di Indonesia. Sampel penelitian adalah semua individu yang memiliki kelengkapan variabel penelitian yaitu ada 467.198 responden. Data dianalisis menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Hasil penelitian ditemukan bahwa faktor yang berhubungan dengan obesitas di perkotaan adalah jenis kelamin (0,001), umur (0,001), pendidikan (0,001), konsumsi makanan dan minuman manis (0,001), konsumsi minuman soft drink (0,001), konsumsi sayur dan buah (p=0,017, kebiasaan merokok (0,001), aktifitas fisik (0,004), dan depresi (0,002). Sedangkan faktor yang berhubungan dengan obesitas di pedesaan adalah jenis kelamin (0,001), umur (0,001), pendidikan (0,001), konsumsi minuman manis (0,001), konsumsi makanan berlemak/berkolesterol/gorengan (0,001), konsumsi minuman soft drink (0,001), kebiasaan merokok (0,001), aktifitas fisik (0,001), dan depresi (0,005). Kesimpulan: Faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian obesitas di Indonesia baik di pedesaan maupun perkotaan adalah jenis kelamin, umur, pendidikan, kebiasaan merokok, aktivitas fisik, depresi, dan pola makan. Perlu adanya peningkatan program pencegahan obesitas terutama edukasi gizi seimbang baik itu di pedesaan maupun di perkotaan. Differences of Adults Obesity Risk Factors in Rural and Urban in Indonesia; an Analysis of Indonesia’s Basic Health Research 2018 Abstract Background: Obesity is a major global public health challenge associated with an increased risk of disease. Place of residence is the most dominant risk factor related to obesity. This study aimed to determine the differences in risk factors for obesity in adults in Indonesia in rural and urban areas. Methods: This study used secondary data of Riskesdas 2018. The research population was all individuals aged > 18 years in Indonesia. The research sample was all individuals who have complete research variables, namely there are 467,198 respondents. Furthermore, the data were analyzed using the chi-square test. Result: This study found that the factors associated with obesity in urban areas were gender (0.001), age (0.001), education (0.001), consumption of sweet foods and drinks (0.001), consumption of soft drinks (0.001), consumption of vegetables and fruit (p = 0.017, smoking habits (0.001), physical activity (0.004), and depression (0.002).While factors related to obesity in rural areas were gender (0.001), age (0.001), education (0.001), consumption of sweet drinks ( 0.001), consumption of fatty/cholesterol/fried foods (0.001), consumption of soft drinks (0.001), smoking habits (0.001), physical activity (0.001), and depression (0.005). Conclusion: Risk factors associated with the incidence of obesity in Indonesia, both in rural and urban areas, were gender, age, education, smoking habits, physical activity, depression, and eating patterns. Increasing obesity prevention programs, especially education on balanced nutrition, both in rural and urban areas, is urgently needed.
Diversifikasi Olahan Rebung menjadi Abon Aneka Rasa sebagai Strategi Peningkatan Keterampilan Masyarakat Badriyah, Lulu'ul; Daroin, Ana Dhaoud; Sabrina, Arzendy Berlian
Amal Ilmiah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 3 (2025)
Publisher : FKIP Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/amalilmiah.v6i3.573

Abstract

Dilem Wilis mempunyai potensi alam berupa pohon bambu yang melimpah. Rebung bambu kaya akan serat pangan dan juga mengandung protein dan mineral. Rebung juga termasuk sayuran yang rendah lemak sehingga baik untuk dikonsumsi dan bermanfaat bagi kesehatan. Namun, potensi ini belum dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat. Pelatihan pengolahan abon rebung bambu dilakukan sebagai upaya pemberdayaan masyarakat melalui pemanfaatan bahan pangan lokal supaya bernilai ekonomi tinggi. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan mitra dalam pengolahan abon rebung aneka rasa. Metode pelatihan dilaksanakan dalam dua tahapan utama yaitu 1) pelatihan teknis pembuatan abon rebung aneka rasa dan 2) demonstrasi pengemasan dan strategi pemasaran. Pelatihan teknis pembuatan abon memberikan informasi bagaimana cara memilih, mengolah, dan menghasilkan abon rebung bambu dengan cita rasa berkualitas dan inovasi varian rasa sesuai tren pasar. Selanjutnya dilakukan demonstrasi pengemasan dan strategi pemasaran, baik tradisional maupun digital. Evaluasi dilakukan menggunakan nilai pretest dan posttest. Hasil pelatihan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan, dengan rata-rata nilai pretest 56,67 meningkat menjadi 69,33. Kesimpulannya, kegiatan ini efektif dalam meningkatkan pengetahuan mitra dam dapat menjadi langkah awal pembentukan usaha kecil menengah berbasis pangan lokal.
Membangun Lingkungan Kampus Responsif Darurat: Pelatihan dan Peningkatan Kompetensi Basic Live Support bagi Civitas Akademik Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang Lenggono, Kumoro Asto; Badriyah, Lulu'ul; Irsyad, Muhammad Al; Pritama, Muhammad Atiq Noviudin; Ro'is , Rachmy Rosyida
Sasambo: Jurnal Abdimas (Journal of Community Service) Vol. 7 No. 4 (2025): November
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/sasambo.v7i4.3697

Abstract

Keselamatan komunitas kampus merupakan prioritas utama, khususnya di lingkungan dengan aktivitas fisik intensif seperti Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang. Rendahnya pemahaman Bantuan Hidup Dasar di kalangan non-medis berpotensi memperburuk outcome keadaan darurat. Pengabdian masyarakat ini bertujuan mengevaluasi efektivitas pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BLS) dan berkontribusi dalam meningkatkan kompetensi civitas akademik yang mempunyai relevansi dengan SDG 3 (Good Health and Well-Being) atau SDG 4 (Quality Education pada peningkatan kesiapsiagaan darurat penyebaran kompetensi BLS di lingkungan akademik.Metode yang digunakan adalah eksperimen one-group pretest-posttest design terhadap 22 mahasiswa yang dipilih secara purposive sampling. Intervensi berupa pelatihan Bantuan Hidup Dasar AHA 2020 selama 8 jam yang mencakup modul teoritis dan sesi praktik dengan manikin QCPR. Data dikumpulkan melalui kuesioner pengetahuan dan penilaian keterampilan objektif sebelum dan setelah pelatihan. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan. Rata-rata kesalahan per responden turun dari 2,09 pada pre-test menjadi 0,09 pada post-test, yang merepresentasikan peningkatan pemahaman sebesar 95,69%. Sebanyak 90,91% peserta berhasil mencapai skor sempurna pada post-test. Temuan ini membuktikan bahwa pelatihan Bantuan Hidup Dasar  berbasis simulasi efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan praktis dalam menangani keadaan gawat darurat. Kesimpulan bahwa pelatihan BHL merupakan intervensi yang strategis untuk membangun budaya keselamatan kampus. Oleh karena itu, direkomendasikan integrasi pelatihan ini ke dalam kurikulum non-formal, disertai dengan pelatihan penyegaran berkala dan perluasan cakupan ke seluruh unit universitas. Basic Live Support Training to Build an Emergency Response Campus The safety of the campus community is a top priority, especially in environments with intensive physical activity like the Faculty of Sport Sciences at Malang State University. Poor understanding of Basic Life Support among non-medical personnel has the potential to worsen emergency outcomes. This community service aims to evaluate the effectiveness of Basic Life Support (BLS) training and contribute to improving the competency of the academic community that is relevant to SDG 3 (Good Health and Well-Being) or SDG 4 (Quality Education) in improving emergency preparedness and disseminating BLS competency in the academic environment. The method used was a one-group pretest-posttest design experiment with 22 students selected by purposive sampling. The intervention was an 8-hour AHA 2020 Basic Life Support training that included theoretical modules and practical sessions with QCPR manikins. Data were collected through knowledge questionnaires and objective skill assessments before and after the training. The results showed a very significant improvement. The average error per respondent decreased from 2.09 in the pre-test to 0.09 in the post-test, which represents an increase in understanding of 95.69%. A total of 90.91% of participants managed to achieve a perfect score on the post-test. These findings prove that simulation-based Basic Life Support training is effective in improving knowledge and practical skills in handling emergencies. The conclusion is that BHL training is a strategic intervention to build a campus safety culture. Therefore, it is recommended that this training be integrated into the non-formal curriculum, accompanied by periodic refresher training and expanded to all university units.
Pijat Laktasi dan Manajemen Stres: Strategi Pencegahan Mastitis pada Ibu Menyusui Nurnaningsih Herya Ulfah; Ulfah, Nurnaningsih Herya; Suprobo, Nina Rini; Badriyah, Lulu'ul; Binandya, Hulwah Aishwara; Azellia, Ranum Dyah Titah; Dini, Puspasari Meisya
Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 10 No. 4 (2025): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/k4e4aq92

Abstract

Mastitis sering muncul akibat bendungan ASI yang tidak hanya berdampak pada kesehatan ibu, tetapi juga mengganggu pemberian ASI eksklusif bagi bayi. Program Laras ASI (Pelatihan Rumat ASI) dilaksanakan untuk menurunkan risiko mastitis pada ibu menyusui melalui edukasi pijat laktasi, manajemen stres, dan pemenuhan nutrisi bagi ibu menyusui. Program ini berbeda dari studi sebelumnya karena menerapkan pendekatan baru yang mengintegrasikan pijat laktasi, manajemen stres, dan edukasi pemenuhan nutrisi dalam satu rangkaian intervensi terpadu. Kegiatan pengabdian masyarakat dilakukan di wilayah Mojokerto dengan melibatkan 13 ibu menyusui sebagai peserta. Metode pelaksanaan meliputi ceramah, demonstrasi, simulasi, dan konsultasi, yang dilengkapi dengan media e-modul untuk memudahkan pemahaman peserta. Evaluasi dilakukan menggunakan pre-test dan post-test guna mengukur peningkatan pengetahuan peserta. Hasil analisis menunjukkan adanya kenaikan rata-rata skor dari 79,08 pada pre-test menjadi 82,77 pada post-test yang menggambarkan peningkatan pemahaman peserta terhadap pijat laktasi, manajemen stres, dan pemenuhan nutrisi. Selain itu, program ini memperkuat kesadaran akan pentingnya perawatan payudara guna mendukung keberhasilan ASI eksklusif dan  pencegahan mastitis. Breast Massage and Stress Management: Strategies for Preventing Mastitis in Breastfeeding Mothers Abstract Mastitis often occurs due to milk stasis, which not only affects maternal health but also interferes with exclusive breastfeeding for infants. The Laras ASI (Pelatihan Rumat ASI) program was implemented to reduce the risk of mastitis among breastfeeding mothers through education on lactation massage, stress management, and nutritional fulfillment. Unlike previous studies, this program adopts a novel approach by integrating lactation massage, stress management, and nutritional education into a single, comprehensive community-based intervention. Conducted in Mojokerto with 13 breastfeeding mothers as participants, the program employed lectures, demonstrations, simulations, and consultations, supported by e-modules to facilitate understanding. Evaluation using pre-test and post-test assessments revealed an increase in the average score from 79.08 to 82.77, indicating improved knowledge on lactation massage, stress management, and nutrition. Additionally, the program enhanced awareness of breast care, thereby supporting the success of exclusive breastfeeding and the prevention of mastitis.
Studi komparasi metode pemadaman kebakaran dalam upaya meningkatkan pengetahuan, perilaku, dan keterampilan masyarakat pada pekerja pemulung Ro’is, Rachmy Rosyida; Lenggono, Kumoro Asto; Badriyah, Lulu’ul; Pramudya, Dandy Arie; Sucita, Ni Made Dwi Astini; Bahari, Bima Sutan Putra; Rachmanissa, Tiara; Sari, Siti Sartika
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 9 (2025): Volume 19 Nomor 9 (edisi khusus konference)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i9.1981

Abstract

Background: Residential fires pose a serious threat to public safety and health, especially in densely populated areas, such as Pemulung Pulosari Village, Malang City. The increased risk of loss of life and property demands increased fire preparedness at the community level. Purpose: To compare the effectiveness of firefighting education and simulations using conventional and modern methods in improving community knowledge, behavior, and skills in fire-prone areas. Method: This study used a quasi-experimental approach with a pre-test and post-test design without a control group, involving 36 participants. The intervention was carried out in the form of interactive digital media-based education and live firefighting simulations using conventional (burlap sacks, sand, soil) and modern (fire extinguishers, hydrants, fire blankets) methods in accordance with Occupational Safety and Health (K3) principles. Data analysis was performed using the chi-square test. Results: The majority of residents still have insufficient knowledge of modern methods (52.8%), while knowledge of conventional methods is more balanced. Community behavior is evenly divided between appropriate and inappropriate. Simulation skills varied, with 38.8% of participants not participating in any simulations at all. Chi-square analysis revealed no significant relationship between knowledge and simulation skills, using either modern or conventional methods. Conclusion: These findings suggest that knowledge alone is not sufficient; practical skills require repeated practice and hands-on experience. This study emphasizes the importance of ongoing community-based education programs, emphasizing practice and active participation, to build effective and safe fire preparedness.   Keywords: Comparative Study; Behavior; Community Skills; Firefighters; Knowledge; Scavengers.   Pendahuluan: Kebakaran pemukiman merupakan ancaman serius bagi keselamatan dan kesehatan masyarakat, terutama di kawasan padat penduduk, seperti Kampung Pemulung Pulosari, Kota Malang. Meningkatnya risiko kerugian jiwa dan material menuntut peningkatan kesiapsiagaan kebakaran di tingkat komunitas. Tujuan: Untuk membandingkan efektivitas edukasi dan simulasi pemadaman kebakaran menggunakan metode konvensional dan modern dalam meningkatkan pengetahuan, perilaku, serta keterampilan masyarakat di wilayah rawan kebakaran. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuasi-eksperimen dengan desain pre-test dan post-test tanpa kelompok kontrol, melibatkan 36 peserta. Intervensi dilakukan dalam bentuk edukasi interaktif berbasis media digital dan simulasi langsung pemadaman api menggunakan metode konvensional (karung goni, pasir, tanah) dan modern (APAR, hydrant, fire blanket) sesuai prinsip Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Analisis data dilakukan dengan uji Chi-Square. Hasil: Mayoritas masyarakat masih memiliki pengetahuan buruk tentang metode modern (52.8%), sedangkan pengetahuan tentang metode konvensional lebih seimbang. Perilaku masyarakat terbagi rata antara baik dan kurang tepat. Keterampilan simulasi bervariasi, dengan 38.8% peserta tidak mengikuti simulasi sama sekali. Analisis Chi-Square mengungkapkan tidak terdapat hubungan signifikan antara pengetahuan dan keterampilan simulasi, baik metode modern maupun konvensional. Simpulan: Temuan ini menunjukkan bahwa pengetahuan saja tidak cukup, keterampilan praktis memerlukan latihan berulang dan pengalaman langsung. Penelitian ini menekankan pentingnya program edukasi berbasis komunitas yang berkelanjutan, mengutamakan praktik dan partisipasi aktif, untuk membangun kesiapsiagaan kebakaran yang efektif dan aman.   Kata Kunci: Keterampilan Masyarakat; Pemadaman Kebakaran; Pengetahuan; Perilaku; Pekerja Pemulung; Studi Komparasi.
Preferensi dan pola konsumsi sayur dan buah pada remaja Badriyah, Lulu’ul; Paramita, Farah; Lenggono, Kumoro Asto; Veronica, Shanica Yohana; Indrayati, Alifia Meida; Gustawan, Randy
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 9 (2025): Volume 19 Nomor 9 (edisi khusus konference)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i9.1983

Abstract

Background: Fruit and vegetable consumption is an important factor in a balanced nutritional pattern that supports adolescent health. However, consumption and preference for fruit and vegetables in Indonesia, especially among adolescents, are still low and do not meet the WHO recommendation of 400 grams per day. This study was conducted to determine fruit and vegetable preferences and consumption patterns among adolescents in East Java. Purpose: To determine fruit and vegetable preferences and consumption patterns among adolescents. Methods: This study used a cross-sectional study design with a sample of 132 high school students in four regencies/cities in East Java, selected using purposive sampling. The instruments used were questionnaires and food frequency questionnaires (FFQs). Data were analyzed descriptively using univariate analysis. Results: Adolescents preferred spinach the most (mean = 3.50 ± 0.59) and bitter melon the least (mean = 1.67 ± 0.78). The top favorite vegetables were spinach, carrots, broccoli, kale, and cucumber, with regional variations: carrots in Batu City and Malang Regency, and spinach in Pasuruan Regency and Malang City. Among fruits, mango ranked highest (mean = 3.82 ± 0.52) and passion fruit lowest (mean = 2.91 ± 0.89). Mango was the favorite fruit in three regions, followed by apples in Pasuruan Regency, while langsat and passion fruit were consistently less popular across all regions. Conclusion: The most popular vegetable among adolescents was spinach, while the least popular was bitter melon. The most popular fruit among adolescents was mango, while the least popular was passion fruit. Education regarding vegetables and fruits, as well as innovations in various processed products, are needed to increase preferences and diversity in fruit and vegetable consumption.   Keywords: Adolescents; Consumption Patterns; Fruit; Preferences; Vegetables.   Pendahuluan: Konsumsi sayur dan buah merupakan faktor penting dalam pola gizi seimbang yang mendukung kesehatan remaja. Namun, konsumsi dan preferensi terhadap sayur dan buah di Indonesia, khususnya di kalangan remaja, masih rendah dan belum memenuhi rekomendasi WHO sebesar 400 gram per hari. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui preferensi dan pola konsumsi sayur dan buah pada remaja di Jawa Timur. Tujuan: Untuk mengetahui preferensi dan pola konsumsi sayur dan buah pada remaja. Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan sampel 132 siswa SMA di 4 Kabupaten/Kota Jawa Timur yang diambil secara pusposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner dan formulir food frequency questionnaire (FFQ). Data dianalisis secara deskripti menggunakan analisis univariat. Hasil: Remaja paling menyukai bayam (mean = 3.50 ± 0.59) dan paling tidak menyukai pare (mean = 1.67 ± 0.78). Sayuran favorit utama adalah bayam, wortel, brokoli, kangkung, dan timun, dengan variasi wilayah: wortel di Kota Batu dan Kabupaten Malang, serta bayam di Kabupaten Pasuruan dan Kota Malang. Pada buah, mangga menempati peringkat tertinggi (mean=3.82 ± 0.52) dan markisa terendah (mean=2.91 ± 0.89). Mangga menjadi buah favorit di tiga wilayah, sedangkan apel di Kabupaten Pasuruan, sementara duku dan markisa konsisten kurang disukai di seluruh wilayah. Simpulan: Sayuran yang paling disukai remaja adalah bayam dan tidak disukai adalah pare. Buah-buahan yang paling disukai remaja adalah mangga dan tidak disukai adalah markisa. Diperlukan edukasi terkait sayur dan buah serta inovasi berbagai olahan sayur dan buah untuk meningkatkan preferensi dan keberagaman konsumsi sayur dan buah.   Kata Kunci: Buah; Pola Konsumsi; Preferensi; Remaja; Sayur.
Analisis pengetahuan, sikap, dan perilaku bahaya makanan yang mengadung mikroplastik Lenggono, Kumoro Asto; Paramita, Farah; Badriyah, Lulu’ul
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 9 (2025): Volume 19 Nomor 9 (edisi khusus konference)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Microplastics, plastic particles measuring less than 5 mm, are increasingly found in various types of food, particularly seafood, salt, drinking water, and processed products. The presence of microplastics in the food chain raises serious concerns for human health. Preliminary evidence suggests that exposure to microplastics through food poses a risk to human health. Purpose: To analyze knowledge, attitudes, and behavior regarding the dangers of foods containing microplastics. Method: This quantitative study used a survey approach among 126 children in grades 1-6 of SD 02 Mojorejo. A Google Forms questionnaire was used to assess children's knowledge, attitudes, and eating behavior regarding the dangers of foods containing microplastics. Data processing and analysis were performed using STATA. Results: There was no significant relationship between children's knowledge, attitudes, and eating behavior regarding the dangers of foods containing microplastics, with p-values ​​of 0.252 and 0.109 (>0.05). Conclusion: There was no significant relationship between children's knowledge, attitudes, and behavior regarding the dangers of foods containing microplastics.   Keywords: Attitudes; Behavioral Hazards; Food; Knowledge; Microplastics.   Pendahuluan: Mikroplastik merupakan partikel plastik berukuran kurang dari 5 mm, semakin banyak ditemukan dalam berbagai jenis makanan, terutama makanan laut, garam, air minum, dan produk olahan. Keberadaan mikroplastik dalam rantai makanan menimbulkan kekhawatiran serius terhadap kesehatan manusia. Bukti awal menunjukkan bahwa paparan kronis terhadap mikroplastik melalui makanan berisiko terhadap kesehatan manusia. Tujuan: Untuk menganalisis pengetahuan, sikap, dan perilaku bahaya makanan yang mengadung mikroplastik. Metode: Penelitian kauntitatif menggunakan pendekatan survei pada anak kelas 1- 6 SD 02 Mojorejo sejumlah 126 anak menggunakan aplikasi google formulir form kusioner yang meliputi kusioner pengetahuan, sikap dan perilaku makan anak tentang bahaya makanan yang mengandung mikroplastik. Pengolahan dan analisis data penelitian menggunakan aplikasi STATA. Hasil: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahun, dengan sikap dan perilaku makan anak tentang bahaya makanan mengandung mikroplastik pada anak dengan koefesien p-value 0.252 dan 0.109 (> 0.05). Simpulan: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan sikap dan perilaku anak tentang bahaya makanan yang mengandung mikroplastik.   Kata Kunci: Makanan; Mikroplastik; Pengetahuan; Perilaku Bahaya; Sikap.
Relationship Between Demographic Characteristics and Central Obesity with Dyslipidemia among Adult Population in Indonesia Badriyah, Lulu'ul; Ekaningrum, Annisa Yuri
Buletin Penelitian Kesehatan Vol. 53 No. 2 (2025)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33860/bpk.v53i2.4018

Abstract

Background: One of the main risk factors for cardiovascular disease and the leading cause of death worldwide, including in Indonesia, is dyslipidemia. The purpose of this study is to examine the relationship between demographic characteristics and central obesity with dyslipidemia among adults in Indonesia. Methods: This study used national Basic Health Research data from 2018. Study design is cross sectional. This study was conducted in September 2024. The study population consisted of individuals aged 25–45 years in Indonesia. Initially, the sample size included 305,457 respondents, but after data cleaning, 12,796 respondents with complete data remained. The analysis was conducted univariately using frequency distribution and percentages, bivariately using chi-square tests, and multivariately using multiple logistic regression. Results: The results of bivariate analysis showed a significant relationship between age (p=0.000, OR=1.46), gender (p=0.000, OR=1.53), central obesity (p=0.000, OR=1.79) and dyslipidemia. There was no relationship between level of education and dyslipidemia (p=0.283). Central obesity showed the strongest association in multivariate analysis Conclusion: In conclusion, the variables associated with dyslipidemia are age, gender, and central obesity.  Central obesity emerged as the strongest predictor of dyslipidemia in the multivariate analysis. Management of central obesity such as dietary improvements and increased physical activity should be considered to decrease risk of dyslipidemia.