Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

GAMBARAN SEROLOGIS IgG-IgM PADA PASIEN DEMAM BERDARAH DI RSUP SANGLAH PERIODE JULI-AGUSTUS 2014 Putu Gde Hari Wangsa; A.A. Wiradewi Lestari
E-Jurnal Medika Udayana vol 4 no 1 (2015):e-jurnal medika udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (144.785 KB)

Abstract

Penyakit demam berdarah dengue (DBD) merupakan penyakit demam akut yang disebabkan oleh infeksi virus spesies Flaviviridae, yaitu genus Flavivirus dengan serotipe Den-1, Den-2, Den-3, dan Den-4, yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Berdasarkan data tahun 2005 jumlah kasus DBD dilaporkan di wilayah Asia Tenggara, Indonesia termasuk peringkat kedua setelah Thailand. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif bersifat potong lintang yang dilakukan secara murni tanpa dilakukan analisis yang mendalam yang bertujuan untuk mengetahui gambaran serologis IgG-IgM pada penderita demam berdarah di RSUP Sanglah tahun 2014. Hasil analisis data terhadap 33 pasien diperoleh bahwa pasien berjenis kelamin laki-laki sebanyak 25 pasien (75,8%) dan perempuan sebanyak 8 pasien  (24,2%). Mayoritas dari usia pasien berada pada kelompok umur diatas 15 tahun (63,6%). Dari data diperoleh mayoritas pasien yaitu sebanyak 22 pasien (66,7%) menunjukkan infeksi sekunder, sedangkan sebanyak 6 pasien (18,2%) menunjukkan infeksi primer, dan sebanyak 5 pasien (15,2%) menunjukkan hasil negatif.  
Limited Cutaneous Scleroderma Putu Gde Hari Wangsa; Prima Sanjiwani Saraswati Sudarsa; Made Hermina Laksmi
Intisari Sains Medis Vol. 12 No. 3 (2021): (Available online: 1 December 2021)
Publisher : DiscoverSys Inc.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (498.652 KB) | DOI: 10.15562/ism.v12i3.1181

Abstract

Introduction: Scleroderma is a rare autoimmune disease of connective tissue characterized by extensive fibrosis, inflammation, and vasculopathy. It classified as limited cutaneous and diffuse based on the degree of skin involvement. The management is still a challenge since it has a high morbidity and mortality rate. This case report aims to understand scleroderma and provide appropriate treatment that can improve the patient's prognosis.Case report: A 55-year-old female came with complaints of stiff skin on the forearms, lower legs and face since approximately eight months ago, initially on the right and left forearms, then to face, right and left lower legs. On physical examination, there was sclerosis of the skin on the face, forearms and lower legs, and salt and pepper appearance with Rodnan score were 26. The result from histopathological examination were sceleroderma. The patient was diagnosed with limited cutaneous scleroderma. The management consisted of methotrexate, folic acid, sulpha ferrous, vitamins B1, B6, B12 intraorally and 10% urea cream topically. She also was informed to practice moving the hands and fingers slowly.Conclusion: The diagnosis of limited cutaneous scleroderma is based on history, physical examination and investigations. It is still a life-threatening disease, however multidisciplinary management with early detection and treatment of complications can improve the prognosis.
Incontinentia pigmenti in neonate: a case report Putu Gde Hari Wangsa; Luh Made Mas Rusyati; I Gusti Ayu Agung Dwi Karmila; Ni Luh Putu Ratih Vibriyanti Karna; Ketut Wida Komalasari; Made Hermina Laksmi
Intisari Sains Medis Vol. 13 No. 1 (2022): (Available Online : 1 April 2022)
Publisher : DiscoverSys Inc.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15562/ism.v13i1.1227

Abstract

Background: Incontinentia pigmenti (IP) is a rare X-linked dominant inherited genodermatosis that occurs almost in females and is usually accompanied by other ectodermal tissue diseases such as the central nervous system, eyes, hair, nails, teeth and skeletal system. This case report aims to enhance understanding of incontinentia pigmenti and provide appropriate treatment to patients and proper education to families. Case report: A 3-days-od baby girl was consulted by the Pediatric department with complaints of blisters and erythematous rashes on almost her entire body with the Blaschko line distribution. The nails on the right and left big toes appeared inward. No history of fever and seizure. No family had similar complaints. There were no eye and nerve abnormalities involved. She treated with hydrocortisone 1% cream every 12 hours on erythematous papules and vesicles, open compresses with 0.9% NaCl every 8 hours for 10-15 minutes on lesions with yellowish crusts. Thus, the patient diagnosed with incontinentia pigmenti. Conclusion: The diagnosis of incontinentia pigmenti is based on history and physical examination. This case is very rare, so the family needs to understand the course of this disease. Appropriate management and education can prevent secondary infection.
Keloid yang diterapi dengan kombinasi bedah eksisi dan injeksi kortikosteroid intralesi: sebuah laporan kasus Ketut Wida Komalasari; Ketut Kwartantaya Winaya; Putu Gde Hari Wangsa; I Dewa Made Rendy Sanjaya
Intisari Sains Medis Vol. 13 No. 3 (2022): (In Press 1 December 2022)
Publisher : DiscoverSys Inc.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (453.486 KB) | DOI: 10.15562/ism.v13i3.1504

Abstract

Background: Keloids are soft solid tumors with a smooth surface that extend beyond the wound margins and invade adjacent normal tissue. Appears at the age of 10-30 years, occurs as a result of an imbalance between increased collagen synthesis and extracellular matrix. There are several types of therapeutic modalities such as intralesional or topical corticosteroids, surgical excision, electrosurgery, frozen surgery, radiotherapy and laser therapy. Combination therapy of surgical excision and intralesional corticosteroids used for this case. Case Description: A woman, 43 years old, complained since 3 years ago, in the lower left abdomen there is a lump, which has been getting bigger over the past 1 year, sometimes feels pain and itching. In the left inferior abdominal region, multiple tumors were found to be erythematous to hyperpigmented, with firm boundaries, oval in shape, 0.2 cm to 0.5 cm in diameter, with a length and width of 0.3 cm and 0.5 cm, respectively. 1 cm and 1.5 cm, the surface feels smooth and shiny. On palpation, the tumor was fixed and firm in consistency. Surgical excision was performed and continued with intralesional injection of triamcinolone acetonide once a week on keloid and post-excision lesions. There was clinical improvement of keloids, on the 21st day of observation. Conclusion: Surgical excision is minimally invasive and can be combined with weekly intrakeloid triamcinolone acetonide injection therapy for keloid lesions and post-excision area to reduce the risk of new keloids appearing. On follow-up observation of keloids in the left inferior abdominal region, the lesion was getting smaller and softened and there was no new keloid growth in the post-excision area.   Latar belakang: Keloid adalah tumor yang padat lunak, dengan permukaan licin berkembang melebihi batas luka dan menginvasi jaringan normal yang berdekatan. Muncul pada usia 10-30 tahun, terjadi akibat dari ketidakseimbangan antara peningkatan sintesis kolagen dan matriks ekstraseluler. Terdapat beberapa macam modalitas terapi seperti kortikosteroid intralesi atau topikal, bedah eksisi, bedah listrik, bedah beku, radioterapi dan terapi laser. Kasus ini membahas terapi kombinasi bedah eksisi dan kortikosteroid intralesi. Kasus: Seorang wanita, berusia 43 tahun, mengeluh sejak 3 tahun yang lalu, pada perut kiri bawah terdapat benjolan, yang semakin lama semakin membesar selama 1 tahun terakhir, rasa nyeri dan gatal terkadang dirasakan. Pada regio abdominalis inferior sinistra ditemukan tumor multipel berwarna eritema sampai hiperpigmentasi, dengan batas yang tegas, berbentul bulat oval, berdiameter 0,2 cm sampai 0,5 cm, dengan panjang dan lebar masing-masing 0,3 cm dan 0,5 cm serta 1 cm dan 1,5 cm, permukaan teraba licin dan mengkilat. Pemeriksaan palpasi ditemukan tumor terfiksir dan konsistensinya keras. Dilakukan tindakan bedah eksisi dan dilanjutkan dengan injeksi triamsinolon asetonid intralesi seminggu sekali pada lesi keloid dan lesi paska eksisi. Terdapat perbaikan klinis keloid, pada pengamatan hari ke-21. Simpulan: Tindakan invasif minimal seperti bedah eksisi dapat dikombinasi dengan injeksi triamsinolon asetonid intrakeloid seminggu sekali pada lesi keloid dan daerah paska eksisi untuk mengurangi risiko munculnya keloid baru. Pada pengamatan lanjutan keloid pada regio abdominalis inferior sinistra, didapatkan lesi semakin mengecil dan melunak dan tidak terdapat pertumbuhan keloid baru pada daerah paska tindakan eksisi.
Pelatihan Pembuatan Mainan Edukasi Terhadap Peningkatan Pengetahuan Kader Posyandu dalam Stimulasi Perkembangan Balita Kurniawati, Ida; Witari, Ni Putu Diah; Dewi, A.A. Ayu Asri Prima; Kerans, Fransiscus Fiano Anthony; Wangsa, Putu Gde Hari; Adhitya, I Putu Gde Surya
International Journal of Community Service Learning Vol. 8 No. 2 (2024): May
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/ijcsl.v8i2.76911

Abstract

Proses tumbuh kembang anak pada periode emas akan sangat menentukan fase tumbuh kembang anak selanjutnya. Deteksi dini dan stimulasi perkembangan anak perlu dilakukan secara berkala sebagai upaya untuk mengoptimalkan perkembangan dan mencegah masalah terkait yang dapat muncul pada anak. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan pendampingan kepada mitra untuk meningkatkan keterampilan pembuatan mainan edukasi anak berbahan sederhana dan memberikan pengetahuan mengenai peranan mainan edukasi dalam stimulasi perkembangan anak. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan teknik pendekatan survey kepada masyarakat. Penelitian ini melibatkan subjek sebanyak 15 orang anak. Metode pelaksanaan PKM meliputi sosialisasi dan diskusi menggunakan Focus Group Discussion (FGD) untuk menentukan permasalahan di masyarakat.  Adapun instrumen yang digunakan adalah panduang FGD.  Setelah data dikumpulkan kemudian dianalisis menggunakan metode analisis deskriptif.  Hasil penelitian ini yaitu terdapat peningkatan keterampilan mitra dalam pembuatan mainan edukasi untuk stimulasi perkembangan anak. Sehingga dapat disimpulkan bahwa, pelatihan pembuatan mainan edukasi anak dapat meningkatkan kemampuan peserta untuk berkreasi dalam membuat mainan edukasi anak berbahan sederhana Penelitian ini memiliki dampak positif terhadap peningkatan pengetahuan bagi kader posyandu terkait pembuatan mainan edukatif untuk stimulasi tumbuh kembang balita. Permainan edukatif sangat bermanfaat dalam proses perkembangan anak.
Prevalence and characteristics of occupational contact dermatitis among farmers in Wongaye Gede Village, Tabanan, Bali Sunyamurthi Wirawan, I Gde Nengah Adhilaksman; Wangsa, Putu Gde Hari
Bali Dermatology Venereology and Aesthetic Journal BDVAJ - Volume 7, Issue 2 (July 2024)
Publisher : Explorer Front

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51559/balidervenaesthj.v7i2.102

Abstract

Background: Occupational contact dermatitis is a disease in the field of dermatology that arises in the work environment due to workers coming into direct contact with causative substances, be they irritants or allergens. Farmers are susceptible to various allergens or irritants when working in farming, clearing land, fertilizing, spraying, caring for, and during harvest. Epidemiological data showing contact dermatitis in Balinese farmers was still very minimal. So, based on the above background, we are interested in examining the characteristics of work-related contact dermatitis in farmers in Bali. Methods: This research method is descriptive research using a cross-sectional method that evaluates work-related contact dermatitis among farmers in Wongayo Gede Village, Penebel District, Tabanan Regency. Results: 56 farmers showed that 34 samples suffered from occupational contact dermatitis, of which 59% were men and 41% were women.  Based on the division of age groups according to WHO, it was found that youth (18-65 years) were 82%, middle-aged (66-79 years) 12%, and older adults (80-99) 6%. The highest educational background is elementary school 47%, high school 33%, and junior high school 15%. Conclusion: This research reveals that men's occupational contact dermatitis is more common. The most commonly found sample ages were young people in 18-65 years. Meanwhile, the most recent educational status of the sample was elementary school. The most common locations for skin lesions are on the upper and lower extremities.
Bahasa Inggris Putu Gde Hari Wangsa; I Gde Nengah Adhilaksman S.W; Ni Nyoman Ayu Sutrini
WMJ (Warmadewa Medical Journal) Vol 10 No 1 (2025): May 2025
Publisher : Warmadewa University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/wmj.10.1.11667.1-5

Abstract

Vitiligo is a pigmentation disorder characterized by hypopigmented macules resulting from the chronic and progressive loss of epidermal melanocyte function. This condition creates a stark contrast between depigmented and normal skin, which can be distressing for patients, particularly from a cosmetic perspective. Consequently, individuals with vitiligo often face stigmatization and psychosocial challenges, making them more susceptible to depression, anxiety, and stress. The treatment of vitiligo should also address its emotional impact, ultimately facilitating better adaptation to the disease and improving the patient's quality of life. This study aims to examine the relationship between vitiligo severity, measured using the Vitiligo Area Scoring Index (VASI), and the Dermatology Life Quality Index (DLQI). It employs an analytical cross-sectional approach involving vitiligo patients treated at Bali Mandara General Hospital. Primary data were collected through clinical assessments of VASI scores, followed by the completion of the validated and reliable DLQI questionnaire. The results indicate that the degree of depigmentation in vitiligo (VASI) has a strong impact on patients' quality of life (DLQI). Further research is needed to assess changes in DLQI after vitiligo patients undergo phototherapy or topical treatment, as well as to identify other factors beyond VASI that influence DLQI.
Pendampingan Penanganan Stunting Pada Keluarga Balita Stunting Di Posyandu Cempaka 1, Desa Selulung, Kecamatan Kintamani Putu Gde Hari Wangsa; Ida Kurniawati; Gde Candra Yogiswara
Warmadewa Minesterium Medical Journal Vol. 3 No. 2 (2024): May 2024
Publisher : Warmadewa University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/wmmj.3.2.2024.153-159

Abstract

Kecamatan Kintamani terletak di kabupaten Bangli, sebuah wilayah yang terkenal dengan keindahan alamnya, terutama pemandangan Gunung Batur dan Danau Batur yang memukau. Desa Selulung, yang terletak di Kecamatan Kintamani, menunjukkan tren yang mengkhawatirkan dalam hal kasus stunting yang tinggi, memperlihatkan tantangan yang signifikan dalam upaya meningkatkan kesejahteraan dan kesehatan masyarakatnya, oleh karena hal itu perlu dilakukan pendampingan penanganan stunting pada keluarga balita stunting di daerah ini. Kelima keluarga di Banjar Sanda berpartisipasi dalam PKM. Permasalahan utama adalah kurangnya gizi pada anak balita dan pengetahuan terbatas tentang makanan sehat. Solusi mencakup pemberian paket gizi dan pelatihan membuat makanan sehat. Tahapan kegiatan meliputi sosialisasi, pelatihan, bantuan paket gizi, dan evaluasi.. Kegiatan Penyuluhan Pola Asuh dan Makanan Sehat, pembuatan PMT Sehat Bergizi dari bahan pangan local dan pemberian paket bantuan gizi dilakukan hari Minggu tgl 22 Januari 2024. Ketiga kegiatan tersebut dilakukan di masing-masing rumah keluarga binaan. Kesimpulan dari kegiatan ini adalah: 1. Kelompok mitra berperan aktif dalam setiap kegiatan PKM dengan persentase kehadiran 100% dan partisipasi aktif 100%. 2. Penyuluhan yang dilakukan mengenai pola asuh dan makanan sehat, pembuatan PMT dan pembagian paket gizi diharapkan mampu meningkatkan asupan gizi sehingga mampu mencegah stunting yang terjadi. Kata Kunci : Stunting, Balita, Gizi
PELATIHAN BANTUAN HIDUP DASAR DAN PEMBERDAYAAN KELOMPOK REMAJA DI SMAN 1 KINTAMANI Gde Candra Yogiswara; Putu Gde Hari Wangsa; Ida Kurniawati
Warmadewa Minesterium Medical Journal Vol. 3 No. 2 (2024): May 2024
Publisher : Warmadewa University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/wmmj.3.2.2024.108-113

Abstract

ABSTRAK Bantuan hidup dasar (BHD) merupakan hal penting yang tidak diketahui oleh banyak orang. Hal tersebut dikarenakan minimnya informasi dan pelatihan yang berkaitan dengan tindakan BHD tersebut. Dalam kegiatan ini, mitra dari program kemitraan masyarakat (PKM) kami adalah kelompok remaja di SMAN 1 Kintamani. Dengan permasalahan prioritas yang ditetapkan adalah: 1) Kurangnya pengetahuan tentang kejadian gawat darurat pada kehidupan sehari-hari dan 2) Pengetahuan tentang tindakan pertolongan pada kejadian gawat darurat pada henti jantung dan henti napas. Solusi yang diusulkan adalah: 1) pemberian penyuluhan terkait kegawatdaruratan medis pada masyarakat awam, 2) pelatihan bantuan hidup dasar dalam upaya pertolongan pada kegawatdaruratan medis henti jantung dan henti napas pada masyarakat awam. Pada pelaksanaan kegiatan PKM ini, kami lakukan beberapa kegiatan dengan bertahap yang dimulai dari kegiatan sosialisasi, kemudian memberikan penyuluhan dan melakukan pelatihan, dan terakhir adalah melakukan evaluasi atas apa yang sudah diberikan kepada peserta PKM. Di awal saat kegiatan dilaksanakan, kami memberikan sosialisasi kepada pihak-pihak terkait untuk menjelaskan maksud dan tujuan dari diadakannya kegiatan PKM ini, kemudian kami memaparkan sasaran dan metode dari kegiatan kami serta peran dari pihak-pihak yang terlibat pada kegiatan ini. Kegiatan ini diiikuti oleh 50 siswa yang tergabung dalam kelompok organisasi siswa (OSIS, PMR dan Pramuka) yang terdiri dari siswa kelas X hingga kelas XI, selanjutnya dilakukan penyuluhan kepada kelompok remaja di SMAN 1 Kintamani tersebut terkait kejadian kondisi kegawatdaruratan pada masyarakat awam, dan kemudian akan dilanjutkan dengan pelatihan bantuan hidup dasar pada kegawatdaruratan medis henti jantung dan henti napas. Setelah itu dilakukan hands on untk masing-masing peserta dan kemudian dilakukan evaluasi setelah pelatihan dan setelah program selesai. Proses evaluasi dilaksanakan dengan metode kuis menggunakan 5 pertanyaan terkait isi materi dan diujikan pada waktu sebelum dan setelah kegiatan penyuluhan, kemudian evaluasi hands on dilaksanakan dengan mengadakan simulasi dan melakukan demo RJP pada manekin yang telah disiapkan. Basic life support (BLS) is an important thing that many people don't know about. This is due to the lack of information and training related to BLS's actions. In this activity, the partners of our community partnership program (Program Kesehatan Masyarakat) are youth groups at SMAN 1 Kintamani. The priority problems determined are: 1) Lack of knowledge about emergency events in everyday life and 2) Knowledge about aid measures for emergency events such as cardiac arrest and respiratory arrest. The proposed solutions are: 1) providing education regarding medical emergencies to the lay public, 2) training in basic life support as assistance in medical emergencies regarding cardiac arrest and respiratory arrest to the lay public. This PKM activity is carried out in stages starting from socialization activities, counseling and training, and evaluation. At the start of the activity, outreach was carried out to all parties involved to explain the aims and objectives of PKM, targets and methods of activities as well as the roles of all parties involved. This activity was attended by 50 students who were members of student organization groups (OSIS, PMR and Pramuka) consisting of students from class X to class will be continued with basic life support training in medical emergencies such as cardiac arrest and respiratory arrest. After that, a hands-on was carried out for each participant and then an evaluation was carried out after the training and after the program was completed. The evaluation process was carried out using a quiz method using 5 questions related to the content of the material and tested before and after the counseling activity, then a hands-on evaluation was carried out by holding simulations and carrying out Cardiopulmonary Resuscitation demonstrations on prepared mannequins.
Penyuluhan Kesehatan Reproduksi pada Siswa SMKN 1 Kintamani Putu Gde Hari Wangsa; Adi Pratama Putra P; Ida Kurniawati
Warmadewa Minesterium Medical Journal Vol. 4 No. 2 (2025): Mei 2025
Publisher : Warmadewa University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/wmmj.4.2.2025.155-159

Abstract

Kecamatan Kintamani yang berkembang sebagai kawasan wisata memiliki pengaruh signifikan terhadap arus informasi yang diterima oleh remaja, termasuk mengenai kesehatan reproduksi. Sayangnya, siswa SMKN 1 Kintamani belum pernah mendapatkan penyuluhan khusus mengenai kesehatan reproduksi meskipun berada pada rentang usia yang rentan terhadap risiko kesehatan tersebut. Tujuan dari kegiatan ini adalah meningkatkan pengetahuan dan kesadaran siswa mengenai pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan sistem reproduksi melalui penyuluhan yang bersifat edukatif, interaktif, dan kontekstual. Kegiatan ini dilaksanakan dengan pendekatan terstruktur yang mencakup survei kebutuhan awal, koordinasi dengan pihak sekolah, sosialisasi kegiatan, penyuluhan materi melalui metode ceramah dan diskusi, serta evaluasi melalui kuisioner. Penyuluhan disampaikan oleh tim PKM dengan dukungan guru dan OSIS setempat, serta dilengkapi dengan pembagian leaflet dan sesi tanya jawab berhadiah. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa dari 150 siswa yang mengikuti kegiatan, 92% menyatakan kegiatan sangat baik, 6,7% menyatakan baik, dan sisanya tidak memberikan respons. Partisipasi siswa sangat tinggi dengan kehadiran 100% dan keterlibatan aktif selama penyuluhan, ini menunjukkan bahwa pendekatan berbasis sekolah efektif dalam meningkatkan literasi kesehatan reproduksi remaja dan membentuk lingkungan diskusi yang aman. Kesimpulan dari penyuluhan ini adalah kegiatan ini mampu meningkatkan pemahaman siswa mengenai sistem reproduksi dan pentingnya menjaga kesehatannya. Kegiatan serupa direkomendasikan untuk dilaksanakan secara berkala sebagai strategi preventif jangka panjang. Kata kunci: kesehatan reproduksi, remaja, penyuluhan sekolah