Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

9. UTILIZATION OF THIRD HARMONIC RATIO STATOR GROUND FAULT PROTECTION AND STATOR GROUND FAULT PROTECTION WITH REDUNDANT 20 HZ VOLTAGE INJECTION FOR RELIABLE STATOR GROUNDING PROTECTION ON GENERATOR NEUTRAL SIDE FOR GROUND CONTROL SYSTEM OPERATION APPLICATION Muchammad Furqon Muchaddats; Nur Rahma Dona; Ahmad Ilham Kamal; Kurniawan; Budi Sumartono; Dikatama
Jurnal TNI Angkatan Udara Vol 4 No 1 (2025): Jurnal TNI Angkatan Udara Triwulan Pertama
Publisher : Staf Komunikasi dan Elektronika, TNI Angkatan Udara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62828/jau.v4i1.146

Abstract

This study aims to determine the advantages and disadvantages of using the type of stator grounding fault protection using voltage injection and traditional. As we know there are many types of protection for stator grounding faults on the neutral side of the traditional ones such as neutral overvoltage and using the 3rd harmonic ratio voltage ratio between the generator terminal and the neutral side, this traditional method has some problems in sensitivity, safety and cleaning speed, in the long run can make low-level grounding faults become damaging disturbances. And now we already have the latest method for stator grounding faults, using 20Hz voltage injection which can reduce the problems in the traditional ones. The only problem with 20Hz voltage injection is the voltage injector device, if this device has some problems, then the protection cannot operate. This paper wants to explain the advantages of traditional protection (3rd harmonic ratio stator grounding protection) and stator grounding protection with 20Hz voltage injection installed redundantly, then the stator grounding protection on the neutral side of the generator will be more reliable.
3. MENGENAL DAN MEMAHAMI INSTRUMENT LANDING SYSTEM (ILS) Rasiman, Yoseph; Muchammad Furqon Muchaddats; Kurniawan; Tia Dikatama Tsania
Jurnal TNI Angkatan Udara Vol 4 No 2 (2025): Jurnal TNI Angkatan Udara Triwulan Kedua
Publisher : Staf Komunikasi dan Elektronika, TNI Angkatan Udara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62828/jpb.v4i2.152

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan bertujuan untuk membantu dan memudahkan pesawat dalam melaksanakan pendaratan secara tepat pada garis tengah (centre line) runway dan dengan sudut kemiringan yang tepat. Instrument Landing System (ILS) merupakan perangkat sistem (elektronika) yang berfungsi sebagai pemandu pendaratan pesawat udara. Sistem ini dapat membantu memudahkan pesawat untuk mendarat pada garis tengah (centre line) runway dan dengan sudut kemiringan yang tepat. Pemanduan dilakukan agar pilot mengetahui jarak pesawat terhadap area pendaratan (touchdown zone) pada landasan (runway). Pemanduan dilakukan untuk mengatur (adjust) posisi kanan-kiri (center line) pesawat, sehingga dapat landing dengan tepat di garis tengah landasan. Pemanduan dilakukan juga untuk mengatur (adjust) kemiringan (nose-down) pesawat, sehingga dapat mendarat (landing) dengan kemiringan (sudut elevasi) kurang-lebih 3° terhadap landasan. ILS terdiri dari 3 peralatan pokok untuk pemanduannya yaitu: Marker Beacon, Localizer, dan Glide Slope. Oleh karena itu, ILS tetap menjadi satu-satunya sistem pendekatan presisi yang tersedia yang didukung oleh semua pesawat sipil yang dilengkapi IFR.
7. ALAT PENGUKUR JARAK (DISTANCE MEASUREMENT EQUIPMENT) Rasiman, Yoseph; Muchammad Furqon Muchaddats; Kurniawan; Tia Dikatama Tsania
Jurnal TNI Angkatan Udara Vol 4 No 2 (2025): Jurnal TNI Angkatan Udara Triwulan Kedua
Publisher : Staf Komunikasi dan Elektronika, TNI Angkatan Udara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62828/jpb.v4i2.153

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan bertujuan untuk mengetahui dan menghitung berapa kecepatan yang dibutuhkan dalam mencapai suatu stasiun. Distance Measuring Equipment (DME) adalah alat navigasi udara yang berfungsi memberikan panduan/informasi jarak (slant range) bagi pesawat udara dengan fasilitas DME yang dituju. (DME adalah jenis sistem navigasi en-route untuk pesawat udara; DME sering dipasang di dekat stasiun VOR sehingga memberikan gabungan bearing dan jarak; Ketika DME dipasang dengan VOR, itu disebut sebagai VOR/DME; DME memberikan jarak fisik dari pesawat ke transponder DME darat dinyatakan dalam Nautical Miles (NM); DME juga menghitung kecepatan darat dan waktu yang dibutuhkan untuk mencapai stasiun jika pesawat dilengkapi dengan komputer yang sesuai; Sistem DME terdiri dari tiga komponen dasar, yaitu: antena DME pada badan pesawat, unit tampilan navigasi DME di kokpit pesawat, pemancar/penerima DME di darat). Gambar di bawah menunjukkan perangkat DME
9. ATRISI MILITER DALAM PERENCANAAN OPERASI MILITER ANALISIS KOMPREHENSIF MODEL MATEMATIKA UNTUK ATRISI PERSONEL DAN LOGISTIK Andri Gandhy; Ronny Samsul Bahri; Muchammad Furqon Muchaddats; Rakin Ghiyat; Kurniawan; Rayhan Kemal; Tia Dikatama Tsania
Jurnal TNI Angkatan Udara Vol 4 No 4 (2025): Jurnal TNI Angkatan Udara Triwulan Keempat
Publisher : Staf Komunikasi dan Elektronika, TNI Angkatan Udara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62828/jpb.v4i4.182

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menyajikan analisis komprehensif tentang modelmatematika atrisi militer dengan fokus pada atrisi personel dan logistik dalam konteksperencanaan operasi militer modern. Penelitian ini mengintegrasikan model teori klasikseperti persamaan Lanchester dengan sistem kontemporer seperti CALAPER (CampaignLevel Ammunition and Petroleum Expenditure Rates) untuk memberikan kerangka analitisyang holistik. Metodologi penelitian meliputi analisis literatur ekstensif, pengembangan modelmatematika terintegrasi, dan implementasi skenario operasional realistis untuk validasimodel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi model atrisi personel dan logistikmemberikan prediksi yang lebih akurat terhadap efektivitas operasional dibandingkanpendekatan parsial. Model yang dikembangkan mampu memprediksi tingkat atrisi denganakurasi tinggi dan memberikan wawasan strategis untuk optimasi alokasi sumber daya.Implikasi praktis dari penelitian ini mencakup peningkatan akurasi perencanaan operasi,optimasi alokasi sumber daya, dan pengurangan risiko operasional melalui prediksi atrisiyang lebih baik.
3. AIRPORT EMERGENCY DIESEL PREVENTIVE MAINTENANCE MANAGEMENT USING BATTERY INTERNAL RESISTANCE MONITORING ANALYSIS Ahmad Ilham Kamal; Muchammad Furqon Muchaddats; Feti Fatonah; Djoko Herwanto; Desiana Putri; Sudibyo; Dikasitama
Jurnal TNI Angkatan Udara Vol 5 No 2 (2026): Jurnal TNI Angkatan Udara Triwulan Kedua
Publisher : Staf Komunikasi dan Elektronika, TNI Angkatan Udara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62828/jpb.v5i2.209

Abstract

Emergency diesel generator is a very important system in every industry includingthe airport industry because this system supports the electricity of important equipment whena blackout occurs. in the emergency diesel generator system, there is a battery as a starter forthe diesel engine. if the battery capacity decreases, the diesel generator will not be able tostart the engine, therefore in the emergency diesel generator system, regular batterymaintenance is needed to maintain system reliability. in this journal, preventive maintenanceon the battery will be explained, especially on the emergency diesel generator system battery.one indicator of decreased capacity in the battery is an increase in its internal resistance value.in preventive battery maintenance, analyzing the increase in internal resistance can be areference for replacing a new battery.
4. ECONOMIC ASYMMETRY IN DRONE WARFARE A CASE STUDY OF IRAN'S SHAHED-136 OPERATION AGAINST ISRAEL'S IRON DOME DEFENSE SYSTEM Ahmad Ilham Kamal; Muchammad Furqon Muchaddats; Ferdy Anggrian; Andromeda Yoga Pratama; Riza Suseno; Kurniawan; Dikasitama
Jurnal TNI Angkatan Udara Vol 5 No 2 (2026): Jurnal TNI Angkatan Udara Triwulan Kedua
Publisher : Staf Komunikasi dan Elektronika, TNI Angkatan Udara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62828/jpb.v5i2.210

Abstract

The advent of low-cost loitering munitions has revolutionized modern warfare,creating a profound economic imbalance between offensive and defensive capabilities. In theMiddle East, the deployment of Iran's Shahed-136 drone against Israel's Iron Dome defensesystem serves as a prime example of a "cost-imposing" strategy in asymmetric warfare.Objective: This study aims to quantify the economic disproportion between the production anddeployment costs of the Shahed-136 drone and the operational costs of the Iron Domesystem. It explores how this cost ratio impacts long-term national defense budgets andstrategic sustainability. Methodology: This study uses a qualitative-descriptive approachsupported by comparative economic modelling. Data are synthesized from defense budgetreports, estimates of the Shahed-136 manufacturing costs, and the unit cost of the Iron DomeTamir interceptor missile. The analysis uses the Cost-Exchange Ratio (CER) to evaluate theeconomic efficiency of both sides. Results: The study's findings reveal a sharp economicasymmetry, with a single Shahed-136 estimated to cost between $20,000 and $50,000,depending on configuration, while a single Tamir interceptor missile costs approximately$40,000 to $100,000, depending on configuration. When factoring in "saturation attacks" (ordrone swarms), defense costs increase exponentially, not only through missile expenditurebut also through the economic disruption caused by airstrike warnings and collateralinfrastructure damage if interceptions fail. Conclusion: The study concludes that while IronDome remains tactically effective in saving lives, its current economic trajectory isunsustainable against the threat of low-cost, mass-produced drones. The study suggests thatto maintain strategic stability, the defense framework must transition to lower-cost interceptiontechnologies, such as directed energy weapons (lasers/Iron Beam), to neutralize theeconomic advantage currently held by offensive drone platforms.