Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

Implementasi Media Permainan Ular Tangga Edukatif dalam Menanamkan Karakter Berkebinekaan Global pada Anak Usia 5-6 Tahun Friwahyuni, Diana; Triwahyuni, Eges; Chandra, Ratnasari Dwi Ade
JECIE (Journal of Early Childhood and Inclusive Education) Vol. 8 No. 2 (2025): Juli
Publisher : Program Studi PG PAUD - FKIP - UNIPAR JEMBER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31537/jecie.v8i2.2469

Abstract

Era digital dan globalisasi berpotensi mengikis nilai budaya bangsa akibat pengaruh budaya asing. Di sisi lain, generasi muda dituntut mampu berinteraksi lintas budaya, agama, dan latar belakang. Karena itu, pendidikan karakter yang menanamkan penghargaan terhadap keberagaman perlu diberikan sejak usia dini. Dalam Profil Pelajar Pancasila, nilai-nilai tersebut tercermin dalam dimensi berkebinekaan global yang perlu ditanamkan secara kontekstual dan menyenangkan. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan implementasi media permainan ular tangga edukatif dalam menanamkan karakter berkebinekaan global pada anak usia 5–6 tahun. Metode yang digunakan adalah studi kasus dengan pendekatan kualitatif deskriptif di TK Muslimat NU 53 Wuluhan. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil menunjukkan bahwa implementasi media permainan ular tangga edukatif dalam menanamkan karakter berkebinekaan global pada anak usia 5-6 tahun dilakukan dalam kegiatan pembelajaran melalui tahapan perencanaan yang matang, pelaksanaan yang interaktif dimana guru sebagai perancang, fasilitator dan memberikan scaffolding secara aktif dan reflektif. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa media permainan ular tangga edukatif membantu anak mengenal budaya, menghargai perbedaan, bekerja sama, dan berempati. Anak lebih aktif dan antusias memahami keberagaman melalui bermain. Media ini efektif dan menyenangkan dalam menanamkan nilai berkebinekaan global serta mendukung Profil Pelajar Pancasila.
PENINGKATAN KEMAMPUAN BAHASA MADURA MELALUI METODE BERNYANYI LAGU MADURA PADA ANAK USIA 5–6 TAHUN DI TK BAROKATUL ULUM Siti Aisyah Tarido; Ratnasari Dwi Ade Chandra; Rizki Sevi Triana
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i3.10591

Abstract

The present study was motivated by the phenomenon of declining regional language proficiency among younger generations. Preliminary data collected at TK Barokatul Ulum revealed that 85% of Group B students were unable to use Madurese vocabulary productively during learning activities. This study aimed to examine the effectiveness of a singing method utilizing Ronjengan, a culturally based local song, as a strategy to enhance the language competence of children aged 5–6 years while simultaneously contributing to the preservation of local cultural heritage. Methodologically, the research employed the Classroom Action Research framework developed by Kemmis and McTaggart, consisting of two cycles that included the stages of planning, action, observation, and reflection. The participants comprised 18 children from Group B. Data were collected through methodological triangulation involving observation, interviews, and documentation, and were analyzed using a descriptive qualitative approach. The intervention demonstrated a substantial improvement trajectory throughout the research process. Learning mastery at the pre-cycle stage was only 15%, increasing to 50% after Cycle I and reaching 77.8% by the end of Cycle II, thereby exceeding the predetermined success criterion of 75%. These findings confirm that the implementation of Madurese songs as a learning medium is effective in improving children's mastery of the regional language while simultaneously fostering the internalization of local wisdom values from an early stage of development. ABSTRAK Fenomena memudarnya kompetensi berbahasa daerah pada generasi muda melatarbelakangi kajian ini, di mana data awal di TK Barokatul Ulum menunjukkan 85% peserta didik kelompok B belum mampu menggunakan kosakata Bahasa Madura secara produktif dalam pembelajaran. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi efektivitas metode bernyanyi berbasis lagu bermuatan budaya lokal Ronjengan sebagai strategi peningkatan kompetensi kebahasaan anak usia 5–6 tahun sekaligus upaya pelestarian kearifan lokal. Secara metodologis, penelitian mengadopsi kerangka Penelitian Tindakan Kelas model Kemmis dan McTaggart yang terdiri atas dua siklus dengan tahapan perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Partisipan penelitian melibatkan 18 anak kelompok B, sementara pengumpulan data dilakukan melalui triangulasi teknik berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi yang dianalisis secara deskriptif kualitatif. Trajektori peningkatan yang signifikan teridentifikasi sepanjang proses intervensi. Ketuntasan belajar pada fase pra-siklus hanya mencapai 15%, meningkat menjadi 50% pasca-Siklus I, dan mencapai 77,8% pada akhir Siklus II melampaui indikator keberhasilan 75%. Hasil ini mengonfirmasi bahwa penerapan lagu Madura sebagai medium pembelajaran terbukti efektif dalam meningkatkan penguasaan bahasa daerah sekaligus menginternalisasikan nilai-nilai kearifan lokal sejak tahap perkembangan awal anak.
PENDAMPINGAN PELATIHAN PEMBUATAN APE INOVATIF UNTUK MENDUKUNG PEMBELAJARAN BERMAKNA BAGI GURU PAUD SE KECAMATAN GADING PROBOLINGGO Wedya Puspita; Karunia Muda Setya; Ratnasari Dwi Ade Chandra
Jurnal Mitra Dedikasi Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2026): Edisi Juni
Publisher : Yayasan Bakti Cendekia Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70305/jmdm.v3i1.229

Abstract

Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi guru PAUD dalam mengembangkan Alat Permainan Edukatif (APE) inovatif guna mendukung pembelajaran bermakna di Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo. Permasalahan yang dihadapi mitra meliputi keterbatasan pemahaman tentang konsep APE, rendahnya keterampilan dalam membuat APE, belum optimalnya integrasi APE dalam pembelajaran, serta kurangnya pemanfaatan bahan lokal sebagai media pembelajaran. Kegiatan pengabdian dilaksanakan menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR) yang meliputi tahap identifikasi kebutuhan, pelatihan, workshop, pendampingan, dan evaluasi. Materi pelatihan disampaikan oleh Karunia Muda Setya Utama, Ratnasari Dwi Ade Chandra dan Wedya Puspita. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman guru mengenai konsep dan fungsi APE, peningkatan keterampilan dalam merancang dan membuat APE inovatif, peningkatan kemampuan mengintegrasikan APE dalam proses pembelajaran, serta meningkatnya kreativitas dalam memanfaatkan bahan lokal dan bahan bekas menjadi media pembelajaran yang edukatif. Berbagai produk APE berhasil dihasilkan dan diimplementasikan dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Kegiatan ini memberikan kontribusi positif terhadap peningkatan kualitas pembelajaran PAUD yang lebih aktif, kreatif, menyenangkan, dan bermakna. Dengan demikian, program pendampingan pelatihan pembuatan APE inovatif dapat menjadi salah satu strategi efektif dalam meningkatkan kompetensi guru PAUD dan mendukung optimalisasi perkembangan anak usia dini.
KAJIAN ANALISIS STUDI PRILAKU ORGANISASI PAUD INKLUSI DI PROVINSI JAWA TIMUR Oliva Lili Wangsa Wirawan; Selasi Priatiningsih; Ratnasari Dwi Ade Chandra
Consilium: Education and Counseling Journal Vol 5 No 2 (2025): Edisi: Agustus
Publisher : Biro 3 Kemahasiswaan dan Kerjasama Universitas Abduracman Saleh Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36841/consilium.v5i2.5757

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perilaku organisasi pada lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) inklusi di Provinsi Jawa Timur dalam konteks implementasi pendidikan inklusi. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode studi kasus, penelitian ini menggali dinamika internal organisasi yang memengaruhi keberhasilan pelaksanaan pendidikan inklusif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi di beberapa lembaga PAUD inklusi di wilayah seperti Surabaya, Sidoarjo, Malang, Kediri, dan Jember. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku organisasi sangat menentukan efektivitas layanan inklusi, khususnya melalui kepemimpinan transformasional, komunikasi organisasi yang terbuka, budaya kerja yang inklusif, serta struktur organisasi yang mendukung partisipasi semua pihak. Selain itu, kurangnya kompetensi tenaga pendidik dan minimnya dukungan eksternal masih menjadi tantangan utama dalam membangun sistem PAUD inklusif yang berkelanjutan. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya transformasi budaya dan struktur organisasi dalam mengembangkan model PAUD inklusi yang adaptif terhadap keberagaman anak. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan kebijakan dan praktik manajerial pendidikan inklusi di tingkat pendidikan anak usia dini di Indonesia.
The Influence of the STEAM Method on the Cognitive Ability of Logical Critical Creative Thinking in Children Aged 5-6 Years Devi Maulanasari; Ratnasari Dwi Ade Chandra; Hendrik Siswono
Integrated Science Education Journal Vol 6 No 2 (2025): May
Publisher : Cahaya Ilmu Cendekia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37251/isej.v6i2.1766

Abstract

Purpose of the study: This study aims to compare the effect of the STEAM method with conventional methods in supporting the development of logical, critical, and creative thinking in children aged 5-6 years. The background of this study is based on the need for a learning approach that can develop high-level thinking skills from an early age, considering that conventional methods are deemed inadequate to support this development. Methodology: The method used is quantitative research with a quasi-experimental approach. The research sample consisted of children aged 5-6 years in kindergarten, divided into two groups: the group using the STEAM method and the group using conventional learning methods. Data collection was conducted through tests assessing logical, critical, and creative thinking abilities before and after treatment. Main Findings: The study's results showed that the application of the STEAM method significantly improved the logical, critical, and creative thinking skills in children aged 5-6 years compared to conventional learning methods. The group using the STEAM method experienced a higher increase in scores on the three aspects of thinking. Novelty/Originality of this study: The discussion in this study confirms that integrating the STEAM method into kindergarten learning can be a practical innovation for developing high-level thinking skills in early childhood. This study implies that educators and policymakers should consider the broader application of the STEAM method in early childhood education as a means to prepare a generation that can think logically, critically, and creatively from an early age.
PENINGKATAN KEMAMPUAN MENGENDALIKAN DIRI ANAK USIA 5 – 6 TAHUN MELALUI PERMAINAN TRADISIONAL GOBAK SODOR DI TK SUNAN AMPEL Fatmawati Fatmawati; Ratnasari Dwi Ade Chandra; Rizki Sevi Triana
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i2.11030

Abstract

This study was designed to develop self-regulation skills in children aged 5–6 years through the application of the traditional game of gobak sodor at TK Sunan Ampel Jatisari. The research design employed was Classroom Action Research (CAR) referring to the Kemmis & McTaggart model, which encompasses four cyclical stages comprising planning, action implementation, observation, and reflection. The research subjects consisted of 15 children, with data collected through structured observation based on three primary indicators, namely the ability to wait one's turn, emotional management, and collaborative skills. The research findings reveal a significant improvement in children's self-regulation abilities, from 60% in Cycle I to 80% in Cycle II. Similar improvements were also recorded across all indicators: the ability to wait one's turn increased from 67% to 87%, emotional self-control from 53% to 80%, and cooperative skills from 60% to 80%. These findings indicate that gobak sodor exerts a positive impact on the development of self-regulation in early childhood. Through the game's structure, which prioritizes rules and cooperation, children gain direct experience in managing emotions, regulating behavior, and adhering to shared agreements. Therefore, gobak sodor merits consideration as an alternative learning strategy for strengthening the social-emotional aspects of early childhood development. ABSTRAK Penelitian ini dirancang untuk mengembangkan kemampuan regulasi diri (self-regulation) pada anak usia 5–6 tahun melalui pemanfaatan permainan tradisional gobak sodor di TK Sunan Ampel Jatisari. Desain penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan mengacu pada model Kemmis & McTaggart, yang mencakup empat tahapan siklikal meliputi perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian berjumlah 15 anak, dengan pengumpulan data dilakukan melalui observasi terstruktur berdasarkan tiga indikator utama, yaitu kemampuan menunggu giliran, pengelolaan emosi, dan kecakapan berkolaborasi. Hasil penelitian memperlihatkan peningkatan yang signifikan pada kemampuan regulasi diri anak, dari 60% pada Siklus I menjadi 80% pada Siklus II. Peningkatan serupa juga tercatat pada seluruh indikator: kemampuan menunggu giliran meningkat dari 67% menjadi 87%, pengendalian emosi dari 53% menjadi 80%, serta kemampuan bekerja sama dari 60% menjadi 80%. Temuan ini mengindikasikan bahwa gobak sodor memberikan dampak positif terhadap pengembangan self-regulation anak usia dini. Melalui struktur permainan yang mengedepankan aturan dan kerja sama, anak memperoleh pengalaman langsung dalam mengelola emosi, mengatur perilaku, dan menaati kesepakatan bersama. Oleh karena itu, gobak sodor layak dipertimbangkan sebagai alternatif strategi pembelajaran dalam penguatan aspek sosial-emosional anak usia dini.