Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Hubungan Perilaku Ibu dalam Kesehatan Gigi dan Mulut dengan Kejadian Karies pada Anak Stunting Usia 30-59 Bulan di Kecamatan Cilongok, Banyumas Salsabilla, Alisa; Hidayah, Riski Amalia; Oktadewi, Fitri Diah; Taqwim, Ali; Widodo, A. Haris Budi
Journal of Dental and Biosciences Vol 2 No 02 (2025): Journal of Dental and Biosciences
Publisher : Jurusan Kedokteran Gigi Fakultas Kedoketaran Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.jdentbios.2025.2.02.12612

Abstract

Latar belakang : Stunting merupakan malnutrisi pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) yang ditandai dengan tinggi atau panjang badan lebih rendah menurut usia dan jenis kelamin. Karies gigi merupakan penyakit kronik yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus mutans dan Lactobacilli. Kurangnya asupan gizi menyebabkan atrofi pada kelenjar saliva sehingga terjadi penurunan fungsi saliva pada mulut. Resiko karies yang tinggi pada balita stunting memerlukan perhatian khusus dari ibu sebagai pemimpin kesehatan. Faktor perilaku ibu terbagi menjadi tiga domain, yaitu pengetahuan, sikap, dan tindakan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan perilaku ibu dalam kesehatan gigi dan mulut dengan kejadian karies pada anak stunting usia 30-59 bulan di Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas. Metode : penelitian ini dilakukan secara observasional analitik dengan pendeketan cross sectional. Responden penelitian dipilih menggunakan quota sampling dengan jumlah 101 responden ibu balita stunting dan 101 responden balita stunting. Hasil : Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna antara variabel perilaku ibu dalam pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut terhadap variabel kejadian karies pada balita stunting dengan nilai uji statistik chi square (p < 0,05). Keeratan korelasi diketahui dari nilai Spearman Rank Correlation untuk pengetahuan -0,664 (keeratan tinggi) dan sikap -0,600 (keeratan tinggi) dan Pearson correlation untuk tindakan -0,432 (keeratan sedang). Simpulan: terdapat hubungan antara perilaku ibu dalam kesehatan gigi dan mulut dengan kejadian karies pada anak stunting usia 30-59 bulan di Kecamatan Cilongok kabupaten Banyumas.
Pengaruh Pengetahuan Mahasiswa Kedokteran Gigi Tentang Gigi Berjejal Terhadap Minat Melakukan Perawatan Ortodonti Cekat Elgiva, Nabiel Lavina; Handayani, Fani Tuti; Hidayah, Arfi Nurul; Hidayah, Riski Amalia; Wulansari, Rahmawati
Journal of Dental and Biosciences Vol 2 No 02 (2025): Journal of Dental and Biosciences
Publisher : Jurusan Kedokteran Gigi Fakultas Kedoketaran Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.jdentbios.2025.2.02.15660

Abstract

Pendahuluan: Gigi berjejal dapat dikoreksi dengan perawatan ortodonti cekat. Perawatan ini memiliki beberapa tantangan dengan sifatnya yang melekat dan tidak dapat dilepas pasang oleh pasien sehingga dapat memengaruhi minat individu terhadap perawatan. Minat dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya adalah pengetahuan. Mahasiswa kedokteran gigi secara khusus belajar mengenai maloklusi, estetika wajah, dan estetika gigi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pengetahuan mahasiswa kedokteran gigi mengenai gigi berjejal terhadap minat perawatan ortodonti cekat; Metode: Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa kedokteran gigi Universitas Jenderal Soedirman sejumlah 185 orang. Sampel dipilih menggunakan teknik total sampling dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Jumlah sampel penelitian adalah 113 orang. Pengambilan data dilakukan dengan dua kegiatan yaitu kegiatan daring berupa pengisian kuesioner google form dan kegiatan luring berupa pemeriksaan dan pengambilan foto intraoral. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji regresi linear sederhana; Hasil: Hasil pada penelitian menunjukkan terdapat pengaruh pengetahuan mahasiswa kedokteran gigi mengenai gigi berjejal terhadap minat perawatan ortodonti cekat (p<0,05) dengan nilai R Square sebesar 0,245; and Kesimpulan: Simpulan penelitian ini adalah terdapat pengaruh pengetahuan mahasiswa kedokteran mengenai gigi berjejal terhadap minat perawatan ortodonti cekat sebesar 24,5%.
PERBANDINGAN pH SALIVA PADA PENGGUNA ROKOK ELEKTRIK, ROKOK KONVENSIONAL, DAN NON PEROKOK Mutia Rochmawati; Riski Amalia Hidayah; Ratih Wijayanti
Majalah Kesehatan Vol. 12 No. 4 (2025): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/majalahkesehatan.2025.012.04.6

Abstract

Perubahan pH saliva dapat disebabkan oleh beberapa faktor termasuk aktivitas merokok, oleh karena rongga mulut menjadi tempat utama penyerapan asap rokok. Perbedaan kandungan zat antara rokok elektrik dan konvensional dapat mempengaruhi perubahan pH saliva. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan pH saliva pengguna rokok elektrik, perokok konvensional, dan non perokok. Penelitian yang dilakukan adalah observasional analitik dengan desain cross-sectional. Populasi penelitian adalah mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman. Sampel diambil dengan metode purposive sampling. Subjek penelitian terdiri dari 108 mahasiswa yang dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu pengguna rokok elektrik, pengguna rokok konvensional, dan non perokok. Subjek diminta untuk mengisi formulir persetujuan informasi, data pribadi dan kuesioner. Data kebiasaan subjek dan variabel lainnya dikumpulkan melalui wawancara. Selanjutnya subjek diminta untuk mengumpulkan saliva dengan metode passive drooling selama 5 menit, dan kemudian pH saliva diukur segera menggunakan pH indikator strips untuk saliva dan pH meter. Data dianalisis secara statistik dengan uji Kruskal Wallis. Hasil menunjukkan bahwa rata-rata pH saliva pengguna rokok elektrik sebesar 6,772±0,3918, pengguna rokok konvensional sebesar 6,506±0,6229 dan non perokok sebesar 7,022±0,5150. Berdasarkan uji Kruskal Wallis terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok pengguna rokok elektrik, rokok konvensional, dan non perokok (p = 0,000). Kesimpulan dari penelitian ini adalah pH saliva pada pengguna rokok lebih rendah dibandingkan non perokok dan pH saliva pengguna rokok konvensional lebih rendah dibandingkan pengguna rokok elektrik. Penurunan pH saliva dapat mempengaruhi fungsi saliva untuk melindungi mukosa mulut sehingga bakteri akan menjadi lebih mudah melekat pada mukosa mulut  
Aktivitas Pemeliharaan Kesehatan Gigi dan Mulut serta Risiko Trauma Dental pada Penderes Nira Kelapa di Desa Sokawera, Kabupaten Banyumas Aniis Rakhmah Sari; Zahran Uzla Attaqi Bagus; Ananda Nurul Firdaus; Salsabila Dzil Izzati; Nada Janardita Rosyadah; Razin Alifahrezy Setyaliani; Ferdhana Nurcahyo; Mary Vida; Riski Amalia Hidayah; Fitri Diah Oktadewi
Journal of Dental and Biosciences Vol 3 No 01 (2026): Journal of Dental and Biosciences
Publisher : Jurusan Kedokteran Gigi Fakultas Kedoketaran Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.jdentbios.2026.3.01.11108

Abstract

Latar Belakang: Pekerjaan sebagai penderes nira kelapa masih banyak dijalani masyarakat Desa Sokawera akibat keterbatasan keahlian dan keterampilan di bidang pekerjaan lain. Aktivitas menderes nira menuntut kerja fisik yang tinggi serta paparan lingkungan yang berpotensi memengaruhi kondisi kesehatan gigi dan mulut, termasuk risiko terjadinya trauma dental akibat kecelakaan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan aktivitas pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut, upaya pengobatan mandiri atau tradisional saat mengalami keluhan sakit gigi, serta potensi risiko trauma dental pada penderes nira kelapa di Desa Sokawera. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan subjek sebanyak enam penderes nira kelapa di Desa Sokawera, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, berusia antara 19 hingga 61 tahun. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semi terstruktur, observasi partisipan, dan dokumentasi. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan adanya variasi perilaku dalam pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut serta perbedaan cara pengobatan mandiri yang dilakukan oleh penderes nira. Sebagian besar responden menyatakan tidak mengonsumsi gula secara berlebihan, sementara dua responden mengonsumsi gula nira hanya sebagai campuran makanan. Selain itu, tidak ditemukan adanya kasus trauma dental pada subjek penelitian selama periode pengamatan. Kesimpulan: Penderes nira kelapa memiliki risiko pekerjaan yang tinggi, praktik pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut yang dilakukan relatif beragam, dan tidak ditemukan kejadian trauma dental pada responden yang diteliti. Kata kunci: Kesehatan gigi dan mulut, trauma dental, penderes nira, pengobatan gigi dan mulut