Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Implementasi Civic Knowledge Dalam Pemilihan Ketua OSIS di Sekolah Falaq, Akmal; Hatala, Ridwan; Tuharea, Jumiati
Jurnal Kewarganegaraan Vol 6 No 2 (2022): Desember 2022
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/jk.v6i2.3686

Abstract

AbstrakPendidikan pada dasarnya merupakan sebuah proses transformasi pengetahuan (knowledge) dengan orientasi membangun pola pikir setiap manusia dan membentuknya menjadi manusia yang manusiawi. Dalam konteks pendidikan demokrasi, Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) merupakan organisasi yang ada didalam sekolah yang dijadikan sebagai wadah untuk mengimplementasikan nilai-nilai demokrasi disekolah. Dalam implementasinya pemahaman mengenai pengetahuan kewarganegaraan (Civic Knowlegde) dalam pemilihan ketua OSIS di SMA PGRI Pelita Jaya adalah sangat penting. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui 1. Proses implementasi civic knowledge dalam pemilihan ketua Osis 2. Faktor-faktor yang menyebabkan kurangnya partisipasi siswa dalam melaksanakan pemilihan ketua Osis. 3. Upaya guru PPKn dalam menanamkan pengetahuan kewarganegaraan (Civic Knowledge) kepada siswa dalam pemilihan ketua Osis. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif yaitu metode yang menggunakan atau melukiskan suatu kejadian secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta atau fenomena yang diselidiki. Hasil penelitian dari penelitian ini menunjukan bahwa proses implementasi Civic Knowledge dalam pemilihan Ketua Osis SMA PGRI Pelita Jaya memberikan manfaat yang baik bagi siswa. Adapun faktor-faktor yang menyebabkan kurangnya partisipasi siswa dalam pemilihan Ketua Osis adalah faktor internal berkaitan dengan minat, bakat, motivasi ataupun sikap siswa. Hal ini selain tumbuh dari diri siswa itu sendiri, bisa juga karena kurangnya pembinaan baik Guru, Pembina Osis maupun Orang Tua siswa. Terkait upaya Guru PPKn dalam menanamkan pengetahuan kewarganegaraan kepada siswa yang paling utama dilakukan adalah membangun atau membentuk karakter siswa. Dengan upaya tersebut strategi yang dapat dilakukan adalah melalui kegiatan literasi, kegiatan ekstrakurikuler, penguatan pada kegiatan awal dan akhir pembelajaran, pembiasaan dan tata tertib belajar di kelas serta disiplin di sekolah.Kata Kunci: Civic Knowledge, Pemilihan Ketua Osis. AbstractEducation is basically a process of transforming knowledge (knowledge) with the orientation of building the mindset of every human being and shaping it into a human being. In the context of democratic education, the Intra-School Student Organization (OSIS) is an organization within the school that serves as a forum for implementing democratic values in schools. In its implementation, understanding of civic knowledge (Civic Knowledge) in the election of the OSIS chairman at SMA PGRI Pelita Jaya is very important. The purpose of this study is to find out 1. The process of implementing civic knowledge in the election of the student council chairman 2. The factors that cause the lack of student participation in carrying out the election of the student council chairman. 3. The efforts of PPKn teachers in imparting civic knowledge to students in the election of student council leaders. The research method used in this research is descriptive method, which is a method that uses or describes an event in a systematic, factual and accurate manner regarding the facts or phenomena being investigated. The results of this study indicate that the process of implementing Civic Knowledge in the selection of the Chairperson of the Student Council of SMA PGRI Pelita Jaya provides good benefits for students. The factors that cause the lack of student participation in the selection of the Student Council Chair are internal factors related to students' interests, talents, motivations or attitudes. This aside from growing from the students themselves, it could also be due to a lack of guidance from both teachers, student council coaches and students' parents. Regarding the efforts of Civics Teachers in imparting civic knowledge to students, the main thing to do is to build or shape students' character. With these efforts the strategies that can be carried out are through literacy activities, extracurricular activities, strengthening at the beginning and end of learning activities, habituation and learning rules in class and discipline in schools.Keywords: Civic Knowledge, Election of Student Council Chair.
Peningkatan Pendapatan Asli Daerah melalui Pengembangan Objek Wisata Pantai Pasir Panjang di Kabupaten Maluku Tenggara Ufie, Maria Sopia; Soumokil, Agustinus; Tuharea, Jumiati
CIVICA: Jurnal Sains dan Humaniora Vol 13 No 1 (2024): Civica: Jurnal Sains dan Humaniora
Publisher : Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/civica.13.1.38-48

Abstract

Pengembangan pariwisata di Kabupaten Maluku Tenggara memerlukan strategi yang disesuaikan dengan kondisi lingkungan setempat, dengan peran aktif pemerintah dan masyarakat. Objek wisata Pantai Pasir Panjang menjadi fokus pengembangan karena potensinya yang besar sebagai destinasi wisata alam. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui upaya pemerintah dalam mengembangkan objek wisata Pantai Pasir Panjang guna meningkatkan Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Maluku Tenggara, dan (2) menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi pengembangan objek wisata tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dokumen resmi, dokumen pribadi, dan catatan memo. Informan penelitian terdiri dari pegawai Dinas Pariwisata Kabupaten Maluku Tenggara dan masyarakat sekitar objek wisata. Analisis data dilakukan secara deskriptif melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Dinas Pariwisata Kabupaten Maluku Tenggara hingga saat ini belum memiliki program pengembangan yang rinci. Pemasaran dan promosi objek wisata telah dilakukan, namun regulasi terkait retribusi belum jelas sehingga pemanfaatannya untuk peningkatan PAD masih terbatas. Pemerintah telah menjalin kerja sama dengan masyarakat dalam menjaga kebersihan dan keamanan lingkungan objek wisata. Faktor yang memengaruhi pengembangan objek wisata terdiri atas faktor penunjang dan penghambat. Faktor penunjang meliputi potensi alam Pantai Pasir Panjang yang indah, sedangkan faktor penghambat utama adalah keterbatasan anggaran dan kelemahan pengembangan sektor pariwisata di daerah. Pengembangan pariwisata, pendapatan asli daerah, pengelolaan objek wisata.
Larangan Perkawinan dalam Perjanjian Pela Darah antara Abio, Ahiolo, Walakone, dan Rumbelu Ditinjau dari UU. Nomor 39 Tahun 1999 Reane, Markus; Tutuarima, Fricean; Tuharea, Jumiati
CIVICA: Jurnal Sains dan Humaniora Vol 13 No 2 (2025): Civica: Jurnal Sains dan Humaniora
Publisher : Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/civica.13.2.18-25

Abstract

Tradisi pela darah di Maluku merupakan perjanjian persaudaraan antar-negeri yang mengatur kewajiban sosial dan larangan perkawinan antar-negeri se-Pela. Penelitian ini bertujuan menganalisis larangan perkawinan dalam pela darah dari perspektif hak asasi manusia (HAM) dan mekanisme penyelesaian pelanggaran adat yang diterapkan masyarakat. Jenis penelitian ini deskriptif kualitatif, dengan lokasi di Negeri Abio, Ahiolo, Walakone, dan Rumbelu, Kabupaten Seram Bagian Barat. Subjek penelitian meliputi tokoh adat, tokoh masyarakat, dan keluarga yang terikat tradisi pela darah. Data dikumpulkan melalui observasi dan wawancara mendalam, kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pela darah lahir dari kesepakatan damai pascaperang antara suku Alune dan Wemale, dengan ketentuan utama berupa kewajiban saling tolong-menolong, menjamu tamu, dan larangan perkawinan antar-negeri se-Pela. Larangan perkawinan ini, meski berpotensi bertentangan dengan UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM, namun berfungsi menjaga perdamaian, identitas kolektif, dan stabilitas sosial. Penyelesaian pelanggaran dilakukan melalui musyawarah adat, ritual, dan sosialisasi kepada generasi muda. Penelitian ini menegaskan bahwa hukum adat seperti pela darah tidak bertentangan dengan prinsip HAM, melainkan dapat menjadi instrumen untuk memperkuat solidaritas sosial, menjaga keharmonisan antar-negeri, dan melestarikan tradisi budaya lokal.
Pelaksanaan Kawin Lari (Kaweng Heka) dalam Adat Perkawinan menurut Perspektif Kewarganegaraan di Desa Wamkana Kabupaten Buru Selatan Hukunala, Ferliana; Tuharea, Jumiati
CIVICA: Jurnal Sains dan Humaniora Vol 12 No 2 (2024): Civica: Jurnal Sains dan Humaniora
Publisher : Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/civica.12.2.1-7

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji praktik kawin lari (Kaweng Heka) berdasarkan aturan lama yang dianut di Desa Wamkana, Kecamatan Namrole, Kabupaten Buru Selatan, serta alasan di baliknya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, dengan mengumpulkan informasi melalui wawancara, observasi, dan catatan dari para tetua adat, anggota masyarakat, dan pejabat desa yang dihormati. Temuan penelitian menunjukkan bahwa kawin lari (Kaweng Heka) melibatkan pernikahan yang dilakukan tanpa persetujuan kedua keluarga atau hanya dengan persetujuan satu keluarga, baik keluarga laki-laki maupun keluarga perempuan. Menurut adat istiadat Desa Wamkana, praktik ini dipandang negatif karena melanggar norma dan prinsip agama yang berlaku. Kawin lari (Kaweng Heka) mengabaikan prosedur adat dan didorong oleh keinginan individu yang terlibat. Faktor-faktor yang berkontribusi meliputi terkikisnya aturan adat (Sumang), kurangnya pengawasan orang tua, pengaruh teman sebaya, kemajuan teknologi, dan penyalahgunaan sumber daya orang tua seperti telepon seluler dan mobil. Motif melarikan diri untuk menikah bersumber dari pelanggaran etika dan kurangnya pengawasan orang tua terhadap interaksi sosial di kalangan remaja. Oleh karena itu, para pemimpin desa bekerja sama dengan para pemuka agama, tokoh adat, dan pemangku kepentingan masyarakat untuk melaksanakan intervensi yang bertujuan mencegah terulangnya kembali kasus melarikan diri untuk menikah dengan memberikan pendidikan yang lebih baik kepada para remaja desa.
Pelaksanaan Adat Makan Bersama (Rahak) sebagai Civic Culture pada Masyarakat Desa Wonreli, Dusun Yawuru, Maluku Barat Daya Lainata, Adolina Lesli; Tuharea, Jumiati
CIVICA: Jurnal Sains dan Humaniora Vol 14 No 1 (2025): Civica: Jurnal Sains dan Humaniora
Publisher : Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/civica.14.1.1-12

Abstract

Adat istiadat merupakan praktik sosial tradisional yang diwariskan secara turun-temurun. Dengan kemajuan teknologi dan modernisasi, tradisi-tradisi yang seringkali terabaikan oleh norma-norma sosial yang berlaku, mulai terabaikan. Salah satu tradisi tersebut adalah tradisi Rahak (makan bersama) dalam keluarga, baik kecil maupun besar. Berdasarkan latar belakang di atas, maka judul penelitian ini adalah: Implementasi tradisi Rahak (makan bersama) sebagai budaya kewarganegaraan pada masyarakat Desa Wonreli Dusun Yawuru, Maluku Barat Daya. Penelitian ini bertujuan untuk memahami proses pelaksanaan tradisi Rahak untuk menjaga hubungan kekerabatan pada masyarakat Dusun Yawuru. Penelitian ini juga mengkaji faktor-faktor yang menghambat pelaksanaan tradisi Rahak pada masyarakat Dusun Yawuru serta mengkaji makna kebersamaan dalam tradisi Rahak pada masyarakat Dusun Yawuru. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif, dengan teknik analisis observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tradisi Rahak sangat penting bagi masyarakat Dusun Yawuru. Melalui tradisi ini, mereka diajarkan tentang honoli (tata krama) untuk menjaga kerukunan, persatuan, dan toleransi dalam masyarakat. Jika tradisi makan bersama (Rahak) tidak dipraktikkan, generasi muda akan kekurangan bimbingan dan nasihat yang mereka butuhkan, karena pada masa inilah mereka dapat mewariskan nasihat kepada anak-anak dan generasi mendatang.