Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Internalisasi Islamic Parenting dalam Meminimalisir Pergaulan Bebas pada Majelis Taklim Muslimah di kabupaten Sorong Fitri Siyami; Sudirman; Fardan Abdillah M; Indria Nur; Andi Ahriani
Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Vol. 7 No. 10 (2025): RESLAJ: Religion Education Social Laa Roiba Journal
Publisher : Intitut Agama Islam Nasional Laa Roiba Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47467/reslaj.v7i10.9276

Abstract

The purpose of this research is to identify the free association that occurs among the children of female Muslim study group members in Sorong district, to analyze the internalization of Islamic parenting in the families of the female Muslim study group congregants att Sorong regency, and to assess the challenges and obstacles faced in internalizing Islamic parenting in the families of the female Muslim study group congregants at Sorong regency. This type of research is qualitative descriptive. The approach of this research is a phenomenological approach, and the data sources consist of primary data from interviews and secondary data from books and documentation. The data collection methods in the research use observation, interviews, and also documentation. The data processing and analysis techniques involve data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results of this study indicate that, firstly, the promiscuity that occurs is caused by several factors, namely a lack of parental attention, a lack of religious understanding, mistakes in choosing a social environment, and a tendency to use mobile phones and social media. Promiscuity consists of two types of deviant behavior, namely consuming alcoholic beverages and engaging in sex outside of marriage. Secondly; The internalization of Islamic parenting as expressed by twenty-six informants is relevant to the concept of Islamic parenting theory put forward by Al-Atas and Al-Ghazali regarding the introduction of beliefs and worship, the presence of role modeling, habituation, selection of formal and non-formal educational institutions, especially in religious education, providing a space for discussion, providing supervision and punishment as a means of shaping children's morals and interactions, as well as providing rewards to enhance children's motivation for worship. Thirdly; Factors that hinder and challenge the internalization of Islamic parenting include the limited resources of speakers or ustadz or those delivering sermons who are experts in the field of parenting, the different backgrounds of the congregation in the study group, the lack of supporting facilities, insufficient religious understanding and attention from parents, the mistake of choosing the environment, and the misuse of mobile phones and social media. The implications in this research are divided into theoretical implications, which strengthen the theory of Islamic parenting according to Al-Ghazali and Al-Attas, and the theory of religious socialization proposed by Ronald L. Johnston. Meanwhile, the practical implications are expected for the management of study groups and those delivering sermons to consistently enhance their role as a source of knowledge in non-formal educational institutions that are greatly needed by the community, to encourage the participants of the women's study groups to continually learn and reflect on themselves, and for teenagers and pre-adolescents to always be cautious and protect themselves from free association that can endanger themselves and those they care about.
Internalisasi Nilai Awiyau Jiok Mefi dan Janji Theofani: Pengalaman Keberhasilan Suku Ayamaru di Papua Andi Ahriani; Suparto Iribaram; Sudirman Sudirman; bambang sunatar; suardi suardi
Jurnal Kawistara Vol 16, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/kawistara.111341

Abstract

Urgensi penelitian ini terletak pada ancaman terhadap pelestarian kearifan lokal di tengah berbagai perkembangan teknologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana masyarakat Ayamaru di Papua Barat menginternalisasi nilai pendidikan, etos kerja, dan religiusitas sebagai fondasi keberhasilan sosial budaya mereka. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi melalui observasi partisipan, wawancara mendalam dengan tokoh adat, pemerintah, mahasiswa, masyarakat Ayamaru, serta dokumentasi tradisi lokal seperti pendidikan Wiyon-Wofle dan Janji Theofani. Analisis data mengikuti model etnografi Spradley dengan penerapan triangulasi untuk menjaga validitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Suku Ayamaru memiliki Falsafah Awiyau Jiok Mefi sebagai dasar prinsip ketekunan, etos kerja, konsep harga diri dan martabat kesukuan. Sedangkan falsafah Janji Theofani adalah falsafah yang mendasari sikap religiusitas masyarakat, orientasi moral dan kohesi sosial. Temuan ini menegaskan adanya nexus global yaitu bukan hanya pengaruh global sebagai ancaman bagi masyarakat lokal, namun kearifan lokal justru menjadi mekanisme integratif sebagai rahasia keberhasilan masyarakat Suku Ayamaru dalam hal pendidikan, ekonomi dan kohesi sosial kesukuan. Kontribusinya memperkaya diskursus teoritis mengenai internalisasi nilai falsafah hidup sekaligus menawarkan model praktis bagi kebijakan pendidikan dan budaya berbasis kearifan lokal.
Internalisasi Nilai Awiyau Jiok Mefi dan Janji Theofani: Pengalaman Keberhasilan Suku Ayamaru di Papua Andi Ahriani; Suparto Iribaram; Sudirman Sudirman; bambang sunatar; suardi suardi
Jurnal Kawistara Vol 16, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/kawistara.111341

Abstract

Urgensi penelitian ini terletak pada ancaman terhadap pelestarian kearifan lokal di tengah berbagai perkembangan teknologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana masyarakat Ayamaru di Papua Barat menginternalisasi nilai pendidikan, etos kerja, dan religiusitas sebagai fondasi keberhasilan sosial budaya mereka. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi melalui observasi partisipan, wawancara mendalam dengan tokoh adat, pemerintah, mahasiswa, masyarakat Ayamaru, serta dokumentasi tradisi lokal seperti pendidikan Wiyon-Wofle dan Janji Theofani. Analisis data mengikuti model etnografi Spradley dengan penerapan triangulasi untuk menjaga validitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Suku Ayamaru memiliki Falsafah Awiyau Jiok Mefi sebagai dasar prinsip ketekunan, etos kerja, konsep harga diri dan martabat kesukuan. Sedangkan falsafah Janji Theofani adalah falsafah yang mendasari sikap religiusitas masyarakat, orientasi moral dan kohesi sosial. Temuan ini menegaskan adanya nexus global yaitu bukan hanya pengaruh global sebagai ancaman bagi masyarakat lokal, namun kearifan lokal justru menjadi mekanisme integratif sebagai rahasia keberhasilan masyarakat Suku Ayamaru dalam hal pendidikan, ekonomi dan kohesi sosial kesukuan. Kontribusinya memperkaya diskursus teoritis mengenai internalisasi nilai falsafah hidup sekaligus menawarkan model praktis bagi kebijakan pendidikan dan budaya berbasis kearifan lokal.
POLA KOMUNIKASI RITUAL EGEK PADA SUKU MOI DI MALAUMKARTA, PAPUA BARAT DAYA Annisa Mutmainnah; Andi Ahriani; Efa Rubawati Syaifuddin
Jurnal Ilmu Komunikasi UHO : Jurnal Penelitian Kajian Ilmu Komunikasi dan Informasi Vol. 11 No. 1 (2026): EDISI JANUARI
Publisher : Laboratorium Ilmu Komunikasi Fisip UHO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52423/jikuho.v11i1.2045

Abstract

Ritual Egek merupakan praktik adat masyarakat Moi di Malaumkarta, Kabupaten Sorong Papua Barat untuk menghindari ekploitasi sumber daya alam secara berlebihan. Ritual ini bersifat sakral, juga sebagai media komunikasi yang memuat pesan-pesan pelestarian dan penegakan hukum adat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi komunikasi yang tepat untuk mengeksplorasi makna simbolik, bentuk interaksi sosial, dan konteks budaya dalam peristiwa ritual adat. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif yang dilakukan selama tujuh bulan dan wawancara mendalam terhadap enam informan kunci, terdiri atas tetua adat, pemilik marga pesisir, nelayan, dan pemuda adat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa delapan komponen komunikasi dalam model S.P.E.A.K.I.N.G hadir secara sistematis dalam setiap tahapan ritual dan berperan dalam menyampaikan pesan konservasi, meneguhkan kesakralan adat, serta menegakkan norma sosial masyarakat. Temuan ini menunjukkan bahwa ritual Egek tidak hanya berfungsi sebagai larangan pemanfaatan sumber daya alam, tetapi juga sebagai pola komunikasi budaya kolektif yang bersifat performatif dan normatif, yang menghubungkan relasi manusia dengan alam, roh leluhur, dan Tuhan. Kebaruan penelitian ini terletak pada pemaknaan ritual Egek sebagai pola komunikasi budaya yang mengintegrasikan dimensi ekologis, spiritual, dan hukum adat, sehingga memperluas penerapan model S.P.E.A.K.I.N.G dalam kajian komunikasi budaya masyarakat adat.