Claim Missing Document
Check
Articles

GAMBARAN KEJADIAN SHIVERING POST SPINAL ANESTESI PADA PASIEN BENIGN PROSTATIC HYPERPLASIA DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH CILACAP Fauzan, Dipa Hilmi; Sebayang, Septian Mixrova; Burhan, Asmat; Suhendro, Suhendro
Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan Vol 10 No 9 (2024): Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan
Publisher : Peneliti.net

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.11173343

Abstract

Anestesi spinal memicu vasodilatasi yang memfasilitasi pusat tubuh untuk meredistribusi panas ke perifer serta memicu ambang shivering. Kejadian shivering menyebabkan ketidaknyamanan bagi pasien. Hal ini menimbulkan peningkatan laju metabolisme menjadi lebih dari 40% dan meningkatkan intensitas nyeri pada daerah luka akibat tarikan luka operasi. Selain itu, dapat juga menyebabkan peningkatan konsumsi oksigen yang signifikan (hingga 40%), peningkatan produksi CO2 (hiperkarbia), meningkatkan hipoksemia arteri, asidosis laktat, dan dapat menyebabkan gangguan irama jantung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kejadian shivering pasca spinal anestesi pada pasien Benign Prostatic Hyperplasia di Rumah Sakit Umum Daerah Cilacap. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan rancangan deskriptif. Pendekatannya yaitu cross sectional. Sampel berjumlah 32 sampel dengan teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling. Hasil penelitian didapatkan bahwa usia yang paling dominan yaitu usia 46-55 tahun (50%), lama operasi yang paling dominan dengan kategori cepat (68,8%) dan IMT yang paling dominan dengan kategori normal (68,8%). Kejadian shivering pasca spinal anestesi yang paling dominan dengan kategori tidak shivering (59,4%). Berdasarkan karakteristik sebagian besar tidak mengalami shivering dengan usia 46-55 tahun (34,4%), berdasarkan lama operasi dengan shivering yang paling dominan tidak mengalami shivering dengan lama operasi cepat (53,1%), dan Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan kejadian shivering sebagian besar dengan IMT normal (46,9%). Kesimpulan didapatkan bahwa karakteristik usia, lama operasi dan IMT pasien tidak mengalami shivering.
Gambaran Kejadian Hipotermi Pada Pasien Sectio Caesarea di Rumah Sakit Umum Daerah Brebes Yanrin, Adzana Salsabila Nezga Pratama; Sukmaningtyas, Wilis; Burhan, Asmat; Adriani, Prasanti
Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan Vol 10 No 10 (2024): Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan
Publisher : Peneliti.net

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.11313844

Abstract

Latar Belakang: Sectio caesarea merupakan tindakan pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding rahim. Operasi dilakukan dengan tujuan agar keselamatan ibu dan bayi dapat tertangani dengan baik. Hipotermi adalah suatu kondisi dimana mekanisme tubuh untuk pengaturan suhu kesulitan mengatasi tekanan suhu dingin. Hipotermi juga dapat didefinisikan sebagai suhu bagian dalam tubuh di bawah 36°C. Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan pendekatan kuantitatif. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional. Hasil: Penelitian ini menunjukan bahwa sebagian besar responden yang menjalani operasi section caesarea berusia 20-25 tahun sebanyak 15 responden (45,5%), sedangkan yang berusia 26-35 tahun sebanyak 18 responden (54,5%). Kesimpulan: Usia dan indeks massa tubuh sangat berpengaruh terhadap kejadian hipotermi.
Edukasi Puasa Sebelum Tindakan Operasi dalam Upaya Peningkatan Pengetahuan Pasien di Poli Bedah Rumah Sakit Islam Purwokerto Gunawan, Rudi; Suryani, Roro Lintang; Burhan, Asmat
Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Kesehatan Vol. 1 No. 2 (2024): September 2024
Publisher : Menara Science Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70109/jupenkes.v1i2.16

Abstract

Tindakan keperawatan perioperatif inilah seorang pasien dipersiapkan salah satunya seorang pasien diharuskan melaukan puasa. Puasa adalah tindakan persiapan sebelum operasi, pasien tidak boleh makan atau minum dimulai pada waktu tertentu sebelum operasi. Lamanya puasa yang dibutuhkan tergantung dari banyak faktor, seperti jenis operasi, waktu makan terakhir sampai dimulainya tindakan (pada operasi emergensi), tipe makanan, dan pengobatan yang diberikan pada pasien sebelum operasi. Berdasarkan survey yang telah dilakukan menunjukkan dari hasil pengamatan yang dilakukan selama praktek klinik I dan III di salah satu Rumah Sakit Negeri dan Rumah Sakit Swasta di Bali terdapat 1-5 orang pasien yang mengalami kejadian aspirasi. Pengabdian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan pasien dan memberikan pemahaman untuk meningkatkan pengetahuan tentang pelaksanaan puasa sebelum tindakan operasi di Poli Bedah Rumah Sakit Islam Purwokerto. Metode yang digunakan yaitu edukasi dengan mengimplementasikan pelaksanaan puasa sebelum tindakan operasi di Poli Bedah Rumah Sakit Islam Purwokerto. Tingkat pengetahuan pasien tentang pelaksanaan puasa sebelum tindakan operasi di Poli Bedah Rumah Sakit Islam Purwokerto sebelum diberikan edukasi yang paling dominan pada pengetahuan cukup (40%). Sedangkan, setelah diberikan edukasi yang paling dominan pengetahuan kategori baik (50%).
Perbedaan edukasi spinal anestesi menggunakan video dan booklet terhadap tingkat kecemasan pasien pre anestesi spinal Ubjaan, Natasya Putri; Burhan, Asmat; Dewi, Feti Kumala
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 10 (2025): Volume 19 Nomor 10
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i10.1679

Abstract

Background: Spinal anesthesia often causes anxiety in preoperative patients, which may affect the anesthesia process and postoperative recovery. Preanesthetic education is therefore needed to reduce patients’ anxiety levels. Purpose: To determine the difference in the effectiveness of spinal anesthesia education using video and booklet media on anxiety levels in pre–spinal anesthesia patients. Method: This study employed a quantitative approach with a quasi-experimental pre-test–post-test with control group design. A total of 38 participants were divided into a video group and a booklet group. Data were collected using the APAIS (Amsterdam Preoperative Anxiety and Information Scale) questionnaire. Data analysis was conducted using the Wilcoxon test and the Mann–Whitney U test. Results: There was a significant reduction in anxiety levels before and after the educational intervention in both the video and booklet groups (p < 0.05). Furthermore, a significant difference in anxiety levels was found between the two groups after the intervention, with a mean rank of 45.82 in the video group and 31.18 in the booklet group (p < 0.05). Conclusion: Preanesthetic education using both video and booklet media is effective in reducing patients’ anxiety levels. However, video-based education is more effective than booklet-based education in reducing anxiety among pre–spinal anesthesia patients.   Keywords: Anxiety; Booklet; Education; Preoperative; Spinal Anesthesia; Video.   Pendahuluan: Spinal anestesi sering menimbulkan kecemasan pada pasien preoperasi yang dapat berdampak pada proses anestesi dan pemulihan. Edukasi preanestesi diperlukan untuk menurunkan tingkat kecemasan tersebut. Tujuan: Untuk mengetahui perbedaan edukasi spinal anestesi menggunakan video dan booklet terhadap tingkat kecemasan pasien pre anestesi spinal. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain quasi experiment pre-test post-test with control group. Sampel berjumlah 38 partisipan yang dibagi menjadi kelompok video dan booklet. Instrumen menggunakan kuesioner APAIS. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon dan Mann Whitney U. Hasil: Terdapat penurunan tingkat kecemasan yang signifikan sebelum dan sesudah pemberian edukasi baik pada kelompok video maupun booklet (p < 0.05). Selain itu, terdapat perbedaan tingkat kecemasan yang bermakna antara kedua kelompok setelah diberikan edukasi, dengan nilai mean rank kelompok video sebesar 45.82 dan kelompok booklet sebesar 31.18 (p < 0.05). Simpulan: Edukasi preanestesi spinal menggunakan media video dan booklet sama-sama efektif dalam menurunkan tingkat kecemasan pasien. Namun, edukasi menggunakan media video terbukti lebih efektif dibandingkan media booklet dalam menurunkan tingkat kecemasan pasien preanestesi spinal.   Kata Kunci : Booklet; Edukasi; Kecemasan; Pre Operasi; Spinal Anestesi; Video.
Network Transformation in Elderly Pressure Ulcers: From Necrosis to Granulation Through the Time Approach Susanti, Indah; Andini, Amelia; Dewi, Wulan Mei Mustika; Sumarni, Rantiningsih; Burhan, Asmat
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 2 (2026): Volume 8 Nomor 2 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i2.24305

Abstract

ABSTRACT Pressure ulcers are prevalent in older patients who are immobile and can substantially impact their quality of life and add to the burden on the health care system. Factors that can slow wound healing are infections, necrotic tissue, moisture, and blood supply. The TIME model, which stands for tissue management, control infection or inflammation, moisture balance, and epithelial edge advancement, can be used to improve the healing of chronic wounds. This study aims to evaluate the effectiveness of the TIME approach in accelerating the healing of stage III pressure ulcers in elderly patients. This case included an older woman, 70 years of age, with a sacral (Stage 3) pressure ulcer. Treatment consisted of sharp debridement, irrigation (0.9% saline), and dressings of Cutimed Sorbact, cadexomer iodine (0.9%), then polyurethane foam over four treatment sessions. High-protein nutrition and scheduling, turning every three hours, complemented the treatment. Progress was monitored using the Bates-Jensen Wound Assessment Tool (BWAT). After four treatment sessions, necrotic tissue had decreased from 75% to 10% and granulation tissue had increased up to 90%. Clinical signs of infection improved. The initial BWAT score of 49 (indicating degeneration of the wound) was closer to partial regeneration by the final session. in facilitating wound healing in a high-risk patient. More studies are needed with a comparative study design and larger populations to verify this and enable wider clinical adoption. Keywords: Debridement, Geriatric Nursing, Pressure Injury, Wound Healing.  ABSTRAK Ulkus tekan sering terjadi pada pasien lansia yang mengalami kesulitan bergerak, dan hal ini dapat memperburuk kualitas hidup mereka serta menambah beban pada sistem layanan kesehatan. Proses penyembuhan luka dapat terhambat oleh berbagai faktor, termasuk infeksi, jaringan mati, kelembapan yang berlebihan, serta masalah aliran darah. Pendekatan TIME, yang mencakup manajemen jaringan, pengendalian infeksi atau peradangan, keseimbangan kelembapan, serta stimulasi tepi epitel, telah diterapkan untuk mempercepat proses penyembuhan luka kronis.Penelitian ini bertujuan untuk menilai efektivitas metode TIME dalam mempercepat penyembuhan ulkus tekan tahap III pada pasien lansia. Laporan kasus ini membahas seorang pasien wanita berusia 70 tahun yang mengalami ulkus dekubitus di area sakrum. Intervensi dilaksanakan dalam empat sesi, yang mencakup debridemen tajam, irigasi dengan NaCl 0,9%, serta penggunaan balutan Cutimed Sorbact, cadexomer iodine, dan foam poliuretan. Dukungan nutrisi yang kaya protein dan tindakan mobilisasi tersedia setiap tiga jam. Untuk evaluasi, digunakan alat penilaian luka Bates-Jensen (BWAT). Setelah melakukan empat intervensi, area nekrotik mengalami penurunan dari 75% menjadi 10%. Selain itu, jaringan granulasi meningkat mencapai 90%, dan gejala infeksi menunjukkan perbaikan. Skor BWAT awal sebesar 49 menunjukkan adanya kerusakan degeneratif, yang kemudian menunjukkan pergeseran menuju fase regenerasi parsial. Pendekatan TIME yang diterapkan dengan sistematis dan secara individu terbukti dapat mempercepat proses penyembuhan ulkus tekan pada pasien yang memiliki risiko tinggi. Penting untuk melakukan studi tambahan dengan desain komparatif dan melibatkan populasi yang lebih besar guna memperkuat temuan ini. Kata Kunci: Debridemen, Keperawatan Geriatri, Cedera Tekanan, Penyembuhan Luka.
Concept Analysis of the Neuro-ischaemic Phenotype: Integrating Diabetic Peripheral Neuropathy and Peripheral Artery Disease for Diabetic Foot Ulcer Risk Stratification Burhan, Asmat; Susanti, Indah
Java Nursing Journal Vol. 4 No. 1 (2026): November - February
Publisher : Global Indonesia Health Care (GOICARE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61716/jnj.v4i1.161

Abstract

Background: Diabetic foot disease remains a major cause of ulceration and amputation, yet neuropathy and peripheral arterial disease are often assessed separately, limiting consistent identification of neuro-ischaemic risk. Purpose: To analyze the concept of the neuro-ischaemic phenotype in diabetic foot ulceration based on the method introduced by Walker and Avant Methods: In a Walker and Avant concept analysis of published literature from PubMed, Embase, Scopus, and Web of Science from November 2020 to 2025, we extracted concept uses, defining attributes, antecedents, consequences, and empirical referents for neuro-ischemic DFU. Boundaries were refined using model, borderline, related, and contrary cases, then synthesised into an operational framework. Results: The analysis defined the phenotype as coexisting loss of protective sensation and objectively confirmed lower-limb ischaemia. Five defining attributes were identified, including silent progression and the need for dual-domain measurement. A tiered minimum dataset was proposed, utilizing the ankle-brachial index, toe-based measures, and Doppler waveform, to reduce misclassification and guide escalation pathways. Conclusion: An integrated neuro-ischaemic phenotype closes single-domain gaps and enables standardised DFU risk stratification. It supports nursing-led triage and referral pathways and requires prospective validation for clinical outcomes. Relevance to clinical practice: Neuro-ischaemic DFU triage: nurses pair Loss of Protective Sensation (LOPS) screening with perfusion tests (ABI plus toe indices or Doppler) to stratify risk, speed early vascular review, tailor offloading/infection surveillance, and standardise communication.
Co-Authors Achmad Fadilah, Rizal Adelia, Putri Mewa Adriani, Prasanti Afrilya, Tiara Octa Agustriliani, Ricke Pramesti Alverina, Frianca Andini, Amelia Angin, Sandri E Perangin Ania, Fegy Indahliani Anisa, Putri Anton Suhendro Anwar, Harits Abdurahman Area Dhiatamaa, Sketsa Arlena, Norma Assyifa, Ibnu Atfat Malic, Rohan Athena, Aegle Atwood, Margaret Auron, Afrodita Ayu Kartika Sari, Venna Azzakiyah, Kholifah Nur Baroki Saragih, M.Nuhas Christy, Bunga Dewi, Wulan Mei Mustika Diputera, Vi Paradise Dutta Roy, Ananya Dwi Agus Yulianto Dwi Novitasari Dwi Wahyuni Effan Fahri Mahendra, Rahmad EKO YULIANTO Ellangga, Mohammad Wahyu Fauzan, Dipa Hilmi Fauzan, M. Fauzan Abdallah Fernández Navarro, Lucía Feti Kumala Dewi Garnier, Élodie Habsah Jumma, Misbachul Hayati Hamka Hamka, Hamka Hani, Winarni Hari Perkasa, Tubagus Heri Susanti, Indri Heri Wibowo, Tophan Hidayat, Riski Indah Susanti Indra, Indra pranata Indri Heri Susanti, Indri Heri Iqbal Ramadhan, Iqbal KHOFIFAH Kim Chi, Do Thi Kumala Dewi, Feti Kurniawan, Adytia Linda Yanti Lintang Suryani, Roro Lova, Anggita Noprati M. Norrström, Elin Made Suandika Manurung, Noritha Maria Seraph, Nero Mixrova Sebayang, Septian More, Claire mutia, lisa Narendra, Gangsar Haryo Natasya Edward, Marry Nika, Fifi Sephia Nova Handayani, Rahmaya Nurdiamsyah, Pratomo Nurul, Nurul Hidayati Oanh, Lê Thị Kim Paulus Subiyanto Permata, Pramudya Putra Pramesti Dewi Pramudya Gurensky, Ganea Pratiwi, Syavira Salsabilah Putri Nola R. MacLeod, Emily Rahmaya Nova Handayani Ramadhanti, Rindu Insyra Ramdani, Egi Hilmi Refa Teja Muti Rizki Ayu W Romano, Giulia Romdani, Rifki Maulana Ruangdet, Kritsada Rudi Gunawan Sarumpaet, Pitri Sebayang, Septian Mixrova Sebayar, Septian Mixrova shelina , shelina Silva, Vanessa A Breu Da Suhendro Suhendro Sumarni, Rantiningsih Suryani, Roro Lintang Susanto, Amin Syafiqah, Nurul Tarsono Tarsono Tin Utami Tri Mulyono Tri Yudono, Danang Triyadi, Ficky Triyudono, Danang Ubjaan, Natasya Putri Utami, Firda Aulia Putri Vijay Kumar Wardani, Intan Putri Yumanita Wibowo, Tophan Heri Wijayanti, Indri Wilis Sukmaningtyas Yanrin, Adzana Salsabila Nezga Pratama Yantoro, Awal Tunis