Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

CONTRIBUTION OF ISLAMIC LAW IN REGIONAL REGULATION OF TANGERANG CITY NUMBER 8 OF 2005 CONCERNING PROHIBITION OF PROSTITUTION Murofikoh, Dede Ika; Pamula, Fauzi Rahmat; Mariana, Mariana
VARIA HUKUM Vol 6, No 1 (2024): VARIA HUKUM
Publisher : Ilmu Hukum, Sharia and Law Faculty, Sunan Gunung Djati Islamic State University of Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/vh.v6i1.21553

Abstract

Today the development of disobedience in people's lives is increasing and rampant. Disobedience is very varied, including theft, selling liquor, drugs, beheading, human trafficking to prostitution and adultery. Besides this, the Tangerang city government responded by issuing Regional Regulation No. 8 of 2005 concerning the prohibition of prostitution. The data used in this study is secondary data and the type of research is descriptive. The method used in this study is a normative juridical approach. Prostitution is an insult to human dignity, especially women. Therefore, the Qur'an and the hadith of the Prophet Muhammad, which are the main sources of Islamic law, both have forbidden adultery and prostitution.Dewasa ini perkembangan kemaksiatan dalam kehidupan masyarakat semakin meningkat dan merajalela. Kemaksiatan yang terjadi sangat beragam, mulai dari pencurian, menjual minuman keras, narkoba, pembegalan, perdagangan manusia hingga prostitusi dan perzinahan. Disamping itu, pemerintah kota Tangerang meresponnya dengan mengeluarkan Peraturan Daerah No. 8 tahun 2005 tentang larangan pelacuran. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder dan jenis penelitiannya adalah deskriptif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan yuridis normatif. Pelacuran merupakan suatu penghinaan terhadap martabat manusia, khususnya perempuan. Oleh karena itu, Al-Qur'an dan hadis Nabi Muhammad SAW yang merupakan sumber utama hukum Islam, keduanya telah mengharamkan perzinahan dan pelacuran.
Analisis Putusan Hakim Pengadilan Agama Dalam Perkara Izin Poligami Fauzi Rahmat Pamula; Sayehu; Usman
JAS : Jurnal Ahwal Syakhshiyyah Vol 5 No 2 (2023): Jurnal Ilmiah Ahwal Syakhshiyyah (JAS)
Publisher : Fakultas Agama Islam UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/jas.v5i2.21033

Abstract

Permission to practice polygamy can only be granted by the Religious Court if a husband has fulfilled the alternative requirements in accordance with Article 4 paragraph 2 and fulfilled the cumulative requirements of Article 5 paragraph 1 of the Law. No. 1 of 1974. However, in the decision of the Serang Religious Court, decision no. 0602/Pdt.G/2020/PA.Srg., alternative conditions not met; Nevertheless, the judge still granted the polygamy permit. By paying attention to the formulation of the problem that has been mentioned, the aim of this research is to find out the analysis of the judge's considerations in this polygamy permit application case. In this research using normative juridical methods, it was concluded that the judge's consideration in granting permission for polygamy was based on considerations of benefit, namely to avoid adultery, obtain consent from the first wife, and fulfill procedural requirements in the form of written evidence and two witnesses. Even though the alternative conditions are not met in accordance with Article 4 paragraph 2 of Law no. 1 of 1974, but based on maslahah considerations, polygamy is considered an urgent alternative, on the other hand, husbands can be fair to their wives, both from a material and biological perspective.   Keywords: polygamy permit, judge, religious court
Implementasi Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dalam Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2023 Tentang Pengelolaan Hasil Sedimentasi di Laut Murofikoh, Dede Ika; Pamula, Fauzi Rahmat
Al Ahkam Vol. 19 No. 2 (2023): Juli-Desember 2023
Publisher : Fakultas Syariah UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37035/ajh.v4i2.9561

Abstract

Enforcement of environmental law is an act or process of coercion to comply with the law based on statutory regulations. One of the laws and regulations in which there are rules regarding environmental law enforcement is Government Regulation 26/2023 concerning the Management of Sedimentation Products at Sea. In enforcing environmental law, administrative sanctions alone are not enough, there must be civil and criminal sanctions, moreover, the damage and pollution done to the environment is quite severe and cannot be recovered. This study examines the lack of sanctions in the form of civil and criminal in Government Regulation 26/2023. Using normative research methods the authors find that in enforcing environmental law there must be civil sanctions, especially criminal ones, the use of criminal sanctions as a premium medium can be applied in enforcing environmental law if damage The damage caused is quite heavy and restoration of the damaged environment is difficult to do, especially sea sand which is a non-renewable natural resource discussed in Government Regulation 26/2023. Enforcement of environmental law is important to do for the continuity and welfare of human life and living things other.
CONTRIBUTION OF ISLAMIC LAW IN REGIONAL REGULATION OF TANGERANG CITY NUMBER 8 OF 2005 CONCERNING PROHIBITION OF PROSTITUTION Murofikoh, Dede Ika; Pamula, Fauzi Rahmat; Mariana, Mariana
VARIA HUKUM Vol. 6 No. 1 (2024): VARIA HUKUM: Jurnal Forum Studi Hukum dan Kemasyarakatan
Publisher : Ilmu Hukum, Sharia and Law Faculty, Sunan Gunung Djati Islamic State University of Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/vh.v6i1.21553

Abstract

Today the development of disobedience in people's lives is increasing and rampant. Disobedience is very varied, including theft, selling liquor, drugs, beheading, human trafficking to prostitution and adultery. Besides this, the Tangerang city government responded by issuing Regional Regulation No. 8 of 2005 concerning the prohibition of prostitution. The data used in this study is secondary data and the type of research is descriptive. The method used in this study is a normative juridical approach. Prostitution is an insult to human dignity, especially women. Therefore, the Qur'an and the hadith of the Prophet Muhammad, which are the main sources of Islamic law, both have forbidden adultery and prostitution.Dewasa ini perkembangan kemaksiatan dalam kehidupan masyarakat semakin meningkat dan merajalela. Kemaksiatan yang terjadi sangat beragam, mulai dari pencurian, menjual minuman keras, narkoba, pembegalan, perdagangan manusia hingga prostitusi dan perzinahan. Disamping itu, pemerintah kota Tangerang meresponnya dengan mengeluarkan Peraturan Daerah No. 8 tahun 2005 tentang larangan pelacuran. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder dan jenis penelitiannya adalah deskriptif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan yuridis normatif. Pelacuran merupakan suatu penghinaan terhadap martabat manusia, khususnya perempuan. Oleh karena itu, Al-Qur'an dan hadis Nabi Muhammad SAW yang merupakan sumber utama hukum Islam, keduanya telah mengharamkan perzinahan dan pelacuran.
KELUARGA SAKINAH DALAM PERSPEKTIF SOSIOLOGI HUKUM ISLAM Achmad Thorik; Fauzi Rahmat Pamula
JAS : Jurnal Ahwal Syakhshiyyah Vol 7 No 1 (2025): Jurnal Ilmiah Ahwal Syakhshiyyah (JAS)
Publisher : Fakultas Agama Islam UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/jas.v7i1.23572

Abstract

Keluarga memiliki posisi sentral dalam Islam sebagai institusi pembentuk nilai moral, spiritual, dan sosial. Konsep keluarga Sakinah yang dilandasi mawaddah dan Rahmah merupakan cita ideal dalam ajaran Islam. Namun, dalam kehidupan masyarakat modern, nilai-nilai tersebut menghadapi berbagai tantangan, seperti meningkatnya angka perceraian, kekerasan dalam rumah tangga, pergeseran peran gender, dan pengaruh globalisasi yang sering kali mengaburkan nilai-nilai keislaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep keluarga sakinah dari perspektif sosiologi hukum Islam serta menilai penerapannya dalam masyarakat Muslim kontemporer. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif-kualitatif dengan pendekatan studi pustaka. Data diperoleh dari literatur primer seperti Al-Qur’an, hadis, kitab fikih klasik dan kontemporer, serta regulasi hukum keluarga di Indonesia. Analisis dilakukan melalui pendekatan sosiologi hukum, membandingkan antara norma ideal (das sollen) dan kenyataan sosial (das sein). Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun nilai-nilai keluarga sakinah telah diatur secara komprehensif dalam hukum Islam, realitas sosial menampakkan adanya kesenjangan implementasi. Ketidakseimbangan peran, lemahnya pemahaman agama, dan kurangnya dukungan institusional menjadi faktor penghambat. Oleh karena itu, dibutuhkan reformulasi hukum keluarga Islam yang kontekstual serta penguatan nilai keagamaan dan komunikasi dalam keluarga sebagai solusi untuk membangun keluarga sakinah yang berkelanjutan. Kata kunci: Keluarga sakinah, hukum Islam, sosiologi hukum.
Rights and Obligations of Husband and Wife (Theological Normative and Sociological Approach) Fauzi Rahmat Pamula; Sayehu
Jurnal Hukum Keluarga Vol. 1 No. 02 (2024): Hukum Keluarga
Publisher : PT. Ratu Bilqis Azzahira bekerjasama dengan Fakultas Syariah Universitas Islam Zainul Hasan Probolinggo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63731/jhk.v1i02.13

Abstract

Marriage in Islam regulates the rights and obligations of husband and wife, which are important for the creation of harmony in the household. However, the implementation of these rights and obligations is often influenced by various social, cultural and economic factors, which can have both positive and negative impacts on the husband-wife relationship. This study aims to analyze the rights and obligations of husband and wife from the perspective of the Qur'an and hadith, and identify the social factors that influence their implementation in society. The main research questions are how religious teachings on the rights and obligations of husband and wife are translated into social practices, and what social impacts arise from their application in daily life. This study uses the Library Research method with a qualitative approach, analyzing the texts of the Qur'an, hadith, tafsir, as well as related literature, by connecting the theories of sociology of religion and social justice. The findings of this study indicate that a balanced and fair application of rights and obligations can strengthen the husband-wife relationship and create family harmony. However, an imbalance in the fulfillment of rights and obligations can lead to conflict, inequality and even domestic violence, affecting the overall quality of family life. Thus, this study emphasizes the importance of understanding the social and cultural context in the application of religious teachings to achieve a harmonious and just household.
Relevansi Batas Usia Perkawinan dalam Hukum Islam dan Hukum Positif terhadap Pencegahan Pernikahan Dini di Pandeglang Guntur Gusti Nugraha; Amum Mahbub Ali; Fauzi Rahmat Pamula
JAS : Jurnal Ahwal Syakhshiyyah Vol 7 No 1 (2025): Jurnal Ilmiah Ahwal Syakhshiyyah (JAS)
Publisher : Fakultas Agama Islam UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study examines the phenomenon of early marriage in Pandeglang District, a region with one of the highest rates of child marriage in Banten Province, Indonesia. Rooted in socio-cultural traditions, economic hardship, and low levels of education, early marriage persists despite the revision of Indonesia's Marriage Law through Law No. 16 of 2019, which sets the minimum marriage age at 19 for both genders. Positioned at the intersection of Islamic legal norms and national law, this research explores how early marriage is legitimized or challenged through both religious and state frameworks. Using a qualitative socio-legal approach, data were collected through in-depth interviews with religious leaders, judges, families, and underage spouses, alongside analysis of legal documents and classical Islamic jurisprudence. The findings reveal a gap between legal norms and community practices, where dispensations granted by religious courts often undermine protective legislation. Moreover, interpretations of Islamic law that emphasize baligh (puberty) over psychological readiness contribute to the persistence of early marriage. This study highlights the urgency of contextualizing Islamic legal principles—particularly the maqāṣid al-sharī‘ah—to align with child protection standards in national law, emphasizing that legal harmonization must be supported by educational and cultural transformation at the grassroots level.   Keywords: Child Marriage, Islamic Law, Positive Law,   Abstrak Penelitian ini mengkaji fenomena pernikahan dini di Kabupaten Pandeglang, sebuah wilayah dengan tingkat pernikahan anak tertinggi di Provinsi Banten, Indonesia. Praktik ini berlangsung karena tradisi sosial-budaya, tekanan ekonomi, dan rendahnya tingkat pendidikan, meskipun Undang-Undang Perkawinan telah direvisi melalui UU No. 16 Tahun 2019 yang menetapkan batas usia minimal perkawinan 19 tahun bagi laki-laki dan perempuan. Penelitian ini berada pada titik temu antara norma hukum Islam dan hukum positif, dengan tujuan memahami bagaimana praktik pernikahan dini dilegitimasi atau ditentang oleh kedua kerangka hukum tersebut. Dengan pendekatan yuridis-sosiologis kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan tokoh agama, hakim, keluarga, dan pasangan usia dini, serta analisis dokumen hukum dan literatur fiqh klasik. Hasil penelitian menunjukkan adanya kesenjangan antara norma hukum dan praktik masyarakat, di mana dispensasi yang diberikan oleh Pengadilan Agama sering kali melemahkan perlindungan hukum. Selain itu, penafsiran hukum Islam yang menitikberatkan pada baligh dibanding kesiapan psikologis turut memperkuat praktik ini. Penelitian ini menegaskan urgensi kontekstualisasi prinsip hukum Islam khususnya maqāṣid al-sharī‘ah, agar selaras dengan standar perlindungan anak dalam hukum nasional, serta perlunya harmonisasi hukum didukung oleh pendidikan dan transformasi budaya di tingkat akar rumput.   Kata Kunci: Pernikahan Anak, Hukum Islam, Hukum Positif
Penyalahgunaan Konsep Qiwāmah dalam Justifikasi Kekerasan Rumah Tangga di Indonesia Perspektif Maqāṣid al-Syarī‘ah Fauzi Rahmat Pamula
Edulaw : Journal of Islamic Law and Yurisprudance Vol. 8 No. 1 (2026): Edulaw : Journal of Islamic Law and Yurisprudance
Publisher : Islamic Criminal Law Study Program, Bunga Bangsa Cirebon Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47453/edulaw.v8i1.4211

Abstract

Tingginya kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di Indonesia menunjukkan adanya persoalan serius dalam relasi keluarga, yang dalam beberapa kasus dilegitimasi melalui pemahaman keagamaan yang keliru, khususnya konsep qiwāmah. Konsep ini kerap ditafsirkan secara tekstual sebagai bentuk superioritas laki-laki, sehingga digunakan untuk membenarkan tindakan kekerasan terhadap perempuan. Permasalahan utama terletak pada bagaimana konsep qiwāmah dipahami, bagaimana penyalahgunaannya dalam praktik KDRT, serta bagaimana perspektif maqāṣid al-syarī‘ah dapat mengoreksi penyimpangan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep qiwāmah secara normatif dan kontekstual, serta merekonstruksinya dalam kerangka keadilan dan kemaslahatan. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan normatif dan sosio-legal, melalui analisis tafsir, pendekatan maqāṣid al-syarī‘ah, dan kajian hukum positif di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyalahgunaan qiwāmah terjadi akibat penafsiran tekstual dan bias patriarki yang mengabaikan tujuan syariat. Dalam perspektif maqāṣid, praktik KDRT terbukti melanggar prinsip perlindungan jiwa, akal, dan keturunan. Oleh karena itu, konsep qiwāmah perlu direkonstruksi dari paradigma dominasi menuju tanggung jawab etis dan perlindungan, sehingga selaras dengan prinsip keadilan dan rahmah dalam Islam serta hukum positif di Indonesia.
Transformasi Konsep Kafa’ah Perspektif Maqashid Al Syari’ah Dan Keadilan Sosial Fauzi Rahmat Pamula; Dede Rohayati; Eneng Juandini
Maqasid: Jurnal Studi Hukum Islam Vol. 15 No. 2 (2026): Maqasid: Jurnal Studi Hukum Islam
Publisher : Muhammadiyah University of Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/mqsd.v15i2.31397

Abstract

Perkawinan dalam Islam tidak hanya bersifat legal-formal, tetapi juga mempertimbangkan aspek sosial seperti kafa’ah (kesetaraan pasangan). Dalam fiqh klasik, konsep kafa’ah cenderung bersifat hierarkis dengan menekankan kesetaraan nasab, status sosial, dan profesi. Namun perubahan struktur sosial modern yang ditandai oleh meningkatnya mobilitas sosial, kesetaraan gender, dan sistem meritokrasi menimbulkan ketegangan antara konsep kafa’ah klasik dan prinsip keadilan sosial kontemporer. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konstruksi konsep kafa’ah dalam fiqh klasik, mengevaluasi relevansinya dalam masyarakat modern, serta mentransformasi konsep tersebut melalui perspektif maqashid al-syari’ah dan keadilan sosial. Penelitian ini menggunakan metode hukum normatif dengan pendekatan ushul fiqh, maqashid al-syari’ah, dan sosiologis-kritis. Data diperoleh melalui studi pustaka dari kitab fiqh klasik, literatur akademik, serta regulasi hukum terkait, kemudian dianalisis menggunakan metode deskriptif-analitik dan content analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep kafa’ah dalam fiqh klasik merupakan produk konstruksi sosial yang bertujuan menjaga stabilitas masyarakat, namun dalam konteks modern berpotensi melahirkan diskriminasi berbasis status sosial, etnis, dan profesi. Oleh karena itu, diperlukan transformasi konsep kafa’ah dari yang bersifat struktural menjadi substantif dengan menekankan aspek akhlak, tanggung jawab, dan kemaslahatan keluarga. Dengan pendekatan ini, kafa’ah tidak lagi dipahami sebagai syarat yang membatasi, melainkan sebagai instrumen etis untuk mewujudkan keluarga yang harmonis dan berkeadilan. Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi pendekatan maqashid al-syari’ah dan keadilan sosial dalam mentransformasi konsep kafa’ah dari paradigma hierarkis menuju paradigma substantif yang lebih inklusif dan kontekstual. Implikasi penelitian ini menunjukkan bahwa konsep kafa’ah dapat dijadikan sebagai nilai etis dalam hukum perkawinan Islam di Indonesia, sekaligus mendorong interpretasi hukum yang lebih progresif, adil, dan responsif terhadap dinamika sosial modern.   Kata Kunci: Kafa’ah, Maqashid Al-Syari’ah, Keadilan Sosial, Hukum Perkawinan Islam, Transformasi Hukum.
Reconstructing Islamic Inheritance Law from a Gender Justice Perspective: An Analysis of the Indonesian Compilation of Islamic Law Fauzi Rahmat Pamula; Mochamad Dani Firmansyah
Punggawa Law Review Vol. 1 No. 4 (2026): Punggawa Law Review: September - October
Publisher : Punggawa Legacy Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67707/plr.v1i4.173

Abstract

The construction of Islamic inheritance law in Indonesia has remained closely associated with classical jurisprudential principles, particularly the differentiated inheritance shares between male and female heirs under the Compilation of Islamic Law. However, transformations in family structures, women’s economic participation, and the distribution of household responsibilities have raised questions about whether formal inheritance distribution continues to reflect substantive gender justice. This study aimed to reconstruct the conception of justice in Islamic inheritance law within the Compilation of Islamic Law by integrating Islamic legal principles with contemporary socio-economic conditions. Normative legal research was conducted through library research using statutory, conceptual, and Islamic legal approaches. The legal materials were analyzed qualitatively through identification, classification, interpretation, critical analysis, and reconstruction. The results showed that the existing inheritance framework remained strongly influenced by classical jurisprudence, while contemporary family conditions required justice to be evaluated beyond numerical distribution. The study contributed a Contextual-Maqāṣidī Inheritance Justice framework that integrated maqāṣid al-syarī‘ah, maṣlaḥah, gender justice, proportionality, and substantive justice while maintaining the fundamental principles of Islamic Sharī‘ah.