Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : agriTECH

Isolasi dan Karakterisasi Lesitin Kelapa dan Wijen Dwi Hudiyanti; Tri Joko Raharjo; Narsito Narsito; Sri Noegrohati
agriTECH Vol 32, No 1 (2012)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (139.448 KB) | DOI: 10.22146/agritech.9652

Abstract

Lecithin is a natural amphiphilic substance which has unique structures. Lecithin molecules are able to aggregate to form a carrier structure known as liposom which is useful for carrying active substances in drug, food and cosmetics. Lecithin is generally derived from soybeans and eggs. Research efforts have been made to seek new sources of lecithin such as from coconut and sesame seeds. This study aimed to determine the character of plant lecithin derived from coconut and sesame seeds. Isolation of lecithin was done by solvent extraction using a mixture of chloroform-methanol (2:1) and characterization was conducted using TLC, FTIR and GCMS. The results indicated that lecithins from coconut and sesame seeds were from cephalin class with hydrophilic group consisted of ethanolamin. The lipophilic parts of coconut lecithin were C12 and C8 and those of sesame seeds lecithin were C18:1 and C18:0.ABSTRAKLesitin merupakan senyawa ampifil alam yang mempunyai struktur unik. Molekul-molekul lesitin dapat beragregasi membentuk suatu struktur sistem pembawa yang disebut liposom dan berguna pada penghantaran bahan-bahan aktif pada obat, makanan dan kosmetika. Lesitin yang selama ini digunakan pada umumnya berasal dari kedelai dan telur. Upaya penelitian telah dilakukan untuk mencari alternatif sumber lesitin baru yang berasal dari kelapa dan wijen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakter lesitin tumbuhan yang berasal dari kelapa dan wijen. Isolasi lesitin dilakukan dengan cara ekstraksi solven menggunakan campuran kloroform-metanol (2:1). Sedangkan karakterisasi meliputi pengujian dengan TLC, FTIR dan GCMS. Hasil menunjukkan bahwa lesitin kelapa dan wijen adalah lesitin dari golongan sefalin dengan gugus hidrofilnya berupa etanolamin. Bagian lipofil untuk lesitin kelapa adalah C12 dan C8, dan untuk lesitin wijen bagian lipofilnya adalah C18:1 dan C18:0.
Indikator Titrasi Asam-Basa dari Ekstrak Bunga Sepatu (Hibiscus rosa sinensis L) Siti Nuryanti; Sabirin Matsjeh; Chairil Anwar; Tri Joko Raharjo
agriTECH Vol 30, No 3 (2010)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (829.327 KB) | DOI: 10.22146/agritech.9671

Abstract

Titration acid-base needs indicator  to show the change of color on interval of hydrogen exponent/degree of acid (pH). Indicator of synthetic which always be used have disadvantages like chemical pollution,  stock and expensive of pro- duction  cost. The research has been carried out to substitute the synthetic indicator with herbal indicator extracted from flower crown of Hibiscus rosa sinensis L extract. The herbal indicator was extracted from the flower crown Hibiscus rosa sinensis L using a mixture methanol-acetic acid. Then it was evaluated with phenolphthalein and methyl orange(E merck) comparer to titration the acid-base, they are strong acid-strong base, weak base-strong acid and weak acid-strong base. The result of research show that herbal indicator  of flower crown Hibiscus rosa sinensis L to show theequivalent point in all titrations give peer result with the comparison. With the research result hoped that indicatortitration acid-base flower crown Hibiscus rosa sinensis L is able to as replace synthetic indicator  (metyl orange andphenolphtalein) which always be used before.ABSTRAKTitrasi asam-basa memerlukan indikator untuk menunjukkan perubahan warna pada setiap interval derajad keasaman (pH). Indikator sintetis yang digunakan selama ini mempunyai beberapa kelemahan seperti polusi kimia, ketersediaan dan biaya produksi mahal. Upaya penelitian sudah dilakukan untuk menggantikan indikator sintetis dengan indikator dari ekstrak mahkota bunga sepatu. Indikator herbal tersebut dibuat dengan cara mengekstrak mahkota bunga Hibiscus rosa sinensis L dengan mengunakan pelarut metanol-asam asetat. Kemudian dievaluasi dengan indikator pembanding fenolftalein dan metil oranye (produksi E merck) untuk titrasi asam-basa yaitu asam kuat-basa kuat, basa lemah-asam kuat dan asam lemah-basa kuat. Dari hasil penelitian diketahui bahwa indikator dari mahkota bunga sepatu untuk menunjukkan titik ekivalen dalam titrasi tersebut memberikan hasil yang setara dengan indikator pembandingnya. Hasil penelitian menunjukkan, indikator dari mahkota bunga sepatu dapat sebagai pengganti indikator sintetis (metil oranye dan fenolftalein) yang selama ini digunakan.
Validasi Metode Analisis Multiresidu Pestisida Organoklor dalam Salak Menggunakan Kromatografi Gas-Detektor Penangkap Elektron Tri Joko Raharjo; Bambang Sutriyanto; Mai Anugrahwati; Nurul Hidayat Aprilita
agriTECH Vol 33, No 2 (2013)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1978.335 KB) | DOI: 10.22146/agritech.9809

Abstract

Validation of methods is a key step in the accreditation process of the method. Validation of organoklor pesticide residues method in snakefruit based on the method recommended by FAO-WHO, conducted in LPPT-UGM reported in this study. Snake fruit was homogenized, extracted using toluene/2-propanol (2:1), cleaned up using activated carbon and Celite 545, followed by analysis using gas chromatography-electron capture detector. Validation covered specificity and selectivity, limits of detection and quantification, linear range, precision and accuracy. Validation results showed good specificity and selectivity shown by the inter-peak chromatogram resolution greater than 1.5. Limits of detection and quantification for heptaklor, endosulfan, dieldrin and p, p-DDT were 0.002 and 0.006, 0.5 and 1.7; 0.0006 and 0.002, as well as 0.014 and 0.047 ppm respectively. The linear range for heptaklor, endosulfan, dieldrin, and p,p-DDT were 0.0017 to 2 ppm, 0.165 to 2 ppm, 0.023 to 2 ppm and 0.229 to 2 ppm, respectively. Precision methods meet the acceptance of Horwitz RSD value less than 12.78% at a concentration of 0.3 ppm. Accuracy is indicated by recovery, for each pesticide in the range of 80-110% acceptance at a concentration of 0.1 ppm. Analysis of organochlorine pesticides in three commercial snakefruit samples showed no pesticide residues at concentrations higher than the detection limit.ASBTRAKValidasi metode merupakan tahap kunci dalam proses akreditasi suatu metode. Validasi metode uji residu pestisida organoklor dalam salak berdasarkan metode yang direkomendasikan FAO-WHO, di LPPT-UGM dilaporkan pada penelitian ini. Buah salak dihomogenisasi, diekstraksi menggunakan toluen/2-propanol (2:1), clean up menggunakan karbon aktif dan Celite 545, dilanjutkan analisis menggunakan kromatografi gas-detektor penangkap elektron. Validasi mencakup spesifisitas dan selektivitas, batas deteksi dan kuantifikasi, range linier, presisi serta akurasi. Hasil validasi menunjukkan spesifisitas dan selektivitas yang baik ditunjukkan dengan resolusi antar puncak kromatogram lebih besar dari 1,5. Batas deteksi dan batas kuantifikasi untuk heptaklor, endosulfan, dieldrin dan p,p-DDT secara berturut-turut adalah 0,002 dan 0,006; 0,5 dan 1,7; 0,0006 dan 0,002; serta 0,014 dan 0,047 ppm. Range linier untuk heptaklor adalah 0,0017-2 ppm, endosulfan 0,165-2 ppm, dieldrin 0,023-2 ppm dan p,p-DDT 0,229-2 ppm. Presisi metode memenuhi batas keberterimaan Horwitz dengan nilai RSD lebih kecil dari 12,78% pada konsentrasi 0,3 ppm. Akurasi ditunjukkan dengan recovery, untuk tiap pestisida masuk dalam rentang keberterimaan 80-110% pada konsentrasi 0,1 ppm. Analisis pestisida organoklorin pada 3 sampel salak komersial menunjukkan tidak adanya residu pestisida dengan konsentrasi lebih tinggi dari batas deteksi.
Co-Authors Agus Zulkarnain, Agus Alfiraza, Ery Nourika Andika, Rio Ani Setyopratiwi Arif Mulyanto, Arif Ariyani Setyo Widhiyati Arwansah, Arwansah Atmadja, Wiedjaja Bambang Sutriyanto Chairil Anwar Chairil Anwar Condrobimo, Andreas Raharto Dendang, Adrianto Deni Pranowo Deni Pranowo Dilin Rahayu Nataningtyas Diptyo Hisnuaji, Diptyo Dwi Hudiyanti Eka Widjaja, Henry Antonius Elly Rustanti Endah Mulya Asih Endang Semiarti Endar Marraskuranto Esti Enjelina Fandhi Adi Wardoyo Garnis Putri Erlista Gilang Aji Pratama Harisman Jaya, Harisman Hasnur, Juliandri Hidayat, Panca Nur Iqmal Tahir Irma Nuryanti Istini Istini Istini Istini Jaka Widada Jatmiko, Fauzi Kurniawan, Fika L, Bagus Budhi Bowo L. Hartanto Nugroho Laily Nurliana Mahargyani, Wikan Mai Anugrahwati Markus Asta Patma Nugraha Maulidiyawan, Robby Meyliana Mudasir Mudasir Mudasir Narsito Narsito Narsito Narsito Naseer Ahmed Nugroho, Edi Setyawan Nuniek Herdyastuti Nurul Hidayat Aprilita Oedjijono Oedjijono Ogbuadike Eucharia Patricia Lubis, Patricia Puji Lestari Puji Lestari Raden Tambunan Rarastoeti Pratiwi Respati Tri Swasono Rina Sri Kasiamdari Robert Verpoorte Rosyida Azis Rizki Rusmiati Suprihatin S, Aryo Adi Sabirin Mastjeh Sabirin Matsjeh Sablan, Bruno Santi Nur Handayani Saputra, M. Ferry Sari Edi Cahyaningrum Shalehuddin, Hasnan Habib Sismindari Sismindari Siti Nuryanti Siti Nuryanti Slamet Raharjo Sonny Ridwanto, Sonny Sri Noegrohati Sri Noegrohati Stalis Norma Ethica Suhirwan, Suhirwan Sumiaty Sumiaty Sunusi, M. Syafril Sunusi, Sahabuddin Surajiman Surajiman Surajiman Surajiman Surjandy Susan Primadevi Tri Rini Nuringtyas Tri Wahyudi Tutik Dwi Wahyuningsih Wen-Te Chang Winarno Winarno Winarto Haryadi Winda Cahyaningtyas Yohannes Kristanto, Yohannes