The Belangar tradition is a funeral ritual practiced by the Sasak community in Lombok that functions not only as a religious and cultural practice, but also as a social mechanism for building and sustaining communal solidarity. This study aims to examine how women interpret and enact their roles within the Belangar tradition and how their participation contributes to the formation of social solidarity. Employing a qualitative approach with an intrinsic case study design, the research was conducted in Surabaya Village, East Lombok. Data were collected through participant observation, in-depth interviews, and document analysis, and analyzed using reflexive thematic analysis. The findings reveal that women act as organizers of collective action, maintainers of reciprocal social relations, and mediators of collective emotions within the Belangar ritual. These practices reflect women’s social agency operating through non-formal and relational processes that actively produce and sustain social solidarity. The study concludes that social solidarity in the Belangar tradition is not an automatic outcome of cultural inheritance, but a socially constructed process mediated through women’s ritual and relational labor. Theoretically, this research contributes to discussions on social solidarity and social capital in indigenous contexts, while offering practical implications for social education and culturally grounded community development. Tradisi Belangar merupakan ritual kematian yang dipraktikkan oleh masyarakat Sasak di Lombok dan berfungsi tidak hanya sebagai praktik keagamaan dan kebudayaan, tetapi juga sebagai mekanisme sosial dalam membangun dan mempertahankan solidaritas komunitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana perempuan memaknai dan menjalankan peran mereka dalam tradisi Belangar serta bagaimana keterlibatan tersebut berkontribusi terhadap pembentukan solidaritas sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus intrinsik dan dilaksanakan di Desa Surabaya, Lombok Timur. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan telaah dokumen, kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik refleksif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan berperan sebagai pengorganisasi tindakan kolektif, penjaga relasi sosial yang bersifat timbal balik, serta mediator emosi kolektif dalam pelaksanaan ritual Belangar. Praktik-praktik tersebut mencerminkan agensi sosial perempuan yang beroperasi melalui proses non-formal dan relasional dalam memproduksi dan mempertahankan solidaritas sosial. Penelitian ini menyimpulkan bahwa solidaritas sosial dalam tradisi Belangar tidak terbentuk secara otomatis sebagai warisan budaya, melainkan merupakan hasil konstruksi sosial yang dimediasi melalui kerja ritual dan kerja relasional perempuan. Secara teoretis, penelitian ini memberikan kontribusi terhadap kajian solidaritas sosial dan modal sosial dalam konteks masyarakat adat, sekaligus menawarkan implikasi praktis bagi pendidikan sosial dan pengembangan komunitas berbasis kearifan lokal.