Claim Missing Document
Check
Articles

ANALISIS PEMBUBARAN ORGANISASI KEMASYRAKATAN BERDASARKAN UNDANG UNDANG NOMOR 16 TAHUN 2017 PERSPEKTIF SIYASAH DUSTURIYAH Alfin Maqbul Fauzi; Idzam Fautanu; Lutfi Fahrul Rizal
Jurnal Hukum Lex Generalis Vol 6 No 8 (2025): Tema Hukum Pemerintahan
Publisher : CV Rewang Rencang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to analyze the mechanism for disbanding community organizations based on Law Number 16 of 2017. The dissolution regulated in the mass organization law also contradicts the theory of the rule of law and justice in the civil service. The implementation of just law is fundamental to creating a peaceful cycle of society and maintaining the rights of freedom of the community, especially in association and assembly. This study uses a normative legal method. The results of this study indicate that the government should continue to pay attention to the rights of the community in freedom of assembly and association and continue to implement due process of law as a representation of efforts to create a just government to present a more peaceful democratic climate in addition to the state's anticipation of organizations that conflict with Pancasila and the 1945 Constitution.
Formulasi Kaderisasi Oleh Partai Politik Dalam Dinamika Pencalonan Bupati Dan Wakil Bupati Garut Pada Pilkada 2024 Perspetif Siyasah Dustriyah Insanul Haq, Yurid Al Izzatul; Rizal, Lutfi Fahrul; Saptaji, Aji
AL-MUTSLA Vol. 7 No. 2 (2025): Jurnal Al Mutsla
Publisher : STAIN MAJENE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46870/jstain.v7i2.1962

Abstract

Proses kaderisasi di dalam partai politik memegang peran yang sangat penting dalam mempersiapkan calon kepala daerah yang memiliki kompetensi dan integritas tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pola kaderisasi yang diterapkan oleh Partai NasDem di Kabupaten Garut dalam konteks Pilkada 2024 dengan perspektif siyasah dusturiyah. Penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis empiris yang menerapkan metode analisis deskriptif dengan teknik pengumpulan data yang melibatkan wawancara mendalam, observasi lapangan, serta analisis dokumen terkait. Temuan penelitian menunjukan bahwa sistem kaderisasi yang diterapkan mengutamakan transparansi dan inklusivitas dalam seleksi kader, namun tetap menghadapi tantangan dalam menjaga kualitas kader yang berkelanjutan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa untuk mencapai kemaslahatan umat, sangat penting bagi partai politik untuk memastikan bahwa sistem seleksi kader yang digunakan adil dan sesuai dengan prinsip-prinsip siyasah dusturiyah.
Rekognisi Sosio Historis Kewenangan Pengawasan BPD dalam Pemerintahan Desa Menurut Undang-Undang Desa Perspektif Siyasah Dusturiyah Putri, Zulfa Listiani; Rizal, Lutfi Fahrul; Amin, Muhammad
AL-MUTSLA Vol. 7 No. 2 (2025): Jurnal Al Mutsla
Publisher : STAIN MAJENE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46870/jstain.v7i2.2023

Abstract

This study analyzes the legitimacy and supervisory function of the Village Consultative Body (Badan Permusyawaratan Desa/BPD) within the framework of village autonomy by linking historical evolution, the spirit of deliberation (musyawarah), and the legal maxim dar’u al-mafāsid muqaddamun ‘alā jalb al-maṣāliḥ. The BPD is understood as the product of an adat–state negotiation that evolved from pre-colonial village deliberative forums (rembug desa) that were organic and inclusive, weakened into subordinate meetings during the colonial period, formalized as the Village Consultative Council (LMD) after independence, and later transformed into the modern BPD (Law No. 22 of 1999 and Law No. 6 of 2014). Normatively, the BPD functions as a counterbalance to the executive; however, in practice it remains vulnerable to patronage and bureaucratization, causing its oversight role to be largely symbolic and insufficiently inclusive of women and youth. Using a normative juridical and socio-historical approach, this study demonstrates that musyawarah as the core of legitimacy has shifted from endogenous, adat-based legitimacy grounded in mutual cooperation (gotong royong) toward fragile, vertically regulatory legitimacy. This shift has led to the erosion of local wisdom and the weakening of the BPD’s supervisory function. In fact, the maxim dar’u al-mafāsid requires musyawarah to operate as an ethical mechanism for preventing harm (such as corruption of village funds) and to serve as the primary filter in every village decision. These findings lead to recommendations for normative reconstruction and the revitalization of inclusive, transparent, and locally grounded deliberative musyawarah, so that the BPD can once again function effectively as a supervisory body and guardian of village harmony in accordance with the principles of good governance and maqāṣid al-sharī‘ah.
Pendidikan Rasa Aman dan Tenteram Masyarakat Perspektif Siyasah Dusturiah: Analisis Tanggung Jawab Kepolisian pada Masyarakat Tasikamalaya Indonesia Al Aziz, Alfandy Faris; Fautanu, Idzam; Rizal, Lutfi Fahrul
Jurnal Pendidikan Agama Islam Al-Thariqah Vol. 10 No. 2 (2025): Jurnal Pendidikan Agama Islam Al-Thariqah
Publisher : UIR Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25299/althariqah.2025.vol10(2).23458

Abstract

This study explores the responsibility of the Tasikmalaya Police Resort in ensuring public safety and order, based on Law Number 2 of 2002 concerning the Indonesian National Police, and viewed through the lens of Siyasah Dusturiyah (Islamic constitutional politics). The main issue addressed is the rising crime rate including motorcycle theft, gang violence, and street crimes that has caused public unrest. Employing a juridical-empirical approach with descriptive qualitative methods, data were gathered through observation, interviews, and documentation. The findings indicate that the Tasikmalaya Police have implemented both preventive (patrols, legal counseling, public education) and repressive (investigation and law enforcement) strategies. Community-based programs such as "Police, Friends of the People" and "Friday Dialogues" have also enhanced public-police cooperation. From a Siyasah Dusturiyah perspective, the police embody the role of muḥtasib, enforcers of amar ma’ruf nahi munkar, tasked with maintaining public welfare and order. Thus, police responsibility is both legally mandated and spiritually driven as a divine trust
Retensi Data Pemilih Sebagai Upaya Perlindungan Hak Pilih Pemula Lutfi Fahrul Rizal
SIYASI: Jurnal Trias Politica Vol. 1 No. 1 (2023): Siyasi: Jurnal Trias Politica
Publisher : Prodi Hukum Tata Negara Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/sjtp.v1i1.26446

Abstract

Accurate voter registration in general elections in Indonesia is a major concern prior to every election. First-time voters, especially young voters, have great potential in exercising their right to vote and influencing the legitimacy and quality of the elections. However, there are several challenges in facilitating the participation of first-time voters, including a lack of understanding of the registration process, difficulties in obtaining identification documents, residential mobility, limited access to Permanent Voter List (DPT) information, and low political awareness. To overcome these obstacles, solutions need to be implemented to maintain the integrity of first-time voters' data to prevent recurring issues in the future.Daftar pemilih yang akurat dalam pemilihan umum di Indonesia menjadi perhatian utama sebelum setiap pemilu. Pemilih pemula, terutama pemilih muda, memiliki potensi besar dalam menggunakan hak pilih mereka dan mempengaruhi keabsahan dan kualitas pemilu. Namun, ada beberapa tantangan yang harus dihadapi dalam memfasilitasi partisipasi pemilih pemula, termasuk kurangnya pemahaman tentang proses pendaftaran, kesulitan mendapatkan dokumen identitas, perpindahan tempat tinggal, akses terbatas ke informasi Daftar Pemilih Tetap (DPT), dan kurangnya kesadaran politik. Untuk mengatasi hambatan ini, diperlukan langkah-langkah penyelesaian yang mempertahankan integritas data pemilih pemula agar masalah ini tidak terus muncul di masa depan. 
Implementasi Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor 970/Kep.154-Bapenda/2025 Tentang Pembebasan Tunggakan Atas Pokok Dan Denda Pajak Kendaraan Bermotor Di Kota Bandung Perspektif Siyasah Dusturiyah Moch Andika Satria Piningit; Yana Sutiana; Lutfi Fahrul Rizal
Staatsrecht: Jurnal Hukum Kenegaraan dan Politik Islam Vol. 5 No. 2 (2025): Staatsrecht Jurnal Hukum Kenegaraan dan Politik Islam
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/staatsrecht.v5i2.4563

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor 970/Kep.154-Bapenda/2025 yang mengatur tentang pembebasan tunggakan atas pokok dan denda pajak kendaraan bermotor di Kota Bandung, serta meninjaunya dalam perspektif Siyasah Dusturiyah (politik ketatanegaraan Islam). Kebijakan ini hadir sebagai respon atas rendahnya tingkat kepatuhan wajib pajak dan menumpuknya tunggakan pajak kendaraan di wilayah Jawa Barat, khususnya Kota Bandung. Dalam pelaksanaannya, wajib pajak diberikan insentif berupa pembebasan seluruh tunggakan dan denda hingga tahun 2024, dengan syarat membayar pajak tahun berjalan (2025) dalam periode yang ditentukan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui studi dokumentasi, wawancara, dan observasi langsung di beberapa titik pelayanan Samsat, baik offline maupun digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara administratif, kebijakan ini telah diterapkan melalui berbagai kanal layanan publik seperti Samsat Induk, Drive Thru, Samsat Keliling, serta aplikasi digital (Sambara dan SIGNAL). Namun, sosialisasi masih belum merata dan cenderung minim di kalangan masyarakat kelas bawah. Dari perspektif Siyasah Dusturiyah, kebijakan ini mencerminkan prinsip maslahah (kemaslahatan umum) dan taqnin (regulasi) dalam pemerintahan Islam, di mana penguasa diberi wewenang untuk menetapkan kebijakan fiskal demi keadilan sosial dan kemudahan rakyat. Di sisi lain, pelaksanaan yang belum optimal menunjukkan perlunya peningkatan pada aspek komunikasi publik, evaluasi kebijakan, serta konsistensi penegakan hukum pasca berakhirnya masa pemutihan.Penelitian ini merekomendasikan agar Pemerintah Provinsi Jawa Barat, khususnya BAPENDA dan instansi terkait, lebih aktif melakukan sosialisasi terpadu, penguatan sistem digital, dan pengawasan terhadap pelaksanaan lapangan, agar kebijakan ini benar-benar menjadi instrumen efektif dalam meningkatkan kepatuhan pajak dan mendorong stabilitas fiskal daerah secara berkelanjutan.
KONSEP FAST TRACK LEGISLATION DALAM PEMBENTUKAN PERPPU SEBAGAI MEKANISME PENANGANAN KEADAAN DARURAT YANG LEBIH DEMOKRATIS DI INDONESIA PERSPEKTIF SIYASAH DUSTURIYAH Muhammad Adam Ilhamsyah; Lutfi Fahrul Rizal; Taufiq Alamsyah
QANUN: Journal of Islamic Laws and Studies Vol. 4 No. 4 (2026): QANUN: Journal of Islamic Laws and Studies, Juni 2026
Publisher : ASIAN PUBLISHER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58738/qanun.v4i4.1299

Abstract

Penelitian ini berangkat dari problematika penerbitan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) di Indonesia yang kerap menimbulkan polemik, terutama terkait minimnya deliberasi, lemahnya mekanisme Check and Balances serta potensi dominasi kekuasaan eksekutif dalam situasi darurat. Praktik penerbitan Perppu pada beberapa kasus menunjukan pergeseran fungsi dari instrument konstitusional darurat menuju instrumen kebijakan politik yang rentan mengabaikan legitimasi demokratis, termasuk tidak konsisten dengan parameter objektif Putusan Mahkamah Konstitusi No. 138/PUU-VII/2009. Penelitian ini juga menekankan pembeda dengan penelitian lain, dengan menghadirkan rekonstruksi mekanisme legislasi darurat melalui integrasi Fast Track Legislation (FTL) sebagai kanal legislasi cepat yang diprioritaskan ketika kondisi mendesak masih memungkinkan pelibatan DPR, sementara Perppu ditempatkan sebagai last resort untuk situasi ultra-darurat. Metode yang digunakan ialah yuridis-normatif dengan pendekatan deskriptif-analitis, berbasis studi dokumen terhadap sumber hukum primer, sekunder dan tersier. Temuan menunjukkan, FTL berpotensi memperkuat demokrasi deliberatif jika disertai kriteria darurat yang ketat, sunset clause, partisipasi publik minimum, dan pengawasan legislatif-yudisial. Kesimpulan menegaskan, bahwa perspektif Siyasah Dusturiyah melalui kaidah darurat juga memperkuat legitimasi etis-konstitusional desain legislasi darurat yang proporsional dan akuntabel.
Judicial Independence and Dual Positions: A Siyasah Qadhaiyah Analysis of Constitutional Court Decision No. 183/PUU-XXII/2024 Muhammad Rafi Sulistio; Muhammad Amin; Lutfi Fahrul Rizal
Journal of Indonesian Islamic Studies Vol. 5 No. 2 (2026): Journal of Indonesian Islamic Studies (April)
Publisher : Postgraduate Program of the State Islamic Institute of Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24256/jiis.v5i2.10375

Abstract

This research is motivated by the limited number of studies analyzing Constitutional Court Decision No. 183/PUU-XXII/2024 concerning the prohibition of concurrent positions between leaders of advocate organizations and state officials from a siyasah qadhaiyah perspective. Previous studies generally focused on the constitutional aspects of the advocate profession without linking them to Islamic judicial principles. This research uses a normative juridical method with a statutory and conceptual approach through an analysis of Constitutional Court decisions, related regulations, and legal literature. The results show that the Constitutional Court affirms independence, impartiality, and the prevention of conflicts of interest as the primary basis for limiting concurrent positions to maintain the integrity of the advocate profession. This decision strengthens the professionalism of advocate organizations, clarifies the boundaries of relations with state power, and supports an accountable judicial system. From a siyasah qadhaiyah perspective, the decision aligns with the principles of justice, trustworthiness, and sadd al-dzari'ah as preventive mechanisms to maintain the purity of the judicial function. These findings confirm that Constitutional Court decisions have constitutional and normative relevance in developing a judiciary with integrity.