Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

ANALISIS STRATEGI PEMBELAJARAN GURU DALAM MENGEMBANGKAN KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS SISWA SEKOLAH DASAR Fitri Nurzakiah Fuadi; Ghullam Hamdu; Desiani Natalina
PEDADIDAKTIKA: Jurnal Ilmiah Pendidikan Guru Sekolah Dasar Vol 3, No 1 (2016): PEDADIDAKTIKA
Publisher : Program Studi PGSD UPI Kampus Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (402.308 KB) | DOI: 10.17509/pedadidaktika.v3i1.4800

Abstract

Berpikir kritis merupakan kemampuan inti yang penting sehingga guru perlu mengajarkan dan mengembangkannya dalam pembelajaran. Kemudian seiring dengan berlakunya Kurikulum 2013, kemampuan berpikir kritis ini mulai menjadi perhatian pemerintah melalui penyempurnaan pada pola pikir pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi pembelajaran guru kelas rendah dan guru kelas tinggi dalam mengembangkan keterampilan berpikir kritis siswa di Sekolah Dasar Kurikulum 2013, indikator keterampilan berpikir kritis yang muncul pada siswa, dan perbedaan strategi pembelajaran guru kelas rendah dan guru kelas tinggi dalam mengembangkan keterampilan berpikir kritis siswa. Metode kualitatif digunakan dalam penelitian ini dengan melibatkan guru-siswa kelas 1 dan kelas 4 dari 6 Sekolah Dasar yang yang menerapkan kurikulum 2013 di wilayah Kota Tasikmalaya. Data dikumpulkan melalui observasi dengan cara perekaman pelaksanaan pembelajaran untuk memperoleh gambaran mengenai strategi guru dalam mengembangkan keterampilan berpikir kritis siswa dan wawancara yang dilakukan pada 1 guru untuk mengklarifikasi data hasil observasi. Hasil menunjukkan bahwa strategi pembelajaran yang dilaksanakan sudah mengembangkan keterampilan berpikir kritis berdasarkan kerangka Ennis (1996), dengan persentase kemunculan 15,24% untuk guru kelas rendah dan 13,85% untuk guru kelas tinggi, ada 10 dari 12 indikator berpikir kritis yang muncul berdasarkan respon siswa, dan terdapat perbedaan strategi pembelajaran antara guru kelas rendah dan guru kelas tinggi dalam mengembangkan keterampilan berpikir kritis.
BERPIKIR KRITIS MAHASISWA DALAM DEBAT CAPRES CAWAPRES BEM REMA UPI KAMPUS TASIKMALAYA 2014 Medita Ayu Wulandari; Hodidjah Hodidjah; Desiani Natalina Muliasar
PEDADIDAKTIKA: Jurnal Ilmiah Pendidikan Guru Sekolah Dasar Vol 2, No 1 (2015): PEDADIDAKTIKA
Publisher : Program Studi PGSD UPI Kampus Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (370.562 KB) | DOI: 10.17509/pedadidaktika.v2i1.5242

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh keingintahuan peneliti terhadap kemampuan berpikir kritis mahasiswa PGSD di Tasikmalaya. Berdasarkan studi pendahuluan hanya 30% mahasiswa yang memahami berpikir kritis namun belum diketahui apakah mahasiswa sudah berpikir kritis dan komponen yang muncul. Kemampuan berpikir kritis pada mahasiswa dapat dilihat dalam kegiatan berpolitik melalui kegiatan debat Capres Cawapres BEM. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan berpikir kritis mahasiswa dan komponen berpikir kritis yang muncul dalam debat Capres Cawapres BEM REMA UPI Kampus Tasikmalaya 2014. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, metode studi kasus. Penelitian ini dilaksanakan di UPI Kampus Tasikmalaya. Subjek penelitian adalah empat mahasiswa PGSD yang mencalonkan diri sebagai Capres Cawapres BEM REMA UPI Kampus Tasikmalaya 2014. Pengumpulan data menggunakan observasi melalui perekaman untuk memperoleh gambaran mengenai berpikir kritis pada debat Capres Cawapres BEM REMA UPI Kampus Tasikmalaya 2014 dan wawancara untuk mengklarifikasi data hasil observasi. Hasil penelitian menunjukan beberapa komponen berpikir kritis yang dikemukakan oleh Gubbins (Sternberg, 1986, hal. 33) muncul yaitu pemecahan masalah (mengidentifikasi masalah utama; menjelaskan masalah; merumuskan hipotesa dan memilih solusi terbaik), membuat keputusan (merumuskan tujuan yang diinginkan; merumuskan hambatan untuk mencapai tujuan dan  menentukan beberapa kemungkinan), acuan muncul (kemampuan berpikir induktif: menentukan sebab akibat dan membuat acuan), kemampuan berpikir yang berbeda (membangun banyak ide), dan evaluasi kemampuan berpikir (mengenali hal yang mendasari anggapan). Dari 51 aspek, 11 aspek muncul dan 40 aspek tidak muncul.
SCAFFOLDING PADA PEMBELAJARAN MENULIS TEKS DESKRIPTIF BAHASA INGGRIS DI KELAS V SEKOLAH DASAR Aminah Marifah; Rustono W.S; Desiani Natalina
PEDADIDAKTIKA: Jurnal Ilmiah Pendidikan Guru Sekolah Dasar Vol 1, No 2 (2014): Pedadidaktika
Publisher : Program Studi PGSD UPI Kampus Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (451.21 KB) | DOI: 10.17509/pedadidaktika.v1i2.4928

Abstract

Penelitian ini  mendeskripsikan jenis-jenis scaffolding yang dilakukan guru dan cara guru dalam memberikan scaffolding pada pembelajaran menulis teks deskriptif bahasa Inggris di kelas V Sekolah Dasar.  Latar belakang penelitian ini  adalah kesulitan siswa dalam menulis teks deskriptif bahasa Inggris sehingga scaffolding banyak terjadi selama pembelajaran. Scaffolding merupakan bantuan sementara yang diberikan guru pada siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa scaffolding yang digunakan guru pada pembelajaran menulis teks deskriptif bermacam-macam dan guru memberikan scaffolding dengan cara tahapan-tahapan menulis.
MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN BERBICARA ANAK DALAM MENCERITAKAN KEMBALI DENGAN METODE SHOW AND TELL Ine Laela; Desiani Natalina Muliasari; Endah Silawati
CAKRAWALA DINI: JURNAL PENDIDIKAN ANAK USIA DINI Vol 10, No 1 (2019): May 2019
Publisher : UPI Kampus Cibiru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (289.792 KB) | DOI: 10.17509/cd.v10i1.17441

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh permasalahan mengenai kemampuan berbicara anak yang belum berkembang di kelas B1 KOBER-TK Ananda Desa Palasari Kecamatan Cibiru Kota Bandung. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran hasil kemampuan berbicara anak dalam menceritakan kembali dengan metode show and tell. Penelitian ini melibatkan sembilan orang anak sebagai partisipan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan dengan model Pelton (2010) yang terdiri dari 3 tindakan, setiap tindakan terdiri dari 5 langkah yang meliputi identifikasi masalah, pengumpulan data, perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan serta penilaian hasil (refleksi). Kemampuan berbicara yang diteliti pada penelitian ini berfokus pada kemampuan anak dalam menceritakan kembali dengan standar keberhasilan yang dicapai pada setiap tindakannya yaitu menceritakan kembali benda atau hasil karya dengan menyebutkan 3 ciri benda. Hasil penelitian tindakan ini menunjukkan bahwa kemampuan berbicara anak dalam menceritakan kembali benda atau hasil karyanya meningkat dari tindakan 1 hingga tindakan 3. Pada tindakan pertama, jumlah anak yang mampu menceritakan kembali benda atau hasil karya dengan menyebutkan 3 ciri benda sebanyak 1 orang (12,5%) untuk tindakan 1. Untuk tindakan 2 jumlah anak yang mampu menceritakan kembali benda atau hasil karya dengan menyebutkan 3 ciri benda sebanyak 3 orang (50%). Untuk tindakan 3 jumlah anak yang mampu menceritakan kembali benda atau hasil karya dengan menyebutkan 3 ciri benda sebanyak 8 orang (100%). Berdasarkan hasil penelitian, metode show and tell dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif dalam mengembangkan kemampuan berbicara anak usia dini.Kata Kunci : Metode Show and Tell, Kemampuan Berbicara Anak, Kemampuan Menceritakan Kembali
MENUMBUHKAN PERILAKU BERPIKIR KRITIS SEJAK ANAK USIA DINI Desiani Natalina M.
CAKRAWALA DINI: JURNAL PENDIDIKAN ANAK USIA DINI Vol 6, No 1 (2015): Mei 2015
Publisher : UPI Kampus Cibiru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (490.918 KB) | DOI: 10.17509/cd.v6i1.10508

Abstract

Makalah ini akan memaparkan beberapa pemikiran penulis yang didukung oleh beberapa sumber mengenai perilaku berpikir kritis yang perlu ditumbuhkan sejak anak usia dini. Hal ini menjadi perhatian seiring dengan berlakunya kurikulum PAUD 2013 yang mulai memperkenalkan pembelajaran yang mengeksplorasi kemampuan berpikir kritis seorang anak melalui “scientific learning”. Kemampuan berpikir kritis haruslah mulai diperkenalkan seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus berkembang dengan pesat. Tentu saja kemampuan berpikir kritis anak akan terasah jika guru yang menjadi pembimbing di lembaga-lembaga PAUDpun mampu untuk berpikir kritis.
PERAN “LOCAL POP UP BOOKS” PADA PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS UNTUK ANAK USIA DINI Desiani Natalina M.
CAKRAWALA DINI: JURNAL PENDIDIKAN ANAK USIA DINI Vol 5, No 2 (2014): November 2014
Publisher : UPI Kampus Cibiru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.644 KB) | DOI: 10.17509/cd.v5i2.10500

Abstract

Memperkenalkan bahasa Inggris pada anak usia dini menjadi trend yang terjadi di Indonesia. Para orang tua banyak yang menginginkan anak-anaknya untuk bisa berbahasa Inggris sedini mungkin. Hal ini berpengaruh pada aktifitas anak di sekolah karena sekolah dituntut pula untuk bisa memfasilitasi keinginan orangtua tersebut. Lembaga pendidikan anak usia dini dari mulai kober dan taman kanakkanak mulai memperkenalkan bahasa Inggris. Hal ini berpengaruh pada kreatifitas guru mengemas kegiatan berbahasa Inggris di sekolah untuk anak usia dini. Salah satu alternatif cara memperkenalkan bahasa Inggris pada anak usia dini adalah dengan memanfaatkan pop up books yang bernuansa keindonesiaan. Makalah ini akan menyajikan bahan pemikiran mengenai pemanfaatan “Local Pop Up Books” yang menggambarkan budaya lokal daerah di Indonesia untuk memperkenalkan bahasa Inggris pada anak usia dini di Indonesia. Kata kunci : local pop up books, pembelajaran bahasa Inggris untuk AUD 
Teachers’ Readiness for Integrating Technology in English Language Education: The Roles of Institutional Support, Self-Efficacy, and Technological Competence Lambok Hermanto Sihombing; Desiani Natalina Muliasari; Yusuf Tri Herlambang; Elly Rizeqia Fadilah; Nana Supriatna
International Journal of Educational Qualitative Quantitative Research Vol. 4 No. 2 (2025)
Publisher : Qualitative and Quantitative Research Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58418/ijeqqr.v4i2.175

Abstract

The rapid digital transformation in English Language Education (ELE) has made teacher readiness a critical determinant of successful technology integration. This study aims to investigate the roles of institutional support, self-efficacy, and technological competence in shaping teachers’ readiness across two distinct educational landscapes: Australia and Indonesia. Adopting a quantitative research design, data were collected from 125 English language teachers and analyzed using Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM). The findings reveal that institutional support, self-efficacy, and technological competence all exert a positive and significant influence on teacher readiness, collectively explaining 65.8% of the model’s variance (R2=0.658). Among the predictors, self-efficacy emerged as the most dominant driver (β=0.428), highlighting the primacy of internal psychological confidence in adopting digital tools. These results underscore that technology integration is a complex socio-technical process requiring a synergistic approach that balances environmental resources with individual psychological resilience. This study contributes to the field of educational technology by providing a robust cross-cultural model, suggesting that professional development must prioritize building digital agency and supportive ecosystems over mere infrastructure procurement to ensure sustainable digital transitions.
Gamified digipuzzle-based instruction to support early reading development in elementary learners Tri Handayani; Evi Chamalah; Rida Fironika Kusumadewi; Desiani N Muliasari; Endah Silawati
Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol 13, No 1 (2026): Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar
Publisher : Prodi PGSD FKIP Universitas Islam Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/pendas.13.1.50-56

Abstract

Reading is a foundational competency in early-grade education; however, many students experience delays in developing basic decoding and comprehension skills. This study aims to examine the effect of gamified learning using the Digipuzzle application on the reading skills of first-grade students at SDN Sukajaya 2. A quantitative one-group pretest–posttest design was employed involving 25 students. Reading performance was measured using a structured assessment administered before and after the intervention. The results indicate that the mean pretest score increased from 50.12 to 75.76 in the posttest. Statistical analysis using a paired-sample t-test confirmed a significant difference between the two measurements (p = 0.000 < 0.05). The gain analysis produced an average N-gain score of 0.486, indicating a moderate level of improvement. These findings demonstrate that integrating gamification through Digipuzzle is associated with measurable gains in early reading performance. This study provides empirical evidence supporting the use of game-based digital media as an instructional strategy to enhance foundational literacy skills in primary education.
Optimalisasi Budidaya Maggot Sebagai Strategi Alternatif Pengelolaan Sampah Organik Berkelanjutan Di Lingkungan Kampus Zaki Apriansyah; Siti Rahmi Azkiah; Yusuf Tri Herlambang; Mega Laeni; Asep Rudi Nurjaman; Mirawati Mirawati; Desiani Natalina Muliasari; Iim Siti Karimah; Farida Amalia; Yadi Suryadi; Fully Rakhmayanti
Jurnal Ksatria : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 1 No 2 (2023): Jurnal Ksatria: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : CV. Ksatria Siliwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67025/jurnalksatriajurnalpengabdiankepadamasyarakat.v1i2.75

Abstract

Permasalahan sampah organik di lingkungan kampus merupakan isu yang mendesak untuk ditangani karena berkaitan langsung dengan kebersihan, kesehatan, dan kualitas ekosistem kampus sebagai ruang belajar. Budidaya maggot sebagai bentuk biokonversi limbah organik menawarkan solusi yang ramah lingkungan, efisien, dan selaras dengan prinsip keberlanjutan, sekaligus menjadi media pembelajaran berbasis pengalaman bagi mahasiswa. Artikel ini bertujuan mendeskripsikan pelaksanaan proyek budidaya maggot di lingkungan kampus dalam perspektif Landasan Pendidikan, dengan menekankan fungsi lingkungan sebagai sumber belajar, media pembelajaran, dan ruang internalisasi nilai. Metode yang digunakan meliputi observasi kondisi lingkungan kampus, analisis permasalahan dan potensi pengelolaan sampah organik, perancangan dan implementasi budidaya maggot secara kolaboratif, serta refleksi terhadap dinamika pembelajaran dan perubahan sikap ekologis mahasiswa. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa budidaya maggot mampu mengurangi volume sampah organik, meningkatkan kebersihan lingkungan, serta menumbuhkan kesadaran ekologis dan sikap tanggung jawab mahasiswa. Proyek ini menegaskan bahwa pengelolaan sampah organik berbasis budidaya maggot tidak hanya berdimensi teknis, tetapi juga pedagogis karena mampu menghubungkan teori Landasan Pendidikan dengan praktik nyata di lingkungan kampus.
Optimalisasi Budidaya Maggot Sebagai Strategi Alternatif Pengelolaan Sampah Organik Berkelanjutan Di Lingkungan Kampus Zaki Apriansyah; Farida Amalia; Iim Siti Karimah; Desiani Natalina Muliasari; Mirawati Mirawati; Asep Rudi Nurjaman; Mega Laeni; Fully Rakhmayanti; Yusuf Tri Herlambang; Siti Rahmi Azkiah; Yadi Suryadi
Jurnal Ksatria : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2 No 1 (2023): Jurnal Ksatria: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : CV. Ksatria Siliwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67025/jurnalksatriajurnalpengabdiankepadamasyarakat.v2i1.80

Abstract

Permasalahan sampah organik di lingkungan kampus merupakan isu yang mendesak untuk ditangani karena berkaitan langsung dengan kebersihan, kesehatan, dan kualitas ekosistem kampus sebagai ruang belajar. Budidaya maggot sebagai bentuk biokonversi limbah organik menawarkan solusi yang ramah lingkungan, efisien, dan selaras dengan prinsip keberlanjutan, sekaligus menjadi media pembelajaran berbasis pengalaman bagi mahasiswa. Artikel ini bertujuan mendeskripsikan pelaksanaan proyek budidaya maggot di lingkungan kampus dalam perspektif Landasan Pendidikan, dengan menekankan fungsi lingkungan sebagai sumber belajar, media pembelajaran, dan ruang internalisasi nilai. Metode yang digunakan meliputi observasi kondisi lingkungan kampus, analisis permasalahan dan potensi pengelolaan sampah organik, perancangan dan implementasi budidaya maggot secara kolaboratif, serta refleksi terhadap dinamika pembelajaran dan perubahan sikap ekologis mahasiswa. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa budidaya maggot mampu mengurangi volume sampah organik, meningkatkan kebersihan lingkungan, serta menumbuhkan kesadaran ekologis dan sikap tanggung jawab mahasiswa. Proyek ini menegaskan bahwa pengelolaan sampah organik berbasis budidaya maggot tidak hanya berdimensi teknis, tetapi juga pedagogis karena mampu menghubungkan teori Landasan Pendidikan dengan praktik nyata di lingkungan kampus.