Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

Hambatan yang Dirasakan dalam Kepatuhan Pengobatan pada Orang Dewasa dengan Diabetes Melitus Tipe 2 Dwight Marulitua Mahaputera Hutapea; Kimberley Maharani Maulibulung Hutapea
Jurnal Ners Vol. 9 No. 4 (2025): OKTOBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i4.51115

Abstract

Diabetes melitus tipe 2 (DM tipe 2) merupakan penyakit kronisdengan prevalensi yang terus meningkat di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Kepatuhan pengobatan menjadi kunciutama dalam keberhasilan manajemen DM tipe 2, namunmasih banyak hambatan yang memengaruhinya. Penelitian inibertujuan mengeksplorasi kepatuhan pengobatan sertahambatan yang dirasakan oleh orang dewasa dengan DM tipe2. Penelitian menggunakan desain mixed method sequential explanatory dengan tahap kuantitatif melibatkan 164 partisipanmelalui kuesioner untuk mengukur tingkat kepatuhan dan hambatan, dilanjutkan dengan tahap kualitatif melaluiwawancara mendalam mengenai pengalaman subjektif.Sebanyak 90 responden (54,9%) patuh terhadap pengobatan, sedangkan 74 responden (45,1%) tidak patuh. tujuh temautama hambatan yang ditemukan meliputi: lupa karenarutinitas yang sibuk, persepsi negatif terhadap efek sampingobat, biaya dan akses layanan kesehatan, kurangnya dukungankeluarga, kompleksitas regimen obat, sikap terhadap obat, serta informasi dari tenaga kesehatan. Hambatan-hambatantersebut menunjukkan perlunya pendekatan holistik dan dukungan interprofesional untuk meningkatkan kepatuhanpengobatan pada pasien DM tipe 2.
Nola J. Pender’s Health Promotion Model untuk Lansia dengan Diabetes Tipe 2: Tinjauan Review Literature (2020-2025) Dwight Marulitua Mahaputera Hutapea
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.52314

Abstract

Diabetes tipe 2 (DT2) pada lansia menjadi tantangan besar dalam praktik keperawatan karena komplikasi, kontrol glukosa yang tidak optimal, serta perubahan fisik, psikososial dan lingkungan terkait usia. Model Promosi Kesehatan Nola J. Pender Diabetes tipe 2 (DT2) pada lansia menjadi tantangan besar dalam praktik keperawatan karena komplikasi, kontrol glukosa (Health Promotion Model/HPM) telah digunakan untuk memahami dan memfasilitasi perilaku kesehatan, namun aplikasinya spesifik pada lansia dengan DT2 belum banyak disintesis. Untuk meninjau literatur antara 2020 hingga 2025 mengenai penerapan HPM pada lansia dengan DT2, mengidentifikasi konstruk HPM yang paling sering digunakan, hasil yang dilaporkan, dan implikasi bagi praktik keperawatan lansia. Tinjauan literatur naratif dilaksanakan melalui pencarian basis data (misalnya PubMed, Scopus, Google Scholar) untuk artikel yang memuat HPM + DT2 pada populasi lansia (≥ 60 tahun atau disebut lansia) dalam rentang tahun 2020-2025. Artikel diseleksi berdasarkan inklusi (bahasa Inggris atau Indonesia, populasi lansia DT2, penggunaan HPM atau konstruk-nya) dan eksklusi (populasi non-lansia, model teori lain tanpa HPM). Data dikaji mengenai karakteristik studi, konstruk HPM yang digunakan, hasil perilaku kesehatan atau klinik, dan rekomendasi. Beberapa studi terkini menunjukkan bahwa intervensi berbasis HPM dapat meningkatkan self-efikasi, persepsi manfaat, komitmen terhadap rencana tindakan, serta menurunkan hambatan dan pengaruh situasional sehingga meningkatkan perilaku pengelolaan DT2 — contohnya studi kuasi eksperimental di Iran pada DT2 (tidak spesisifik lansia) yang melaporkan penurunan HbA1C dan peningkatan konstruk HPM.
Negosiaisi Kepatuhan Pengobatan Pada Diabetes Melitus Tipe 2: Pendekatan Teori Berbasis Konstruktivis Tentang Hambatan, Pembuatan Makna dan Kemampuan Memaknai Dwight Mahaputera Marulitua Hutapea
Jurnal Ners Vol. 10 No. 2 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i2.55391

Abstract

Kepatuhan pengobatan pada Diabetes Melitus Tipe 2 (T2DM) masih suboptimal meskipun ada kemajuan dalam manajemen klinis, yang menunjukkan keterbatasan dalam model perawatan berbasis kepatuhan. Studi ini bertujuan untuk mengembangkan teori substantif bersifat kontekstual yang menjelaskan bagaimana orang dewasa dengan T2DM menegosiasikan kepatuhan pengobatan di tengah hambatan yang dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan teori dasar konstruktivis digunakan, dengan memanfaatkan bukti kualitatif dan metode campuran dari studi akses terbuka yang diterbitkan antara tahun 2021 dan 2026. Data disintesis secara konseptual melalui perbandingan konstan untuk mengidentifikasi kondisi, tindakan, dan konsekuensi yang membentuk kepatuhan.Kepatuhan muncul sebagai proses dinamis yang dinegosiasikan, bukan perilaku tetap. Partisipan secara aktif mendefinisikan kembali, dimana; (1) Kepatuhan sebagai penciptaan makna daripada kepatuhan melalui pembuatan makna, penilaian emosional, dan adaptasi kontekstual. (2) Hambatan kumulatif dan saling berpotongan. Hambatan yang dirasakan bersifat kumulatif dan saling terkait, meliputi keterbatasan fisik, kelelahan emosional, harapan sosiobudaya. (3) Menegosiasikan harapan sosial dan keluarga pada dinamika keluarga, dan kendala sistem kesehatan. (4) Hubungan dan Kepercayaan dengan Sistem Kesehatan (5) Strategi adaptif dan kepatuhan selektif dalam kategori inti membahas negosiasi kepatuhan dalam batasan kehidupan sehari-hari, mengintegrasikan proses-proses ini dan menjelaskan variasi hasil kepatuhan di sepanjang kontinum dari kepatuhan berkelanjutan hingga kepatuhan situasional. Studi ini mengembangkan pemahaman yang berlandaskan teori tentang kepatuhan sebagai kemampuan beradaptasi, bukan sekadar kepatuhan. Intervensi harus bergeser ke arah model yang fleksibel dan berpusat pada individu yang mengakui realitas kehidupan di sepanjang siklus hidup.
Perceived Benefits dan Perceived Bariers yang Dirasakan Sebagai Determinan Self-Management Pada Remaja Dengan Diabetes Melitus Tipe 2 Dwight Mahaputera Marulitua Hutapea
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.57886

Abstract

Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT2) pada remaja merupakan masalah kesehatan global yang meningkat secara signifikan dan berdampak pada kualitas hidup jangka panjang. Self-management menjadi komponen utama dalam pengendalian penyakit ini, namun keberhasilannya dipengaruhi oleh faktor psikososial, khususnya perceived benefits dan perceived barriers. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan critical review terhadap peran manfaat yang dirasakan dan hambatan yang dirasakan sebagai determinan self-management pada remaja dengan DMT2. Metode yang digunakan adalah narative critical review terhadap artikel tahun 2021–2026 yang diperoleh dari database CINAHL, Google Scholar, PubMed Scopus. Hasil menunjukkan bahwa perceived benefits meningkatkan kepatuhan terhadap diet, aktivitas fisik, dan monitoring glukosa, sementara perceived barriers seperti stigma sosial, keterbatasan dukungan keluarga, dan beban psikologis menghambat self-management. Pembahasan mengungkap bahwa pendekatan intervensi berbasis perilaku dan dukungan keluarga sangat penting dalam meningkatkan efektivitas self-management. Kesimpulan menunjukkan bahwa integrasi strategi untuk memperkuat manfaat yang dirasakan dan mengurangi hambatan menjadi kunci dalam meningkatkan outcome kesehatan remaja dengan DMT2.
Hubungan Shift Konvensional dengan Beban Kerja, Kinerja Perawat dan Kepuasan Pasien di Rumah Sakit RSUD Drs Haji Amri Tambunan Dewi Sartika Br Tarigan; Dwight Mahaputera Marulitua Hutapea; Refi Ikhtiari
Health Research Journal of Indonesia Vol 4 No 5 (2026): Health Research Journal of Indonesia
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/hrji.v4i5.1150

Abstract

Pendahuluan: Sistem kerja shift pada perawat berpotensi memengaruhi beban kerja, kinerja, dan kepuasan pasien. Hubungan antarvariabel tersebut masih menunjukkan hasil yang bervariasi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan shift kerja dengan beban kerja perawat, hubungan kinerja perawat dengan tingkat kepuasan pasien, serta hubungan shift kerja dengan tingkat kepuasan pasien di ruang rawat inap rumah sakit. Metode: hubungan shift kerja dengan tingkat kepuasan pasien di ruang rawat inap rumah sakit. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan responden perawat dan pasien rawat inap. Hasil: Analisis data dilakukan secara deskriptif dan inferensial menggunakan uji Chi-Square dan uji korelasi. Distribusi shift kerja perawat relatif merata, dengan mayoritas bekerja pada shift pagi sebanyak 23 responden (36,5%). Beban kerja perawat sebagian besar berada pada kategori sedang sebanyak 38 responden (60%). Kinerja perawat mayoritas berada pada kategori baik sebanyak 45 responden (71,5%). Tingkat kepuasan pasien menunjukkan bahwa sebagian besar responden merasa puas terhadap pelayanan keperawatan di ruang rawat inap sebanyak 29 responden (46%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara shift kerja dan beban kerja perawat (p = 0,034). Selain itu, terdapat hubungan yang signifikan antara kinerja perawat dan tingkat kepuasan pasien (p = 0,004; r = 0,194). Namun, hasil analisis menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara shift kerja konvensional dan tingkat kepuasan pasien (p = 0,006). Simpulan: Shift kerja berhubungan signifikan dengan beban kerja perawat, dan kinerja perawat berhubungan signifikan dengan tingkat kepuasan pasien. Namun, shift kerja tidak berhubungan langsung dengan kepuasan pasien, yang mengindikasikan bahwa kepuasan pasien lebih dipengaruhi oleh kualitas kinerja dan pelayanan keperawatan dibandingkan pembagian shift kerja itu sendiri.
Analisa Penerapan Familiar Auditory Sensory Training terhadap Tingkat Kesadaran pada Pasien Stroke Hemoragik di Ruang ICU RSUD Kota Sabang Abdul Hacki; Chandra Siswanto Gaho; Deka Novia; Ferryan Aqmal; Dwight Mahaputera Marulitua Hutapea
Health Research Journal of Indonesia Vol 4 No 5 (2026): Health Research Journal of Indonesia
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/hrji.v4i5.1154

Abstract

Pendahuluan: Stroke hemoragik merupakan kondisi akibat pecahnya pembuluh darah di otak yang dapat menyebabkan peningkatan tekanan intrakranial dan penurunan tingkat kesadaran. Pasien stroke dengan penurunan kesadaran memerlukan intervensi nonfarmakologis tambahan, salah satunya yaitu Familiar Auditory Sensory Training (FAST). Terapi ini menggunakan stimulasi suara keluarga atau orang terdekat untuk membantu meningkatkan respons sensorik dan kesadaran pasien. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan Familiar Auditory Sensory Training (FAST) terhadap peningkatan tingkat kesadaran pada pasien stroke hemoragik di ruang ICU RSUD Kota Sabang. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan studi kasus pada pasien stroke hemoragik di ruang ICU RSUD Kota Sabang tahun 2025. Subjek penelitian dipilih menggunakan teknik purposive sampling sesuai kriteria inklusi. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, pemeriksaan fisik, dan pengukuran tingkat kesadaran menggunakan Glasgow Coma Scale (GCS). Intervensi FAST diberikan selama 10 menit sekali sehari selama 3 hari berturut-turut. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan tingkat kesadaran pasien setelah penerapan FAST. Pada hari pertama nilai GCS pasien tetap pada skor 6 (E2VtM4). Hari kedua terjadi peningkatan menjadi GCS 7 (E3VtM5), dan hari ketiga meningkat menjadi GCS 9 (E4VtM5). Selain peningkatan kesadaran, pasien juga menunjukkan respons yang lebih baik terhadap stimulasi verbal dan perubahan hemodinamik yang lebih stabil. Simpulan: Penerapan Familiar Auditory Sensory Training (FAST) dapat membantu meningkatkan tingkat kesadaran pada pasien stroke hemoragik di ruang ICU. Terapi ini dapat dijadikan sebagai intervensi keperawatan nonfarmakologis dalam pemantauan neurologis pasien dengan penurunan kesadaran.