Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

MENGATASI REDUKSI DAKWAH DIGITAL SEBAGAI CONTENT PRODUCTION: PENDEKATAN TRANSFORMATIF BERBASIS INTEGRASI NILAI SPIRITUAL, BUDAYA ALGORITMIK, DAN TRANSFORMASI SOSIAL Padma Fadhila; Syafah Audina; Moh. Firman Ali Al Karim; Ali Hasan Siswanto
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 2 No. 11 (2025): November 2025
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fenomena dakwah digital di era disrupsi teknologi menunjukkan kecenderungan reduksi menjadi sekadar content production yang berorientasi pada popularitas dan monetisasi, sehingga dimensi transformasi sosial-keagamaan kerap terabaikan. Artikel ini bertujuan untuk menjawab empat pertanyaan pokok: (1) mengapa dakwah digital terjebak dalam reduksi konten dan apa implikasinya terhadap transformasi sosial; (2) bagaimana tantangan epistemologis dan kultural dari ekosistem algoritmik seperti misinformasi, bias, dan radikalisasi memengaruhi praktik dakwah kontemporer; (3) metode dan pendekatan apa yang relevan untuk merumuskan strategi dakwah transformatif; serta (4) bagaimana integrasi nilai spiritual Islam, kesadaran budaya algoritmik, dan orientasi transformasi sosial dapat melahirkan model dakwah digital transformatif yang aplikatif dan berkeadilan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan critical discourse analysis dan digital ethnography. Data diperoleh melalui analisis konten dakwah digital di platform YouTube, TikTok, dan Instagram, serta wawancara mendalam dengan praktisi dakwah digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa logika algoritmik mendorong dakwah digital pada format singkat, emosional, dan sensasional, sehingga fungsi dakwah sebagai instrumen perubahan sosial melemah. Ekosistem algoritmik juga terbukti memperkuat polarisasi dan membuka ruang bagi narasi intoleran. Sebagai jawaban, penelitian ini menawarkan model konseptual Spirituality-Algorithmic Awareness-Social Change (SAS Model) yang menekankan integrasi nilai spiritual Islam, literasi algoritmik kritis, dan orientasi keadilan sosial. Kesimpulannya, dakwah digital harus bergerak melampaui reduksi konten menuju strategi transformatif yang adaptif terhadap budaya algoritmik dan berorientasi pada pembentukan ruang publik yang sehat, toleran, dan berkeadaban. Temuan ini berkontribusi pada pengembangan studi dakwah digital, komunikasi keagamaan, dan teori transformasi sosial di era digital
Reformulasi Metode Analisis Dakwah Digital: Integrasi SWOT–Iceberg sebagai Solusi atas Stagnasi Pendekatan Ilmiah dalam Studi Dakwah Kontemporer Khaiza Lois Himmatul Ulya; Fira Maghfiroh; Amelia Rosanti; Ali Hasan Siswanto
Jurnal Budi Pekerti Agama Islam Vol. 3 No. 6 (2025): Desember: Jurnal Budi Pekerti Agama Islam
Publisher : Asosiasi Riset Ilmu Pendidikan Agama dan Filsafat Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61132/jbpai.v3i6.1670

Abstract

The development of digital da'wah demands a more in-depth, comprehensive, and data-driven methodological approach. However, contemporary da'wah research is still dominated by descriptive analysis that stops at mapping surface phenomena without exploring the underlying causal factors that determine the long-term effectiveness of da'wah. This weakness is increasingly apparent in the use of SWOT analysis, which has been widely applied in da'wah studies, but tends to be limited to producing categorization tables without an operational epistemic basis. Meanwhile, the era of digital da'wah presents a new, complex reality, where da'wah success is influenced not only by surface interactions such as the number of viewers, impressions, or follower growth, but also by latent factors such as audience cognitive motivation, platform algorithms, digital cultural context, identity construction, and societal value systems. This study aims to formulate a new methodological model through the integration of SWOT and the Iceberg approach to address this methodological stagnation. The research was conducted using qualitative methods based on literature analysis, comparative studies of strategic analysis models, and the construction of a conceptual model. The results show that the SWOT-Iceberg integration is able to produce a more multidimensional framework for digital da'wah analysis: SWOT diagnoses surface symptoms, while Iceberg explores patterns, causal structures, and mental models that shape phenomena. This combined model enables the development of more accurate, adaptive, and evidence-based da'wah strategies. It is concluded that the SWOT–Iceberg integration significantly contributes to the development of modern da'wah methodology by encouraging a shift from descriptive research to transformative diagnostic analysis, while simultaneously strengthening the scientific character of da'wah as an academic discipline based on a critical and measurable knowledge system.
Nilai Transendental sebagai Spirit Transformasi Sosial: Rekonstruksi Konseling Tauhid Integratif-Holistik di Tengah Krisis Spiritual Modernitas Malika Balqis; Siti Nur Kholifatus Qomariyah; Rizwan Yulianto; Aufal Marom; Ali Hasan Siswanto
ARIMA : Jurnal Sosial Dan Humaniora Vol. 3 No. 4 (2026): Mei
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/arima.v3i4.7606

Abstract

Modernitas yang ditandai oleh dominasi rasionalisme, positivisme, dan sekularisasi telah melahirkan krisis spiritual, psikologis, dan sosial dalam kehidupan manusia kontemporer. Fenomena meningkatnya kecemasan eksistensial, kehampaan makna hidup, disintegrasi sosial, serta melemahnya kesadaran moral menunjukkan adanya keterputusan manusia modern dari nilai-nilai transendental. Dalam konteks akademik, kajian mengenai nilai transendental masih cenderung bersifat normatif-teologis dan belum banyak dikembangkan sebagai paradigma integratif yang menghubungkan dimensi spiritual, psikologis, dan sosial secara holistik. Selain itu, penelitian terdahulu umumnya memisahkan pendekatan konseling spiritual dari transformasi sosial, sehingga belum menghasilkan model konseptual yang mampu menjawab krisis multidimensional masyarakat modern. Penelitian ini bertujuan merekonstruksi nilai transendental sebagai spirit transformasi sosial melalui Pendekatan Konseling Tauhid Integratif-Holistik. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan filosofis-teologis dan analisis kritis-konstruktif terhadap literatur Studi Islam, tasawuf, psikologi spiritual, dan teori transformasi sosial. Secara teoritis, penelitian ini memadukan paradigma tauhid, teori transendensi, serta pendekatan integratif-holistik untuk membangun kerangka konseling yang tidak hanya berorientasi pada penyembuhan psikologis, tetapi juga transformasi kesadaran spiritual dan sosial. Argumen utama penelitian ini adalah bahwa nilai transendental berbasis tauhid memiliki fungsi terapeutik sekaligus transformatif dalam membangun kesadaran manusia yang utuh. Konseling Tauhid Integratif-Holistik dipandang mampu menjadi paradigma alternatif dalam mengatasi krisis spiritual modernitas melalui integrasi dimensi spiritual, psikologis, dan sosial. Kontribusi ilmiah penelitian ini terletak pada pengembangan model konseptual baru mengenai integrasi nilai transendental dan konseling tauhid sebagai basis rekonstruksi epistemologi psikologi spiritual dan transformasi sosial kontemporer.
TASAWUF PEMBEBASAN DAN DEKOLONISASI PENGETAHUAN : MEMBUMIKAN MASYARAKAT TANPA PENINDASAN iftitah syifa azzahro; Heni Hidayanti; Mutiara Azizah; Ali Hasan Siswanto
Sipakainge: Inovasi Penelitian, Karya Ilmiah, dan Pengembangan (Islamic Science) Vol. 4 No. 1 (2026): Multidisiplin (Januari)
Publisher : IAIN Parepare

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35905/sipakainge.v4i1.17121

Abstract

This article departs from the academic concern that contemporary Islamic studies tend to fragment theology, philosophy, and Sufism into separate disciplines, leading to an epistemological crisis in which religion loses its critical and transformative power. The Islamic intellectual tradition has never positioned these three disciplines as strictly separate; rather, they form a coherent epistemological unity rooted in the integration of bayani, burhani, and ‘irfani epistemologies. The research gap arises because existing studies have generally examined Sufism, theology, or Islamic philosophy in isolation, without building a comprehensive synthesis that explains their relationship as an integrated knowledge paradigm. This article employs a theoretical synthesis approach, integrating the thought of Abu Hamid al-Ghazali, Ibn ‘Arabi, Mulla Sadra, Seyyed Hossein Nasr, William C. Chittick, and Abdolkarim Soroush. The research was conducted through library studies using hermeneutic-critical analysis, comparative analysis, and critical discourse analysis of classical Islamic texts and contemporary academic literature. This article argues that the separation of theology, philosophy, and Sufism constitutes a modern construction influenced by positivistic and secular paradigms, and that their reintegration is an epistemological necessity for responding to the crisis of modernity. The scientific contribution of this article lies in the formulation of an “integrative-transformative epistemology” model that connects revelation, reason, and intuition as complementary sources of knowledge, while expanding Sufism from individual spiritual ethics into a social-transformative epistemological paradigm relevant for Islamic digital ethics, ecological ethics, and the decolonization of knowledge