Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

MENGATASI REDUKSI DAKWAH DIGITAL SEBAGAI CONTENT PRODUCTION: PENDEKATAN TRANSFORMATIF BERBASIS INTEGRASI NILAI SPIRITUAL, BUDAYA ALGORITMIK, DAN TRANSFORMASI SOSIAL Padma Fadhila; Syafah Audina; Moh. Firman Ali Al Karim; Ali Hasan Siswanto
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 2 No. 11 (2025): November 2025
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fenomena dakwah digital di era disrupsi teknologi menunjukkan kecenderungan reduksi menjadi sekadar content production yang berorientasi pada popularitas dan monetisasi, sehingga dimensi transformasi sosial-keagamaan kerap terabaikan. Artikel ini bertujuan untuk menjawab empat pertanyaan pokok: (1) mengapa dakwah digital terjebak dalam reduksi konten dan apa implikasinya terhadap transformasi sosial; (2) bagaimana tantangan epistemologis dan kultural dari ekosistem algoritmik seperti misinformasi, bias, dan radikalisasi memengaruhi praktik dakwah kontemporer; (3) metode dan pendekatan apa yang relevan untuk merumuskan strategi dakwah transformatif; serta (4) bagaimana integrasi nilai spiritual Islam, kesadaran budaya algoritmik, dan orientasi transformasi sosial dapat melahirkan model dakwah digital transformatif yang aplikatif dan berkeadilan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan critical discourse analysis dan digital ethnography. Data diperoleh melalui analisis konten dakwah digital di platform YouTube, TikTok, dan Instagram, serta wawancara mendalam dengan praktisi dakwah digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa logika algoritmik mendorong dakwah digital pada format singkat, emosional, dan sensasional, sehingga fungsi dakwah sebagai instrumen perubahan sosial melemah. Ekosistem algoritmik juga terbukti memperkuat polarisasi dan membuka ruang bagi narasi intoleran. Sebagai jawaban, penelitian ini menawarkan model konseptual Spirituality-Algorithmic Awareness-Social Change (SAS Model) yang menekankan integrasi nilai spiritual Islam, literasi algoritmik kritis, dan orientasi keadilan sosial. Kesimpulannya, dakwah digital harus bergerak melampaui reduksi konten menuju strategi transformatif yang adaptif terhadap budaya algoritmik dan berorientasi pada pembentukan ruang publik yang sehat, toleran, dan berkeadaban. Temuan ini berkontribusi pada pengembangan studi dakwah digital, komunikasi keagamaan, dan teori transformasi sosial di era digital
Reformulasi Metode Analisis Dakwah Digital: Integrasi SWOT–Iceberg sebagai Solusi atas Stagnasi Pendekatan Ilmiah dalam Studi Dakwah Kontemporer Khaiza Lois Himmatul Ulya; Fira Maghfiroh; Amelia Rosanti; Ali Hasan Siswanto
Jurnal Budi Pekerti Agama Islam Vol. 3 No. 6 (2025): Desember: Jurnal Budi Pekerti Agama Islam
Publisher : Asosiasi Riset Ilmu Pendidikan Agama dan Filsafat Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61132/jbpai.v3i6.1670

Abstract

The development of digital da'wah demands a more in-depth, comprehensive, and data-driven methodological approach. However, contemporary da'wah research is still dominated by descriptive analysis that stops at mapping surface phenomena without exploring the underlying causal factors that determine the long-term effectiveness of da'wah. This weakness is increasingly apparent in the use of SWOT analysis, which has been widely applied in da'wah studies, but tends to be limited to producing categorization tables without an operational epistemic basis. Meanwhile, the era of digital da'wah presents a new, complex reality, where da'wah success is influenced not only by surface interactions such as the number of viewers, impressions, or follower growth, but also by latent factors such as audience cognitive motivation, platform algorithms, digital cultural context, identity construction, and societal value systems. This study aims to formulate a new methodological model through the integration of SWOT and the Iceberg approach to address this methodological stagnation. The research was conducted using qualitative methods based on literature analysis, comparative studies of strategic analysis models, and the construction of a conceptual model. The results show that the SWOT-Iceberg integration is able to produce a more multidimensional framework for digital da'wah analysis: SWOT diagnoses surface symptoms, while Iceberg explores patterns, causal structures, and mental models that shape phenomena. This combined model enables the development of more accurate, adaptive, and evidence-based da'wah strategies. It is concluded that the SWOT–Iceberg integration significantly contributes to the development of modern da'wah methodology by encouraging a shift from descriptive research to transformative diagnostic analysis, while simultaneously strengthening the scientific character of da'wah as an academic discipline based on a critical and measurable knowledge system.
Menakar Kembali Legitimasi Teologis Gender: Reassessing the Theological Legitimacy of Gender Ali Hasan Siswanto
An-Nisa' Journal of Gender Studies  Vol. 3 No. 1 (2010): An-Nisa: Jurnal Kajian Perempuan Dan Keislaman
Publisher : Institute for Research and Community Service, Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember, East Java, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/annisa.v3i1.411

Abstract

Islam was born in the midst of a society of ignorance, a time when a mother who gave birth to a baby girl would be buried alive, or if left alive, she would be subjected to ridicule, insults, and abuse. Islam came to eradicate intimidation and discrimination against women. Islam came with the principle that Allah created humans to serve Him without distinguishing between genders. At this level, Islam sides with women, but some conventional scholars' thoughts on women are still identified as considering “behavior” and “attitude of women” to be translated into “women's nature” which cannot be changed from its origin, namely “serving” men. Based on this background, the author uses critical reasoning to re-examine the theological aspects that legitimize male superiority. As a result, it is necessary to reconstruct the understanding of texts that contain gender bias. Islam lahir di tengah masyarakat jahiliyah, suatu masa ketika seorang ibu melahirkan bayi wanita akan dikuburkan hiduphidup, atau jika dibiarkan hidup ia akan menanggung cercaan, hinaan dan celaan. Islam datang untuk memberangus intimidasi dan diskriminasi perempuan. Islam datang dengan prinsip bahwa Allah menciptakan manusia untuk mengabdi kepada-Nya dengan tidak membeda-bedakan jenis kelamin. Pada taraf ini Islam berpihak kepada wanita, namun beberapa pemikiran ulama konvensional tentang wanita teridentifikasi masih menganggap "tingkah laku" dan "sikap wanita" diterjemahkan menjadi “kodrat wanita" yang tidak dapat diubah dari asalnya yaitu "mengabdi" kepada laki-laki. Berangkat dari latar belakang ini, penulis menggugah dengan nalar kritis untuk kembali menelusuri sisi teologis yang menjadi legitimasi terhadap superioritas laki-laki. Alhasil, perlu rekonstruksi terhadap pemahaman teks yang mengandung bias gender.
Kredibilitas Dakwah dalam Ruang Publik Digital Berbasis Algoritma Studi  Penguatan Literasi Digital bagi Da’i dan Masyarakat Bridav Hayati; M.Alawy Farhan Yahya; Reva Intan Zakiah; Ali Hasan Siswanto
Ashfiya Journal of Qualitative Insight in Islamic Studies Vol. 1 No. 2 (2025)
Publisher : Yayasan Dinamika Ilmu Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65729/ashfiya.v1i2.359

Abstract

The rapid expansion of algorithm-driven digital platforms has reshaped the epistemic landscape of Islamic da'wah. In this environment, the credibility of religious messages is no longer determined solely by scholarly authority, but increasingly by the logic of algorithmic visibility, audience engagement patterns, and the performative attributes of digital preachers. This study examines how da'wah credibility is constructed, negotiated, and contested within the algorithmic public sphere, and how digital literacy functions as a critical mediating factor for both preachers and audiences. Using a qualitative phenomenological approach, data were collected through in-depth interviews, digital observations, and documentation involving ten digital preachers, fifteen active social-media users, and two digital-literacy experts. The results indicate that algorithmic amplification favors emotional, sensational, and engagement-oriented religious content, often marginalizing substantive and scholarly-based da'wah. The study also reveals significant gaps in digital literacy among both preachers and audiences, contributing to the spread of religious misinformation and the emergence of popularity-based religious authority. This research contributes a novel integrative model that links credibility, algorithmic dynamics, and digital literacy within the digital da'wah ecosystem. The findings underscore the urgency of strengthening digital-literacy programs to maintain epistemic integrity, enhance critical consumption of religious content, and support responsible Islamic communication in an increasingly algorithm-governed public sphere. 
Keadilan Tanpa Integrasi: Kritik atas Fragmentasi Epistemologis dan Kegagalan Transformasi Sosial dalam Perspektif Teologis–Humanistik Laily Sa'adah; Rafi Maulana Taufikul Hikam; Jinani Firdausiyah; Ali Hasan Siswanto
El-Mubarak: Islamic Studies Journal Vol. 3 No. 1 (2026): El-Mubarak - Islamic Studies Journal
Publisher : CV. Cendekiawan Muda Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70656/emisja.v3i1.677

Abstract

Justice is a fundamental concept in theological, philosophical, and social traditions, yet contemporary reality demonstrates a significant gap between normative ideals and empirical practice. The background to this research problem stems from the phenomenon of structural injustice that persists amidst the advancement of modernity, which actually demonstrates the failure of value-based social transformation. This research gap lies in the epistemological fragmentation between the approaches of Islamic theology, the philosophy of justice, Sufism, and humanistic-existential psychology, which have developed fragmentarily without an integrative synthesis. This research employs an interdisciplinary theoretical approach that integrates the concept of al-'adl in Islam, philosophical justice thinking, the spiritual dimension of Sufism, and the perspective of humanistic-existential psychology. The method employed is qualitative-conceptual, with critical analysis and synthesis of classical and contemporary literature. The article's main argument asserts that the failure to realize justice is not solely a structural issue but also caused by an epistemological crisis and the loss of the spiritual dimension and human subjectivity. As a scientific contribution, this study proposes the Integrative Justice Framework (IJF) as a new conceptual model that connects theological, philosophical, spiritual, and psychological dimensions within a single holistic framework. This model is expected to bridge the gap between values ​​and practice and serve as a foundation for more just and sustainable social transformation.
Melampaui Legalisme Keadilan: Rekonstruksi Paradigma Tauhid Integratif-Holistik Sebagai Basis Transformasi Sosial Lutfi Nabila Anas Tasya; Bilqis Malikatul Lutfiya; Feri Fadhly; Ali Hasan Siswanto
Menulis: Jurnal Penelitian Nusantara Vol. 2 No. 5 (2026): Menulis - Mei
Publisher : PT. Padang Tekno Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/menulis.v2i5.1137

Abstract

Krisis Diskursus keadilan dalam masyarakat kontemporer menghadapi paradoks serius: intensifikasi wacana normatif tidak berbanding lurus dengan realisasi praksis yang adil. Keadilan kerap direduksi menjadi kerangka legal-formal dan prosedural, sehingga kehilangan dimensi etis-spiritual yang dalam tradisi Islam berakar pada prinsip tauhid dan nilai al-‘adl. Kesenjangan penelitian (research gap) terletak pada dominasi pendekatan positivistik dan struktural dalam studi keadilan yang cenderung mengabaikan integrasi dimensi spiritual, psikologis, dan sosial sebagai satu kesatuan transformasional. Artikel ini bertujuan merekonstruksi paradigma keadilan melalui pendekatan teoritis tauhid integratif-holistik, yang menggabungkan perspektif teologi Islam, filsafat sosial, dan tasawuf. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-konseptual dengan pendekatan filosofis-teologis dan analisis kritis terhadap literatur klasik (turats) serta kajian kontemporer. Argumen utama artikel ini menegaskan bahwa kegagalan mewujudkan keadilan substantif bersumber dari absennya transformasi kesadaran individu yang terhubung dengan dimensi Ilahiah. Oleh karena itu, keadilan harus dipahami sebagai proses integratif antara inner transformation (tazkiyat al-nafs) dan outer transformation (rekonstruksi struktur sosial). Kontribusi ilmiah penelitian ini terletak pada pengembangan model baru keadilan berbasis Konseling Tauhid Integratif-Holistik yang menempatkan manusia sebagai subjek spiritual sekaligus agen perubahan sosial. Model ini tidak hanya memperluas horizon teoretis dalam studi Islam dan filsafat keadilan, tetapi juga menawarkan kerangka praksis bagi transformasi masyarakat yang berkeadilan, berkelanjutan, dan berorientasi pada nilai transendental.
Dari Krisis Makna ke Transformasi Sosial: Rekonstruksi Teologi sebagai Sistem Meaning-Making dalam Perspektif Logoterapi Nabila Nailul Faroh; Fabian Faqih Maulana; Susi Rike; Ali Hasan Siswanto
Indonesian Journal of Multidisciplinary Scientific Studies Vol 4 No 3 (2026): Edisi Mei 2026
Publisher : Lembaga Penelitian Dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) STAI Raudhatul Akmal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33151/ijomss.v4i3.906

Abstract

Artikel ini berangkat dari krisis fundamental dalam diskursus teologi kontemporer yang kehilangan daya transformasionalnya dalam merespons perubahan sosial dan krisis eksistensial manusia modern. Teologi cenderung direduksi menjadi sistem normatif-dogmatis yang terlepas dari pengalaman hidup, sehingga gagal menjawab problem utama manusia, yaitu krisis makna (existential vacuum). Kesenjangan penelitian terletak pada minimnya integrasi antara teologi dan pendekatan psikologi eksistensial, khususnya dalam memahami teologi sebagai sumber meaning-making yang berimplikasi pada transformasi sosial. Artikel ini menggunakan pendekatan teoritis psikologi humanistik–eksistensial melalui logoterapi Viktor Frankl, yang menekankan kehendak untuk makna (will to meaning) sebagai motivasi dasar manusia. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif-kritis dengan pendekatan interdisipliner, melalui analisis hermeneutik dan konseptual terhadap literatur teologi dan psikologi eksistensial. Argumen utama artikel ini adalah bahwa krisis teologi pada hakikatnya merupakan krisis makna, sehingga rekonstruksi teologi sebagai sistem meaning-making menjadi prasyarat bagi terciptanya transformasi sosial yang autentik. Teologi perlu direposisi dari sekadar sistem kepercayaan menjadi sumber orientasi eksistensial yang mampu membentuk kesadaran, tindakan, dan struktur sosial. Kontribusi ilmiah artikel ini terletak pada sintesis konseptual antara teologi dan logoterapi, pengembangan paradigma teologi berbasis makna, serta perumusan model masyarakat teologis yang berakar pada kesadaran eksistensial. Dengan demikian, teologi tidak hanya berfungsi sebagai wacana normatif, tetapi sebagai kekuatan transformatif dalam kehidupan sosial.
Nilai Transendental sebagai Spirit Transformasi Sosial: Rekonstruksi Konseling Tauhid Integratif-Holistik di Tengah Krisis Spiritual Modernitas Malika Balqis; Siti Nur Kholifatus Qomariyah; Rizwan Yulianto; Aufal Marom; Ali Hasan Siswanto
ARIMA : Jurnal Sosial Dan Humaniora Vol. 3 No. 4 (2026): Mei
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/arima.v3i4.7606

Abstract

Modernitas yang ditandai oleh dominasi rasionalisme, positivisme, dan sekularisasi telah melahirkan krisis spiritual, psikologis, dan sosial dalam kehidupan manusia kontemporer. Fenomena meningkatnya kecemasan eksistensial, kehampaan makna hidup, disintegrasi sosial, serta melemahnya kesadaran moral menunjukkan adanya keterputusan manusia modern dari nilai-nilai transendental. Dalam konteks akademik, kajian mengenai nilai transendental masih cenderung bersifat normatif-teologis dan belum banyak dikembangkan sebagai paradigma integratif yang menghubungkan dimensi spiritual, psikologis, dan sosial secara holistik. Selain itu, penelitian terdahulu umumnya memisahkan pendekatan konseling spiritual dari transformasi sosial, sehingga belum menghasilkan model konseptual yang mampu menjawab krisis multidimensional masyarakat modern. Penelitian ini bertujuan merekonstruksi nilai transendental sebagai spirit transformasi sosial melalui Pendekatan Konseling Tauhid Integratif-Holistik. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan filosofis-teologis dan analisis kritis-konstruktif terhadap literatur Studi Islam, tasawuf, psikologi spiritual, dan teori transformasi sosial. Secara teoritis, penelitian ini memadukan paradigma tauhid, teori transendensi, serta pendekatan integratif-holistik untuk membangun kerangka konseling yang tidak hanya berorientasi pada penyembuhan psikologis, tetapi juga transformasi kesadaran spiritual dan sosial. Argumen utama penelitian ini adalah bahwa nilai transendental berbasis tauhid memiliki fungsi terapeutik sekaligus transformatif dalam membangun kesadaran manusia yang utuh. Konseling Tauhid Integratif-Holistik dipandang mampu menjadi paradigma alternatif dalam mengatasi krisis spiritual modernitas melalui integrasi dimensi spiritual, psikologis, dan sosial. Kontribusi ilmiah penelitian ini terletak pada pengembangan model konseptual baru mengenai integrasi nilai transendental dan konseling tauhid sebagai basis rekonstruksi epistemologi psikologi spiritual dan transformasi sosial kontemporer.