Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

KEMAMPUAN SEKOLAH MELAKSANAKAN ASESMEN KOMPETENSI MINIMUM (AKM) TENTANG PENGETAHUAN LITERASI DAN NUMERASI PADA PESERTA DIDIK SMP NEGERI 1 MOLU MARU Wuarlela, Bruce Edison; Abas, Aisa; Sialana, Fatima
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran Vol. 7 No. 4 (2024): Vol. 7 No. 4 Tahun 2024
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v7i4.33492

Abstract

Pendidikan memberikan ruang bagi setiap orang untuk dapat berpartisipasi dalam mengembangkan diri menjadi lebih baik, dalam hal ini tidak memberi batasan bagi setiap orang sehingga terciptanya generasi muda yang cerdas. Tujuan penelitian ini dilakukan untuk memperoleh informasi mengenai Kemampuan Sekolah Melaksanakan Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) Tentang Literasi dan Numerasi Pada Peserta Didik SMP Negeri 1 Molu Maru. Penelitian ini menggunakan pendekatan Deskriptif Kualitatif yakni penelitian dengan menggambarkan kondisi yang ada di lapangan sehingga dapat mempermuda peneliti untuk mendapatkan informasi dengan data yang lebih jelas, akurat dan terpercaya. Dengan demikan dapat disimpulkan bahwa, pelaksanaan tes kemampuan tidak dapat dilaksanakan pada SMP Negeri 1 Molu-Maru karena keterbatasan sarana prasarana. Sehingga tes kemampuan (AKM) dilaksanakan pada sekolah yang layak untuk berlangsungnya proses Tes Asesmen. Berkaitan dengan prosesnya dewan guru SMP Negeri 1 Molu-Maru tidak bisa membantu siswa-siswi karena ada tim yang di sediakan oleh Asesmen. untuk mengkontrol pelaksanaan AKM tersebut, guru hanya membantu saat siswa awal login di akun untuk tes AKM
Analisis Kebijakan Pemerintah di Sektor Transmigrasi dan Dampaknya terhadap Tanah Adat Desa Batlale Kabupaten Buru Tasijawa, Ita; Sialana, Fatimah; Salamor, Lisye
CIVICA: Jurnal Sains dan Humaniora Vol 13 No 1 (2024): Civica: Jurnal Sains dan Humaniora
Publisher : Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/civica.13.1.30-39

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebijakan pemerintah di sektor transmigrasi dan dampaknya terhadap tanah ulayat masyarakat Desa Batlale, Kecamatan Airbuaya, Kabupaten Buru. Akar permasalahan konflik lahan di Batlale bermula pada tahun 2005 ketika masyarakat transmigran asal Jawa dimukimkan kembali di Dusun Karamat, lokasi yang disediakan oleh Pemerintah Kabupaten Buru. Pada tahun 2016, pemerintah daerah kembali mengambil alih lahan seluas 260 hektar untuk pemukiman transmigrasi kedua. Namun, perolehan lahan ini tidak sesuai dengan batas yang telah ditentukan dan merambah wilayah adat. Konflik tersebut tidak hanya melibatkan kelompok individu tetapi juga masyarakat hukum adat terkait hak ulayat (tanah ulayat) mereka. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-analitis dengan data yang dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi yang melibatkan tokoh adat, warga masyarakat, perangkat desa, tokoh agama, dan perwakilan pemerintah daerah. Temuan penelitian menunjukkan bahwa sengketa lahan tersebut berawal dari pemberian tanah oleh suatu marga (soa fua) kepada Pemerintah Kabupaten Buru untuk keperluan transmigrasi. Namun, lahan yang ditunjuk tumpang tindih dengan pekarangan rumah tangga, kebun masyarakat, dan bahkan rumah seorang warga yang dirobohkan untuk mengakomodasi permukiman transmigran. Masyarakat Desa Batlale berharap proses penyelesaian akan memulihkan hak-hak mereka, terutama karena sebagian besar warga kini telah memiliki sertifikat tanah resmi.
Implementasi Pendidikan Kewarganegaraan dalam Memperkuat Identitas Budaya Lokal Hawear di Kepulauan Kei Rumaf, Syawala; Sialana, Fatimah
CIVICA: Jurnal Sains dan Humaniora Vol 13 No 2 (2025): Civica: Jurnal Sains dan Humaniora
Publisher : Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/civica.13.2.49-57

Abstract

Pendidikan memiliki peranan penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan memperkuat jati diri suatu negara. Salah satu mata kuliah yang menjadi instrumen penting dalam membentuk karakter bangsa adalah Pendidikan Kewarganegaraan (PKn). Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara Pendidikan Kewarganegaraan dan budaya lokal Hawear di Kepulauan Kei, Maluku Tenggara, serta bagaimana nilai-nilai budaya tersebut dapat diintegrasikan dalam proses pembelajaran PKn. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode naturalistik, melibatkan 10 responden, terdiri atas kepala ohoi, tokoh adat, kepala sekolah, guru, dan pejabat Dinas Pendidikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya lokal Hawear memiliki nilai-nilai yang relevan dengan Pendidikan Kewarganegaraan, antara lain gotong royong, saling menghormati, kejujuran, integritas, dan cinta tanah air. Budaya Hawear tidak hanya berperan dalam menjaga dan melestarikan sumber daya alam melalui mekanisme sasi dan ritual adat, tetapi juga membentuk identitas dan karakter masyarakat Kepulauan Kei. Implementasi nilai-nilai Hawear dalam PKn dapat dilakukan melalui pendekatan pembelajaran kontekstual, berbasis proyek, diskusi, dan kolaborasi dengan masyarakat, sehingga peserta didik dapat memahami dan mengamalkan nilai-nilai budaya serta tanggung jawab sosial. Penelitian ini menegaskan pentingnya integrasi kearifan lokal dalam Pendidikan Kewarganegaraan untuk membentuk generasi yang peduli terhadap lingkungan, memiliki rasa cinta tanah air, serta mampu menjaga dan melestarikan budaya bangsa.
“SIO” sebagai Makna Empati dan Simpati dalam Kehidupan Masyarakat Kota Ambon Telussa, Ariska Natalia; Sialana, Fatimah
CIVICA: Jurnal Sains dan Humaniora Vol 12 No 1 (2023): Civica: Jurnal Sains dan Humaniora
Publisher : Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/civica.12.1.32-41

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengkaji makna budaya lokal istilah “sio” dalam masyarakat Kota Ambon serta relevansinya dengan sila kedua Pancasila, “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”. Pancasila sebagai ideologi bangsa menekankan penghormatan terhadap martabat manusia, kesetaraan hak, dan solidaritas sosial. Dalam konteks Maluku, khususnya Ambon, istilah “sio” telah menjadi bagian penting dalam komunikasi sehari-hari sebagai ekspresi empati dan simpati. Secara linguistik, “sio” dipahami sebagai partikel khas Bahasa Melayu Ambon yang menegaskan makna emosional, sedangkan secara budaya ia mencerminkan nilai persaudaraan, kepedulian, dan kebersamaan. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik purposive sampling. Data diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap 12 masyarakat dari Negeri Soya, Negeri Batu Merah, Negeri Latuhalat, dan Negeri Urimessing, ditambah tokoh masyarakat sebagai informan. Analisis data dilakukan melalui reduksi, penyajian, dan penarikan simpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa istilah “sio” memiliki dua makna utama, yaitu empati dan simpati. Empati diwujudkan dalam tindakan nyata seperti membantu secara moral dan material, sedangkan simpati tampak dalam ungkapan belas kasih terhadap suka maupun duka orang lain. Nilai “sio” sejalan dengan sila kedua Pancasila, karena menekankan penghormatan martabat manusia, kasih sayang, serta sikap tenggang rasa. Dengan demikian, “sio” bukan sekadar ekspresi bahasa, tetapi wujud kultural yang memperkuat solidaritas sosial dan toleransi antarwarga.
Peran Guru Pendidikan Kewarganegaraan dalam Meningkatkan Tanggung Jawab Siswa dalam Mentaati Tata Tertib Sekolah di SMA Negeri 3 Seram Barat Lekalaette, Novendy; Sialana, Fatimah
CIVICA: Jurnal Sains dan Humaniora Vol 12 No 2 (2024): Civica: Jurnal Sains dan Humaniora
Publisher : Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/civica.12.2.69-77

Abstract

Penelitian ini menyoroti pentingnya guru PKn dalam meningkatkan tanggung jawab siswa dalam mematuhi peraturan sekolah di SMA Negeri 3 Seram Barat. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tantangan dan inisiatif yang dilakukan oleh guru PKn untuk meningkatkan tanggung jawab siswa dalam mematuhi peraturan sekolah di SMA Negeri 3 Seram Barat. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dan strategi purposive sampling, di mana sumber data dipilih berdasarkan kriteria tertentu. Partisipan meliputi siswa, guru, dan kepala sekolah sebagai sumber informasi, dengan teknik pengumpulan data meliputi wawancara, observasi, dan dokumentasi. Temuan studi yang dilakukan di SMA Negeri 3, Seram Barat menunjukkan bahwa: 1) Tantangan yang dihadapi oleh guru PKn dalam menumbuhkan rasa tanggung jawab siswa terhadap kepatuhan terhadap peraturan sekolah meliputi kesulitan yang dialami di dalam kelas, di luar kelas, saat absen, dan saat istirahat sekolah. Siswa juga tidak mematuhi peraturan yang ditetapkan guru selama pembelajaran, kurang mendapat dukungan dari orang tua, dan menunjukkan kurangnya disiplin selama masa pembelajaran. 2) Inisiatif guru PKn meliputi penyediaan buku peraturan, penyelenggaraan kegiatan sosialisasi, pemberian hukuman, dan pemberian dukungan kepada siswa yang melanggar kebijakan sekolah.
Peran Pemerintah Daerah Seram Bagian Barat dalam Mengoptimalkan Pasar Kairatu Kwalomine, Alekxander Nofal; Sialana, Fatimah
CIVICA: Jurnal Sains dan Humaniora Vol 14 No 1 (2025): Civica: Jurnal Sains dan Humaniora
Publisher : Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/civica.14.1.35-43

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peran pemerintah daerah dalam mengoptimalkan Pasar Kairatu dan menilai dampak pasar jika tidak dioptimalkan. Perekonomian masyarakat Kairatu sangat bergantung pada pasar, terutama bagi masyarakat kelas menengah ke bawah, yang memanfaatkannya untuk kegiatan jual beli guna memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari. Penelitian kualitatif deskriptif ini dilakukan di Seram Bagian Barat dengan menggunakan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi, dengan melibatkan perangkat desa (kepala desa) dan 10 pedagang di Pasar Kairatu sebagai subjek penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran pemerintah daerah Seram Bagian Barat dalam mengoptimalkan Pasar Kairatu sangat krusial bagi para pedagang di wilayah tersebut. Para pedagang di Pasar Kairatu telah beroperasi selama 9 bulan dan memilih lokasi ini karena mereka merasa nyaman berjualan di sana, meskipun saat ini jumlah pengunjungnya masih rendah. Pemerintah desa telah menjalin komunikasi dengan masyarakat Kairatu melalui pertemuan langsung di balai desa untuk mendorong transaksi jual beli di Pasar Kairatu. Namun, warga cenderung berbelanja di pasar lain, sehingga aktivitas pasar menjadi kurang optimal. Pasar Kairatu memiliki potensi untuk ditingkatkan guna meningkatkan peluang tawar-menawar dan fungsionalitas secara keseluruhan.
Persepsi masyarakat Wahaeolon terhadap Peran dan Kedudukan Perempuan Modern di Kecamatan Leksula Kabupaten Buru Selatan Batuwael, Galensa. E.; Sialana, Fatimah; Tuharea, Jumiati
Journal of Education Technology Information Social Sciences and Health Vol 1, No 1 (2022): March 2022
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jetish.v1i1.66

Abstract

AbstrakKehidupan perempuan di Indonesia hingga saat ini masih melekat pada suatu budaya patriarki dimana seorang perempuan masih melekat dan memposisikan dirinya sebagai subordinat dari laki-laki. Budaya patriarki sendiri sudah ada dan melekat dalam lingkungan masyarakat dari dahulu dan secara hukum adat dan agama menempatkan kedudukan perempuan di bawah laki-laki. Tentunya kondisi seperti ini sudah biasa ditemui di berbagai negara tak hanya di Indonesia. Akibat dari budaya patriarki tersebut, kedudukan perempuan hanya sebatas menjadi seorang istri dan ibu bahkan hal tersebut seringkali tidak dihargai.. Oleh karena itu, perlu adanya kajian ulang kebijakan negara, yang saat ini terlalu fokus pada peningkatan peran perempuan dalam pembangunan, agar lebih memperhatikan peran perempuan dalam keluarga sebagai pilar kemajuan masyarakat dan bangsa. Adapun rumusan masalah yaitu : Bagaimana kedudukan dan peran perempuan modern secara domestik pada masyarakat wahaolon kecamatan leksula kabupaten buru selatan. dan Bagaimana kedudukan dan peran perempuan secara publik pada masyarakan wahaeolon kecamatan leksula kabupaten buru selatan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif, dan teknik pengumpulan data, observasi, dan wawancara serta teknik analisis data. Hasil penelitian adalah Dalam ajaran Kristen perempuan dipandang sebagai makhluk yang memiliki pontensi yang sama seperti apa yang dimiliki laki-laki. Perempuan bukan hanya sebagai makhluk domestic–reproduktif perempuan bukan hanya bertugas mengurus rumah tangga, urusan rumah tangga sebenarnya antara laki-laki dan perempuan mempunyai tanggung jawab yang sama mengurus rumah tangga dalam kehidupan sehari-hari. Perempuan tidak hanya dianggap sebagai makhluk lemah lembut, penyayang, dan penurut melainkan perempuan itu dapat leluasa untuk berkreatifitas, dan mempunyai kepercayaan diri yang kuat melangkah maju, berani melangkah keluar dari aturan budaya yang mengikat sehingga menghasilkan perempuan yang cerdas, kuat, dan bertanggung jawabKata Kunci: Perempuan Modern, Kesetaraan Gender, dan Perempuan Perdesaan AbstractThe life of women in Indonesia is still attached to a patriarchal culture where a woman is still attached and positions herself as subordinate to men. The patriarchal culture itself has existed and is inherent in the community from the past and according to customary law and religion, women are placed below men. Of course, conditions like this are common in various countries, not only in Indonesia. As a result of this patriarchal culture, the position of women is only limited to being a wife and mother and even this is often not appreciated. Therefore, it is necessary to review state policies, which currently focus too much on increasing the role of women in development, so that they pay more attention to the role of women in development. women in the family as pillars of the progress of society and the nation. The formulation of the problem is: How is the position and role of modern women domestically in the Wahaolon community, Leksula sub-district, South Buru district. and How is the position and role of women in  publik in the Waheolon community, Leksula sub-district, South Buru Regency. The method used in this research is qualitative, and data collection techniques, observations, and interviews as well as data analysis techniques. The result of the research is that in Christianity, women are seen as creatures who have the same potential as men. Women are not only domestic - reproductive creatures, women are not only tasked with taking care of the household, household affairs are actually between men and women who have the same responsibility to take care of the household in everyday life. Women are not only considered as gentle, loving, and obedient creatures, but women can be free to be creative, and have strong self-confidence to move forward, dare to step outside the binding cultural rules so as to produce intelligent, strong, and responsible women.Keywords: Modern Women, Gender Equality, and Rural Women