Claim Missing Document
Check
Articles

Pengembangan Model Drainase Adaptif Iklim untuk Analisis Risiko Kegagalan Sistem Drainase Perkotaan akibat Variabilitas Curah Hujan Berbasis SWMM Ikroman Alhamzani; Lalu Ibrohim Burhan
DINAMIKA: Jurnal Teknik Sipil dan Lingkungan Vol. 2 No. 2 (2026): Desain, Teknologi, dan Inovasi Infrastruktur Tangguh Bencana
Publisher : PT LIB Research Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63982/dinamika.b1dnwf48

Abstract

Perubahan iklim telah meningkatkan intensitas dan variabilitas curah hujan yang berdampak langsung terhadap kinerja sistem drainase perkotaan, sementara sebagian besar desain drainase masih berbasis asumsi hidrologi stasioner yang tidak lagi representatif. Kesenjangan ini menyebabkan keterbatasan dalam memahami hubungan kuantitatif antara peningkatan limpasan, kapasitas sistem, dan risiko banjir. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis risiko kegagalan sistem drainase perkotaan akibat variabilitas iklim menggunakan pendekatan pemodelan hidrologi kuantitatif. Penelitian dilakukan pada sistem drainase perkotaan dengan lima subcatchment menggunakan data curah hujan historis dan skenario iklim, parameter tata guna lahan, serta karakteristik jaringan drainase. Analisis dilakukan menggunakan Storm Water Management Model (SWMM) yang dikalibrasi dengan data lapangan dan diuji sensitivitasnya terhadap perubahan parameter utama. Hasil menunjukkan bahwa debit limpasan meningkat sebesar 52%, dengan 38% segmen saluran mengalami kegagalan kapasitas dan luas genangan meningkat hingga 58%. Distribusi risiko banjir bergeser signifikan ke kategori tinggi dengan peningkatan hampir dua kali lipat. Temuan ini menegaskan bahwa sistem drainase eksisting tidak adaptif terhadap variabilitas iklim dan memerlukan pendekatan desain berbasis risiko. Secara ilmiah, penelitian ini memperkuat integrasi teori hidrologi perkotaan dan analisis risiko, serta secara praktis memberikan dasar untuk pengembangan sistem drainase adaptif yang lebih resilien terhadap perubahan iklim. Abstract Climate change has intensified rainfall variability and extremes, directly affecting the performance of urban drainage systems, while most existing designs still rely on stationary hydrological assumptions that are no longer representative. This gap limits the quantitative understanding of the interaction between runoff increase, system capacity, and flood risk. This study aimed to analyze the risk of urban drainage system failure due to climate variability using a quantitative hydrological modeling approach. The study was conducted on an urban drainage system consisting of five subcatchments, utilizing historical rainfall data, climate scenarios, land-use parameters, and drainage network characteristics. The analysis was performed using the Storm Water Management Model (SWMM), calibrated with field observations and tested through sensitivity analysis. The results showed that peak runoff increased by 52%, with 38% of drainage segments experiencing capacity failure and inundation area expanding by 58%. Flood risk distribution shifted significantly toward higher-risk categories, nearly doubling in extent. These findings indicate that existing drainage systems are not adaptive to climate variability and require a transition toward risk-based design approaches. The study contributes theoretically by strengthening the integration of urban hydrology and flood risk frameworks, and practically by providing a basis for developing climate-adaptive and resilient urban drainage systems.
Pengembangan Model Probabilistik Multi-Bencana untuk Mengatasi Keterbatasan Pendekatan Single-Hazard dalam Penilaian Risiko Jembatan Lalu Ibrohim Burhan
DINAMIKA: Jurnal Teknik Sipil dan Lingkungan Vol. 2 No. 2 (2026): Desain, Teknologi, dan Inovasi Infrastruktur Tangguh Bencana
Publisher : PT LIB Research Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63982/dinamika.w9678854

Abstract

Infrastruktur jembatan menghadapi eksposur yang semakin kompleks terhadap kombinasi bencana hidraulik, seismik, dan beban ekstrem, sementara sebagian besar kajian masih mengadopsi pendekatan single-hazard yang berpotensi meremehkan risiko aktual. Kesenjangan ini menjadi krusial khususnya di wilayah berkembang yang memiliki karakteristik multi-bencana namun keterbatasan model evaluasi berbasis probabilistik yang terintegrasi. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model probabilistik untuk menilai kerentanan jembatan terhadap kombinasi multi-bencana secara komprehensif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif berbasis Monte Carlo Simulation (10.000 iterasi) dan Reliability Analysis pada sampel jembatan representatif dengan variasi tipe struktur, kondisi fondasi, dan eksposur hazard, menggunakan data hidrologi, seismik, dan beban lalu lintas yang dimodelkan dalam distribusi probabilistik. Hasil menunjukkan bahwa probabilitas kegagalan meningkat dari rata-rata 0,21 menjadi 0,46 pada kondisi multi-hazard, dengan penurunan indeks keandalan dari 2,1 menjadi 1,3. Analisis sensitivitas mengidentifikasi scour depth dan peak ground acceleration sebagai faktor dominan dengan kontribusi gabungan sebesar 67%. Temuan ini menegaskan bahwa interaksi multi-hazard menghasilkan peningkatan risiko yang bersifat non-linear dan signifikan. Secara konseptual, penelitian ini memperluas teori Structural Reliability melalui integrasi Multi-Hazard Risk, serta secara praktis menyediakan dasar kuantitatif untuk evaluasi keamanan dan mitigasi risiko jembatan yang lebih adaptif dan realistis. Abstract Bridge infrastructure is increasingly exposed to complex combinations of hydraulic, seismic, and extreme loads, while most existing studies still rely on single-hazard approaches that may underestimate actual risk. This gap is particularly critical in developing regions where multi-hazard conditions prevail but integrated probabilistic assessment models remain limited. This study aims to develop a probabilistic model to assess bridge vulnerability under integrated multi-hazard conditions. A quantitative approach was employed using Monte Carlo Simulation (10,000 iterations) and Reliability Analysis on representative bridge samples with varying structural types, foundation conditions, and hazard exposure, utilizing probabilistically modeled hydraulic, seismic, and traffic load data. The results showed that the probability of failure increased from an average of 0.21 to 0.46 under multi-hazard conditions, accompanied by a reduction in reliability index from 2.1 to 1.3. Sensitivity analysis identified scour depth and peak ground acceleration as dominant factors, contributing 67% to the total variance. These findings indicate that multi-hazard interactions produce significant non-linear risk amplification. Conceptually, this study extends Structural Reliability theory by integrating Multi-Hazard Risk, while practically providing a quantitative basis for more adaptive and realistic bridge safety evaluation and risk mitigation strategies.
Integrated Risk Framework berbasis GIS–MCDA untuk Mengatasi Fragmentasi Risiko Iklim dan Bencana pada Infrastruktur Kritis Baiq Virgia Srihayati; Lalu Ibrohim Burhan
DINAMIKA: Jurnal Teknik Sipil dan Lingkungan Vol. 2 No. 2 (2026): Desain, Teknologi, dan Inovasi Infrastruktur Tangguh Bencana
Publisher : PT LIB Research Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63982/dinamika.hee41n91

Abstract

Perubahan iklim dan peningkatan frekuensi multi-bencana telah meningkatkan tekanan terhadap keberlanjutan infrastruktur kritis dan kontinuitas layanan publik di berbagai wilayah. Meskipun berbagai penelitian telah mengembangkan analisis risiko berbasis GIS dan multi-hazard, pendekatan yang digunakan masih cenderung sektoral dan terpisah sehingga belum mampu menangkap interaksi lintas risiko, keterkaitan antar infrastruktur, dan efek sistemik secara komprehensif. Penelitian ini bertujuan menyusun Integrated Climate and Disaster Risk Framework berbasis Resilience Theory dan Integrated Risk Theory untuk meningkatkan efektivitas perencanaan ketahanan infrastruktur kritis terhadap ancaman iklim dan bencana. Penelitian menggunakan pendekatan mix methods sequential explanatory melalui integrasi GIS, Multi-Criteria Decision Analysis (MCDA), dan SEM-PLS pada lima sektor infrastruktur kritis, yaitu air bersih, transportasi, energi, kesehatan, dan telekomunikasi. Data penelitian diperoleh dari BMKG, BNPB, InaRISK, survei lapangan, observasi teknis, serta expert judgment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sektor air bersih memiliki skor risiko tertinggi sebesar 0,81, sedangkan sektor telekomunikasi menunjukkan skor risiko terendah sebesar 0,51. Uji ANOVA menunjukkan perbedaan signifikan tingkat kerentanan antar sektor (F = 8,73; p < 0,01), sementara simulasi mitigasi terintegrasi menghasilkan penurunan kerugian infrastruktur sebesar 34% dibandingkan pendekatan parsial. Penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan risiko terpadu mampu meningkatkan akurasi identifikasi hotspot risiko, prioritas mitigasi, dan ketahanan infrastruktur lintas sektor. Temuan ini memperkuat pengembangan teori ketahanan sistemik sekaligus menyediakan kerangka praktis bagi perencanaan infrastruktur tahan iklim dan multi-bencana dalam bidang teknik sipil.. Abstract Climate change and the increasing frequency of multi-hazard events have intensified pressures on the sustainability of critical infrastructure and the continuity of public services across regions. Although previous studies have developed GIS-based and multi-hazard risk assessments, existing approaches remain largely sectoral and fragmented, limiting their ability to capture cross-risk interactions, infrastructure interdependencies, and systemic effects comprehensively. This study aimed to develop an Integrated Climate and Disaster Risk Framework based on Resilience Theory and Integrated Risk Theory to improve the effectiveness of critical infrastructure resilience planning against climate and disaster threats. The study employed a sequential explanatory mixed-methods approach integrating GIS, Multi-Criteria Decision Analysis (MCDA), and SEM-PLS across five critical infrastructure sectors, including water supply, transportation, energy, healthcare, and telecommunications. Data were collected from BMKG, BNPB, InaRISK, field surveys, technical observations, and expert judgment. The results revealed that the water supply sector exhibited the highest composite risk score (0.81), whereas the telecommunications sector showed the lowest score (0.51). ANOVA testing indicated significant differences in vulnerability levels among infrastructure sectors (F = 8.73; p < 0.01), while integrated mitigation simulations reduced infrastructure losses by 34% compared with partial approaches. The findings demonstrate that integrated risk assessment improves hotspot identification accuracy, mitigation prioritization, and cross-sector infrastructure resilience. This study contributes to the advancement of systemic resilience theory and provides a practical framework for climate-resilient and multi-hazard infrastructure planning in civil engineering.
Pemberdayaan Masyarakat melalui Pelatihan Konstruksi Tahan Gempa Berbasis Material Lokal untuk Meningkatkan Ketahanan Permukiman Desa Lalu Ibrohim Burhan; Baiq Virgia Srihayati; Lalu Marzuandi
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Teknologi Tepat Guna Vol. 2 No. 2 (2026): Membangun Ketahanan Komunitas melalui Edukasi dan Pemberdayaan Berkelanjutan
Publisher : PT LIB Research Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63982/dharmabakti.2y27s994

Abstract

Gempa bumi merupakan salah satu bencana yang berpotensi menimbulkan kerusakan bangunan dan korban jiwa, terutama pada permukiman yang dibangun tanpa menerapkan prinsip konstruksi tahan gempa. Kondisi tersebut masih dijumpai pada masyarakat pedesaan yang memiliki keterbatasan pengetahuan, keterampilan teknis, serta media pembelajaran berkelanjutan mengenai teknologi konstruksi tahan gempa berbasis material lokal. Program pengabdian ini bertujuan meningkatkan kapasitas masyarakat dan tukang lokal dalam menerapkan teknologi konstruksi tahan gempa sehingga mampu membangun permukiman yang lebih aman, tangguh, dan berkelanjutan. Kegiatan dilaksanakan menggunakan pendekatan *Participatory Rural Appraisal* (PRA) yang dipadukan dengan metode *technology demonstration* melalui tujuh tahapan, yaitu identifikasi kebutuhan, penyusunan modul pelatihan, penyuluhan, demonstrasi teknologi, *hands-on training*, pendampingan lapangan, serta monitoring dan evaluasi. Mitra sasaran terdiri atas 30 peserta yang meliputi tukang bangunan lokal, kelompok masyarakat, pemerintah desa, karang taruna, dan relawan kebencanaan. Hasil pelaksanaan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta mengenai prinsip bangunan tahan gempa, perilaku struktur, teknik sambungan, serta pemanfaatan material lokal. Keterampilan peserta juga meningkat melalui praktik pembangunan mini prototipe rumah sederhana tahan gempa sebagai media pembelajaran. Selain itu, program menghasilkan modul pelatihan yang diserahkan kepada pemerintah desa serta membentuk kader lokal sebagai agen pembelajaran untuk mendukung keberlanjutan transfer pengetahuan. Model pemberdayaan berbasis transfer teknologi yang dikembangkan terbukti mampu memperkuat kapasitas teknis, meningkatkan partisipasi masyarakat dalam mitigasi bencana berbasis komunitas, serta berpotensi direplikasi pada wilayah rawan gempa lainnya dengan karakteristik yang serupa