Claim Missing Document
Check
Articles

Pemberdayaan UMKM Disabilitas melalui Inovasi Aplikasi Mobile Inklusif dengan Pendekatan Participatory Design Sulkiah; Lalu Ibrohim Burhan
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Teknologi Tepat Guna Vol. 1 No. 03 (2025): Inovasi Inklusif dan Teknologi Tepat Guna untuk Kesejahteraan Sosial
Publisher : PT LIB Research Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63982/2jbw3f70

Abstract

Penyandang disabilitas menghadapi hambatan signifikan dalam mengakses pasar, mulai dari keterbatasan mobilitas hingga minimnya sarana promosi inklusif, yang berdampak pada rendahnya daya saing UMKM disabilitas. Kesenjangan ini diperparah oleh kurangnya aplikasi pemasaran yang dirancang khusus, minimnya integrasi teknologi digital dengan pelatihan kewirausahaan, serta ketiadaan model pendampingan digital berkelanjutan bagi kelompok rentan. Penelitian ini bertujuan meningkatkan akses pasar UMKM disabilitas melalui pengembangan aplikasi mobile berbasis inklusi digital yang terintegrasi dengan pelatihan kewirausahaan dan pendampingan online. Menggunakan pendekatan Participatory Design, penelitian ini melibatkan 20 pelaku UMKM disabilitas di Kabupaten Lombok Timur melalui tahapan analisis kebutuhan, pengembangan aplikasi, pelatihan, dan evaluasi. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan log penggunaan aplikasi, kemudian dianalisis secara deskriptif dan melalui usability testing. Hasil menunjukkan peningkatan omzet pada 70% pelaku UMKM, perluasan pasar pada 60% pengguna, efisiensi promosi pada 80%, peningkatan keterampilan digital pada 75%, serta kepuasan pengguna sebesar 85%. Temuan ini menegaskan bahwa teknologi mobile inklusif efektif mengatasi hambatan pemasaran sekaligus membangun kapasitas digital dan keberlanjutan usaha. Implikasi penelitian ini mendorong replikasi model serupa di wilayah lain, dengan potensi penguatan ekosistem pemberdayaan ekonomi yang inklusif dan adaptif. Persons with disabilities face significant barriers in accessing markets, ranging from mobility limitations to the lack of inclusive promotional tools, which negatively affect the competitiveness of disability-owned MSMEs. This gap is further exacerbated by the absence of marketing applications specifically designed for this group, limited integration of digital technology with entrepreneurship training, and the lack of sustainable digital mentoring models for vulnerable communities. This study aims to enhance market access for disability-owned MSMEs through the development of a mobile application based on digital inclusion, integrated with entrepreneurship training and online mentoring. Using a Participatory Design approach, the study involved 20 disability-owned MSMEs in East Lombok Regency through stages of needs analysis, application development, training, and evaluation. Data were collected through observations, interviews, and application usage logs, and were analyzed descriptively and via usability testing. The results show a 15–30% sales increase for 70% of MSMEs, market expansion for 60% of users, promotion efficiency for 80%, improved digital skills for 75%, and user satisfaction of 85%. These findings confirm that inclusive mobile technology effectively addresses marketing barriers while building digital capacity and business sustainability. The implications encourage replication of similar models in other regions, with potential to strengthen an inclusive and adaptive economic empowerment ecosystem.
Inovasi Alat Pengering Ikan Portabel Tenaga Surya untuk Peningkatan Efisiensi, Kualitas, dan Nilai Ekonomi Nelayan Skala Kecil Dadang Warta Chandra Wirakesuma; Lalu Ibrohim Burhan
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Teknologi Tepat Guna Vol. 1 No. 03 (2025): Inovasi Inklusif dan Teknologi Tepat Guna untuk Kesejahteraan Sosial
Publisher : PT LIB Research Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63982/rxkys276

Abstract

Metode pengeringan ikan tradisional yang digunakan nelayan skala kecil di Indonesia masih rentan terhadap variabilitas cuaca, kontaminasi, serta kualitas produk yang tidak konsisten, sehingga menurunkan nilai jual dan menyebabkan kerugian ekonomi. Meskipun pemanfaatan energi terbarukan semakin banyak didiskusikan, masih terbatas perhatian terhadap desain alat pengering ikan tenaga surya yang terjangkau, portabel, dan sesuai dengan kebutuhan sosial-ekonomi nelayan kecil. Penelitian ini bertujuan mengembangkan dan mengimplementasikan alat pengering ikan tenaga surya berbiaya rendah untuk meningkatkan efisiensi proses, kualitas produk, serta dampak ekonomi bagi masyarakat pesisir. Dengan pendekatan pengembangan teknologi terapan, kegiatan dilaksanakan di Desa Padak Goar melibatkan 15 nelayan yang dipilih secara purposif. Tahapan meliputi perancangan dan fabrikasi alat, uji kinerja lapangan, pelatihan penggunaan, serta evaluasi melalui uji laboratorium kadar air, uji organoleptik, dan survei kepuasan pengguna. Hasil penelitian menunjukkan waktu pengeringan berkurang hingga 40% dibandingkan metode tradisional, sementara produk yang dihasilkan konsisten memenuhi standar kadar air SNI (≤25%), sehingga lebih higienis dan layak pasar. Selain itu, harga jual ikan kering meningkat rata-rata 15% dengan tingkat kepuasan pengguna mencapai 93% terkait kecepatan, kebersihan, dan kemudahan penggunaan alat. Temuan ini membuktikan bahwa pengering tenaga surya tidak hanya meningkatkan efisiensi teknis, tetapi juga memperkuat ketahanan ekonomi dan penerimaan sosial. Secara praktis, penelitian ini menawarkan model teknologi tepat guna yang dapat direplikasi pada perikanan skala kecil, sekaligus berkontribusi secara teoretis pada pengembangan pengetahuan mengenai inovasi energi terbarukan dalam pengolahan hasil perikanan berbasis masyarakat. Traditional fish drying methods among small-scale fishers in Indonesia remain vulnerable to weather variability, contamination, and inconsistent quality, leading to reduced market value and economic losses. Despite the growing discourse on renewable energy applications, limited attention has been given to the design of solar-powered fish dryers that are affordable, portable, and socially adapted to the needs of small-scale fishers. This study aimed to develop and implement a low-cost solar fish dryer to improve processing efficiency, product quality, and economic outcomes for coastal communities. Using an applied technology development approach, the project was conducted in Padak Goar Village with 15 purposively selected fishers. The stages included design and fabrication of the dryer, field performance tests, training sessions, and evaluation through laboratory analysis of moisture content, organoleptic tests, and user satisfaction surveys. Findings revealed that drying time was reduced by 40% compared to traditional methods, while the resulting products consistently met the national moisture standard (≤25%), ensuring hygienic and marketable quality. Moreover, the average selling price of dried fish increased by 15%, accompanied by a high acceptance rate, with 93% of participants expressing satisfaction regarding speed, cleanliness, and ease of use. These results demonstrate that the solar dryer not only enhances technical efficiency but also strengthens economic resilience and social acceptance. The study contributes practically by offering a replicable model of appropriate technology for small-scale fisheries and theoretically by enriching knowledge on the intersection of renewable energy innovations and community-based fisheries processing.
Inovasi Smart Greenhouse Berbasis Sensor dalam Mengatasi Tantangan Produksi Sayuran Organik di Wilayah Pedesaan Lalu Muktar; Lalu Ibrohim Burhan
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Teknologi Tepat Guna Vol. 1 No. 03 (2025): Inovasi Inklusif dan Teknologi Tepat Guna untuk Kesejahteraan Sosial
Publisher : PT LIB Research Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63982/p0h1as48

Abstract

Penelitian ini mengatasi tantangan yang dihadapi petani organik dalam mengelola kondisi lingkungan untuk meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan hasil panen. Dengan meningkatnya permintaan akan sayuran organik, terdapat kebutuhan nyata untuk menerapkan teknologi yang dapat mendukung pertanian berkelanjutan, terutama di daerah pedesaan. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan dan menerapkan smart greenhouse berbasis sensor yang berbiaya rendah dan mudah dioperasikan. Metode yang digunakan adalah penelitian tindakan partisipatif dengan melibatkan 10 petani di Desa Lendang Nangka Utara, yang mencakup pemasangan sistem, pelatihan, dan monitoring pertumbuhan tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi sayuran organik meningkat rata-rata 25% setelah penerapan teknologi ini, dengan pengendalian hama yang lebih efektif dan peningkatan keterampilan petani dalam menggunakan sensor IoT. Temuan ini menegaskan pentingnya teknologi dalam meningkatkan praktik pertanian yang berkelanjutan. Implikasi dari penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan smart greenhouse dapat berkontribusi pada ketahanan pangan lokal dan nasional, serta memberdayakan petani untuk mengelola pertanian mereka secara mandiri. The increasing demand for organic vegetables, driven by growing public awareness of health and environmental sustainability, highlights a critical gap in the adoption of modern agricultural technologies among local farmers, particularly in rural areas. This study aimed to implement a low-cost, sensor-based smart greenhouse to enhance the productivity and sustainability of organic vegetable farming. Employing a participatory action research approach, the project engaged ten organic farmers in Lendang Nangka Utara, focusing on system installation, operational training, and ongoing monitoring of plant growth and harvest outcomes. The findings revealed a significant average increase of 25% in organic vegetable production following the implementation of the smart greenhouse, alongside improved pest control due to stable microclimate conditions. Additionally, farmers acquired new skills in utilizing simple IoT sensors for sustainable cultivation practices. These results underscore the potential of smart greenhouse technology to empower local farmers, contributing to food security and environmental conservation. The study advocates for broader adoption of such technologies to foster sustainable agricultural practices and enhance the resilience of local farming communities.
Inovasi Bank Sampah Digital Berbasis Ekonomi Sirkular untuk Meningkatkan Partisipasi dan Pemilahan Sampah: Sebuah Pendekatan Participatory Action Research Lalu Ibrohim Burhan
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Teknologi Tepat Guna Vol. 1 No. 04 (2025): Inovasi Inklusif dan Teknologi Tepat Guna untuk Kesejahteraan Sosial
Publisher : PT LIB Research Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63982/dharmabakti.edkat544

Abstract

Produksi sampah perkotaan yang terus meningkat dan rendahnya praktik pemilahan di tingkat rumah tangga menciptakan kebutuhan mendesak akan sistem pengelolaan sampah yang lebih efisien dan partisipatif. Meskipun bank sampah telah berkembang sebagai solusi komunitas, kesenjangan pengetahuan dan ketiadaan model digital yang mengintegrasikan edukasi, pencatatan real-time, dan insentif membuat banyak program tidak optimal dalam meningkatkan partisipasi dan perilaku berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan efektivitas pengelolaan sampah melalui pengembangan platform bank sampah digital terintegrasi yang mendorong edukasi lingkungan dan pemberdayaan warga. Pendekatan participatory action research diterapkan pada komunitas RW 10 Kota Selong dengan melibatkan 50 partisipan melalui observasi, FGD, pelatihan, uji coba aplikasi, dan analisis tematik serta deskriptif kuantitatif. Hasil menunjukkan peningkatan partisipasi warga hingga 60%, kenaikan pemilahan sampah organik sebesar 45%, serta peningkatan literasi digital melalui mekanisme pembelajaran antargenerasi. Temuan ini menegaskan bahwa digitalisasi dengan fitur edukatif dan sistem poin mampu memperkuat transparansi, konsistensi perilaku pemilahan, dan tata kelola komunitas. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan model operasional bank sampah digital yang dapat direplikasi serta menawarkan implikasi praktis bagi pemerintah daerah dalam membangun sistem pengelolaan sampah berbasis data dan ekonomi sirkular. Urban waste generation continues to rise while household-level sorting practices remain limited, creating an urgent need for more efficient and participatory waste-management systems. Although community-based waste banks have emerged as a grassroots solution, the absence of a digital model that integrates environmental education, real-time recording, and incentive mechanisms has restricted their impact and hindered sustained community engagement. This study aimed to enhance waste-management effectiveness by developing an integrated digital waste-bank platform designed to strengthen environmental literacy and community empowerment. A participatory action research approach was applied in RW 10 of Selong City, involving 50 participants through field observations, focus group discussions, training sessions, a two-month pilot of the digital application, and thematic as well as descriptive quantitative analyses. The results showed a 60% increase in user participation, a 45% rise in sorted organic waste, and notable improvements in digital literacy, supported by intergenerational learning processes. These findings demonstrate that a digital system equipped with educational features and point-based incentives can reinforce transparency, promote consistent sorting behavior, and strengthen community governance structures. The study contributes a replicable operational model for digital waste banks and offers practical implications for local governments seeking to develop data-driven, community-oriented waste-management systems aligned with circular-economy principles.
Desalinasi Tenaga Surya Berbasis Teknologi Tepat Guna: Desain, Implementasi, dan Evaluasi Mixed-Methods pada Komunitas Pulau Kecil Norhaslin Abu Hassan; Lalu Ibrohim Burhan
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Teknologi Tepat Guna Vol. 1 No. 04 (2025): Inovasi Inklusif dan Teknologi Tepat Guna untuk Kesejahteraan Sosial
Publisher : PT LIB Research Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63982/dharmabakti.hn35rp05

Abstract

Krisis air bersih masih menjadi persoalan kritis di pulau-pulau kecil akibat keterbatasan sumber air tawar, intrusi air laut, dan ketergantungan pada pasokan dari daratan. Kondisi ini menuntut solusi yang berkelanjutan, terjangkau, dan dapat dioperasikan oleh komunitas lokal. Program ini bertujuan merancang dan mengimplementasikan teknologi desalinasi tenaga surya berbasis konsep appropriate technology untuk menyediakan air layak konsumsi sekaligus meningkatkan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan teknologi. Penelitian menggunakan pendekatan mixed methods dengan desain convergent parallel, mencakup penilaian kebutuhan awal, pembangunan dan instalasi prototipe, pelatihan operasional, serta evaluasi teknis, ekonomi, dan sosial melalui monitoring lapangan, uji kualitas air, wawancara mendalam, dan FGD. Hasil menunjukkan bahwa sistem desalinasi tenaga surya berfungsi stabil di kondisi tropis, menghasilkan air dengan kualitas sesuai standar WHO, serta diterima oleh masyarakat setelah pelatihan praktis. Temuan kualitatif menegaskan peningkatan rasa aman terhadap ketersediaan air dan kesiapan operasional, meskipun masih terdapat kekhawatiran terkait akses suku cadang dan pemeliharaan lanjutan. Dampak program mencakup penguatan kemandirian air, pengurangan ketergantungan pada pasokan luar, serta pembentukan dasar kelembagaan untuk pengelolaan bersama. Secara keseluruhan, intervensi ini terbukti efektif dan memiliki potensi replikasi pada pulau kecil lainnya dengan penguatan dukungan kebijakan dan mekanisme pembiayaan lokal. Abstract The clean water crisis remains a persistent challenge in small islands where freshwater resources are scarce and communities rely heavily on water shipments from the mainland. Addressing this issue requires a sustainable, low-cost, and community-operable solution. This program aimed to design and implement a solar-powered desalination system grounded in the principles of appropriate technology to provide safe drinking water while enhancing local operational and maintenance capacities. A mixed-methods convergent parallel design was employed, involving baseline community assessment, prototype construction and installation, hands-on training, and comprehensive evaluation through technical monitoring, water quality testing, in-depth interviews, and focus group discussions. Results demonstrate that the solar desalination units operated reliably under tropical conditions, producing water that met WHO quality standards and receiving strong community acceptance following practical training. Qualitative findings revealed increased household water security, improved operational readiness, and concerns related to long-term maintenance and access to spare parts. The intervention generated tangible social and economic benefits, including reduced dependence on external water supplies and initial development of community-based management structures. Overall, the program proved effective in delivering an accessible and context-appropriate water solution, with strong potential for replication across other small island communities when supported by adequate policy frameworks and local financing mechanisms.
Integrasi Sensor Low-Cost, Aplikasi Mobile, dan Mekanisme Respons Komunitas: Model Early Warning System untuk Desa Berliterasi Teknologi Rendah Muhammad Amin; Lalu Ibrohim Burhan
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Teknologi Tepat Guna Vol. 1 No. 04 (2025): Inovasi Inklusif dan Teknologi Tepat Guna untuk Kesejahteraan Sosial
Publisher : PT LIB Research Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63982/dharmabakti.yp5vf934

Abstract

Banjir merupakan bencana hidrometeorologi yang terus meningkat dan menimbulkan kerusakan signifikan, sementara penyampaian informasi peringatan dini secara manual masih menghambat respons cepat masyarakat. Penelitian ini bertujuan meningkatkan kesiapsiagaan warga desa rawan banjir melalui implementasi sistem pendeteksi dini berbasis sensor berbiaya rendah yang terintegrasi dengan aplikasi mobile untuk menyediakan informasi real-time. Pendekatan Applied Community-Based Technology digunakan melalui tahapan perancangan sistem, instalasi sensor pada titik rawan, implementasi aplikasi, pelatihan warga, dan evaluasi respons melalui simulasi evakuasi menggunakan analisis deskriptif kuantitatif. Hasil menunjukkan peningkatan nyata efektivitas mitigasi: sensor memberikan pembacaan realtime yang akurat, notifikasi otomatis dikirim dalam hitungan detik, dan kesiapsiagaan warga meningkat melalui percepatan waktu respons evakuasi serta tingginya penerimaan teknologi berdasarkan penilaian pengguna. Program ini memiliki dampak positif terhadap literasi kebencanaan, penguatan kapasitas komunitas, perubahan perilaku evakuasi, dan peningkatan partisipasi masyarakat. Integrasi teknologi dan pemberdayaan sosial terbukti menjadi faktor kunci keberhasilan intervensi. Temuan ini menegaskan bahwa model sistem peringatan dini berbasis IoT–komunitas efektif untuk konteks pedesaan berketerbatasan teknologi dan memiliki potensi tinggi untuk direplikasi secara lebih luas. Penelitian ini menawarkan kontribusi konseptual dan praktis terhadap pengembangan model mitigasi bencana yang adaptif dan berkelanjutan serta membuka peluang untuk pengembangan fitur lanjutan dan implementasi skala regional.   Abstract Flooding is an increasingly frequent hydrometeorological disaster that causes severe damage, while manual early warning dissemination remains inadequate in enabling rapid community response. This study aims to enhance disaster preparedness in flood-prone rural areas by implementing a low-cost sensor–based early warning system integrated with a mobile application for real-time information delivery. An Applied Community-Based Technology approach was applied through system design, sensor installation at critical points, mobile application deployment, community training, and evaluation through evacuation simulation using descriptive quantitative analysis. The results demonstrate substantial improvements in community preparedness: sensors provided accurate real-time water level readings, automated alerts were delivered within seconds, and evacuation response times improved alongside high user acceptance and perceived usefulness of the system. The intervention generated positive impacts on disaster literacy, capacity building, behavioral transformation, and community participation. The synergistic integration of technical performance and community empowerment emerged as a critical success factor. Findings confirm the effectiveness of an IoT–community integrated early warning model for rural environments with limited technological infrastructure and highlight strong potential for wider replication. This work contributes both conceptually and practically to adaptive community-based disaster mitigation and supports future development toward scalable deployment, enhanced system features, and policy-level integration.
Model Edukasi Mitigasi Bencana Berbasis Komunitas dalam Kerangka Community-Based Disaster Risk Reduction untuk Meningkatkan Kesiapsiagaan Sosial Lalu Ibrohim Burhan; Sulkiah
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Teknologi Tepat Guna Vol. 2 No. 1 (2026): Membangun Ketahanan Komunitas melalui Edukasi dan Pemberdayaan Berkelanjutan
Publisher : PT LIB Research Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63982/dharmabakti.ndgyfy90

Abstract

Peningkatan frekuensi dan intensitas bencana alam telah menjadikan risiko bencana sebagai ancaman struktural terhadap keberlanjutan kehidupan sosial, terutama pada masyarakat pedesaan yang memiliki keterbatasan kapasitas respons. Berbagai upaya mitigasi masih didominasi pendekatan top-down dan teknis, sehingga kesiapsiagaan sosial masyarakat belum berkembang secara optimal. Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan kesiapsiagaan sosial masyarakat desa rawan risiko melalui pengembangan dan penerapan edukasi mitigasi bencana berbasis komunitas dengan pendekatan simulasi dan skenario lokal yang partisipatif. Metode yang digunakan adalah mixed methods dengan desain sequential explanatory, meliputi tahap asesmen kebutuhan komunitas, perancangan bersama model edukasi, implementasi pelatihan dan simulasi bencana, serta evaluasi dampak melalui pengukuran pra–pasca dan observasi partisipatif. Hasil menunjukkan bahwa program ini secara konsisten meningkatkan kesiapsiagaan sosial masyarakat, tidak hanya pada pemahaman risiko, tetapi juga pada perubahan perilaku kolektif, koordinasi komunitas, dan respons operasional dalam simulasi bencana. Temuan kualitatif mengungkap bahwa partisipasi aktif, pembelajaran berbasis pengalaman, dan dukungan kelembagaan desa berperan penting dalam mengintegrasikan praktik kesiapsiagaan ke dalam aktivitas keseharian. Secara keseluruhan, kegiatan ini berdampak pada penguatan kapasitas sosial masyarakat dan pengurangan ketergantungan pada respons eksternal. Program ini terbukti efektif, berpotensi direplikasi pada konteks desa rawan risiko lainnya, serta memberikan implikasi penting bagi pengembangan kebijakan dan praktik pengurangan risiko bencana berbasis komunitas yang berkelanjutan.
Penggunaan Batu Pecah Lokal dalam Konstruksi Baiq Virgia Srihayati; Lalu Ibrohim Burhan
DINAMIKA: Jurnal Teknik Sipil dan Lingkungan Vol. 1 No. 01 (2025): Inovasi Material dan Struktur Adaptif untuk Infrastruktur Masa Depan
Publisher : PT LIB Research Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63982/15dx8h49

Abstract

Penggunaan batu pecah dalam konstruksi merupakan topik yang penting dalam bidang teknik sipil, karena batu pecah merupakan salah satu material utama dalam pembuatan beton dan perkerasan jalan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kualitas dan kelayakan penggunaan batu pecah lokal dalam konstruksi, dengan fokus pada karakteristik fisik, mekanik, dan geologisnya. Metodologi penelitian melibatkan pengambilan sampel batu pecah dari berbagai lokasi penambangan, dilanjutkan dengan pengujian laboratorium untuk mengidentifikasi distribusi ukuran partikel, kekuatan tekan, ketahanan abrasi, komposisi mineralogi, dan reaktivitas alkali-silika. Hasil pengujian laboratorium menunjukkan variasi yang signifikan dalam sifat fisik dan mekanik batu pecah dari berbagai sumber lokal. Analisis gradasi agregat, kepadatan bulk, kekuatan tekan, ketahanan abrasi, komposisi mineralogi, dan reaktivitas alkali-silika memberikan pemahaman yang mendalam tentang kualitas material. Korelasi antara karakteristik geologi dan sifat mekanik dan fisik batu pecah menyoroti pentingnya mempertimbangkan aspek geologi dalam pemilihan material konstruksi. Evaluasi kelayakan batu pecah lokal menghasilkan rekomendasi penggunaan berdasarkan standar kualitas dan karakteristik geologi. Batu pecah dari sumber yang memenuhi standar direkomendasikan untuk digunakan dalam aplikasi konstruksi, sementara yang tidak memenuhi standar memerlukan perhatian lebih lanjut. Panduan praktis yang disusun memberikan pedoman yang berguna bagi praktisi konstruksi dalam pemilihan dan penggunaan batu pecah lokal, memastikan bahwa material yang dipilih sesuai dengan kondisi geologi setempat dan memenuhi persyaratan teknis yang diperlukan. Validasi lapangan memperkuat hasil penelitian dengan menunjukkan bahwa batu pecah yang memenuhi standar laboratorium juga menunjukkan performa yang baik di lapangan. Observasi dan umpan balik dari proyek konstruksi nyata memberikan pemahaman tambahan tentang kinerja material dalam situasi praktis. Berdasarkan hasil validasi lapangan, panduan pemilihan dan penggunaan batu pecah diperbarui untuk meningkatkan relevansi dan efektivitasnya dalam aplikasi lapangan. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi yang signifikan dalam pemahaman tentang penggunaan batu pecah lokal dalam konstruksi dan mendukung pembangunan infrastruktur yang berkualitas dan berkelanjutan.
Penggunaan Pasir dalam Material Komposit menjadi Solusi Berkelanjutan untuk Industri Konstruksi Lalu Ibrohim Burhan; Nadia Adawi Hidayatunnisa
DINAMIKA: Jurnal Teknik Sipil dan Lingkungan Vol. 1 No. 01 (2025): Inovasi Material dan Struktur Adaptif untuk Infrastruktur Masa Depan
Publisher : PT LIB Research Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63982/8gr89j07

Abstract

Pasir, sebagai salah satu bahan konstruksi yang paling melimpah di dunia, telah lama menjadi fondasi penting dalam pembangunan infrastruktur global. Namun, penggunaannya yang tidak terkendali dan tidak berkelanjutan telah menimbulkan kekhawatiran akan dampak lingkungan dan ketersediaan pasir yang semakin berkurang. Dalam konteks ini, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi potensi penggunaan pasir dalam material komposit sebagai alternatif yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan untuk industri konstruksi. Melalui pendekatan eksperimental dan analisis data yang komprehensif, penelitian ini mengevaluasi sifat mekanis, termal, dan keberlanjutan dari komposit pasir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposit pasir menawarkan berbagai keunggulan yang signifikan. Komposit ini tidak hanya menampilkan kekuatan mekanis yang memadai untuk aplikasi struktural, tetapi juga memiliki kemampuan isolasi termal yang baik, yang penting untuk efisiensi energi dalam bangunan. Selain itu, analisis keberlanjutan menunjukkan bahwa penggunaan komposit pasir dapat mengurangi dampak lingkungan secara signifikan, termasuk pengurangan emisi karbon dan penggunaan sumber daya alam yang lebih sedikit. Namun, tantangan seperti variasi dalam komposisi pasir dari berbagai sumber dan standarisasi proses produksi perlu diatasi untuk memastikan kualitas dan konsistensi komposit yang dihasilkan. Dengan demikian, penelitian ini menyimpulkan bahwa pasir memiliki potensi besar sebagai bahan dalam material komposit untuk industri konstruksi yang lebih berkelanjutan. Namun, untuk mewujudkan potensi ini, diperlukan kolaborasi antara pemerintah, industri, akademisi, dan masyarakat untuk mengembangkan standar yang jelas, meningkatkan kesadaran dan pemahaman, serta menciptakan lingkungan kebijakan yang mendukung. Dengan demikian, dapat diharapkan bahwa implementasi konsep ini dapat mempercepat perubahan menuju industri konstruksi yang lebih hijau dan berkelanjutan di masa depan
Analisis Bishop terkalibrasi lapangan terhadap kestabilan lereng akibat hujan di Lombok Timur Lalu Ibrohim Burhan
DINAMIKA: Jurnal Teknik Sipil dan Lingkungan Vol. 1 No. 2 (2025): Inovasi Material dan Struktur Adaptif untuk Infrastruktur Masa Depan
Publisher : PT LIB Research Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63982/dinamika.cbjvek19

Abstract

Kejadian longsor di lereng tropis menimbulkan tantangan besar karena infiltrasi hujan yang cepat menyebabkan kejenuhan transien dan penurunan tegangan efektif, sementara studi sebelumnya jarang menggabungkan pengukuran tekanan pori lapangan dengan pemodelan kestabilan terkalibrasi; akibatnya, pilihan mitigasi teknis kurang berbasis bukti kuantitatif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kestabilan lereng di daerah longsor Lombok Timur menggunakan metode Bishop (SLOPE/W, GeoStudio) yang dikalibrasi dengan data lapangan dan untuk membandingkan efektivitas serta implikasi biaya antara perkuatan geotekstil dan sistem drainase. Studi dilakukan pada tiga profil representatif di Lombok Timur; data lapangan, sampel tanah laboratorium, pembacaan piezometer, serta data curah hujan historis dikumpulkan; simulasi infiltrasi transien (SEEP/W) dan analisis kestabilan (SLOPE/W - Bishop) kemudian dijalankan dan dikalibrasi terhadap pengukuran piezometer. Hasil menunjukkan bahwa tekanan pori mencapai 60–80% dari kondisi jenuh pada skenario hujan 100-tahun dan FoS menurun dari 1.42 (kering) menjadi 1.12 (jenuh transien); drainase sub-permukaan meningkatkan FoS menjadi ≈ 1.35 dengan estimasi biaya ≈ Rp 280.000/m², sedangkan geotekstil meningkatkan FoS menjadi ≈ 1.31 dengan biaya ≈ Rp 420.000/m². Kesimpulannya, mitigasi yang menurunkan tekanan pori prioritas untuk konteks Lombok Timur dan rekomendasi teknis harus memasukkan kalibrasi lapangan–numerik; studi ini menyediakan kerangka metodologis replikasi yang mengintegrasikan teori tegangan efektif, aliran seepage, dan Limit Equilibrium untuk kebijakan mitigasi berbasis bukti. Landslides on tropical slopes pose substantial challenges because rapid rainfall infiltration induces transient saturation and a consequent reduction in effective stress. However, previous studies have rarely combined field-measured pore-pressure data with calibrated stability modeling; as a result, technical mitigation choices have often lacked a firm quantitative basis. This study aimed to assess slope stability in East Lombok landslide areas using the Bishop method (SLOPE/W, GeoStudio) calibrated with field data, and to compare the effectiveness and cost implications of geotextile reinforcement versus drainage systems. The investigation was conducted on three representative profiles in East Lombok, where field surveys, laboratory soil testing, piezometer monitoring, and historical rainfall records were collected. Transient infiltration was simulated using SEEP/W, and slope stability was evaluated using SLOPE/W (Bishop), with model outputs calibrated against piezometer measurements. Results showed pore pressures reaching 60–80% of full saturation under a 100-year rainfall scenario and a reduction in factor of safety (FoS) from 1.42 (dry) to 1.12 (transient saturation); subsurface drainage increased FoS to ≈1.35 with an estimated cost of ≈Rp 280,000/m², whereas geotextile reinforcement raised FoS to ≈1.31 at ≈Rp 420,000/m². Consequently, interventions that reduce pore pressure should be prioritized in the East Lombok context, and technical recommendations should incorporate field–numerical calibration. This study provides a replicable methodological framework that integrates practical stress theory, seepage flow, and Limit Equilibrium to support evidence-based mitigation policy.