Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

Hubungan Antara Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Kinerja Guru di Sekolah Dasar Negeri Kota Mataram Khairul Azmi; Lalu Ibrohim Burhan
CENDEKIA : Jurnal Pendidikan Terintegrasi Vol. 1 No. 1 (2025): Transformasi Pendidikan Inklusif Berbasis Kearifan Lokal dan Digitalisasi Pembe
Publisher : PT. LIB Research Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63982/myxvxc64

Abstract

Gaya kepemimpinan kepala sekolah merupakan faktor strategis dalam menciptakan iklim kerja yang produktif dan mendukung kinerja guru di lingkungan sekolah dasar. Di tengah tuntutan transformasi pendidikan dan implementasi Kurikulum Merdeka, kepemimpinan yang visioner dan partisipatif menjadi semakin relevan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara gaya kepemimpinan kepala sekolah, khususnya gaya transformasional, dan kinerja guru di Sekolah Dasar Negeri Kota Mataram. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Sampel berjumlah 100 guru dipilih secara purposive dari berbagai SDN di Kota Mataram berdasarkan kriteria tertentu. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner berskala Likert yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Data dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner serta observasi terbatas dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan uji korelasi Pearson dengan syarat asumsi normalitas dan linearitas terpenuhi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara gaya kepemimpinan transformasional kepala sekolah dengan kinerja guru (r = 0,65; p < 0,05). Kesimpulan dari penelitian ini adalah semakin tinggi kualitas gaya kepemimpinan transformasional, maka semakin tinggi pula kinerja guru yang dihasilkan. Temuan ini berkontribusi pada penguatan literatur empiris mengenai pentingnya pengembangan kapasitas kepemimpinan kepala sekolah sebagai fondasi peningkatan mutu pendidikan dasar
Efektivitas Blended Learning dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Mahasiswa Pendidikan di Masa Pascapandemi Lalu Ibrohim Burhan
CENDEKIA : Jurnal Pendidikan Terintegrasi Vol. 1 No. 1 (2025): Transformasi Pendidikan Inklusif Berbasis Kearifan Lokal dan Digitalisasi Pembe
Publisher : PT. LIB Research Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63982/p8pspz63

Abstract

Pandemi COVID-19 telah mendorong transformasi besar dalam sistem pendidikan tinggi, terutama dalam adopsi pembelajaran daring yang berdampak pada penurunan motivasi belajar mahasiswa. Pascapandemi, blended learning muncul sebagai pendekatan alternatif yang menggabungkan pembelajaran daring dan luring guna menjawab tantangan fleksibilitas, personalisasi, dan efektivitas pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas blended learning dalam meningkatkan motivasi belajar mahasiswa program studi pendidikan di masa pascapandemi. Pendekatan yang digunakan adalah mixed method dengan desain sequential explanatory. Tahap kuantitatif dilakukan melalui survei menggunakan instrumen Motivated Strategies for Learning Questionnaire (MSLQ) pada mahasiswa dari tiga universitas, dengan teknik stratified random sampling. Tahap kualitatif dilanjutkan dengan wawancara mendalam menggunakan teknik purposive sampling terhadap mahasiswa yang aktif menggunakan platform digital. Data kuantitatif dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan uji ANOVA, sementara data kualitatif dianalisis secara tematik. Triangulasi metode dilakukan untuk memastikan validitas dan memperkuat hasil. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan motivasi belajar pada mahasiswa yang aktif mengikuti pembelajaran digital berbasis blended learning, terutama karena fleksibilitas waktu, pemberian umpan balik cepat, dan adanya kontrol terhadap proses belajar. Blended learning terbukti efektif sebagai strategi pembelajaran jangka panjang di era pascapandemi, dengan catatan bahwa kesiapan infrastruktur dan kompetensi pedagogis dosen perlu terus ditingkatkan. Penelitian ini memberikan kontribusi penting bagi pengembangan sistem pembelajaran tinggi yang adaptif, inklusif, dan berorientasi pada peningkatan motivasi serta hasil belajar mahasiswa secara berkelanjutan.
Pengaruh Penggunaan Media Interaktif Berbasis Augmented Reality terhadap Hasil Belajar IPA Siswa SMP Lalu Usman Ali; Lalu Ibrohim Burhan
CENDEKIA : Jurnal Pendidikan Terintegrasi Vol. 1 No. 1 (2025): Transformasi Pendidikan Inklusif Berbasis Kearifan Lokal dan Digitalisasi Pembe
Publisher : PT. LIB Research Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63982/g26qzt07

Abstract

Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) kerap menghadapi kesulitan dalam menjelaskan konsep-konsep abstrak dan visual kompleks, seperti struktur atom dan sistem organ manusia. Keterbatasan media konvensional dalam memfasilitasi visualisasi materi berdampak pada rendahnya pemahaman konseptual siswa. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas media interaktif berbasis Augmented Reality (AR) terhadap hasil belajar IPA siswa SMP dibandingkan dengan media pembelajaran konvensional. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain eksperimen semu (quasi-experimental design) dan rancangan Posttest-Only Control Group Design. Populasi penelitian adalah siswa kelas VIII di salah satu SMP, dengan dua kelas sebagai sampel yang ditentukan secara purposif; satu kelas sebagai kelompok eksperimen menggunakan media AR dan satu kelas sebagai kelompok kontrol menggunakan media konvensional. Instrumen penelitian berupa tes hasil belajar kognitif yang telah divalidasi oleh ahli. Analisis data dilakukan menggunakan uji-t independen untuk membandingkan hasil belajar antar kelompok. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, dengan nilai rata-rata yang lebih tinggi pada kelompok yang menggunakan media AR. Temuan ini menunjukkan bahwa media AR efektif dalam meningkatkan pemahaman konsep IPA, terutama pada materi yang bersifat visual dan abstrak. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan strategi pembelajaran berbasis bukti yang mendorong integrasi AR dalam kurikulum IPA serta pelatihan guru guna mendukung pemanfaatan teknologi pendidikan secara optimal.
Mengukur Literasi Digital Guru SMK sebagai Dasar Pengembangan Model Pelatihan Kontekstual dalam Pembelajaran Daring Lalu Muktar; Lalu Ibrohim Burhan
CENDEKIA : Jurnal Pendidikan Terintegrasi Vol. 1 No. 2 (2025): Transformasi Pendidikan Inklusif Berbasis Kearifan Lokal dan Digitalisasi Pembe
Publisher : PT. LIB Research Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63982/mva80r68

Abstract

Perkembangan teknologi digital dalam dunia pendidikan menuntut guru, khususnya di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), untuk memiliki literasi digital yang memadai dalam mengelola pembelajaran daring. Ketiadaan data empiris mengenai kompetensi digital guru SMK menjadi kendala dalam merancang pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan pendidikan vokasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat kemampuan literasi digital guru SMK sebagai dasar pengembangan program pelatihan yang kontekstual dan berbasis praktik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif terhadap 50 guru SMK di Kabupaten Lombok Timur yang dipilih secara purposive. Instrumen penelitian berupa kuesioner berbasis empat domain literasi digital: akses, evaluasi informasi, penggunaan alat digital, dan kreasi konten. Validitas isi diperoleh melalui expert judgment dan data dianalisis menggunakan statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar guru memiliki kemampuan tinggi dalam mengakses teknologi dan menggunakan platform pembelajaran dasar, namun masih lemah dalam mengevaluasi informasi dan menciptakan konten digital. Temuan ini menegaskan adanya kesenjangan antara keterampilan dasar dan lanjutan. Penelitian ini berkontribusi dalam menyediakan peta kemampuan literasi digital guru SMK sebagai rujukan dalam merancang intervensi pelatihan yang lebih tepat sasaran.   The development of digital technology in education demands that teachers, particularly in Vocational High Schools (SMK), possess adequate digital literacy to manage online learning effectively. The absence of empirical data on SMK teachers' digital competence poses challenges in designing training aligned with vocational education needs. This study aims to assess the digital literacy level of vocational teachers as a foundation for designing contextual and practice-based training programs. A quantitative descriptive approach was employed to study 50 vocational teachers in East Lombok Regency, who were selected purposively. The research instrument consisted of a questionnaire that covered four domains of digital literacy: access, information evaluation, digital tool usage, and content creation. Content validity was ensured through expert judgment, and data were analyzed using descriptive statistics. The results reveal that most teachers exhibit strong capabilities in accessing digital technology and using basic educational platforms. Yet, they face difficulties in critically evaluating digital information and creating interactive content. These findings highlight a significant gap between basic and advanced digital skills. This study contributes by offering a competency map of vocational teachers' digital literacy to guide the design of more targeted professional development programs.  
Pendekatan Kontekstual Berbasis Nilai untuk Pendidikan Toleransi: Studi Kualitatif pada Sekolah Multikultural Lalu Muktar; Lalu Ibrohim Burhan
CENDEKIA : Jurnal Pendidikan Terintegrasi Vol. 1 No. 2 (2025): Transformasi Pendidikan Inklusif Berbasis Kearifan Lokal dan Digitalisasi Pembe
Publisher : PT. LIB Research Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63982/1kwq1h20

Abstract

Pendidikan karakter menjadi aspek krusial dalam penguatan nilai-nilai kemanusiaan di sekolah multikultural, terutama di tengah tantangan keberagaman sosial budaya yang kompleks. Namun, hingga kini masih terdapat kekosongan literatur terkait strategi pembelajaran kontekstual yang diterapkan guru untuk menanamkan karakter toleransi secara nyata di ruang kelas. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis strategi pembelajaran yang digunakan guru dalam membangun karakter toleransi siswa di sekolah menengah pertama multikultural. Pendekatan penelitian ini adalah kualitatif deskriptif, dengan subjek enam guru yang dipilih secara purposive. Data dikumpulkan melalui observasi kelas, wawancara mendalam, dan dokumentasi pembelajaran. Analisis data menggunakan model Miles & Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan verifikasi. Hasil utama menunjukkan bahwa strategi dominan yang digunakan guru meliputi metode cerita lintas budaya, proyek sosial kolaboratif, dan diskusi reflektif. Strategi ini terbukti efektif dalam menumbuhkan sikap empatik, kesadaran kritis, dan kolaborasi antaridentitas. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pembelajaran kontekstual berbasis nilai sangat relevan dalam membentuk karakter toleransi siswa. Temuan ini berkontribusi pada penguatan kebijakan pendidikan karakter serta pengembangan pelatihan guru berbasis konteks sosial-budaya. Abstract  Character education is a crucial component in reinforcing humanitarian values in multicultural schools, particularly amid the challenges of complex socio-cultural diversity. However, a literature gap remains regarding the contextual teaching strategies that teachers employ to foster tolerance within the classroom environment. This study aims to identify and analyze the teaching strategies used by teachers to develop students' tolerance in multicultural junior high schools. A qualitative descriptive approach was applied, involving six purposively selected teachers as participants. Data collection techniques included classroom observation, in-depth interviews, and instructional documentation. Data analysis followed the Miles and Huberman model, encompassing data reduction, display, and verification. The principal findings indicate that teachers predominantly employed cultural storytelling, collaborative social projects, and reflective discussions. These strategies effectively promote empathy, critical awareness, and cross-cultural collaboration among students. The study concludes that value-based contextual teaching is highly effective in shaping students' tolerance in multicultural settings. These findings contribute to strengthening character education policy and guide the development of culturally responsive teacher training programs.
Kecerdasan Emosional sebagai Prediktor Disiplin Belajar Mahasiswa pada Masa Pascapandemi: Sebuah Studi Regresi Linier Dadang Warta Chandra Wirakesuma; Khairul Azmi; Lalu Ibrohim Burhan
CENDEKIA : Jurnal Pendidikan Terintegrasi Vol. 1 No. 2 (2025): Transformasi Pendidikan Inklusif Berbasis Kearifan Lokal dan Digitalisasi Pembe
Publisher : PT. LIB Research Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63982/29cmn966

Abstract

The post-pandemic transformation of education has created new challenges for university students in adapting to shifting learning rhythms and increasing emotional pressures. Emotional intelligence is believed to play a vital role in shaping consistent and adaptive learning discipline during this transition period. This study aimed to assess the influence of emotional intelligence on students' learning discipline in the context of the post-pandemic adjustment. A quantitative correlational approach was employed, involving 148 purposively selected students from various academic programs. Data was collected using two validated psychometric instruments: an emotional intelligence scale based on Goleman and Bar-On's framework, and a learning discipline scale developed by the researchers. Simple linear regression analysis was used, preceded by classical assumption testing to ensure model validity. The results indicated a significant influence of emotional intelligence on learning discipline (β = 0.487; R² = 0.237; p < 0.05). These findings highlight the importance of enhancing EI to support disciplined academic behavior among students. This study contributes to the development of emotional intelligence-based intervention programs in higher education in the post-pandemic era.   Abstract Transformasi pendidikan pascapandemi telah menciptakan tantangan baru bagi mahasiswa dalam menyesuaikan diri terhadap ritme belajar yang berubah dan tekanan emosional yang meningkat. Kecerdasan emosional diyakini berperan penting dalam membentuk disiplin belajar yang konsisten dan adaptif pada masa transisi ini. Penelitian ini bertujuan untuk menilai pengaruh kecerdasan emosional terhadap disiplin belajar mahasiswa pada masa adaptasi kehidupan baru. Pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional digunakan, dengan partisipasi 148 mahasiswa dari berbagai program studi yang dipilih secara purposive. Data dikumpulkan menggunakan dua skala psikometrik: skala kecerdasan emosional berdasarkan teori Goleman dan Bar-On, serta skala disiplin belajar yang dikembangkan oleh peneliti. Analisis data dilakukan melalui regresi linier sederhana, dengan uji asumsi klasik untuk memastikan validitas model. Hasil menunjukkan bahwa kecerdasan emosional berpengaruh signifikan terhadap disiplin belajar (β = 0,487; R² = 0,237; p < 0,05). Temuan ini menegaskan pentingnya penguatan EI dalam mendukung perilaku belajar mahasiswa yang disiplin. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam pengembangan program intervensi berbasis kecerdasan emosional di lingkungan pendidikan tinggi pascapandemi.
Model Empiris Pengaruh Artificial Intelligence terhadap Kreativitas Belajar Mahasiswa: Integrasi TAM dan Creativity Theory dalam Pendekatan Kuantitatif Eksplanatori Lalu Muktar; Lalu Ibrohim Burhan
CENDEKIA : Jurnal Pendidikan Terintegrasi Vol. 1 No. 3 (2025): Transformasi Pendidikan Inklusif Berbasis Kearifan Lokal dan Digitalisasi Pembe
Publisher : PT. LIB Research Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63982/cendekia.ws0q4t90

Abstract

Perkembangan pesat teknologi Artificial Intelligence (AI) telah menciptakan peluang baru bagi peningkatan kualitas pembelajaran di pendidikan tinggi, namun riset sebelumnya masih berfokus pada efektivitas teknis dan belum mengungkap secara komprehensif bagaimana AI memengaruhi kreativitas mahasiswa sebagai kompetensi utama abad ke-21. Kesenjangan ini menuntut kajian empiris yang memetakan hubungan antara penggunaan AI dan dinamika berpikir kreatif mahasiswa dalam konteks Indonesia. Penelitian ini bertujuan menginvestigasi pengaruh penggunaan AI terhadap kreativitas belajar mahasiswa pendidikan, dengan mengevaluasi intensitas penggunaan, persepsi pengguna, serta kontribusi fitur AI tertentu terhadap kreativitas. Metode yang digunakan berupa desain kuantitatif eksplanatori dengan 110 responden, dianalisis melalui regresi linear dan validasi wawancara, menggunakan instrumen berbasis TAM dan indikator kreativitas Guilford. Hasil menunjukkan bahwa penggunaan AI berada pada kategori tinggi dan berpengaruh signifikan terhadap kreativitas mahasiswa (β = 0.431, p < 0.001), terutama melalui fitur generative feedback dan idea generation tools. Persepsi kemudahan dan kebermanfaatan memperkuat hubungan tersebut, sementara aspek orisinalitas tetap menjadi tantangan. Temuan ini menegaskan bahwa AI berperan sebagai katalis kognitif yang dapat memperluas fluency dan flexibility mahasiswa, sekaligus memberikan bukti empiris baru bagi pengembangan teori TAM dan Creativity Theory. Implikasi praktisnya mencakup kebutuhan integrasi AI secara pedagogis untuk mendukung kreativitas tanpa mengabaikan risiko ketergantungan, serta membuka arah penelitian baru mengenai variasi platform AI dan pendekatan longitudinal untuk menilai dampak jangka panjangnya. Abstract The rapid advancement of Artificial Intelligence (AI) has reshaped learning ecosystems in higher education worldwide; however, existing studies predominantly emphasise technical efficiency rather than examining how AI influences students’ creativity, a core competency of the twenty-first century. This knowledge gap highlights the need for empirical evidence that maps the relationship between AI usage and creative cognitive processes within the Indonesian higher education context. This study aimed to investigate the influence of AI usage on the learning creativity of education students, assessing usage intensity, user perceptions, and the contribution of specific AI features. An explanatory quantitative design was applied to 110 participants, analysed through linear regression and qualitative validation using TAM-based constructs and Guilford’s creativity indicators. The results revealed high AI adoption and a significant effect on student creativity (β = 0.431, p < 0.001), particularly driven by generative feedback and idea generation tools. Perceived ease of use and perceived usefulness strengthened this relationship, although originality remained relatively limited. The findings indicate that AI functions as a cognitive catalyst that enhances students’ fluency and flexibility, contributing new empirical insights to the development of TAM and Creativity Theory frameworks. Practically, the study underscores the importance of integrating AI pedagogically to support creativity while addressing potential dependency risks, and it opens avenues for future research involving multi-platform AI comparison and longitudinal approaches to assess long-term impacts.
Model Integratif Budaya Sekolah–Karakter untuk Menjelaskan Integritas Siswa di Sekolah Multikultural: Studi Mixed Methods Sequential Explanatory Muhammad Fahrudin Alawi; Lalu Ibrohim Burhan
CENDEKIA : Jurnal Pendidikan Terintegrasi Vol. 1 No. 3 (2025): Transformasi Pendidikan Inklusif Berbasis Kearifan Lokal dan Digitalisasi Pembe
Publisher : PT. LIB Research Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63982/cendekia.dkqwzq91

Abstract

Dalam konteks pendidikan global yang semakin multikultural, peran budaya sekolah sebagai ekosistem pembentuk karakter memperoleh perhatian strategis, namun sejumlah studi sebelumnya masih menitikberatkan pada dimensi pedagogis sehingga keterkaitan sistemik antara struktur budaya sekolah dan pembentukan integritas belum terpetakan secara komprehensif. Kesenjangan pengetahuan ini terutama terlihat pada sekolah-sekolah dengan keberagaman etnis dan agama tinggi, di mana mekanisme pembentukan integritas membutuhkan pemahaman yang lebih mendalam atas dinamika nilai, interaksi sosial, dan praktik institusional. Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi pengaruh elemen-elemen budaya sekolah terhadap penguatan karakter integritas siswa SMA pada konteks multikultural. Studi ini menggunakan desain mixed methods sequential explanatory, melibatkan survei kuantitatif terhadap 210 siswa dan pendalaman kualitatif melalui wawancara serta observasi etnografis di tiga sekolah multikultural. Hasil menunjukkan bahwa keteladanan moral guru, norma kejujuran akademik, dan interaksi multikultural terarah merupakan faktor signifikan yang menjelaskan variasi integritas siswa, dengan model kuantitatif mencapai kontribusi 46,2%. Data kualitatif mengonfirmasi konsistensi temuan melalui pola praktik dan frekuensi kemunculan tema. Penelitian ini menunjukkan bahwa integritas siswa diperkuat melalui kombinasi legitimasi moral, struktur norma, dan kualitas interaksi sosial yang dirancang secara sadar. Temuan memperluas pengembangan teori budaya sekolah dan pendidikan karakter dengan memasukkan konteks multikultural sebagai komponen kunci, serta memberikan implikasi praktis bagi perancangan kebijakan dan lingkungan fisik sekolah yang mendukung internalisasi nilai karakter. Abstract In increasingly multicultural educational environments, school culture has gained strategic relevance as a formative ecosystem for character development; however, prior research has predominantly focused on pedagogical practices, leaving the systemic linkages between cultural structures and student integrity insufficiently explored. This knowledge gap is particularly evident in highly diverse schools, where the mechanisms shaping integrity require deeper examination of institutional norms, social interactions, and shared values. This study aimed to investigate the influence of key school culture elements on strengthening senior high school students’ integrity within multicultural contexts. A sequential explanatory mixed-methods design was employed, consisting of a quantitative survey of 210 students followed by qualitative inquiry through interviews and ethnographic observations across three multicultural schools. Results indicated that teacher moral modelling, academic honesty norms, and guided multicultural interaction were the principal factors significantly associated with student integrity, with the structural model explaining 46.2% of variance. Qualitative findings corroborated the quantitative results by documenting consistent behavioural patterns and thematic frequencies. The study demonstrates that integrity formation is reinforced through a combination of moral legitimacy, normative structures, and intentionally designed multicultural interactions. These findings advance the Theory of School Culture and Character Education Theory by integrating multicultural dynamics as a core explanatory component and offer practical implications for policy design and the engineering of school environments that facilitate value internalisation.
Model Pengukuran Kolaborasi Berbasis Rubrik Komprehensif untuk Menilai Efektivitas PjBL pada Mahasiswa Teknik di Era Industri 4.0 Lalu Ibrohim Burhan
CENDEKIA : Jurnal Pendidikan Terintegrasi Vol. 1 No. 3 (2025): Transformasi Pendidikan Inklusif Berbasis Kearifan Lokal dan Digitalisasi Pembe
Publisher : PT. LIB Research Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63982/cendekia.7qx8w897

Abstract

Transformasi pendidikan tinggi pada era Revolusi Industri 4.0 menuntut model pembelajaran yang mampu mengembangkan keterampilan kolaboratif secara sistematis, namun penelitian sebelumnya masih didominasi penilaian subjektif dan belum menyediakan bukti kuantitatif yang kuat pada mahasiswa pendidikan teknik. Kesenjangan ini menunjukkan perlunya evaluasi empiris yang terukur untuk memahami efektivitas Project-Based Learning (PjBL) dalam konteks pembelajaran berbasis teknologi. Penelitian ini bertujuan mengukur efektivitas PjBL dalam meningkatkan keterampilan kolaboratif mahasiswa melalui desain eksperimen kuasi pre–post test. Pengumpulan data dilakukan pada mahasiswa program pendidikan teknik menggunakan rubrik kolaborasi komprehensif, lembar observasi, dan kuesioner persepsi, kemudian dianalisis menggunakan uji statistik parametrik dan normalized gain. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan keterampilan kolaboratif sebesar 19,26 poin (30,96%) dengan normalized gain 0,51, serta kontribusi tertinggi berasal dari pembagian peran (34,1%), monitoring mingguan (29,4%), dan evaluasi sejawat (22,7%). Persepsi mahasiswa juga positif dengan skor rata-rata 4,31. Temuan ini menegaskan bahwa PjBL efektif memperkuat interaksi kolaboratif dan kualitas kontribusi teknis mahasiswa. Penelitian ini berkontribusi pada penguatan landasan teoretis dan metodologis dalam evaluasi PjBL serta memberikan implikasi praktis bagi pengembangan kurikulum teknik di era pembelajaran digital.   Abstract Higher education transformation in the Fourth Industrial Revolution requires instructional models that systematically foster collaborative skills; however, prior studies have relied heavily on subjective assessments and lack robust quantitative evidence, particularly within engineering education programs. This gap highlights the need for empirical, measurable evaluations of the effectiveness of Project-Based Learning (PjBL) in technology-enhanced learning environments. This study aimed to assess the efficacy of PjBL in improving students' collaborative skills using a quasi-experimental pre–post test design. Data were collected from engineering education students through a comprehensive collaboration rubric, structured observation sheets, and perception questionnaires, and analyzed using parametric statistics and normalized gain. The findings showed a 19.26-point improvement (30.96%) in collaborative skills, with a normalized gain of 0.51. The most significant contributions came from role distribution (34.1%), weekly monitoring (29.4%), and peer evaluation (22.7%). Student perceptions were also positive, with an overall score of 4.31. These results demonstrate that PjBL effectively strengthens collaborative interaction and enhances the quality of students' technical contributions. The study contributes to refining theoretical and methodological foundations for evaluating PjBL and provides practical implications for curriculum development in engineering education within digital learning ecosystems.
Pemetaan Kompetensi Pedagogik Guru Pemula pada Implementasi Kurikulum Merdeka: Studi Kualitatif Multi-Kasus di Sekolah Dasar Muhammad Salabi; Lalu Ibrohim Burhan
CENDEKIA : Jurnal Pendidikan Terintegrasi Vol. 1 No. 3 (2025): Transformasi Pendidikan Inklusif Berbasis Kearifan Lokal dan Digitalisasi Pembe
Publisher : PT. LIB Research Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63982/cendekia.bj5k0y46

Abstract

Implementasi Kurikulum Merdeka menuntut guru pemula untuk mengembangkan kompetensi pedagogik yang adaptif, namun penelitian sebelumnya lebih menitikberatkan pada kesiapan mengajar secara umum tanpa menelaah bagaimana kompetensi tersebut terwujud dalam praktik diferensiasi dan asesmen formatif. Kesenjangan ini menunjukkan perlunya kajian empiris yang menilai secara langsung kemampuan guru pemula dalam merespons tuntutan kurikulum baru. Penelitian ini bertujuan menganalisis kompetensi pedagogik guru pemula pada implementasi Kurikulum Merdeka di sekolah dasar. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif multi-kasus di tiga sekolah dasar, melibatkan enam guru pemula, dengan pengumpulan data melalui observasi kelas, analisis 18 dokumen pembelajaran, dan wawancara mendalam. Analisis dilakukan menggunakan thematic cross-case analysis berbantu perangkat lunak NVivo. Hasil menunjukkan bahwa kompetensi pedagogik berada pada kategori berkembang, dengan ketidakkonsistenan pada keselarasan tujuan pembelajaran dengan Capaian Pembelajaran, keterbatasan diferensiasi (15–45 persen), dan variasi asesmen formatif yang belum sistematis. Guru pemula juga menunjukkan kebutuhan tinggi terhadap dukungan profesional. Studi ini menegaskan bahwa integrasi komponen Pedagogical Content Knowledge belum stabil pada guru pemula, dan dukungan belajar dewasa diperlukan untuk mempercepat pembentukan identitas profesional mereka. Temuan ini memberikan kontribusi teoretis mengenai operasionalisasi PCK dalam konteks kurikulum fleksibel, serta kontribusi praktis bagi pengembangan program induksi, pelatihan diferensiasi, dan desain asesmen formatif dalam implementasi Kurikulum Merdeka. Abstract Implementing the Merdeka Curriculum requires novice teachers to exercise adaptive pedagogical competence. Yet prior studies have predominantly focused on general teaching readiness, without examining how this competence is enacted through differentiation and formative assessment practices. This gap underscores the need for empirical investigation into how novice teachers respond to the technical demands of the new curriculum. This study aimed to analyse novice teachers' pedagogical competence in implementing the Merdeka Curriculum in primary schools. A multi-case qualitative design was applied across three primary schools, involving six novice teachers, with data collected through classroom observations, analysis of 18 instructional documents, and in-depth interviews. The data were analysed using thematic cross-case analysis supported by NVivo. Findings indicated that pedagogical competence was developing but inconsistent, particularly in the alignment of instructional goals with learning outcomes, the limited presence of differentiation (15–45 percent), and uneven formative assessment practices. Novice teachers also demonstrated a high need for professional support. The study shows that components of Pedagogical Content Knowledge are not yet fully integrated among novice teachers, and adult-learning–oriented professional support is essential to strengthen their emerging professional identities. These findings contribute theoretically by refining the operationalisation of PCK within a flexible curriculum context, and practically by informing induction programmes, differentiation training, and the design of formative assessment for the Merdeka Curriculum implementation.