Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Mewujudkan Kota Smart City Melalui Peraturan Hukum Untuk Pejalan Kaki Dalam Perencanaan Transportasi Berkelanjutan Aldi Pebrian; Aullia Vivi Yulianingrum; Surahman, Surahman; Hasmiati, Rahmatullah Ayu
Hukum dan Masyarakat Madani Vol. 15 No. 2 (2025): November
Publisher : Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/humani.v15i2.12684

Abstract

Sebuah studi dari Universitas Stanford menunjukkan bahwa Indonesia menempati peringkat terakhir sebagai negara dengan rata-rata jumlah langkah harian terendah dalam survei selama 68 hari. Menurut Ernawati Hendrakusumah, hal ini disebabkan oleh infrastruktur yang belum memadai. Padahal, berjalan kaki dapat meningkatkan interaksi sosial serta menciptakan kesan kota yang ramah dan berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan metode normatif dengan mengkaji teori, konsep, serta peraturan perundang-undangan. Penelitian normatif bertujuan mengidentifikasi definisi, konsep, dan prinsip hukum.Walkability mempertimbangkan beberapa parameter, seperti kualitas fasilitas, konektivitas jalur, kondisi jalan, pola penggunaan lahan, dukungan masyarakat, kenyamanan, dan rasa aman. Berdasarkan indeks walkability global, komponen pendukungnya meliputi keselamatan, kenyamanan pejalan kaki, serta keberadaan regulasi hukum. Dalam Pasal 274 ayat (2) UU LLAJ, disebutkan ancaman pidana bagi pihak yang mengganggu fungsi sarana jalan, dengan hukuman penjara maksimal satu tahun atau denda hingga dua puluh juta rupiah.Pejalan kaki dapat dikategorikan menjadi pejalan penuh, pengguna kendaraan pribadi, dan pengguna transportasi umum. Indikator walkability mencakup infrastruktur, aksesibilitas, daya tarik, kenyamanan, pemerataan, dan keselamatan. Pemerintah daerah menghadapi berbagai tantangan dalam membangun infrastruktur pejalan kaki berbasis kota pintar, seperti keterbatasan anggaran, minimnya fasilitas, rendahnya kesadaran publik, serta lemahnya perencanaan. Terdapat kekosongan hukum mengenai hak pejalan kaki dalam konteks kota pintar, sehingga dibutuhkan produk hukum dan sistem teknologi informasi terpadu untuk menjamin perlindungan hak pejalan kaki di era modern
THE ENFORCEMENT OF THE LAND REGULATORY FRAMEWORK AGAINST ABANDONED AND ABSENTEE LAND Kholil, Muhammad; Hasmiati, Rahmatullah Ayu; Elviandri; Surahman
Awang Long Law Review Vol. 7 No. 2 (2025): Awang Long Law Review
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Awang Long

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56301/awl.v7i2.1942

Abstract

This research is motivated by the increasing problem of abandoned land and absentee land, which indicates the ineffective enforcement of the land regulatory framework despite the comprehensive formulation of normative frameworks such as the Basic Agrarian Law (UUPA), Government Regulation No. 20 of 2021, and Regulation of the Minister of Agrarian Affairs and Spatial Planning/National Land Agency (BPN) No. 20 of 2021. Uncultivated land and agricultural land ownership by owners not domiciled in the area result in inefficient use of space, increase the risk of agrarian conflict, and reduce the social function of land, as seen in Jonggon Jaya Village. This research aims to analyze the effectiveness of land regulatory framework enforcement, identify legal and administrative factors that hinder the handling of abandoned land and absentee land, and formulate strategies and formulations for strengthening the legal framework that is more responsive to local agrarian dynamics. The method used was sociological juridical research, combining normative analysis of land regulations with empirical findings through interviews, field observations, and review of land administration documents. These were then analyzed using Lawrence M. Friedman's legal system theory (structure, substance, and legal culture). The research results indicated that weaknesses in law enforcement stem from weak institutional capacity, fragmentation of legal substance, the absence of objective parameters for determining abandoned land, and low community compliance with land management obligations. To address these issues, this study offered five innovative policy formulations: the formulation of the Integrated Land Utilization Index (IULT), the development of Conditional Management Rights, the implementation of an electronic domicile verification system (E-DOM), the establishment of a Local Land Activation Fund, and the implementation of digital, electronically proven administrative protocols. These findings emphasize that strengthening the land regulatory framework requires synergy between normative reform, modernization of the administrative system, and strengthening of the community's legal culture to achieve sustainable agrarian justice.
Peran Hukum dalam Mendorong Efektivitas Program CSR Bankaltimtara terhadap Pemberdayaan Masyarakat Lokal Akhmad Sobyan; Meylinda Putriani; Aditya Nur Tio Sanda; Khayrul Rizal; Surahman
Jurnal Ilmu Multidisiplin Vol. 4 No. 2 (2025): Jurnal Ilmu Multidisplin (Juni–Juli 2025)
Publisher : Green Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/jim.v4i2.1119

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran hukum dalam mendorong efektivitas program Corporate Social Responsibility (CSR) Bankaltimtara terhadap pemberdayaan masyarakat lokal. CSR merupakan kewajiban moral dan hukum perusahaan untuk berkontribusi secara aktif terhadap pembangunan sosial dan ekonomi masyarakat sekitar. Namun, efektivitas pelaksanaan CSR sangat bergantung pada kerangka hukum yang mengaturnya. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dan pendekatan kualitatif dengan mengkaji peraturan perundang-undangan terkait CSR serta studi kasus implementasi CSR oleh Bankaltimtara di wilayah Kalimantan Timur dan Utara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa regulasi yang jelas dan tegas, seperti Undang-Undang Perseroan Terbatas dan peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), berperan penting dalam mendorong perusahaan untuk melaksanakan CSR secara berkelanjutan dan terarah. Di sisi lain, lemahnya pengawasan dan kurangnya partisipasi masyarakat lokal dalam perencanaan program menjadi kendala utama dalam pemberdayaan yang optimal. Penelitian ini merekomendasikan perlunya penguatan instrumen hukum CSR, pelibatan masyarakat dalam proses perencanaan dan evaluasi, serta sinergi antara pemerintah daerah dan sektor perbankan. Dengan demikian, program CSR tidak hanya menjadi kewajiban administratif, tetapi juga menjadi sarana efektif dalam meningkatkan kesejahteraan dan kemandirian masyarakat lokal.
Pathways to Higher Education: The Role of Learning Culture, Achievement Motivation, and Family Environment in Shaping College Aspirations Umi Fitria; Enny Kartini; Surahman Surahman
AL-ISHLAH: Jurnal Pendidikan Vol 17, No 3 (2025): SEPTEMBER 2025
Publisher : STAI Hubbulwathan Duri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35445/alishlah.v17i3.7151

Abstract

Higher education plays a critical role in enhancing cognitive and non-cognitive skills, supporting workforce competitiveness in the digital era. However, in Indonesia, particularly East Kalimantan, student interest in pursuing tertiary education remains low. This study investigates how learning culture, need for achievement, and family environment influence students' interest in continuing to higher education, with learning motivation examined as a potential mediating variable. A quantitative approach was employed using a survey method. The population comprised 1,562 twelfth-grade students from five public high schools in Samarinda, East Kalimantan. A sample of 410 respondents was selected through proportional random sampling. Data were collected using validated Likert-scale questionnaires and analyzed using Structural Equation Modeling (SEM) via LISREL. Findings revealed that both learning culture and need for achievement have significant direct effects on students' interest in continuing their studies. Family environment, however, did not exhibit a direct influence. Learning motivation was significantly affected by need for achievement and family environment but did not significantly mediate the relationship between learning culture or need for achievement and students' interest in pursuing higher education. It was only a significant mediator in the case of family environment. The study concludes that fostering a strong learning culture and nurturing students’ achievement motivation are key drivers of higher education aspirations. While family environment plays an indirect role, learning motivation is not a universal mediator. These findings offer practical implications for educators and policymakers to strengthen school-based and motivational interventions targeting college readiness and access.
Local Wisdom and Justice Principles in Musyarakah Mutanaqisah Financing Law at Sharia Bankaltimtara Herman, Akhmad Sobyan; Yulianingrum, Aullia Vivi; Elviandri; Surahman
AL-MANHAJ: Jurnal Hukum dan Pranata Sosial Islam Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Syariah INSURI Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37680/almanhaj.v7i2.8007

Abstract

This study aims to analyze the integration of local wisdom and the principle of substantive justice in the financing practice of Musyarakah Mutanaqisah (MMQ) in Bankaltimtara Syariah, East Kalimantan. The central problem is the empirical-normative gap between formal sharia compliance (Sharia Compliance) and the effectiveness of integrating local wisdom (deliberation, cooperation) as an instrument of social law. Using a socio-legal approach (sociological jurisprudence with a descriptive qualitative method), this study is supported by the triangulation of data from in-depth interviews, observations, and document studies. The theoretical significance confirms that Islamic banking practices operate within a legal pluralist framework, demonstrating that the integration of local wisdom serves as a social mechanism of compliance, thereby strengthening the legitimacy of Islamic law. Results show that the integration of local values has been proven to strengthen customer compliance and realize distributive justice through proportional risk sharing and contract transparency. Substantive justice is achieved through dialogue-based dispute resolution and flexible payment options. Effective MMQ governance requires an adaptive and contextual model that prioritizes the principles of raḥmah and adl, ensuring the well-being of customers (hifz al-nafs and hifz al-māl) and the sustainability of partnerships, going beyond formal compliance.
Tinjauan Yuridis Pertanggungjawaban Hukum Terhadap Anak Sebagai Pelaku Tindak Pidana Pengedar Narkotika (Dalam Putusan Nomor 24/Pid.Sus.Anak/2022/Pn.Smr) Sayid Muhammad Riziq; Surahman
Unizar Law Review Vol. 7 No. 2 (2024): Unizar Law Review
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Islam Al-Azhar Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36679/ulr.v7i2.74

Abstract

Narkotika menjadi masalah yang selalu menghantui semua kalangan dari dewasa hingga anak-anak. Keberadaan anak yang diistimewakan perlakuannya didalam hukum seringkali dimanfaatkan para pelaku tindak pidana narkotika terutama sebagai kurir atau pengedar (pelaku tindak pidana pengedaran narkotika). Penerapan pemidanaan terhadap anak sering menimbulkan perdebatan, karena pada hal ini mempunyai konsekuensi yang luas pun menyangkut perilaku maupun stigma pada masyarakat dan pun pada diri anak itu, Disatu sisi banyak pihak yang menganggap menjatuhkan pidana bagi anak yakni tak bijak, tapi ada sebagian yang berasumsi pidana pada anak perlu guna dilakukan agar sikap negatif anak tak berlanjut disaat dewasa nanti, pada artian agar memberikan efek jera pada anak. Tujuan penelitian ini merupakan menjelaskan tentang pertanggungjawaban hukum anak sebagai pelaku tindak pidana pengedar narkotika pada sistem peradilan anak di Indonesia, guna mengetahui faktor-faktor penyebab anak melakukan tindak pidana pengedar narkotika, serta agar mengetahui serta menganalisis bagaimana pertimbangan hakim di menjatuhkan putusan terhadap anak menjadi pelaku tindak pidana pengedar narkotika di masalah Putusan nomor 24/Pid.Sus Anak/2022/PN Smr. Metode yg diterapkan pada penelitian ini yakni metode penelitian hukum normatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Majelis hakim pada menjatuhkan putusan nomor 24/Pid.Sus Anak/2022/PN telah tepat dengan menerapkan pasal 114 ayat (1) Undang Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika namun, diperlukan sanksi tertentu yang diberikan pada pelaku anak untuk memberi efek jera agar tidak mengulang perbuatan yang sama dikemudian hari. Pemberian sanksi tetap memperhatikan hak-hak dan kepentingan terbaik untuk anak.
Corporate Social Responbility CSR Partisipatif untuk UMKM dan Lingkungan Berkelanjutan Desa Sungai Meriam Surahman, Surahman; Yulianingrum, Aulia Vivi; Hasmiati, Rahmatullah Ayu; Anatasyah, Clerine Clarisa; Pebrian, Aldi
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara Vol. 7 No. 1 (2026): Edisi Januari - April
Publisher : Lembaga Dongan Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55338/jpkmn.v7i1.8385

Abstract

Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat Desa Sungai Meriam, Kecamatan Anggana, mengenai peran Corporate Social Responsibility (CSR) sebagai instrumen hukum dan sosial dalam pemberdayaan ekonomi kreatif serta pelestarian lingkungan berkelanjutan. Permasalahan utama yang dihadapi mitra adalah rendahnya literasi CSR, keterbatasan kapasitas pelaku UMKM kreatif, serta minimnya sinergi antara masyarakat, perusahaan, dan pemerintah desa. Metode pengabdian dilaksanakan melalui pendekatan edukatif-partisipatif berupa penyuluhan hukum CSR, diskusi interaktif, studi kasus Green CSR, dan simulasi perancangan aksi CSR berbasis desa. Kegiatan dilaksanakan pada November 2025 dengan melibatkan 27 peserta yang terdiri atas pelaku UMKM, petani, karang taruna, dan ibu rumah tangga. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman masyarakat terhadap dasar hukum CSR, prinsip triple bottom line (profit, people, planet), serta pentingnya kolaborasi multipihak dalam pelaksanaan CSR yang berkelanjutan. Partisipasi aktif masyarakat selama kegiatan mencerminkan tumbuhnya kesadaran bahwa CSR bukan sekadar bantuan filantropi, melainkan instrumen strategis untuk pembangunan desa berkelanjutan. Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal dalam memperkuat praktik CSR yang inklusif dan berorientasi pada pemberdayaan ekonomi kreatif serta perlindungan lingkungan desa.
Juridical Analysis of the Duality of Cryptocurrency Status as a Payment Instrument and Investment Commodity in Indonesian Regulation Gilvina Grace B.A.; Muhammad Nurcholis Alhadi; Surahman Surahman; Elviandri Elviandri
LITERACY : International Scientific Journals of Social, Education, Humanities Vol. 4 No. 1 (2025): April : International Scientific Journals of Social, Education, Humanities
Publisher : Badan Penerbit STIEPARI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56910/literacy.v4i1.1998

Abstract

Cryptocurrency has emerged as a global innovation since the launch of Bitcoin in 2009, underpinned by blockchain technology that offers enhanced efficiency and transparency. Despite its potential, cryptocurrency presents complex legal challenges, particularly concerning its regulatory status. In Indonesia, cryptocurrency faces a dual regulatory framework: it is prohibited as a means of payment by Bank Indonesia pursuant to Law No. 7 of 2011 on Currency, yet simultaneously recognized as a tradable investment commodity by the Commodity Futures Trading Regulatory Agency (Bappebti). This study aims to analyze the implications of this duality for Indonesia’s national regulatory system. Using normative legal research and a statutory approach, the study reveals significant legal uncertainty arising from institutional regulatory inconsistencies. Such uncertainty may impede innovation and compromise consumer protection. Therefore, regulatory harmonization is essential to ensure legal certainty and adaptability, drawing on the theories of legal certainty and progressive law.
Juridical Analysis of Violation of Core-Plasma Partnership Agreement of Palm Oil Plantation Between PT Hardaya Inti Plantation and Plasma Amanah Farmers Cooperative (Case Study of KPPU Decision No. 02/KPPU-K/2023) Syarief Hidayatullah; Surahman Surahman; Muhammad Nurcholis Alhadi; Elviandri Elviandri
LITERACY : International Scientific Journals of Social, Education, Humanities Vol. 4 No. 1 (2025): April : International Scientific Journals of Social, Education, Humanities
Publisher : Badan Penerbit STIEPARI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56910/literacy.v4i1.1999

Abstract

The inti-plasma partnership scheme in the oil palm plantation sector aims to create a mutually beneficial relationship between large companies (nucleus) and smallholders (plasma). However, in practice, there are often inequalities that cause plasma farmers to lose control over their businesses. This research analyzes the violation of the partnership agreement between PT Hardaya Inti Plantations (PT HIP) and Koperasi Tani Plasma Amanah as decided in KPPU Decision No. 02/KPPU-K/2023. The focus of the analysis includes the forms of juridical, financial, and operational control that PT HIP exercised over the cooperative, as well as the legal implications based on Jeremy Bentham's theories of civil law, competition, and justice. The results show that PT HIP has abused its dominant position by fully controlling the partnership agreement, limiting cooperatives' access to decision-making, and implementing non-transparent financial practices. KPPU has imposed administrative sanctions in the form of an agreement addendum obligation, an independent audit, and a fine of Rp1,000,000,000.00. However, an evaluation of this decision indicates that the sanction has not fully provided substantive justice for plasma farmers, given the absence of a direct compensation mechanism. Therefore, there is a need to strengthen regulations and implement more effective monitoring and law enforcement mechanisms to ensure fairer and more sustainable partnership relationships in the oil palm plantation industry in Indonesia.
Analisis Yuridis Prinsip Single Economic Entity dalam Notifikasi Akuisisi Saham PT Tamaris Hidro Surahman Surahman; Dhaifa Nisrina; Marwah M. Idris; M. Jordi Primasakti; Muhammad Ananda; Muhammad Mirza Rohadi; Nurul Zahwany; Ria Wanda Karmelia Noor; Safira Dina Fakhirah; Siskawati Melinda Rifiyanti; Sri Kandy; Tri Aulia Akbar; M. Rezy Abdurrahman
Journal Of Business, Finance, and Economics (JBFE) Vol 6 No 1 (2025): Juni : Journal Of Business, Finance, and Economics (JBFE)
Publisher : Universitas Veteran Bangun Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/jbfe.v6i1.6810

Abstract

Fair business competition is guaranteed in Law Number 5 of 1999, including the obligation to notify mergers or acquisitions. However, the case of PT Tamaris Hidro vs. KPPU highlights the ambiguity in this regulation, especially regarding the application of the Single Economic Entity Doctrine. PT Tamaris Hidro argued that the notification obligation had been fulfilled by PT Patria Bakti Abadi, but the KPPU rejected the claim and imposed a fine of IDR 10 billion. This study uses a normative legal approach to analyze the legal basis in decision Number 4/Pdt.Sus-KPPU/2024/PN.Niaga Jkt Pst. The results of the study show that the KPPU regulation has not accommodated business entities with complex ownership structures. As a result, parent companies are still required to make separate notifications, even though they are in the same business group. The implications of this finding emphasize the need to revise the KPPU regulation to be more adaptive to the dynamics of modern business. This study recommends further research on the application of the Single Economic Entity Doctrine in competition law in Indonesia.