Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Di Balik Metafora Lavender Marriage: Penyamaran Identitas dan Luka Tersembunyi Pasangan Heteroseksual Olivia Sabrina Azlan; Labitta Chaya Hanifa; Dhuha Hadiyansyah
Prosiding Seminar Nasional Pemberdayaan Masyarakat (SENDAMAS) Vol 5, No 1 (2025): Desember 2025
Publisher : UniversitasAl Azhar Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36722/psn.v5i1.4895

Abstract

- Fenomena lavender marriage muncul sebagai respons terhadap tekanan sosial yang menuntut konformitas terhadap norma heteronormatif di masyarakat modern. Dalam budaya yang menstigma identitas queer, pernikahan semu antara individu queer dan pasangan heteroseksual digunakan sebagai strategi sosial untuk mempertahankan citra diri yang dianggap dapat diterima oleh lingkungan sosial. Penelitian ini bertujuan mengkaji bagaimana metafora lavender marriage merepresentasikan praktik penyamaran identitas queer serta dampaknya terhadap pasangan heteroseksual yang terlibat di dalamnya. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif untuk menggali makna, pengalaman, dan interpretasi yang berkaitan dengan fenomena sosial tersebut. Data diperoleh melalui studi literatur, analisis konten kanal YouTube Jessica Kellgren-Fozard dan Spacey Aces yang membahas sejarah serta simbolisme warna lavender dalam komunitas queer, dan wawancara mendalam dengan fasilitator di Sekolah Rekonsiliasi Pernikahan. Analisis dilakukan menggunakan teori metafora konseptual Lakoff dan Johnson dengan mengidentifikasi hubungan antara ranah sumber dan ranah sasaran dalam istilah lavender marriage. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metafora ini memetakan citra lavender yang lembut dan samar dengan konsep orientasi seksual tersembunyi, namun juga menyingkap realitas getir berupa tekanan emosional, kehilangan keintiman, dan stigma sosial yang mendalam. Penelitian ini menyimpulkan bahwa lavender marriage merupakan strategi penyamaran queer yang dilegitimasi sosial, namun menyisakan luka batin mendalam bagi pasangan yang terlibat.Kata Kunci - Heteroseksual, Lavender Marriage, Metafora Konseptual, Pernikahan Berduri, Queer
THE EXPERIENCE OF STIGMA: THE DYNAMICS OF LIPSTICK BANS IN SCHOOLS Dhuha Hadiyansyah
Marwah: Jurnal Perempuan, Agama dan Jender Vol. 25 No. 1 (2026): MARWAH
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study explores adolescent girls' experiences with the stigma and prohibition of lipstick use in schools through a qualitative lens. Using a case study method and in-depth interviews with 10 young women aged 18–22 in Jabodetabek, the research is grounded in Eagly's Social Role Theory and analyzed thematically. Findings reveal that the lipstick ban reflects efforts to maintain traditional gender roles, where academic focus is prioritized over personal expression through appearance. Teachers’ bans and parental directives show how gender norms are reinforced in both school and home environments. The stigma from peers and educators illustrates how social expectations about female appearance shape interactions and self-perception. However, the absence of stigma in some cases indicates varying levels of social acceptance and suggests shifting, more flexible norms. Respondents were divided: some supported the ban for preserving academic focus, while others saw it as a limitation on personal expression. These perspectives highlight the tension between conformity to traditional roles and the desire for self-expression. Overall, the study underscores how gender expectations shape students' experiences of cosmetic use and how evolving social values may influence the perception and acceptance of such school policies.