Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

Mengajarkan Pendidikan Karakter Melalui Matius 5:6-12 Noh Ibrahim Boiliu; Aeron Frior Sihombing; Christina M. Samosir; Fredy Simanjuntak
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 6, No 1 (2020): April 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v6i1.128

Abstract

The background of the problem in this study is the occurrence of changes in the current generation due to mass media that change the mindsets, behavior, and habits of today's youth, accompanied by education that tends to be based on knowledge or cognitive. All of this will result in humans not being human. Thus, character education offered by Jesus in a happy speech at the Sermon on the Mount is character-based education centered on the imitation of Christ, which is to follow in the footsteps or steps of Christ in the lives of Indonesian Christian students. This framework of thought or world view is what Christian Character education is. Thus, this research will use an asynchronous method that is to exegete what is said in the text of Matthew 5:6-12. Abstrak Latar belakang dari masalah dalam penelitian ini adalah terjadinya perubahan pada generasi saat ini karena media massa yang mengubah pola pikir, perilaku, dan kebiasaan pemuda saat ini, disertai dengan pendidikan yang cenderung didasarkan pada pengetahuan atau kognitif. Semua ini akan meng-akibatkan manusia tidak manusia. Dengan demikian, pendidikan karakter yang diajarkan Yesus melalui khotbah ucapan bahagia di bukit merupakan pengajaran berbasis karakter yang berpusat pada meniru Kristus, yang mengikuti jejak atau langkah Kristus dalam kehidupan siswa Kristen Indonesia. Kerangka pemikiran atau pandangan dunia ini adalah apa yang pendidikan karakter Kristen. Dengan demikian, penelitian ini akan menggunakan metode asynchronous yaitu untuk penafsir apa yang dikatakan dalam teks Matius 5:6-12.
Program Tutorial Mata Kuliah Etika Kristen sebagai Pembentukan Konsep Diri Mahasiswa Esther Rela Intarti; Noh Ibrahim Boiliu
Jurnal Basicedu Vol 6, No 1 (2022): February, Pages 1-1500
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/basicedu.v6i1.1721

Abstract

Dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab sebagai institusi pendidikan, Universitas Kristen Indonesia (UKI) tentu dituntut untuk mendidik para mahasiswa agar para mahasiswa dapat menjadi manusia yang utuh, berilmu, cerdas, tangguh, dan berkarakter. Upaya untuk membangun manusia yang tangguh dan berkarakter ini sejalan dengan nilai-nilai kekristenan yang seharusnya dipahami oleh para mahasiswa. Untuk mengimplementasikan nilai-nilai kristiani bagi para mahasiswa, Unit Pelayanan Kerohanian dan Konseling (UPKK)  UKI melalui mata kuliah Etika Kristen membuat program tutorial etika kristen yang bertujuan agar mahasiswa mengenali konsep diri dan memahami tujuan hidup yang bermakna sehingga menjadi manusia yang tangguh dan berkarakter sesuai dengan nilai-nilai kristiani. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui program tutorial etika Kristen dapat bermanfaat dan diterima oleh para mahasiswa Berdasarkan hasil analisis bahwa rancangan program tutorial mata kuliah Etika Kristen ini terstruktur dengan baik sehingga berdampak positif bagi para mahasiswa. Program tutorial mata kuliah Etika Kristen di UKI diperuntukkan bagi mahasiswa baru. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif.
Tinjauan Sosio Kultur tentang Posisi Anak dalam Keluarga Israel Kuno Noh Ibrahim Boiliu; Aeron F. Sihombing; Fibry J. Nugroho; Daud A. Pandie
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 4, No 2: November 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v4i2.195

Abstract

The strong ties of kinship that are built provide clues to the social processes that occur in early Israeli society. This includes education as a social process. The Israelites want children, especially boys, this is intended to perpetuate family lines and wealth, and to preserve ancestral heritage. Since the name defines or indicates the existence or essence means expressing the character and purpose carried. The name expresses hope. Boys are growing up to adulthood, so they are entrusted to their father. One of the most sacred duties of a father is to teach his children about the teachings of true religion.AbstrakKuatnya ikatan kekerabatan yang dibangun memberikan petunjuk pada proses sosial yang terjadi dalam masyarakat Israel. Termasuk di dalamnya pendidikan sebagai salah satu proses sosial. Bangsa Israel menginginkan anak terutama anak laki-laki, ini dimaksudkan untuk mengabadikan garis ke-luarga, dan untuk melestarikan warisan leluhur. Nama mendefinisikan atau menunjukkan keberadaan atau esensinya; nama mengungkapkan karakter dan tujuan yang diusung; nama mengekspresikan harapan. Anak laki-laki da-lam masa pertumbuhan untuk dewasa, dipercayakan kepada ayahnya. Salah satu tugas yang paling sakral dari seorang ayah adalah mengajar anaknya ten-tang ajaran agama yang benar
MISI PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DAN PROBLEM MORALITAS ANAK Noh Ibrahim Boiliu
Regula Fidei: Jurnal Pendidikan Agama Kristen Vol 1, No 1 (2016): Maret 2016
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Kristen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (604.651 KB)

Abstract

The purpose of this paper aims to discuss the educational mission of Christianity and morality of children. Christianity ecucation should not deny the moral element in the educational process. Christianity education should put morality as the main element. Education and morality of children is a serious problem and has a very long process of formation. The formation of the morality of children starting from birth to complete his education until he became involved in the community. The involvement is not limited to the implementation of academic but more about self actualitation which is not separate from the carriage, the values of religious belief, knowledge, skills and self-concepted of children. Abstrak: Tulisan ini bertujuan untuk membahas misi Pendidikan Agama Kristen dan moralitas anak. Pendidikan Agama Kristen tidak boleh menafikan unsur moral dalam proses pendidikan. Pendidikan Agama Kristen harus menempatkan moralitas sebagai unsur utama. Pendidikan dan persoalan moralitas anak merupakan persoalan yang serius dan memiliki proses pembentukan yang sangat panjang. Pembentukan moralitas anak dimulai dari sejak lahir hingga menyelesaikan pendidikannya sampai akhirnya terlibat dalam masyarakat. Keterlibatan tersebut tidak terbatas pada implementasi akademis yang dimiliki tetapi dalam aktualisasi diri yang tidak terpisah dari sikap diri, nilai-nilai agama yang diyakini, pengetahuan, keterampilan, dan konsep diri anak.
SUMBANGSIH FILAFAT BAGI PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DI INDONESIA Noh Ibrahim Boiliu
Regula Fidei: Jurnal Pendidikan Agama Kristen Vol 1, No 2 (2016): September 2016
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Kristen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (981.557 KB)

Abstract

Christian worldview is that the concept of the Christian world departs from God as ultimate reality. Creation theories not only put Christian concepts and worldview but also as a distinctive feature. Christian theism provides a theory of values consistent with theories of reality and knowledge. The Christian ethic is built on the belief that the reality of the creator is morally perfect and his creation shows a moral structure. His moral principles are meaningful and unchangeable because they reflect absolute moral reality. The contribution of philosophy to Christian education is methodological. Abstrak : Worldview Kristen adalah bahwa konsep dunia Kristen berangkat dari Allah sebagai ultimate reality sedangkan sebaliknya adalah berangkat dari pikiran manusia tentang alam semesta. Sehingga teori penciptaan tidak hanya meletakan konsep dan worldview Kristen tetapi sekaligus sebagai ciri. Teisme Kristen menyediakan sebuah teori tentang nilai yang konsisten dengan teori tentang realitas dan pengetahuan. Etika Kristen dibangun atas keyakinan bahwa realitas pencipta adalah moral sempurna dan ciptaanNya menunjukkan sebuah struktur moral. Prinsip moralNya adalah penuh makna dan takterubahkan sebab mereka merefleksikan realitas moral absolut. Sumbangsih filsafat bagi pendidikan Agama Kristen adalah secara metodologis.
PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN ANTISIPATIF RADIKALISME DALAM BERAGAMA DI INDONESIA Fredik Melkias Boiliu; Noh Ibrahim Boiliu; Esther Rela Intarti
Regula Fidei: Jurnal Pendidikan Agama Kristen Vol 4, No 2 (2019): September 2019
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Kristen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.755 KB) | DOI: 10.46307/rfidei.v4i2.37

Abstract

This article is an attempt to include Christian religious education as religious education that is antipative to radicalism in religion in Indonesia. Indonesia is a diverse country in religion, in this case, there are religious names that are recognized in the Indonesian nation. The six religions are Islam, Christianity, Catholicism, Hinduism, Buddhism, and Confucianism. Religious radicalism is an act of a person or group of people that is contrary to humanitarian principles on the basis of religious beliefs. With a tendency to justify, support, or tolerate understandings or actions that are contrary to humanitarian principles on the basis of claims of religious understanding. Seeing this phenomenon, then to overcome it must be through teaching religious education. Christian religious education is an appropriate religious education to anticipate the understanding of religious radicalism that is happening and will occur in the life of the community, through teaching Christian religious education in families, churches, schools and plural societies Artikel ini merupakan upaya untuk memasukan pendidikan agama Kristen sebagai pendidikan agama yang antipatif terhadap radikalisme dalam beragama di indonesia. Indonesia merupkan Negara yang beragam dalam beragama, dalam hal ini, ada enama agama yang di akui di bangsa Indonesia keenam agama tersebut adalah Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Konhucu. Radikalisme agama merupakan tindakan seseorang atau sekelompok orang yang bertentangan dengan prinsip-prinsip kemanusiaan atas dasar keyakinan agama. Dengan kecenderungan untuk membenarkan, mendukung, atau menoleransi paham atau tindakan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip kemanusiaan tersebut atas dasar klaim paham keagamaan. Melihat fenomena tersebut, maka untuk mengatasinya harus melalui pengajaran pendidikan agama. Pendidikan agama Kristen merupakan pendidikan agama yang tepat untuk mengantisipasi paham radikalisme agama yang sedang terjadi dan yang akan terjadi dalam kehidupam masyarakat, melalui pengajaran pendidikan agama Kristen di keluarga, gereja, sekolah dan masyarakat majemuk.
PENDEKATAN HORST DIETRICH PREUSS DAN GERHARD VON RAD DALAM METODOLOGI TEOLOGI PERJANJIAN LAMA Noh Ibrahim Boiliu; Otieli Harefa
Regula Fidei: Jurnal Pendidikan Agama Kristen Vol 4, No 1 (2019): Maret 2019
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Kristen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (442.869 KB)

Abstract

Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk melihat pendekatan yang digunakan Horst Dietrich Preuss dan Gerhard von Rad dalam Teologia Perjanjian Lama. Memilih salah satu metode pendekatan dalam Teologia Perjanjian Lama merupakan suatu keharusan. Dalam pendekatannya, Horst Dietrich Preuss memilih teologi yang sistematis dan terstruktur. Metode pendekatan yang digunakan dalam tulisan ini adalah menelaah metodologi Teologia Perjanjian Lama Gerhard von Rad dan setelah itu menganalisis metodologi Teologia Perjanjian Lama Horst Dietrich Preuss berdasarkan Buku Old Testament Theology. Volume 1, Kentucky: Westminster John Knox Press, 2007. Deskripsi terstruktur secara sistematis dapat memperlihatkan dan melihat gambaran secara keseluruhan baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, serta lebih kondusif bagi usaha hermeneutis. Preuss menerima kritik historis seperti yang disampaikan von Rad. Preus juga memperhatikan unsur koherensitas antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, sebab keduanya, teologi Perjanjian Lama dan Teologi Perjanjian Baru harus menjadi dasar teologi Kristen. Teologi Perjanjian Lama pasti harus membantu dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan teologis; juga harus mempertimbangkan keseluruhan spektrum teologi dalam pembentukan deskripsi sendiri, dan mengklarifikasi tempat Perjanjian Lama dalam teologi yang komprehensif. Dengan demikian, Preuss moderat dengan asumsi, Preuss ke arah pendekatan multipleks kanonik. Tidak hanya melihat sisi historisnya saja melainkan juga konteksnya baik dalam penerapan maupun perdebatan teologis kontemporer.
Program Tutorial Mata Kuliah Etika Kristen sebagai Pembentukan Konsep Diri Mahasiswa Esther Rela Intarti; Noh Ibrahim Boiliu
Jurnal Basicedu Vol 6, No 1 (2022): February, Pages 1-1500
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/basicedu.v6i1.1721

Abstract

Dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab sebagai institusi pendidikan, Universitas Kristen Indonesia (UKI) tentu dituntut untuk mendidik para mahasiswa agar para mahasiswa dapat menjadi manusia yang utuh, berilmu, cerdas, tangguh, dan berkarakter. Upaya untuk membangun manusia yang tangguh dan berkarakter ini sejalan dengan nilai-nilai kekristenan yang seharusnya dipahami oleh para mahasiswa. Untuk mengimplementasikan nilai-nilai kristiani bagi para mahasiswa, Unit Pelayanan Kerohanian dan Konseling (UPKK)  UKI melalui mata kuliah Etika Kristen membuat program tutorial etika kristen yang bertujuan agar mahasiswa mengenali konsep diri dan memahami tujuan hidup yang bermakna sehingga menjadi manusia yang tangguh dan berkarakter sesuai dengan nilai-nilai kristiani. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui program tutorial etika Kristen dapat bermanfaat dan diterima oleh para mahasiswa Berdasarkan hasil analisis bahwa rancangan program tutorial mata kuliah Etika Kristen ini terstruktur dengan baik sehingga berdampak positif bagi para mahasiswa. Program tutorial mata kuliah Etika Kristen di UKI diperuntukkan bagi mahasiswa baru. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif.
Perspektif Sistem Dalam Teknologi Pendidikan Tompul Tompul; Panuturi sitompul; Dina Meriana; Djoys Anneke Rantung; Noh Ibrahim Boiliu
Jurnal Pendidikan dan Konseling (JPDK) Vol. 5 No. 1 (2023): Jurnal Pendidikan dan Konseling
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jpdk.v5i1.11427

Abstract

Teknologi pendidikan mengacu pada penggunaan alat, teknologi, proses, prosedur, sumber daya, dan strategi untuk meningkatkan pengalaman belajar dalam berbagai pengaturan, seperti pembelajaran formal, pembelajaran informal, pembelajaran nonformal, pembelajaran sepanjang hayat, pembelajaran sesuai permintaan, pembelajaran di tempat kerja, dan pembelajaran tepat waktu Pendekatan teknologi pendidikan berevolusi dari penggunaan awal alat pengajaran dan telah berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir untuk memasukkan perangkat dan pendekatan seperti teknologi seluler, realitas virtual dan augmented, simulasi dan lingkungan imersif, pembelajaran kolaboratif, jejaring sosial, komputasi awan, flipped class room, dan lainnyaPenggunaan teknologi modern bukanlah kata asing. Begitu pula dengan masa training saat ini, yang bisa menjadi pelopor lahirnya teknologi. Sudah sewajarnya jika teknologi dapat digunakan di dalam kelas untuk memudahkan pelaksanaan kegiatan pembelajaran. Dari sinilah lahir istilah teknologi pendidikan. Teknologi pendidikan adalah proses yang kompleks dan terintegrasi yang melibatkan orang, proses, perangkat dan organisasi dalam analisis masalah dan pemecahan berbagai masalah yang mempengaruhi semua aspek pembelajaran manusiaBerdasarkan kajian di atas, maka disimpulkan bahwa perspektif system dalam teknologi pendidikan sangat berpengaruh dalam hal memberikan kemudahan dalam mengimplementasikan suatu system proses belajar secara nyata, tidak hanya pada perencanaan dan proses tetapi pada tataran pengelolaan, pemanfaatan, pengembangan, dan tahap penilaian.
Penerapan Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen Adaptif dalam Menghadapi Tantangan Teknologi Pendidikan Udin Firman Hidayat; Martha Megawati Pasaribu; Djoys Anneke Rantung; Noh Ibrahim Boiliu
Journal on Education Vol 5 No 2 (2023): Journal on Education: Volume 5 Nomor 2 Tahun 2023
Publisher : Departement of Mathematics Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joe.v5i2.1032

Abstract

Educational goals are important things that are pursued through the curriculum and the entire learning process in the classroom. Educators have a responsibility to be able to overcome every problem and challenges faced in the learning process. No exception in learning Christian Religious Education (PAK), educators must be able to develop learning that is relevant in overcoming the challenges. This research is an attempt to apply adaptive PAK learning as a solution to face the challenges of educational technology. Using descriptive qualitative research methods and a literature study approach, this research shows that adaptive PAK learning is implemented by developing alternative learning models, maximizing the functions and roles of KKG and MGMP, and strengthening collaboration between schools, churches, and families in organizing PAK