Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

Pembelajaran Transformatif Pendidikan Agama Kristen di Era Teknologi Digital Darti, Darti; Rantung, Djoys Anneke; Naibaho, Lamhot; Boiliu, Noh Ibrahim
Regula Fidei : Jurnal Pendidikan Agama Kristen Vol 8, No 2: September 2023
Publisher : Fakultas Ilmu Keguruan dan Pendidikan, Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/rfidei.v8i2.175

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memberikan sumbangsih pada dunia pendidikan khususnya Pendidikan Agama Kristen. Menghadapi era teknologi digital, guru Pendidikan Agama Kristen harus dapat melakukan transformasi dalam pembelajaran khususnya di sekolah. Upaya transformasi tersebut harus mampu memahami karakteristik generasi milenial dan generasi Z untuk menentukan strategi mengajar yang efektif. Melalui teori pembelajaran transformatif, guru Pendidikan Agama Kristen dapat mengadaptasi pemebelajaran transformatif bahwa dalam konteks Indonesia, transformasi pendidikan Kristen memiliki tujuan yaitu, mempromosikan ciri dari kewarganegaraan yang berilmu, serta menghayati identitas kebersamaan secara kolektif dalam satu kesatuan. Hal ini didasari karena pendidikan Kristen berasal dari, oleh dan untuk warga gereja dan pada saat yang sama merupakan warga negara, yang bersifat publik. Adapun metode yang digunakan dalam tulisan ini ialah metode literatur yaitu dengan menggali ide dan mengutip pendapat dari penulis buku serta artikel yang dapat menjadi acuan tulisan ini. Hasil dari penelitian ini penulis menyimpulkan bahwa tujuan utama PAK adalah membawa peserta didik untuk mengenal lebih dekat kepada kasih Allah dalam Kristus.
Manajemen Pendidikan Agama Kristen dalam Konflik di Gereja dan Keluarga Tjandraputra, Edwin Nugraha; Rantung, Dyoys Anneke; Naibaho, Lamhot; Boiliu, Noh Ibrahim
Regula Fidei : Jurnal Pendidikan Agama Kristen Vol 8, No 2: September 2023
Publisher : Fakultas Ilmu Keguruan dan Pendidikan, Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/rfidei.v8i2.196

Abstract

Manusia hidup tidak terlepas dari keberadaan orang lain, karena manusia akan terus berusaha untuk selalu menjalin interaksi dengan orang lain, baik itu berbicara, bertukar gagasan maupun berbagi pengalaman. Dalam interaksi manusia ini tidak jarang terjadinya konflik. Konflik ini bahkan bisa terjadi di dalam gereja dan juga dalam kehidupan keluarga. Konflik yang terjadi di dalam gereja dapat disebabkan oleh ketidakpuasan anggota jemaat (Internal) maupun disebabkan oleh orang lain (eksternal). Faktor internal misalkan manajemen/admistrasi gereja yang tidak jelas, laporan keuangan yang tidak transparan, program kerja dan kebijakan lainnya yang dianggap hanya menguntungkan individu atau kelompok tertentu. Faktor eksternal misalnya: masyarakat sekitar yang tidak setuju berdirinya gereja juga politik. Konflik yang terjadi di tengah gereja akan berdampak pada peribadahan yang tidak kondusif, anggota jemaat yang saling membenci, sampai akhirnya pelayanan di gereja tidak terlaksana dengan baik. Sedangkan konflik yang terjadi dalam keluarga misalnya konflik antara anak dan orang tua, konflik antara suami dan istri. Manajemen Pendidikan Agama Kristen memiliki peran untuk menghindari dan    menyelesaikan konflik yang terjadi dalam kehidupan gereja dan juga keluarga Kristen.
He Must Increase: An Exegetical Study of John 3:30 and Its Implications for Christian Educational Leadership Noh Ibrahim Boiliu
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 9 No. 1: June 2026
Publisher : Institut Kristen Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/xjt4p241

Abstract

Modern theological discourse and popular culture frequently generate various speculations concerning the identity of Jesus that do not always align with the theological witness of Scripture. Certain historical approaches tend to portray Jesus merely as a human figure within the context of first-century Judaism, thereby obscuring the Church’s confession of His divinity and messianic identity. In this context, the testimony of John the Baptist in John 3:30, “He must increase, but I must decrease,” serves as a significant text affirming the supremacy of Christ. Although this verse has been widely examined from Christological and spiritual perspectives, there remains a limited number of studies that specifically explore John 3:30 as a theological foundation for a leadership paradigm in Christian education. This gap in the literature constitutes the primary focus of the present study. The purpose of this research is to examine the theological meaning of John 3:30 through exegetical analysis and to formulate its implications for a Christ-centered model of leadership in Christian education. The novelty of this study lies in its effort to position John 3:30 as a paradigmatic foundation for Christian educational leadership oriented toward the supremacy of Christ, a perspective that has received limited attention in both theological and Christian educational scholarship. This research employs a library research method using an exegetical-theological approach. Data were collected through an analysis of the Greek text of John 3:30, an examination of the narrative context of John 3:22–36, and a critical review of relevant biblical, theological, and Christian leadership literature. The findings reveal that John 3:30 constitutes a theological confession of Christ’s supremacy within God’s plan of salvation. The Greek expression ekeinon dei auxanein, eme de elattousthai conveys a divine necessity whereby the glory and authority of Christ must increasingly be manifested, while the role of John the Baptist diminishes as part of the mission entrusted to him. Within the narrative framework of the Gospel of John, John the Baptist appears as a witness who directs attention to Christ as the center of God’s revelation. His testimony reflects a model of leadership characterized by humility, self-emptying, and an orientation toward the glory of Christ. This study contributes to the development of Christian educational leadership theory by affirming that authentic leadership authority is realized through a disposition that centers the entire educational process on Christ as the source, goal, and transformative center of learners. Abstrak Diskursus teologi modern dan budaya populer sering menghadirkan berbagai spekulasi mengenai identitas Yesus yang tidak selalu sejalan dengan kesaksian teologis Alkitab. Pendekatan historis tertentu kerap menempatkan Yesus hanya sebagai tokoh manusiawi dalam konteks sejarah Yudaisme abad pertama sehingga mengaburkan pengakuan iman gereja mengenai keilahian dan kemesiasan-Nya. Dalam konteks tersebut, kesaksian Yohanes Pembaptis dalam Yohanes 3:30, “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil,” menjadi teks penting yang menegaskan supremasi Kristus. Meskipun ayat ini telah banyak dikaji dalam perspektif kristologi dan spiritualitas, masih terdapat keterbatasan kajian yang secara khusus menelaah Yohanes 3:30 sebagai landasan teologis bagi paradigma kepemimpinan dalam pendidikan Kristen. Kekosongan literatur inilah yang menjadi fokus penelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah makna teologis Yohanes 3:30 melalui analisis eksegetis serta merumuskan implikasinya bagi konsep kepemimpinan yang berpusat pada Kristus dalam pendidikan Kristen. Kebaruan penelitian ini terletak pada upayanya menempatkan Yohanes 3:30 sebagai dasar paradigmatik kepemimpinan pendidikan Kristen yang berorientasi pada supremasi Kristus, suatu perspektif yang belum banyak dieksplorasi dalam literatur teologi maupun pendidikan Kristen. Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan (library research) dengan pendekatan eksegetis-teologis. Data diperoleh melalui analisis teks Yunani Yohanes 3:30, penelaahan konteks naratif Yohanes 3:22–36, serta kajian kritis terhadap literatur teologi biblika dan kepemimpinan Kristen yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Yohanes 3:30 merupakan pengakuan teologis tentang supremasi Kristus dalam rencana keselamatan Allah. Ungkapan Yunani ekeinon dei auxanein, eme de elattousthai menunjukkan suatu keharusan ilahi bahwa kemuliaan dan otoritas Kristus harus semakin dinyatakan, sementara peran Yohanes Pembaptis semakin berkurang sebagai bagian dari misi yang dipercayakan kepadanya. Dalam konteks naratif Injil Yohanes, Yohanes Pembaptis tampil sebagai saksi yang mengarahkan perhatian kepada Kristus sebagai pusat wahyu Allah. Kesaksiannya mencerminkan model kepemimpinan yang ditandai oleh kerendahan hati, pengosongan diri, dan orientasi pada kemuliaan Kristus. Temuan penelitian ini berkontribusi pada pengembangan teori kepemimpinan pendidikan Kristen dengan menegaskan bahwa otoritas kepemimpinan sejati diwujudkan melalui sikap yang memusatkan seluruh proses pendidikan pada Kristus sebagai sumber, tujuan, dan pusat transformasi peserta didik. 
PEMAHAMAN TEOLOGIS ORANG TUA KRISTEN TENTANG FORMASI IMAN ANAK DALAM KELUARGA DI GEREJA PROTESTAN MALUKU Christina Metallica Samosir; Noh Ibrahim Boiliu; Meike Lely Lewankoru; Ribka Ribka; Eklin Amtor de Fretes
Manna Rafflesia Vol. 12 No. 2 (2026): April
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38091/man_raf.v12i2.664

Abstract

This study examines Christian parents’ perceptions of children’s faith formation within the family as an expression of Christian faith praxis in the context of the Protestant Church of Maluku. The study is grounded in the theological understanding that the family serves as a primary space for nurturing faith across generations within the life of the church. This research employs a qualitative approach using descriptive-analytical methods through interviews and document analysis involving church families. Data were analyzed thematically within the framework of practical theology and family theology. The findings indicate that parents perceive children’s faith formation as a spiritual responsibility closely related to life example, family worship practices, and the internalization of Christian values in daily life. However, contextual dynamics influence these practices, including social change, digital challenges, and limited theological understanding among families. This study contributes to the development of practical theology discourse, particularly in the areas of family theology and intergenerational faith formation within the context of local churches in Indonesia. Theologically, this study reaffirms the importance of the family as an essential space of faith praxis in sustaining church life and shaping the spirituality of younger generations.