Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Theory in Determining Good and Bad in Human Actions Zaskia Adea Mika; Paujianur; Fatimatus Azahra Putri; Dita Riani; Ajahari
Al-Hukumah: Jurnal Ilmu Pemerintahan dan Studi Islam Vol. 2 No. 1 (2025)
Publisher : Konsultan Jurnal Ilmiah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63738/al-hukumah.v2i1.27

Abstract

The concepts of good and bad are essential in understanding human behavior and the moral values that govern society. These concepts are often used as benchmarks to evaluate an individual’s actions and determine whether such actions are socially acceptable. They have been integral to human life since ancient times and continue to develop alongside changes in social, cultural, and religious contexts. In daily life, individuals frequently encounter situations that require moral judgment; therefore, understanding the concepts of good and bad is crucial for making appropriate decisions and behaving in accordance with established moral values. Moreover, these concepts influence our relationships with society and those around us, shaping personal identity and character. Throughout history, various philosophers and ethicists have proposed theories to explain how the concepts of good and bad are formed and how they can guide moral decision-making. Among the most prominent are consequentialism, deontology, and virtue ethics. This journal discusses the theories and concepts of good and bad in relation to human actions and examines their practical application in everyday life. Understanding these concepts can enhance moral awareness and support better decision-making in various situations. In addition, this paper explores how factors such as culture, religion, and personal experience contribute to shaping individuals’ perceptions of good and bad. Thus, this journal aims to provide a deeper understanding of these moral concepts and their relevance to human behavior. It is also expected to serve as a reference for readers who wish to further study ethical theories and the foundations of moral evaluation.
Hubungan Antara Tasawuf, Teologi Islam, Filsafat, Ilmu Pendidikan Dan Psikologi Agama Ervinsa Augusta Jingga Malonda; Noor Lathifah; Nita Selpiyani; Ajahari
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 5 No. 2: Februari 2026
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v5i2.14146

Abstract

Abstract: Penelitian ini bertujuan untuk membahas hubungan antara tasawuf, teologi Islam, filsafat, ilmu pendidikan, dan psikologi agama sebagai lima disiplin ilmu yang saling berkaitan dalam memahami perkembangan manusia secara menyeluruh. Melalui metode penelitian kualitatif berbasis kajian kepustakaan, penelitian ini menelaah konsep-konsep kunci dari masing-masing bidang dan mengidentifikasi titik temu yang menghubungkan pendekatan spiritual, rasional, pedagogis, dan psikologis dalam kerangka keilmuan Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tasawuf memberikan fondasi penyucian jiwa dan penguatan akhlak, teologi Islam memperkuat keyakinan melalui argumentasi rasional, filsafat menata struktur berpikir kritis, ilmu pendidikan mengarahkan pembentukan karakter dan kecerdasan sosial, sedangkan psikologi agama menjelaskan dinamika mental-spiritual serta pengaruh pengalaman keagamaan terhadap perilaku manusia. Penelitian ini juga menemukan bahwa integrasi kelima disiplin tersebut memiliki relevansi besar dalam kehidupan umat Islam masa kini, terutama dalam menghadapi tantangan modern seperti krisis moral, tekanan psikologis, perubahan sosial, dan derasnya arus informasi. Integrasi pendekatan spiritual, intelektual, pedagogis, dan psikologis tersebut mampu memberikan solusi yang lebih komprehensif dalam membentuk pribadi muslim yang beriman, berakhlak, cerdas, dan stabil secara emosional. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa perpaduan tasawuf, teologi Islam, filsafat, pendidikan, dan psikologi agama merupakan landasan penting bagi pengembangan keilmuan Islam serta pembinaan manusia yang seimbang di era modern.
Tasawuf Akhlaki, Amali, Dan Falsafi: Analisis Konseptual Dan Relevansi Dalam Kehidupan Modern Fadel Muhamad Alfayed; Geo Andina; Sarmila Yanti; Ajahari
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 5 No. 2: Februari 2026
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v5i2.14290

Abstract

Kajian mengenai tasawuf akhlaki, amali, dan falsafi menjadi penting karena ketiganya menawarkan pendekatan spiritual yang berbeda dalam merespons persoalan moral dan krisis batin masyarakat modern. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka dengan pendekatan deskriptif-analitis melalui telaah mendalam terhadap literatur klasik dan kontemporer terkait tasawuf. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tasawuf akhlaki menekankan pembentukan moral melalui penyucian jiwa, tasawuf amali berfokus pada praktik ibadah dan riyadhah yang terstruktur, sedangkan tasawuf falsafi mengembangkan refleksi metafisik mengenai hakikat wujud dan relasi manusia dengan Tuhan. Ketiga tipologi tersebut memiliki relevansi signifikan dalam menghadirkan solusi spiritual terhadap degradasi moral, tekanan psikologis, dan disorientasi nilai di era modern. Dengan demikian, tasawuf dapat berfungsi sebagai pendekatan komprehensif untuk membangun karakter, memperkuat kecerdasan spiritual, dan memberikan makna hidup bagi manusia kontemporer.
Metode Irfani dalam Tasawuf Maqamat dan Ahwal Aida safitri; Nur Naila Nazwa; Hapasari; Ajahari
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 5 No. 2: Februari 2026
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v5i2.15859

Abstract

Artikel ini membahas metode irfani dalam tasawuf dengan menempatkan maqamat dan ahwal sebagai struktur utama pengalaman ruhani. Metode irfani dipahami sebagai cara mengetahui yang menekankan penyucian hati, sehingga makna agama tidak berhenti pada informasi, tetapi menjadi kesadaran yang mengubah akhlak. Maqamat dijelaskan sebagai jenjang yang dicapai melalui mujahadah dan riyadah, seperti taubat, wara, zuhud, sabar, tawakal, dan rida, yang membentuk konsistensi moral. Ahwal dipahami sebagai keadaan batin yang dianugerahkan, misalnya khauf, raja, mahabbah, syauq, dan tumaninah, yang datang dan pergi tanpa bisa dipaksakan. Relasi maqamat dan ahwal menunjukkan hubungan proses dan anugerah: maqamat menyiapkan kesiapan batin, sementara ahwal menguatkan dan menghidupkan perjalanan. Temuan konseptual artikel ini menegaskan perlunya kehati-hatian agar pengalaman irfani tidak berubah menjadi klaim subjektif, melainkan terukur melalui adab, kepatuhan syariat, dan dampak etis dalam kehidupan sosial kontemporer. Dengan demikian, tasawuf irfani dapat dibaca sebagai model pendidikan karakter yang relevan menghadapi distraksi digital dan krisis makna masa kini.