Claim Missing Document
Check
Articles

Found 38 Documents
Search

PENGGUNAAN MEDIA BONEKA UNTUK MENGEMBANGKAN KETERAMPILAN MENYIMAK ANAK TK DI KELOMPOK B Siti Rahmah Permasih; Ernalis -; Tuti Istianti
CAKRAWALA DINI: JURNAL PENDIDIKAN ANAK USIA DINI Vol 6, No 2 (2015): November 2015
Publisher : UPI Kampus Cibiru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (224.985 KB) | DOI: 10.17509/cd.v6i2.10524

Abstract

Keterampilan menyimak merupakan dasar bagi seorang anak untuk dapat berbicara dengan baik. Adapun keterampilan menyimak di kelompok B TK Plus Al-Kautsar masih menunjukan perkembangan yang rendah dapat dilihat dari kurang mampunya anak merespon apa yang telah disampaikan guru. Berdasarkan permasalahan tersebut, peneliti menggunakan media boneka dalam pembelajaran untuk mengembangkan keterampilan menyimak. Penelitian ini dilaksanakan dengan desain PTK Elliot. Partisipan dan tempat penelitian ini adalah 9 anak kelompok B TK Plus Al-Kautsar Kecamatan Cimanggung Kabupaten Sumedang. Instrumen penelitian yang digunakan adalah instrumen performa, lembar observasi, lembar wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, instrumen respon performa, dan dokumentasi. Data yang dikumpulkan dianalisis secara kualitatif, dan teknik triangulasi. Hasil penelitian dalam mengembangkan keterampilan menyimak dengan penggunaan media boneka mengalami peningkatan. Hal ini dibuktikan dari peningkatan ketercapaian setiap indikatornya pada setiap siklus dengan perolehan nilai rata-rata dalam setiap siklusnya terdiri Siklus I pada indikator 1 yaitu anak mampu menyebutkan tokoh yang ada dalam cerita sambil menunjukkannya, yaitu 16,67%. Siklus II meningkat menjadi 41,91%, dan pada siklus III peningkatannya sebesar 74,60%. Pada indikator ke-2 yaitu anak mampu menyebutkan 3-5 urutan kata yang ada dalam cerita, siklus I kemampuan anak sebesar 15,88%. Siklus II meningkat menjadi 30,48%, dan pada siklus ke-III juga mengalami peningkatan sebesar 59,52%. Pada indikator ke-3 yaitu anak mampu menceritakan kembali isi cerita. Siklus I kemampuan anak sebesar 11,12%, siklus II meningkat menjadi 25,71%, dan pada siklus III peningkatannya sebesar 54,76%. Dengan demikian penggunaan media boneka dapat dijadikan sebagai salah satu media yang menarik minat dan antusias anak dalam pembelajaran termasuk dalam mengembangkan keterampilan menyimak anak.Kata Kunci: Keterampilan Menyimak, Media Boneka
PENGEMBANGAN ALAT SEISMOGRAF SEDERHANA SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN MATERI IPS DI SD DAMPAK LETAK GEOGRAFIS INDONESIA Nur Alawiyah; Tuti Istianti; Muh. Husen Arifin
Sosial Khatulistiwa: Jurnal Pendidikan IPS Vol 1, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Prodi Pendidikan IPS, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/skjpi.v1i2.50457

Abstract

Media pembelajaran merupakan salah satu komponen penting dalam dunia pendidikan. Dalam penggunaannya media pembelajaran digunakan untuk menjelaskan serta menyampaikan informasi terkait pembelajaran yang sedang dilaksanakan. Media pembelajaran membantu guru untuk menarik perhatian siswa ketika belajar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dari pengembangan media pembelajaran alat seismograf sederhana pada materi dampak letak geografis Indonesia di SD. Pembelajaran IPS di sekolah dasar ini perlu adanya suatu pembaharuan agar saat menyampaikan materi tidak dengan menggunakan metode ceramah saja yang hasilnya membuat siswa bosan dan tidak terlibat saat belajar. Oleh karena itu, peneliti membuat penelitian ini agar guru dapat selalu mengembangkan sebuah pembaharuan yaitu dengan mengembangkan media pembelajaran berbentuk alat seismograf yang dirancang sederhana. Penelitian ini menggunakan metode deksriptif. Hasil dari penelitian dapat disimpulkan bahwa dengan mengembangkan alat seismograf sederhana sebagai media pembelajaran pada materi IPS di SD tentang dampak letak geografis Indonesia pada sampel materi yang diambil yaitu gempa bumi. Dapat dinyatakan bahwa dalam penggunaan serta pembuatan alat seismograf sederhana ini mampu membuat siswa terlibat dalam pembelajaran, menjadikan rasa ingin tahu siswa tinggi saat belajar serta dapat memotivasi siswa belajar dengan aktif. Pembuatannya yang sederhana menjadi nilai tambah pada pengembangan media pembelajaran ini karena cocok digunakan untuk anak sekolah dasar.
Conflict resolution education in building social skills of elementary school students Istianti, Tuti; Maryani, Enok; Maftuh, Bunyamin; Gunawan, Ahmad; Janah, Widia Nur; Nurkholiq, Agus
Harmoni Sosial: Jurnal Pendidikan IPS Vol. 9 No. 2 (2022): September
Publisher : Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/hsjpi.v9i2.54124

Abstract

Solidarity with human diversity in groups can be built when there is a connection to moral aspects. Morals can unite humans socially and be able to lead a person to have attitudes and actions to act wisely in order to avoid conflict, how is the conflict resolution education model based on Sabilulungan local wisdom values in building social cooperation skills competencies for elementary school students? Based on the formulation of the main problem, the research steps are elaborated into several sub questions as follows: How is the factual picture of social studies learning in elementary schools so far? How is conflict resolution education based on local wisdom sabilulungan in building the competence of cooperative skills of elementary school students? Social skills are an important part that a person needs in social life when interacting with others. Cartledge and Milburn (1992) state that social skills are the ability of a person or community member to establish relationships with others and the ability to solve problems so that they can adapt harmoniously to the surrounding community. This research and development produces a product model of Conflict Resolution Education Based on Sabilulungan Local Wisdom (PRK-BKLS) which produces a model syntax consisting of 5 (five) stages, namely: exploration, logical reasoning, consensus building, decision making, and conflict resolution reflection.
The Paradigm of Conflict Resolution Educational Model in Building Peace Life Competency Based on Sabilulungan Local Wisdom in Primary Education Students Tuti Istianti; Enok Maryani; Bunyamin Maftuh; Dinie Anggraeni Dewi
International Conference on Elementary Education Vol. 5 No. 1 (2023): Proceeding The 5th International Conference in Elementary Education
Publisher : Elementary Education Study Program School of Postgraduate Studies Universitas Pendidikan Indonesia in collaboration with UPI PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The current state of society is in an unstable position or there is national instability and emerging fights among students, gang fights, maltreatment, and bullying cases. School must be a place to instill peaceful character values which become a learning house that is able to provide knowledge, peace and comfort for all school members. The research method in this study used a qualitative descriptive approach with a research site in Cikondang traditional village. Based on the discussion result of the paradigm study of conflict resolution educational model in building peace life competency based on sabilulungan local wisdom in Primary Education, it can be concluded that the information obtained from field studies shows that: a) Schools must be a place to instill peaceful character values which are always faced with unstable social conditions or national instability, for example there are many fights among students, gang fight, maltreatment, and bullying cases, b) Conflict resolution education as the most likely medium for learning conflict resolution as a skill; has a clear and structured method and can be applied in elementary schools, c). Sabilulungan as the tradition of Sundanese people provides local wisdom that has philosophical values that is to build peaceful character, it is considered to be social capital, d) For the benefit of conflict resolution learning by combining contextual problem approach, thinking skill, affective development, student-centered values instilling base.
Building Students' Social Skills in Learning Conflict Resolution in Grade IV of Laboratory Elementary School Istianti, Tuti; Maftuh, Bunyamin; Maryani, Enok; Wahyuningsih, Yona
PrimaryEdu : Journal of Primary Education Vol. 7 No. 2 (2023): Volume 7, Number 2, September 2023
Publisher : Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Siliwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22460/pej.v7i2.3446

Abstract

This study aims to describe the results of students' social skills in learning conflict resolution in the fourth grade of Laboratory Elementary School of UPI Cibiru Campus. The research method used is qualitative research. Research results show that the implementation of conflict resolution learning in building social skills in grade IV is carried out through three stages, i.e., 1) preparation stage, 2) implementation stage, and 3) evaluation stage. The preparation stage is the stage of conducting curriculum analysis to see graduate competency standards, core competencies, and basic competencies; mapping the competencies, determining themes, compiling materials, designing evaluation tools, and designing lesson plans. The implementation phase consists of: 1) opening activities, 2). the main activities which include the following stages: search, logical reasoning, agreement building, decision making, conflict reflection, and 3) closing activities. The evaluation phase includes the assessment of affective, knowledge, and social skills competence.Learning conflict resolution for the fourth graders of Laboratory Elementary School of UPI Cibiru in Bandung Regency has an impact on the development of students' social skills including thinking skills, cooperation skills, and emotional control skills. Teachers have focused attention on setting up learning systems and developing conflict resolution learning that enables students to increase their social skills.
Penerapan Model Pembelajaran Radec dalam Merancang Kegiatan Pembelajaran Keberagaman Budaya di SD Kelas IV Fuziani, Indi; Istianti, Tuti; Arifin, Muh. Husen
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 5 No. 3 (2021): 2021
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v5i3.2335

Abstract

Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak keberagaman, salah satunya adalah keberagaman budaya. Pada masa pandemi Covid-19, kegiatan belajar mengajar dilaksanakan secara daring. Hal ini membuat guru perlu menerapkan model pembelajaran yang dapat mendukung pembelajaran jarak jauh. Dengan menggunakan model pembelajaran RADEC diharapkan siswa dan guru dapat membelajarkan keberagaman budaya di SD kelas IV dengan efektif. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur yang berasal dari sumber buku dan jurnal ilmiah terkait penerapan model pembelajaran RADEC untuk membelajarkan keberagaman budaya. Terdapat lima sintaks atau langkah-langkah yang perlu diperhatikan oleh guru dalam membuat perencanaan pembelajaran menggunakan model RADEC, yaitu Read, Answer, Discuss, Explain, dan Create. Dengan model RADEC, siswa dapat berkomunikasi dengan siswa lainnya untuk menyamakan persepsi sehingga timbul keterampilan berpikir kritis.
Analisis Materi IPS Kelas IV Tema Berbagai Pekerjaan dengan HOTS Chairunnisa, Chika Chelita; Az-Zahra, Jihan Fauziah Az-Zahra; Istianti, Tuti
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 5 No. 3 (2021): 2021
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v5i3.2422

Abstract

Saat ini, Pembelajaran di SD/MI dituntut untuk mendorong keterampilan berpikir tingkat tinggi peserta didik atau HOTS (High Order Thinking Skill) yang mengacu pada proses menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan menciptakan. Dalam meningkatkan berpikir tingkat tinggi peserta didik tersebut, peran guru sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran ditunjang dengan sumber buku teks pendamping. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis materi IPS kelas IV tema berbagai pekerjaan dengan HOTS. Metode penelitian yang digunakan adalah studi pustaka dengan data primer berupa salah satu buku tematik guru dan buku tematik siswa kelas IV tema 4 berbagai pekerjaan untuk kemudian dirumuskan indikator sesuai taksonomi bloom revisi tahap tingkatan berfikir C4, C5 dan C6. Selain itu, data sekunder bersumber dari buku dan jurnal-jurnal yang relevan. Analisis data yang digunakan adalah analisis isi dengan teknik analisis data berupa tulisan yang menjadi dasar analisis mengacu pada intrumen buku tematik. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 29 indikator yang memuat HOTS yaitu 8 indikator pada subtema 1,6 indikator pada subtema 2, 5 indikator pada subtema 3 sehingga materi IPS pada buku tema kelas IV revisi 2017 yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan terkait dengan HOTS.
Development of a Simple Seismograph Tool as a Media for Learning Social Science Material in Elementary Schools Nur Alawiyah; Tuti Istianti; Muh. Husen Arifin
Journal Civics And Social Studies Vol. 5 No. 2 (2021): Jurnal Civicos Vol 5 No 2 Tahun 2021
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31980/journalcss.v5i2.153

Abstract

Learning media is an important component in the world of education. In its use, learning media is used to explain and convey information related to the learning being carried out. Learning media helps teachers to attract students' attention when learning. The aim of this research is to determine the effect of developing simple seismograph learning media on material regarding the impact of Indonesia's geographic location in elementary schools. Social studies learning in elementary schools needs to be reformed so that when presenting the material we don't just use the lecture method which results in making students bored and disengaged when learning. Therefore, the researcher created this research so that teachers can always develop something new, namely by developing learning media in the form of a seismograph that is simply designed. This research uses a descriptive method. The results of the research can be concluded that by developing a simple seismograph tool as a learning medium for social studies material in elementary schools about the impact of Indonesia's geographic location on the material samples taken, namely earthquakes. It can be stated that using and making this simple seismograph tool is able to make students involved in learning, make students' curiosity high when studying and can motivate students to learn actively. Its simple production is an added value in the development of this learning media because it is suitable for use by elementary school children.
PELATIHAN PENGEMBANGAN SOCIABLE LEARNING MODEL DENGAN MENGINTEGRASIKAN PERMAINAN TRADISIONAL SUNDA UNTUK GURU TK DI BANDUNG Solihin Ichas Hamid; Tuti Istianti; Mohamad Helmi Ismail; Lina Meilinna
Konferensi Nasional Pengabdian Masyarakat (KOPEMAS) #5 2024 Konferensi Nasional Pengabdian Masyarakat (KOPEMAS) 2021
Publisher : Konferensi Nasional Pengabdian Masyarakat (KOPEMAS) #5 2024

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penerapan pembelajaran yang bersifat student-centered secara umum sampai saat ini masih menjadi permasalahan dalam lingkup PAUD. Hal tersebut menghilangkan peluang anak untuk berkembang dan membangun keterampilan berdasarkan kecenderungan mereka. Sociable learning model dengan mengintegrasikan permainan tradisional sunda memiliki kecenderungan yang sangat student-centered yang dapat memberikan alternative solusi untuk pelaksanaan pembelajaran di jaman sekarang. Pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan dengan menerapkan metode pelatihan pendampingan yang melibatkan beberapa orang guru dari enam TK di Kota Bandung. Dengan pelaksanaan pelatihan pendampingan tersebut, para guru menunjukan kompetensi yang baik dalam merancang RPPH yang menerapkan sociable learning model dengan rata-rata nilai capaian keseluruhan, 3.27 dan total nilai 4. Walaupun pada beberapa hal, beberapa orang guru masih belum mencapai nilai yang baik. Secara umum, model sociable learning model yang diintegrasikan dengan permainan tradisional sunda dapat dikemas dengan baik oleh guru dalam bentuk RPPH
PENGGUNAAN MODEL RESOLUSI KONFLIK UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN PEMECAHAN MASALAH PADA PEMBELAJARAN IPS SD Tuti Istianti; Mira Mutiara Hanudin; Yona Wahyuningsih; Tin Rustini; Muh. Husein Arifin
Jurnal Cakrawala Pendas Vol. 8 No. 4 (2022)
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/jcp.v8i4.3378

Abstract

Latar belakang dari penelitian ini adalah rendahnya keterampilan pemecahan masalah sosial siswa SDN 180 Prakarsa Nugraha pada siswa kelas IV. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan model resolusi konflik pada pembelajaran IPS di Kelas IV Sekolah Dasar serta mendeskripsikan peningkatan keterampilan pemecahan masalah sosial siswa setelah menggunakan model resolusi konflik pada pembelajaran IPS di Kelas IV Sekolah Dasar. Metode penelitian yang digunakan yakni Penelitian Tindakan Kelas desain model Kemmis dan Mc Taggart yang terdiri dari enam siklus pembelajaran. instrumen penelitian yang digunakan yaitu lembar observasi keterampilan pemecahan masalah sosial siswa, lembar observasi guru, lembar evaluasi, catatan lapangan dan angket. Berdasarkan hasil peneliiian yang diperoleh, pelaksanaan pembelajaran menggunakan model resolusi konflik dapat meningkatkan keterampilan pemecahan masalah sosial siswa. Hal tersebut dapat dilihat dari nilai rata-rata keterampilan pemecahan masalah sosial siswa yang mengalami peningkatan dari setiap siklusnya dalam proses pelaksanaan model resolusi konflik dengan indikator memahami masalah, merencanakan solusi, memilih solusi bersama, dan mengevaluasi. Pada siklus satu, nilai rata-rata keterampilan pemecahan masalah sosial siswa berada pada kategori perlu bimbingan yaitu 41,25. Pada siklus dua, nilai rata-ratanya meningkat  4,5 menjadi 45,75. Pada siklus tiga, nilai rata-ratanya meningkat 18,94 menjadi 64,69. Pada siklus empat, nilai rata-ratanya meningkat 5,31 menjadi 70. Pada siklus lima, nilai rata-ratanya meningkat 6,19 menjadi 76,19. Dan pada siklus enam, nilai rata-ratanya meningkat 5,06 menjadi 81,25 dan berada pada kategori baik. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa model resolusi konflik dapat meningkatkan keterampilan pemecahan masalah sosial siswa pada pembelajaran IPS di kelas IV SD.