Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

DINASTI FATIMIYAH: SEJARAH, KEJAYAAN, DAN KEJATUHAN KEKHALIFAHAN SYIAH ISMAILIYAH Adnan Naufal Rahman; Ashar Dwijulianto; Ahmad Maftuh Sujana
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 2 No. 3 (2025): JUNI-JULI 2025
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dinasti Fatimiyah adalah salah satu kekhalifahan paling signifikan dalam sejarah Islam klasik yang membawa mazhab Syiah Ismailiyah ke puncak kekuasaan. Berdiri pada awal abad ke-10 M di wilayah Ifriqiyah dan memindahkan ibu kota ke Mesir, dinasti ini menjadi pusat kekuatan politik, keilmuan, dan perdagangan dunia Islam. Penelitian ini menggunakan pendekatan historis analitik dengan meninjau sumber-sumber primer dan sekunder. Kajian ini membahas latar belakang berdirinya Dinasti Fatimiyah, dinamika kekuasaannya, kontribusi dalam bidang intelektual dan sosial, hingga sebab-sebab kejatuhannya
SEJARAH MASUKNYA ISLAM DI INDONESIA Deni Firdaus; Anzil Alaina Maidah; Alfin Laila Rahmawati; Ahmad Maftuh Sujana
MUSHAF JOURNAL: Jurnal Ilmu Al Quran dan Hadis Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : CV. Adiba Aisha Amira

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Islam has played a central role in shaping the historical and cultural identity of Indonesia. Its introduction and gradual dissemination occurred through peaceful means and various channels, including trade, the preaching of scholars and Sufi missionaries, intermarriage, and political endorsement from local rulers. This article aims to analyze the Islamization process in the Indonesian archipelago using a historical and descriptive-analytical approach, drawing upon both primary and secondary sources. The findings suggest that Islam was first introduced by Muslim traders from Arabia, Persia, and India as early as the 7th century CE, with major port cities in Sumatra and Java serving as key entry points. The study explores competing theories on the origins of Islam in Indonesia, namely the Arab, Gujarat, Persian, and Chinese theories and examines the cultural, political, and social factors that shaped its acceptance. The research concludes that the success of Islamization in Indonesia is closely linked to the religion’s flexibility, the accommodative methods of da'wah tailored to local traditions, and the integration of Islamic values into social and political systems.
POSISI DAN PERAN PEREMPUAN BANTEN DALAM PERSPEKTIF GENDER Devan Rizki Maulana; Ahmad Kholibi; Syarif Hidayatullah; Ahmad Maftuh Sujana
MUSHAF JOURNAL: Jurnal Ilmu Al Quran dan Hadis Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : CV. Adiba Aisha Amira

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In the Banten Province region, which is known for its cultural and social diversity, gender dynamics are very important to understand. Although women in Banten contribute significantly to various aspects of life, such as economic, social, and political, they often face challenges related to patriarchal gender norms. Historically, women in Banten have played an important role in social and economic life. This research method uses a qualitative approach with the aim of deeply understanding the experiences, views, and perceptions of women in Banten regarding their position and role in society. Data collection techniques were carried out through interviews and also using the Focus Group Discussion (FGD) method, which was held with groups of women to discuss issues related to gender, social roles, and the challenges they face. Women in the Banten region contribute significantly to the economic sector, especially in the informal sector. This result can be seen from data from the Banten Central Statistics Agency (BPS) (2021), around 60% of women in Banten work in the informal sector, which often does not provide legal protection and social security. The results of the study show that women's representation in decision-making in Banten is still low. Data from BPS Banten (2021) shows that only around 15% of women hold strategic positions in local government. Barriers faced by women in politics include lack of support from family, gender stereotypes, and lack of access to political education.
SEJARAH DINASTI FATIMIYAH DARI AWAL BERDIRI HINGGA AKHIR KEKUASAAN Suciatna Suciatna; Ahmad Maftuh Sujana
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 2 No. 4 (2025): AGUSTUS - SEPTEMBER 2025
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini membahas sejarah Dinasti Fatimiyah dari awal berdirinya pada 297 H/910 M di Afrika Utara hingga runtuh pada 567 H/1171 M. Dinasti yang menganut mazhab Syiah Ismailiyah ini mencapai puncak kejayaan pada masa Khalifah al-Mu‘iz dan al-Aziz dengan kemajuan di bidang politik, ekonomi, ilmu pengetahuan, dan pembangunan, termasuk berdirinya Universitas Al-Azhar. Meski begitu, kemunduran mulai terlihat akibat lemahnya pemerintahan, perebutan kekuasaan antar wazir, gaya hidup mewah para khalifah, bencana alam, dan intervensi kekuatan asing seperti pasukan Salib dan pengaruh Nur al-Din al-Zanki. Faktor eksternal ini berpadu dengan konflik internal mempercepat keruntuhan dinasti. Peran penting dalam transisi kekuasaan di Mesir dimainkan oleh Shalahuddin al-Ayyubi, yang mengakhiri pemerintahan Fatimiyah dan mengembalikan dominasi Sunni melalui pembentukan Dinasti Ayyubiyah. Penelitian ini menyoroti faktor-faktor kejayaan dan kemunduran Fatimiyah, sekaligus menegaskan dampak perubahan mazhab terhadap dinamika politik dan sosial Mesir abad pertengahan
DINASTI SELJUK : SEJARAH, KEJAYAAN, DAN WARISAN PERADABAN ISLAM Alvin Syarif maulana; Ahmad Maftuh Sujana
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 2 No. 8 (2025): AGUSTUS 2025
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dinasti Seljuk merupakan salah satu kekuatan politik, militer, dan kebudayaan terbesar dalam sejarah Islam abad pertengahan. Berasal dari rumpun bangsa Turki Oghuz yang mendiami stepa Asia Tengah, mereka bermigrasi ke wilayah Transoxiana pada akhir abad ke-10 M akibat tekanan politik dan ekonomi, lalu memeluk Islam Sunni dan mengintegrasikan diri dalam dunia Islam. Keputusan strategis ini tidak hanya memperkuat identitas religius mereka, tetapi juga membuka jalan untuk memperoleh legitimasi dari kekhalifahan Abbasiyah. Pendirian resmi Dinasti Seljuk terjadi pada 1037 M di bawah kepemimpinan Tughril Beg, yang berhasil menguasai Persia dan mengakhiri dominasi Buwaihiyyah di Baghdad pada 1055 M. Di bawah kepemimpinan Alp Arslan dan Malik Shah I, wilayah Seljuk membentang dari Asia Tengah hingga Anatolia, dengan kemenangan monumental di Pertempuran Manzikert tahun 1071 M yang mengubah peta geopolitik kawasan dan membuka Anatolia bagi migrasi besar-besaran bangsa Turki. Selain kekuatan militer, Dinasti Seljuk berperan penting dalam pengembangan peradaban Islam. Wazir Nizam al-Mulk membangun sistem administrasi terpusat dan mendirikan madrasah-madrasah Nizamiyah yang menjadi model pendidikan formal di dunia Islam. Kemajuan dalam bidang arsitektur, ilmu pengetahuan, dan perdagangan juga menjadi bagian integral dari warisan mereka. Namun, setelah wafatnya Malik Shah I pada 1092 M, konflik internal dan tekanan eksternal seperti Perang Salib I serta invasi Mongol pada abad ke-13 melemahkan kekuasaan Seljuk. Pada awal abad ke-14, kekuasaan mereka benar-benar berakhir. Meskipun demikian, warisan politik, budaya, dan intelektual Seljuk tetap memengaruhi peradaban Islam hingga masa Turki Utsmani, menjadikan mereka sebagai salah satu dinasti paling berpengaruh dalam sejarah Islam.
SHALAHUDDIN AL-AYYUBI DAN DINASTI AYYUBIYAH : PAHLAWAN ISLAM YANG MENGUBAH SEJARAH Yuliana Pradani; Sulis Safitri; Tubagus Gafar Akas; Ahmad Maftuh Sujana
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 2 No. 5 (2025): MEI 2025
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Shalahuddin Al-Ayyubi adalah salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Islam dan dunia. Sebagai pendiri Dinasti Ayyubiyah, ia tidak hanya berhasil menyatukan umat Islam di Timur Tengah, tetapi juga memainkan peran utama dalam Perang Salib, khususnya dalam merebut kembali Yerusalem dari pasukan Salib pada tahun 1187. Kepemimpinannya dikenal karena strategi militer yang cerdas, kebijaksanaan dalam pemerintahan, serta sikapnya yang penuh belas kasih terhadap musuh dan rakyatnya. Selain keunggulan militernya, ia juga melakukan reformasi pemerintahan, memperkuat pendidikan Islam, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat di wilayah kekuasaannya. Artikel ini menggunakan pendekatan historis dengan merujuk pada sumber primer dan sekunder yang relevan, sehingga dapat memberikan gambaran yang komprehensif mengenai kiprah Shalahuddin Al-Ayyubi sebagai pahlawan Islam yang mengubah sejarah. Warisan kepemimpinannya tetap menjadi simbol kepahlawanan dan keadilan, serta menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya.
MASA PERKEMBANGAN DINASTI USMANI (OTTOMAN) Fathiya Fitriani; Ahmad Maftuh Sujana
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 2 No. 5 (2025): MEI 2025
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Selama ratusan tahun, Islam telah berkembang pesat di Turki mayoritas penduduknya beragama Islam, dalam perkemabangannya. Turki menjadi negara republik dengan sistem negara demokrasi sekuler. Dalam tulisan ini akan diulas sejarah perkembangan Islam diTurki, termasuk perkembangan di era reformasi yang menjadikan Turki seperti sekarang ini, negara yang menjadikan Turki seperti sekarang ini, negara yang mengkonstruksi Islam sebagai agama periode. Periode pertama, yaitu tahun 1299-1409, diawali dengan berdirinya kekasiaran Ottoman. Periode kedua, tahun 1409-1566, ditandai dengan kemampuan Ottoman dalam mempertahankan wilayahnya.periode keempat, tahun 1699-1838, di tandai dengan berangsur-angsur surutnya kerajaan kemudian mengalami ini lebih banyak kemajuan. Periode kelima, tahun 1839-1922, ditandai dengan kebangkitan budaya Turki menjadi kekasiaran, dinasti, atau kekhalifahan sebagaimana telah terjadi selama berabad-abad. Mustafa Kemal mendirikan Turki sebagai negara modern sekuler berdasarkan kekecewaannya terhadap sistem kekhalifahan sebelumnya. Pada periode terakhir yang juga disebut sekuler, pemerintah Turki mendukung pelaksaan salat Jumat di masjid sebagai bentuk disiplin sosial. Begitu pula puasa untuk membangun kesabaran dan ketabahan, dan membayar zakat mendorong kedermawaan seseorang, lahirnya negara-negara Islam; penegakan moral dan keadilan sosial, pelarangan poligami dan keputusan perceraian harus dibuat  dinegara, hak yang sama bagi perempuan dan laki-laki dalam pendidikan, pekerjaan, dan politik-pada tahun 1934 perempuan diberi hak untuk dicalonkan dalam pemilihan nasional.
Perkembangan Dinasti Utsmani/ Ottoman: Kebangkitan Neo-Ottomanisme, Apakah Turki Menghidupkan Kembali Warisan Ottoman Nurul Fauziah; Alan Maulana; Adam Adrian; Ahmad Maftuh Sujana
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 2 No. 5 (2025): MEI 2025
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dinasti Utsmani (Ottoman) pernah menjadi kekuatan besar dunia Islam selama lebih dari enam abad sebelum runtuh pada awal abad ke-20. Namun dalam beberapa dekade terakhir, terutama di bawah kepemimpinan Recep Tayyip Erdoğan, muncul kembali orientasi politik dan budaya yang disebut Neo-Ottomanisme. Gerakan ini tidak hanya menghidupkan simbol-simbol kejayaan masa lalu seperti konversi Hagia Sophia menjadi masjid, tetapi juga menempatkan Turki sebagai pusat peradaban Islam modern. Neo-Ottomanisme menjadi strategi politik identitas dan diplomasi budaya yang menyatukan nasionalisme, Islamisme, dan warisan sejarah Ottoman. Artikel ini membahas bagaimana Turki menggunakan narasi sejarah dan media digital untuk membangun solidaritas transnasional di dunia Islam sekaligus menegosiasikan posisinya di tengah dinamika geopolitik global. Pertanyaan utama yang dikaji adalah: apakah kebangkitan ini hanya romantisasi masa lalu atau sebuah upaya serius untuk menghidupkan kembali warisan Ottoman dalam konteks kontemporer?
HISTORY OF THE MUGHAL DYNASTY: THE FUSION OF ISLAMIC AND HINDU CULTURE IN INDIA Aisyah Zahratunnisa; Danang Syaifulloh; Fajar Fajar; Ahmad Maftuh Sujana
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 2 No. 5 (2025): MEI 2025
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Mughal Dynasty was one of the largest empires in Indian history, lasting from the 16th to the 19th century. It was founded by Babur in 1526 after his victory at the Battle of Panipat. During its golden age, the Mughal Dynasty was not only known for its territorial expansion and strong administration but also for its success in uniting elements of Islamic and Hindu culture in India. Through tolerance policies introduced by emperors like Akbar, the Mughals created social harmony that allowed the flourishing of art, architecture, and an inclusive governance system. This cultural fusion was reflected in various aspects of life, including the architecture of the Taj Mahal and the Red Fort, as well as in the legal and administrative systems that accommodated diverse social groups. However, the weakening of leadership and increasing pressure from colonial forces led to the fall of the dynasty in the 19th century. This article explores the history of the Mughal Dynasty, focusing on its role in shaping a cultural synthesis that had a lasting impact on Indian history.
SEJARAH PERKEMBANGAN DINASTI MAMLUK DI MESIR Aas Safinatun Najah; Aramahwada; Nur Fajar; Ahmad Maftuh Sujana
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 2 No. 5 (2025): MEI 2025
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dinasti Mamluk di Mesir (1250–1517) merupakan salah satu kekuatan militer dan politik terpenting dalam sejarah dunia Islam. Dinasti ini terbagi menjadi dua periode utama: Mamluk Bahri (1250–1382) yang didominasi oleh etnis Turki Kipchak dan Mamluk Burji (1382–1517) yang mayoritasnya berasal dari etnis Circassia. Mamluk berhasil menggulingkan Dinasti Ayyubiyah dan mempertahankan Mesir dari ancaman eksternal, termasuk serangan Mongol dan Tentara Salib. Mereka memainkan peran kunci dalam perdagangan internasional, terutama sebagai perantara jalur dagang antara Timur dan Barat. Selain itu, Dinasti Mamluk dikenal sebagai pelindung Islam dan pusat kebudayaan, dengan kontribusi besar dalam arsitektur, seni, dan ilmu pengetahuan. Namun, kemunduran ekonomi, ketidakstabilan politik, serta ekspansi Kesultanan Utsmaniyah menyebabkan kejatuhan mereka pada tahun 1517 setelah kekalahan dalam Pertempuran Ridaniya.