Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

PERAN DINASTI SELJUK DALAM MEMBENTUK PERADABAN ISLAM ABAD PERTENGAHAN Muhammad Iqbal Hidayat; Muhammad Hamdani; Ahmad Hilmi Yafie; Eka Ananda Maharani; Ahmad Maftuh Sujana
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 2 No. 5 (2025): MEI 2025
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dinasti Seljuk memainkan peran penting dalam pengembangan peradaban Islam selama Abad Pertengahan. Pemerintahan mereka menandai periode konsolidasi politik, perkembangan budaya, dan transformasi agama. Dengan membangun pemerintahan terpusat yang kuat, Seljuk memberikan stabilitas yang memungkinkan kemajuan dalam sains, seni, dan arsitektur. Mereka berperan penting dalam mempertahankan wilayah Islam dari ancaman eksternal, seperti Kekaisaran Bizantium, dan dalam memfasilitasi penyebaran ajaran Islam. Seljuk juga mendukung Kekhalifahan Abbasiyah, menghidupkan kembali pengaruhnya dan memastikan kelangsungan tradisi Islam. Kontribusi mereka meletakkan dasar bagi kerajaan Islam berikutnya, termasuk Kekaisaran Ottoman, dan membentuk lintasan sejarah Islam.
DINAMIKA ISLAM INDONESIA: PERGESERAN PARADIGMA DARI ORDE LAMA HINGGA ERA REFORMASI Siti Munawaroh; Shelsie Amalia Putri; Zahroni Zahroni; Ahmad Maftuh Sujana
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 2 No. 5 (2025): MEI 2025
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dinamika Islam di Indonesia mengalami perubahan signifikan dari Orde Lama hingga Era Reformasi, mencerminkan perjalanan kompleks dalam konteks sosial-politik. Pada masa Orde Lama (1945-1966), umat Islam terlibat aktif dalam perdebatan ideologis mengenai dasar negara, meskipun mereka menghadapi marginalisasi politik yang signifikan. Partai-partai Islam dibatasi, dan banyak tokoh penting ditangkap, yang mengakibatkan terbatasnya ruang bagi suara Islam dalam politik. Selanjutnya, pada era Orde Baru (1966-1998) di bawah kepemimpinan Soeharto, pemerintah menerapkan strategi depolitikasi Islam untuk menjaga stabilitas politik, yang mengakibatkan kontrol ketat terhadap ekspresi keagamaan. Organisasi moderat seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama sering diabaikan, dan kebijakan seperti pelarangan hijab di sekolah-sekolah umum pada tahun 1980-an memicu pembentukan kelompok advokasi seperti Wahdah Islamiyah. Namun, setelah Reformasi 1998, umat Islam mendapatkan kebebasan untuk mengekspresikan keyakinan mereka dan berpartisipasi dalam politik. Munculnya partai-partai politik Islam dan organisasi yang memperjuangkan penerapan syariat Islam mencerminkan perubahan paradigma menuju keterlibatan aktif dalam kebijakan publik. Meskipun demikian, era ini juga menyaksikan kebangkitan kelompok radikal yang memanfaatkan kebebasan baru untuk mempromosikan agenda ekstrem, yang menantang identitas nasional dan kohesi sosial. Oleh karena itu, penting untuk mengedepankan pendidikan multikultural guna membangun persatuan dan mengurangi konflik dalam masyarakat Indonesia yang beragam, serta menyeimbangkan antara konservatisme dan moderasi dalam pemikiran Islam.
Umar Bin Khattab dan Lahirnya Sistem Pemerintahan Islam yang Tertata Manggarani, Ariska; Ahmad Maftuh Sujana; Dewi Murtasia Zulha; Hilda Asihatul Afiyah; Haikal
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 5 No 3: Desember (2025)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v5i3.1854

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara komprehensif sistem pemerintahan Islam pada masa Khalifah Umar bin Khattab beserta kebijakan-kebijakan inovatif yang diterapkannya, serta relevansinya terhadap tata kelola pemerintahan modern. Umar bin Khattab merupakan salah satu khalifah paling berpengaruh dalam sejarah Islam karena keberhasilannya membangun struktur pemerintahan yang tertata melalui reformasi administratif, kebijakan fiskal, pembentukan lembaga kenegaraan, dan penguatan prinsip keadilan sosial. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan, melalui penelaahan berbagai sumber literatur klasik dan kontemporer seperti buku sejarah, jurnal ilmiah, dan artikel akademik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Umar berhasil menciptakan sistem pemerintahan yang terorganisasi melalui pembentukan Diwan, penguatan Baitul Mal, pemisahan lembaga peradilan, serta kebijakan ekspansi yang berdampak pada kemajuan politik, sosial, dan ekonomi. Nilai kepemimpinan Umar seperti keadilan, transparansi, partisipasi, dan integritas terbukti relevan untuk diadaptasi dalam konteks pemerintahan modern. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam memahami model pemerintahan Islam yang berkeadilan dan aplikatif terhadap tantangan kontemporer.
NILAI SPIRITUAL DAN KEARIFAN LOKAL DALAM PELESTARIAN NASKAH ARAB PEGON WARISAN KELUARGA DI PONTANG LEGON, BANTEN Ahmad Maftuh Sujana; Adnan Naufal Rahman; Tubagus Gafar Akas; Danang Syaifullah; Fajar Fajar; Alvin Syarif Maulana; Pipin Safinah
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 3 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap nilai-nilai spiritual dan kearifan lokal yang terkandung dalam tradisi pelestarian naskah Arab Pegon yang diwariskan secara turun-temurun oleh keluarga di Desa Pontang Legon, Banten. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif dengan teknik wawancara langsung kepada narasumber utama, yaitu Ibu Qurrotul Ummi (54 tahun), penjaga naskah Arab Pegon keluarga. Berdasarkan hasil wawancara, diketahui bahwa naskah Arab Pegon ditemukan secara tidak sengaja ketika narasumber merapikan buku-buku lama, kemudian dijaga dan dirawat dengan penuh tanggung jawab untuk diwariskan kepada anaknya. Naskah ini mengandung nilai-nilai spiritual yang berkaitan dengan ajaran keagamaan, kesadaran moral, serta kearifan lokal masyarakat Pontang Legon. Selain itu, pelestarian naskah ini memiliki relevansi terhadap penguatan identitas budaya dan pembelajaran keagamaan di lembaga pendidikan lokal seperti Madrasatul Awal/Diniyah. Temuan ini menunjukkan bahwa praktik pelestarian naskah Arab Pegon bukan hanya bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur, tetapi juga merupakan manifestasi dari hubungan antara budaya, spiritualitas, dan pendidikan masyarakat pesisir Banten.
RAMPANG BEDUG SEBAGAI WARISAN BUDAYA BANTEN KAJIAN HISTORIS : KABUPATEN PANDEGLANG Bella Amelia; Ilma Yuliyana; Dea Safitri; Tuti Alawiyah; Reyinita Damayanti; Ahmad Maftuh Sujana
ARIMA : Jurnal Sosial Dan Humaniora Vol. 3 No. 3 (2026): Februari
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/arima.v3i3.6621

Abstract

Rampag Bedug merupakan salah satu seni budaya khas Banten yang berkembang menjadi pertunjukan berskala besar, khususnya di Kabupaten Pandeglang. Tradisi ini berakar pada praktik keagamaan Islam dan identitas sosial masyarakat setempat yang kemudian bertransformasi menjadi warisan budaya yang bernilai historis. Artikel ini bertujuan mengkaji perkembangan sejarah Rampag Bedug, nilai budaya yang terkandung di dalamnya, serta perannya dalam memperkuat identitas daerah dan kohesi sosial masyarakat Pandeglang. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dan metode historis-kultural, penelitian ini menganalisis tradisi lisan, praktik budaya, serta narasi masyarakat terkait Rampag Bedug. Hasil kajian menunjukkan bahwa Rampag Bedug tidak hanya menjadi ekspresi religius, tetapi juga simbol ketangguhan, kreativitas, dan religiusitas masyarakat Banten, sehingga penting untuk dilestarikan dan direvitalisasi.
TRADISI BAYAR LIUR DI KAMPUNG CISASAH CIJAKU KAB. LEBAK Burhanuddin; Muhamad Kosim; Aditya Firmansyah; Haidar Syadad; Muhamad Zainal Arifin; Yunan Fahri R; Aidil Fitra L; Raditya Pangestu; Maftuh Ajmain; Ahmad Maftuh Sujana
ARIMA : Jurnal Sosial Dan Humaniora Vol. 3 No. 3 (2026): Februari
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/arima.v3i3.6649

Abstract

Penelitian ini mengkaji fenomena tradisi Bayar Liur yang dipraktikkan oleh masyarakat di Desa Cisasah, Kecamatan Cijaku, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Tradisi Bayar Liur merupakan bentuk kearifan lokal yang bermanifestasi sebagai ritual atau kompensasi simbolis terkait interaksi sosial, khususnya dalam konteks pemenuhan janji, penyembuhan penyakit psikologis atau fisik ringan yang diyakini akibat "kabuhulan" (gangguan yang disebabkan oleh kata-kata atau keinginan yang tidak terpenuhi), serta sebagai bentuk penebusan atas kegelisahan sosial dalam hubungan tetangga. ​Fokus utama penelitian ini adalah mendeskripsikan prosedur pelaksanaan tradisi Bayar Liur dan menganalisis makna simbolis serta fungsi sosial yang terkandung di dalamnya bagi keberlangsungan masyarakat agraris di Lebak. Metodologi penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan etnografi. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif di lapangan, wawancara mendalam dengan tokoh adat, sesepuh desa, dan praktisi tradisi, serta studi dokumentasi terkait sejarah lokal Cijaku. ​Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bayar Liur bukan sekadar transaksi material, melainkan sebuah mekanisme untuk memulihkan keseimbangan sosial dan spiritual. Secara prosedural, tradisi ini melibatkan pemberian barang-barang tertentu atau sejumlah kecil uang sebagai simbol "pembersihan" atau pencucian dampak negatif dari ucapan yang tidak terpenuhi. Masyarakat Cisasah percaya bahwa kata-kata atau keinginan yang tertunda dapat mendatangkan kesialan jika tidak segera "dibayar" melalui ritual ini. ​Lebih lanjut, tradisi Bayar Liur berfungsi sebagai instrumen resolusi konflik tingkat rendah dan penguat ikatan komunal (solidaritas mekanik). Di tengah arus modernisasi dan pengaruh nilai-nilai eksternal, masyarakat Desa Cisasah tetap mempertahankan tradisi ini sebagai identitas budaya yang membedakan mereka dengan wilayah lain. Studi ini menyimpulkan bahwa tradisi Bayar Liur mengandung nilai pendidikan moral mengenai pentingnya integritas antara ucapan dan tindakan. Keberadaan tradisi ini membuktikan bahwa komunitas lokal memiliki mekanisme mandiri dalam menjaga harmoni psikis dan sosial tanpa selalu bergantung pada pendekatan medis formal maupun modern.  
KUE JEJORONG SEBAGAI WARISAN KULINER TRADISIONAL BANTEN Dian Falahdita; Hanifa Rahmatunnisa; Rosyidah; Abel Octavia Suman; Ahmad Maftuh Sujana
ARIMA : Jurnal Sosial Dan Humaniora Vol. 3 No. 3 (2026): Februari
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/arima.v3i3.6670

Abstract

Wisata kuliner merupakan salah satu daya tarik penting dalam pengembangan pariwisata daerah karena mampu merepresentasikan identitas budaya lokal. Kue Jojorong merupakan salah satu kuliner tradisional khas Banten, khususnya berasal dari wilayah Pandeglang dan Lebak, yang memiliki nilai sejarah, budaya, dan ekonomi yang signifikan. Penelitian ini membahas perkembangan kue Jojorong, proses pembuatannya, sejarah, filosofi, serta peran dan nilai ekonominya bagi masyarakat lokal. Jojorong telah dikenal sejak masa Kesultanan Banten dan awalnya disajikan dalam acara adat dan keagamaan, sebelum kemudian berkembang menjadi produk kuliner yang diperdagangkan secara luas. Proses pembuatannya masih mempertahankan teknik tradisional dengan bahan-bahan lokal seperti tepung beras, tepung tapioka, santan, gula merah, dan daun pisang, yang memberikan cita rasa serta identitas khas. Secara filosofis, Jojorong melambangkan kesederhanaan, kebersamaan, dan kekayaan budaya masyarakat Banten. Dalam konteks ekonomi modern, Jojorong berperan sebagai produk unggulan UMKM yang berkontribusi terhadap peningkatan pendapatan masyarakat, penciptaan lapangan kerja, serta pelestarian budaya lokal. Dengan demikian, kue Jojorong tidak hanya berfungsi sebagai makanan tradisional, tetapi juga sebagai aset budaya dan ekonomi yang potensial untuk dikembangkan dalam mendukung pariwisata dan ekonomi kerakyatan di Provinsi Banten.
SEJARAH TRADISI NADRAN DI KARANGANTU: ASAL-USUL DAN PERKEMBANGANNYA Aas Safinatun Najah; Ahmad Maftuh Sujana
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 2 No. 6 (2025): Desember 2025 - Januari 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tradisi Nadran di Karangantu merupakan warisan budaya yang sangat bersejarah dan religius bagi masyarakat pesisir Banten. Penelitian ini bertujuan menelusuri asal-usul tradisi Nadran, memahami makna simbolisnya, dan menganalisis perkembangan praktiknya dari waktu ke waktu. Metode yang digunakan meliputi sejarah lisan dan studi dokumenter dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Nadran awalnya berkembang sebagai ungkapan syukur masyarakat nelayan atas hasil laut dan keselamatan selama perjalanan, yang kemudian dikombinasikan dengan nilai-nilai Islam. Seiring waktu, praktik Nadran mengalami perubahan, baik dalam bentuk upacara, ritus, maupun partisipasi masyarakat, terutama sejak 2023, ketika pelaksanaan tradisi ini mulai menurun. Penelitian ini memberikan wawasan mendalam tentang dinamika pelestarian budaya lokal dan peran tradisi dalam kehidupan sosial masyarakat pesisir.