Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : AGROMIX

KEMAMPUAN TOLERANSI EMPAT GENUS TANAMAN HIAS TERHADAP CEKAMAN LOGAM TIMBAL (Pb) Nurul Muddarisna; Yekti Sri Rahayu

Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Yudharta Pasuruan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (387.575 KB) | DOI: 10.35891/agx.v7i1.703

Abstract

Logam berat timbal (Pb) yang dihasilkan dari sisa hasil pembakaran tidak sempurna dapat  menimbulkan racun yang dapat mencemari tanah sehingga dapat berpengaruh terhadap tanaman  yang tumbuh  di atasnya.  Secara umum tanaman peka terhadap  lingkungan tumbuh yang tercemar  unsur logam berat dikarenakan unsur tersebut tidak dibutuhkan tanaman dan bersifat toksik.  Pengaruh meracun logam berat terhadap tanaman dapat bersifat kronis dan akut  ditentukan oleh  lama kontak, konsentrasi dan daya tahan tanaman . Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan  genus tanaman hias yang mempunyai kemampuan toleransi paling tinggi terhadap cekaman logam  berat timbal (Pb). Penelitian ini menggunakan metode  Rancangan Acak kelompok (RAK) dengan  faktor pertama: macam genus tanaman hias dan faktor kedua: konsentrasi logam berat timbal (Pb).  Hasil penelitian menunjukkan k emampuan toleransi dan adaptasi tanaman genus Codiaeum terhadap  paparan berbagai taraf konsen trasi logam timbal (Pb) cenderung lebih tinggi dibanding genus  Heliconia, Eichornia dan Marantha.  Rata - rata tinggi tanaman dan jumlah daun per tanaman dari  empat genus tanaman hias (Codiaeum, Heliconia, Marantha dan Eichornia) menurun secara nyata  pada tar af konsentrasi 1200 mg Pb.kg - 1 Pb sementara rata - rata luas daun per tanaman menurun  secara nyata pada taraf konsentrasi 400 mg Pb.kg - 1 dibanding kontrol selama umur 5 minggu setelah  tanam.  
PENGARUH PENGGUNAAN KOLKISIN TERHADAP PERTUMBUHAN VEGETATIF TANAMAN SEDAP MALAM (Polianthes tuberose L.) DI DATARAN MEDIUM Yekti Sri Sri Rahayu; Istiyono K. Prasetyo; Andrys Umbu Riada

Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Yudharta Pasuruan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (251.865 KB) | DOI: 10.35891/agx.v5i1.719

Abstract

Tanaman hias sedap malam di daerah Bangil Pasuruan selama ini dikenal dengan ciri khas bunganya yang kecil namun harum. Upaya perbaikan kualitas dan upaya pengembangan bunga sedap malam di dataran medium terus dilakukan dengan menciptakan pertumbuhan tanaman yang lebih baik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian kolkisin terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman sedap malam yang ditanam didataran medium kota Malang. Penelitian ini dilakukan secara eksperimen di kelurahan Cemorokandang, kecamatan Kedungkandang, Malang, yang memiliki ketinggian tempat 610 m dpl., pada bulan Mei sampai Nopember 2013. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok yang diulang tiga kali. dan terdiri dari dua faktor, faktor pertama adalah lama perendaman (W) : 3 jam (W1); 6 jam (W2); 9 jam (W3); dan 12 jam (W4). Faktor kedua adalah tingkat konsentrasi kolkhisin: 0 ppm (P0); 100 ppm (P1); 300 ppm (P2); dan 500 ppm (P3). Pengamatan dilakukan terhadap karakteristik pertumbuhan tanaman sedap malam pada fase vegetatif diantaranya meliputi panjang tanaman, jumlah daun, luas daun, jumlah anakan. Data hasil penelitian dianalisis dengan analisis sidik ragam sesuai dengan rancangan yang digunakan, dan jika terdapat pengaruh nyata dilanjutkan dengan Uji Jarak Duncan (DMRT) pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh tingkat konsentrasi kolkisin dan lama perendaman secara umum tidak memberikan pengaruh nyata terhadap rerata panjang tanaman sedap malam, namun secara terpisah pemberian kolkisin pada tingkat konsentrasi 100 ppm hingga 500 ppm menghasilkan rerata panjang tanaman yang lebih tinggi dibanding tanpa pemberian kolkisin. Pengaruh tingkat konsentrasi kolkisin dan lama perendaman secara umum memberikan pengaruh nyata pada jumlah daun dan luas daun, dimana secara umum pada tingkat konsentrasi kolkisin 300 ppm dengan lama perendaman 6 jam dan tingkat konsnetrasi 100 ppm dengan lama perendaman 9 jam menghasilkan rerata jumlah daun dan luas daun yang lebih tinggi. Pengamatan terhadap jumlah anakan tanaman sedap malam menunjukkan pada tingkat konsentrasi 100 ppm dengan lama perendaman 9 jam dan pada konsentrasi 300 ppm dengan lama perendaman 9 dan 6 jam menghasilkan rerata jumlah anakan yang lebih banyak.
KAJIAN PEMBERIAN KALSIUM (Ca) UNTUK MEMPERTAHANKAN SIFAT KIMIA BUAH SAWO Yekti Sri Rahayu; Idiek Donowarti

Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Yudharta Pasuruan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (28.79 KB) | DOI: 10.35891/agx.v2i1.736

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari sumber kalsium terbaik dan konsentrasi kalsium optimal untuk mempertahankan karakteristik kimia buah sawo. Penelitian dilakukan di Laboratorium Terpadu Fakultas Pertanian Universitas Wisnuwardhana, Malang. Metode Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang disusun secara faktorial, terdiri dari 2 faktor dan diulang 3 kali. Faktor pertama adalah jenis sumber Kalsium: A1 = CaCl2; A2 = Ca(OH)2; yang kedua adalah konsentrasi sumber Kalsium: K1: 0%, K2: 0,2%; K3: 0,4%; K4: 0,6%. Sawo direndam dalam larutan CaCl2 dan Ca(OH)2 dengan konsentrasi sesuai perlakuan, sawo direndam dalam larutan CaCl2 dan Ca(OH)2 dengan konsentrasi sesuai perlakuan, pada tekanan vacum dalam tanki – 60 cm Hg sampai dengan – 70 cm Hg. Masing-masing larutan dipakai untuk merendam selama 10 menit. Data dianalisis dengan uji ANOVA, dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perendaman buah sawo dalam larutan Ca(OH)2 0,6 % menyebabkan buah mempunyai nilai total padatan terlarut terendah ( 17,00 0Brix), gula reduksi terendah (22,580 %), kandungan pati tertinggi yaitu 1,70 %, pH terendah (3,05), kadar kalsium tertinggi sebesar 80,02 mg/100gr. Perendaman CaCl2 0,6 % memberikan total padatan terlarut terendah (17,060Brix), kandungan pati tertinggi 1.73%, pH terendah (3,71), kadar tanin terendah yaitu sebesar 0,249 mg/100gr, kadar air tertinggi (81,696%), dan umur simpan tertinggi yaitu rata-rata setara 6 hari. Kata kunci: buah sawo, kalsium, sifat kimiawi
PENGARUH WAKTU PENANAMAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL BEBERAPA VARIETAS TANAMAN BAWANG MERAH (Allium ascalonicum L.) Yekti Sri Rahayu

Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Yudharta Pasuruan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (189.67 KB) | DOI: 10.35891/agx.v4i1.777

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan untuk mengevaluasi waktu penanaman di luar musim terhadap pertumbuhan dan hasil dari tiga varietas tanaman bawang merah, di desa Sumbersekar, kabupaten Malang. Tiga varietas tanaman bawang merah ditanam pada Oktober 2009 (akhir musim kemarau), November 2009 (awal musim hujan) dan Desember 2009 (puncak musim hujan) sebagai perlakuan waktu penanaman. Data yang dicatat meliputi luas daun, laju pertumbuhan tanaman (Crop Growth Rate), jumlah umbi per rumpun, rata-rata diameter umbi panen per rumpun (cm), berat kering (matahari) umbi per rumpun (g/rumpun), indeks panen dan produksi tanaman (ton/ha). Data yang dikumpulkan dianalisis dengan analisis ragam pada taraf 5%, dan apabila terdapat pengaruh nyata dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 5%. Pengamatan penunjang dilakukan terhadap kondisi cuaca selama penelitian. Varietas Super Philips, Bauji dan Batu Ijo yang ditanam pada bulan Oktober 2009 (akhir musim kemarau) mampu menghasilkan jumlah umbi yang lebih banyak dibanding ketika ditanam di puncak musim hujan (Desember 2009). Secara umum pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah yang ditanam pada akhir musim kemarau, menunjukkan hasil yang lebih baik pada luas daun, laju pertumbuhan tanaman, diameter umbi, bobot kering (matahari) umbi per rumpun, dan produksi tanaman per hektar dibanding jika ditanam lebih lambat pada puncak musim hujan. Varietas Batu Ijo secara umum menunjukkan pertumbuhan dan hasil yang lebih baik dibanding varietas Super Philips dan Bauji. Kata kunci: bawang merah, penanaman di luar musim
Pengaruh sistem monokultur dan tumpangsari antara sayuran dan Crotalaria juncea L. terhadap akumulasi Pb, biomassa, dan hasil tanaman Yekti Sri Rahayu; Tatik Wardiyati; Moch. Dawam Maghfoer

Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Yudharta Pasuruan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (663.145 KB) | DOI: 10.35891/agx.v12i2.2583

Abstract

Intercropping system that involves planting multispecies between accumulator plants and cultivated plants is a way to improve the phytoextraction of heavy metals in agricultural land simultaneously. However, how the effect of accumulator plants on the growth and yield of cultivated plants has not been widely studied. This study aims to determine the growth and yield of vegetables intercropped with accumulator plants from the legume group, namely Crotalaria juncea L. The study was carried out using a randomized block design with one factor, namely Chinese vegetable monoculture (P1), bean vegetable monoculture (P2), and accumulator plant monoculture. Crotalaria juncea L. (P3), an intercropping system between Chinese cabbage and Crotalaria juncea L. (P4; and an intercropping system of beans and Crotalaria juncea L (P5). The results showed that in Chinese cabbage, monoculture planting produced biomass and crop yields. per plant and per plot was higher than the crops grown by intercropping. In the bean crop, monoculture and intercropping systems did not provide differences in biomass yield and fruit yield per plant and per plot. Crotalaria juncea L, which was grown in monoculture produced plant biomass and the yield of the stove per square is higher gi compared to those planted by intercropping. Crotalaria juncea L. intercropped with Chinese cabbage was able to accumulate more Pb in the roots, while Crotalaria juncea intercropped with chickpeas accumulated higher Pb in the stems. Crotalaria juncea plants grown in monoculture accumulated higher Pb than those intercropped with vegetables, so further research is needed to test the effective removal of Pb using other cropping systems.