Claim Missing Document
Check
Articles

Found 39 Documents
Search

UPAYA GURU DALAM MENANAMKAN KEDISIPLINAN SANTRI DI PONDOK PESANTREN ISLAMIC CENTER BIN BAZ YOGYAKARTA Teguh, Teguh; Rabbani, Muzhaffar Aiman; Ihsan, Ahmad Siyam Al; Saputra, M Ikhsan; Sugari, Dedi; Permadi, Muhammad Arrafi Muzhaffar; Sulisno, Sarwadi
Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah Vol. 10 No. 4 (2025): December (In Progress)
Publisher : STKIP Pesisir Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34125/jkps.v10i4.1111

Abstract

His study aims to describe and analyze teachers’ efforts in instilling the value of discipline among students at Pondok Pesantren Islamic Center Bin Baz Yogyakarta. The research employed a descriptive qualitative approach using observation, interviews, and documentation as data collection techniques. The collected data were analyzed interactively through reduction, presentation, and conclusion drawing stages. The findings reveal that the cultivation of discipline in the pesantren is carried out through three main approaches: habituation, exemplary modeling, and supervision. Habituation is implemented through structured daily routines, exemplary modeling is shown by teachers and dormitory mentors through direct behavior, and supervision ensures consistency and rule enforcement. The religious environment, teacher role models, and collective supervision system significantly reinforce the formation of students’ disciplinary character. The novelty of this study lies in the integration of these three approaches within a single educational system that emphasizes not only rule compliance but also moral and spiritual awareness of discipline among students.
Pemikiran Ibnu Khaldun tentang Peradaban Islam dan Relevansinya bagi Masyarakat Modern Dedi Sugari; Hilalludin Hilalludin
Imanu: Jurnal Hukum dan Peradaban Islam Vol. 1 No. 03 (2025): IMANU: Jurnal Hukum dan Peradaban Islam
Publisher : IMANU: Jurnal Hukum dan Peradaban Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemikiran Ibn Khaldun tentang peradaban Islam merupakan salah satu warisan intelektual Islam yang hingga kini tetap relevan untuk dikaji dalam konteks masyarakat modern. Latar belakang penelitian ini berangkat dari fenomena krisis sosial, politik, dan moral yang dihadapi masyarakat global, yang menunjukkan pola kemunduran peradaban sebagaimana telah digambarkan Ibn Khaldun melalui konsep ‘aṣabiyyah dan siklus peradaban. Penelitian ini bertujuan untuk menggali pemikiran Ibn Khaldun tentang peradaban Islam serta menganalisis relevansinya terhadap tantangan yang dihadapi masyarakat modern. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka, yang melibatkan penelusuran terhadap buku-buku dalam kurun waktu 10 tahun terakhir dan artikel jurnal 5 tahun terakhir. Sumber data dikaji melalui analisis isi dengan langkah reduksi, penyajian, serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemikiran Ibn Khaldun menekankan tiga aspek utama: pentingnya solidaritas sosial (‘aṣabiyyah), urgensi keadilan dalam tata kelola politik dan ekonomi, serta keterkaitan antara faktor geografis dan keberlanjutan peradaban. Relevansinya dalam konteks modern terlihat pada fenomena fragmentasi sosial, korupsi, krisis kepercayaan publik, hingga degradasi lingkungan yang dapat melemahkan fondasi peradaban. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemikiran Ibn Khaldun tidak hanya bersifat historis, tetapi juga analitis dan normatif, sehingga dapat menjadi kerangka konseptual bagi masyarakat modern dalam membangun peradaban yang adil, berkelanjutan, dan berdaya saing.
Hak Asasi Manusia dalam Perspektif Hukum Islam: Antara Universalisme dan Partikularisme Dedi Sugari; Hilalludin Hilalludin
Imanu: Jurnal Hukum dan Peradaban Islam Vol. 1 No. 03 (2025): IMANU: Jurnal Hukum dan Peradaban Islam
Publisher : IMANU: Jurnal Hukum dan Peradaban Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hak Asasi Manusia (HAM) merupakan isu fundamental dalam tatanan global modern yang seringkali diperdebatkan antara perspektif universalisme yang menekankan keseragaman nilai dan partikularisme yang menekankan kekhasan budaya maupun agama. Dalam konteks Islam, HAM tidak dapat dilepaskan dari prinsip dasar maqāṣid al-sharī‘ah yang menjamin perlindungan terhadap agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Kajian ini bertujuan untuk menganalisis konsep HAM dalam perspektif hukum Islam serta menelusuri relevansinya terhadap perdebatan universalisme dan partikularisme di era modern. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka, melalui analisis data dari artikel jurnal, buku, serta dokumen akademik yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa Islam pada dasarnya memiliki kesesuaian dengan nilai-nilai universal HAM, namun tetap menekankan dimensi transendental yang menjadikan kerangka pemahamannya berbeda dari standar Barat. Relevansi pemikiran Islam terhadap HAM modern terletak pada keseimbangan antara hak dan kewajiban, serta integrasi antara kebebasan individu dengan tanggung jawab sosial. Hal ini menegaskan bahwa hukum Islam tidak hanya berposisi sebagai sistem partikular, melainkan juga mampu memberikan kontribusi etis, moral, dan normatif dalam memperkaya diskursus HAM global. Dengan demikian, studi ini menyimpulkan bahwa pemahaman tentang HAM dalam perspektif Islam dapat menjadi jembatan antara tuntutan universalisme dan partikularisme, sekaligus memberikan tawaran alternatif dalam membangun peradaban yang humanis, adil, dan berkelanjutan.
Kontribusi Hukum Islam terhadap Pembangunan Sosial: Dari Sejarah Klasik hingga Arah Baru Peradaban Dunia Dedi Sugari; Hilalludin Hilalludin
Imanu: Jurnal Hukum dan Peradaban Islam Vol. 1 No. 03 (2025): IMANU: Jurnal Hukum dan Peradaban Islam
Publisher : IMANU: Jurnal Hukum dan Peradaban Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hukum Islam memiliki kontribusi besar terhadap pembangunan sosial sejak era klasik hingga perkembangan global kontemporer. Pada masa awal, instrumen seperti baitul mal dan wakaf menjadi pilar penting dalam menciptakan kesejahteraan masyarakat, mendukung pendidikan, kesehatan, dan distribusi ekonomi. Landasan filosofis yang menopang praktik tersebut adalah maqāṣid al-sharī‘ah, yang meliputi perlindungan agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Seiring waktu, konsep ini berkembang dari kerangka normatif menuju metodologi modern yang mampu merespons isu-isu global, seperti hak asasi manusia, kesetaraan gender, dan pembangunan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi kontribusi hukum Islam terhadap pembangunan sosial dengan meninjau sejarah klasik hingga arah baru peradaban dunia. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan analisis literatur, mengacu pada artikel jurnal terbitan lima tahun terakhir dan buku terbitan sepuluh tahun terakhir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hukum Islam tidak hanya bersifat ritualistik, melainkan fleksibel dan adaptif, terbukti melalui keberhasilan sistem keuangan syariah, zakat, dan wakaf produktif dalam konteks modern. Selain itu, hukum Islam mampu memberikan alternatif solusi atas problematika global, termasuk krisis lingkungan, kesenjangan sosial, dan perkembangan teknologi. Simpulan penelitian ini menegaskan bahwa hukum Islam tetap relevan, dinamis, dan berpotensi menjadi fondasi penting dalam membangun peradaban dunia yang adil, beretika, dan berkelanjutan.
Model Pembelajaran Tahfiz Berbasis Neurosains untuk Meningkatkan Daya Hafal Santri Dedi Sugari; Hilalludin Hilalludin; Erna Dwi Maryani; Nur Nasywa Abidah
Al-Hudaya: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Pendidikan Vol. 1 No. 04 (2025): Al Hudaya: Jurnal Ilmu Al Quran dan Pendidikan
Publisher : Jurnal Al-Hudaya : Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembelajaran tahfiz Al-Qur’an membutuhkan strategi yang tidak hanya memperkuat hafalan jangka pendek, tetapi juga menjaga ketahanan memori dalam jangka panjang. Dalam konteks ini, pendekatan berbasis neurosains menawarkan kerangka ilmiah yang membantu santri mengoptimalkan proses menghafal melalui pemahaman cara kerja otak. Penelitian ini bertujuan menganalisis penerapan model pembelajaran tahfiz berbasis neurosains serta dampaknya terhadap peningkatan daya hafal santri. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus melalui observasi, wawancara mendalam, serta dokumentasi kegiatan tahfiz. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan prinsip memori seperti spaced repetition, chunking, penguatan emosional, dan pemilihan waktu belajar yang sesuai ritme biologis mampu mempercepat proses menghafal. Selain itu, pendekatan multisensori dan aktivitas motorik membantu memperkuat jalur memori sehingga santri lebih mudah mengingat ayat dalam jangka panjang. Teknik regulasi diri seperti latihan pernapasan, pengaturan waktu belajar, dan pemantauan progres terbukti meningkatkan konsentrasi dan konsistensi hafalan. Secara keseluruhan, model pembelajaran tahfiz berbasis neurosains berkontribusi pada peningkatan efektivitas hafalan, stabilitas memori, dan motivasi santri. Integrasi neurosains dalam tahfiz menjadi inovasi penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan pesantren modern sekaligus mempertahankan nilai-nilai tradisi.
Peran Literasi Al-Qur’an dalam Meningkatkan Kecerdasan Spiritual Peserta Didik Dedi Sugari; Hilalludin Hilalludin; Erna Dwi Maryani; Abdul Hamid
Al-Hudaya: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Pendidikan Vol. 1 No. 04 (2025): Al Hudaya: Jurnal Ilmu Al Quran dan Pendidikan
Publisher : Jurnal Al-Hudaya : Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis peran literasi Al-Qur’an dalam meningkatkan kecerdasan spiritual peserta didik di lingkungan pendidikan Islam modern. Latar belakang penelitian ini berangkat dari realitas bahwa kemampuan peserta didik memahami, membaca, dan menghayati pesan Al-Qur’an belum seluruhnya berkembang optimal, padahal kecerdasan spiritual merupakan fondasi penting dalam membentuk karakter religius, kesadaran etis, serta kepekaan sosial. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi literatur, memanfaatkan berbagai sumber ilmiah seperti buku, jurnal, dan karya penelitian terbaru mengenai literasi Al-Qur’an dan pengembangan spiritual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa literasi Al-Qur’an tidak hanya berfungsi sebagai kemampuan membaca teks suci, tetapi menjadi instrumen utama dalam menumbuhkan pemahaman makna ayat secara tematik dan kontekstual sehingga peserta didik mampu menginternalisasi nilai-nilai ilahiah ke dalam perilaku sehari-hari. Selain itu, penelitian menemukan bahwa kecerdasan spiritual meningkat ketika proses literasi Qur’ani diintegrasikan dengan aktivitas reflektif, pembiasaan ibadah, serta pembelajaran yang memadukan aspek kognitif, afektif, dan moral. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa literasi Al-Qur’an memiliki peran strategis dalam pembentukan kecerdasan spiritual, dan lembaga pendidikan perlu memperkuat strategi pembelajaran yang komprehensif agar peserta didik tidak hanya cakap membaca Al-Qur’an tetapi juga mampu memahami, menghayati, dan mengimplementasikan nilai-nilainya dalam kehidupan nyata.
Implementasi Metode Tilawah Tartil sebagai Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Al-Qur’an Dedi Sugari; Hilalludin Hilalludin Hilalludin; Erna Dwi Maryani; Umi Maslichah
Al-Hudaya: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Pendidikan Vol. 1 No. 04 (2025): Al Hudaya: Jurnal Ilmu Al Quran dan Pendidikan
Publisher : Jurnal Al-Hudaya : Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Metode Tilawah Tartil merupakan salah satu pendekatan pembelajaran Al-Qur’an yang menekankan ketelitian, ketenangan, dan ketepatan dalam membaca sesuai kaidah tajwid. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi metode tersebut sebagai upaya meningkatkan motivasi belajar Al-Qur’an pada peserta didik. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi yang dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pembelajaran dengan Tilawah Tartil dilakukan melalui pembacaan contoh oleh guru, latihan bersama, dan pembacaan individu yang disertai umpan balik positif. Penerapan metode ini terbukti meningkatkan motivasi peserta didik karena memberikan pengalaman belajar yang lebih tenang, terarah, dan tidak menegangkan. Peserta didik merasakan peningkatan kemampuan membaca sehingga muncul rasa percaya diri dan motivasi intrinsik. Faktor pendukung implementasi metode ini antara lain kompetensi guru, lingkungan yang kondusif, serta dukungan keluarga dan lembaga. Sementara itu, faktor penghambat meliputi kesulitan membedakan makhraj huruf, motivasi awal rendah, dan keterbatasan waktu pembelajaran. Secara keseluruhan, Metode Tilawah Tartil dapat menjadi strategi efektif dalam meningkatkan motivasi belajar Al-Qur’an apabila diterapkan secara konsisten dengan dukungan lingkungan belajar yang memadai.
Integrasi Nilai-Nilai Al-Qur’an dalam Penguatan Karakter di Lembaga Pendidikan Islam Modern Dedi Sugari; Hilalludin Hilalludin; Erna Dwi Maryani; Mita Okta Viyani; Ayna Wahyuni
Al-Hudaya: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Pendidikan Vol. 1 No. 04 (2025): Al Hudaya: Jurnal Ilmu Al Quran dan Pendidikan
Publisher : Jurnal Al-Hudaya : Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini membahas integrasi nilai-nilai Al-Qur’an dalam penguatan karakter di lembaga pendidikan Islam modern sebagai respons terhadap tantangan moral di era globalisasi. Perkembangan teknologi dan arus informasi yang semakin terbuka menyebabkan peserta didik terpapar dengan berbagai nilai yang tidak selalu sejalan dengan ajaran Islam, sehingga lembaga pendidikan memiliki tanggung jawab besar dalam membangun karakter yang berlandaskan nilai Qur’ani. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kajian literatur melalui penelaahan buku, artikel jurnal, dan hasil penelitian terdahulu yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa nilai-nilai seperti kejujuran, amanah, disiplin, tanggung jawab, kasih sayang, dan keadilan menjadi dasar penting dalam pembentukan karakter. Integrasi nilai Qur’ani dilakukan melalui kurikulum, kegiatan pembiasaan, budaya sekolah, dan keteladanan guru sebagai model utama bagi peserta didik. Selain itu, tantangan seperti pengaruh budaya digital dan keterbatasan kemampuan pedagogis guru dapat diatasi melalui inovasi pembelajaran dan penguatan kompetensi pendidik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa integrasi nilai-nilai Al-Qur’an memberikan kontribusi signifikan dalam membangun peserta didik yang tidak hanya unggul akademik, tetapi juga memiliki kepribadian berakhlak mulia dan siap menghadapi perubahan zaman.
Pendekatan Tafsir Tematik dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Era Digital Dedi Sugari; Hilalludin Hilalludin; Erna Dwi Maryani; Antawiria Wira Santanu; Ayna Wahyuni
Al-Hudaya: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Pendidikan Vol. 1 No. 04 (2025): Al Hudaya: Jurnal Ilmu Al Quran dan Pendidikan
Publisher : Jurnal Al-Hudaya : Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan era digital menuntut pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) untuk bertransformasi menuju metode yang lebih relevan, interaktif, dan kontekstual. Salah satu pendekatan yang potensial adalah tafsir tematik, yaitu metode yang mengelompokkan ayat-ayat Al-Qur’an berdasarkan tema tertentu sehingga menghasilkan pemahaman yang utuh dan mendalam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui studi literatur, meliputi analisis buku tafsir, artikel ilmiah, dan dokumen pembelajaran digital yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan tafsir tematik sangat efektif diterapkan dalam pembelajaran PAI di era digital karena mampu mengintegrasikan nilai-nilai Al-Qur’an dengan masalah-masalah kontemporer seperti etika digital, pergaulan modern, serta tantangan moral generasi muda. Pemanfaatan teknologi digital seperti aplikasi Al-Qur’an digital, video pembelajaran, multimedia interaktif, dan platform e-learning memberikan dukungan signifikan dalam meningkatkan antusiasme, motivasi, dan partisipasi siswa. Guru PAI memainkan peran strategis dalam merancang kegiatan pembelajaran berbasis tema, memilih sumber digital yang kredibel, serta memfasilitasi diskusi kritis untuk memperkuat literasi keagamaan siswa. Temuan penelitian ini menegaskan bahwa penerapan tafsir tematik melalui media digital tidak hanya memperkaya pengalaman belajar, tetapi juga memperkuat pemahaman nilai-nilai Qur’ani secara kontekstual dan aplikatif. Dengan demikian, pendekatan ini relevan untuk diadopsi sebagai strategi pembelajaran PAI modern karena mampu membentuk kompetensi keagamaan, literasi digital islami, serta karakter yang selaras dengan kebutuhan abad 21.
Integrasi Neurosains dalam Pembelajaran Aqidah: Analisis Penguatan Keimanan Berbasis Brain-Based Learning di Madrasah Dedi Sugari; Hilalludin Hilalludin; Adi Haironi
SciNusa: Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 2 No. 02 (2026): SciNusa: Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora
Publisher : SciNusa: Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini menganalisis integrasi neurosains dalam pembelajaran aqidah melalui pendekatan brain-based learning untuk memperkuat keimanan siswa di madrasah. Pembelajaran aqidah yang berfokus pada aspek kognitif dinilai belum optimal dalam mendorong penghayatan nilai iman. Neurosains pendidikan menegaskan pentingnya keterpaduan kognitif dan emosional, sehingga penguatan iman memerlukan pengalaman belajar yang bermakna dan menyentuh dimensi batin siswa. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melalui kajian kepustakaan terhadap buku dan artikel ilmiah lima tahun terakhir dengan analisis isi deskriptif-analitis. Hasil menunjukkan bahwa lingkungan belajar yang aman, keterlibatan aktif, pembelajaran kontekstual, refleksi, dan aktivasi emosi positif mampu memperkuat internalisasi iman. Integrasi neurosains dan pembelajaran aqidah membentuk kerangka pedagogis yang menyatukan akal dan hati, sehingga pemahaman berkembang menjadi keyakinan yang lebih mendalam dan berkelanjutan serta relevan bagi pendidikan modern.