Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Optimalisasi Peran LLDIKTI Wilayah VI sebagai Fasilitator dalam Tata Kelola Beasiswa KIP Kuliah di Jawa Tengah Zaenal Arifin; Wasino; Sucihatiningsih Dian Wisika Prajanti; Sungkowo Edy Mulyono
Policy Brief Pertanian, Kelautan, dan Biosains Tropika Vol. 8 No. 1 (2026): Policy Brief Pertanian, Kelautan, dan Biosains Tropika
Publisher : Direktorat Kajian Strategis dan Reputasi Akademik IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/agro-maritim.0801.1583-1588

Abstract

Policy brief ini menyoroti peran LLDIKTI Wilayah VI dalam memfasilitasi tata kelola Beasiswa KIP Kuliah di Perguruan Tinggi Swasta (PTS) Jawa Tengah. Kajian ini menunjukkan bahwa fasilitasi yang berjalan saat ini masih lebih berfokus pada verifikasi administratif melalui sistem SIBRAJA, sementara pembinaan substantif bagi pengelola PTS masih terbatas. Kondisi tersebut diperparah oleh rendahnya pemahaman regulasi, tingginya rotasi pengelola beasiswa di tingkat PTS, serta belum optimalnya integrasi sistem informasi. Temuan juga menunjukkan bahwa kapasitas kelembagaan PTS berhubungan dengan kualitas layanan yang dirasakan mahasiswa, terutama dalam proses pencairan beasiswa. Karena itu, penguatan kapasitas sumber daya manusia menjadi prioritas utama, diikuti dengan perbaikan pembinaan, integrasi sistem informasi, penataan lini masa pelaksanaan, serta penyempurnaan petunjuk teknis. Mengingat cakupan kajian masih terbatas, temuan ini perlu dipahami sebagai indikasi awal untuk mendukung perbaikan kebijakan lebih lanjut, termasuk melalui pelibatan pengelola program di tingkat pusat.
Makna Simbolik Tradisi Manganan sebagai Wujud Syukur dan Identitas Budaya Masyarakat Ramiyati Ramiyati; Argitha Aricindy; Wasino; Tri Astuti
Sujud: Jurnal Agama, Sosial dan Budaya Vol. 2 No. 1 (2026): JANUARI
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/01t6vh03

Abstract

The Manganan tradition is one of the local wisdoms that continues to be preserved by the people of Banjarjo Village, Padangan District, Bojonegoro Regency. This tradition symbolizes the community’s gratitude for the harvest, safety, and prosperity bestowed by God Almighty. This study aims to explore the symbolic meanings embodied in the Manganan tradition and to understand its role as a cultural identity of the local community. The research employed a qualitative approach with an ethnographic method. Data were collected through observation, in-depth interviews with community leaders and tradition participants, and documentation of the Manganan activities. The findings reveal that each element of the tradition such as offerings, communal prayers, and shared meals contains symbolic meanings reflecting religiosity, togetherness, and gratitude. Furthermore, the Manganan tradition serves as a medium to strengthen social solidarity and maintain the continuity of cultural values across generations. Therefore, Manganan functions not only as a religious ritual but also as a form of cultural identity that reinforces the social cohesion and cultural resilience of the Banjarjo community amid modernization
Museum-Based History Learning for Schools at the Wereldmuseum Leiden: Educational Activities and the Roles of Teachers and Museum Educators Argitha Aricindy; Wasino; Aji Sofanudin; Hamdan Tri Atmaja; Atika Wijaya; Endah Sri Hartatik; Suryadi
Paramita: Historical Studies Journal Vol. 36 No. 1 (2026): Social and Intellectual History
Publisher : istory Department, Faculty of Social Sciences, Universitas Negeri Semarang in collaboration with Masyarakat Sejarawan Indonesia (Indonesian Historical Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v36i1.27186

Abstract

Abstract: This study examines the educational activities and resources of Wereldmuseum Leiden within the context of formal history education, focusing on how learning is designed before, during, and after school visits. The central question is: what structured learning activities are implemented, and how do they support students’ historical understanding? Using a mixed-methods approach, qualitative data were collected through semi-structured interviews with five teachers and two museum educators, complemented by a descriptive survey of 20 participants involved in museum programs. The study analyzes activity types, timing, learning resources, and collaboration patterns between schools and museum staff. Findings indicate that hands-on workshops, artifact observation, and audiovisual materials are the most frequently used activities, mainly conducted during museum visits. Pre- and post-visit activities remain limited, suggesting weak integration with school curricula. Collaboration between teachers and museum educators is generally informal and inconsistent. This study highlights the need for more systematic partnerships between museums and schools to strengthen the pedagogical impact of museum-based history education. It also contributes to the field by adapting the instrument of Escribano-Miralles et al. (2021) to ethnographic museums with colonial collections, revealing specific challenges such as the underuse of pre/post-visit activities and digital resources in these settings. Abstrak: Penelitian ini mengkaji aktivitas dan sumber belajar di Wereldmuseum Leiden dalam konteks pendidikan sejarah formal, dengan fokus pada perancangan pembelajaran sebelum, selama, dan setelah kunjungan sekolah. Pertanyaan utama penelitian ini adalah: aktivitas pembelajaran terstruktur apa yang digunakan dan bagaimana aktivitas tersebut mendukung pemahaman sejarah siswa? Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed-methods. Data kualitatif diperoleh melalui wawancara semi-terstruktur dengan lima guru dan dua edukator museum, serta didukung oleh survei deskriptif terhadap 20 partisipan yang terlibat dalam program edukasi museum. Analisis difokuskan pada jenis aktivitas, waktu pelaksanaan, sumber belajar, dan pola kolaborasi antara sekolah dan pihak museum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa workshop berbasis praktik, observasi artefak, dan penggunaan media audiovisual merupakan aktivitas yang paling dominan, terutama selama kunjungan berlangsung. Aktivitas sebelum dan setelah kunjungan masih terbatas, yang menunjukkan lemahnya integrasi dengan kurikulum sekolah. Kolaborasi antara guru dan edukator museum juga cenderung bersifat informal dan belum konsisten. Penelitian ini menegaskan pentingnya kemitraan yang lebih sistematis antara museum dan sekolah untuk meningkatkan dampak pedagogis pembelajaran sejarah berbasis museum. Selain itu, studi ini berkontribusi dengan mengadaptasi instrumen Escribano-Miralles et al. (2021) ke konteks museum etnografi bercorak kolonial, serta mengungkap keterbatasan pemanfaatan aktivitas pra- dan pascakunjungan dan sumber digital.pembelajaran yang bermakna di tingkat lokal maupun global.
East Timor Refugee Nationalism: Adaptation and Identity Conflict in Kupang, 1998-2014 Teodorikus Hanpalam; Yety Rochwulaningsih; Wasino; Singgih Tri Sulistiyono; Fitri Amalia Shinta Siwi
Paramita: Historical Studies Journal Vol. 36 No. 1 (2026): Social and Intellectual History
Publisher : istory Department, Faculty of Social Sciences, Universitas Negeri Semarang in collaboration with Masyarakat Sejarawan Indonesia (Indonesian Historical Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v36i1.33677

Abstract

Abstract: This study examines the dynamics of nationalism among former East Timorese refugees in Kupang, East Nusa Tenggara, during 1998–2014. It explores how socio-economic adaptation, identity conflict, and negotiations of belonging unfolded in the aftermath of the 1999 referendum and within the wider context of post-Reformasi Indonesia. Employing a historical method with an interdisciplinary perspective, this research draws on government archives, international reports, newspapers, and in-depth interviews with former refugees, community leaders, government officials, and NGO activists. The analysis is informed by social identity theory, Anderson’s concept of imagined communities, diaspora theory, ethnic boundary-making, and refugee labeling. The findings indicate that refugee nationalism was neither fixed nor singular, but fluid, situational, and continuously renegotiated. Adaptation developed through informal economic strategies, kinship networks, intermarriage, religious participation, and everyday interaction with local communities. At the same time, identity conflict persisted through stigmatization as “refugees” or “new residents,” insecure access to land and public services, unresolved trauma, and fragmented state policies. The study identifies three interrelated forms of nationalism: historical-ideological nationalism, survival nationalism, and hybrid nationalism, particularly among younger generations. These findings reveal the ambivalent character of Indonesian nationalism, which simultaneously articulates inclusion and reproduces exclusion. This study contributes to refugee and nationalism studies by highlighting how marginalized communities negotiate belonging in everyday life and by underlining the need for more inclusive and sustainable integration policies. Abstrak:  Penelitian ini mengkaji dinamika nasionalisme mantan pengungsi Timor Timur di Kupang, Nusa Tenggara Timur, pada periode 1998–2014. Kajian ini berfokus pada bagaimana adaptasi sosial-ekonomi, konflik identitas, dan negosiasi rasa memiliki terhadap bangsa berlangsung pascareferendum 1999 dalam konteks Indonesia pascareformasi. Penelitian menggunakan metode sejarah dengan perspektif interdisipliner, melalui pemanfaatan arsip pemerintah, laporan lembaga internasional, surat kabar, serta wawancara mendalam dengan mantan pengungsi, tokoh masyarakat, aparat pemerintah, dan aktivis LSM. Analisis didasarkan pada teori identitas sosial, konsep imagined communities dari Anderson, teori diaspora, pembentukan batas etnis, dan pelabelan pengungsi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa nasionalisme para mantan pengungsi tidak bersifat tunggal maupun tetap, melainkan cair, situasional, dan terus dinegosiasikan. Adaptasi berlangsung melalui strategi ekonomi informal, jaringan kekerabatan, perkawinan campuran, partisipasi keagamaan, serta interaksi sehari-hari dengan masyarakat lokal. Namun demikian, konflik identitas tetap bertahan melalui stigmatisasi sebagai “pengungsi” atau “warga baru,” keterbatasan akses terhadap tanah dan layanan publik, trauma yang belum sepenuhnya pulih, serta kebijakan negara yang terfragmentasi. Penelitian ini mengidentifikasi tiga bentuk nasionalisme yang saling berkelindan, yaitu nasionalisme historis-ideologis, nasionalisme survival, dan nasionalisme hibrid, terutama pada generasi muda. Temuan ini menegaskan ambivalensi nasionalisme Indonesia yang di satu sisi menjanjikan inklusi, tetapi di sisi lain masih mereproduksi eksklusi.
The Historical Roots of Corporate Social Responsibility in Indonesia: The Institutionalization of Social Welfare in the Mangkunegaran Sugar Industry, 1861–1940 Wasino; William Bradley Horton; Hartatik Endah Sri; Witasari Nina; Aricindy Argitha; Scientia Inu Kirana Enwa Siwi; Sina Fortuna Devi Putri
Paramita: Historical Studies Journal Vol. 36 No. 1 (2026): Social and Intellectual History
Publisher : istory Department, Faculty of Social Sciences, Universitas Negeri Semarang in collaboration with Masyarakat Sejarawan Indonesia (Indonesian Historical Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v36i1.34091

Abstract

Abstract: Corporate Social Responsibility (CSR) is often understood as a modern normative concept that was only adopted in Indonesia in the post-2000 period. This study challenges that assumption by tracing the historical roots of CSR-like practices through an examination of social welfare initiatives in the Mangkunegaran sugar industry between 1861 and 1940. Employing historical research methods, this study analyzes how welfare initiatives at the Colomadu and Tasikmadu sugar factories evolved from ad hoc responses into an institutionalized system. The findings demonstrate that the Mangkunegaran sugar enterprises implemented practices that can be categorized as “Proto-CSR,” driven by a Dual Logic: economic rationality aimed at maintaining labor productivity, and a moral-cultural obligation of the ruler rooted in Mangkunegaran leadership ethics to protect and care for the populace (kawula). This institutionalization culminated in the establishment of the Bevolkingfondsen (Population Fund), a formal financing mechanism that supported healthcare services, housing improvements, and public sanitation. This study concludes that the Mangkunegaran welfare practices conceptually preceded the modern notion of Creating Shared Value (CSV). These findings contribute to the theoretical discourse on CSR by demonstrating that corporate social responsibility in Indonesia has deep indigenous and historical roots, rather than being merely an adoption of contemporary global management standards. Abstrak: Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR) kerap dipahami sebagai konsep normatif modern yang baru diadopsi di Indonesia pada era pasca-2000. Penelitian ini menantang asumsi tersebut dengan menelusuri akar historis praktik tanggung jawab sosial melalui studi kasus industri gula Mangkunegaran pada periode 1861–1940. Dengan menggunakan metode sejarah, penelitian ini menganalisis transformasi inisiatif kesejahteraan sosial di pabrik gula Colomadu dan Tasikmadu dari respons situasional menjadi sistem yang terlembaga. Temuan penelitian menunjukkan bahwa industri gula Mangkunegaran telah menjalankan praktik yang dapat dikategorikan sebagai “Proto-CSR”, yang digerakkan oleh Logika Ganda (Dual Logic): rasionalitas ekonomi untuk menjaga keberlanjutan produktivitas tenaga kerja, serta kewajiban moral-budaya penguasa berakar pada etos kepemimpinan Mangkunegaran—untuk mengayomi rakyat (kawula). Pelembagaan praktik ini mencapai bentuk formal melalui pembentukan Bevolkingfondsen (Dana Penduduk), sebuah mekanisme pendanaan yang menopang layanan kesehatan, perbaikan permukiman, dan sanitasi publik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa praktik kesejahteraan sosial Mangkunegaran secara konseptual mendahului gagasan Creating Shared Value (CSV). Temuan ini berkontribusi pada pengayaan wacana teoretis dengan menunjukkan bahwa CSR di Indonesia memiliki akar historis dan kultural yang kuat, serta tidak semata-mata merupakan adopsi dari standar global modern.