Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

The state, people, and zombie outbreak: Foucauldian reading of Zona Merah series Agung, Lingga; Wismoyo, Erlana Adli; Adi, Anggar Erdhina
ProTVF Vol 10, No 1 (2026): March 2026
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ptvf.v10i1.62498

Abstract

Background: Indonesian horror cinema has long relied on local ghost figures, while zombies often appear as a borrowed form with weaker cultural intimacy. Zona Merah (2024), a Vidio Original series, becomes a strategic case because it shifts horror from the supernatural to a politically managed emergency, where governance operates through discourse, media visibility, and securitized control. Purpose: This study examines how Zona Merah represents the relationship between the state, the people, and the zombie outbreak, and how it articulates post-Reformasi local power through dynastic politics, oligarchic networks, and institutional capture under crisis conditions. Methods: This qualitative study applies scene-based textual analysis combined with Foucauldian discourse analysis. The primary data consists of all eight episodes of Season 1, viewed repeatedly to map recurring crisis discourse and governing practices. The analysis integrates dialogue and visual composition to identify discursive objects, authorized speakers, subject positions, and their practical effects as techniques of rule, including surveillance, scapegoating, crowd management, and decisions over protection and sacrifice. Results: Zona Merah frames the outbreak as a governance crisis, not only a biomedical event. Local elites control public announcements and TV narratives to shift blame and justify security measures that endanger citizens for elite continuity. Zaenal sustains dynastic power through institutions, media, and business networks, masked by welfare rhetoric. Dyah Ayu uses pastoral care and propaganda to manage consent and legitimize sacrifice, even at her faction’s expense. Media works as a regime of truth through “most wanted” framing that disciplines behavior via stigma and fear. Maya and Risang resist, but power also shapes social reality, limiting oppositional claims and systemic change. Conclusion: Zona Merah depicts crisis as a dispositif where power circulates through discourse, surveillance, and truth-production, enabling elite consolidation while positioning citizens as expendable. Implications: This study expands scholarship on Indonesian zombie cinema by showing how the genre can critique crisis governance, biopolitics, and media power in contemporary Indonesia.
PENATAAN KAMERA FILM PENDEK TENTANG KESEJAHTERAAN PEKERJA TEH DI CIANJUR Muhammad Rifqi Al Ariq; Lingga Agung; Anggar Erdhina Adi
eProceedings of Art & Design Vol. 13 No. 1 (2026): Februari 2026
Publisher : Telkom University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia merupakan salah satu negara penghasil teh terbesar di dunia, namunmasih menghadapi masalah kesejahteraan bagi para pekerja perkebunan teh.Perancangan ini mengangkat kondisi pekerja di perkebunan teh Maleber, Cianjur, JawaBarat, yang terdampak oleh alih fungsi lahan menjadi tambang pasir, sehinggamengurangi luas kebun dan hasil panen. Film pendek Pergi Petik Pulang dibuat sebagaimedia visual untuk menggambarkan tantangan tersebut dan menyampaikan pesan sosialtentang pentingnya kesejahteraan pekerja serta keberlanjutan industri teh. Prosesperancangan dilakukan melalui observasi lapangan dan observasi karya sejenis denganpendekatan analisis tematik dan konten. Tahapan produksi dimulai dari pra produksidengan observasi lokasi, penyusunan shotlist dan storyboard, hingga persiapan alat. Saatproduksi, pengambilan gambar dilakukan sesuai konsep visual dengan memperhatikanangle, shot size, movement, dan composition. Pada tahap pasca produksi, penata kameraberperan dalam penyelarasan visual melalui camera report dan membantu proses editingseperti color grading. Hasil perancangan menunjukkan bahwa pendekatan sinematografiyang terarah dan sesuai konteks dapat memberikan representasi yang kuat, serta menjadimedia edukasi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap isu kesejahteraanpekerja teh.Kata kunci: Kesejahteraan, Teh, Film pendek, Penata kamera
PENYUTRADARAAN FILM PENDEK TENTANG KESEJAHTERAAN PEKERJA TEH DI CIANJUR Faza Auliaurrachman; Lingga Agung; Anggar Erdhina Adi
eProceedings of Art & Design Vol. 13 No. 1 (2026): Februari 2026
Publisher : Telkom University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia memiliki sekitar 97.560 hektar perkebunan teh dan merupakan salah satuprodusen teh terbesar di dunia, dengan Jawa Barat menyumbang dua pertiga produksinasional. Namun, kondisi tersebut tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan pekerjateh, terutama pemetik dan petani skala kecil. Di Perkebunan Maleber, Cianjur, upah yangrendah, penyusutan lahan akibat alih fungsi, serta stereotip pekerjaan menyebabkanminimnya regenerasi tenaga kerja. Hal ini mendorong perlunya media komunikasi yangmampu menyuarakan realitas tersebut secara efektif dan emosional. Untuk itu, dirancangsebuah film fiksi dengan pendekatan penyutradaraan formalis yang menggambarkankondisi kesejahteraan pekerja teh secara naratif dan visual. Proses perancangan meliputipra-produksi, produksi, dan pascaproduksi, yang didahului oleh observasi lapangan danwawancara sebagai dasar penyusunan konsep cerita dan gaya penyutradaraan. Teknikanalisis tematik digunakan untuk menyusun struktur naratif yang relevan dengan isusosial, sedangkan teori formalisme diterapkan dalam pendekatan penyutradaraan. Hasilperancangan menunjukkan bahwa film fiksi mampu membangun empati terhadap isukesejahteraan, meskipun keterbatasan durasi dan kompleksitas isu menjadi tantangantersendiri. Film ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai mediaedukasi dan informasi.Kata Kunci : Kesejahteraan, Pekerja teh, Pemetik, Alih fungsi lahan, Film Pendek,Penyutradaraan