Claim Missing Document
Check
Articles

STUDI IN SILICO AFINITAS SENYAWA AKTIF BIJI KACANG MERAH (Phaseolus vulgaris) TERHADAP PROTEIN SIRTUIN-1 (SIRT-1) DAN NUCLEAR RELEATING FACTOR-2 (NRF2) UNTUK MENCEGAH ALZHEIMER M Josie Yusuf; Anita Puspa Widiyana; Dini Sri Damayanti
Jurnal Kedokteran Komunitas Vol 10, No 2 (2022)
Publisher : Jurnal Kedokteran Komunitas (Journal of Community Medicine)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (412.845 KB)

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan: Protein Sirtuin-1 (SIRT-1) dan Nuclear Releating Factor-2 (NRF2) berperan dalam mekanisme terjadinya Alzheimer. Secara empiris kacang merah (Phaseolus vulgaris) mengandung senyawa aktif untuk menghambat Alzheimer, namun mekanismenya terhadap SIRT-1 dan NRF2 belum pernah diteliti. Penelitian dilakukan untuk mengetahui mekanisme kacang merah mencegah Alzheimer melalui aktivasi SIRT-1 dan NRF2.Metode: Penelitian dilakukan secara In Silico dengan menggunakan docking server untuk menilai afinitas senyawa aktif biji kacang merah terhadap protein SIRT-1 dan NRF2. Uji farmakokinetik, fisikokimia dinilai dengan pkCSM (Predicting Small-Molecule Pharmacokinetic and Toxicity Properties). Analisa dilakukan dengan diskriptif analitik dengan melihat hasil afinitas senyawa aktif terhadap SIRT-1 dan NRF2 dibandingkan obat kontrol.Hasil: Didapatkan 5 senyawa aktif (beta sitosterol, sianidin, glisitein, biokanin A, dan genistein) dari 8 senyawa aktif yang diteliti memiliki afinitas tinggi terhadap protein SIRT-1 dan 5 Senyawa aktif (beta sitosterol, biokanin A, genistein, glisitein, dan formononetin) dari 20 senyawa aktif yang didockingkan memiliki afinitas yang tinggi terhadap protein NRF2. Hasil prediksi parameter fisikokimia seluruh senyawa aktif memenuhi hukum 5 Lipinski. Hasil Prediksi sifat farmakokinetik β-sitosterol adalah senyawa yang memiliki nilai paling baik.Kesimpulan: senyawa aktif biji kacang merah mempunyai potensi sebagai pencegahan alzheimer dengan mengaktifkan SIRT-1 dan NRF2 yaitu beta sitosterol. Beta sitosterol juga mempunyai afinitas, fisikokimia, farmakokinetik yg baik dan tidak bersifat toksik sehingga dapat menjadi kandidat kuat obat pencegahan Alzheimer melalui peningkatan SIRT-1 dan NRF2.Kata Kunci : Alzheimer; Phaseolus vulgaris; in silico
PENGARUH VARIASI KONSENTRASI SUKROSA TERHADAP DERAJAT KEASAMAN DAN TOTAL BAKTERI ASAM LAKTAT KOMBUCHA DAUN SIRSAK (Annona muricata L.) Rosita Sari; Yoni Rina Bintari; Dini Sri Damayanti
Jurnal Kedokteran Komunitas Vol 10, No 1 (2022)
Publisher : Jurnal Kedokteran Komunitas (Journal of Community Medicine)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (742.207 KB)

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Kombucha daun sirsak merupakan minuman probiotik yang berasal dari hasil fermentasi teh daun sirsak dan sukrosa oleh starter kombucha yaitu SCOBY (Symbiotic Culture of Bacteria and Yeast). Daun sirsak dapat digunakan sebagai bahan dasar untuk pembuatan kombucha karena mengandung senyawa polifenol yang tinggi. Salah satu bakteri pada kombucha yang mempunyai peran sebagai probiotik adalah bakteri asam laktat, sedangkan yang mempengaruhi pertumbuhan dari bakteri asam laktat adalah sukrosa. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur total bakteri asam laktat dan derajat keasaman pada kombucha daun sirsak dengan variasi konsentrasi sukrosa berbeda.Metode: Kombucha daun sirsak dibuat dengan menambahkan sukrosa dengan konsentrasi 5%, 10%, 15% (b/v) serta SCOBY dan difermentasi selama 7 hari. Pengukuran derajat keasaman menggunakan pH meter yang telah dikalibrasi. Penghitungan total bakteri asam laktat dinyatakan dalam Colony Forming Unit (CFU)/ml. Hasil dianalisis secara statistik menggunakan uji one way ANOVA dengan taraf signifikansi p≤0.05.Hasil: Tidak terdapat perbedaan secara signifikan variasi kadar sukrosa terhadap derajat keasaman dan total bakteri asam laktat kombucha daun sirsak. Kadar sukrosa 10% (b/v) pada kombucha daun sirsak mempunyai derajat keasaman 3,30 ± 0,06  dan total bakteri asam laktat sebanyak 9,03 x 106 ± 5,36 x 106  CFU/ml yang sesuai untuk dikonsumsi.Kesimpulan: Kombucha daun sirsak konsentrasi gula 10% (b/v) mempunyai derajat keasaman dan total bakteri asam laktat lebih tinggi jika dibandingkan dengan kombucha daun teh sehingga lebih berpotensi sebagai probiotik.Kata Kunci: Kombucha, daun sirsak, probiotik, derajat keasaman, total bakteri asam laktat.
PENGARUH EKSTRAK AIR DAUN SIRSAK (Annona muricata L.) TERHADAP APOPTOSIS SEL β PANKREAS DAN PERUBAHAN MORFOLOGI ISLET LANGERHANS TIKUS MODEL OBESITAS Dinda Dwi Anggita; Aris Rosidah; Dini Sri Damayanti
Jurnal Kedokteran Komunitas Vol 10, No 2 (2022)
Publisher : Jurnal Kedokteran Komunitas (Journal of Community Medicine)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (700.651 KB)

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Pemberian diet tinggi lemak tinggi fruktosa (TLTF) akan menyebabkan obesitas yang akan memicu terbentuknya radikal bebas, dan akhirnya menginduksi terjadinya kerusakan ada sel β pankreas dan perubahan morfologi islet Langerhans. Daun sirsak memiliki aktivitas antioksidan sebagai pertahanan terhadap radikal bebas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek ekstrak air daun sirsak (EADS) terhadap jumlah apoptosis sel β, dan perubahan morfologi (struktur, bentuk, ukuran) islet Langerhans pankreas tikus dengan induksi TLTF.Metode: Diberikan induksi diet TLTF dan EADS selama 10 minggu pada hewan coba yang dibagi menjadi 5 kelompok secara in vivo, yaitu kelompok normal (KN), kelompok positif (KP) dan EADS dosis I (100 mg/kgBB), II (200 mg/kgBB) dan III (400 mg/kgBB) (n=6 ekor). Dilakukan pengambilan sediaan organ pankreas dengan pengecatan Hematoxylin Eosin untuk mengetahui jumlah apoptosis sel β, dan perubahan morfologi islet Langerhans, lalu diamati dengan mikroskop dotSlide dengan perbesaran 200x. Analisa statistik menggunakan One Way ANOVA dan uji LSD (p<0,05).Hasil: Pemberian EADS dosis II dan III secara signifikan menurunkan jumlah apoptosis sel β pankreas sekitar 22% dan 30% dibandingkan kontrol positif (p<0,05), sedangkan pada perubahan struktur islet Langerhans secara signifikan dapat menurunkan sekitar 17% dan 24% (p<0,05), dan pada perubahan bentuk islet Langerhans secara signifikan dapat meningkatkan sekitar 80% dan 95% (p<0,05). Pemberian EADS dosis I, II dan III secara signifikan meningkatkan luas ukuran sekitar 57%, 47%, dan 62% dibandingkan kontrol positif (p<0,05).Simpulan: Pemberian EADS dosis II dapat menurunkan jumlah apoptosis sel β pankreas, menghambat perubahan struktur, dan meningkatkan perbaikan perubahan bentuk. Sedangkan EADS dosis I dapat meningkatkan luas ukuran islet Langerhans. Kata Kunci: Daun Sirsak, Diet TLTF, Obesitas, Apoptosis, Morfologi Islet Langerhans 
PENGARUH FREKUENSI AKTIVITAS FISIK TERHADAP KADAR TRIGLISERIDA SERUM DAN SKOR NON ALCOHOLIC STEATO HEPATITIS (NASH) TIKUS BETINA DENGAN DIET HIPERLIPIDEMIA Desy Amalia Wulandari; Dini Sri Damayanti; Merlita Herbani
Jurnal Kedokteran Komunitas Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : Jurnal Kedokteran Komunitas (Journal of Community Medicine)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1022.808 KB)

Abstract

Pendahuluan: Hiperlipidemia ialah kondisi peningkatan kadar kolesterol, trigliserida dan LDL dalam darah di atas batas normal disertai penurunan kadar HDL, mapun kombinasi dari ketiganya. Hiperlipidemia dapat terjadi akibat, obesitas, diet tinggi lemak (diet hiperlipidemia), jarang olahraga, penggunaan alkohol, merokok, diabetes yang tidak terkontrol dan hipotiroidisme. Penelitian ini akan menguji aktivitas fisik dengan berenang dengan variasi frekuensi yang berbeda guna menguji pengaruhnya terhadap kadar kadar trigliserida dan skor NASH.Metode: Penelitian ini dilakukan secara eksperimental laboratorium menggunakan desain penelitian Control Group Post Test Only secara In Vivo, untuk mengetahui pengaruh frekuensi aktivitas fisik yang berbeda pada tiap kelompok tikus betina dengan diet hiperlipidemia. Penelitian ini membagi lima kelompok kelompok perlakuan fisik (berenang), yaitu kontrol negatif (KN), kelompok kontrol positif (KP), kelompok dua kali seminggu (KDS), kelompok tiga kali seminggu (KTS), dan kelompok setiap hari (KSH). Analisis data ini menggunakan uji one-way anova dan diteruskan dengan analisis post hoc LSD (Least Significantly Difference) untuk mengetahui kelompok yang paling berpengaruh.Hasil dan Pembahasan: Nilai rata-rata kadar trigliserida tertinggi pada perlakuan KP sebesar 183.40 ± 27.56 yang diikuti dengan KDS 163±23.30, KTS 151.40±23.53, KSH 126.80±20.36 dan KN 74.00 ± 6.52. Penurunan kadar trigliserida KTS dan KSH lebih besar dibandingkan KDS. Skor NASH pada KP lebih besar secara signifikan dibandingkan KSH, dan KP namun tidak berbeda secara signifikan dibandingkan KDS dan KTS. Hal tersebut menunjukkan bahwa terdapat pengaruh frekuensi aktivitas fisik terhadap Skor NASH.Simpulan: Perlakuan KSH merupakan perlakuan paling baik untuk menurunkan kadar trigliserida dan menurunkan skor NASH pada tikus yang diinduksi diet hiperlipidemia.
Efek Ekstrak Etanol Rimpang Jahe Emprit Terhadap Paralisis Dan Kematian Cacing Dewasa Ascaris Suum Goeze Moh. Yahya Al-Hilal; Dian Novita W; Dini Sri Damayanti
Jurnal Kedokteran Komunitas Vol 9, No 1 (2021)
Publisher : Jurnal Kedokteran Komunitas (Journal of Community Medicine)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (375.945 KB)

Abstract

Pendahuluan: Tanaman obat tradisional jahe emprit (Zingiber officinalle var. amarum) diduga mengandung memiliki aktivitas anthelmintik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas anthelmintik ekstrak etanol rimpang jahe emprit pada cacing Ascaris suum goeze secara in vitro.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental studi in vitro dengan post test only controlled group design. Sampel penelitian terdiri dari 28 cacing dewasa Ascaris suum goeze yang dibagi menjadi 7 kelompok. Kelompok pertama sebagai kontrol negatif yakni normal saline 0,9%, kelompok perlakuan kedua diberikan perlakuan larutan pirantel pamoat 5mg/ml sebagai kontrol positif. Kelompok ketiga diberi perlakuan ekstrak etanol rimpang jahe emprit dengan konsentrasi 0,5%, 1%, 2%, 4% dan 8%. Masing-masing konsentrasi berisi 4 cacing dewasa Ascaris suum goeze. Data diperoleh dari pengamatan pada jam ke 1,2,3,4,5,6,7,8,9,24, 48, 72 dan 96, kemudian dihitung PC50 dan LC50 ekstrak etanol rimpang jahe emprit dengsn regresi linier Microsoft excel 2019.Hasil: Pada Ekstrak etanol rimpang jahe emprit konsentrasi 0,5%, 1%, 2% dan 4% mengalami paralisis akhir pada jam ke-48, pada ekstrak etanol rimpang jahe emprit konsentrasi 8% cacing mengalami paralisis akhir pada jam 24. Paralysis Concentration (PC50) yaitu sebesar 1,27%, artinya dibutuhkan konsentrasi 1,27% untuk membuat cacing mengalami paralisis sebanyak 50%. Sedangkan Ekstrak etanol rimpang jahe emprit konsentrasi 0,5%, 1%, 2% dan 4% mengalami kematian sempurna 100% pada jam yang sama yaitu pengamatan jam ke-96, sedangkan pada konsentrasi 8% mengalami kematian 100% pada jam ke-72. Lethal Concentration (LC50) yang didapatkan 2,005% yang bermakna dibutuhkan konsentrasi 2,005% untuk membuat cacing mengalami kematian.Kesimpulan: Ekstrak etanol rimpang jahe emprit memiliki nilai PC50 sebesar 1,27%. Sedangkan Ekstrak etanol rimpang jahe emprit memiliki LC50 sebesar 2,005%Kata Kunci : Jahe emprit, (Zingiber officinalle var. amarum), Ascaris suum goeze, anthelmintik, in vitro
Studi In Silico : Potensi Anthelmintik Senyawa Aktif Bawang putih (Allium sativum L.) dalam Menghambat Protein Target Acetylcholinesterase, Beta tubulin dan Aktivasi Voltage dependent L type Calcium Channel Sita Az Zahra Mubarika; Ariani Ratri Dewi; Dini Sri Damayanti
Jurnal Kedokteran Komunitas Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : Jurnal Kedokteran Komunitas (Journal of Community Medicine)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (509.391 KB)

Abstract

Introduction: The tuber of garlic contains of various compounds that has anthelmintic effect of unknown mechanism.  Therefore, this research aimed to determine the active compounds and find their anthelminthic mechanism of action. Method: The potency of garlic active compounds to inhibit acetylcholinesterase, beta tubulin and to activate voltage dependent L type calcium channel were evaluated by molecular docking, compared with pirantel pamoat, mebendazole and praziquantel.Result:  Garlic’s active compound, S-allyl-cysteine sulfoxide (alliin) has the best affinity to target protein acetylcholinesterase, beta tubulin and calcium channel with free binding energy of -4.84 kcal / mol, -5.89 kcal / mol and 6.50 kcal / mol respectively under control values. Active compounds of bawang putih tuber have lower affinity values compared to controls of pyrantel pamoate, mebendazole and praziquantel.Conclusion: Active compounds of bawang putih (Alliium sativum L) have low antihelmintic potential through target protein acetylcholinesterase, beta tubulin and voltage dependent L type calcium channel. Keyword: Anthelmintik, Allium sativum L., in silico 
Studi In Silico Senyawa Aktif Rimpang Kunyit (Curcuma Domestica) terhadap Penghambatan Acetylcholinesterase, Microtubulin (Beta Tubulin), dan Aktivasi Calcium Channel sebagai Terapi Antelmintik Avicenna Shafhan Arfi; Rosaria Dian Lestari; Dini Sri Damayanti
Jurnal Kedokteran Komunitas Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : Jurnal Kedokteran Komunitas (Journal of Community Medicine)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (323.263 KB)

Abstract

Background: Helminthiasis are a pandemic and has a high prevalence in Indonesia. Turmeric rhizome contains curcuminoids and essential oils as its active compounds. However, their mechanism as an anthelmintic is unknown. Therefore, further research is needed to find out the exact mechanism of turmeric rhizome as an anthelmintic.Method: The effectivity of turmeric rhizome’s active compounds against Acetylcholinesterase, Microtubulin (Beta Tubulin), and Calcium Channel was evaluated by Docking Server with Pirantel Pamoat, Mebendazole, and Praziquantel as sequential control.Results: Curcumin Sulfate was identified as having a low affinity for Acetylcholinesterase with -5,62 kcal/mol free bond energy. Cyclocurcmin has a high affinity for Beta Tubulin and Calcium Channel with -7,39 and -8,36 kcal/mol free bond energy sequentially. Meanwhile Dihydrocurcumin and Curcumin Sulfate have a high affinity for Calcium Channel with -7,19 and -7,41 kcal/mol free bond energy sequentially.Conclusion: The active compound of turmeric rhizome has a low affinity for the inhibition of Acetylcholinesterase in Ascaris lumbricoides. Cyclocurcumin has a high affinity for the inhibition of Microtubulin (Beta Tubulin) and Calcium Channel in Ascaris lumbricoides. Meanwhile Dihydrocurcumin and Curcumin Sulfate have a high affinity for the activation of Calcium Channel in Schistosoma sp.Keywords: Anthelmintic, Turmeric Rhizome, In silico
POTENSI PROBIOTIK DARI TIGA MACAM TEMPE KACANG MERAH, TEMPE KACANG TANAH, DAN KACANG KEDELAI Serly Ghoniyah; Yoni Rina Bintari; Dini Sri Damayanti
Jurnal Kedokteran Komunitas Vol 10, No 1 (2022)
Publisher : Jurnal Kedokteran Komunitas (Journal of Community Medicine)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (289.234 KB)

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan: Tempe merupakan salah satu produk fermentasi tradisional yang sering dikonsumsi oleh masyarakat dan merupakan salah satu protein nabati mengandung probiotik yang berpotensi sebagai antibakteri. Adanya aktivitas antibakteri pada tempe berasal dari kandungan BAL (Bakteri asam laktat ) yang dihasilkan saat proses fermentasi dan aktivitas antibakteri lain yang dihasilkan dari bahan baku kacang. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur total bakteri asam laktat,pH dan laju pertumbuhan bakteri Escherichia coli pada tempe kacang merah, tempe kacang tanah,dan kacang kedelai .Metode :  Penelitian ini menggunakan metode penelitian eksperimental laboratorium dengan 3 kelompok tempe yakni tempe kacang merah , tempe kacang tanah dan tempe kacang kedelai dengan perlakuan pengulangan 3 kali. Ketiga kelompok sampel tersebut yakni ekstrak tempe, ekstrak tempe kombinasi E.coli  dengan pengenceran 10-1-10-3 . Setiap sampel diinokulasikan pada media MRS Broth dan MRS Agar (untuk BAL) dan media EMBA (Untuk Escherichia coli). Koloni yang tumbuh dihitung dengan TPC(Total Plate Count) dan pengukuran pH dengan pH meter yang di kalibrasi. Hasil dianalisa secara statistik menggunakan uji One Way Annova tingkat siginifikansi p < 0,05 .Hasil:  Koloni BAL paling tinggi diperoleh dari tempe kacang merah dengan hasil 2,06 ± 0,58 cfu/ml pada kacang tanah 1,79 ± 0,17 cfu/ml dan kacang kedelai 1,76 ± 0,55 cfu/ml. Analisa laju pertumbuhan  Escherichia coli paling tinggi pada tempe kacang tanah 5,68 ± 3,03 cfu/ml, pada kacang kedelai 2,06 ± 0,58 cfu/ml dan yang paling rendah pada tempe kacang merah 1,71 ± 1,41 cfu/ml. Hasil pH pada tempe kacang kedelai  6,96 ± 0,02, pada kacang tanah 5,97 ± 0,25 dan hasil pengukuran pH paling rendah pada tempe kacang merah yakni 4,39 ± 0,02. Kesimpulan:. Tempe kacang merah menghasilkan koloni BAL paling tinggi dan pH paling rendah dibandingkan tempe yang lain.  Hambatan koloni bakteri  Escherichia coli paling rendah didapatkan pada tempe kacang merah.Kata Kunci: Tempe kacang merah,Tempe kacang tanah,Tempe kacang kedelai , BAL, pH,  Escherichia coli
Studi In Silico Senyawa Aktif Daun Sirsak (Annona muricata L.) .) pada Aldose Reductase dan Glutathione Reductase untuk Menghambat Katarak Diabetik Shafwatul Fida; Ariani Ratri Dewi; Dini Sri Damayanti
Jurnal Kedokteran Komunitas Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : Jurnal Kedokteran Komunitas (Journal of Community Medicine)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (585.979 KB)

Abstract

Pendahuluan: Patofisiologi katarak diabetik berkaitan dengan akumulasi sorbitol dijalur poliol dengan peningkatan aktivitas enzim Aldose Reductase (AR) dan penurunan enzim Glutathione Reductase (GR) di lensa. Akumulasi intraseluler dari sorbitol memicu perubahan osmotik yang menghasilkan serat lensa hidrofik yang berdegenerasi dan membentuk katarak diabetik. Daun sirsak memiliki kandungan aktif golongan flavonoid, alkaloid dan tanin yang bermanfaat sebagai antidiabetes dan antioksidan. Mekanisme senyawa aktif daun sirsak sebagai terapi preventif katarak diabetik belum diketahui. Penelitian ini dilakukan untuk melihat bioavailabilitas dari senyawa aktif etanol dari daun sirsak sebagai kandidat obat dalam inhibisi AR dan aktivasi GR secara in silico.Metode: Tahapan penelitian ini terbagi menjadi dua yaitu memprediksi afinitasnya terhadap AR dan GR melalui docking server dengan Epalrestat dan Ascorbid acid sebagai kontrol, serta memprediksi sifat fisikokimia (Lipinski Rule of five) dan farmakokinetik ADMET melalui pkCSM online tool.Hasil: Berdasarkan nilai ΔG (energi ikatan bebas), Ki (konstanta inhibisi), ikatan hidrogen pada residu asam amino dan luas interaksi permukaan, diperoleh senyawa aktif daun sirsak yang memiliki afinitas tinggi terhadap AR dibandingkan kontrol Epalrestat adalah Annoionol A, Chlorogenic acid, Coclaurine, Coreximine, dan Quercetin 3-0-rutinoside. Senyawa yang mempunyai afinitas tinggi dibandingkan kontrol Ascorbid acid ialah Quercetin 3-0-rutinoside, Kaempferol 3-0-rutinoside, Annoionoside, Stepharine, dan Xylopine. Senyawa aktif yang memiliki kemiripan dengan kontrol Epalrestat maupun Ascorbid acid dengan memenuhi Lipinski Rule of Five, diabsorsi baik di intestinal, tidak menembus blood brain barrier, dimetabolisme dan diksresikan sempurna, serta tidak bersifat hepatotoksik ialah Epicatechine, Quercetin, Anonaine, Annoionol A, Annoionol B, dan Vomifoliol.Kesimpulan: Senyawa aktif daun sirsak diprediksi memiliki afinitas yang tinggi terhadap penghambatan enzim AR dan aktivasi enzim GR, dan juga diprediksi memiliki bioavaliabilitas tinggi, mudah diabsorbsi dan berpotensi sebagai kandidat obat baru.Kata Kunci : Annona muricata L., Aldose Reductase, Glutathion Reductase, Katarak Diabetik, In silico
HUBUNGAN KECEMASAN DAN DEPRESI DENGAN KELULUSAN COMPUTER BASED TEST UKMPPD MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNISMA Firyal Nisrina; Rizki Anisa; Dini Sri Damayanti
Jurnal Kedokteran Komunitas Vol 9, No 1 (2021)
Publisher : Jurnal Kedokteran Komunitas (Journal of Community Medicine)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (351.047 KB)

Abstract

Pendahuluan: Angka kelulusan ujian CBT UKMPPD di FK UNISMA mulai tahun 2016 sampai 2018 rata-rata sekitar 71,1% per tahunnya. Hal ini masih jauh dari target angka kelulusan sebesar 80% pada tahun 2020. Salah satu faktor yang mempengaruhi kelulusan UKMPPD antara lain kecemasan dan depresi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan kecemasan dan depresi dengan kelulusan Computer Based Test UKMPPD Mahasiswa Fakutas Kedokteran UNISMA.Metode: Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif analitik dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Responden merupakan mahasiswa Fakultas Kedokteran UNISMA yang akan mengikuti ujian CBT 2019 sebanyak 80 orang, yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 60 orang. Untuk mengukur tingkat kecemasan menggunakan kuisioner HARS (Hamilton Anxiety Rating Scale) dan tingkat depresi digunakan kuisioner BDI (The Beck Depression Infentory). Analisis bivariat menggunakan metode Rank Spearman untuk menguji korelasi dan metode regresi linear untuk menguji faktor yang paling berpengaruh.Hasil: Pada uji rank spearman hubungan kecemasan didapatkan nilai p 0,627 dengan α = 0,01 atau (Sig >α) dan depresi dengan nilai p 0,000 dengan α = 0,01 atau (Sig <α) terhadap kelulusan ujian CBT UKMPPD. Pada uji regresi linear didapatkan hasil R square 0.005 pada kecemasan, sedangkan pada depresi didapatkan R square 0.567.Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan antara kecemasan dengan kelulusan CBT UKMPPD. Terdapat hubungan antara depresi dengan kelulusan CBT UKMPPD. faktor yang paling berpengaruh terhadap kelulusan adalah depresi.Kata kunci: Kelulusan, kecemasan, depresi, CBT UKMPPD.