Claim Missing Document
Check
Articles

Found 44 Documents
Search
Journal : Jurnal Citra Pendidikan

KAJIAN ORGANOLOGI ALAT MUSIK GAA LI DI SANGGAR MURI MASA KECAMATAN AIMERE KABUPATEN NGADA Fransiskus Xaverius Pala; Sena Radya Iswara Samino; Florentianus Dopo
Jurnal Citra Pendidikan Vol 2 No 2 (2022)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat STKIP Citra Bakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menemukan data yang jelas, akurat dan faktual mengenai latar belakang terciptanya alat musik Gaa Li di Sanggar Muri Masa Kecamatan Aimere Kabupaten Ngada. Penelitian ini juga bertujuan untuk memberikan informasi seputar ukuran, alat dan bahan yang digunakan, serta proses atau tahapan dalam pembuatannya. Karena alat musik Gaa Li ini belum banyak diketahui oleh masyarakat. Penelitian ini bersifat deskriptif yaitu medeskripsikan mengenai latar belakang terciptanya alat musik Gaa Li diantaranya mengenai sejarah dari alat musik Gaa Li, lokasi penelitian, alat-alat serta bahan yang diperlukan dalam membuat alat musik Gaa Li, proses pengolahan bahan serta proses perakitan hingga proses terahir atau finishing. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah metode observasi, metode wawancara, metode dokumentasi dalam hal ini melibatkan Bapak Klemens Wewe sebagai narasumber utama dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukan Alat musik ini dibuat menyerupai alat musik kolintang, hanya yang menjdi perbedaannya adalah alat musik kulintang terbuat dari kayu dan mempunyai ruang resonansi yang cukup besar dan panjang dan mempunyai nada dengan oktaf yang lebih banyak. Sedangkan alat musik Gaa Li memiliki enam bentuk fisik yang sama namun memiliki ukuran dan karakter bunyi yang berbeda ketika dimainkan. Semua nada yang dihasilkan dalam ke enam Gaa Li dalam tonalitas do=F, karena lagu-lagu daerah yang ada di Kabupaten Ngada kebanyakan menggunakan tonalitas do= F. Ide pembuatan alat musik ini muncul pada tahun 2010 dan mulai diperkenalkan pada tahun 2012. Bahan utama pembuatan alat musik ini adalah bheto (bambu petung) yang tersebar cukup banyak di wilayah Kabupaten Ngada. Walaupun dikatakan baru, alat musik Gaa Li ini sudah sering digunakan dalam acara-acara kepemerintahan dan acara-acara kesenian lainnya yang ada di kabupaten Ngada. Tercatat sudah 23 melakukan pertunjukan di Daerah Kabupaten Ngada dan Kabupaten Nagekeo.
KAJIAN ORGANOLOGI DAN TEKNIK MEMAINKAN ALAT MUSIK TRADISIONAL FOI DOA DI SANGGAR PERSADAM KECAMATAN GOLEWA KABUPATEN NGADA Agustinus Irwanto Siwe; Florentianus Dopo; Ferdinandus Bate Dopo
Jurnal Citra Pendidikan Vol 2 No 2 (2022)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat STKIP Citra Bakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menemukan data yang jelas, akurat dan faktual mengenai Kajian organologi dan teknik memainkan alat musik Foi Doa di Sanggar PERSADAM di Desa Malanuza, Kecamatan Golewa Kabupaten Ngada. Penelitian ini juga bertujuan untuk memberikan informasi terkait, bahan dasar alat musik tradisional Foi Doa, bentuk atau ukuran alat musik tradisional Foi Doa, bagian-bagian alat musik tradisional Foi Doa, produksi bunyi nada dari alat musik tradisional Foi Doa dan proses pembuatan alat musik Foi Doa serta teknik memainkan alat musik tradisonal Foi Doa. Alat musik Foi Doa ini belum banyak diketahui oleh masyarakat maka penelitian ini bertujuan menggali sumber berita yang sebanyak-banyaknya sesuai dengan patokan teori musik yang ada. Secara jelas ditekankan bahawa penelitian ini bersifat deskriptif yaitu medeskripsikan mengenai tentang organologi dan teknik memainkan alat musik Foi Doa. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah metode observasi, metode wawancara, dan metode dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan Alat musik ini dibuat berbeda dengan suling bambu pada umumnya.Karena terdiri dari dua suling dengan nada yang sama dan satu lubang penghantar udara. Namun berada dalam satu kesatuan yang utuh. Bahan utama pembuatan alat musik ini adalah bambu tamiang atau bambu wuluh yang tersebar cukup banyak di wilayah Kabupaten Ngada. Walaupun dikatakan sederhana , alat musik Foi Doa ini sangat bervariatif dari cara yang dimainkannya dalam mengiringi sebuah lagu. Hal itu di karenakan Foi Doa dalam permainanya memiliki dua peran, yakni permaian dengan menggunakan nada-nada tunggal dan nada-nada ganda. Sangat penting adalah bagaimana peran dari pemain Foi Doa tersebut mengkolaborasikan sitem nada yang ada dalam Foi Doa dengan mempertimbangan aspek fungsi tersebut. Alat musik tradisonal Foi Doa ini sudah sering digunakan dalam acara-acara kepemerintahan dan acara-acara kesenian lainnya yang ada di kabupaten Ngada serta dalam kegiatan keagaaman
ORGANOLOGI DAN PENYAJIAN MUSIK GO LABA DALAM RITUAL KA BUKU DI KAMPUNG MULAKOLI KECAMATAN BOAWAE KABUPATEN NAGEKEO Irmina Doa; Florentianus Dopo; Ferdinandus Bate Dopo
Jurnal Citra Pendidikan Vol 2 No 2 (2022)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat STKIP Citra Bakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang organologi dan penyajian alat musik go laba dalam ritual ka buku dikampung Mulakoli Kecamatan Boawae Kabupaten Nagekeo. Dalam penelitian ini terdapat 2 fokus penelitian yaitu yang Organologidan penyajian alat musik go laba. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pendekatan kualitatif deskriptif. Pengumpulan data yang diperoleh dalam penelitian ini yaitu melalui dokumentasi (rekam, foto) dan wawancara. Instrumen penelitian ini berupa pedoman wawancara dan pedoman dokumentasi berupa foto-foto kegiatan. Metode analisis data menggunakan model Interaktif Miles dan Huberman dengan beberapa teknik antara lain : reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa dalam pembuatan alat musik go laba membutuhkan beberapa bahan dan juga peralatan yang digunakan. Bahan dasar yang digunakan dalam pembuatan go adalah: besi plat, serta peralatan yang digunakan adalah: hamer dan palu. Sedangkan dalam pembutan laba bahan dasar yang digunakan yaitu: pohon enau/pohon moke, kulit hewan (sapi), rotan, dan bambu petung dan peralatan yang digunakan adalah: parang, meter, dan alat ukur. Penyajian alat musik go laba terdiri atas beberapa tahap yakni: urutan penyajian, tata panggung, tata busana dan formasi pemain dalam permainan alat musik go laba.
PENGEMBANGAN TUJUAN PEMBELAJARAN ASPEK SENI DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN MORRISON, ROSS DAN KEMP PADA KURIKULUM K13 DI PAUD TERPADU CITRA BAKTI Marianus Deghe; Konstantinus Dua Dhiu; Florentianus Dopo
Jurnal Citra Pendidikan Vol 1 No 2 (2021)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat STKIP Citra Bakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (516.149 KB)

Abstract

Deghe, Marianus (2020), Pengembangan Tujuan Pembelajaran Aspek Seni Dengan Menggunakan Model Pembelajaran Morrison, Ross Dan Kemp pada Kurikulum K13 di Paud Terpadu Citra Bakti. Skripsi, Program Studi PG-PAUD STKIP CITRA BAKTI. Skripsi ini sudah disetujui dan diperiksa oleh Pembimbing I : Konstantinus Dua Dhiu, SH., M.Pd dan Pembimbing II : Florentianus Dopo, SS.,M.Pd Kata-kata kunci : Tujuan Pembelajaran, Seni, Morrison, Ross dan Kemp. Penelitian ini bertujuan untuk : (1) menghasilkan perangkat pembelajaran mengenai tujuan pembelajaran aspek seni berdasarkan model Morrison, Ross dan Kemp pada Kurikulum K13 di Paud Terpadu Citra Bakti, (2) mengetahui kualitas hasil uji produk pengembangan tujuan pembelajaran aspek seni berdasarkan model Morrison, Ross dan Kemp pada Kurikulum K13 di Paud Terpadu Citra Bakti. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Golewa Kabupaten Ngada Nusa Tenggara Timur. Subjek dalam penelitian ini adalah guru PAUD kelompok A dan B yang ada di Kecamatan Golewa Sedangkan objek yang diteliti adalah aspek seni Anak Usia Dini yang dilakukan dengan berdasarkan model Morrison, Ross dan Kemp. Tujuan pembelajaran aspek seni berdasarkan model Morrison, Ross dan Kemp ini dikembangkan dengan menggunakan model Rowntree. Model ini terdiri atas tiga langkah, yaitu: (1) perencanaan, (2) pengembangan, (3) evaluasi. Hasil penelitian pengembangan tujuan pembelajaran aspek berdasarkan model Morrison, Ross dan Kemp berdasarkan hasil uji coba ahli adalah sebagai berikut. (1) Uji coba ahli materi ada pada kategori sangat baik, (2) Uji coba ahli desain pembelajaran ada pada kategori sangat baik, (3) Uji coba ahli bahasa ada pada kategori sangat baik. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pengembangan tujuan pembelajaran aspek seni berdasarkan model Morrison, Ross dan Kemp ini layak digunakan pada Anak Usia Dini kelompok A dan B.
IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER PADA MAKNA SYAIR LAGU O UWI DALAM TRADISI ADAT REBA PADA MASYARAKAT LANGA DESA BORADHO KECAMATAN BAJAWA KABUPATEN NGADA Susana Lembu; Dedy Setyawan; Florentianus Dopo
Jurnal Citra Pendidikan Vol 1 No 3 (2021)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat STKIP Citra Bakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (655.835 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) Gambaran umum tradisi reba Langa, 2) makna syair lagu o uwi dalam tradisi adat reba pada masyarakat Langa Desa Boradho Kecamatan Bajawa Kabupaten Ngada, 3) implementasi makna syair lagu o uwi dalam pendidikan karater. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, yang berlokasi di Langa Desa Boradho, dengan waktu pelaksanaan penelitian 19 Juni sampai 19 Juli 2020. Metode pengumpulan data menggunakan wawancara dan dokumentasi, dengan instrumen penelitian berupa pedoman wawancara dan alatperekam. Subjek penelitian adalah tua-tua adat, tokoh masyarakat, penyair, dan kaum muda. Keabsahan data menggunakan teknik triangulasi dengan menggunakan dua teknik yaitu triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Analisis data menggunakan model interaktif dari Patton dalam Moleong dengan komponennya yakni pengumpulan data, reduksi data, display data, dan penarikan kesimpulan. Hasil dari penelitian menunjukan bahwa tradisi reba Langa, menggabungkan inkulturasi antara budaya dan agama dan memiliki tiga upacara inti yakni kobhe dheke, kobhe doi dan kobhe su’i. Syair-syair lagu o uwi mengandung makna yang dapat dijadikan pedoman dan ajaran hidup bagi generasi muda. Adapun beberapa makna yang terkandung dalam syair lagu o uwi diantaranya : makna historis/sejarah, makna persaudaraan, persahabatan, ajakan atau himbauan, rintihan , percintaan, sumber kehidupan. Makna syair lagu o uwi dapat diimplementasi dalam pendidikan karakter. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa syair lagu o uwi mengandung makna yang mendalam, serta dapat diimplementasikan ke dalam pendidikan.
MUSIK GO LABA DAN PENYAJIANNYA DALAM RITUAL PEMBUATAN RUMAH ADAT KAMPUNG NGEDUME’E DESA WATUNAY KECAMATAN GOLEWA BARAT KABUPATEN NGADA Egidius Milo; Florentianus Dopo; Wilfridus Muga
Jurnal Citra Pendidikan Vol 1 No 3 (2021)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat STKIP Citra Bakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (957.567 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : 1) Struktur musik go laba dalam ritual pembuatan rumah adat, 2) Penyajian musik go laba dalam ritual pembuatan rumah adat, 3) fungsi penyajian musik go laba dalam ritual pembuatan rumah adat pada masyarakat Watunay. Penelitian ini dilakukan di Kampung Ngedume’e Desa Watunay dengan jumlah narasumber tiga orang. Waktu pelaksanaan penelitian 19 Juni sampai 19 Juli 2020. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, dengan teknik pengumpulan data yaitu wawancara dan dokumentasi. Instrumen dalam penelitian ini yakni berupa pedoman wawancara dan rekaman audio dan video. Hasil yang diperoleh berupa struktur musik go laba yakni pola permainan go (gong) dan pola permainan laba (gendang), penyajian musik go laba dan fungsi penyajian musik go laba dalam ritual pembuatan rumah adat Desa Watunay. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa musik go laba memiliki kaitan erat dengan penyajian dalam ritual pembuatan rumah adat.
KAJIAN BENTUK DAN FUNGSI PERTUNJUKAN MUSIK BETTONG DALAM RITUAL ADAT TENU WAE NUZAN DI KAMPUNG PANDANG MATA KELURAHAN LEMPANG PAJI KABUPATEN MANGGARAI TIMUR Alpius Ras; Dedy Setyawan; Florentianus Dopo
Jurnal Citra Pendidikan Vol 1 No 3 (2021)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat STKIP Citra Bakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (788.586 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) bentuk Pertunjukan musik bettong, 2) fungsi pertunjukan musik bettong. Penelitian ini berlokasi dikampung Pandang Mata, dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara dan observasi. Instrumen penelitian menggunakan pedomaan wawancara dan pedomaan observasi. Teknik analisis data dilakukan menggunakan model Miles dan Huberman yaitu pengumpulan data, penyajian data, reduksi data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian yang diperoleh bahwa, dalam upacara pertunjukan musik bettong memiliki beberapa tahapan ritual yaitu: pasok pangin, kebut kazu, wara-wara tew, dan penyajian musik bettong. Dalam pertunjukanya ditemukan beberapa formasi para pemain, cara memegang alat musik, dan cara memainkanya. Fungsi pertunjukan musik bettong dalam kehidupan masyarakat sebagai salah satu penghubung antara manusia dan roh nenek moyang. Musik bettong juga mempunyai fungsi tambahan yaitu sebagai penghibur individu dan masyarakat pada umumnya.
KAJIAN NYANYIAN SEU AZI PADA MASYARAKAT BUDAYA DI KAMPUNG ADAT WERE KECAMATAN GOLEWA KABUPATEN NGADA Maria Yasintha Moghu; Kanzul Fikri; Florentianus Dopo
Jurnal Citra Pendidikan Vol 1 No 4 (2021)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat STKIP Citra Bakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (733.989 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk megetahui: 1) kajian nyanyian Seu Azi pada masyaakat budaya di kampung adat Were, 2) makna syair Seu Azi pada masyarakat Were. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat deskripsif yang berlokasi di Desa Were. Adapun metode pengumpulan data menggunakan wawancara dan dokumentasi, dengan istrumen penelitian berupa pedoman wawancara dan rekaman. Sebjek penenelitian ketua adat, orang tua dan kaum muda. Untuk menguji keabasahan data dilakukan dengan triangulasi, sedangkan analisis data dilakukan dengan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil dari penelitian yaitu 1) kajian nyanyian Seu Azipada masyarakat budaya di kampung adat Were. Dalam mengkaji nyanyian Seu Azi, peneliti memulai dengan menjelaskan sejarah lagu rakyat Seu Azi, bentuk lagu Seu Azidan eksistensi Seu Azipada masyarakat adat Desa Were saat ini. 2) makna syair Seu Azi pada masyarakat Were. Dalam syair Seu Azimemiliki makna yang mendalam bagi orang tua dan anak muda yang bisa mengaertikan syair yang dinyanyikan.
BENTUK MUSIK VOKAL DANDING (KELONG) DAN MAKNA SYAIRNYA DALAM RITUAL ADAT PENTI DESA LENDA KECAMATAN CIBAL BARAT KABUPATEN MANGGARAI Avelina Woi; Florentianus Dopo; Wilfridus Muga
Jurnal Citra Pendidikan Vol 1 No 4 (2021)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat STKIP Citra Bakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (652.619 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang bentuk musik vokal danding (kelong) danmakna syairnya dalam ritual adat penti di desa Lenda kecamatan Cibal Barat Kabupaten Manggarai. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, sehingga data yang diproleh bersifat kualitatif yakni berupa datadideskriptif dan gambaran secara menyeluruh dan bermakna. Lokasi penelitian dilakukan di Desa Lenda Kecamatan Cibal Barat Kabupaten Manggarai. Sasaran dalam penelitian ini adalah tokoh-tokoh adat di masyarakat di Desa Lenda.Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakandokumentasi dan wawancara. Pada umumnya lagu danding (kelong) lebih dominan termasuk lagu dua bagian.Identifikasi tersebut dapat dilihat dari rangkian melodinya.Dikatakan dua bagian karena lagu danding (kelong) di desa Lenda kecamatan Cibal Barat kabupaten Manggarai, memiliki kalimat berlainan. Antara kalimat A atau kalimat pertanyaan dengan kalimat B atau kalimat jawaban itu mempunyai kalimat yang berlainan. Kalimat A (mulai dari birama 1-3) langsung masuk ke kalimat B (mulai dari birama ke 4-6) dan berhenti disitu. Kemudian ulang lagi dari kalimat A baru kemudian masuk ke kalimat B. Bentuk dari lagu danding (kelong) desa Lenda kecamatan Cibal Barat kabupaten Manggarai yakni ABAB dengan penjelasan: Dari kalimat A langsung ke kalimat B dan kembali ke kalimat A kemudian ke kalimat B.Rangkaian melodi pada musik danding (kelong) pada umumnya pendek dan dinyanyikan ulang–ulang. Dilihat dari macam–macam nyanyian rakyat danding (kelong) ini disebut nyanyian kerja, karena nyanyian ini mempunyai irama dan kata–kata yang bersifat menggugah semangat dan dinyanyikan secara unisono karena hanya menggunakan 1 suara walaupun dinyanyikan oleh beberapa orang. Dilihat dari Jenis musik vokalnya juga danding (kelong) ini tergolong Acapella karena tidak diiringi dengan instrumen. Makna Danding (kelong) secara umum mengungkapakan kegembiraan dan rasa syukur kepada sang ‘Mori Kraeng’ (Tuhan Pencipta), kepada alam dan leluhur lewat sebuah nyanyian.Dan makna khusus dibalik syair–syair Danding (kelong) dapat menggugah semangat dan keberanian dan berisi nasihat – nasihat serta dapat mewujudkan nilai sosial budaya bagi anak muda manggarai. Saran terkait pada masyarakat manggarai agar tetap melestarikan dan mempertahankan kesenian – kesenian tradisional khususnya seni musik.
BENTUK PENYAJIAN DAN FUNGSI MUSIK GO LABA DALAM UPACARA PEMBUATAN PEO DI KAMPUNG NUABOLO DESA LAJAWAJO KECAMATAN MAUPONGGO KABUPATEN NAGEKEO Maria Salome Dua; Sena Radia Iswara Samino; Florentianus Dopo
Jurnal Citra Pendidikan Vol 1 No 2 (2021)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat STKIP Citra Bakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (634.354 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan Bentuk Penyajian Dan Fungsi Musik Go Laba Dalam Upacara Pembuatan Peo di Kampung Nuabolo Desa Lajawajo Kecamatan Mauponggo Kabupaten Nagekeo. Adapun masalah yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah bentuk penyajian musik go laba dan Fungsi penyajian musik go laba. Jenis penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dan dokumentasi (kamera, alat perekam). Untuk menguji kebenaran dan keabsahan data dilakukan melalui prosedur triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk penyajian musik go laba terdapat beberapa tahap yaitu 1) tempat penyajian musik go laba, 2) formasi pemain musik go laba, 3) jumlah pemain musik go laba, 4) nama-nama alat musik go laba yang terdiri dari Lewa, Dhoro, Gasa, Uto-uto, Laba Toka dan Laba Jawa, 5) partitir musik go laba, 6) cara memainkan musik go laba 7) urutan penyajian musik go laba. Fungsi musik go laba terdiri dari 1) fungsi musik sebagai pengiring tari 2) fungsi musik sebagai sarana ritual dan 3) fungsi musik sebagai sarana hiburan.
Co-Authors Agho, Maria Clarista Agustinus Irwanto Siwe Alpius Ras Anu, Maria Kalista Anyeline Skolastika Pada Avelina Woi Bate Dopo, Ferdianandus Bate Dopo, Ferdinandus Bate, Nikodemus Bhara, Maria Aneti Konstantina Bile, Robertus Lili Bili, Kristina Yasintha Ngodhu Bue, Maria Ermelinda Ceme, Rosalinda Dedy Setyawan Deghe, Marianus Demu Watu, Yustus Dhone, Yosefina Doa, Irmina Dopo, Ferdinandus Bate Dua Dhiu, Konstantinus Dua, Maria Salome Egidius Milo Elisabeth Tantiana Ngura Engi, Emiliana Falnita, Antonia Ferdianandus Bate Dopo Ferdinandus Bate Dopo Fikri, Kanzul Fransiskus Xaverius Dolo Fransiskus Xaverius Pala Gisela Naru Gu, Maria Rosario Beo Hendrikus Balzana Koba Irmina Doa Iswara Samino, Sena Radya Kabe, Kristoforus Lina Kaka, Apliana Ambu Kanzul Fikri Koba, Hendrikus Balzana Konstantinus Dua Dhiu Konstantinus Dua Dhiu, Konstantinus Dua Kristoforus Lina Kabe Kua, Maria Yuliana Lado, Wilfridus Lembu, Susana Lingge, Yohanes Baptisa Loya, Marianus Anggelician Maria Carmelita Tali Wangge Maria Clarista Agho Maria Editha Bela Maria Ermelinda Bue Maria Inosensia Ngao Maria Rosario Beo Gu Maria Salome Dua Maria Yasintha Moghu Marianus Deghe Marsianus Meka Meka, Marsianus Milo, Egidius Moghu, Maria Yasintha Moi, Flaviana Yunita Muga, Wilfridus Naru, Deyflora Meo Naru, Gisela Nay, Cesarius Ndange, Sisilia Nenu, 2Maria Adelina Woga Ngao, Maria Inosensia Nono, Ferdinand Nurwijayanti Pada, Anyeline Skolastika Pala, Fransiskus Xaverius Pelipus Wungo Kaka Prisko Yanuarius Djawaria Pare Rada, Maria Anna Ghena Raden Mohamad Herdian Bhakti Ras, Alpius Redemptus Seso Mau Rewo, Josep Marsianus Rosalinda Ceme Samin Samin Samino, Sena Radya Iswara Sena Radia Iswara Samino Sena Radya Iswara Samino Sena Radya Iswara Wara Seso Mau, Redemptus Sisilia Ndange Siwe, Agustinus Irwanto Susana Lembu Tangi, Marsianus Aristo Ugha, Firgilius Wara, Sena Radya Iswara Wea*, Dorotea Emirensiana Wea, Dorotea Emirensiana Wena, Hendrika Wilfridus Muga Woi, Avelina Yohanes Baptisa Lingge Yohanes Vianey Sayangan Yohanes Vianney Sayangan Yosefina Dhone Yudi Sukmayadi Yustus Demu Watu