Claim Missing Document
Check
Articles

Faktor yang Mempengaruhi WUS dalam Penggunaan MKJP di RSUD dr. Suhatman, Mars Sari, Ayu Ratna; Megasari, Kiki; Megasari, Miratu
JIKES : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 (2025): Januari-Juni 2025
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71456/jik.v3i2.1296

Abstract

Pada negara berkembang tingginya angka kematian ibu dan kehamilan yang tidak diinginkan masih menjadi masalah kesehatan masyarakat global. Hal ini terutama dipengaruhi oleh rendahnya penggunaan kontrasepsi pada masyarakat. Berdasarkan data di atas setiap tahun masih banyak peserta KB yang memilih metode kontrasepsi jangka pendek dibandingkan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP). Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor seperti usia wanita, lama menikah, pendidikan, paritas (jumlah anak), budaya, agama, dan factor perbedaan jenis kelamin. Tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) pada wanita usia subur (WUS) di Indonesia. Metode penelitian termasuk jenis penelitian analitik observasional menggunakan desain penelitian cross sectional dengan sampel 73 responden dengan menggunakan teknik pengambilan sampel total sampling. Hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh antara umur (p=0,020), pendidikan (p=0,012), paritas (p=0,041), pengetahuan (p=0,014) dan dukungan suami (p=0,032) pada WUS dalam penggunaan kontrasepsi jangka panjang (MKJP) di RSUD dr. Suhatman MARS Kota Dumai tahun 2024. Diharapkan kepada pihak manajemen RSUD dr Suhatman MARS Kota Dumai untuk lebih ditingkatkan kualitas proses asuhan kebidanan terutama intervensi terkait dengan faktor yang berhungan dengan MKJP seperti umur, pendidikan, paritas, pengetahuan dan dukungan suami.
Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian BBLR Novita Lusiana; Miratu Megasari
Jurnal Ilmu Kebidanan (Journal of Midwivery Science) Vol. 2 No. 3 (2014): Jurnal Ilmu Kebidanan (Journal of Midwifery Science)
Publisher : Jurnal Ilmu Kebidanan (Journal of Midwivery Science)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36307/5exbpn07

Abstract

Background: Impact of babies born with low birth weight is the growth rate will slow. Factors - risk factors that affect the incidence of LBW among other things is the social characteristics of maternal demographic, medical risk mothers before pregnancy also contribute to the incidence of LBW, and the status of antenatal care. The research goal is to know the factors associated with the incidence of LBW in Riau Prov Arifin Achmad Hospital in 2013-2014.Method: This type of study is a case-control study design (Case Control Study). Cases of infants born with LBW in Riau Prov Arifin Achmad Hospital in 2013-2014 and Control of babies born with normal weight at the Arifin Achmad Year 2013-2014.Result: The study maternal Hb <11 g% more at risk of having a baby with low birth weight 14 times compared to mothers who have a Hb> 11 gr% (OR = 13.895 (95% CI 8.061 to 23.950), mothers who have a spacing of <2 years are more at risk of giving birth low birthweight infant 15 times compared to mothers who have a spacing of ≥ 2 years (OR = 15.138 (95% CI: 9.024 to 25.392), including women who are at risk age category (age <2 years and age> 35 years) were more at risk of having a baby with LBW 5 times compared to mothers who did not include at-risk age category (age 20 to age 35 years) (OR = 5.266 (95% CI: 3.423 to 8.100), mothers classified as at risk parity (parity 0 and parity> 4) more at risk of having a baby with low birth weight 8 times compared to mothers who did not belong to the category of risky parity (parity 0 and parity> 4), OR = 7.606 (95% CI: 4.847 to 11.936), mothers who never attended school, elementary education, junior high is more risky gave birth to babies with low birth weight 7 times compared to women whose education high school and PT, OR = 6.921 (95% CI: 4.426 to 10.823).Conclusion: The study maternal Hb ,11gr%, mothers who never attended school elemenary education and junior high school, mothers who have a spacing op > 2 years, mothers classified as at risk parity 0 and parity 4, including woman age category>35 years old were more at risk of having a baby with LBW.Keywords: factors, the incidence of LBW
UPAYA PENINGKATAN ASI PADA IBU NIFAS DENGAN PEMBERIAN SARI KACANG HIJAU DI PMB ROSITA KOTA PEKANBARU 2025 Mizwar, Mutiara Amnda; Ristica, Octa Dwienda; Megasari, Miratu; Damayanti, Ika Putri; Yanti, Juli Selvi
Maternity and Neonatal : Jurnal Kebidanan Vol. 13 No. 2A (2025): Maternity and Neonatal : Jurnal Kebidanan (Special Issue)
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30606/jmn.v13i2A.4110

Abstract

Air Susu Ibu (ASI) merupakan nutrisi utama dan terbaik bagi bayi, namun tidak semua ibu dapat memproduksi ASI dalam jumlah cukup, terutama pada masa nifas. Salah satu upaya untuk meningkatkan produksi ASI adalah dengan pemberian sari kacang hijau yang kaya akan protein, vitamin B1, dan polifenol yang berperan merangsang hormon prolaktin dan oksitosin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian sari kacang hijau terhadap peningkatan produksi ASI pada ibu nifas. Penelitian ini menggunakan desain pra-eksperimental dengan pendekatan one group pretest-posttest. Subjek penelitian adalah 15 ibu nifas hari ke-1 hingga ke-3 yang bersalin di PMB Rosita Kota Pekanbaru. Intervensi dilakukan dengan memberikan sari kacang hijau sebanyak 250 ml dua kali sehari selama 7 hari. Data dikumpulkan melalui observasi produksi ASI sebelum dan sesudah intervensi, lalu dianalisis menggunakan uji statistik. Hasil enelitian menunjukkan bahwa sebelum intervensi mayoritas ibu (86,7%) belum mengalami peningkatan produksi ASI. Setelah intervensi, terjadi peningkatan produksi ASI pada 66,7% responden. Hasil uji statistik menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara sebelum dan sesudah pemberian sari kacang hijau (p < 0,05). Dapat disimpulkan bahwa pemberian sari kacang hijau efektif dalam meningkatkan produksi ASI pada ibu nifas
Efektifitas Pijat Oksitosin dan Aromaterapy Lavender Dengan Metode UAP Terhadap Peningkatan Produksi ASI Pada Ibu Menyusui Di PMB Dince Safrina Risa Pitriani; Miratu Megasari
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.2331

Abstract

Pijat oksitosin adalah pemijatan tulang belakang pada Costa ke 5-6 sampai ke scapula yang akan mempercepat kerja saraf para simpatis dalam merangsang hipofisis posterior untuk mengeluarkan oksitosin. Pijat ini memberikan rasa nyaman pada ibu setelah mengalami proses persalinan dapat dilakukan selama 2-3 menit secara rutin 2 kali dalam sehari sebelum menyusui. Aromaterapy lavender mengandung linalool dan terkenal memiliki efek menenangkan. Permasalahan di PMB Dince Safrina adalah 10 orang ibu nifas terdapat 4 orang ibu nifas mengetahui tentang pijat oksitosin sedangkan 6 orang tidak mengetahui tentang pijat oksitison dan yang tidak mengetahui pijat oksitosin hanya mengetahui cara peningkatan ASI dengan cara memakanan daun katu dan tidak mengetahui menggunakan pijat oksitosin dengan menggunakan aromaterapy lavender. Tujuan penelitian untuk mengetahui efektifitas pijat oksitosin aromaterapy lavender dengan metode uap terhadap peningkatan produksi ASI pada ibu menyusui. Metode penelitian ini adalah Eksperiment yang menggunakan jenis desain penelitian One Group Pretest Posttest Desain. Penelitian ini dilakukan di PMB Dince Safrina pada tanggal 13 agustus – 13 September 2024. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh ibu menyusui 0-6 bulan. Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh ibu menyusui 0-6 bulan yang berkunjung dan mengalami ASI tidak lancar. Variabel Penelitian ini terdiri dari variabel independen (Pijat Oksitosin menggunakan Aromaterapy Lavender) dan variabel dependen (Produksi ASI). Setelah dilakukan pengumpulan data akan dilakukan analisa data yaitu analisa univariat dan analisa bivariat. Hasil penelitian ini didapatkan bahwa pijat oksitosin dengan aromaterapi memiliki efektifitas yang tinggi dibandingkan ibu yang tidak dilakukan pijat oksitosin dengan aromatherapy lavender. Berdasarkan hasil penelitian pemberian pijat oksitosin dengan menggunakan aromaterapy lavender pada ibu menyusui dapat meningkatkan produksi ASI. Saran agar klinik dapat menyediakan asuhan pelayanan pijat oksitosin pada ibu menyusui dengan menggunakan aromatherapy dan memfasilitasi tenaga kesehatan yang belum mengikuti pelatihan massase ibu dan bayi.
Hubungan Pemberian ASI Eksklusif Terhadap Pertumbuhan Bayi (BB/U) Usia 6-12 Bulan Di Kelurahan Pasir Pengaraian Wilayah Kerja Puskesmas Rambah Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2025 Nadila Fijria Mita; Octa Dwienda Ristica; Intan Widya Sari; Riza Febrianti; Miratu Megasari
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.2356

Abstract

Air Susu Ibu (ASI) eksklusif merupakan pemberian ASI tanpa tambahan makanan atau minuman lain selama enam bulan pertama kehidupan bayi. ASI mengandung semua nutrisi yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi, termasuk zat antibodi yang melindungi dari infeksi dan penyakit. Namun, cakupan pemberian ASI eksklusif di Indonesia dan khususnya di Provinsi Riau masih belum mencapai target yang ditetapkan. Di Kelurahan Pasir Pengaraian, Kabupaten Rokan Hulu, hanya 49 dari 101 bayi yang memperoleh ASI eksklusif, dan tercatat dua kasus bayi berisiko stunting. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pemberian ASI eksklusif dengan pertumbuhan bayi usia 6–12 bulan berdasarkan indikator Berat Badan menurut Umur (BB/U). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross sectional dan melibatkan 81 responden yang dipilih secara proportionate stratified random sampling. Data dikumpulkan melalui lembar checklist dan dokumentasi dari buku KIA, kemudian dianalisis menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara pemberian ASI eksklusif dengan pertumbuhan bayi (p < 0,05), di mana bayi yang mendapatkan ASI eksklusif cenderung mengalami pertumbuhan normal. Penelitian ini menekankan pentingnya edukasi bagi ibu menyusui mengenai manfaat ASI eksklusif guna mendukung pertumbuhan optimal bayi dan mencegah gangguan gizi. Hasil ini diharapkan menjadi referensi untuk meningkatkan program promosi ASI eksklusif, terutama di posyandu dan layanan kesehatan masyarakat lainnya.
Pemberdayaan Kader Melalui Pelatihan Pijat Oksitosin Untuk Meningkatkan Produksi ASI Pada Ibu Nifas Di Posyandu Wilayah Kerja Puskesmas Rumbai Kota Pekanbaru Pitriani, Risa; Megasari, Miratu
Community Engagement and Emergence Journal (CEEJ) Vol. 5 No. 2 (2024): Community Engagement & Emergence Journal (CEEJ)
Publisher : Yayasan Riset dan Pengembangan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37385/ceej.v5i2.3736

Abstract

Pijat Oksitosin dalah pemijatan tulang belakang pada costa (tulang rusuk) ke 5-6 sampai ke scapula (tulang belikat). Berdasarkan Profil Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru tahun 2019 salah satu wilayah yang memiliki jumlah balita terbanyak dan cakupan pemberian ASI eksklusifnya rendah terdapat di daerah rumbai yaitu sebanyak 1.543 bayi 0-6 bulan hanya 795 bayi yang diberikan ASI eksklusif dengan persentase (51,6%). Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Rumbai Kota Pekanbaru didapatkan dalam 3 bulan terakhir jumlah ibu menyusui (usia bayi < 6 bulan) yakni berjumlah 135 orang. Tujuan pengabdian ini agar para kader dapat membantu meningkatkan capaian tersebut dengan pemantauan secara berkala pada ibu nifas dan memberikan pelayanan kesehatan berupa pijat oksitisin kepada ibu nifas. Metode pengabdian ini, yaitu: 1) Mengadakan penyuluhan dengan tujuan meningkatkan pengetahuan pada Kader, kader yang ikut pada penyuluhan ada 8 orang, 2) Mengadakan pelatihan dengan dibantu oleh terapis terlatih yang mempunyai sertifikat pelatihan massase, dan 3) Melakukan pemantauan dimaksudkan untuk mengamati kegiatan yang dilakukan kader terhadap ibu menyusui, dan evaluasi melihat hasil yang dilakukan terhadap keberhasilan pengeluaran dan pemberian ASI apakah sudah berhasil yang di pantau secara langsung oleh kader. Kegiatan ini dilakukan pada tanggal 14-18 Agustus 2023. Hasil pengabdian ini menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan kader terhadap pentingnya pijat oksitosin bagi ibu menyusui. Luaran kegiatan ini akan di publikasikan di Jurnal berISSN Jurnal CEEJ. Diharapkan pada kader yang sudah terlatih agar dapat mengajarkan kepada kader di posyandu lain untuk dapat melakukan pijat oksitosin minimal setiap hari posyandu.
Penerapan Akupreseur Titik P6 pada Ibu Hamil dengan Emesis Gravidarum di Klinik Pratama Arrabih Miratu Megasari; Risa Pitriani
Jurnal Medika: Medika Vol. 4 No. 4 (2025)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/4gq99j58

Abstract

Mual (nausea) dan muntah (emesis gravidarum) adalah gejala yang normal dan sering terjadi pada kehamilan timester I. Ibu hamil yang mengalami emesis gravidarum ringan 52,2%, emesis gravidarum sedang 45,3%, emesis gravidarum berat 2,5%, dan hanya 20% terjadi pada usia kehamilan 20 minggu (Ernawati et al., 2022). Emesis gravidarum merupakan salah satu penyakit yang dialami ibu hamil pada tahap awal kehamilan. Emesis gravidarum harus diwaspadai karena selain mengganggu aktivitas sehari-hari, jika muntah semakin parah, bisa berubah menjadi hiperemesis gravidarum (mual dan muntah berlebihan), yang dapat menyebabkan anemia, pendarahan, dan rentannya penyakit pada ibu. pada janin dapat menghambat tumbuh kembang janin. Sindrom emesis gravidarum ditangani dengan metode non farmakologi yaitu akupresur titik Pericardium 6 (P6). Hasil Penelitian yang dilakukan Megasari (2023) menggunakan metode pre-eksperimental dengan desain one group pre-test dan post-test yang dilakukan pada 16 responden yang mengalami mual muntah menghasilkan rata-rata frekuensi emesis gravidarum sebelum dilakukan akupresur titik P6 sebesar (7.37) dan setelah dilakukan akupresur titik P6 menurun menjadi (5.00) dan dengan nilai P Value 0.001 < 0.05 artinya ada pengaruh antara penggunaan metode akupresur Titik P6 terhadap penurunan mual muntah pada ibu hamil.   Klinik Pratama Arrabih merupakan salah satu klinik pratama yang memiliki kunjungan ibu hamil tertinggi yang ada di Kota Pekanbaru. Dan penerapan akupresur titik P6 pada mual muntah belum dijadikan suatu metode untuk menguranginya. Tujuan pengabdian masyarakat ini adalah untuk menurunkan mual muntah ibu hamil dengan melakukan akupresur titik P6. Mitra Pengabdian masyarakat ini adalah bidan sebagai pimpinan di Klinik Pratama Arrabih, sedangkan yang menjadi objek dalam Pengabdian ini adalah Ibu Hamil yang mengalami mual. Pengabdian masyarakat ini dilakukan dengan 2 tahap yaitu penyuluhan yang dilakukan dengan ceramah langsung untuk meningkatkan pengetahuan mitra dan melakukan terapi akupresur titik P6 pada ibu hamil dengan mual muntah kehamilan untuk mengurangi ketidaknyamanan yang dialaminya. Hasil dari pelaksanaan terapi akupresur pada 10 ibu hamil yang mengalami mual muntah selama 7 hari berturut-turut didapatkan penurunan intensitas mual pada ibu hamil dan mengatakan akan melakukan akupresur titik P6 lagi untuk mengurangi mual muntah kehamilan.
SOSIALISASI PIJAT OKSITOSIN BERBASIS AROMATERAPI LAVENDER UNTUK MENINGKATKAN PRODUKSI ASI PADA IBU MENYUSUI Risa Pitriani; Miratu Megasari
Jurnal Pengabdian Kolaborasi dan Inovasi IPTEKS Vol. 4 No. 3 (2026): Juni
Publisher : CV. Alina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59407/jpki2.v4i3.4191

Abstract

Rendahnya cakupan pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif masih menjadi tantangan dalam upaya meningkatkan kesehatan ibu dan bayi. Salah satu penyebabnya adalah kurang optimalnya produksi ASI yang dipengaruhi oleh faktor fisiologis dan psikologis serta rendahnya pengetahuan ibu mengenai metode nonfarmakologis untuk meningkatkan produksi ASI. Pijat oksitosin yang dikombinasikan dengan aromaterapi lavender merupakan salah satu intervensi yang dapat merangsang pelepasan hormon oksitosin sekaligus memberikan efek relaksasi sehingga berpotensi meningkatkan produksi ASI. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu menyusui, keluarga, serta tenaga kesehatan mengenai pemanfaatan pijat oksitosin menggunakan aromaterapi lavender sebagai upaya meningkatkan produksi ASI. Kegiatan dilaksanakan pada 20 Agustus 2025 di PMB Dince Safrina Kota Pekanbaru dengan melibatkan 18 peserta yang terdiri atas ibu menyusui dan tenaga kesehatan. Evaluasi dilakukan menggunakan pre-test dan post-test terhadap pengetahuan peserta mengenai ASI eksklusif, fisiologi laktasi, pijat oksitosin, dan penggunaan aromaterapi lavender. Nilai rata-rata pre-test sebesar 63,06 meningkat menjadi 90,00 pada post-test, menunjukkan peningkatan pengetahuan peserta setelah mengikuti penyuluhan dan pelatihan. Peserta juga mampu mempraktikkan teknik pijat oksitosin sesuai prosedur, sedangkan pada beberapa ibu menyusui teramati kelancaran pengeluaran ASI setelah intervensi. Temuan observasional tersebut menunjukkan bahwa pijat oksitosin berbasis aromaterapi lavender berpotensi mendukung produksi dan pengeluaran ASI, namun belum dilakukan pengukuran volume ASI secara objektif. Kegiatan ini memberikan manfaat dalam meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kesiapan tenaga kesehatan serta ibu menyusui dalam menerapkan pijat oksitosin menggunakan aromaterapi lavender sebagai salah satu upaya mendukung keberhasilan pemberian ASI eksklusif.
Pemberdayaan Kader Melalui Pelatihan Pijat Oksitosin Untuk Meningkatkan Produksi ASI Pada Ibu Nifas Di Posyandu Wilayah Kerja Puskesmas Rumbai Kota Pekanbaru Risa Pitriani; Miratu Megasari
Community Engagement and Emergence Journal (CEEJ) Vol. 5 No. 2 (2024): Community Engagement & Emergence Journal (CEEJ)
Publisher : Yayasan Riset dan Pengembangan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37385/ceej.v5i2.3736

Abstract

Pijat Oksitosin dalah pemijatan tulang belakang pada costa (tulang rusuk) ke 5-6 sampai ke scapula (tulang belikat). Berdasarkan Profil Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru tahun 2019 salah satu wilayah yang memiliki jumlah balita terbanyak dan cakupan pemberian ASI eksklusifnya rendah terdapat di daerah rumbai yaitu sebanyak 1.543 bayi 0-6 bulan hanya 795 bayi yang diberikan ASI eksklusif dengan persentase (51,6%). Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Rumbai Kota Pekanbaru didapatkan dalam 3 bulan terakhir jumlah ibu menyusui (usia bayi < 6 bulan) yakni berjumlah 135 orang. Tujuan pengabdian ini agar para kader dapat membantu meningkatkan capaian tersebut dengan pemantauan secara berkala pada ibu nifas dan memberikan pelayanan kesehatan berupa pijat oksitisin kepada ibu nifas. Metode pengabdian ini, yaitu: 1) Mengadakan penyuluhan dengan tujuan meningkatkan pengetahuan pada Kader, kader yang ikut pada penyuluhan ada 8 orang, 2) Mengadakan pelatihan dengan dibantu oleh terapis terlatih yang mempunyai sertifikat pelatihan massase, dan 3) Melakukan pemantauan dimaksudkan untuk mengamati kegiatan yang dilakukan kader terhadap ibu menyusui, dan evaluasi melihat hasil yang dilakukan terhadap keberhasilan pengeluaran dan pemberian ASI apakah sudah berhasil yang di pantau secara langsung oleh kader. Kegiatan ini dilakukan pada tanggal 14-18 Agustus 2023. Hasil pengabdian ini menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan kader terhadap pentingnya pijat oksitosin bagi ibu menyusui. Luaran kegiatan ini akan di publikasikan di Jurnal berISSN Jurnal CEEJ. Diharapkan pada kader yang sudah terlatih agar dapat mengajarkan kepada kader di posyandu lain untuk dapat melakukan pijat oksitosin minimal setiap hari posyandu.
Efektivitas Pijat Woolwich Terhadap Kelancaran ASI Pada Ibu Nifas Nong Rizky Oktaviani; Risa Pitriani; Miratu Megasari
Jurnal Kesehatan Global Vol 9, No 2 (2026): Edisi Mei
Publisher : LPPM Institut Kesehatan Helvetia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33085/jkg.v9i2.6949

Abstract

Kelancaran ASI pada ibu nifas dapat mengalami hambatan akibat faktor fisiologis dan psikologis pasca persalinan. Pijat Woolwich merupakan salah satu intervensi nonfarmakologis yang dilakukan dengan teknik pemijatan di sekitar areola mamae untuk merangsang hormon prolaktin dan oksitosin guna membantu kelancaran ASI. Studi pendahuluan menunjukkan bahwa ibu nifas belum pernah diberikan intervensi pijat Woolwich. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pijat Woolwich terhadap kelancaran ASI pada ibu nifas. Penelitian menggunakan desain pre-eksperimen dengan rancangan one group pretest-posttest. Sampel berjumlah 15 ibu nifas yang diambil dengan teknik total sampling. Intervensi pijat Woolwich dilakukan selama 3 hari berturut-turut sebanyak 2 kali sehari pada pagi dan sore hari. Data dikumpulkan menggunakan lembar ceklis dan dianalisis menggunakan uji Wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum intervensi seluruh responden (100%) berada pada kategori kelancaran ASI sedikit. Setelah intervensi, sebagian besar responden (73,3%) masih berada pada kategori sedikit, sedangkan (26,7%) berada pada kategori banyak. Rerata skor kelancaran ASI meningkat setelah pemberian pijat Woolwich dari 3,27 menjadi 5,47 dengan selisih mean 2,20. Hasil uji Wilcoxon diperoleh nilai p=0,001 (p0,05), yang menunjukkan bahwa pijat Woolwich efektif terhadap kelancaran ASI pada ibu nifas. Disarankan agar pijat Woolwich diterapkan sebagai bagian dari pelayanan pada ibu nifas yang mengalami hambatan produksi ASI.