Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Humanization of Islamic Education in the Perspective of Contemporary Social Theory Latifah; Masdar Hilmy; Desi Erawati
JIS: Journal Islamic Studies Vol. 4 No. 1 (2026): Januari-April 2026
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71456/jis.v4i1.1667

Abstract

The humanization of education is an important agenda in the development of Islamic education amid the dynamics of modern social life. Islamic education does not merely function as a process of transmitting religious knowledge, but also as a means of shaping complete human beings who possess dignity and social awareness. This article aims to analyze the concept of the humanization of Islamic education from the perspective of contemporary social theory and its relevance to current educational practices. This study employs a qualitative approach using a library research method by examining various literature related to Islamic education, social theory, and modern educational thought. The results of the study indicate that the humanization of Islamic education is aligned with several contemporary social theories, such as humanistic theory, social constructivism theory, and critical theory in education. Fundamental values in Islam such as justice, compassion, equality, and respect for human dignity serve as essential foundations in building a humanistic educational paradigm. In the context of modern education, the humanization approach can be realized through dialogical learning, strengthening the values of empathy, and developing students’ social awareness. Therefore, the integration of Islamic educational principles and contemporary social theory can serve as a strategic foundation in building an educational system that is not only oriented toward cognitive aspects but also toward character formation and humanitarian awareness.
Pengaruh Sosiokultural dan Pembelajaran Digital terhadap Keterlibatan dan Moral Siswa MA Sirajul Huda Kuala Kapuas Arbainsyah Arbainsyah; Desi Erawati; Masdar Hilmy Hilmy
Jurnal Ilmiah Muqoddimah: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Hummaniora Vol 10, No 2 (2026): Mei 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jim.v10i2.2026.1366-1377

Abstract

Perubahan sosial budaya dan perkembangan teknologi digital di lingkungan madrasah, menuntut pemahaman yang lebih baik mengenai faktor-faktor yang dapat memengaruhi keterlibatan belajar serta perkembangan moral siswa. Unsur sosiokultural, sikap sosial, dan penggunaan pembelajaran digital dipandang berpotensi berperan dalam proses tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh faktor sosiokultural, sikap sosial, dan pembelajaran digital terhadap keterlibatan belajar serta perkembangan moral siswa. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei yang dilakukan pada siswa Madrasah Aliyah Sirajul Huda Kuala Kapuas melalui penyebaran kuesioner sebagai data primer. Adapun data sekunder dikumpulkan melalui naskah akademik berupa jurnal nasional dan internasional terakreditasi. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan analisis regresi untuk melihat pengaruh masing-masing variabel, tahap teknik analisis antara lain, analisis statistik yakni uji asumsi klasik meliputi uji normalitas residual dengan normal p-plot. uji multikolinineratis dan uji heteroskedasitas, kemudian uji regresi linear berganda yakni uji-t, uji-f dan koefisien determinasi (R2).  Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara bersama-sama ketiga variabel berkaitan dengan keterlibatan belajar dan perkembangan moral siswa. Secara parsial, faktor sosiokultural terutama yang berkaitan dengan norma gender menunjukkan pengaruh yang signifikan, sedangkan sikap sosial dan pembelajaran digital tidak menunjukkan pengaruh yang berarti. Berdasarkan hasil, menunjukkan bahwa keterlibatan belajar dan perkembangan moral siswa tidak hanya dipengaruhi oleh teknologi atau sikap sosial, tetapi juga oleh faktor lain seperti motivasi belajar, efikasi diri, keterampilan digital siswa dan dukungan guru serta sekolah.
Pembentukan Nilai Sosial Siswa Melalui Pendidikan Agama Islam: Analisis Teori Sosial di MAN Kota Palangka Raya Haisusyi Haisusyi; Madsar Hilmy; Desi Erawati
INTEGRASI : Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan Vol. 4, No. 1 : INTEGRASI (JANUARI-JUNI 2026)
Publisher : Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61590/int.v4i01.269

Abstract

 Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki peran penting dalam membentuk nilai-nilai sosial peserta didik. Dalam konteks pendidikan modern, pembelajaran PAI tidak hanya berfokus pada penguasaan aspek kognitif mengenai ajaran agama, tetapi juga pada pembentukan karakter dan nilai-nilai sosial yang tercermin dalam perilaku sehari-hari siswa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran Pendidikan Agama Islam dalam perspektif teori sosial terhadap pembentukan nilai sosial siswa di MAN Kota Palangka Raya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara dengan guru PAI dan siswa, serta dokumentasi kegiatan pembelajaran. Analisis data dilakukan melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran Pendidikan Agama Islam di MAN Kota Palangka Raya memiliki peran yang signifikan dalam membentuk nilai-nilai sosial siswa, seperti sikap toleransi, tanggung jawab, kejujuran, dan kepedulian sosial. Dalam perspektif teori sosial, pendidikan agama dapat dipahami sebagai sarana sosialisasi nilai yang membantu siswa memahami norma-norma sosial yang berlaku dalam masyarakat. Melalui pendekatan pembelajaran yang dialogis dan kontekstual, guru PAI mampu mengintegrasikan ajaran agama dengan realitas sosial yang dihadapi siswa. Dengan demikian, pembelajaran PAI tidak hanya berfungsi sebagai transfer pengetahuan keagamaan, tetapi juga sebagai sarana pembentukan karakter sosial yang positif bagi peserta didik
Reinterpretasi Tasawuf di Kalangan Generasi Milenial: Analisis Interaksionisme Simbolik George Herbert Mead Cahyo Muliawan; Masdar Hilmy; Desi Erawati
INTEGRASI : Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan Vol. 4, No. 1 : INTEGRASI (JANUARI-JUNI 2026)
Publisher : Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61590/int.v4i01.263

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fenomena reinterpretasi tasawuf di kalangan generasi milenial dalam perspektif interaksionisme simbolik yang dikembangkan oleh George Herbert Mead. Tasawuf yang secara tradisional dipahami sebagai dimensi spiritual Islam mengalami transformasi makna seiring perkembangan modernitas, globalisasi, dan kemajuan teknologi digital. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research) melalui analisis berbagai literatur yang relevan dengan tasawuf, modernitas, serta teori interaksionisme simbolik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa reinterpretasi tasawuf di kalangan milenial ditandai oleh pergeseran makna dari praktik tarekat tradisional menuju spiritualitas yang lebih personal, fleksibel, dan kontekstual. Tasawuf tidak hanya dipahami sebagai praktik asketis, tetapi juga sebagai sarana pencarian ketenangan batin, kesehatan mental, serta pembentukan identitas spiritual. Selain itu, media digital berperan penting dalam memperluas akses dan membentuk simbol-simbol baru dalam praktik tasawuf, sehingga proses pemaknaan menjadi lebih dinamis dan terbuka. Dalam perspektif interaksionisme simbolik, makna tasawuf dibentuk melalui proses interaksi sosial, interpretasi simbol, dan pengalaman subjektif individu.
Dualisme Kepemimpinan dan Disfungsi Struktur Sebagai Hambatan Transformasi Pendidikan Islam Hardani Hardani; Masdar Hilmy; Desi Erawati
INTEGRASI : Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan Vol. 4, No. 1 : INTEGRASI (JANUARI-JUNI 2026)
Publisher : Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61590/int.v4i01.271

Abstract

Institusi pendidikan Islam saat ini menghadapi tantangan besar untuk menyeimbangkan antara tuntutan inovasi era Society 5.0 dengan pemeliharaan identitas nilai-nilai keagamaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran kepemimpinan kepala sekolah dalam menjaga keseimbangan antara stabilitas dan perubahan sistem pendidikan melalui sintesis teori kepemimpinan transformasional dan teori strukturalisme-fungsionalisme. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan jenis studi kepustakaan (library research). Data sekunder dikumpulkan melalui studi dokumentasi dari berbagai literatur primer dan sekunder, yang kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis isi dan analisis kritis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan transformasional bertindak sebagai motor penggerak fungsi adaptasi dan pencapaian tujuan dalam skema AGIL (Adaptation, Goal Attainment, Integration, Latency) milik Talcott Parsons. Kepala sekolah menggunakan stimulasi intelektual dan motivasi inspirasional untuk mendorong digitalisasi serta pembaruan kurikulum. Secara simultan, kepala sekolah menjalankan fungsi integrasi dan latensi untuk memastikan bahwa perubahan tersebut tetap selaras dengan nilai-nilai Islami sebagai fondasi stabilitas organisasi.
Julia Kristeva Intertextual Reconfiguration of Interpretation of Rūḥ al-Qudus: An Analysis of Tafsīr ath-Ṭhabarī and al-Kabīr on Q.S. Al-Baqarah [2]:87 Masrul Maulana Pratama; Desi Erawati; Nor Faridatunnisa; Mualimin Mualimin
Jurnal Ushuluddin Vol. 33 No. 2 (2025): December
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jush.v33i2.38735

Abstract

This study is based on different interpretations of the concept of Rūḥ al-Qudus in classical and medieval exegesis. The aim of this study is to examine how this concept is presented in Tafsīr al-Ṭabarī and Tafsīr al-Rāzī and how Julia Kristeva's theory of intertextuality can illustrate the semantic relationships between the two. Through a qualitative-descriptive approach and an intertextual analysis of Jāmi‘ al-Bayān and al-Tafsīr al-Kabīr, this study concludes that al-Ṭabarī understands Rūḥ al-Qudus theocentrically and literally as the angel Jibrīl, i.e. as a divine mediator who acts as an enabler and bringer of revelations, based on the consensus of the traditions of the Companions and Tabi‘in. In contrast, al-Rāzī reinterprets this concept in a rational-philosophical manner, namely as quwwah rabbāniyyah, i.e. as a divine power that animates the spiritual consciousness ofhuman beings and enlivens their intellectual and moralcapacities. An intertextual analysis shows that al-Rāzī not onlyadopts al-Ṭabarī's view, but also undertakes a transformation ofmeaning through theological elaboration and metaphysicalspeculation, which expands the ontological position of Rūḥ al-Qudus in the discourse of revelation. This study contributes tointroducing the application of Kristeva's intertextuality model inexegesis and explaining the process of reconfiguring the meaningof Rūḥ al-Qudus in the intellectual dialogue between the classicaland medieval periods
Diffusion of Religious Discourse: A Study on the TikTok Platform ‘Cigarettes with Merit Value’ from the Perspective of Everett Rogers Evi Aulia; Nor Aisyah; Nor Afifah; Desi Erawati
Al Mabhats : Jurnal Penelitian Sosial Agama Vol 11 No 1 (2026): Al Mabhats : Jurnal Penelitian Sosial Agama
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat IAIN Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47766/almabhats.v11i1.7609

Abstract

The phenomenon of the spread of controversial religious discourse on social media has become a serious concern in digital communication studies, given its significant impact on the religious perception of the wider community. This study aims to analyze the diffusion process of the statement "cigarettes are worth a reward" on social media using Everett Rogers' Diffusion of Innovations theory. The approach used is qualitative descriptive-analytical, with data sources consisting of literature reviews, scientific articles, and online media reports related to the phenomenon. The analysis is conducted through Rogers' stages, which include knowledge, persuasion, decision, implementation, and confirmation. The analysis also identifies the roles of diffusion actors such as opinion leaders, influencers, and netizens in the dissemination process. The results show that the statement spread non-linearly through various digital platforms particularly TikTok and Instagram with a variety of public responses ranging from support and rejection to satire. Social media algorithms and viral culture have been shown to play a significant role in shaping the dynamics of religious discourse in the digital space, making digital literacy and religious moderation urgently necessary.
DONASI DIGITAL SEBAGAI EKSPRESI FILANTROPI ISLAM DI ERA JARINGAN: ANALISIS PERSPEKTIF MANUEL CASTELLS PADA INSTAGRAM @KITABISA.COM Nuriyatul Muzakiya; Syaira Latifa; Hapijaturrahmah; Desi Erawati
Islamologi : Jurnal Ilmiah Keagamaan Vol. 3 No. 1 (2026): Januari - Juni | Islamologi : Jurnal Ilmiah Keagamaan
Publisher : CV. Maryam Sejahtera

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.68352/islam.v3i1.400

Abstract

Donasi digital, sebagai wujud kontemporer dari filantropi Islam, mengalami transformasi yang signifikan seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi digital, beralih dari praktik amal tatap muka menuju platform online dan media sosial. Fenomena ini tampak jelas dalam berbagai penggalangan dana untuk korban bencana di Aceh dan wilayah Sumatra yang mampu menjangkau partisipasi masyarakat luas dalam waktu singkat. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana donasi digital, yang dipahami dalam kerangka filantropi Islam, membentuk pola solidaritas sosial serta implikasinya dalam perspektif masyarakat jaringan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis melalui studi literatur dan pengamatan terhadap kampanye donasi di Instagram. Hasil kajian menunjukkan bahwa donasi digital mempermudah partisipasi masyarakat dan memperluas jangkauan solidaritas, namun sekaligus menghadirkan dinamika baru dalam hubungan sosial. Dalam perspektif masyarakat jaringan Manuel Castells, praktik ini mencerminkan terbentuknya relasi sosial berbasis jaringan yang bergantung pada arus informasi dan kekuatan koneksi digital.
Anti Islamophobia Education With a Social Contract Approach Muhammad Fuad I; Masdar Hilmy; Desi Erawati
Arathia Vol. 1 No. 1 (2026): Arathia: Journal of Islamic elementary Education and Culture Based Education
Publisher : ​Institute for Researches and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

One of the current issues in Islamic education is Islamophobia. When examinedmore deeply, this issue is closely related to social contract theory. Therefore, it isinteresting to study social contract theory alongside the issue of Islamophobia. Thisresearch employs a qualitative method using a literature review approach for datacollection. The findings show that Islamophobia is an ideology or an intense fearof Islam, its teachings, or its followers, caused by excessive negative prejudice thatleads to viewing Islam and anything associated with it as evil, dangerous,extremist, and destructive. Islamophobia has negative impacts on both perpetratorsand victims. Muslims experience intimidation, religious discrimination,defamation and hoaxes, as well as acts of terror. The emergence of Islamophobiais triggered by terrorist acts carried out in the name of Islam, which then spreadthrough politics and mass media, creating a negative social contract effect thatframes Islam as evil, dangerous, and something to be avoided. This makes socialcontract theory closely related to the issue of Islamophobia. Social contract theoryitself is a socio-political theory that views law or sovereignty as a product ofagreements among individuals to establish mutual consensus. Solutions that canbe implemented to reduce or address Islamophobia from the perspective of socialcontract theory can be carried out both internally and externally. These includerevitalizing social media, international cooperation, halal lifestyle promotion,conceptualizing jihad, strengthening da’wah, and revising policies and laws.