Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Simulasi Penanganan Korban Tenggelam dan Launching Satgas Nawasena Berbasis Sistem Informasi Geografis untuk Meningkatkan Keselamatan Wisata di Pantai Pangandaran Nurhamsyah, Donny; Fitri, Siti Yuyun Rahayu; Putra, Pringgo Kusuma Dwi Noor Yadi; Marya, Nenden Nur Asriyani; Fitri, Siti Ulfah Rifaatul; Khan, Alexander M.A; Maziyya, Nur; Setiawan, Setiawan
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 8, No 6 (2025): Volume 8 No 6 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v8i6.19400

Abstract

ABSTRAK Pantai Pangandaran merupakan salah satu destinasi wisata bahari unggulan di Indonesia yang memiliki risiko tinggi terhadap kecelakaan laut, terutama insiden tenggelam. Kurangnya kesadaran wisatawan akan potensi bahaya serta keterbatasan sistem pemantauan dan respons cepat menjadi tantangan dalam meningkatkan keselamatan wisata. Untuk mengatasi permasalahan ini, diperlukan sistem mitigasi berbasis teknologi yang dapat meningkatkan kesiapsiagaan dan efektivitas penanganan kecelakaan. Untuk meningkatkan keselamatan wisata di Pantai Pangandaran melalui simulasi penanganan korban tenggelam dan pembentukan Satgas Nawasena. Selain itu, Sistem Informasi Geografis (SIG) diterapkan sebagai alat bantu dalam pemetaan titik rawan kecelakaan dan optimalisasi sistem tanggap darurat berbasis data spasial. Kegiatan ini dilakukan melalui pendekatan partisipatif yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk akademisi, tenaga kesehatan, petugas Search and Rescue (SAR), pengelola wisata, dan masyarakat lokal. Metode yang digunakan mencakup: (1) pemetaan area rawan kecelakaan menggunakan SIG, (2) simulasi penanganan korban tenggelam yang melibatkan skenario realistis, dan (3) pembentukan serta pelatihan Satgas Nawasena sebagai satuan tugas keselamatan wisata berbasis komunitas. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa penerapan SIG mampu meningkatkan pemahaman peserta mengenai titik-titik rawan kecelakaan serta mempercepat koordinasi dalam situasi darurat. Simulasi yang dilakukan berhasil meningkatkan keterampilan petugas dan masyarakat dalam penanganan korban tenggelam. Pembentukan Satgas Nawasena juga mendapat respons positif dari berbagai pihak, dengan harapan dapat menjadi model keberlanjutan dalam pengelolaan keselamatan wisata bahari di Pantai Pangandaran. Penerapan SIG dalam sistem keselamatan wisata terbukti efektif dalam meningkatkan mitigasi risiko kecelakaan di Pantai Pangandaran. Simulasi penanganan korban tenggelam dan pembentukan Satgas Nawasenamenjadi langkah strategis dalam memperkuat kesiapsiagaan komunitas wisata terhadap potensi kecelakaan laut. Keberlanjutan program ini diharapkan dapat mendukung pengembangan wisata yang lebih aman dan berkelanjutan. Kata Kunci: Keselamatan Wisata, Sistem Informasi Geografis, Keperawatan Pariwisata, Satgas Nawasena, Mitigasi Risiko ABSTRACT Pangandaran Beach is one of Indonesia's premier marine tourism destinations, which has a high risk of maritime accidents, particularly drowning incidents. The lack of awareness among tourists regarding potential dangers, along with limited monitoring and rapid response systems, poses challenges in enhancing tourist safety. To address these issues, a technology-based mitigation system is needed to improve preparedness and the effectiveness of accident handling. To enhance tourist safety at Pangandaran Beach through simulations of drowning victim handling and the establishment of the Nawasena Task Force. Additionally, Geographic Information Systems (GIS) are applied as a tool for mapping accident-prone areas and optimizing emergency response systems based on spatial data. This activity is conducted through a participatory approach involving various stakeholders, including academics, healthcare professionals, Search and Rescue (SAR) personnel, tourism managers, and local communities. The methods used include: (1) mapping accident-prone areas using GIS, (2) conducting drowning victim handling simulations involving realistic scenarios, and (3) establishing and training the Nawasena Task Force as a community-based tourism safety unit. The results indicate that the application of GIS has improved participants' understanding of accident-prone areas and accelerated coordination in emergency situations. The simulations successfully enhanced the skills of both officials and the community in handling drowning victims. The establishment of the Nawasena Task Force also received positive responses from various parties, with hopes that it can serve as a sustainable model for managing marine tourism safety at Pangandaran Beach. The application of GIS in the tourism safety system has proven effective in enhancing risk mitigation for accidents at Pangandaran Beach. The simulations for handling drowning victims and the establishment of the Nawasena Task Force are strategic steps in strengthening the community's preparedness for potential maritime accidents. The sustainability of this program is expected to support the development of safer and more sustainable tourism.  Keywords: Tourist Safety, Geographic Information Systems, Tourism Nursing, Nawasena Task Force, Risk Mitigation
BreathTB and VOC-Based Breath Analysis for Tuberculosis Screening: A Scoping Review Agiliansyah, Ilham Fauzi; Maziyya, Nur
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 4 No. 4 (2026): November - January
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v4i4.3367

Abstract

Tuberkulosis (TBC) masih menjadi tantangan kesehatan global utama, dengan Indonesia menempati peringkat kedua tertinggi setelah India. Keterbatasan akses diagnosis, terutama di daerah terpencil, menghambat deteksi dini dan pengobatan tepat waktu, sehingga memperburuk penularan. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi pendekatan diagnostik inovatif berbasis analisis napas dan deteksi Volatile Organic Compounds (VOCs) yang diintegrasikan dengan teknologi Edge-AI. Tujuannya untuk meningkatkan akurasi skrining, mempercepat deteksi dini, dan memperkuat peran perawat komunitas dalam penjaringan kasus aktif serta pengendalian penyakit berbasis masyarakat di wilayah sumber daya terbatas. Desain penelitian menggunakan scoping review dengan kerangka PICO. Pencarian literatur dilakukan melalui PubMed, Scopus, Garuda, dan ScienceDirect menggunakan kombinasi kata kunci “breath analysis”, “edge-AI”, “early detection”, “community nurse”, dan “tuberculosis”, dengan kriteria inklusi artikel teks penuh tahun 2019–2024. Dari 127 artikel yang teridentifikasi, 7 memenuhi kriteria dan dianalisis. Hasil menunjukkan potensi teknologi analisis napas berbasis VOC untuk deteksi TBC dengan akurasi 78–93%. Perangkat electronic nose (E-Nose) portabel menjadi solusi paling aplikatif di daerah dengan keterbatasan infrastruktur. Salah satu inovasi menonjol adalah BreathTB, yang memanfaatkan sensor MQ-135 dan CCS811 dengan mikrokontroler ESP32-C3 dan algoritma Edge-AI untuk klasifikasi real-time tanpa internet. Inovasi berbasis napas seperti BreathTB berpotensi memperkuat skrining komunitas, meningkatkan keterlibatan perawat, dan mendukung pencapaian target Eliminasi TBC Indonesia sesuai SDGs 2030.
Implementation of Prototype Biodigester for the Development of Healthy and Productive Villages through Community Empowerment Maziyya, Nur; Rahayuwati, Laili; Pramukti, Iqbal; Luthfi, Wazirul; Agustina, Habsyah Saparidah; Ibrahim, Kusman; Lukman, Mamat; Rosidin, Udin; Witdiawati, Witidiawati
Media Karya Kesehatan Vol 8, No 2 (2025): Media Karya Kesehatan
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/mkk.v8i2.67219

Abstract

Waste remains a complex environmental problem, particularly in rural areas that rely heavily on agricultural and livestock activities. This condition requires sustainable technology-based waste management alternatives to prevent deterioration in sanitation quality, contamination of water sources, and the decline of environmental carrying capacity for community life. Compreng Village, located in Subang Regency, is predominantly inhabited by farmers, making it vulnerable to environmental pollution due to inadequate waste management practices.This Community Service Program was implemented by introducing an alternative waste management approach, namely the utilization of a Biodigester prototype for household organic waste and agricultural residue processing. The program was carried out under the theme “Healthy and Productive Village,” in which community members were trained to convert organic waste into a renewable energy source as a complementary alternative to LPG gas, while the resulting bioslurry was processed into compost fertilizer. The implementation methods consisted of four main stages: program socialization, training on waste segregation and biodigester operation, mentoring for organic waste processing practice, and technology transfer through community-based biodigester prototype application. A pre- and post-program knowledge assessment was also conducted using a paired t-test. The evaluation results narratively indicated that community members were able to utilize the biodigester prototype to manage organic waste and use the produced bioslurry as fertilizer. Additionally, the paired t-test results showed a significant increase in knowledge regarding the use of biodigesters for organic waste management (p < .001). As a recommendation, ongoing evaluation and follow-up planning are necessary to ensure the sustainability of this program, so that it may be applied. Keywords: Biodigester, environment, healthy productive village, waste management. 
Understanding the Health Landscape of Coastal Communities: A Review on Non-Communicable Diseases Maziyya, Nur; Nurhamsyah, Donny
Journal of Nursing Care Vol 8, No 3 (2025): Journal of Nursing care
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jnc.v8i3.64334

Abstract

Non-communicable diseases (NCDs), particularly hypertension and type 2 diabetes mellitus, pose serious health challenges in coastal communities, which are often socioeconomically and geographically vulnerable. Limited access to healthcare and inadequate preventive health information further worsen these issues. This literature review aims to describe the health profile and associated risk factors of NCDs in coastal populations. A structured search was conducted through PubMed, Google Scholar, and ScienceDirect using keywords including non-communicable diseases, hypertension, diabetes, coastal community, and risk factors. Inclusion criteria comprised peer-reviewed primary research (quantitative or qualitative), published in English or Indonesian between 2020 and 2025. Of 67 articles identified, 17 met the criteria and were analyzed descriptively. Hypertension emerged as the most frequently studied NCD, followed by diabetes and metabolic syndrome. Commonly reported risk factors included obesity, low physical activity, high sodium intake, smoking, stress, aging, and low socioeconomic status. Some studies also noted the influence of seafood consumption, sleep quality, and comorbid conditions. Among elderly populations, factors such as health insurance and access to health counseling influenced health-seeking behaviors. These findings highlight the urgent need for tailored, community-based strategies to prevent and control NCDs in coastal regions.
Pemberdayaan Masyarakat Dalam Pengolahan Limbah Organik Asal Peternakan, Perikanan, dan Dapur Sebagai Upaya Mendukung Pertanian Mandiri dan Berkelanjutan Febrianto, Firman; Maziyya, Nur; Wijayanti, Lady Ayu Sri
Farmers : Journal of Community Services Vol 7, No 1 (2026): Farmers: Journal of Community Services
Publisher : Unpad Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/fjcs.v7i1.69082

Abstract

Ketergantungan pada pupuk kimia dan pengelolaan limbah organik yang kurang optimal menjadi tantangan utama dalam mewujudkan pertanian berkelanjutan. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi kelompok nelayan dan peternak di Desa Karangjaladri, Kabupaten Pangandaran, dalam mengonversi limbah peternakan, perikanan, dan rumah tangga menjadi Pupuk Organik Cair (POC). Metode yang digunakan adalah Action Research melalui pendekatan edukatif, partisipatif, serta demonstrasi plot (demplot) yang melibatkan 20 peserta. Proses pembuatan POC memanfaatkan bahan lokal seperti limbah dapur, kotoran ternak, molase, dan bioaktivator EM4 dengan metode fermentasi anaerob. Hasil evaluasi melalui pre-test dan post-test menunjukkan peningkatan signifikan pada aspek kognitif dan teknis peserta, di mana 100% peserta menyatakan minat untuk memproduksi POC secara mandiri. Penambahan starter EM4 berhasil mempercepat proses fermentasi dari 90 hari menjadi 21 hari dengan karakteristik produk akhir berwarna kecokelatan dan beraroma khas fermentasi. Program ini berhasil menginisiasi perubahan perilaku masyarakat dalam pemanfaatan limbah secara produktif untuk mendukung kemandirian pangan dan mitigasi dampak lingkungan. Pendampingan berkelanjutan, pelatihan lanjutan terkait aplikasi dan dosis POC, dan pembentukan kelompok usaha bersama (KUB) di perlukan untuk memastikan dampak program dapat berlangsung dalam jangka panjang.
PEMBERDAYAAN KESEHATAN MASYARAKAT PADA OCCUPATIONAL HEALTH NURSING TINGKAT DESA CILIANG KECAMATAN PARIGI KABUPATEN PANGANDARAN Setiawan, Setiawan; Maziyya, Nur; Alfionita, Fina Silvia; Fadilah, Siti Nur
Sawala : Jurnal pengabdian Masyarakat Pembangunan Sosial, Desa dan Masyarakat Vol 7, No 2 (2026): Sawala : Jurnal pengabdian Masyarakat Pembangunan Sosial, Desa dan Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/sawala.v7i2.71801

Abstract

Sektor informal seperti usaha pengepulan dan pengolahan sampah plastik (ball press) memiliki risiko tinggi terhadap keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Aktivitas fisik berat meliputi pemilahan, pencucian, hingga pengepresan material dalam skala kuintal memicu bahaya fisik, ergonomi, dan lingkungan. Hasil pengkajian awal menunjukkan dominasi keluhan kelelahan fisik, gangguan muskuloskeletal (seperti nyeri punggung dan pegal otot), minimnya penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap (masker, sepatu keselamatan, sarung tangan), potensi kecelakaan kerja akibat lingkungan kurang aman (seperti risiko jatuh dari tangga), serta belum tersedianya jaminan kesehatan dan pemeriksaan kesehatan berkala. Berdasarkan UU No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja dan UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk menerapkan pendekatan Occupational Health Nursing (OHN) melalui strategi promotif dan preventif guna meminimalkan risiko cedera dan penyakit akibat kerja. Metode pelaksanaan meliputi sosialisasi dan edukasi K3, pelatihan posisi kerja ergonomis, pendampingan serta pengadaan APD dasar, serta edukasi manajemen kelelahan dan keselamatan lingkungan kerja. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan pekerja terkait potensi bahaya K3, kesadaran dan kepatuhan penggunaan APD, serta penerapan prinsip ergonomi saat mengangkat beban. Kesimpulannya, intervensi berbasis OHN dapat meningkatkan pengetahuan dan perilaku K3 pekerja sektor informal ball press, sehingga diharapkan mampu menurunkan tingkat kecelakaan kerja, mencegah gangguan kesehatan kronis, dan meningkatkan kualitas hidup serta produktivitas pekerja secara berkelanjutan.