cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-GIGI
ISSN : 2338199X     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
JURNAL e-Gigi diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia (Komisariat Manado) bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni, Desember). e-Gigi memuat artikel telaah (review article), hasil penelitian, dan laporan kasus dalam bidang ilmu kedokteran gigi.
Arjuna Subject : -
Articles 593 Documents
Gnatoplasti tanpa Cangkok Tulang: Kasus Serial Yuliastuti, Eka; Mangoenprawira, Ocky P.; Ismunandar, Adhe
e-GiGi Vol. 14 No. 2 (2026): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v14i2.64546

Abstract

Abstract: Alveolar clefts are a group of cleft lip and/or palate disorders that can interfere with tooth growth, aesthetics, and oral function. Treatment is gradual and multidisciplinary, with initial procedures such as labioplasty and palatoplasty. However, postoperative facial bone growth disorders often occur. Gnathoplasty is generally performed with bone grafting, but this procedure carries a risk of complications. Therefore, gnathoplasty without bone grafting is starting to be considered as an alternative, especially in children under 10 years of age with a cleft width of ≤4 mm. This study aimed to discuss the clinical and esthetic outcomes of several cases of gnathoplasty without the use of bone grafts, and to assess the safety and effectiveness of the procedure. In this case study, there were three pediatric patients with similar clinical conditions and complaints underwent gnathoplasty without bone grafting using the mucosal tissue closure method at Santa Theresia Hospital in Jambi. Evaluation was conducted through clinical examination and pre- and post-operative photo documentation. The results showed that gnathoplasty without bone graft provided significant improvement in facial profile and patient esthetic satisfaction without complications. No post-operative infection was found. Healing was progressing well and recovery time was shorter. Post-operative hypernasality improved gradually without the need for speech therapy in the short term. In conclusion, gnatoplasty without bone grafting can be an appropriate treatment option in children with specific indications, as it provides good outcomes with low risk of complications. Keywords: gnathoplasty; bone graft; gnathoschizis    Abstrak: Celah alveolar merupakan bagian dari kelainan celah bibir dan/atau langit-langit yang dapat mengganggu pertumbuhan gigi, estetika, dan fungsi rongga mulut. Penanganannya dilakukan secara bertahap dan multidisipliner melalui prosedur awal seperti labioplasti dan palatoplasti, namun gangguan pertumbuhan tulang wajah sering terjadi pascaoperasi. Gnatoplasti umumnya dilakukan dengan cangkok tulang, tetapi prosedur ini memiliki risiko komplikasi. Oleh karena itu, gnatoplasti tanpa cangkok tulang mulai dipertimbangkan sebagai alternatif, terutama pada anak di bawah usia 10 tahun dengan lebar celah ≤4 mm. Penulisan studi ini bertujuan untuk melaporkan hasil klinis dan estetika dari beberapa kasus gnatoplasti tanpa penggunaan cangkok tulang, serta menilai keamanan dan efektivitas prosedur tersebut. Dalam studi kasus ini, tiga pasien anak dengan kondisi klinis dan keluhan serupa menjalani gnatoplasti tanpa cangkok tulang menggunakan metode penutupan jaringan mukosa di Rumah Sakit SantaTheresia, Jambi. Evaluasi dilakukan melalui pemeriksaan klinis, dokumentasi foto pra dan pasca operasi. Hasil menunjukkan bahwa gnatoplasti tanpa cangkok tulang memberikan perbaikan bermakna pada profil wajah dan kepuasan estetika pasien tanpa komplikasi. Tidak ditemukan infeksi pasca operasi. Penyembuhan berjalan dengan baik dan waktu pemulihan lebih singkat. Hipernasalitas yang muncul pasca operasi membaik secara bertahap tanpa perlu terapi wicara dalam jangka pendek. Simpulan studi ini ialah gnatoplasti tanpa cangkok tulang pada anak dapat menjadi pilihan tindakan yang tepat sesuai indikasi dengan hasil yang baik dan berisiko rendah. Kata kunci: gnatoplasti; cangkok tulang: gnatoschizis
Efektivitas Antibakteri Nanokomposit AgNP Cymbopogon citratus dengan Penstabil Kitosan terhadap Streptococcus viridans Halim, Johni; Siahaya, Aleceandra A. S.; Komariah, Komariah; Ranggaini, Dewi; Anggraeni, Rezky
e-GiGi Vol. 14 No. 1 (2026): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v14i1.64572

Abstract

Abstract: Nanocomposite is a synthesis of silver nanoparticles (AgNP) with lemongrass leaves (Cymbopogon citratus) stabilized with chitosan. The combination of nanocomposites has synergy in inhibiting bacteria, one of which is Streptococcus viridans that causes abscesses in the oral cavity. This study aimed to determine the effectiveness of nanocomposite chitosan AgCh with C. citratus in inhibiting the growth of S. viridans. This was an in vitro experimental laboratory study with a post-test group control design using disc diffusion for antibacterial test. Samples were divided into eight groups, with several concentrations 6.25 mg/mL, 12.5 mg/mL, 15 mg/mL, 25 mg/mL, and 50 mg/mL, positive control (clindamycin), and negative control (aquadest and acetic acid). Normality test showed a p-value of >0.05, which meant data were normally distributed. One-way ANOVA test showed a p-value <0.05, indicating there was a difference in each treatment. Therefore, further testing was carried out using the Tukey's post hoc. In conclusion, chitosan nanocomposite, AgCh, with C. citratus can inhibit the growth of S. viridans with the formation of the best inhibition zone at a concentration of 50 mg/mL, followed by concentrations (25, 12.5, 15, and 6.25) mg/mL. Keywords: nanocomposite; silver nanoparticles; Cymbopogon citratus; chitosan; Streptococcus viridans; abscess    Abstrak: Nanokomposit ialah sintesis nanopartikel perak (AgNP) dengan daun serai dapur (Cymbopogon citratus) yang distabilkan dengan kitosan. Gabungan nanokomposit memiliki sinergitas dalam menghambat pertumbuhan bakteri, salah satunya Streptococcus viridans yang menyebabkan abses dalam rongga mulut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas nanokomposit kitosan AgCh dengan C. citratus dalam menghambat pertumbuhan S. viridans. Jenis penelitian ialah eksperimental laboratorik in vitro dengan post test group control design. Pengujian antibakteri menggunakan metode difusi cakram. Sampel dibagi dalam delapan kelompok, masing-masing pada konsentrasi 6,25 mg/mL, 12,5 mg/mL, 15 mg/mL, 25 mg/mL, 50 mg/mL, kontrol positif (clindamycin), dan kontrol negatif (akuades dan asam asetat). Hasil uji normalitas menunjukkan p>0,05 yang berarti data terdistribusi normal. Uji oneway ANOVA menunjukkan nilai p<0,05 yang berarti terdapat perbedaan pada setiap perlakuan, sehingga dilakukan uji lanjut dengan menggunakan post hoc tukey. Simpulan penelitian ini ialah nanokomposit kitosan, AgCh, dengan C. citratus dapat menghambat pertumbuhan S. viridans dengan pembentukan zona hambat terbaik pada konsentrasi 50 mg/mL, diikuti oleh konsentrasi (25, 12,5, 15, dan 6,25) mg/mL. Kata kunci: nanokomposit; nanopartikel perak; Cymbopogon citratus; kitosan; Streptococcus viridans; abses
Konsentrasi Hambat Minimum dan Konsentrasi Bunuh Minimum Ekstrak Bawang Merah (Allium cepa L.) terhadap Porphyromonas gingivalis Sari, Ernita; Firmantini, Herrina; Chasanah, Niswatun; Ningrum, Putri W. S.
e-GiGi Vol. 14 No. 2 (2026): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v14i2.64734

Abstract

Abstract: Periodontal disease often begins with inflammation caused by bacteria in the oral cavity, such as Porphyromonas gingivalis. One of the herbal ingredients known for its antibacterial properties is shallot (Allium cepa L.). Shallots contain various secondary metabolites, including saponin, flavonoid, alkaloid, triterpenoid, and tannin. This study aimed to obtain the minimum inhibitory concentration (MIC) and minimum bactericidal concentration (MBC) of shallot extract. This was an experimental laboratory design using a post-test only control group approach. The test organism used was Porphyromonas gingivalis. Shallots were extracted using the maceration method, followed by serial dilution to obtain concentrations of 100%, 50%, 25%, 12.5%, 6.25%, 3.125%, 1.56%, 0.78%, and a negative control. The results showed that at concentrations of 100%, 50%, 25%, and 12.5%, there was no growth of Porphyromonas gingivalis was observed. However, bacterial growth was present at concentrations of 6.25%, 3.125%, 1.56%, 0.78%, and in the negative control group. In conclusion, the minimum inhibitory concentration was found to be 0.78%, while the minimum bactericidal concentration was 12.5%. Keywords: Porphyromonas gingivalis; shallots (Allium cepa L.)    Abstrak: Penyakit periodontal biasanya diawali dengan inflamasi yang disebabkan bakteri di rongga mulut seperti Porphyromonas gingivalis. Bakteri ini merupakan kelompok bakteri yang berperan dalam inisiasi terjadinya penyakit periodontal kronis. Salah satu bahan herbal yang diketahui memiliki daya antibakteri ialah bawang merah dengan kandungan metabolit sekunder yaitu saponin, flavonoid, alkaloid, triterpenoid, dan tanin. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) dan Konsentrasi Bunuh Minimum (KBM) dari ekstrak bawang merah terhadap pertumbuhan bakteri Porphyromonas gingivalis. Jenis penelitian ialah eksperimental laboratoris dengan post test only control group desain. Sampel penelitian yaitu Porphyromonas gingivalis. Bawang Merah diekstraksi menggunakan metode maserasi kemudian dilakukan penipisan seri atau metode dilusi dengan konsentrasi 100%, 50%, 25%, 12,5%, 6,25%, 3,125%, 1,56%, dan 0,78%, serta kontrol negatif. Hasil penelitian mendapatkan bahwa pada konsentrasi 100%, 50%, 25%, dan 12,5% tidak ada pertumbuhan P. gingivalis. Pada konsentrasi 6,25%, 3,125%, 1,56%, dan 0,78%, kontrol negatif tampak pertumbuhan P. gingivalis. Simpulan penelitian ini ekstrak bawang merah (Allium cepa L.) memiliki Konsentrasi Hambat Minimum pada konsentrasi 0,78%, dan Konsentrasi Bunuh Minimum pada konsentrasi 12,5% terhadap bakteri Porphyromonas gingivalis. Kata kunci: Porphyromonas gingivalis; bawang merah (Allium cepa L.)
Manajemen Klinis Fenestrasi Apikal pada Gigi Sulung: Laporan Kasus Ramadhan, Moh S. S.; Jeffrey, Jeffrey
e-GiGi Vol. 14 No. 1 (2026): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v14i1.64784

Abstract

Abstract: Apical fenestration is a defect in the apical region of a tooth root that penetrates the oral mucosa. Unlike dehiscence, which involves the marginal bone, fenestration is limited to the apical portion of the root and may arise from physiological or pathological processes. Although the exact cause remains unclear, several predisposing factors, including prominent root morphology, malocclusion, buccal or labial tooth position, and thin cortical bone, have been associated with its occurrence. This case report describes the management of apical fenestration in a 5-year-old male patient who presented to the Dental and Oral Hospital, Jenderal Achmad Yani University, with a complaint of the upper left primary incisor root protruding through the labial gingiva. Clinical examination revealed that the apical tip of tooth 61 had penetrated the alveolar bone and was visible intraorally as a rounded projection with surrounding erythema. The treatment consisted of extraction of the remaining root of tooth 61. Follow-up evaluation one month after surgery demonstrated satisfactory soft-tissue healing without signs of secondary infection. The management of apical fenestration in primary teeth requires accurate diagnosis and appropriate treatment to prevent complications. In this case, the clinical intervention resulted in favourable healing and periodontal improvement, demonstrating that a well-planned approach can lead to a good prognosis. Keywords: apical fenestration; extraction; soft tissue healing; primary teeth    Abstrak: Fenestrasi apikal adalah suatu defek pada daerah apikal akar gigi yang menembus mukosa mulut. Berbeda dengan dehiscence yang melibatkan tulang marginal, fenestrasi hanya terbatas pada bagian apikal akar dan dapat terjadi akibat proses fisiologis maupun patologis. Meskipun penyebab pastinya belum diketahui, beberapa faktor predisposisi seperti morfologi akar yang menonjol, maloklusi, posisi gigi yang lebih bukal atau labial, serta ketebalan tulang kortikal yang tipis diduga berperan dalam terjadinya kondisi ini. Laporan kasus ini menjelaskan penatalaksanaan fenestrasi apikal pada seorang anak laki-laki berusia 5 tahun yang datang ke Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Jenderal Achmad Yani dengan keluhan adanya bagian akar gigi insisivus sentralis kiri atas yang menonjol pada daerah gingiva labial. Pemeriksaan klinis menunjukkan bahwa ujung apikal gigi 61 telah menembus tulang alveolar dan tampak secara intraoral berbentuk bulat dengan jaringan sekitarnya yang eritematosa. Perawatan yang dilakukan berupa ekstraksi sisa akar gigi 61. Evaluasi hasil perawatan setelah satu bulan menunjukkan penyembuhan jaringan lunak yang baik tanpa tanda-tanda infeksi sekunder. Penanganan fenestrasi apikal pada gigi sulung memerlukan diagnosis tepat dan terapi yang sesuai untuk mencegah komplikasi. Pada kasus ini, intervensi klinis menunjukkan hasil baik dengan penyembuhan jaringan dan perbaikan kondisi periodontal, sehingga menegaskan bahwa tata laksana yang terencana dapat memberikan prognosis yang baik. Kata kunci: fenestrasi apikal; ekstraksi; penyembuhan jaringan lunak; gigi sulung
Status Psikososial Remaja Usia 15-17 Tahun yang Mengalami Maloklusi Anterior Berdasarkan Indeks PIDAQ Tilaar, Keren D.; Anindita, Pritartha S.; Pangemanan, Damajanty H. C.
e-GiGi Vol. 14 No. 1 (2026): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v14i1.64949

Abstract

Abstract: Anterior malocclusion can affect facial aesthetics and has an impact on psychosocial condition, particularly among adolescents. Coastal areas like Tuminting District, which is close to the center of Manado City, have social characteristics that make appearance an important aspect of adolescent interactions, while socio-economic conditions often limit access to orthodontic care, which further influences the psychosocial impact of malocclusion. This study aimed to obtain the psychosocial status of adolescents aged 15-17 tahun with anterior malocclusion based on PIDAC at SMAN3 Tuminting. This was a descriptive and observational study with a cross-sectional approach. Respondents consisted of 60 students aged 15–17 years selected through purposive sampling based on inclusion and exclusion criteria. Visual monitoring was conducted to detect anterior malocclusion, and the PIDAQ questionnaire was administered to assess psychosocial impact. The majority of study subjects (61.6%) fell into the moderate PIDAQ score category, 21.7% into the high category, and 16.7% into the low category. Female subjects tended to have higher PIDAQ scores than males, reflecting greater sensitivity to dental aesthetics. In conclusion, most adolescents with anterior malocclusion at SMAN 3 Tuminting fall into the moderate PIDAQ score category indicating that anterior malocclusion has a psychosocial impact. Keywords: anterior malocclusion; adolescents; psychosocial status; PIDAQ   Abstrak: Maloklusi anterior dapat memengaruhi estetika wajah dan berdampak pada kondisi psikososial, terutama pada remaja. Daerah pesisir seperti Kecamatan Tuminting yang tidak jauh dari pusat Kota Manado memiliki karakteristik sosial yang menjadikan penampilan sebagai aspek penting dalam interaksi remaja, sementara kondisi sosio-ekonomi sering membatasi akses terhadap perawatan ortodontik, yang turut memengaruhi dampak psikososial akibat maloklusi. Penelitian ini bertujuan mengetahui status psikososial remaja usia 15–17 tahun dengan maloklusi anterior berdasarkan indeks PIDAQ di SMAN 3 Tuminting. Jenis penelitian ialah deskriptif observasional dengan desain potong lintang. Responden penelitian berjumlah 60 siswa berusia 15–17 tahun yang telah dipilih melalui purposive sampling sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Pemantauan visual dilakukan untuk mendeteksi maloklusi anterior dan pengisian kuesioner PIDAQ untuk menilai dampak psikososial. Mayoritas responden sebanyak 61,6% tergolong skor PIDAQ kategori sedang, 21,7% kategori tinggi, dan 16,7% kategori rendah. Responden perempuan cenderung memiliki skor PIDAQ lebih tinggi daripada laki-laki, yang mencerminkan sensitivitas lebih besar terhadap estetika gigi. Simpulan penelitian ini ialah sebagian besar remaja dengan maloklusi anterior di SMAN 3 Tuminting tergolong dalam kategori skor PIDAQ sedang, yang menunjukkan bahwa maloklusi anterior memberikan dampak psikososial. Kata kunci: maloklusi anterior; remaja; status psikososial; PIDAQ
Kejadian Gingivitis pada Siswa Tunagrahita di SLB Wilayah Pesisir Kota Manado Pardanus, Darlene G.; Tendean, Lydia E. N.; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol. 14 No. 1 (2026): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v14i1.64950

Abstract

Abstract: Gingivitis is one of the periodontal disease characterized by redness, swelling of the gingival tissue, and bleeding due to the accumulation of dental plaque and calculus in the supragingival and subgingival areas. This disease is common among children, including those with special needs such as individuals with intellectual disabilities. Children with intellectual disabilities face challenges in maintaining oral hygiene due to intellectual and behavior limitations, which increase the risk of periodontal diseases like gingivitis. Moreover, socioeconomic challenges and limited access to dental health services in coastal areas further exacerbate this condition. This study aimed to determine the incidence of gingivitis in students with intellectual disabilities in special schools at the coastal area of Manado City. This was an observational study with a cross-sectional design conducted on students with intellectual disabilities at GMIM Nazareth Tuminting Special School and YPAC Special School in Manado using the total sampling method. The results obtained 46 students as respondents; females (58.7%) were more frequent than males (41.3%). The highest percentages were students from SMPLB and SMALB (each of 34.8%). The majority of respondents suffered from gingivitis (89.1%), especially on both upper and lower jaws (41.3%). In conclusion, the prevalence of gingivitis among intellectually disabled students in Special Schools in the coastal area of Manado City is categorized as high (89.1%). Keywords: gingivitis; students with intellectual disabilities    Abstrak: Gingivitis merupakan salah satu penyakit periodontal yang ditandai dengan kemerahan, pembengkakan jaringan gingiva, dan pendarahan akibat penumpukan plak gigi dan kalkulus di supragingiva dan subgingiva. Gingivitis menjadi salah satu penyakit periodontal yang umum terjadi pada anak, termasuk mereka yang memiliki kebutuhan khusus seperti tunagrahita. Anak-anak tunagrahita menghadapi tantangan dalam menjaga kebersihan gigi dan mulut akibat keterbatasan intelektual dan perilaku adaptif, yang meningkatkan risiko terhadap penyakit periodontal seperti gingivitis. Tantangan sosial ekonomi dan keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan gigi di wilayah pesisir memperburuk kondisi ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kejadian gingivitis pada siswa tunagrahita di Sekolah Luar Biasa wilayah pesisir Kota Manado. Jenis penelitian ialah observasional dengan desain potong lintang yang dilakukan pada siswa tunagrahita di SLB GMIM Nazareth Tuminting dan SLB YPAC Kota Manado dengan metode total sampling. Hasil penelitian mendapatkan 46 siswa sebagai responden penelitian. Responden perempuan (58,7%) lebih banyak daripada laki-laki (41,3%), terbanyak berada di tingkat SMPLB dan SMALB (masing-masing 34,8%). Mayoritas responden mengalami gingivitis (89,1%), terutama pada rahang atas dan bawah (41,3%). Simpulan penelitian ini ialah angka kejadian gingivitis pada siswa tunagrahita di sekolah luar biasa wilayah pesisir Kota Manado tergolong tinggi (sebesar 89,1%). Kata kunci: gingivitis; siswa tunagrahita
Uji Daya Hambat Ekstrak Daun Bitung (Barringtonia asiatica) terhadap Pertumbuhan Bakteri Porphyromonas gingivalis Inoi, Archi G. P.; Juliatri, Juliatri; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol. 14 No. 1 (2026): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v14i1.64954

Abstract

Abstract: Porphyromonas gingivalis is a Gram-negative anaerobic bacterium and one of the main etiological agents of periodontal disease, which is a common oral health problem in the community. Management of periodontal disease generally involves scaling and root planing, accompanied by antibiotics such as metronidazole. However, long-term use of antibiotics may lead to adverse effects, including bacterial resistance and hypersensitivity reactions. Therefore, safer alternative antibacterial agents are needed. One natural ingredient with antibacterial potential is the bitung plant (Barringtonia asiatica), which is known to contain active compounds such as flavonoids, saponins, steroids, alkaloids, phenols, and tannins. This study aimed to evaluate the inhibitory effect of Barringtonia asiatica leaf extract on the growth of P. gingivalis. The test used the disc diffusion method. Extract samples were prepared at concentrations of 25%, 50%, 75%, and 100%, with positive control (metronidazole) and negative control (aquades). The test was conducted at the Pharmaceutical Microbiology Laboratory, FMIPA, Universitas Sam Ratulangi. The results showed that Barringtonia asiatica leaf extract exhibited antibacterial activity against P. gingivalis at all tested concentrations. The largest mean inhibition zone was observed at the 25% concentration and categorized as very strong. In conclusion, Barringtonia asiatica leaf extract has inhibitory effects on the growth of Porphyromonas gingivalis bacteria. Keywords: Porphyromonas gingivalis bacteria; bitung leaf (Barringtonia asiatica)    Abstrak: Porphyromonas gingivalis merupakan bakteri Gram negatif anaerob yang menjadi salah satu penyebab utama penyakit periodontal yang banyak ditemukan di masyarakat. Penanganan umum penyakit ini dilakukan melalui scaling, root planning, dan pemberian antibiotik seperti metronidazole, namun, penggunaan antibiotik jangka panjang dapat menimbulkan efek samping seperti resistensi dan reaksi hipersensitivitas, sehingga diperlukan alternatif antibakteri yang lebih aman. Salah satu tanaman yang memiliki potensi antibakteri ialah daun bitung (Barringtonia asiatica) yang mengandung senyawa aktif seperti flavonoid, saponin, steroid, alkaloid, fenol dan tanin. Penelitian ini bertujuan untuk menguji daya hambat ekstrak daun bitung terhadap pertumbuhan bakteri P. gingivalis. Penelitian dilakukan secara eksperimental laboratorium dengan rancangan post-test only control group design menggunakan metode difusi cakram. Sampel dibagi menjadi enam kelompok: ekstrak daun bitung konsentrasi 25%, 50%, 75%, dan 100%, kontrol positif (metronidazole), serta kontrol negatif (akuades). Pengujian dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Farmasi FMIPA Universitas Sam Ratulangi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun bitung mampu menghambat pertumbuhan P. gingivalis pada seluruh konsentrasi uji, dengan zona hambat terbesar ditemukan pada konsentrasi 25% dan masuk dalam kategori sangat kuat. Simpulan penelitian ini ialah ekstrak daun bitung (Barringtonia asiatica) memiliki potensi sebagai agen antibakteri terhadap Porphyromonas gingivalis. Kata kunci: bakteri Porphyromonas gingivalis; daun bitung (Barringtonia asiatica)
Uji Daya Hambat Ekstrak Landak Laut (Diadema setosum) terhadap Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus aureus pada Plat Gigi Tiruan Putra, Made Wisnu D.; Mariati, Ni Wayan; Khoman, Johanna A.
e-GiGi Vol. 14 No. 1 (2026): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v14i1.64955

Abstract

Abstract: Denture stomatitis is caused by food debris sticking to the surface of the denture plate becoming a habitat for the growth of Staphylococcus aureus bacteria. The increase in the number of Staphylococcus aureus in the oral cavity can be overcome by maintaining the cleanliness of the denture plate. Denture cleaning can use natural materials such as sea urchin extract which is known of its antibacterial potential due to its active compounds such as flavonoids, saponins, steroids, alkaloids, phenols, and tannins. This study aimed to test the inhibition of Diadema setosum sea urchin extract against the growth of Staphylococcus aureus bacteria on artificial tooth plates. This was a laboratory experimental study with a post-test control group design using the disc diffusion method. Samples were divided into six groups: sea urchin Diadema setosum extract 10%, 30%, 50%, and 70%, positive control (manufactured denture cleaner), and negative control (distilled water). The test was conducted at the Microbiology Laboratory of Pharmacy FMIPA Sam Ratulangi University. The results showed that Diadema setosum sea urchin extract was able to inhibit the growth of Staphylococcus aureus bacteria at all test concentrations, with the largest inhibition zone found at 70% concentration (medium category). In conclusion, Diadema setosum sea urchin extract can inhibit the growth of Staphylococcus aureus bacteria on denture plates Keywords: Diadema setosum; sea urchin; Staphylococcus aureus   Abstrak: Denture stomatitis disebabkan oleh sisa makanan menempel pada permukaan plat gigi tiruan dan menjadi habitat untuk berkembang biaknya bakteri Staphylococcus aureus. Peningkatan jumlah Staphylococcus aureus dalam rongga mulut dapat diatasi dengan menjaga kebersihan plat gigi tiruan. Pembersih gigi tiruan dapat menggunakan bahan dari alam seperti ekstrak landak laut Diadema setosum yang memiliki potensi antibakteri karena kandungan senyawa aktif seperti flavonoid, saponin, steroid, alkaloid, fenol, dan tanin. Penelitian ini bertujuan untuk menguji daya hambat ekstrak landak laut Diadema setosum terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus pada plat gigi tiruan. Penelitian dilakukan secara eksperimental laboratorium dengan post-test control group design menggunakan metode difusi cakram. Sampel dibagi menjadi enam kelompok: ekstrak landak laut Diadema setosum 10%, 30%, 50%, dan 70%, kontrol positif (pembersih gigi tiruan pabrikan), serta kontrol negatif (akuades). Pengujian dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Farmasi FMIPA Universitas Sam Ratulangi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak landak laut Diadema setosum mampu menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus pada seluruh konsentrasi uji, dengan zona hambat terbesar ditemukan pada konsentrasi 70% (kategori sedang). Simpulan penelitian ini ialah ekstrak landak laut Diadema setosum mempunyai daya hambat terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus pada plat gigi tiruan. Kata kunci: landak laut; Diadema setosum; Staphylococcus aureus
Gambaran Pola Sidik Bibir Berdasarkan Klasifikasi Suzuki-Tsuchihashi di Kelurahan Sindulang Dua, Manado Huwae, Immanuel K.; Kristanto, Erwin G.; Khoman, Johanna A.
e-GiGi Vol. 14 No. 2 (2026): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v14i2.65756

Abstract

Abstract: Forensic identification is a crucial method for recognizing an individual's identity by comparing antemortem and postmortem data. Generally, identification methods are categorized into two groups: primary and secondary. One of the secondary methods that has gained increasing attention is cheiloscopy, or lip print identification, which is known for its uniqueness, permanence, and practicality. However, it is not yet established as a standard identification method in Indonesia. Limitations in applying primary methods highlight the potential of cheiloscopy as an alternative that can accelerate the identification process, particularly in coastal areas such as Sindulang Dua Subdistrict, Manado. This study aimed to obtain the lip print pattern of Sindulang Dua community based on the Suzuki-Tsuchihashi classification. This was a descriptive and observational study with a cross-sectional design, using purposive stratified sampling. The results obtained 83 respondents aged 21–40 years, consisting of 40 males and 43 females. The most frequent lip patterns were type I (36.14%) and type IV (31.33%). Among males, the most frequent type was type IV (40.00%), meanwhile, among females was type I (46.51%). The most dominant ethnic group among the respondents was Sangir (36.14%). In conclusion, the majority of people at Sindulang Dua Subdistrict have Sangir ethnic group yang mayoritas berasal dari suku Sangir. The dominant lip print pattern found in males was type IV, while in females it was type I. Keywords: lip print patterns; forensic identification; Suzuki Tsuchihashi classification   Abstrak: Identifikasi forensik merupakan metode penting untuk mengenali identitas individu melalui perbandingan data antemortem dan postmortem. Metode ini terbagi menjadi dua, yaitu primer dan sekunder. Cheiloscopy atau identifikasi pola sidik bibir adalah salah satu metode sekunder yang memiliki keunggulan dalam hal keunikan, kekekalan, dan kepraktisan, namun belum menjadi standar identifikasi di Indonesia. Kendala pada metode primer menjadikan cheiloscopy sebagai alternatif dalam percepatan identifikasi, khususnya di wilayah pesisir seperti Kelurahan Sindulang Dua. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran pola sidik bibir masyarakat Kelurahan Sindulang Dua Manado berdasarkan klasifikasi Suzuki-Tsuchihashi. Jenis penelitian ialah observasional deskriptif dengan desain potong lintang. menggunakan teknik purposive stratified sampling. Hasil penelitian mendapatkan 83 orang usia 21–40 tahun sebagai responden, terdiri dari 40 laki-laki dan 43 perempuan. Pola yang paling sering muncul yaitu tipe I (36,14%) dan tipe IV (31,33%). Pada laki-laki pola yang paling sering muncul ialah tipe IV (40,00%) dan pada perempuan tipe I (46,51%). Suku yang dominan pada responden ialah suku Sangir (36,14%). Simpulan penelitian ini ialah pada masyarakat Kelurahan Sindulang Dua yang mayoritas berasal dari suku Sangir, ditemukan bahwa tipe pola sidik bibir yang paling sering muncul pada laki-laki ialah tipe IV, sementara pada perempuan yang paling dominan ialah tipe I. Kata kunci: pola sidik bibir; identifikasi forensik; klasifikasi Suzuki Tsuchihashi
Hubungan antara Status Gizi dengan Maloklusi pada Remaja Usia 14-16 Tahun di SMAN 3 Tuminting Pangandaheng, Enjelina F.; Anindita, Pritartha S.; Kawengain, Shirley E. S.
e-GiGi Vol. 14 No. 1 (2026): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v14i1.65757

Abstract

Abstract: Malocclusion, or crowded teeth, is frequently encountered across various age groups and can impact individual’s physical and mental health, including chewing function and facial aesthetics. In adolescents, nutritional status plays a role in the development of jaw structure and tooth positioning; however, scientific evidence regarding the relationship between the two still shows varied results. This study aimed to analyze the relationship between nutritional status and the occurrence of malocclusion in adolescents. This was an analytical and observational study with a cross-sectional design. Respondents were 70 adolescents aged 14-16 years at SMA Negeri 3 Tuminting (Senior high school). The results showed that the most frequent age group was 15 years (41.4%), and female students were predominant (58.6%). Most respondents had malocclusion (91.4%). Most repondents had normal nutritional status (68.5%), followed by overweight (14.3%), and underweight and obesity (each of 8.6%). The Fisher’s exact test showed that there was no significant relationship between nutritional status and malocclusion (p=0.657), and the majority of respondents with malocclusion had normal nutritional status. In conclusion, there is no significant relationship between nutritional status based on BMI-for-age and the occurrence of malocclusion among adolescents. Keywords: nutritional status; malocclusion; BMI-for-age; adolescents   Abstrak: Maloklusi atau gigi berjejal merupakan masalah yang sering ditemui di berbagai kelompok usia, dan dapat berdampak pada kesehatan fisik dan mental seseorang, termasuk fungsi pengunyahan dan estetika wajah. Pada remaja, status gizi berperan dalam perkembangan struktur rahang dan posisi gigi, tetapi bukti ilmiah mengenai hubungan keduanya masih menunjukkan hasil beragam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara status gizi berdasarkan IMT/U dengan kejadian maloklusi pada remaja usia 14–16 tahun. Jenis penelitian ialah analitik observasional dengan desain potong lintang. Responden penelitian ialah 70 remaja usia 14–16 tahun di SMA Negeri 3 Tuminting. Hasil penelitian mendapatkan kelompok usia terbanyak ialah 15 tahun (41,4%) dan jenis kelamin perempuan (58,6%). Sebagian besar responden mengalami maloklusi (91,4%). Responden terbanyak dengan status gizi normal (68,5%), diikuti status gizi gemuk (14,3%), dan status gizi kurus dan obesitas (masing-masing 8,6%). Hasil analisis Fisher’s exact test menunjukkan tidak terdapat hubungan bermakna antara status gizi dan maloklusi (p=0,657), dan mayoritas remaja yang mengalami maloklusi memiliki status gizi normal. Simpulan penelitian ini ialah tidak terdapat hubungan bermakna antara status gizi berdasarkan IMT/U dengan kejadian maloklusi pada remaja. Kata kunci: status gizi; maloklusi; IMT/U; remaja