cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Rekayasa Pertanian dan Biosistem
Published by Universitas Mataram
ISSN : 23018119     EISSN : 24431354     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Terhitung sejak tahun 2014, Program Studi Teknik Pertanian Fakultas Teknolgi Pangan dan Agroindustri Universitas Mataram telah menerbitkan secara online Jurnal Ilmiah Rekayasa Pertanian dan Biosistem (JRPB) sehingga dapat diakses secara luas. Jurnal ini pada umumnya memuat hasil-hasil penelitian dari mahasiswa, peneliti, akademisi, praktisi, dan pemerhati di bidang teknik pertanian dan biosistem. JRPB berupaya menjaga eksistensi penerbitannya dan berharap jurnal ini dapat menjadi salah satu media publikasi bagi semua pihak yang meminati kajian-kajian ilmiah dalam bidang ilmu Teknologi Pertanian.
Arjuna Subject : -
Articles 218 Documents
Ergonomic Analysis Level of Noise and Vibration of Peanut Peeler Machine to Operator Safety Erni Romansyah; Rusdin Rusdin; Nazaruddin Nazaruddin
Jurnal Ilmiah Rekayasa Pertanian dan Biosistem Vol 6 No 2 (2018): Jurnal Ilmiah Rekayasa Pertanian dan Biosistem
Publisher : Fakultas Teknologi Pangan & Agroindustri (Fatepa) Universitas Mataram dan Perhimpunan Teknik Pertanian (PERTETA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (588.745 KB) | DOI: 10.29303/jrpb.v6i2.80

Abstract

Alat pengupas kacang tanah akan sangat membantu petani untuk melakukan pengolahan hasil secara kontinyu, akan tetapi alat ini memiliki kelemahan yaitu adanya getaran mekanis dan kebisingan yang muncul saat alat-alat ini beroperasi. Tujuan penelitian ini adalah: 1) Untuk mengetahui tingkat kebisingan mesin; 2) Untuk mengetahui getaran mekanis mesin; dan 3) Untuk mengetahui tingkat keamanan operator. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental yang terdiri dari tiga perlakuan putaran yaitu P1 = 800 rpm, P2 = 1000 rpm, dan P3 = 1200 rpm. Parameter yang akan diamati dalam penelitian ini adalah getaran mekanis, frekuensi suara, kapasitas kerja, rendemen, dan efisiensi alat. Metode analisa yang digunakan adalah analisa teknis di lapangan. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data, tingkat kebisingan mesin pengupas kacang tanah pada putaran 1200 rpm (P3) yaitu 69,8 dB lebih baik daripada perlakuan P1 (800 rpm) sebesar 75,8 dB dan perlakuan P2 (1000 rpm) sebesar 72,8 dB. Ketiga nilai ini berada dibawah nilai ambang batas kebisingan 85 dB(A) dengan paparan maksimal 8 jam/hari. Getaran mekanis mesin pengupas kacang tanah pada putaran 1200 rpm (P3) yaitu 11,4 Hz lebih baik daripada perlakuan P1 (800 rpm) sebesar 13,3 Hz dan perlakuan P2 (1000 rpm) sebesar 12,4 Hz. Tingkat keamanan operator mesin pengupas kacang tanah pada kategori rendah, artinya apabila alat dipaksakan bekerja secara terus menerus maka bisa menyebabkan ketidaknyamanan operator dengan kategori getaran mekanis dan kebisingan yang mengganggu. Hal ini disebabkan oleh tingginya getaran mekanis yang dihasilkan mesin.
OPTIMASI SUHU DAN WAKTU PENGEPRESAN DALAM PEMBUATAN BUBUK KAKAO PADA SKALA KELOMPOK TANI Satria Bhirawa Anoraga; Sri Wijanarti; Iman Sabarisman; Anjar Ruspita Sari
Jurnal Ilmiah Rekayasa Pertanian dan Biosistem Vol 7 No 1 (2019): Jurnal Ilmiah Rekayasa Pertanian dan Biosistem
Publisher : Fakultas Teknologi Pangan & Agroindustri (Fatepa) Universitas Mataram dan Perhimpunan Teknik Pertanian (PERTETA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (343.227 KB) | DOI: 10.29303/jrpb.v7i1.91

Abstract

Pengepresan merupakan proses pemisahan lemak kakao dari pasta hingga batas tertentu dengan menggunakan alat pengepres hidrolis. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan suhu dan waktu pengepresan yang optimal untuk memperoleh bubuk kakao yang standar. Parameter yang diamati adalah rendemen, kadar air, kadar lemak dan warna (kecerahan) bubuk kakao. Optimasi dilakukan dengan dua faktor, waktu (X1) dan suhu (X2) menggunakan minitab. Hasil optimasi menunjukkan suhu dan lama pengepresan mempengaruhi kecerahan warna bubuk kakao secara signifikan, namun tidak berpengaruh terhadap kadar air, kadar lemak, dan rendemen. Pengepresan paling optimal dilakukan pada suhu 70oC dengan waktu waktu 30,114 menit untuk memperoleh kecerahan warna bubuk kakao yang beredar di pasaran.
STUDI PENGERINGAN BAMBU DENGAN PEMANFAATAN GAS BUANG ( FLUE GAS ) PEMBAKARAN GERABAH Taufikul Hadi; I Made Bendiyasa; Rahman Sudiyo
Jurnal Ilmiah Rekayasa Pertanian dan Biosistem Vol 7 No 1 (2019): Jurnal Ilmiah Rekayasa Pertanian dan Biosistem
Publisher : Fakultas Teknologi Pangan & Agroindustri (Fatepa) Universitas Mataram dan Perhimpunan Teknik Pertanian (PERTETA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (825.495 KB) | DOI: 10.29303/jrpb.v7i1.93

Abstract

The temperature of flue gas from pottery burning is still relatively high, which is around 200oC. It is expected that it can be utilized as a drying medium, for example to dry bamboo. In this study, drying medium used was hot air. The main objective of the study is to evaluate drying parameters which are expected to be applicable for drying bamboo with a flue gas medium from pottery. The dimensions of each bamboo sample were 45 cm length, 8 cm width, and 1 cm thickness. The initial weight of each sample was weighed then it was placed in the drying unit. Subsequently the hot air was flowed into the drying unit. The hot air temperatures used were 60°C, 80°C and 100°C. Every 30 minutes interval, as soon as the oven window was closed, the changes of the bamboo mass were recorded and the temperatures of the dry and wet thermometer were measured. The drying process was carried out until the mass of the bamboo samples were constant. In this study, two type of drying rate were observed, i.e., falling and constant rates. It was observed that constant drying rate was lasting for a short period. The drying bamboo was controlled by both water diffusion in the bamboo and water transfer from the bamboo surface. The effective water diffusion coefficients (Deff) are 0.02 cm2/h for hot air of 60oC, 0.03 cm2/h for 80oC, and 0.08 cm2/h for 100oC.
LAJU DEOKSIGENASI DAN LAJU REAERASI SUNGAI BEDADUNG SEGMEN DESA ROWOTAMTU KECAMATAN RAMBIPUJI KABUPATEN JEMBER Sri Wahyuningsih; Elida Novita; Rahayu Ningtias
Jurnal Ilmiah Rekayasa Pertanian dan Biosistem Vol 7 No 1 (2019): Jurnal Ilmiah Rekayasa Pertanian dan Biosistem
Publisher : Fakultas Teknologi Pangan & Agroindustri (Fatepa) Universitas Mataram dan Perhimpunan Teknik Pertanian (PERTETA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (561.638 KB) | DOI: 10.29303/jrpb.v7i1.97

Abstract

Sungai Bedadung segmen Desa Rowotamtu merupakan sungai dengan lokasi di tengah perkotaan yang dekat dengan pemukiman warga serta area pertanian, sehingga memiliki manfaat yang besar sebagai sumber air pemenuhan kebutuhan rumah tangga dan kebutuhan irigasi. Aktivitas manusia yang dilakukan dalam pemanfaatan Sungai Bedadung menyebabkan terjadinya perubahan kualitas air. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui laju deoksigenasi dan laju reaerasi pada Sungai Bedadung. Nilai oksigen terlarut dapat diketahui dengan menentukan laju reaerasi (R) dan laju deoksigenasi (D). Perhitungan laju deoksigenasi menggunakan persamaan Hydroscience. Sedangkan untuk menghitung laju reaerasi dihitung menggunakan persamaan O’cconor dan Dobbins. Hasil penelitian menunjukkan nilai rata-rata laju deoksigenasi pada Sungai Bedadung sebesar 0,598 mg/L.hari dan nilai rata-rata laju reaerasi sebesar 5,392 mg/L hari.
UJI KINERJA DAN ANALISIS EKONOMI MESIN PENANAM PADI (STUDI KASUS DESA MEKARLUYU, KECAMATAN SUKAWENING, KABUPATEN GARUT, JAWA BARAT) Wahyu Kristian Sugandi; Handarto Handarto; Totok Herwanto; Chandra Irfan Hanif
Jurnal Ilmiah Rekayasa Pertanian dan Biosistem Vol 7 No 1 (2019): Jurnal Ilmiah Rekayasa Pertanian dan Biosistem
Publisher : Fakultas Teknologi Pangan & Agroindustri (Fatepa) Universitas Mataram dan Perhimpunan Teknik Pertanian (PERTETA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (462.756 KB) | DOI: 10.29303/jrpb.v7i1.98

Abstract

Kinerja sebuah mesin dan analisis ekonomi merupakan parameter yang mampu menentukan kelayakan operasi sebuah mesin pada suatu kegiatan usaha tani khususnya pertanian padi. Pemerintah melalui Kementrian Pertanian telah memberikan bantuan sebuah mesin penanam padi Indo Jarwo 2:1 kepada kelompok petani padi Desa Mekarluyu Kecamatan Sukawening Kabupaten Garut. Namun secara teknis mesin tersebut belum diuji baik kinerja mesinnya ataupun analisis ekonominya. Untuk itu, perlu dilakukan suatu penelitian berkenaan dengan uji kinerja dan analisis ekonomi mesin tersebut, sehingga mesin tersebut layak dan menguntungkan apabila diaplikasikan di kelompok tani Desa Mekarluyu. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei sampai Agustus 2017 di Desa Mekarluyu, Kecamatan Sukawening, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan Uji kinerja dan melakukan analisi ekonomi mesin penanam padi. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif, yaitu mengukur dan menghitung kinerja aktual mesin di lapangan dan menganalisis kebutuhan biaya ekonomi mesin tersebut dalam kegiatan budidaya padi sistem jajar legowo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kapasitas kerja mesin penanam padi Indo Jarwo 2:1 adalah 0,04 ha/jam dengan daya yang dibutuhkan adalah sebesar 30 HP. Adapun hasil Analisis ekonomi dari mesin penanam padi indojarwo 2:1 adalah nilai BEP 0,003 tahun/ha, BCR 1,63/ha/tahun, NPV 92.493.315,44, dan IRR 96,86%.
RANCANG BANGUN HOPPER OUT PUT CAMPURAN RAGI TEMPE DENGAN KEDELAI Surya Abdul Muttalib; Agriananta Fahmi Hidayat; Asih Priyati
Jurnal Ilmiah Rekayasa Pertanian dan Biosistem Vol 7 No 1 (2019): Jurnal Ilmiah Rekayasa Pertanian dan Biosistem
Publisher : Fakultas Teknologi Pangan & Agroindustri (Fatepa) Universitas Mataram dan Perhimpunan Teknik Pertanian (PERTETA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (519.805 KB) | DOI: 10.29303/jrpb.v7i1.99

Abstract

Tempe yang menjadi komoditas ungggulan Kota Mataram Nusa Tenggara Barat diproduksi oleh sektor UMKM yang masih menggunakan teknologi dan metode sederhana. Pengggunaan sumber daya tenaga kerja dalam bidang produksi masih sangat tinggi. Setiap produksi 50 Kg bahan baku membutuhkan minimal 2 orang tenaga kerja. Hal ini dirasa kurang efisien dalam bidang ekonomi. Berbagai upaya alternatif peningkatan produksi dengan penerapan prinsip teknologi tepat guna dikembangkan pada tahun 2017 dengan memproduksi mesin pencampur ragi tempe dengan kedelai (proses inokulum). Mesin pencampur yang dikembangkan tersebut terbukti mampu meningkatkan efisiensi waktu dan tenaga kerja. Namun, Rancangan mesin pencampur yang sudah dikembangkan memiliki kelemahan pada sisi penampung hasil campuran (hopper). Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan menguji kinerja hopper mesin pencampur ragi tempe dengan kedelai pada berbagai variasi kemiringan yakni 30°, 45° dan 60°. Hopper yang dikembangkan berbentuk trapesium dengan dimensi 50 x 36 x10 cm3, bagian output berdimensi 10 x 10 cm2. Hopper yang dikembangkan terbukti mampu menampung inokulum tempe sebesar 25 Kg. Hasil unjuk kerja hopper tertinggi diperoleh pada sudut kemiringan 60° dengan rendemen sebesar 18% dan waktu proses 2,14 detik. Hasil rendemen sebesar 18% disebabkan oleh kadar air inokulum tempe cukup tinggi sebesar 59,99% yang mengakibatkan gaya kohesif dan adhesive dari bahan cukup tinggi sehingga ikatan antar partikel cukup kuat. Oleh karena itu, diperlukan modifikasi dengan penambahan penggetar.
PENGARUH INTENSITAS CAHAYA LAMPU DAN LAMA PENYINARAN TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN KANGKUNG (Ipomea reptans Poir) PADA SISTEM HIDROPONIK INDOOR Safinatul Aulia; Ansar Ansar; Guyup Mahardhian Dwi Putra
Jurnal Ilmiah Rekayasa Pertanian dan Biosistem Vol 7 No 1 (2019): Jurnal Ilmiah Rekayasa Pertanian dan Biosistem
Publisher : Fakultas Teknologi Pangan & Agroindustri (Fatepa) Universitas Mataram dan Perhimpunan Teknik Pertanian (PERTETA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (359.107 KB) | DOI: 10.29303/jrpb.v7i1.100

Abstract

Lampu neon merupakan salah satu jenis lampu yang sering digunakan sebagai sumber cahaya dalam sistem hidroponik di dalam ruang (indoor). Warna lampu yang sesuai dengan tanaman perlu ditentukan secara tepat agar diperoleh pertumbuhan tanaman yang optimal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh intensitas cahaya lampu dan warna lampu terhadap pertumbuhan tanaman kangkung (ipomea reptans poir) pada sistem hidroponik indoor. Penelitian menggunakan 2 variansi warna yaitu lampu putih dan kuning. Perlakuan penyinaran menggunakan lampu putih dengan daya 52 watt (P1), 42 watt (P2), 32 watt (P3), 24 watt (P4) dan 20 watt (P5) sedangkan lampu kuning dengan daya sebesar 24 watt (K1), 20 watt (K2), 12 watt (K3), 8 watt (K4) dan 5 watt (K5). Setiap perlakuan terdiri dari 4 tanaman dengan total 40 sampel tanaman. Data produksi tanaman dianalisis menggunakan analisis varian dua faktor dan disajikan dalam bentuk tabel dan grafik. Penyinaran tanaman dilakukan selama 10 jam dengan lampu putih dan penyinaran 24 jam dengan lampu kuning. Parameter penelitian yang diamati yaitu intensitas cahaya, warna lampu, lama penyinaran dan suhu udara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa intensitas cahaya penyinaran buatan tertinggi diperoleh pada penyinaran lampu warna putih dengan 42 watt lama penyinaran 10 jam, sedangkan untuk pertumbuhan tanaman kangkung dengan penyinaran 24 jam menggunakan lampu warna kuning tidak banyak mengalami pertumbuhan. Perlakuan lampu putih memberikan hasil lebih baik dengan indikator tinggi tanaman, jumlah daun, berat total, berat akar dan panjang akar tanaman jika dibandingkan dengan perlakuan lainnya.
PENGARUH JENIS KEMASAN DAN FREKUENSI PENGGETARAN TERHADAP KERUSAKAN MEKANIS BUAH APEL MANALAGI (Malus sylvestris) Lita Puspita Rizka Perdana; Gunomo Djoyowasito; Elka Musyarofatunnisa; Sandra Sandra
Jurnal Ilmiah Rekayasa Pertanian dan Biosistem Vol 7 No 1 (2019): Jurnal Ilmiah Rekayasa Pertanian dan Biosistem
Publisher : Fakultas Teknologi Pangan & Agroindustri (Fatepa) Universitas Mataram dan Perhimpunan Teknik Pertanian (PERTETA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (583.788 KB) | DOI: 10.29303/jrpb.v7i1.102

Abstract

Permasalahan yang sering dijumpai pada buah apel Manalagi adalah kerusakan mekanis. Salah satu yang harus diperhatikan selama penanganan pasca panen adalah transportasi. Penanganan yang tidak optimal selama transportasi menyebabkan buah yang sampai ke konsumen tidak sesegar buah aslinya bahkan kehilangan kualitas akibat benturan dan memar pada permukaan buah. Kerusakan secara mekanis akan mempercepat laju respirasi buah sehingga otomatis akan mempengaruhi kandungan secara kimiawi. Salah satu solusi dari permasalahan tersebut adalah dengan cara pengemasan yang optimal. Pengemasan menjadi salah satu faktor penentu kesuksesan sebuah industri pangan nasional. Bahan yang sering dimanfaatkan dalam pengemasan buah apel adalah styrofoam. Namun, seiring bertambahnya pemanfaatan styrofoam untuk mengemas buah-buahan maka meningkat pula limbah yang dihasilkan. Bahaya dari dampak styrofoam sangat buruk bagi lingkungan karena limbah kemasan styrofoam sampai saat ini masih belum dapat diatasi pemusnahannya. Sehingga, diperlukan sebuah kemasan alternatif yang bersifat organik yang mampu mengurangi kerusakan mekanis dan tidak mencemari lingkungan. Bahan yang digunakan dalam pembuatan kemasan organik adalah batang eceng gondok, pelepah pisang, dan gliserol sebagai plasticizer. Dalam proses penggetarannya digunakan frekuensi sebesar 2,667 Hz, 3,1 Hz, dan 3,933 Hz. Penggunaan kemasan organik dapat menjaga nilai susut bobot buah apel 0,8% lebih baik jika dibandingkan dengan buah yang dikemas styrofoam. Pada frekuensi 2,667 Hz buah apel yang dikemas kemasan organik menghasilkan nilai kerusakan rata-rata 65 mm. Berbeda halnya dengan styrofoam pada frekuensi yang sama, yaitu 2,667 Hz menghasilkan kerusakan rata-rata 64,1 mm.
KARAKTERISTIK PENGERINGAN SAWUT MOCAF MENGGUNAKAN ALAT PENGERING TENAGA SURYA TIPE GREENHOUSE Murad Murad; Rahmat Sabani; Hary Kurniawan; Surya Abdul Muttalib; Fakhrul Irfan Khalil
Jurnal Ilmiah Rekayasa Pertanian dan Biosistem Vol 7 No 1 (2019): Jurnal Ilmiah Rekayasa Pertanian dan Biosistem
Publisher : Fakultas Teknologi Pangan & Agroindustri (Fatepa) Universitas Mataram dan Perhimpunan Teknik Pertanian (PERTETA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (535.637 KB) | DOI: 10.29303/jrpb.v7i1.103

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari karakterisitik Pengeringan Sawut Mocaf menggunakan alat pengering tenaga surya tipe greenhouse. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental dengan mengukur beberapa parameter, yaitu penurunan berat bahan, kadar air, suhu pengering, suhu lingkungan, kelembaban udara dan laju pengeringan. Alat yang digunakan adalah pengering tenaga surya tipe greenhouse, termokopel CA tipe CC (Cooper Constanta), timbangan digital, timbangan analitis, anemometer, rekam data, luxmeter, stopwatch, termometer batang dan alat tulis. Pengambilan data dilakukan setiap 30 menit. Hasil penelitian menunjukkan karakteristik suhu di dalam ruang pengering ERK yang diukur pada setiap rak dan pada bagian saluran udara keluar melalui exhaust fan. Peningkatan radiasi surya pada umumnya terjadi pada tengah hari yaitu sekitar pukul 12.00 wita sampai pukul 13.00 wita, sedangkan pada saat pemantauan ERK kondisi cuaca cukup berawan sehingga terjadi penurunan radiasi surya. Didapatkan rata-rata temperatur ruang pengering selama pengeringan adalah 39oC, kelembaban udara relatif rata-rata 63%, penurunan berat bahan tiap jam rata-rata 0,95 gram/jam, laju penurunan kadar air rata-rata 55,25% db/jam dari kadar air awal sebesar 67% db sampai kada air mencapai 10%db dan rata-rata Me diperoleh sebesar 14,22%. Dari hasil penelitian pengeringan sawut mocaf yang diperoleh, maka disimpulkan bahwa laju perubahan kadar air MOCAF memiliki karakteristik laju menurun terhadap waktu.
ANALISIS HEAD LOSSES AKIBAT BELOKAN PIPA 90° (SAMBUNGAN VERTIKAL) DENGAN PEMASANGAN TUBE BUNDLE Asih Priyati; Sirajuddin Haji Abdullah; Khairun Hafiz
Jurnal Ilmiah Rekayasa Pertanian dan Biosistem Vol 7 No 1 (2019): Jurnal Ilmiah Rekayasa Pertanian dan Biosistem
Publisher : Fakultas Teknologi Pangan & Agroindustri (Fatepa) Universitas Mataram dan Perhimpunan Teknik Pertanian (PERTETA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (595.624 KB) | DOI: 10.29303/jrpb.v7i1.104

Abstract

Sistem perpipaan digunakan untuk memenuhi keperluan pertanian berupa irigasi tetes maupun irigasi sprinkler. Head losses pada sistem perpipaan akibat belokan serta gesekan fluida dengan dinding pipa dapat diperkecil dengan flow conditioner berupa tube bundle. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penurunan nilai head losses pada belokan 90o (posisi vertikal) setelah pemasangan tube bundle, mengetahui nilai penurunan tekanan akibat belokan 90o, serta menganalisa aspek debit, kecepatan aliran, dan nilai bilangan Reynold pada saluran pipa dengan belokan 90o setelah pemasangan tube bundle. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental yang dilakukan dalam laboratorium dengan cara mengamati parameter-parameter penelitian pada 3 jenis rangkaian uji, yaitu rangkaian kontrol (tanpa tube bundle), rangkaian dengan pemasangan tube bundle 0,2 inci dan rangkaian dengan tube bundle 0,4 inci. Tube bundle yang digunakan adalah selang plastik dengan panjang 30 cm dan diikat menjadi satu sehingga berjumlah 18 selang untuk tube 0,2 inci dan 9 selang untuk tube 0,4 inci. Tube bundle ini dimasukkan ke dalam pipa uji yang berdiameter 1,25 inci dan diletakkan setiap sebelum belokan. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa pemasangan tube bundle ukuran 0,2 inci dan 0,4 inci yang dipasang sebelum belokan 90o (posisi vertikal) akan menurunkan nilai kecepatan fluida yang diikuti dengan penurunan head losses serta akan menaikkan nilai tekanan fluida. Penurunan nilai head losses tertinggi, yaitu pada pemasangan tube bundle ukuran 0,4 inci, yakni dari 0,112 m (kontrol) menjadi 0,076 m atau sebesar 32,14%.

Page 7 of 22 | Total Record : 218


Filter by Year

2015 2025