cover
Contact Name
Netty Ermawati
Contact Email
netty@polije.ac.id
Phone
+62331-333532
Journal Mail Official
agriprima@polije.ac.id
Editorial Address
Jl. Mastrip Po.Box 164, Kec. Sumbersari, Kab. Jember 68121 - Jawa Timur, Indonesia
Location
Kab. jember,
Jawa timur
INDONESIA
Agriprima : Journal of Applied Agricultural Sciences
ISSN : 25492934     EISSN : 25492942     DOI : https://doi.org/10.25047/agriprima
Agriprima merupakan jurnal ilmiah pertanian terapan yang mencakup berbagai topik di bidang ilmu pertanian. Jurnal ini menerbitkan artikel penelitian di bidang pemuliaan dan genetika tanaman, bioteknologi tanaman, teknologi perbenihan, perlindungan tanaman, ilmu tanah, nutrisi tanaman, teknologi panen dan pasca panen, serta inovasi yang relevan dan prospektif untuk kemajuan pertanian dan produksi tanaman. Jurnal ini diterbitkan enam bulanan pada bulan Maret dan September. Semua makalah yang dikirimkan sepenuhnya ditinjau sejawat oleh reviewer yang berkualifikasi dengan keahlian di bidang yang sesuai untuk artikel tersebut.
Articles 163 Documents
Keanekaragaman Serangga Pengunjung pada Tanaman Cabai Keriting (Capsicum annum L.) Sistem Mulsa dan Tanpa Mulsa di Desa Sidamukti, Kecamatan Baros, Kabupaten Serang Syifa Rupaida Khoirunnisa; Andree Saylendra; Alfu Laila; Julio Eiffelt Rossafelt Rumbiak
Agriprima : Journal of Applied Agricultural Sciences Vol 9 No 1 (2025): MARCH
Publisher : Politeknik Negeri Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25047/agriprima.v9i1.710

Abstract

Serangga termasuk bagian dari keanekaragaman hayati yang memiliki peranan penting dalam bidang pertanian sebagai predator, parasitoid, pengurai, penyerbuk, hama, dan vektor penyakit. Jenis dan populasi serangga memiliki pengaruh penting terhadap keberhasilan budidaya dan kestabilan agroekosistem cabai keriting. Penelitian termasuk penelitian deskriptif kuantitatif yang dilaksanakan pada September 2024 hingga Oktober 2024 dan bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman serangga pengunjung pada tanaman cabai keriting (Capsicum annum L.) sistem mulsa dan tanpa mulsa di Desa Sidamukti Kecamatan Baros Kabupaten Serang. Penentuan lokasi pengambilan sampel berdasarkan purposive sampling dengan metode pengambilan sampel menggunakan pitfall trap, yellow sticky trap, dan sweep net. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diperoleh 507 individu dari 7 ordo, 29 famili, dan 36 spesies. Indeks keanekaragaman pada tanaman cabai keriting sistem mulsa sebesar 3,139 dengan kategori tinggi dan tanpa mulsa sebesar 2,526 dengan kategori sedang. Indeks kemerataan pada tanaman cabai keriting sistem mulsa sebesar 0,890 dan tanpa mulsa sebesar 0,843 keduanya termasuk kategori tinggi. Indeks dominansi pada tanaman cabai keriting sistem mulsa sebesar 0,061 dan tanpa mulsa sebesar 0,108 keduanya termasuk kategori rendah. Keanekaragaman serangga pengunjung menunjukkan tidak berbeda nyata antara tanaman cabai keriting sistem mulsa dengan tanaman cabai keriting tanpa mulsa.
Ragam Jarak Tanam Untuk Peningkatan Pertumbuhan dan Produksi Jagung Putih Lokal Situbondo Susilowati, Erlin; Lukmana, Irman
Agriprima : Journal of Applied Agricultural Sciences Vol 9 No 1 (2025): MARCH
Publisher : Politeknik Negeri Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25047/agriprima.v9i1.711

Abstract

Jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu tanaman pangan utama di Indonesia, dengan produksi mencapai 15,21 juta ton pada tahun 2024. Salah satu faktor yang memengaruhi keberhasilan budidaya Jagung yaitu intensitas cahaya, yang sangat penting untuk proses fotosintesis. Apabila intensitas cahaya rendah, enzim-enzim fotosintesis yang berperan dalam fiksasi CO2 pada proses fotosintesis akan berkurang sehingga berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi Jagung. Untuk mengatasi masalah tersebut, salah satu teknik yang dapat digunakan adalah dengan pengaturan jarak tanam. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menentukan jarak tanam optimal pada Jagung lokal Situbondo agar dapat mencapai hasil produksi yang optimal. Penelitian dilakukan di lahan percobaan di Kecamatan Patrang, Kabupaten Jember, dengan menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK). Perlakuan jarak tanam yang diuji meliputi: P1 (20 x 45 cm), P2 (20 x 60 cm), dan P3 (20 x 75 cm). Setiap perlakuan diulang sebanyak empat kali. Data yang diperoleh dari penelitian ini dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA), dan untuk mengetahui perbedaan yang signifikan antar perlakuan, digunakan uji Duncan pada taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jarak tanam berpengaruh tidak signifikan terhadap pertumbuhan tanaman, namun berpengaruh signifikan terhadap produksi tanaman Jagung. Produksi optimal Jagung dicapai pada perlakuan jarak tanam 20 x 60 cm.
Respon Pertumbuhan Tanaman Jagung Terhadap Aplikasi Pupuk Organik Cair dari Limbah Pertanian Heryana; Priyadi; Nuryanti, Ni Siluh Putu
Agriprima : Journal of Applied Agricultural Sciences Vol 9 No 1 (2025): MARCH
Publisher : Politeknik Negeri Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25047/agriprima.v9i1.712

Abstract

Rendahnya produktivitas tanaman jagung disebabkan oleh degradasi kesuburan tanah akibat penggunaan pupuk kimia berlebihan dan pengelolaan limbah pertanian yang kurang optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh aplikasi pupuk organik cair dari limbah pertanian terhadap pertumbuhan jagung. Penelitian dilaksanakan dari November 2023 hingga Januari 2024, dengan menggunakan varietas Bisi 79. Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, bobot segar tanaman, dan bobot kering tanaman. Rancangan lingkungan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 3 perlakuan yaitu M0 perlakuan tanpa penambahan mikroba, M1 perlakuan dengan penambahan 1 liter mikroba, dan M2 perlakuan dengan penambahan 2 liter, dengan ulangan sebanyak 5 ulangan. Data hasil pengamatan selanjutnya  diuji ANOVA dan Uji Beda Nyata Terkecil pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan pada masing-masing parameter yang diamati. Hasil tinggi tanaman rata-rata pada perlakuan M0 dosis tanpa tambahan mikroba 167,80 cm, M1 dosis tambahan mikroba 1 liter 180,76 cm, dan M2 dosis penambahan mikroba 2 liter 182,96 cm, jumlah daun rata-rata pada M0 perlakuan dosis tanpa tambahan mikroba dengan rata-rata 12,65 helai, M1 dosis tambahan mikroba 1 liter 13,12 helai, dan M2 dosis penambahan mikroba 2 liter 12,60 helai, dengan bobot segar tanaman rata-rata yaitu pada perlakuan M1 dosis tanpa tambahan mikroba dengan rata-rata 449 g, M1 dosis tambahan mikroba 1 liter 533 g, dan M2 dosis penambahan mikroba 2 liter 329,1 g, dan bobot kering tanaman rata-rata yaitu pada perlakuan M0 dosis tanpa tambahan mikroba dengan rata-rata 119,2 g, M1 dosis tambahan mikroba 1 liter 163,3 g, dan M2 dosis penambahan mikroba 2 liter 112,1 g.
Teknologi Perbanyakan Beberapa Isolat Cendawan Antagonis Trichoderma spp. Melalui Pengembangan Metode Inokulasi dan Pemanfaatan Limbah Jagung Erawati, Dyah Nuning; Aziza, Pasha Nur; Usken Fisdiana; Ramadhan Taufika; Purwandarini, Anggi Arsy
Agriprima : Journal of Applied Agricultural Sciences Vol 9 No 1 (2025): MARCH
Publisher : Politeknik Negeri Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25047/agriprima.v9i1.715

Abstract

Trichoderma spp. adalah mikroba tanah yang memiliki kemampuan antagonis yang tinggi terhadap patogen tanaman. Karakteristik spesifik isolat Trichoderma sangat bergantung pada jenis inang dan lokasi asal isolat sehingga memerlukan metode perbanyakan massal yang efektif untuk menjaga ketersediaan inokulum di lapang. Tongkol jagung dapat dimanfaatkan sebagai media tanam Trichoderma spp. karena mengandung kandungan nutrisi yang cukup untuk mendukung pertumbuhannya serta dapat mengurangi limbah pasca panen jagung. Penelitian bertujuan untuk a) menganalisis pengaruh asal isolat Trichoderma spp. terhadap pertumbuhan dan produksi konidia, b) menganalisis metode inokulasi terhadap pertumbuhan dan produksi konidia Trichoderma spp., c) menganalisis interaksi antara asal isolat Trichoderma spp. dan metode inokulasi terhadap potensi pertumbuhan dan produksi konidia yang paling optimal. Kegiatan dilakukan pada bulan Juni – November 2024 dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial yang terdiri atas 2 faktor. Faktor pertama adalah asal isolat Trichoderma spp. dan faktor kedua adalah metode inokulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Asal isolat Trichoderma spp. yang diperbanyak secara massal berpengaruh terhadap produksi konidia dengan kerapatan konidia tertinggi terdapat pada isolat yang diisolasi dari tanah kebun kopi Laboratorium Puslit Kopi dan Kakao Jember dengan nilai rata-rata 1.74 x 109 konidia/ml pada 14 hsi; 2) Metode inokulasi Trichoderma spp. yang diperbanyak secara massal berpengaruh terhadap produksi konidia dengan kerapatan konidia tertinggi terdapat pada metode tusuk dengan 1.28 x 109 konidia/ml pada 14 hsi; 3) Interaksi antara asal isolat Trichoderma spp. dengan metode inokulasi yang diperbanyak secara massal berpengaruh terhadap pertumbuhan yang mencapai kisaran pertumbuhan koloni 69% - 99% pada 42 hsi.
Peran Biochar dan Biofertilizer untuk Meningkatkan Kemampuan Tanah Menahan Air dan Ketersediaan Forfor pada Tanah Ultisol Perdana, Andrian; Sidik Yunedi; Eka Lupitasari
Agriprima : Journal of Applied Agricultural Sciences Vol 9 No 2 (2025): SEPTEMBER
Publisher : Politeknik Negeri Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25047/agriprima.v9i2.703

Abstract

Tanah ultisol merupakan tanah suboptimal dengan drainase buruk yang memiliki kemampuan menahan air dan ketersediaan fosfor yang rendah. Tanah ultisol mendominasi 25% dari total luas daratan Indonesia, sehingga perlu adanya solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut. Pemberian biochar diharapkan mampu mengatasi permasalahan kemampuan menahan air, sedangkan biofertilizer pelarut fosfat mampu meningkatkan ketersediaan P di tanah ultisol. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi pemberian biochar dan biofertilizer pelarut fosfat terhadap peningkatan kemampuan tanah menahan air dan ketersediaan P pada tanah ultisol. Penelitan ini merupakan eksperimen faktorial 4×3 yang disusun menurut rancangan acak lengkap. Faktor I merupakan jenis biochar: C0 (tanpa biochar), C1 (biochar sekam padi), C2 (biochar tempurung kelapa), dan C3 (biochar cangkang kelapa sawit). Faktor II, yaitu jenis biofertilizer yang terdiri dari tiga taraf: F0 (tanpa biofertilizer), F1 (biofertilizer dari B. subtilis), dan F2 (biofertilizer dari P. fluorescens). Data hasil analisis ragam diuji lanjut dengan uji DMRT pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian biochar dan biofertilizer pelarut fosfat mampu meningkatkan kemampuan tanah menahan air, P-tersedia, dan C-organik tanah, serta mampu meningkatkan performa keragaan tanaman kedelai. Biochar dari sekam padi dan biofertilizer dari B. subtilis lebih efektif untuk memperbaiki sifat tanah dan keragaan tanaman dibandingkan dengan perlakuan lainnya.
Respon Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Bawang Daun terhadap Tingkat Ketebalan Mulsa Organik Jerami Padi Djami Adi, Defiyanto; Choirunnisa, Jessyca Putri; Samul, Kristina Novera; Nongko , Marianus Veri; Ajud, Valentina Ernawati; Darling, Ardianus Rahmat; Nagut, Yohanes Krispianus
Agriprima : Journal of Applied Agricultural Sciences Vol 9 No 2 (2025): SEPTEMBER
Publisher : Politeknik Negeri Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25047/agriprima.v9i2.718

Abstract

Bawang daun merupakan salah satu jenis komoditas hortikultura yang potensial dan memegang peran strategis dalam pembangunan sektor pertanian. Produksi bawang daun di Indonesia tidak stabil di beberapa tahun terakhir. Ketidakstabilan ini berpengaruh pada ketersediaan bawang daun segar sesuai dengan permintaan masyarakat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh ketebalan mulsa organik jerami padi terhadap pertumbuhan dan produksi bawang daun. Penelitian ini telah dilaksanakan di Kelompok Tani Spirit Soverdia (KWT) La’o, Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai pada bulan Desember 2024-April 2025. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan empat taraf perlakuan dan diulang sebanyak enam kali, sehingga terdapat 24 satuan percobaan. Perlakuan yang digunakan adalah P0 = tanpa mulsa jerami padi; P1 = ketebalan mulsa jerami padi 1 cm; P2 = ketebalan mulsa jerami padi 3 cm; P3 = ketebalan mulsa jerami padi 4,5 cm. Perlakuan ketebalan mulsa jerami padi tidak berbeda nyata pada parameter tinggi tanaman, jumlah daun, panjang daun, panjang akar, dan berat segar. Perlakuan tingkat ketebalan mulsa 3 cm berbeda nyata pada parameter jumlah anakan umur 6 minggu setelah tanam (MST). Rata-rata parameter pengamatan dengan perlakuan tingkat ketebalan mulsa tidak berbeda nyata, namun memberikan dampak positif pada jumlah anakan tanaman bawang daun. Perlakuan terbaik pada penelitian ini terdapat pada tingkat ketebalan mulsa jerami padi 3 cm.
Inovasi Pupuk Organik Cair Berbahan Whey Tahu dan Limbah Rumah Tangga serta Uji Aplikatif pada Perkecambahan Kacang Hijau Nicky, Dhea; Bintari, Siti Harnina
Agriprima : Journal of Applied Agricultural Sciences Vol 9 No 2 (2025): SEPTEMBER
Publisher : Politeknik Negeri Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25047/agriprima.v9i2.727

Abstract

Pupuk organik cair (POC) merupakan alternatif ramah lingkungan untuk mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia yang berdampak negatif pada ekosistem dan keberlanjutan pertanian. Penelitian ini bertujuan mengembangkan dan menguji efektivitas POC berbahan dasar limbah rumah tangga berupa whey tahu, kulit pisang, blotong, dan kulit telur. Metode yang digunakan adalah fermentasi dua tahap, yaitu fermentasi terpisah masing-masing bahan selama tujuh hari, kemudian pencampuran seluruh bahan dengan penambahan molase dan EM4, dilanjutkan fermentasi lanjutan selama 21 hari dalam kondisi anaerob. Parameter pengamatan meliputi karakteristik fisik larutan seperti warna, aroma, kejernihan, pH, dan endapan. Uji aplikatif dilakukan pada benih kacang hijau untuk mengukur efektivitas POC terhadap panjang rata-rata kecambah. Hasil menunjukkan bahwa POC yang dihasilkan memiliki warna cokelat pekat, aroma asam ringan, pH netral hingga sedikit asam, serta stabil secara visual dan sensorik. Uji efektivitas menunjukkan bahwa rata-rata panjang kecambah pada perlakuan POC adalah 7,84 cm, sedangkan kontrol hanya 6,10 cm. Selisih panjang kecambah (1,74 cm) melebihi nilai BNT 5% (0,93 cm), yang menunjukkan adanya perbedaan nyata antarperlakuan. Simpulan dari penelitian ini adalah bahwa formulasi POC dari limbah organik rumah tangga melalui fermentasi dua tahap mampu menghasilkan pupuk cair yang efektif mendukung pertumbuhan awal tanaman dan memiliki potensi besar sebagai solusi pemupukan berkelanjutan.
Respons Fisiologis dan Anatomi Padi Aromatik (Oryza sativa L.) terhadap Cekaman Kekeringan melalui Analisis Klorofil, Prolin, dan Kerapatan Stomata Mudhor, Mohammad Ali; Nurmala Sari, Eka; Susilowati, Erlin
Agriprima : Journal of Applied Agricultural Sciences Vol 9 No 2 (2025): SEPTEMBER
Publisher : Politeknik Negeri Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25047/agriprima.v9i2.757

Abstract

Padi aromatik varietas Sintanur memiliki nilai jual tinggi karena aroma khas dan kualitas beras premium, namun rentan terhadap cekaman kekeringan akibat perubahan iklim. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh cekaman kekeringan terhadap kandungan klorofil, prolin, dan kerapatan stomata sebagai indikator fisiologis toleransi kekeringan pada padi aromatik Sintanur. Penelitian dilakukan di Greenhouse Program Studi Agronomi dan Laboratorium CDAST Universitas Jember dengan rancangan acak lengkap non-faktorial, lima taraf perlakuan kapasitas lapang (kontrol, 100%, 80%, 60%, 40%), enam ulangan. Parameter yang diamati meliputi kandungan klorofil menggunakan SPAD-10, prolin dengan metode Bates (1973), dan kerapatan stomata melalui cetakan cat kuku. Data dianalisis menggunakan ANOVA dan dilanjutkan uji DMRT 5%. Hasil penelitian menunjukkan kandungan klorofil menurun signifikan seiring meningkatnya cekaman kekeringan, terutama pada taraf 80%, 60%, dan 40% kapasitas lapang. Sebaliknya, kandungan prolin meningkat, berperan sebagai osmoprotektan dan penetral radikal bebas, menjaga turgor sel di bawah kondisi stres. Kerapatan stomata juga menurun pada cekaman berat sebagai mekanisme adaptasi untuk mengurangi kehilangan air, meskipun varietas Sintanur menunjukkan kerapatan stabil pada kapasitas lapang 100%. Ketiga parameter ini menjadi indikator penting dalam seleksi varietas padi aromatik toleran kekeringan. Sintanur menunjukkan respons adaptif pada cekaman sedang, namun performanya menurun drastis pada kekeringan berat, sehingga diperlukan program pemuliaan lanjutan.
Pengaruh Bunga Baby Blue (Nemophila menziesii) sebagai Tanaman Refugia terhadap Keanekaragaman Artropoda pada Lahan Cabai Rawit Monokultur dan Polikultur Fadhilah, Kirana; Anton Meilus Putra
Agriprima : Journal of Applied Agricultural Sciences Vol 9 No 2 (2025): SEPTEMBER
Publisher : Politeknik Negeri Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25047/agriprima.v9i2.765

Abstract

Tanaman cabai rawit merupakan salah satu komoditas yang banyak dibudidayakan masyarakat. Salah satu penyebab rendahnya produksi tanaman cabai rawit di Indonesia adanya serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) terutama hama. Pengendalian hama yang dilakukan petani masih kurang tepat seperti penggunaan insektisida sintetik yang sehingga diperlukan pengendalian yang dapat mengurangi residu bahan kimia dan ramah lingkungan seperti penerapan pola tanam yang tepat dan penggunaan tanaman refugia. Penerapan pola tanam diduga berpengaruh pada keanekaragaman hama dan penggunaan tanaman refugia bunga baby blue (Nemophila menziesii) dapat menarik artropoda hama, musuh alami, dan pollinator (serangga lain). Tujuan penelitian ini mengetahui pengaruh bunga baby blue terhadap keanekaragaman artropoda dengan berbagai peran (hama, musuh alami, dan serangga lain) pada lahan cabai rawit dengan pola tanam monokultur dan polikultur. Adapun metode penelitian yang dilakukan adalah observasi lapang dan pengumpulan data. Hasil penelitian menyatakan bahwa bunga baby blue tidak mempengaruhi keanekaragaman artropoda yang ada pada lahan cabai rawit monokultur dan polikultur, namun bunga baby blue mempengaruhi kelimpahan artropoda. Hal tersebut disebabkan persamaan jenis tanaman utama yang digunakan, kemudian untuk kelimpahannya dipengaruhi oleh banyaknya jenis dan jumlah tanaman dari masing-masing lahan. Adapun artropoda yang ditemukan pada bunga baby blue berjumlah 14 jenis dengan peran hama, 13 jenis dengan peran musuh alami, 2 jenis dengan peran pollinator, dan 2 jenis dengan peran serangga lain. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bunga baby blue tidak mempengaruhi keanekaragaman, namun lebih berpengaruh pada kelimpahan artropoda.
Respon Pertumbuhan dan Hasil Selada (Lactuca sativa) terhadap Aplikasi Pupuk Hayati Bio-P60 dan Bio-T10 Wilujeng Hidayati; Saparso; Sevirasari, Nindy
Agriprima : Journal of Applied Agricultural Sciences Vol 9 No 2 (2025): SEPTEMBER
Publisher : Politeknik Negeri Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25047/agriprima.v9i2.770

Abstract

Hidroponik menjadi teknik budidaya yang banyak digunakan dalam praktik pertanian perkotaan karena mudah penerapannya dan cocok untuk wilayah minim lahan. Pemilihan sistem hidroponik penting dipertimbangkan menyesuaikan karakteristik sumber daya. Namun dalam budidaya hidroponik terkadang ditemui kendala karena kurang nutrisi maupun adanya serangan penyakit busuk akar. Pupuk hayati menjadi salah satu solusi mengatasi hal terebut dengan memanfaatkan mikroorganisme yang dapat bersimbiosis dengan tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan kombinasi perlakuan sistem hidroponik dan jenis pupuk hayati yang menghasilkan selada terbaik. Penelitian dirancang menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial yang terdiri dari dua faktor yaitu sistem hidroponik (Wick dan NFT) dan pupuk hayati (tanpa pupuk hayati, Bio-P60 dan Bio-T10) sehingga didapatkan 6 kombinasi perlakuan. Data dianalisis menggunakan analisis sidik ragam (α=5%) dan jika beda nyata data dianalisis lanjut menggunakan uji beda nyata jujur (α=5%). Hasil menunjukkan bahwa sistem hidroponik tidak berpengaruh terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, dan bobot ekonomis selada. Namun, pupuk hayati Bio-T10 menghasilkan luas daun tertinggi. Aplikasi Bio-T10 dan Bio-P60 meningkatkan bobot biologis dan bobot ekonomis selada dibandingkan tanpa perlakuan pupuk hayati. Hasil terbaik yang disarankan untuk praktik pertanian perkotaan adalah penggunaan sistem Wick sederhana yang dikombinasikan dengan aplikasi Bio-T10.