cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Majalah Kesehatan FKUB
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
This journal uses Open Journal Systems 2.4.7.1, which is open source journal management and publishing software developed, supported, and freely distributed by the Public Knowledge Project under the GNU General Public License.
Arjuna Subject : -
Articles 334 Documents
EVALUASI IN VITRO AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL DAUN SELADA AIR (Nasturtium officinale) TERHADAP BAKTERI METHICILLIN-RESISTANT Staphylococcus aureus Insanitaqwa, Aleyda Zahratunany; AS, Noorhamdani; Prasetyorini, Nugrahanti
Majalah Kesehatan FKUB Vol 8, No 3 (2021): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.majalahkesehatan.2021.008.03.2

Abstract

Methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA) adalah bakteri patogen penyebab infeksi nosokomial yang dapat menyerang beberapa sistem organ dan bersifat resisten terhadap beberapa antibiotik beta laktam seperti penisilin, sepalosporin, dan karbapenem. Prevalensi infeksi Staphylococcus aureus terus meningkat seiring dengan banyaknya prevalensi infeksi nosokomial dan meningkatnya tingkat resistensi Staphylococcus aureus terhadap beberapa antimikroba sehingga dibutuhkan suatu alternatif terapi yang dapat menggantikan atau meningkatkan efektivitas kerja antibakteri yang sudah ada. Ekstrak etanol daun selada air mengandung flavonoid, tannin, saponin, dan steroid yang dapat berperan sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri pada ekstrak etanol daun selada air (Nasturtium officinale) terhadap MRSA secara in vitro. Rancangan penelitian yang digunakan adalah experimental post test only control group design dengan metode uji aktivitas antibakteri difusi sumuran. Ekstrak etanol daun selada air yang digunakan yaitu ekstrak dengan konsentrasi 30%, 60%, 75%, 90%, 100%, dan 0% sebagai kontrol negatif dengan pengulangan sebanyak empat kali. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan yang signifikan (p = 0,000) dengan diameter zona hambat terbesar dicapai pada aplikasi konsentrasi ekstrak 100% yaitu 9,88±0,27 mm, diikuti dengan konsentrasi ekstrak 90% sebesar  8,97±0,21 mm, konsentrasi ekstrak 75% sebesar 7,90±0,61 mm,  konsentrasi ekstrak 60% sebesar 7,19±0,13 mm, dan konsentrasi ekstrak 30% sebesar 6,16±0,12 mm. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol daun selada air memiliki aktivitas antibakteri terhadap MRSA secara in vitro.  
Laporan Kasus: MYCOSIS FUNGOIDES FASE DINI DENGAN GAMBARAN HISTOPATOLOGI YANG MENYERUPAI DERMATITIS LIKENOID: SERIAL KASUS Diah Prabawati Retnani; Herman Saputra; Arif Widiatmoko
Majalah Kesehatan FKUB Vol. 9 No. 2 (2022): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/majalahkesehatan.2022.009.02.6

Abstract

Mycosis Fungoides  adalah keganasan sel limfosit T yang langka dan bersifat indolen pada kulit dengan evolusi klinis berupa bercak, plak dan tumor. Mycosis Fungoides fase dini  sulit terdeteksi karena kemiripannya dengan keradangan pada kulit  berpola likenoid.  Mycosis Fungoides dan dermatitis likenoid memiliki terapi dan prognosis  yang berbeda sehingga harus dapat dilakukan diagnosis yang akurat. Kami melaporkan serial kasus  Mycosis Fungoides dari dua orang pasien wanita yang terdiagnosis pada fase dini dengan gejala klinis berupa bercak dan plak multipel disertai gatal menahun. Kasus pertama terjadi pada usia 60 tahun dengan gejala selama 8 tahun sedangkan kasus kedua terjadi pada usia 58 tahun dengan gejala selama 6 tahun.  Bercak dan plak pada kedua pasien tersebut berlokasi di area yang terlindung dari sinar matahari disertai skuama halus, sebagian hiperpigmentasi, bervariasi bentuk dan ukuran. Hasil pemeriksaan histopatologi dari sediaan biopsi kulit kedua penderita berupa reaksi likenoid yang mengandung sejumlah  sel limfoid atipik, serebriformis. Hasil  pewarnaan imunohistokimia menunjukkan CD3 positif membentuk epidermotropisme, rasio CD4/CD8 8:1, Ki67 positif sekitar  25%  dan CD20 negatif.  Dari kedua kasus ini dapat disimpulkan bahwa pemeriksaan imunohistokimia dapat membatu menegakkan diagnosis Mycosis Fungoides pada dua orang wanita tua dengan keluhan gatal disertai bercak atau plak yang menahun dengan gambaran histopatologik berupa reaksi likenoid dengan  epidermotropisme.  
Laporan Kasus: TERAPI KOMBINASI KRIM ASAM GLIKOLAT 8% DAN PEELING ASAM GLIKOLAT 15% PADA HIPERPIGMENTASI AKSILA: SERIAL KASUS PADA 2 PASIEN Sinta Murlistyarini; Noor Hidayah
Majalah Kesehatan Vol. 9 No. 3 (2022): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/majalahkesehatan.2022.009.03.6

Abstract

Hiperpigmentasi aksila termasuk hiperpigmentasi pascainflamasi yang banyak terjadi pada wanita kulit gelap di daerah tropis. Modalitas terapi yang dapat digunakan salah satunya adalah peeling kimiawi menggunakan asam glikolat (glycolic acid, GA). Tujuan laporan kasus ini untuk melihat perbaikan hiperpigmentasi aksila  yang diberi terapi kombinasi krim GA 8% dan peeling GA 15%. Dilaporkan 2 pasien perempuan berusia 24 dan 23 tahun dengan keluhan kulit kedua ketiak menghitam dan kasar. Pasien pertama rutin menggunakan antiperspiran, sedangkan pasien kedua jarang. Kedua pasien sering mencukur rambut ketiaknya. Pada pasien dilakukan pemeriksaan dermatologis, didapatkan patch hiperpigmentasi, batas tidak tegas, tepi ireguler, bentuk dan ukuran bervariasi. Kedua pasien didiagnosis hiperpigmentasi aksila. Lesi difoto dan dinilai menggunakan Von Luschan’s Chromatic Scale oleh 3 orang penilai independen. Pasien diberikan terapi krim GA 8% tiap malam hari dan peeling GA 15% 2 kali dengan interval 4 minggu. Hiperpigmentasi dinilai pada minggu ke-0, minggu ke-3, dan minggu ke-8. Setelah 8 minggu didapatkan penurunan skor Von Luschan’s Chromatic Scale. Peeling GA 15% termasuk dalam peeling kimiawi superfisial. Hiperpigmentasi kulit adalah salah satu indikasi peeling kimiawi superfisial. Pada hiperpigmentasi aksila dapat diberikan peeling kimiawi GA 15%, dan untuk hasil yang lebih optimal ditambahkan perawatan harian di rumah menggunakan krim GA 8%. Pada kedua pasien, setelah diberikan terapi terjadi perbaikan klinis. Pada 2 kasus ini telah terbukti bahwa terapi kombinasi krim GA 8% dengan peeling GA 15% dapat mengurangi keluhan hiperpigmentasi pascainflamasi pada aksila.
Tinjauan Literatur: SUMBER POTENSIAL PENYEBARAN SARS-CoV-2 DARI LINGKUNGAN RUMAH SAKIT DAN PENTINGNYA PEMANTAUAN SANITASI RUMAH SAKIT UNTUK MENEKAN PANDEMI COVID-19 DI INDONESIA Dian Hasanah
Majalah Kesehatan FKUB Vol. 9 No. 3 (2022): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/majalahkesehatan.2022.009.03.7

Abstract

Beberapa bukti menunjukkan sumber potensial penyebaran SARS-CoV-2 dari lingkungan rumah sakit. Sanitasi rumah sakit penting untuk mencegah infeksi nosokomial dan menekan penyebaran COVID-19. Telaah literatur ini bertujuan mengidentifikasi potensi bahaya terkait sanitasi serta metode pemantauan sanitasi di rumah sakit selama pandemi COVID-19. Literatur diperoleh dengan menelusuri jurnal dan laporan lembaga resmi luar negeri terkait COVID-19 di internet. Banyak prosedur di rumah sakit yang menghasilkan aerosol, sementara banyak ruangan di rumah sakit belum memenuhi standar ventilasi udara. Di sisi lain, karena penapisan tidak memadai, pegawai rumah sakit dapat bertemu pasien COVID-19 di semua area rumah sakit. Kondisi ini menimbulkan keraguan  akan kebersihan udara dan permukaan benda-benda, serta penyebaran virus antar ruangan di rumah sakit. Identifikasi sanitasi rumah sakit yang sering terlewatkan adalah: 1) kontaminasi virus di udara dan permukaan benda-benda di seluruh area rumah sakit, 2) kontaminasi virus di kasur, bantal, dan guling yang sering terlewatkan pada pembersihan rutin, 3) kontaminasi virus di toilet oleh proses aerosolisasi ekskreta, dan 4) kontaminasi virus di air limbah rumah sakit. Sebaiknya terdapat instansi di setiap kota/kabupaten yang dapat menangani pemeriksaan spesimen lingkungan yang dikumpulkan dari berbagai rumah sakit. Deteksi virus di udara, dapat menggunakan kit deteksi SARS-CoV-2 udara; deteksi permukaan benda, dapat menggunakan swab; pada limbah, dapat digunakan sampel cairan limbah untuk deteksi genom SARS-CoV-2 dengan RT-PCR. Hasil pemeriksaan dapat menjadi panduan untuk mengubah atau mempertahankan aturan dan kebijakan rumah sakit. Kesimpulannya, identifikasi potensi bahaya serta kebutuhan dan metode pemantauan sanitasi rumah sakit harus dikembangkan untuk mencegah infeksi nosokomial COVID-19 dan menekan penyebaran pandemi.
PERBEDAAN AKTIVITAS MAHASISWA PENDIDIKAN DOKTER PREKLINIK BERDASARKAN LAMA PENDIDIKAN SELAMA PANDEMI COVID-19 Besut Daryanto; Brenda Kristi; Eriko Prawestiningtyas
Majalah Kesehatan FKUB Vol. 9 No. 3 (2022): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/majalahkesehatan.2022.009.03.2

Abstract

Pandemi COVID-19 mengharuskan mahasiswa, termasuk mahasiswa pendidikan dokter preklinik untuk beradaptasi dengan sistem pembelajaran daring. Terjadi perubahan aktivitas akademik, seperti  perkuliahan daring, penelitian, dan konsultasi dengan dosen Penasihat Akademik (PA), serta melakukan protokol kesehatan selama pandemi. Lama pendidikan menentukan pola aktivitas mahasiswa, hal ini terkait dengan beratnya beban belajar yang harus ditempuh, terutama bagi mahasiswa tingkat akhir sehingga mempengaruhi aktivitas kesehariannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan aktivitas mahasiswa pendidikan dokter preklinik berdasarkan lama pendidikan dalam menjalankan pendidikan, penelitian, dan pelaksanaan protokol kesehatan selama pandemi COVID-19. Penelitian analitik cross-sectional ini dilakukan pada 255 mahasiswa tahun kedua hingga keempat melalui purposive sampling di Fakultas Kedokteran, Universitas Brawijaya. Mahasiswa yang memenuhi kriteria inklusi mengisi kuesioner yang sudah tervalidasi melalui Google form. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan yang bermakna proporsi mahasiswa berdasarkan lama pendidikan yang menjalani perkuliahan dengan beban yang lebih berat (p = 0,020), sulit fokus (p = 0,034), tetap di rumah saja (p = 0,042), tidak melakukan perjalanan jarak jauh (p = 0,039), tidak melakukan konsultasi PA minimal 4 kali (p = 0,002), menemukan literatur penelitian (p = 0,004), serta tidak mampu memperoleh data penelitian dengan mudah (p = 0,044) yang didominasi oleh mahasiswa tahun keempat. Hal ini dapat terjadi akibat tingkat stres psikologis maupun beban kuliah yang lebih berat, serta kurangnya waktu luang mahasiswa. Mayoritas penelitian dipilih oleh mahasiswa tahun keempat sebelum pandemi sehingga mengubah rencana penelitian akibat penutupan universitas. Kesimpulan, didapatkan perbedaan aktivitas mahasiswa pendidikan dokter preklinik dalam menjalankan pendidikan, penelitian, dan pelaksanaan protokol kesehatan selama pandemi COVID-19 berdasarkan lama pendidikan.
PENGETAHUAN DAN PERILAKU PASIEN DIABETES MELLITUS YANG MENJALANKAN PUASA RAMADAN Fajar Ari Nugroho; Catur Saptaning Wilujeng; Dian Handayani; Inggita Kusumastuty; Barakatun Nisak Mohd Yusof
Majalah Kesehatan FKUB Vol. 9 No. 3 (2022): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/majalahkesehatan.2022.009.03.5

Abstract

Perkembangan pesat prevalensi diabetes mellitus (DM) telah ditunjukkan oleh negara-negara ekonomi rendah dan menengah. Bagi seorang muslim dengan diabetes, adanya kewajiban puasa saat bulan Ramadan tentunya akan menjadi tantangan. Penelitian terakhir oleh sejumlah peneliti dari beberapa negara menyebutkan bahwa muslim dengan diabetes rata-rata tetap melaksanakan puasa terlepas dari risiko yang dihadapi, dan perlunya pemberian pengetahuan untuk mengurangi atau menghindari terjadinya komplikasi. Penelitian ini adalah penelitian diskriptif analitik yang menelaah gambaran umum pengetahuan dan perilaku pasien diabetes yang menjalankan puasa Ramadan. Penelitian ini adalah penelitian pilot survey dan belum pernah ada penelitian yang serupa yang telah dilakukan di Indonesia. Target populasi yang menjadi sasaran adalah pasien diabetes yang menjalankan puasa Ramadan, baik tipe 1 maupun tipe 2. Penetapan sampel menggunakan metode purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan Google form selama satu bulan Ramadan dalam bulan Juni hingga Juli 2021. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pasien DM telah mengetahui bagaimana menjalankan puasa sekaligus tetap menjaga kondisi. Walaupun hasil tidak secara signifikan menunjukkan adanya hubungan antara indikator-indikator DM dengan variabel bebas dari pasien (p > 0,001), namun hasil ini tetap dapat menggambarkan bahwa pasien tetap membutuhkan pendampingan untuk lebih memaksimalkan pengendalian DM selama menjalankan puasa Ramadan.
Tinjauan Literatur: MIKROBIOM PADA KULIT DALAM PERSPEKTIF DERMATOLOGI Nurrahma Wahyu Fitriyani; Sinta Murlistyarini
Majalah Kesehatan FKUB Vol. 9 No. 2 (2022): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/majalahkesehatan.2022.009.02.7

Abstract

Kulit merupakan organ terbesar pada tubuh manusia. Sebagai pertahanan fisik terluar, kulit bertugas untuk mencegah invasi dari berbagai patogen. Kolonisasi dari berbagai bakteri, jamur, dan virus yang disebut mikrobiom pada kulit berperan esensial dalam proteksi tubuh terhadap patogen yang menyerang, perkembangan dari sistem imun, maturasi dan homeostasis dari imunitas kulit, serta pembersihan sisa-sisa produk alami tubuh. Sebagian besar mikroba yang hidup pada kulit bersifat komensal atau mutualistik pada kondisi normal. Gangguan dan ketidakseimbangan pada komposisi normal mikrobiom, atau disbiosis, dapat menyebabkan pergeseran mikrobiota komensal pada kulit menjadi komunitas mikrobiota yang berbahaya pada penyakit kulit noninfeksi seperti dermatitis atopik, psoriasis, dan akne. Tinjauan literatur ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran mikrobioma secara fisiologis pada kulit serta pada beberapa penyakit kulit yang umum dijumpai, seperti dermatitis atopik, akne vulgaris, dan psoriasis. Berbagai studi telah menunjukkan adanya pengaruh perubahan komposisi mikrobiota dapat memicu munculnya penyakit kulit, merangsang eksaserbasi, dan berkontribusi pada progresivitas penyakit kulit. Meningkatnya minat pada penelitian mengenai mikrobiom pada kulit diharapkan dapat membantu para ahli dermatologi untuk lebih banyak mengembangkan alat diagnostik, meningkatkan pehamaman terhadap patogenesis penyakit kulit, serta mengembangkan berbagai modalitas terapi untuk tata laksana pasien yang lebih terpersonalisasi, bahkan dapat disesuaikan dengan karakteristik mikrobiom pada masing-masing individu. Ruang gerak pengembangan dalam hal mikrobiom pada kulit masih sangat luas dan akan memiliki implikasi yang signifikan baik dalam konteks preventif, klinis, maupun terapeutik.  
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PRAKTIK PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA ANAK USIA 6-24 BULAN DI MASA PANDEMI COVID-19 Rachma Purwanti; Mentari Suci Ramadini Sujono
Majalah Kesehatan FKUB Vol. 9 No. 3 (2022): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/majalahkesehatan.2022.009.03.3

Abstract

Pemberian ASI secara eksklusif dianjurkan dilakukan selama 6 bulan pertama kelahiran. Selama masa pandemi Covid-19 prevalensi pemberian ASI eksklusif dilaporkan mengalami penurunan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan praktik pemberian ASI eksklusif selama masa pandemi Covid-19. Penelitian dilakukan dengan desain cross-sectional di Desa Kedungsari, Kecamatan Tarokan, Kabupaten Kediri pada bulan Januari Tahun 2022. Subjek penelitian ini sebanyak 104 anak usia 6 -24 bulan dan responden penelitian yaitu ibu dari subjek penelitian. Variabel yang diteliti yaitu praktik pemberian ASI eksklusif, karakteristik ibu, karakteristik ayah, riwayat persalinan, Berat Badan Lahir (BBL), Panjang Badan Lahir (PBL), praktik Inisiasi Menyusu Dini (IMD), praktik pemberian makan prelakteal, kebiasaan minum dengan dot, kebiasaan minum susu formula, kebiasaan minum selain ASI dan susu formula, serta riwayat infeksi Covid-19 pada keluarga. Data dianalisis dengan teknik univariat, bivariat, dan multivariat. Analisis bivariat dilakukan dengan uji korelasi dan analisis multivariat dengan uji regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang berhubungan dengan praktik pemberian ASI eksklusif adalah praktik IMD dan pemberian makan prelakteal (p = 0,015; OR = 6,232 dan p < 0,001; OR = 0,034). Kesimpulan penelitian ini adalah faktor Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan pemberian makanan prelakteal berhubungan dengan praktik ASI eksklusif.
LOMBA KAMPUNG TANGGAP DBD DENGAN KALENDER PEMANTAUAN JENTIK MANDIRI SEBAGAI MODEL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT UNTUK PENGENDALIAN VEKTOR DENGUE DI KOTA MALANG Lilik Zuhriyah; Alidha Nur Rakhmani; Harun Al Rasyid
Majalah Kesehatan FKUB Vol. 9 No. 2 (2022): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/majalahkesehatan.2022.009.02.5

Abstract

Model pemberdayaan masyarakat yang inovatif dan sesuai dengan nilai budaya lokal diperlukan dalam pengendalian vektor Dengue. Ketertarikan masyarakat terhadap penghargaan daripada hukuman ditunjukkan dengan antusiamenya pada penghargaan Adipura. Tujuan penelitian ini adalah menjajaki peluang Lomba Kampung Tanggap DBD dengan pengisian Kalender Pemantauan Jentik Mandiri (KPJM), yang dapat menjadi salah satu cara dalam memperbaiki pengetahuan, perilaku, dan kontainer positif jentik. Penelitian quasi experimental nonrandomized with control group ini dilakukan di 15 RT dari 2 kelurahan di wilayah kerja Puskesmas Sukun kota Malang. Sebanyak 52 rumah tangga kontrol dari 7 RT dan 45 rumah tangga intervensi dari 8 RT dibandingkan dalam hal pengetahuan, perilaku, dan persentase kontainer positif jentik. Intervensi yang diberikan berupa pengikutsertaan dalam lomba Kampung Tanggap DBD, dimana RT peserta diberikan sejumlah KPJM yang harus diisi secara mandiri oleh keluarga terpilih seminggu sekali selama 2 bulan.  Uji statistik yang digunakan pada penelitian ini adalah uji Wilcoxon, dan uji Mann Whitney. Hasil menunjukkan perbedaan yang signifikan dalam hal perilaku sebelum-sesudah baik pada kelompok kontrol (p = 0,039) maupun kelompok perlakuan (p = 0,003), sedangkan untuk pengetahuan dan persentase kontainer positif jentik tidak signifikan (p > 0,05). Namun demikian, secara deskriptif angka persentase kontainer positif jentik  yang ditunjukkan pada kelompok perlakuan lebih baik dibandingkan kelompok kontrol. Dapat disimpulkan, Lomba Kampung Tanggap DBD dengan pengisian KPJM berpotensi untuk diangkat sebagai model  pengendalian DBD.  
PERBANDINGAN TRIAGE EARLY WARNING SCORE, NATIONAL EARLY WARNING SCORE, RAPID EMERGENCY MEDICINE SCORE, DAN MODIFIED EARLY WARNING SCORE DALAM MEMPREDIKSI TINGKAT KEMATIAN PASIEN TRAUMA DI IGD RSUD DR. SAIFUL ANWAR MALANG Taufiq Abdullah; Harun Al-Rasyid; Khairina Nurhafizah Dian Milenia Akbar Rusli
Majalah Kesehatan FKUB Vol. 9 No. 2 (2022): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/majalahkesehatan.2022.009.02.3

Abstract

Pasien dengan kondisi kritis yang datang ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) seringkali menunjukkan tanda penurunan kondisi klinis  yang jelas dan 80% dari tanda tersebut dapat dikenali lebih awal dalam 24 jam sebelum kondisi pasien semakin memburuk. Trauma merupakan penyebab kematian utama pada pasien dengan usia  di bawah 45 tahun yang datang ke IGD. Penggunaan early warning scoring seperti Triage Early Warning Score (TREWS), National Early Warning Score (NEWS), Rapid Emergency Early Warning Score (REMS) dan Modified Early Warning Score (MEWS) dilakukan untuk memprediksi risiko perburukan yang terjadi pada pasien yang datang ke IGD. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan kemampuan TREWS, NEWS, MEWS, dan REMS dalam memprediksi risiko kematian pasien trauma dewasa di ruang triase IGD RSUD dr. Saiful Anwar (RSSA), Malang. Rancangan penelitian adalah observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Nilai area under curve (AUC) dari skor TREWS, NEWS, REMS, dan MEWS dihitung dengan mengolah data yang didapatkan dari 428 pasien dewasa (≥ 17 tahun) yang datang ke IGD RSSA dengan kondisi trauma pada periode bulan Juli - September 2021.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai AUC dari keempat skoring mempunyai nilai yang tidak jauh berbeda satu sama lain (p < 0,001) dengan interpretasi sangat baik. Nilai AUC tertinggi didapatkan pada skoring TREWS, namun skoring REMS lebih aplikatif karena parameter yang digunakan merupakan parameter rutin yang dilakukan di ruang triase IGD RSSA Malang. Dapat disimpulkan bahwa keempat skoring memiliki kemampuan yang hampir sama dalam memprediksi mortalitas pasien trauma dewasa di ruang triase IGD RSSA Malang dengan skoring yang memiliki nilai AUC tertinggi yaitu TREWS.  

Filter by Year

2014 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 12 No. 4 (2025): Majalah Kesehatan Vol. 12 No. 3 (2025): Majalah Kesehatan Vol. 12 No. 2 (2025): Majalah Kesehatan Vol. 12 No. 1 (2025): Majalah Kesehatan Vol. 11 No. 4 (2024): Majalah Kesehatan Vol. 11 No. 3 (2024): Majalah Kesehatan Vol. 11 No. 2 (2024): Majalah Kesehatan Vol. 11 No. 1 (2024): Majalah Kesehatan Vol. 10 No. 4 (2023): Majalah Kesehatan Vol. 10 No. 3 (2023): Majalah Kesehatan Vol. 10 No. 2 (2023): Majalah Kesehatan Vol. 10 No. 1 (2023): Majalah Kesehatan Vol. 9 No. 4 (2022): Majalah Kesehatan Vol. 9 No. 3 (2022): Majalah Kesehatan Vol. 9 No. 2 (2022): Majalah Kesehatan Vol 8, No 3 (2021): Majalah Kesehatan Vol 8, No 2 (2021): Majalah Kesehatan Vol 8, No 1 (2021): Majalah Kesehatan Vol 7, No 4 (2020): Majalah Kesehatan Vol 7, No 3 (2020): Majalah Kesehatan Vol 7, No 2 (2020): Majalah Kesehatan Vol 7, No 1 (2020): Majalah Kesehatan Vol 6, No 4 (2019): Majalah Kesehatan Vol. 6 No. 4 (2019): Majalah Kesehatan Vol 6, No 3 (2019): Majalah Kesehatan Vol 6, No 2 (2019): Majalah Kesehatan Vol 6, No 1 (2019): Majalah Kesehatan Vol 5, No 4 (2018): Majalah Kesehatan Vol 5, No 3 (2018): Majalah Kesehatan Vol 5, No 2 (2018): Majalah Kesehatan Fakultas Kedokteran Vol 5, No 1 (2018): Majalah Kesehatan Fakultas Kedokteran Vol 4, No 4 (2017): MAJALAH KESEHATAN FAKULTAS KEDOKTERAN Vol 4, No 3 (2017): MAJALAH KESEHATAN FAKULTAS KEDOKTERAN Vol 4, No 2 (2017): MAJALAH KESEHATAN FAKULTAS KEDOKTERAN Vol 4, No 1 (2017): MAJALAH KESEHATAN FAKULTAS KEDOKTERAN Vol 3, No 4 (2016): MAJALAH KESEHATAN Vol 3, No 3 (2016): MAJALAH KESEHATAN Vol 3, No 2 (2016) Vol 3, No 1 (2016) Vol 2, No 4 (2015) Vol 2, No 3 (2015) Vol 2, No 2 (2015) Vol 2, No 1 (2015) Vol 1, No 4 (2014) Vol 1, No 3 (2014) Vol 1, No 2 (2014) Vol 1, No 1 (2014) More Issue