cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. jombang,
Jawa timur
INDONESIA
Tafaqquh: Jurnal Penelitian Dan Kajian Keislaman
ISSN : 23383186     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 264 Documents
Moderasi Beragama dan Ketahanan Keluarga di Malang Dalam Perspektif Sejarah Hukum Islam Marwinata, Pepy; Hakim, Muhammad Nur Rizal
Tafáqquh: Jurnal Penelitian Dan Kajian Keislaman Vol. 13 No. 2 (2025): Desember
Publisher : INSTITUT AGAMA ISLAM BANI FATTAH (IAIBAFA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52431/tafaqquh.v13i2.4414

Abstract

Artikel ini mendiskusikan strategi membangun resiliensi keluarga melalui penguatan moderasi beragama. Moderasi beragama atau sikap moderat dalam beragama merupakan cara pandang dan sikap beragama yang adil dan seimbang. Pola pikir dan perilaku moderat dalam keluarga sangat signifikan bagi pasangan suami isteri agar terhindar dari hal-hal yang dapat merusak kehormatan dan martabat keluarga. Karena itu,strategi membangun resiliensi keluarga harus diupayakan oleh seluruh anggota keluarga. Pendekatan penelitian ini adalah kualitatif dengan metode studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cara pandang dan sikap moderat dalam beragama sangat penting bagi keluarga. Strategi membangun resiliensi keluarga meliputi: sistem keyakinan, proses organisasi, proses komunikasi, dan pemecahan masalah. Di antara materi yang sangat penting untuk penguatan moderasi beragama dalam keluarga adalah toleransi, kepemimpinan dalam keluarga, pembagian peran dalam keluarga, relasi setara suami-isteri, penghargaan eksistensi dan komunikasi berkualitas seluruh anggota keluarga, serta membudayakan musyawarah dalam pengambilan keputusan.
Transformasi Nilai-Nilai Ahlussunnah Wal Jamaah dalam Dinamika Moderasi Beragama di Langgar Nurul Jamal Desa Marengan Laok Kabupaten Sumenep Erdiyani, Fenny; Sa’diyah, Halimatus; Fitriyah, Eliyatul
Tafáqquh: Jurnal Penelitian Dan Kajian Keislaman Vol. 13 No. 2 (2025): Desember
Publisher : INSTITUT AGAMA ISLAM BANI FATTAH (IAIBAFA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52431/tafaqquh.v13i2.4146

Abstract

This study aims to describe the transformation of Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) values ​​in the dynamics of religious moderation at the Nurul Jamal Mosque (Langgar Nurul Jamal). Using a qualitative, descriptive-empirical approach, data were obtained through observation, interviews, and documentation. Data were then analyzed using the Miles and Huberman model, which includes data collection, data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The results show that Aswaja values, such as tawassuth (moderation), tawazun (balance), tasamuh (tolerance), and i'tidal (justice), are embodied in the yasinan (recitation of the Yasin), sholawatan (prayer), tadarusan (contemplation), istighosah (religious observance), and the commemoration of the Prophet's birthday, reinforcing four indicators of religious moderation: national commitment, tolerance, non-violence, and acceptance of local traditions. The simple, communal, and tradition-based religious patterns of rural communities make these values ​​easily internalized through repeated social habits. Thus, the Nurul Jamal Mosque represents a peaceful, inclusive, and contextual Islamic practice that addresses social change in rural communities.
Gaya Berpakaian Mahasiswi Muslimah antara Fashion dan Syariat Annisa Nur Utami; Fatimah Khoirunnisa; Lidya Putri Nareswari
Tafáqquh: Jurnal Penelitian Dan Kajian Keislaman Vol. 14 No. 1 (2026): Juni
Publisher : INSTITUT AGAMA ISLAM BANI FATTAH (IAIBAFA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52431/tafaqquh.v14i1.4280

Abstract

Penelitian ini mengeksplorasi dinamika kompleks dalam gaya berpakaian remaja Muslimah di Indonesia, yang terbentuk oleh interaksi antara tuntutan syariat Islam dan pengaruh ekspresi visual dari algoritma media sosial seperti TikTok dan Instagram. Melalui analisis mendalam, penelitian ini mengungkap bagaimana platform digital tersebut menciptakan estetika baru tentang “busana Muslimah ideal” melalui mekanisme echo chamber, yang memperkuat tren fesyen modest yang berfokus pada aspek visual. Hal ini berdampak pada pemahaman remaja terhadap prinsip-prinsip fiqh busana, seperti satr al-aurat, ghair kasyif, ghair mujassam, dan larangan tabarruj, sambil mendorong peningkatan konsumerisme dan kecemasan tubuh. Lebih lanjut, konten yang dikurasi algoritma ini mengalihkan perhatian dari ketaatan syariat menuju keinginan akan pengakuan sosial dan tren estetika global. Namun, penelitian ini juga menyoroti potensi media sosial sebagai sarana dakwah digital yang efektif untuk mendidik remaja tentang busana syar‘i dengan cara yang kreatif dan menarik. Sebagai rekomendasi, penelitian ini menekankan pentingnya harmonisasi antara tren fesyen dan syariat melalui peningkatan literasi digital, penguatan pendidikan fiqh, dukungan dari keluarga dan lembaga pendidikan, serta intervensi psikososial yang membantu remaja Muslimah membentuk identitas visual yang indah namun tetap selaras dengan nilai-nilai syariat. Dengan pendekatan ini, diharapkan remaja dapat menavigasi dunia digital dengan bijak, menjaga keseimbangan antara ekspresi diri dan kepatuhan agama  
Pengembangan Bahan Ajar Fikih Berbasis Mind Mapping dalam Pembelajaran Kitab Matnul Ghayah wat Taqrib di Madrasah Diniyah An-Nur II Bululawang Muhammad Husni; Ari Abdi Widodo
Tafáqquh: Jurnal Penelitian Dan Kajian Keislaman Vol. 14 No. 1 (2026): Juni
Publisher : INSTITUT AGAMA ISLAM BANI FATTAH (IAIBAFA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52431/tafaqquh.v14i1.4396

Abstract

Fiqh learning in the chapter of prayer in Islamic schools often still focuses on memorizing the text and oral explanations, making it difficult for students to see the relationship between concepts such as conditions, pillars, sunnah, and invalidators of prayer. This study aims to describe the process of developing and implementing mind mapping-based fiqh teaching materials in learning the Matnul Ghayah wat Taqrib book and describe the responses of ustadz and students at Madrasah Diniyah An-Nur II Bululawang. The study used a descriptive qualitative approach with subjects of the teaching ustadz and 60 students in grade 3 of junior high school. Data were collected through observation, interviews, and documentation, then analyzed using the Miles and Huberman model which includes data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results of the study indicate that the teaching materials were developed by grouping prayer materials into main branches (obligatory conditions, valid conditions, pillars, sunnah, and invalidators of prayer) which were then visualized in the form of manual mind maps on the board and simple printed teaching materials. The integration of mind mapping makes the ustadz's explanations more focused, makes it easier for students to remember and differentiate legal categories, and increases their learning engagement. Despite time constraints and the large number of students, mind mapping is generally considered a feasible and effective alternative strategy for learning Islamic jurisprudence (fiqh) based on the yellow books in Islamic schools (madrasah diniyah).
Nusyuz dalam Hukum Islam: Bias Gender antara Perempuan dan Laki-Laki Andi Syahrani Afdhal; Meli Kamelia; Gita Maharani; Kurniati Kurniati
Tafáqquh: Jurnal Penelitian Dan Kajian Keislaman Vol. 14 No. 1 (2026): Juni
Publisher : INSTITUT AGAMA ISLAM BANI FATTAH (IAIBAFA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52431/tafaqquh.v14i1.4428

Abstract

This study discusses the concept of nusyûz in Islamic law, the differences in its treatment between husband and wife, and efforts to reinterpret it for greater justice in the household. Traditionally, nusyûz is only associated with wife's disobedience, while husband's negligent behavior is rarely considered nusyûz, which is influenced by classical interpretations and patriarchal culture. This research approach is qualitative descriptive with literature study, using data sources in the form of the Qur'an, classical and contemporary fiqh literature, and positive legal regulations such as the Compilation of Islamic Law and the Marriage Law. The results show that nusyûz should be understood as a reciprocal responsibility between husband and wife, not a tool of control over women. Reinterpretation based on gender equality, maqāṣ id sharia, and the principle of justice can encourage the creation of harmonious families, mutual respect, and freedom from gender-based violence. This study provides recommendations for making family law regulations and practices more just, balanced, and in accordance with universal Islamic values.
Tinjauan Hukum Islam Bimbingan Perkawinan oleh KUA Taufan Hamim Fitroni
Tafáqquh: Jurnal Penelitian Dan Kajian Keislaman Vol. 14 No. 1 (2026): Juni
Publisher : INSTITUT AGAMA ISLAM BANI FATTAH (IAIBAFA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52431/tafaqquh.v14i1.4458

Abstract

The escalating divorce rate in Indonesia, particularly among couples in early marriage (zero to five years), necessitates preventive interventions aligned with Islamic legal principles to preserve family integrity (hifdzun nasl). Marriage Guidance (Bimwin) conducted by the Office of Religious Affairs (KUA) represents state intervention to establish harmonious families (sakinah mawaddah warahmah). This study analyzes Bimwin implementation from an Islamic law perspective and its effectiveness in internalizing marital values. Employing qualitative library research methodology, data were analyzed descriptively-analytically referring to Islamic legal sources (Quran, Hadith, Fiqh Munakahat) and Indonesian regulations. Findings indicate that Bimwin conceptually aligns with Sadd adz-Dzari'ah principle (blocking paths to corruption), where premarital guidance prevents divorce prohibited by Allah. Guidance materials encompassing spousal rights and obligations, conflict management, and family resilience embody Mu'asyarah bil Ma'ruf (harmonious cohabitation). Under Islamic law, Bimwin constitutes a crucial instrument ensuring fulfillment of spiritual marriage requirements to achieve Maqashid Sharia objectives. The transformation from voluntary to mandatory policy since 2024, requiring certification as administrative prerequisite for marriage registration, demonstrates strengthened legal standing. However, enhancement requires integration of contemporary Islamic jurisprudence values more adaptive to modern social challenges for effectively minimizing divorce rates through multisectoral collaboration involving health institutions and family planning agencies.
Fathu Rabbani Sebagai Etika Digital: Tasawuf Abdul Qadir Al-Jailani Dalam Menghadapi Krisis Media Sosial Yoga Adhitya Fredy Firmansyah; Fatya Eka Nurfaizah; Akhmal Raihan; Saharani Saharani
Tafáqquh: Jurnal Penelitian Dan Kajian Keislaman Vol. 14 No. 1 (2026): Juni
Publisher : INSTITUT AGAMA ISLAM BANI FATTAH (IAIBAFA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52431/tafaqquh.v14i1.4478

Abstract

The advancement of the digital era has shifted the way individuals form interactions, interpret information, and develop spiritual identity. Amid the widespread distractions, consumerist culture, and the diminishing depth of meaning caused by the use of social platforms, Sufism offers a soothing spiritual approach. Teachings such as sincerity, patience, and asceticism, as outlined in Fathu Rabbani, can function as strategies to preserve inner well‑being, manage emotions, and create more meaningful digital interactions. This line of thought contributes positive value as a moral and spiritual structure in facing the demands of the online world. However, the use of classical teachings still encounters various obstacles. The instant dynamics of social media, the tendency toward shallow online relationships, and the shifting values of society require a renewed reading of Sufi teachings in order to maintain their relevance. Classical references are often brief and do not explicitly address digital contexts, thus requiring contextual interpretation. In addition, not all individuals possess sufficient spiritual competence or digital understanding to consistently apply Sufi principles in online activities. The priority of this research lies in the need to present ethical guidelines capable of harmonizing digital advancement with the spiritual quality of individuals. By employing a qualitative method based on literature review, this study seeks to formulate a Sufism‑based digital ethical framework that can strengthen the spiritual life of Muslim communities while providing ethical direction in online interactions. Such an approach is crucial to ensure that religious practice remains relevant, contextual, and capable of responding to the ethical challenges of digital society.
Kajian Aqidah dan Iman dalam Kitab Hilyatul Anam wa ‘Aqaidul Imam Karya Hasan bin Abi Bakar Basya’ib Safina Desfianti; Ema Deva Amilia; Hudaidah Hudaidah; Risa Marta Yati
Tafáqquh: Jurnal Penelitian Dan Kajian Keislaman Vol. 14 No. 1 (2026): Juni
Publisher : INSTITUT AGAMA ISLAM BANI FATTAH (IAIBAFA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52431/tafaqquh.v14i1.4479

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep aqidah dan iman dalam Kitab Hilyatul Anam wa ‘Aqaidul Imam karya Hasan bin Abi Bakar Ba’asyib yang dicetak di Palembang pada tahun 1348 H melalui pendekatan filologi dengan metode deskriptif-analitis. Data primer berupa naskah berbahasa Arab Melayu (Jawi) dianalisis melalui tahapan identifikasi, transliterasi, dan analisis isi untuk mengungkap struktur, sistematika, serta kandungan teologisnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kitab ini memuat pembahasan aqidah secara sistematis berdasarkan tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah, meliputi definisi iman, rukun iman, hukum aqli (wajib, mustahil, dan jaiz), sifat dua puluh bagi Allah dan sifat-sifat Rasul, serta integrasi antara tauhid dan praktik ibadah seperti shalat, wudu, dan mandi wajib. Penyajian materi yang ringkas dan terstruktur menunjukkan fungsi pedagogis kitab sebagai media transmisi ilmu tauhid bagi masyarakat Melayu Palembang, sekaligus merepresentasikan dinamika intelektual Islam lokal pada awal abad ke-20. kitab ini tidak hanya berfungsi sebagai teks teologis, tetapi juga sebagai dokumen penting dalam sejarah pendidikan dan perkembangan pemikiran Islam di Nusantara.
Relasi Islam dan Politik Menurut Pemikiran Abdurrahman Wahid dan Muhammad Amien Rais Hilyatul Azkia; Rifda Nur Miftahuromah; Surya Sukti
Tafáqquh: Jurnal Penelitian Dan Kajian Keislaman Vol. 14 No. 1 (2026): Juni
Publisher : INSTITUT AGAMA ISLAM BANI FATTAH (IAIBAFA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52431/tafaqquh.v14i1.4506

Abstract

Islamic political thought in Indonesia has evolved in line with social dynamics and the need for a democratic system that is not solely oriented toward power, but also toward moral and religious values. This study aims to analyze the relationship between Islam and politics in the thinking of Abdurrahman Wahid and Amien Rais, as well as their contributions to building an inclusive and democratic political system. The method used is a qualitative literature study approach through a review of various relevant scientific sources. The results show that both figures reject the formalization of Islam as a state ideology but emphasize the importance of Islamic values ​​as an ethical foundation in political life. Gus Dur views Islam as a social ethic that supports pluralism, democracy, and humanity, while Amien Rais emphasizes the concept of social monotheism as a moral basis for realizing justice and prosperity. Thus, their thinking demonstrates that Islam can coexist harmoniously with modern democracy without having to be realized in the form of a formal Islamic state.
Integrasi Maqasid Syariah dan Metode Penetapan Hukum Islam: Analisis Kritis Terhadap Dinamika Hukum jihan Al Layyinah
Tafáqquh: Jurnal Penelitian Dan Kajian Keislaman Vol. 14 No. 1 (2026): Juni
Publisher : INSTITUT AGAMA ISLAM BANI FATTAH (IAIBAFA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52431/tafaqquh.v14i1.4518

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis integrasi maqashid syariah dan metode penetapan hukum Islam dalam merespons dinamika kontemporer. Permasalahan utama terletak pada kesenjangan antara maqashid sebagai tujuan normatif dan praktik ijtihad yang masih cenderung tekstual. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan serta analisis deskriptif-analitis terhadap literatur ushul fiqh dan maqashid syariah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa maqashid syariah tidak hanya berfungsi sebagai tujuan hukum, tetapi juga sebagai kerangka metodologis dalam ijtihad. Integrasi ijtihad istinbati dan tatbiqi, serta pendekatan ta’lili dan istislahi, memungkinkan lahirnya hukum yang kontekstual, adaptif, dan berorientasi pada kemaslahatan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa integrasi maqashid syariah dalam metode penetapan hukum merupakan kebutuhan mendesak agar hukum Islam tetap relevan dan responsif terhadap perkembangan zaman. Kebaruan (novelty) penelitian ini terletak pada penegasan maqashid syariah sebagai kerangka metodologis aktif dalam proses ijtihad, bukan sekadar tujuan normatif, serta pada upaya mengintegrasikan secara sistematis ijtihad istinbati dan tatbiqi dalam satu model penetapan hukum yang adaptif dan kontekstual.