cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics)
ISSN : 23033045     EISSN : 2503183X     DOI : -
Core Subject : Health, Education,
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) abbreviated IJND (p-ISSN 2303-3045 and e-ISSN 2503-183X) is a peer-reviewed scientific journal publishing updated research and non-research articles in the area of nutrition and dietetics. This journal is published three times annually (January, May, and September) by Alma Ata University Press in collaboration with Indonesian Nutrition Association (Persatuan Ahli Gizi Indonesia).
Arjuna Subject : -
Articles 380 Documents
Relationship between vitamin D, vitamin C and blood glucose in patients with type 2 diabetes mellitus Maharany, Amelia Putri; Kusdalinah, Kusdalinah; Witradharma, Tetes Wahyu
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 13 ISSUE 5, 2025
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2025.13(5).315-323

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Diabetes Melitus merupakan penyakit kronis yang terjadi ketika pankreas tidak lagi cukup dalam memproduksi insulin. Diabetes Melitus  sebagai salah satu dari lima  penyakit tidak menular yang menyebabkan kematian tertinggi sehingga diprioritaskan untuk pencegahan dan pengendaliannya. Beberapa penelitian vitamin D dan vitamin C menunjukkan kecendrungan variasi pro dan kontra dalam peningkatan sensitivitas insulin penderita Diabetes Melitus.Tujuan: mengetahui hubungan konsumsi vitamin D dan vitamin C dengan kadar glukosa darah pada pasien rawat jalan Diabetes Melitus tipe 2 Rumah Sakit Umum Daerah Harapan dan Doa Kota Bengkulu.Metode: Desain penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah pasien diabetes melitus tipe 2. Sampel sebanyak 57 pasien dengan teknik purposive sampling. Analisis data menggunakan uji Korelasi.Hasil: Uji korelasi vitamin D dengan glukosa darah menunjukkan nilai p = 0,238, sedangkan vitamin C dengan kadar glukosa darah adalah nilai p = 0,000.Kesimpulan: Tidak ada hubungan konsumsi vitamin D dengan kadar glukosa darah, namun ada hubungan konsumsi vitamin C dengan kadar glukosa darah pada pasien rawat jalan Diabetes Melitus tipe 2. KATA KUNCI: Vitamin D; Vitamin C; glukosa darah; Diabetes melitus tipe 2  ABSTRACTBackground: Diabetes mellitus is a chronic disease that occurs when the pancreas no longer produces enough insulin. Diabetes mellitus is one of the five non-communicable diseases with the highest mortality rate, therefore, its prevention and control are prioritized. Several studies on vitamin D and vitamin C have shown varying trends in improving insulin sensitivity in people with diabetes mellitus.Objectives: To determine the relationship between vitamin D and vitamin C consumption and blood glucose levels in outpatients with type 2 diabetes mellitus at Harapan dan Doa Regional General Hospital, Bengkulu City.Methods: The study design was an observational analytical study with a cross-sectional approach. The study population was patients with type 2 diabetes mellitus. A sample of 57 patients was selected using a purposive sampling technique. Data analysis used a correlation test.Results: The correlation test for vitamin D and blood glucose showed a p-value of 0.238, while the correlation between vitamin C and blood glucose levels showed a p-value of 0.000.Conclusions: There is no relationship between vitamin D consumption and blood glucose levels, but there is a relationship between vitamin C consumption and blood glucose levels in outpatients with type 2 diabetes mellitus. KEYWORDS: Vitamin D; Vitamin C; blood glucose; type 2 diabetes mellitus
The relationship between maternal factors and pregnancy weight gain with the incidence of stunting in toddlers East Java Province Suwardi, Regantia Happy; Bumi, Candra; Prasetyowati, Irma
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 13 ISSUE 4, 2025
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2025.13(4).276-284

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Stunting merupakan kondisi gangguan tumbuh kembang balita akibat kekurangan gizi kronis dan penyakit infeksi yang ditandai dengan tinggi badan di bawah batas normal. Pada tahun 2022, prevalensi stunting di Indonesia mencapai 21,6% dan di Jawa Timur mencapai 34,9%. Salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko stunting, kesakitan bahkan kematian pada ibu dan anak yaitu faktor maternal. Faktor maternal stunting meliputi, usia ibu saat hamil, jarak kelahiran, paritas, kenaikan berat badan kehamilan, status gizi ibu, tinggi badan ibu, infeksi, kesehatan mental, IUGR dan kelahiran prematur, dan hipertensi.Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan faktor maternal dan kenaikan berat badan kehamilan dengan kejadian stunting pada balita usia 24-59 bulan di Kabupaten Jember.Metode: Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan desain case control yang dilakukan di 15 Puskesmas Kabupaten Jember pada bulan April-Juli 2024. Sampel penelitian ini adalah 272 balita usia 24-59 bulan yang terdiri dari sampel kasus 136 balita stunting dan sampel kontrol 136 balita tidak stunting dengan responden dari ibu balita. Teknik pemilihan sampel menggunakan cluster random sampling. Data penelitian ini diperoleh dari wawancara menggunakan kuesioner dan studi dokumentasi buku Kesehatan Ibu dan Anak. Selanjutnya, data dianalisis dengan analisis univariat (distribusi frekuensi) dan analisis bivariat dengan uji Chi-square.Hasil: Hasil analisis menggunakan uji chi-square diperoleh hasil terdapat hubungan antara kenaikan berat badan kehamilan dengan kejadian stunting pada balita (p-value = <0,001 dan OR= 4,286 dengan 95% CI (2,556-7,187)). Ibu yang memiliki kenaikan berat badan kehamilan tidak sesuai standar Institute of Medicine (IOM) berpeluang melahirkan anak stunting 4,2 kali lebih besar dibandingkan dengan ibu yang memiliki kenaikan berat badan kehamilan sesuai standar IOM. Tidak terdapat hubungan antara usia ibu saat hamil (p-value= 0,419), jarak kelahiran (p-value= 0,178), dan paritas (p-value= 0,321) dengan kejadian stunting pada balita.Kesimpulan: Kenaikan berat badan kehamilan merupakan faktor risiko stunting pada balita usia 24-59 bulan di Kabupaten Jember. KATA KUNCI: faktor maternal; riwayat kehamilan; stunting ABSTRACT Background: Stunting is a condition of impaired growth and development of toddlers due to chronic malnutrition and infectious diseases characterized by height below the normal limit. In 2022, the prevalence of stunting in Indonesia reached 21.6% and in East Java reached 34.9%. One of the factors that can increase the risk of stunting, illness and even death in mothers and children is the maternal factor. Maternal stunting factors include, maternal age during pregnancy, birth distance, parity, pregnancy weight gain, maternal nutritional status, maternal height, infection, mental health, IUGR and premature birth, and hypertension.Objectives: The purpose of this study is to analyze the relationship between maternal factors and pregnancy weight gain with the incidence of stunting in toddlers aged 24-59 months in Jember Regency.Methods: This type of research is observational analysis with a case control design conducted in 15 Jember Regency Health Centers in April-July 2024. The sample of this study consists of 272 toddlers aged 24-59 months, comprising 136 stunted toddlers as the case sample and 136 non-stunted toddlers as the control sample, with respondents being the mothers of the toddlers. The sample selection technique uses cluster random sampling. The data of this study was obtained from interviews using questionnaires and documentation studies of Maternal and Child Health books. Furthermore, the data was analyzed by univariate analysis (frequency distribution) and bivariate analysis by Chi-square test.Results: The results of the analysis using the Chi-square test showed that there was a relationship between pregnancy weight gain and the incidence of stunting in toddlers (p-value = < 0.001 and OR = 4.286 with 95% CI (2.556-7.187)). Mothers who have pregnancy weight gain that does not meet IOM standards are 4.2 times more likely to give birth to stunted children compared to mothers who have pregnancy weight gain according to IOM standards. There was no relationship between maternal age during pregnancy (p-value=0.419, birth distance (p-value=0.178), and parity (p-value=0.321) with the incidence of stunting in toddlers.Conclusions: Pregnancy weight gain is a risk factor for stunting in toddlers aged 24-59 months in Jember Regency.  KEYWORD: maternal factors; pregnancy history; stunting
The influence of nutritional literacy through pocket books on mothers knowledge and attitudes in giving vitamin a to toddlers in the work area of the community health center Simbolon, Demsa; Santika, Olivia Dinda; Nathan, Okdi; Ponterik, Anna Veronica
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 13 ISSUE 5, 2025
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2025.13(5).387-396

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Vitamin A sangat penting untuk pertumbuhan dan ketahanan tubuh terhadap penyakit. Kekurangannya dapat menyebabkan kebutaan yang dapat dicegah dan meningkatkan tingkat morbiditas dan kematian, terutama pada balita. Di Indonesia, cakupan suplementasi vitamin A masih relatif rendah (76,68%). Di Provinsi Bengkulu, prevalensi kekurangan vitamin A terendah ditemukan di Kota Bengkulu. Sekitar 10-15% anak Indonesia di bawah usia lima tahun menderita kekurangan vitamin A. Metode: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas literasi gizi menggunakan buku saku tentang pengetahuan dan sikap ibu terkait suplementasi vitamin A untuk balita. Penelitian ini menggunakan desain kuasi-eksperimental dengan pendekatan pretest-posttest satu kelompok. Sampel terdiri dari 60 ibu (30 pada kelompok intervensi dan 30 pada kelompok kontrol), dipilih secara sengaja dari 772 orang tua yang hadir di Posyandu (posko pelayanan kesehatan terpadu) di kawasan Puskesmas Sawah Lebar pada Mei 2024. Data dikumpulkan melalui kuesioner pre-test dan post-test intervensi, kemudian dianalisis menggunakan uji chi-kuadrat dan regresi logistik multivariat. Hasil: Temuan penelitian menunjukkan peningkatan pengetahuan dan sikap yang signifikan pada kedua kelompok setelah intervensi (p-value<0,001), meskipun perbedaan antar kelompok tidak signifikan secara statistik. Kelompok intervensi yang menggunakan pocketbook menunjukkan peningkatan rata-rata yang sedikit lebih tinggi dalam pengetahuan dan sikap. Kesimpulan: Literasi gizi melalui penggunaan dompet efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan sikap ibu terhadap suplementasi vitamin A dan berpotensi mendukung keberhasilan program vitamin A di masyarakat.KATA KUNCI: balita, literasi gizi, vitamin AABSTRACTIntroduction:  Vitamin A is essential for growth and the body’s resistance to disease. Its deficiency can lead to preventable blindness and increase morbidity and mortality rates, especially among toddlers. In Indonesia, the coverage of vitamin A supplementation remains relatively low (76.68%), and in Bengkulu Province, the lowest prevalence of vitamin A deficiency is found in the city. Approximately 10–15% of Indonesian children under the age of five suffer from vitamin A deficiency. Methods: This study aims to evaluate the effectiveness of nutritional literacy using a pocketbook on mothers' knowledge and attitudes regarding vitamin A supplementation for toddlers. The research used a quasi-experimental design with a one-group pretest-posttest approach. The sample consisted of 60 mothers (30 in the intervention group and 30 in the control group), selected purposively from 772 parents attending the Posyandu (integrated health service post) in the Sawah Lebar Community Health Center area in May 2024. Data was collected via pre- and post-intervention questionnaires, then analyzed using chi-square and multivariate logistic regression tests.Results:  The results showed a significant improvement in knowledge and attitudes in both groups after the intervention (p = 0.000), although the difference between the groups was not statistically significant. The intervention group that used the pocketbook demonstrated a slightly higher average increase in knowledge and attitudes.Conclusion:  Nutritional literacy through the use of pocketbooks is effective in improving maternal knowledge and attitudes toward vitamin A supplementation and has the potential to support the success of vitamin A programs in the community.KEYWORDS:  nutritional literacy, toddlers, vitamin A
Supplementation of omega-3 fatty acids can reduce tumor necrosis alpha ( TNF-α) levels and pain intensity in osteoarthritis patients Adengganan, Yogi; Muis, Siti Fatimah; Muniroh, Muflihatul
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 12 ISSUE 6, 2024
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2024.12(6).406-412

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Osteoarthritis (OA) merupakan penyakit sendi yang paling umum di seluruh dunia, dengan dampak yang kuat pada kesehatan individu dan populasi. Secara global prevalensi OA meningkat sebesar 113,2% dari 247,5 juta pada tahun 1990 menjadi 527,8 juta pada tahun 2019. Prevalensi OA di Indonesia meningkat seiring bertambahnya usia yaitu sebesar 5% pada individu berusia kurang dari 40 tahun, 30% pada usia 40-60 tahun, dan 65% pada usia di atas 60 tahun. Angka kejadian OA lutut relatif tinggi, yaitu 15,5% pada pria dan 12,7% pada wanita. Penyakit ini dapat menyebabkan nyeri kronis, kecacatan, dan menurunkan kualitas hidup penderita. Tingginya kadar sitokin pro inflamasi seperti TNF-α pada penderita OA dapat berperan sebagai faktor utama yang menginduksi kematian krondosit dan menghambat diferensiasi serta proliferasi kondrosit. Penelitian sebelumnya mengatakan bahwa suplementasi omega 3 dapat menurunkan kadar sitokin proinflamasi, memperbaiki nyeri, dan kekakuan fungsi fisik pada individu dengan OA lutut, namun belum ada yang meneliti pengaruh suplementasi omega 3 ini dengan penurunan kadar Tumor Necrosis Factor α (TNF-α).Tujuan: Menganalisis pengaruh  suplementasi asam lemak omega 3 terhadap kadar TNF-α dan intensitas nyeri pada penderita osteoarthritis. Metode: Studi ini merupakan quasi-experimental desain kelompok tunggal dengan rancangan penelitian one group pre-post test without control group design pada 31 pasien. Pengumpulan data dilakukan dengan pengukuran antropometri, pengambilan sampel darah dan pengukuran skor nyeri dilakukan sebanyak dua kali, yaitu sebelum dan sesudah dilakukannya intervensi. analisa TNF-α menggunakan Enzym Linked Immunosorbent Assay (Elisa), intensitas nyeri menggunakan numeric rating scale (NRS). Analisis uji statistik pengaruh suplementasi asam lemak omega 3 terhadap kadar TNF-α dan intensitas nyeri menggunakan uji Wilcoxon.Hasil: Hasil yang diperoleh pada TNF-α dengan nilai P=0,007 dan intensitas nyeri dengan nilai P=0,001 yang menunjukkan hasil yang signifikan.Kesimpulan: Suplementasi asam lemak omega 3 pada penderita OA dapat mengasilkan beberapa mediator anti inflamasi yang mampu menurunkan kadar sitokin pro inflamasi TNF-α dan intensitas nyerisecara siginifikan.KATA KUNCI: asam lemak omega 3 ; tumor necrosis alpha (TNF-α); intensitas nyeri; inflamasi; osteoarthritis ABSTRACTBackground: Osteoarthritis (OA) is the most common joint disease worldwide, strongly impacting individual and population health. Globally, the prevalence of OA increased by 113.2% from 247.5 million in 1990 to 527.8 million in 2019. The prevalence of OA in Indonesia increases with age, namely by 5% in individuals under 40 years, 30% in those aged 40-60 years, and 65% in those over 60 years. The incidence of knee OA is relatively high, namely 15.5% in men and 12.7% in women. This disease can cause chronic pain and disability and reduce the quality of life of sufferers. High levels of pro-inflammatory cytokines such as TNF-α in OA sufferers can act as a major factor in inducing chondrocyte death and inhibiting chondrocyte differentiation and proliferation. Previous studies have shown that omega-3 supplementation can reduce proinflammatory cytokine levels and improve pain and stiffness of physical function in individuals with knee OA. Still, no one has studied the effect of omega-3 supplementation on reducing TNF-α levels.Objectives: To analyze the effect of omega-3 fatty acid supplementation on TNF-α levels and pain intensity in patients with osteoarthritis.Methods: This study is a quasi-experimental single-group design with a one-group pre-post test without a control group design in 31 patients. Data collection was carried out by anthropometric measurements, blood sampling, and pain score measurements twice, namely before and after the intervention. TNF-α analysis using Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (Elisa), pain intensity using a numeric rating scale (NRS). Statistical analysis of the effect of omega 3 fatty acid supplementation on TNF-α levels and pain intensity using the Wilcoxon test.Results: The results obtained on TNF-α with a P value = 0.007 and pain intensity with a P value = 0.001 showed significant results.Conclusion: Supplementation of omega-3 fatty acids in OA patients can produce several anti-inflammatory mediators that significantly reduce the levels of pro-inflammatory cytokines TNF-α and pain intensity.KEYWORDS: omega 3 fatty acids; tumor necrosis alpha (TNF-α); pain intensity; inflammation; osteoarthritisReceived: August 14, 2024; Revised: Nov 18 2024; Accepted: Nov 20, 2024; Available online: Nov 30, 2024; Published: Nov 30, 2024.
Curcumin compounds and total microorganisms in turmeric kombucha as a potential therapy in rats obesity model Nisa', Zulfia Rosyidatun; Jusuf, Sinu Andhi; Yudhani, Ratih Dewi
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 13 ISSUE 2, 2025
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2025.13(2).114-124

Abstract

ABSTRAKLatar belakang: Prevalensi obesitas meningkat signifikan dalam satu dekade terakhir dan berisiko menimbulkan berbagai komplikasi seperti diabetes melitus tipe 2, kardiovaskular, bahkan kanker. Terapi farmakologi obesitas seperti liraglutide dan orlistat dapat memberikan efek negatif pada tubuh seperti gangguan saluran pencernaan. Hal ini mendorong pengembangan terapi berbahan alami untuk obesitas. Kombucha dan kunyit kuning secara tunggal dilaporkan bersifat antioksidan dan mampu memperbaiki obesitas. Kombinasi kombucha kunyit kuning berpotensi dikembangkan sebagai minuman probiotik untuk obesitas karena senyawa bioaktif yang dikandungnya. Namun, eksplorasi fitokimia dan mikroorganisme pada turmeric kombucha masih sangat terbatas dan penelitian kombinasi kombucha kunyit kuning untuk obesitas belum pernah dilakukan sebelumnya.Tujuan: Mengeksplorasi kandungan fitokimia dan total mikroorganisme kombucha kunyit kuning dan kemampuannya untuk memperbaiki obesitas. Metode: Eksperimental laboratorik dengan rancangan pre-post control group dan deskriptif observasional. Analisis kurkumin menggunakan KLT Densitometri. Mikroorganisme dianalisis dengan metode pour plate kemudian dihitung berdasarkan total plate count. Tikus model obesitas diberikan tiga variasi dosis kombucha kunyit kuning selama 28 hari dan dilakukan penilaian perubahan indeks Lee yang diuji statistik menggunakan Kruskal Wallis (p<0.05) dan Post hoc Dunn Test. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan kandungan kurkumin pada kombucha kunyit kuning sebesar 0,73 mg/L dan total mikroorganisme sebesar 2,60 x 107 CFU/ml. Kombucha kunyit kuning memperbaiki indeks Lee tikus model obesitas dibanding kontrol negatif (p<0.05) dengan dosis paling efektif sebesar 4,4 ml/200 g/hari (dosis tertinggi di penelitian ini). Kesimpulan: Kombucha kunyit kuning memiliki kandungan kurkumin dan manfaat mikoorganisme yang dapat memperbaiki indeks Lee pada tikus model obesitas. Kata Kunci: kombucha kunyit kuning; kurkumin; mikroorganisme; obesitas   ABSTRACT Background: The prevalence of obesity has increased significantly in the last decade, raising the risk of complications such as type 2 diabetes, cardiovascular diseases, and even cancer. Pharmacological therapies for obesity, such as liraglutide and orlistat, can have negative effects on the body, including gastrointestinal disorders. This drives interest in the development of natural-based therapies for obesity. Kombucha and turmeric individually are known for their antioxidant properties and their ability to address obesity. The combination of turmeric kombucha has the potential to be developed as a probiotic drink for obesity due to the bioactive compounds it contains. However, research into the phytochemical profile and microorganisms in turmeric kombucha is still limited, and no studies have been conducted on the combination of turmeric kombucha for obesity treatment.Objectives: To explore the phytochemical content and total microorganisms in turmeric kombucha and to evaluate its potential in improving obesity treatment.Methods: Laboratory experiments were conducted with pre-post control group design and descriptive observational analysis. Curcumin levels were analysed using KLT Densitometry, while microorganisms were identified through the pour plate method and quantified via total plate count. Obese model rats received three different doses of turmeric kombucha over 28 days, and changes in their Lee index value were assessed and statistically analysed using Kruskal Wallis (p<0.05) and Post hoc Dunn Test. Results: The findings revealed that the curcumin concentration in turmeric kombucha was 0.73 mg/L and the total microorganisms were 2,60 x 107 CFU/ml. Kombucha yellow turmeric improved the Lee index of obese model rat compared to negative control (p<0.05) with the most effective dose being 4.4 ml/200 g/day (the highest dose in this study).Conclusions: Turmeric kombucha contains curcumin and beneficial microorganisms, which can improve the Lee index in obese model rats.Keywords: curcumin; obesity; microorganisms; turmeric kombucha Received: 17 Jan 2025; Revised: 20 Sep 2024; Accepted: 26 Jan 2025; Available online: 30 Mar 2025; Published: 30 Mar 2025
Development of sustainable green medicine strategy for adolescent anemia prevention: a mix methods Khoiriyah, Fitri; Agustia, Dilma’aarij; Maisaroh, Cindy; Gulo, Gracetine Novemsia
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 13 ISSUE 3, 2025
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2025.13(2).223-232

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Anemia pada remaja putri berdampak pada imunitas, remaja yang mengalami anemia imunitasnya cenderung lebih rendah sehingga mudah terserang infeksi. Kebugaran tubuh dapat berkurang dan penurunan prestasi dalam belajar. Defisiensi besi dapat diidentifikasi dengan pemeriksaan kadar ferritin. Green medicine memanfaatkan potensi tanaman herbal dan sumber daya alam yang memiliki aktivitas biologis untuk meningkatkan kadar ferritin dalam tubuh secara alami. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan strategi berkelanjutan green medicine yang efektif dan dapat diterapkan secara luas untuk meningkatkan kesehatan remaja putri yang menderita anemia defisiensi besi. Metode: Metode penelitian yang digunakan adalah mix method. Metode kuantitatif menggunakan analisis univariat yang tujuan untuk mengetahui kadar ferritin remaja putri serta dilakukan pengukuran asupan nutrisi remaja putri menggunakan kuesioner SQ-FFQ. Metode kualitatif  menggunakan analisis tematik dan serta pengembangan produk menggunakan analisis SWOT. Hasil: Hasil kuantitatif menunjukkan sebanyak 5 (15.6%) remaja putri mengalami anemia dengan kadar ferritin dibawah normal (Mean = 9.9 μg/L) sehingga mayoritas kadar ferritin responden normal. Remaja yang anemia 100% asupan iron sebesar 8 ± 4.2 mg dan vitamin C sebesar 70 ± 70.5 μgRE. Hasil kualitatif menunjukkan pengembangan produk green medicine ini mempertimbangan keseluruhan aspek dari kualitas, khasiat, tampilan produk dan distribusi. Hasil analisis SWOT menunjukkan bahwa produk green medicine yang berkelanjutan memerlukan bahan dasar local wisdom dan bekerjasama dengan stakeholder lintas sectoral.Kesimpulan:  Pengembangan produk green medicine disesuaikan dengan bahan dasar local wisdom yang mengandung kebutuhan vitamin C dan iron yang seimbang untuk bisa memenuhi asupan nutrisi remaja putri anemia ini dengan mempertimbangkan kualitas, khasiat, tampilan produk dan proses pendistribusiannya sehingga dapat menangani serta mencegah angka anemia di kalangan remaja putri secara berkelanjutan. KATA KUNCI: anemia; feritin; green mecidine; remaja putri; mix method  ABSTRACTBackground: Anemia in adolescent girls has an impact on immunity, adolescents who experience anemia tend to have lower immunity so they are susceptible to infection. Body fitness can be reduced and decreased achievement in learning. Iron deficiency can be identified by checking ferritin levels. Green medicine utilizes the potential of herbal plants and natural resources that have biological activity to increase ferritin levels in the body naturally. This study aims to develop a sustainable green medicine strategy that is effective and can be widely applied to improve the health of adolescent girls suffering from iron deficiency anemia. Methods: The research method used was mixed method. The quantitative method uses univariate analysis which aims to determine the ferritin levels of adolescent girls and to measure the nutritional intake of adolescent girls using the SQ-FFQ questionnaire. Qualitative methods use thematic analysis and product development using SWOT analysis. Results: Quantitative results showed that 5 (15.6%) adolescent girls were anemic with ferritin levels below normal (Mean = 9.9 μg/L)  so the majority of respondents' ferritin levels were normal. Adolescents who are anemic 100% iron intake of 8 ± 4.2 mg and vitamin C of 70 ± 70.5 μgRE. Qualitative results show that the development of green medicine products considers all aspects of quality, efficacy, product appearance and distribution. The results of the SWOT analysis show that sustainable green medicine products require local wisdom ingredients and collaboration with cross-sectoral stakeholders.Conclusion:  The development of green medicine products is adjusted to the basic ingredients of local wisdom which contain balanced vitamin C and iron requirements to be able to meet the nutritional intake of anemic adolescent girls by considering the quality, efficacy, product appearance and distribution process so that it can handle and prevent anemia rates among adolescent girls in a sustainable manner. KEYWORDS: adolescent girls; anemia; ferritin; green mecidine; mix method 
A qualitative exploration of factors affecting dietary quality with obesity among workers Nailufar, Farida; Ginting, Riska Mayang Saputri
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 13 ISSUE 5, 2025
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2025.13(5).335-342

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Diperkirakan sebanyak 1 miliar penduduk dewasa atau 12% populasi dunia mengalami obesitas pada tahun 2025. Obesitas di Indonesia juga mengalami peningkatan yang pesat khususnya pada kelompok dewasa dan pekerja. Penyebab utama obesitas pada pekerja salah satunya karena kualitas diet yang rendah dan asupan energi berlebih sehingga menyebabkan ketidakseimbangan energi. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas diet dengan timbulnya obesitas pada pekerja perusahaan di Kalimantan Timur.Metode: Penelitian ini menggunakan desain kualitatif dengan responden yaitu pekerja obesitas. Secara keseluruhan, 25 orang responden yang dibagi menjadi 5 kelompok focus group discussion (FGD) untuk dilakukan wawancara semi terstruktur. Penetapan responden dilakukan secara purposive berdasarkan unit kerja. Pengumpulan data menggunakan perekam audio dan pencatatan. Data demografi dikumpulkan menggunakan kuesioner, FGD menggunakan instrumen berupa panduan yang berisi daftar pertanyaan mencakup pengetahuan tentang pola makan sehat dan obesitas, kualitas diet, kontrol diri dalam pemilihan makanan dan pengaruh lingkungan di tempat kerja. Data dianalisis menggunakan metode analisis isi, sintesis tematik dan triangulasi untuk validasi.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 4 faktor utama yang mempengaruhi kualitas diet dan obesitas pada pekerja, yaitu : kurangnya pengetahuan tentang pola makan sehat, kualitas diet yang rendah, kurangnya kontrol diri dalam pemilihan makanan, dan pengaruh lingkungan makan serta media sosial di tempat kerja.Kesimpulan: Studi ini menyediakan informasi faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas diet dengan terjadinya obesitas pada pekerja. Diperlukan dukungan dari perusahaan tempat kerja untuk meningkatkan kualitas diet dan kesehatan pekerjaKATA KUNCI: kualitas diet; obesitas; pekerja ABSTRACTBackground: It is estimated that as many as 1 billion adults will be obese by 2025. Obesity in Indonesia is also increasing rapidly, especially among adults and workers. One of the main causes of obesity in workers is low dietary quality and excessive energy intake.Objectives: The aim of this research is to explore the factors affecting diet quality and obesity in company workers in East Kalimantan.Methods: This study uses a qualitative design conducted in an industrial company in East Kalimantan. The respondents are workers with obesity. Overall, 5 semi-structured focus groups discussion (FGD) were conducted with a total of 25 respondents who were determined purposively according to work units. Respondents' demographic data were collected through a short questionnaire. Data collection using an audio recorder and notes. The instrument to be used is a FGD guide that contains questions related to knowledge about healthy eating patterns and obesity, dietary quality, self-control in food choices and influence of workplace food environment. Qualitative data is processed and analyzed using analytical methods content, thematic synthesis and triangulation for validation.Results: The result of this study shows that there are four main themes affecting dietary quality and obesity among workers. These factors are: lack of knowledge about healthy eating patterns, low dietary quality, lack of self-control and influence of workplace food environment.Conclusions: This study provides information on factors affecting diet quality and obesity in workers. Support from workplace is needed to improve the quality of workers' diets and healthKEYWORD: diet quality; obesity; workers
Fulfilment minimum acceptable diet, exclusive breastfeeding, and infectious disease with stunting Putri, Rokhiyatul Maila; Sumardiyono, Sumardiyono; Andarini, Ismiranti
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 13 ISSUE 3, 2025
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2025.13(2).169-178

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Stunting adalah kondisi yang menyebabkan kegagalan pertumbuhan selama 1000 hari pertama kehidupan karena kekurangan nutrisi yang berlangsung lama. Kabupaten Brebes merupakan wilayah dengan angka stunting tertinggi di Jawa Tengah yaitu sebesar 29.1%. Stunting dipengaruhi langsung oleh status infeksi anak serta konsumsi zat gizi makro maupun mikro.Tujuan: Studi ini menyelidiki bagaimana Minimum Acceptable Diet (MAD), ASI eksklusif, dan penyakit infeksi berkorelasi dengan stunting pada anak-anak berusia 6 hingga 23 bulan di Kabupaten Brebes.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif menggunakan data sekunder hasil dari Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022 dengan desain potong lintang (cross-sectional). Penelitian ini dilakukan pada kelompok anak berusia 6 hingga 23 bulan yang terdaftar di SSGI 2022 Kabupaten Brebes. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 189 anak yang didapatkan dari total sampling berdasarkan kriteria inklusi dan ekslusi. Data dianalisis secara univariat dengan tabel distribusi frekuensi, bivariat dengan uji Chi-Square, dan multivariat dengan uji regresi logistik biner. Hasil: Balita yang tidak mencapai MAD berisiko 1.30 kali mengalami stunting dan balita yang memiliki riwayat penyakit infeksi memiliki risiko 1.33 kali terkena stunting namun tidak signifikan secara statistik (p-value >0.05). Tidak signifikan variabel tersebut dapat disebabkan karena MAD yang dipengaruhi oleh beberpa faktor seperti pendidikan ibu dan ayah, kunjungan antenatal, dan tempat tinggal serta definisi penyakit infeksi yang terlalu luas. Hubungan yang tidak signifikan antara MAD dan stunting mungkin juga disebabkan oleh bias dalam pengukuran MAD, yang mengandalkan ingatan akan asupan makanan selama 24 jam terakhir. Sedangkan,balita tidak ASI eksklusif dapat meniurunkan risiko stunting 2.38 kali dan signifikan secara statistik (p-value 0.013). Kesimpulan: Tidak terdapat korelasi antara MAD dan penyakit infeksi dengan stunting namun terdapat korelasi yang signifikan antara ASI eksklusif terhadap stunting. KATA KUNCI: ASI eksklusif; minimum acceptable diet; penyakit infeksi; stunting  ABSTRACTBackground: Stunting is a condition resulting from long-term malnutrition, leading to growth failure within the first 1,000 days of life. Brebes Regency has the highest stunting rate in Central Java, at 29.1%. The child's level of infection and the amount of macro- and micronutrients they consume directly impact stunting. Objectives: This study aims to analyze the relationship between the Minimum Acceptable Diet (MAD), exclusive breastfeeding, and infectious diseases with stunting among children aged 6-23 months in Brebes Regency. Methods: This quantitative study utilized secondary data from the 2022 SSGI and employed a cross-sectional design. The study population consisted of children aged 6-23 months, as recorded in the 2022 Indonesian Nutritional Status Survey (SSGI) data for Brebes Regency. A total of 189 children were included in the study, selected through total sampling based on inclusion and exclusion criteria. Data were analyzed univariately with a frequency distribution table, bivariately with a Chi-Square test, and multivariately with a binary logistic regression test.Results: Toddlers who do not reach the MAD have a 1.30 times risk of experiencing stunting, and toddlers with a history of infectious diseases have a 1.33 times risk of stunting, but this is not statistically significant (p-value >0.05). This variable is insignificant because MAD is influenced by several factors, such as the mother's and father's education, antenatal visits, and place of residence, as well as a definition of infectious disease that is too broad. The insignificant relationship between MAD and stunting may also result from biases in measuring MAD, which rely on the recall of food intake over the past 24 hours. Meanwhile, toddlers who are not exclusively breastfed can increase the risk of stunting 2.38 times, and it is statistically significant (p-value 0.013). Conclusion: Stunting is not correlated with either MAD or infectious disease; however, it is significantly associated with exclusive breastfeeding.  KEYWORDS: exclusive breastfeeding; infectious diseases; minimum acceptable diet; stunting
Exploring the effects of universal health coverage on stunting in West Java: an ecological study Rachmalinda, Veny; Baliwati, Yayuk Farida; Riyadi, Hadi
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 13 ISSUE 3, 2025
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2025.13(2).188-202

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Stunting merupakan indikator penting yang mencerminkan ketimpangan kesehatan anak yang disebabkan oleh berbagai faktor seperti malnutrisi, penyakit infeksi, dan kurangnya stimulasi sosial. Selain itu, faktor sosial ekonomi juga berperan penting dalam memengaruhi status gizi anak.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menentukan faktor risiko stunting di Provinsi Jawa Barat pada tahun 2022.Metode: Desain penelitian yang digunakan adalah studi ekologi dengan unit sampel analisis menggunakan 27 kabupaten/kota di Provinsi Jawa Barat. Data diperoleh dari laporan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022 dan Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat. Analisis bivariat menggunakan korelasi Pearson diterapkan untuk data berdistribusi normal, sedangkan korelasi Spearman digunakan untuk data tidak normal. Hubungan dianggap signifikan jika nilai p-value <0,05. Analisis regresi logistik digunakan untuk menentukan Odds Ratio (OR) guna mengidentifikasi faktor risiko stunting.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi stunting di Jawa Barat mencapai 20.2% dengan 16 wilayah memiliki prevalensi stunting tinggi (>19.2%). Analisis korelasi menunjukkan adanya hubungan signifikan antara kemiskinan dan prevalensi stunting (r=0,423, p=0,028), asuransi kesehatan dan stunting (r=-0,570, p=0,002), partisipasi keluarga berencana dan stunting (r=-0,589, p=0,001), pernikahan dini dan stunting (r=0,528, p=0,005), serta prevalensi diare dan stunting (r=0,647, p=0,001). Asuransi kesehatan berperan sebagai faktor protektif terhadap stunting, wilayah yang memiliki jaminan kesehatan memiliki penurunan risiko terkena stunting sebesar 38,2% dibandingkan dengan wilayah yang tidak memiliki jaminan kesehatan. Sementara wilayah dengan diare memiliki risiko 1,84 kali lebih tinggi untuk mengalami stunting dibandingkan dengan wilayah tanpa diare.Kesimpulan: Prevalensi stunting di Jawa Barat menunjukkan pola distribusi yang tidak merata, dengan konsentrasi tinggi di wilayah barat, timur, dan tenggara. Wilayah barat dan timur menghadapi kendala spesifik terkait kemiskinan, pernikahan dini, diare, serta cakupan asuransi kesehatan. Strategi penurunan prevalensi stunting harus melibatkan peningkatan kesejahteraan ekonomi, perluasan cakupan asuransi kesehatan, serta akses ke sanitasi untuk mengendalikan diare. Intervensi komprehensif dan terintegrasi diperlukan untuk mengurangi prevalensi stunting di Jawa Barat. KATA KUNCI: cakupan kesehatan universal; diare; kemiskinan; pernikahan dini; pneunomia; stunting  ABSTRACTBackground: Stunting is an important indicator reflecting children’s health disparities, caused by various factors such as malnutrition, infectious diseases, and a lack of social stimulation. Additionally, socioeconomic factors play a crucial role in influencing the nutritional status of children.Objectives This study aims to determine the risk factors of stunting in West Java Province in 2022.Methods: The study design was an ecological study using data from 27 districts/cities in West Java Province. The data were obtained from the 2022 Indonesian Nutrition Status Survey (SSGI) report and the Statistics of West Java Province. Bivariat analysis with Pearson correlation is applied for normally distributed data, while Spearman correlation is used for non-normal data. Variables are considered significantly related if the p-value is <0.05. Logistic regression analysis determines Odds Ratios (OR) to identify risk factors for stunting.Results: The results revealed that stunting prevalence in West Java reached 20.2% with 16 regions showing a high prevalence of stunting (>19.2%). Correlation analysis showed significant association between poverty and stunting prevalence (r= 0.423, p=0.028), health insurance and stunting prevalence (r = -0.570, p = 0.002), family planning and stunting prevalence (r = -0.589, p = 0.001), early marriage and stunting (r= 0.528, p= 0.005), diarrhea prevalence and stunting (r= 0.647, p=0.001). Health insurance as a protective factor of stunting. Regions with health insurance have 38.2% lower risk of stunting compared to regions without health insurance (OR = 0.618, 95% CI: 0.369–0.535). Diarrhea as a risk factor of stunting, regions with diarrhea had 1,84 times higher risk of stunting than regions without diarrhea (OR = 1.841, 95% CI: 1.091–3.106).Conclusions: Prevalence of stunting in West Java shows a widespread distribution pattern with high concentrations in the eastern, western, and southeastern regions of West Java. The western and eastern regions have specific obstacles related to poverty, early marriage, diarrhea and having health insurance. Strategies to reduce the prevalence of stunting must involve increasing economic prosperity, expanding health insurance coverage, and increasing access to sanitation to control diarrhea. Comprehensive and integrated interventions are needed to reduce prevalence of stunting. KEYWORD: diarrhea; early marriage; pneumonia; poverty; stunting; universal health coverageReceived: 14 Mar 2025; Revised: 28 Nov 2024; Accepted: 18 Mar 2025; Available online: 30 May 2025; Published: 31 Mar 2025.
Diet quality and body fat percentage before and during ramadan among college students Ramadenadia, Tarysa; Marjan, Avliya Quratul; Imrar, Iin Fatmawati
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 13 ISSUE 4, 2025
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2025.13(4).243-251

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Obesitas menjadi masalah kesehatan global yang semakin mengkhawatirkan, termasuk di Indonesia. Angka kejadian obesitas pada populasi dewasa yang berusia 18 tahun ke atas terus menunjukkan peningkatan setiap tahunnya yaitu pada tahun 2007 sebesar 10,5%, menjadi 14,8% pada tahun 2013, dan pada tahun 2018 mencapai 21,8%. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan kualitas diet dengan persen lemak tubuh sebelum dan saat puasa Ramadhan pada mahasiswa UPN “Veteran” Jakarta.Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dengan pengambilan sampel stratified random sampling. Jumlah sampel sebanyak 103 responden. Data identitas responden dan kualitas diet diambil melalui wawancara dengan panduan kuesioner (Food Recall 24h dan DQI-I). Data antropometri (persen lemak tubuh) diperoleh melalui pengukuran langsung. Analisis data yang digunakan adalah uji chi-square dan t-test.Hasil: Terdapat perbedaan yang signifikan antara kualitas diet sebelum dan saat puasa Ramadhan (p=0,000). Terdapat hubungan yang signifikan antara kualitas diet dengan persen lemak tubuh sebelum dan saat puasa Ramadhan (p=0,005; p=0,000). Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara kualitas diet dengan persen lemak tubuh sebelum dan saat puasa Ramadhan. Mahasiswa disarankan untuk meperhatikan status gizi dan melakukan pengukuran berkala pada persen lemak tubuh diikuti dengan penerapan gaya hidup sehat. KATA KUNCI: kualitas diet; persen lemak tubuh; puasa ramadhan   ABSTRACTBackground: Obesity has become an increasingly concerning global health problem, including in Indonesia. The prevalence of obesity in the adult population aged 18 years and over has continued to increase each year, from 10.5% in 2007 to 14.8% in 2013, and reached 21.8% in 2018. Objectives: To determine the relationship between diet quality and body fat percentage before and during the Ramadan fasting period among college students at UPN "Veteran" Jakarta. Methods: This study used a cross-sectional study design with stratified random sampling. The sample size was 103 respondents. Data on respondent identity and diet quality were obtained through interviews using a questionnaire (24-hour Food Recall and DQI-I). Anthropometric data (body fat percentage) was obtained through direct measurement. Data analysis used the chi-square test and t-test. Results: There was a significant difference in diet quality before and during the Ramadan fasting period (p=0.000). There was a significant relationship between diet quality and body fat percentage before and during the Ramadan fasting period (p=0.005; p=0.000).Conclusions: There is a significant relationship between diet quality and body fat percentage before and during the Ramadan fasting period. Students are advised to pay attention to their nutritional status and conduct regular measurements of body fat percentage, followed by the implementation of a healthy lifestyle. KEYWORD: diet quality; body fat percentage; ramadan fasting