cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics)
ISSN : 23033045     EISSN : 2503183X     DOI : -
Core Subject : Health, Education,
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) abbreviated IJND (p-ISSN 2303-3045 and e-ISSN 2503-183X) is a peer-reviewed scientific journal publishing updated research and non-research articles in the area of nutrition and dietetics. This journal is published three times annually (January, May, and September) by Alma Ata University Press in collaboration with Indonesian Nutrition Association (Persatuan Ahli Gizi Indonesia).
Arjuna Subject : -
Articles 380 Documents
Diet quality index for adolescents scores among 16-18 years old adolescents Hidayat, Zahra Fadhlina; Marjan, Avliya Quratul; Wahyuningsih, Utami
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 13 ISSUE 2, 2025
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2025.13(2).132-139

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Remaja merupakan kelompok usia dengan kebutuhan gizi yang tinggi untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangannya. Menurut Kementerian Kesehatan saat ini remaja tengah mengalami triple burden of malnutrition. Permasalahan gizi yang terjadi saat remaja dapat berdampak negatif dan terbawa hingga dewasa. Asupan gizi yang tidak seimbang serta kualitas diet yang rendah menjadi salah satu penyebab permasalahan gizi yang dialami remaja.Tujuan: Menganalisis kualitas diet remaja pada SMA Yadika 12 Depok menggunakan Diet Quality Indeks for Adolescents (DQI-A).Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi cross sectional. Penelitian dilakukan di SMA Yadika 12 Depok dengan subjek sebanyak 108 siswa berusia 16-18 tahun. Pengambilan data dilakukan pada Februari 2024. Data kualitas diet didapatkan dari konversi form food recall 2x24 jam akhir pekan dan hari kerja dengan Diet Quality Indeks for Adolescents (DQI-A) yang telah dimodifikasi berdasarkan Pedoman Gizi Seimbang 2014. Data yang telah terkumpul di analisis menggunakan uji Mann-Whitney.Hasil: Rata rata skor DQ adalah 7,55%, skor DD adalah 63,89%, dan skor DE adalah 26,91% dan skor kualitas diet (DQI-A) adalah 32,76%. Nilai terendah 13,38% dan tertinggi 58,72%. Berdasarkan nilai rata rata diketahui bahwa 54 responden (50%) memiliki kualitas diet kurang dan 54 responden (50%) memiliki kualitas diet baik. Hasil uji mann-whitney antara kualitas diet akhir pekan dan hari kerja responden (p= >0,05).Kesimpulan: Rata rata kualitas diet responden 32,76%. Tidak terdapat perbedaan kualitas diet remaja pada akhir pekan dan hari kerja. Skor DQ menjadi yang teredah sehingga perlu adanya perhatian lebih terhadap komponen tersebut, dapat dengan melakukan penyuluhan berkala terkait faktor dan dampak dari rendahnya kualitas diet. KATA KUNCI: kualitas diet; diet quality index for adolescents; kualitas pangan; keberagaman pangan; keseimbangan pangan  ABSTRACTBackground: Adolescents have high nutritional needs to support their growth and development. According to the Indonesian Ministry of Health, adolescents are currently experiencing a triple burden of malnutrition. Nutritional problems during adolescence can have negative impacts and persist in adulthood. Unbalanced dietary intake and low diet quality are key contributors to these nutritional issues in adolescents.Objectives: To analyze the diet quality of adolescents at SMA Yadika 12 Depok using the Diet Quality Index for Adolescents (DQI-A).Methods: This study is quantitative research with a cross-sectional design. The research was conducted at SMA Yadika 12 Depok with 108 subjects aged 16-18. Data collection took place in February 2024. Diet quality data were obtained by converting food recall forms (2x24 hours) for weekends and weekdays using the Diet Quality Index for Adolescents (DQI-A) based on the 2014 Indonesian Balanced Nutrition Guidelines. The collected data is analyzed using the Mann-Whitney test.Results: The average DQ score was 7.55%, the DD score was 63.89%, the DE score was 26.91%, and the overall diet quality score (DQI-A) was 32.76%. The lowest score was 13.38% and the highest was 58.72%. Based on the average values, 54 respondents (50%) had poor diet quality and 54 respondents (50%) had good diet quality. The Mann-Whitney test showed no significant difference in diet quality between weekends and weekdays (p > 0.05).Conclusions: The average diet quality of respondents is 32.76%. There is no difference in adolescent diet quality between weekends and weekdays. The DQ score was the lowest, indicating a need for greater attention to this component, potentially through regular counseling on the factors and impacts of poor diet quality. KEYWORD: diet quality; diet quality index for adolescents; dietary quality; dietary diversity; dietary equilibrium Received: 14 Jan 2025; Revised: 30 Dec 2024; Accepted: 26 Jan 2025; Available online: 30 Mar 2025; Published: 30 Mar 2025
The relationship between nutritional intake with the incidence of Chronic Energy Deficiency (CED) of teenagers in urban and rural areas Hariyanti, Lusiana Pradana; Febrinasari, Ratih Puspita; Sari, Yulia
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 13 ISSUE 4, 2025
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2025.13(4).296-303

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Kurang energi kronis (KEK) adalah kondisi kekurangan energi dan protein dalam jangka waktu lama yang umumnya terjadi pada remaja putri atau Wanita Usia Subur. Masalah ini perlu mendapat perhatian karena dapat menimbulkan dampak serius dalam jangka panjang.  Kondisi ini menonjol pada remaja putri usia 15-19 tahun dan dapat diidentifikasi melalui pengukuran lingkar lengan atas (LILA) <23,5 cm. Asupan zat gizi yang tidak memenuhi mencukupi merupakan faktor langsung penyebab KEK, yang dapat menyebabkan penurunan berat badan, dan jika berkelanjutan berisiko memperparah kondisi KEK.Tujuan:  Menganalisis hubungan asupan zat gizi terhadap kejadian kurang energi kronis pada siswi SMA di wilayah urban dan rural Kabupaten Kediri.  Metode: Metode penelitian yang digunakan yaitu observasional analitik dengan design case control, sampel terdiri dari enam SMA yang dibagi menjadi tiga SMA di wilayah urban dan tiga SMA di wilayah rural dengan total sampel 144 siswi masing-masing sekolah 24 sampel.  Pengumpulan data menggunakan kuesioner food recall 2x24 jam yang diambil pada saat weekday dan weekend. Analisis data menggunakan SPSS dengan chi-square.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan hubungan yang signifikan antara asupan zat gizi pada wilayah urban asupan energi (p=0,000), protein (p=0,03), karbohidrat (p=0,000) dan lemak (p=0,04) dan wilayah rural asupan energi (p=0,000), protein (p=0,018), karbohidrat (p=0,000) dan lemak (p=0,018) dengan kejadian kurang energi kronis pada siswi SMA di Kabupaten Kediri. Kesimpulan: Asupan zat gizi (asupan  energi, protein, karbohidrat dan lemak) sebagai penyebab kurang energi kronis (KEK) sehingga dapat dijadikan acuan untuk mencegah mengalami kurang energi kronis.  KATA KUNCI: asupan zat gizi; kurang energi kronis; siswi; SMA    ABSTRACTBackground: Chronic energy deficiency (CED) is a condition in teenage girls or women of reproductive age who are experiencing long-term energy and protein deficiencies. CED is still a nutrition problem in teenagers that must be addressed because it has serious long-term impacts. The most prominent CED occurs at the age of 15-19 years, especially in adolescent girls. CED can be seen from the size of the upper arm circumference (MUAC) <23.5 cm Nutritional intake is a direct factor that causes CED. Lack of nutritional intake that does not meet needs can result in weight loss and if it continues can result in chronic energy deficiency. Objectives:  to analyze the relationship between nutritional intake and the incidence of chronic energy deficiency in female high school students in urban and rural areas of Kediri Regency.Methods: The research method used is analytical observational with case control design, the sample consists of six high schools which are divided into three high schools in urban areas and three high schools in rural areas with a total sample of 144 students, each school has 24 samples. Data collection used a 2x24 hour food recall questionnaire taken on weekdays and weekends. Data were analyzed using SPSS Version 26 with chi-square.Results: The results showed that there is a relationship between Nutrient intake in urban areas (energy intake (0.000), protein (0.03), carbohydrates (0.000 and fat (0.04)) and rural areas (energy intake (0.000), protein (0.018), carbohydrates (0.000 and fat (0.018) with the incidence of chronic energy deficiency in female high school students in Kediri Regency Conclusions: Therefore, female students can know that nutritional intake (energy, protein, carbohydrate and fat intake) is the cause of chronic energy deficiency (CED) so that it can be used as a reference to prevent experiencing chronic energy deficiency.  KEYWORD: nutrient intake; chronic energy deficiency; female students; high school  
Single-session nutritionist-led counseling improves health self-efficacy among teachers Sholihah, Lini Anisfatus; Dini, Cleonara Yanuar; Gusrianto, Wildan Alfira; Aulia, Salma Shafrina
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 13 ISSUE 1, 2025
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2025.13(1).55-63

Abstract

Background: The increasing prevalence of obesity and metabolic syndrome (MetS) among teachers necessitates targeted interventions to enhance health outcomes. Nutritionist-led counseling can enhance health self-efficacy by equipping individuals with knowledge, skill, and confidence to have healthier lifestyles. Objective: The study aims to assess whether a single face-to-face counseling intervention can significantly improve self-efficacy among teachers.Methods: This experimental study employed a pre-and-post-test design involving 23 high-school vocational teachers (14 females and 9 males) who participated in a one-day, three-hour counseling session by trained nutritionists. Participants underwent anthropometric measurements and MetS risk screening before the intervention. Self-efficacy was assessed using a validated questionnaire before and after counseling. Statistical analyses were conducted using paired t-tests and chi-square or Fisher's Exact tests.Results: The findings indicated a significant increase in self-efficacy scores from a baseline mean of 26±2 to 28±2 after the intervention (p<0.001). Notably, the proportion of teachers who reported confidence in selecting appropriate foods significantly improved (p=0.02). The prevalence of obesity among participants was high, with 57% categorized as obese based on BMI.Conclusion: Targeted nutrition counseling can effectively enhance self-efficacy among teachers, potentially leading to healthier lifestyle confidence and reduced MetS risk. This study underscores the importance of incorporating nutritionist-led interventions in educational settings to promote health among teachers, who serve as role models for students.
The effect of cookies moerhi on body weight and macronutrient intake in undernourished adolescent girls Septiana, Dian; Nuhriawangsa, Adi Magna Patriadi; Rahardjo, Setyo Sri
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 13 ISSUE 4, 2025
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2025.13(4).285-295

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Gizi kurang merupakan salah satu permasalahan gizi yang sering menyerang remaja, khususnya remaja putri. Hal ini disebabkan oleh kurangnya konsumsi energi dan zat gizi dalam memenuhi kebutuhan tubuh. Salah satu strategi mengatasi gizi kurang adalah pemenuhan asupan gizi dengan memberikan suplementasi gizi berupa makanan tambahan yang digemari, misalnya cookies. Cookies Moerhi merupakan cookies yang dibuat dengan tepung ubi jalar putih (Ipomoea batatas L.) dan tepung tempe sebagai pengganti sebagian tepung terigu.Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh Cookies Moerhi terhadap berat badan dan asupan zat gizi makro pada remaja putri gizi kurang.Metode: Desain penelitian quasi experiment dengan pre-test and post-test with control group design. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei-Juni 2024, sampel berjumlah 33 orang yang terbagi menjadi 3 kelompok perlakuan yaitu: 1) kelompok kontrol diberi cookies kontrol dan edukasi gizi; 2) kelompok intervensi 1 diberi Cookies Moerhi formula 1 (20% tepung ubi jalar putih, 10% tepung tempe) dan edukasi gizi; 3) kelompok intervensi 2 diberi Cookies Moerhi formula 2 (10% tepung ubi jalar putih, 20% tepung tempe). Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian Cookies Moerhi formula 1 dan edukasi gizi selama 21 hari dapat meningkatkan rerata berat badan (p=0,009), asupan energi (p=0,007), protein (p=0,014) dan lemak (p=0,003), sedangkan Cookies Moerhi formula 2 dapat meningkatkan rerata asupan lemak (p=0,033). Cookies kontrol dapat meningkatkan rerata berat badan (p=0,006) dan asupan energi (p=0,030).Kesimpulan: Pemberian Cookies Moerhi formula 1 dan edukasi gizi menunjukkan hasil yang lebih baik karena dapat meningkatkan berat badan, asupan energi, asupan protein dan asupan lemak pada remaja putri gizi kurang. Kata Kunci: asupan zat gizi makro; berat badan; cookies; gizi kurang; remaja  ABSTRACTBackground: Undernourished is one of the nutritional problems that often attacks adolescents, especially young women. This is caused by the need for more energy and nutrient consumption to meet the body's needs. One strategy to overcome undernourished is to fulfil nutritional intake by providing nutritional supplements as additional popular food, for example cookies. Cookies Moerhi are made white sweet potato flour (Ipomoea batatas L.) and tempeh flour as a subtitute for some wheat flour.Objectives: This study aimed to determine the effect of Cookies Moerhi on body weight and micronutrient intake in undernourished young women.Methods: The research design was quasi-experimental with pre-test and post-test with control group design. The study was conducted in May-June 2024; a sample of 33 people was divided into three treatment groups:1) the control group was given Cookies Control and nutrition education; 2) intervention group 1 was given Cookies Moerhi formula 1 (20% white sweet potato flour, 10% tempeh flour) and nutrition education; 3) intervention group 2 was given Cookies Moerhi formula 2 (10% white sweet potato flour, 20% tempeh flour).Results: The results showed that giving Cookies Moerhi formula 1 and nutrition education for 21 days can increase the average body weight (p = 0.009), energy intake (p = 0.007), protein (p = 0.014), and fat (p = 0.003), while Cookies Moerhi formula 2 can increase the average fat intake (p = 0.033). Cookies Control can increase the average body weight (p = 0.006) and energy intake (p = 0.030).Conclusions: Giving Cookies Moerhi formula 1 and nutrition education showed better results because it can increase body weight, energy intake, protein intake and fat intake in undernourished adolescent girls. Keyword: adolescents; body weight; cookies; macronutrient intake; undernourished
The organoleptic, proximate, and crude fiber content of Durian (Durio zibethinus ) Skin Flour Cookies Rahmiwati, Anita; Az-Zahra, Annisa
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 13 ISSUE 4, 2025
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2025.13(4).252-259

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Durian merupakan buah yang berasal dari Asia Tenggara salah satunya Indonesia yang kaya akan tanaman tropis. Umumnya durian hanya dimakan bagian buahnya saja sedangkan kulitnya akan menjadi limbah. Padahal bagian dalam kulit mengandung pektin bagian dari serat.Tujuan: Mengetahui formulasi, uji organoleptik, Uji proksimat dan kandungan serat kasar dan pada cookies dengan subtitusi tepung kulit durian.Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain eksperimental dan uji organoleptik. Terdapat 4 sampel formulasi yaitu Formulasi 1 (F1) (10% tepung kulit durian : 90% tepung terigu), Formulasi 2 (F2) (20% tepung kulit durian : 80% tepung terigu), Formulasi 3 (F3) (30% tepung kulit durian : 70% tepung terigu), dan choco butter cookies control. Analisis data menggunakan uji Kruskal Wallis dan uji Mann Whitney untuk menentukan perbedaan organoleptik antar formulasi. Analisis Duncan digunakan untuk analisis perbedaan kandungan serta kasar antar formulasi.Hasil: Hasil uji organoleptik dengan komponen warna, aroma, rasa dan tekstur pada choco butter cookies kulit durian menunjukkan adanya perbedaan nyata (P<0,05) pada semua formulasi F0, F1, F2 dan F3. Formulasi terpilih pada uji kesukaan  yaitu F1 (10 gr tepung kulit durian bagian dalam dan 90 gr tepung terigu). Hasil uji proksimat menunjukkan rata – rata skor uji proksimat pada masing – masing kadar yang lebih tinggi dan lebih rendah nilainya yaitu 55,76 untuk kadar karbohidrat dan 1,185 kadar abu.Hasil uji kandungan serat kasar didapatkan hasil kandungan serat pada F0 sebesar 4,34%, F1 5,84%, F2 5,55% dan F3 5,09%. Hasil kandungan air pada F0 sebesar 10,22%, F1 14,25%, F2 13,12% dan F3 14,23%. Hasil kandungan abu pada F0 sebesar 1,15%, F1 1,31%, F2 1,48% dan F3 1,77%. Hasil uji kandungan lemak didapatkan hasil kandungan lemak pada F0 sebesar 20,97%, F1 21,85%, F2 17,74% dan F3 19,29%. Hasil uji kandungan lemak didapatkan hasil  F0 sebesar 20,97%, F1 21,85%, F2 17,74% dan F3 19,29%. Hasil kandungan protein pada F0 sebesar 11,33%, F1 10,94%, F2 18,68% dan F3 8,89%. Hasil uji kandungan karbohidrat pada F0 sebesar 56,32%, F1 51,66%, F2 48,98% dan F3 55,83%.Kesimpulan: Terdapat perbedaan nyata pada komponen warna, aroma, rasa dan tekstur dalam setiap formulasi F0, F1, F2, maupun F3. F1 adalah formulasi yang paling disukai dan memiliki kandungan serat kasar tertinggi KATA KUNCI: cookies; serat kasar; tepung kulit durian   ABSTRACTIntroduction: Durian is a fruit originating from Indonesia in Southeast Asia, which is rich in tropical plants. The fruit is typically eaten for its flesh, while the skin, comprising a type of fiber called pectin, is discarded.Objective: This research aimed to determine the formulation, organoleptic, proximate, and crude fiber content in cookies produced with durian skin.Method: This is an experimental design with organoleptic testing on four formulations. These included F1 (10% durian skin flour: 90% wheat flour),F2 (20% durian skin flour: 80% wheat flour),F3 (30% durian skin flour: 70% wheat flour), and  F0 (chocolate butter) as control.Kruskal-Wallis and Mann-Whitney tests were used to compare the organoleptic properties between formulations. Furthermore, Duncan’s analysis determined the difference in crude fiber content between formulations.Result: The organoleptic tests showed that the color, aroma, taste, and texture of durian skin chocolate butter cookies showed significant differences (P <0.05) in all formulations F0, F1, F2, and F3. F1 was the most preferred. The proximate test results showed the average score was 55.76 for carbohydrate content and 1.185 for ash content, signifying a higher and lower level, respectively. The fiber content in F0, F1, F2, and F3 was 4.34%, 5.84%, 5.55%, and 5.09%, respectively. The water content  of F0, F1, F2, and F3 was 10.22%, 14.25%, 13.12%, and 14.23%, respectively.The ash content in F0, F1, F2, and F3 was 1.15%, 1.31%, 1.48%, and 1.77%, while the fat content was 20.97%, 21.85%, 17.74% and 19.29%, respectively.The protein content in F0, F1, F2, and F3 was 11.33%, 10.94%, 18.68%, and 8.89%, while the carbohydrate content was 56.32%, 51.66%, 48.98%, and 55.83%,respectively.Conclusion: The organoleptic test showed significant differences in color,aroma, taste, and texture among all formulations. F1 was the most preferred cookies and the highest crude fiber content. KEYWORDS: cookies; crude fiber; inner skin durian flour
Snacking behavior among school-aged children in urban area Sartika, Arindah Nur; Ekasari, Afrinia; Prasetya, Guntari
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 13 ISSUE 3, 2025
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2025.13(2).179-187

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Mengkonsumsi jajanan dalam sehari dapat memberikan kontribusi masukan energi selain mengonsumsi makanan utama. Namun perilaku jajanan pada anak sekolah di Indonesia menunjukkan beberapa kebiasaan yang tidak sehat seperti seringnya mengonsumsi jajanan berkalori tinggi dan minuman manis. Anak-anak di kota besar mempunyai risiko lebih tinggi mengalami obesitas karena tingginya konsumsi jajanan tidak sehat. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk melihat perilaku jajanan anak usia sekolah yang tinggal di perkotaan. Metode: Jenis penelitian observasional dengan desain cross sectional study. Sampel penelitian merupakan anak usia sekolah dasar, berasal dari seluruh kelurahan di wilayah Bekasi sebagai salah satu kota megapolitan di Indonesia, meliputi kelurahan: Duren Jaya, Bekasi Jaya, Aren Jaya, dan Margahayu. Sebanyak 213 siswa mengikuti penelitian ini. Siswa diminta mengumpulkan data tentang karakteristik responden dan perilaku jajanan (menggunakan angket terstruktur dan angket frekuensi makanan). Hasil: Hasil penelitian menunjukkan 50,2% anak sering makan jajanan; 79,8% membeli makanan ringan dari kombinasi kantin sekolah, pedagang kaki lima, dan warung makan tetap; 70,4% membeli makanan ringan pada jam istirahat, setelah, dan sebelum sekolah; dan 75,5% menggunakan bahan kemasan plastik. Tidak terdapat hubungan antara hubungan jenis kelamin, kebiasaan sarapan pagi, uang jajan, pendidikan ibu, pendidikan ayah dengan frekuensi jajan (chi-square test menunjukan p-value: 0.175, 0.302, 0.269, 0.104, 0.247). Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa separuh anak usia sekolah dasar di Kota Bekasi sering mengonsumsi makanan jajanan, hanya 30% siswa yang tidak membeli makanan ringan di sekolah, dan 75% siswa terbiasa jajan makanan dengan kemasan plastik. Hampir 80% siswa terbiasa jajan di dua atau tiga tempat penyedia jajanan, seperti kantin sekolah, pedagang kaki lima, dan warung makan. Frekuensi jajan siswa tidak berhubungan dengan faktor yang berkaitan dengan karakteristik siswa dan pendidikan orang tua. KATA KUNCI: anak usia sekolah; area perkotaan;faktor penentu; perilaku jajan   ABSTRACT Background: During the day, snacks may contribute to energy input besides meals. However, snacking behavior among school children in Indonesia shows some unhealthy habits, such as frequent consumption of high-calorie snacks and sugary beverages. Children in big cities have a higher risk of obesity since they consume unhealthy snacks. Objectives: This study aims to see the snacking behavior of school-age children living in urban populations in Indonesia.Methods: The study is observational with a cross-sectional study design. Samples are school-age children taken from all urban villages in the Bekasi Area, a megapolitan city in Indonesia: Duren Jaya, Bekasi Jaya, Aren Jaya, and Margahayu. A total of 213 students joined the study. Students were asked to complete data about respondent characteristics and snacking behavior (using a structured questionnaire and food frequency questionnaire).Results: The results show that 50.2% of children often eat snacks; 79.8% buy snacks from a combination of school canteen, street vendors, and permanent food stalls; 70.4% buy snacks during break time, after, and before school; and 75.5% use plastic packaging material. There is no association of sex, breakfast habits, pocket money, mother education, and father education with snacking frequency (p-value: 0.175, 0.302, 0.269, 0.104, 0.247).Conclusions: This study shows that half of elementary school children in Bekasi City often consume snacks, only 30% of students do not buy snacks at school, and 75% of students are used to buying snacks in plastic packaging. Almost 80% of students were buying snacks at two or three food vendors, such as school canteens, street vendors, and food stalls. The frequency of snack consumption was not related to factors attributable to students’ characteristics and parents’ education. KEYWORDS: determinant factors; school-age children; snacking behavior; urban areaReceived: 14 Jan 2024; Revised: 05 Dec 2024; Accepted: 14 Feb 2025; Available online: 30 May 2025; Published: 31 Mar 2025.
Determinants of stunting among children aged 6–59 months in Banten Province: A cross-sectional analysis of the 2021 Indonesian Nutrition Status Survey (INSS) Arifianti, Dian Isnaini; Sudiarti, Trini; Triyanti, Triyanti; Setiarini, Asih; Djokosujono, Kusharisupeni
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 13 ISSUE 5, 2025
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2025.13(5).365-377

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Stunting adalah kondisi gagal tumbuh karena kekurangan zat gizi kronik dan infeksi berulang yang berdampak jangka panjang. Data SSGI 2021 menunjukkan stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Provinsi Banten karena prevalensinya masih tinggi (24,5%).Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan stunting balita 6-59 bulan di Provinsi Banten.Metode: Desain penelitian cross sectional dengan jumlah sampel 1.643 balita 6-59 bulan menggunakan data SSGI 2021. Variabel independen adalah faktor anak (umur, jenis kelamin, berat lahir, panjang lahir, keragaman pangan); faktor ibu (pendidikan ibu, pekerjaan ibu); faktor kerawanan pangan; faktor kesehatan lingkungan (kepemilikan jamban), faktor penyakit infeksi (riwayat ISPA, diare, pneumonia, TBC); faktor pelayanan kesehatan (pemberian vitamin A pengobatan balita sakit di fasilitas kesehatan). Analisis menggunakan univariat, bivariat (chi-square), dan multivariat (regresi logistik ganda).Hasil: Proporsi stunting sebesar 22,7%. Determinan stunting balita 6-59 bulan adalah jenis kelamin (AOR 1,351; CI 95% 1,047 – 1,744); pendidikan ibu (AOR 1,484; CI 95% 1,103 – 1,998); panjang lahir (AOR 2,094; CI 95% 1,512 – 2,899); kerawanan pangan (AOR 1,629; CI 95% 1,131 – 2,347).Kesimpulan: Stunting merupakan masalah kesehatan masyarakat di Provinsi Banten dengan faktor dominan yaitu panjang lahir pendek (AOR 2.09). Keluarga bayi dengan panjang lahir pendek, khususnya ibu perlu mendapatkan pendampingan (termasuk program gizi dan kesehatan) dan informasi pencegahan stunting sebagai upaya mengejar ketertinggalan agar bayi panjang lahir pendek dapat tumbuh dan memiliki panjang badan normal pada tahun-tahun berikutnya. Pemantauan kesehatan secara rutin bayi PBL pendek juga dianjurkan.KATA KUNCI: balita; determinan; panjang lahir; stuntingABSTRACTBackground:  Stunting is a growth failure due to chronic malnutrition and recurrent infections long-term impacts. In Banten Province, the prevalence remains high at 24.5%Objectives:  To identify determinants of stunting among toddlers aged 6-59 months in Banten.Methods :  The cross-sectional study analyzed 1.643 toddlers aged 6-59 months using INSS 2021 data. Independent variables included child factors (age, sex, birth weight, birth length, dietary diversity); maternal factors (education, occupation); food insecurity; environmental health factors (latrine ownership), infectious disease (ARI, diarrhea, pneumonia, tuberculosis); health services (vitamin A, treatment in health facilities). Data were analyzed using univariate, chi-square, and multiple logistic regression.Results: Stunting prevalence was 22.7%. Significant determinants were male gender (AOR 1.351; 95% CI 1.047 – 1.744); low maternal education (AOR 1.484; 95% CI 1.103 – 1.998); short birth length (AOR 2.094; 95% CI 1.512 – 2.899); and food insecurity (AOR 1.629; 95% CI 1.131 – 2.347).Conclusions:  Stunting remains a public health issue in Banten. The most dominant determinant is short birth length (AOR 2.09). Families of infants with Short Birth Length should receive targeted assistance through nutrition and health programs, education on stunting prevention, and monthly growth monitoring to support catch up growth.KEYWORD: birth length; determinant; stunting; toddler
The role of dietary inflammatory index and fruit–vegetable variety in body fat accumulation among adolescents Lourena, Crysty; Tamtomo, Didik Gunawan; Wiboworini, Budiyanti
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 13 ISSUE 5, 2025
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2025.13(5).343-351

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Pada tahun 2023, sebanyak 8,8% remaja Indonesia mengalami overweight dan 2,9% mengalami obesitas. Hal itu dapat terjadi karena pola makan tidak sehat, terutama makanan yang memiliki potensi inflamasi tinggi sehingga mempengaruhi lemak tubuh. Dietary Inflammatory Index (DII) merupakan cara untuk mengetahui tingkat potensi inflamasi makanan. Besarnya nilai potensi inflamasi makanan serta bervariasinya konsumsi buah dan sayur dapat mempengaruhi komposisi lemak tubuh remaja.Tujuan: Mengetahui hubungan skor inflamasi makanan dan variasi konsumsi buah sayur terhadap lemak tubuh pada remaja.Metode: Penelitian menggunakan observasional analitik dengan desain cross-sectional. Sampel dipilih menggunakan metode multistage random sampling dan terpilih 150 remaja berusia 15-18 tahun. Pengambilan data lemak tubuh menggunakan Bio Impedance Analysis (BIA) dan data asupan makan menggunakan Semi Quantitative Questionnaire (SQ FFQ). Penelitian dilakukan di Surakarta pada bulan Mei-Juni 2024. Hasil: Variasi buah sayur pada remaja memiliki rentang skor 0-18 dan skor Dietary Inflammatory Index DII -1,91 hingga 2,39. Hasil uji Spearman menunjukkan hubungan yang signifikan antara skor inflamasi makanan dengan persen lemak tubuh tubuh (r = 0,18, p=0,026), namun tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara konsumsi variasi buah sayur dengan persen lemak tubuh (r= 0,006, p=0,941).Kesimpulan: Tingginya potensi inflamasi makanan berhubungan dengan peningkatan lemak tubuh remaja, namun sayur buah tidak berhubungan dengan lemak tubuh remaja.KATA KUNCI: asupan sayur buah; asupan sayur buah; dietary inflammatory index; lemak tubuh; remajaABSTRACTBackground: In 2023, 8.8% of Indonesian teenagers were overweight, while 2.9% were obese. Many teens are overweight or obese because they eat unhealthy, inflammation-causing foods that increase body fat. The Dietary Inflammatory Index (DII) is a method used to determine the level of inflammatory potential in food. The level of the inflammatory potential value in food and the variation in fruit and vegetable consumption can affect the body fat composition of adolescents.Objective: To determine the relationship between the inflammatory score of food and the variation in fruit and vegetable consumption on adolescent body fat.Method: This study used an analytical observational method with a cross-sectional design. The sample of 150 adolescents aged 15-18 was selected using multistage random sampling. Adolescents’ body fat was measured using Bio-Impedance Analysis (BIA) and their dietary intake was assessed using the Semi-Quantitative Questionnaire (SQ-FFQ). The research was conducted in Surakarta from May to June 2024. Results: The variation of fruits and vegetables in adolescents has a score range of 0-18 and a DII score of -1.91 to 2.39. Spearman correlation showed that the DII score positively correlates with body fat percentage (r = 0.18, p = 0.026). However, no significant effect was found between fruit and vegetable variety consumption on body fat percentage (r =0.006 p=0.941). Conclusion: Foods with high inflammatory potential may increase body fat in adolescents, while fruit and vegetable variety does not. The health department should offer guidelines to help the community, especially adolescents, choose non-inflammatory foods and avoid high-inflammatory ones.KEYWORDS: dietary inflammatory index; fruit and vegetable intake; body fat; adolescents
Growth monitoring is a determinant of stunting in toddlers aged 6-23 months in Tanjung Jabung Timur Regency, Jambi province, Indonesia Sari, Nurtika; Probandari, Ari; Suminah, Suminah
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 13 ISSUE 6, 2025
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2025.13(6).397-406

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Kabupaten Tanjung Jabung Timur merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jambi dengan angka prevalensi stunting yang masih tinggi berdasarkan hasil SSGI 2022 yaitu sebesar 22,5%. Penyebab stunting menjadi beberapa faktor baik dari faktor anak sendiri, maupun faktor orang tua dan faktor lingkungan rumah tangga. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji determinan stunting pada balita usia 6-23 bulan di Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan memanfaatkan data sekunder bersumber dari hasil Survei Status Gizi Indonesia tahun 2022 di Kabupaten Tanjung Jabung Timur Provinsi Jambi. Penelitian ini melibatkan 148 balita berusia 6 hingga 23 bulan sebagai sampel. Analisis menggunakan aplikasi SPSS dengan melakukan analisis distribusi frekuensi dan tabulasi silang menggunakan chi square. Variabel terikat pada penelitian ini adalah stunting dan variabel bebas yaitu pemantauan pertumbuhan, Inisiasi Menyusu Dini (IMD), Air Susu Ibu (ASI) eksklusif, berat badan lahir, dan imunisasi. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan pemantauan pertumbuhan sebagai variabel bebas yang berhubungan dengan kejadian stunting di Kabupaten Tanjung Jabung Timur usia 6-23 bulan (0R 2,34; p = 0,048; 95%CI 1,08 – 5,11), sedangkan IMD, ASI eksklusif, berat badan lahir,dan imunisasi tidak berhubungan dengan stunting. Kesimpulan: Pemantauan pertumbuhan merupakan determinan stunting pada balita usia 6-23 bulan di Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Penting untuk meningkatkan kunjungan masyarakat dalam melakukan pemantauan pertumbuhan secara rutin ke pelayanan kesehatan, karena pemantauan berperan dalam mendeteksi dini gangguan gizi, memastikan intervensi yang tepat, dan mendukung tumbuh kembang anak yang optimal. KATA KUNCI: BBLR; IMD; pemantauan pertumbuhan; stunting  ABSTRACTBackground: Tanjung Jabung Timur Regency is one of the regencies in Jambi Province that has a high prevalence of stunting, recorded at 22,5% based on the 2022 SSGI results. Stunting has several causes, including the child's, parental, and household environmental factors. Objectives: This study examined the risk factors for stunting in toddlers aged 6-23 months in Tanjung Jabung Timur Regency. Methods: This study used a cross-sectional design by utilizing secondary data sourced from the results of the 2022 Indonesian Nutritional Status Survey (SSGI) in Tanjung Jabung Timur Regency, Jambi Province. This study included 148 toddlers between 6 and 23 months as its sample. The analysis used the SPPS application by conducting frequency distribution analysis and cross-tabulation using chi-square. The dependent variable in this study was stunting, and the independent variables were growth monitoring, early initiation of breastfeeding, exclusive breastfeeding, birth weight, and immunization.Results: The results showed that growth monitoring was the independent variable related to stunting in Tanjung Jabung Timur Regency aged 6-23 months (0R 2.34; p = 0.048; 95% CI 1.08 – 5.11), while early initiation of breastfeeding, exclusive breastfeeding, birth weight, and immunization were not related to stunting.Conclusions: Growth monitoring determines stunting in toddlers aged 6-23 months in Tanjung Jabung Timur Regency. Improving community participation in routine growth monitoring at health services is essential, as it contributes to the early detection of nutritional problems, ensures appropriate interventions, and promotes optimal child growth and development. KEYWORD: early initiation of breastfeeding; growth monitoring; low birth weight; stunting Article submitted on November 13, 2024; Articles revised on January 08, 2024; Articles received on May 07, 2025; Available online on November 29, 2025
The impact of e-booklets on knowledge and attitudes toward anemia awareness among adolescent girls Ainun Najmi, Ismi Izaz; Rialihanto, Muhammad Primiaji; Setiyobroto, Idi; Wijanarka, Agus; Attawet, Jutharat; Laksono, Agung Dwi; kasjono, Heru Subaris; Waluyo, Waluyo; Siswati, Tri
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 13 ISSUE 5, 2025
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2025.13(5).352-364

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Menurut Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023, sebanyak 15,5% remaja putri menderita anemia, sehingga anemia sebagai suatu masalah kesehatan yang signifikan. Salah satu faktor yang berkaitan dengan anemia remaja adalah rendahnya pengetahuan dan kepatuhan konsumsi Fe.Tujuan: Mengevaluasi efektivitas edukasi gizi menggunakan e-booklet dibandingkan dengan media slide dalam meningkatkan pengetahuan dan sikap terkait anemia.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian quasi eksperimental dengan desain pretest-posttest control group. Penelitian dilakukan pada bulan Maret-April 2024, melibatkan 85 siswi SMP di Yogyakarta, yang dibagi ke dalam kelompok intervensi (e-booklet dan media slide) dan kelompok kontrol (media slide). Data tentang pengetahuan dan sikap dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur pada tiga tahap: pretest, posttest-1, dan posttest-2. Analisis statistik yang digunakan adalah paired t-test, uji wilcoxon, independent t-test, dan uji mann-whitney.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam skor pengetahuan pada kedua kelompok, dengan kelompok intervensi mencapai skor post-test yang lebih tinggi (89,1 vs 78,8; p<0,05). Meskipun kedua kelompok menunjukkan sedikit peningkatan dalam hal sikap, perubahan yang diamati tidak mencapai signifikansi secara statistik. Temuan ini menyoroti efektivitas e-booklet sebagai alat pembelajaran digital, yang menawarkan fleksibilitas dan konten mendalam yang mendukung pembelajaran mandiri.Kesimpulan: Penelitian ini menggarisbawahi potensi e-booklet untuk mengatasi kesenjangan pengetahuan tentang anemia di kalangan remaja. Pembuat kebijakan sebaiknya mengintegrasikan e-booklet ke dalam program pendidikan kesehatan nasional dan menggabungkannya dengan metode offline yang interaktif untuk meningkatkan perubahan pengetahuan remaja.KATA KUNCI: anemia; e-booklet; pengetahuan; remaja putri; sikap ABSTRACTBackground: Based on Indonesia Health Survey 2023, 15,5% female adolescents suffer from anemia, as a significant health problem. This is due to lack of knowledge and low compliance of Fe consumption. Objectives: To evaluate the effectiveness of nutrition education using e-booklets compared to slide media in improving anemia-related knowledge and attitudes.Methods: This was a quasi-experimental design with a pretest-posttest control group, conducted in March–April 2024, involving 85 junior high school girls in Yogyakarta, divided into intervention (e-booklet and slide media) and control (slide media) groups. Data on knowledge and attitudes were collected using structured questionnaires at three points: pretest, posttest-1, and posttest-2. Statistical analyses included paired t-tests, Wilcoxon, independent t-tests, and Mann-Whitney tests.Results: The results showed a significant improvement in knowledge scores in both groups, with the intervention group achieving higher post-test scores (89.1 vs. 78.8; p<0.05). Although both groups demonstrated a slight improvement in attitudes, the observed changes did not reach statistical significance. The findings highlight the effectiveness of e-booklets as a digital learning tool, offering flexibility and in-depth content that supports independent learningConclusions: This study underscores the potential of e-booklets to address knowledge gaps about anemia among adolescents. Policymakers should integrate e-booklets into national health education programs while combining them with interactive offline methods to enhance attitude changes.KEYWORDS: anemia; attitude; adolescent girls; e-booklet; knowledge