cover
Contact Name
Masruchin
Contact Email
aldzikra@radenintan.ac.id
Phone
+6281379788639
Journal Mail Official
aldzikra@radenintan.ac.id
Editorial Address
Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Al-Dzikra: Jurnal Studi Ilmu al-Quran dan al-Hadits
ISSN : 19780893     EISSN : 27147916     DOI : 10.24042
Core Subject : Religion, Education,
Al-Dzikra: Jurnal Studi Ilmu al-Quran dan al-Hadits [ISSN 2714-7916] is peer-reviewed journal dedicated to publish the scholarly study of Quran and Hadits from many different perspectives. Particular attention is paid to the works dealing with: Quranic and Hadits Studies, Quranic and Hadits sciences, Living Quran and Hadits, Quranic and Hadits Studies accros different areas in the world (The Middle East, The West, Archipelago and other areas), Methodology of Qur’an, Tafsir and Hadits Studies. Publishes twice in a year [June and December]. by Quranic and Tafsir studies Programme at Ushuluddin Faculty, UIN Raden Intan Lampung.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 149 Documents
A Portrait of the Nineteenth-Century Nusantara Ulema Network in Haramain (Transmission of Shaykh Mahfudz At-Tarmasi's Tafsir-Hadith in Kifāyat Al-Mustafīd) Ghozali, Abdul Malik
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 18 No 2 (2024)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v18i2.23839

Abstract

AbstractThe existence of isnad, or the transmission of the chain of narrators, is inseparable from the emergence of the Prophetic traditions. However, it turns out that in its development, isnad has been used to maintain the authenticity of the material of the Prophetic traditions and the scientific tradition's authenticity. Scholarly isnads grew rapidly among Muslim scholars, especially in the Middle East, in transferring knowledge among their communities. Not surprisingly, scholarly transmission became a 'benchmark' among scholars. Besides that, scholarly transmission became a portrait of the network built among the Nusantara scholars who studied in the Middle East, not spared the influence of this scientific transmission. Among them are Shaykh Muhammad Mahfudz at-Tarmasi, a scholar who lived in the 19th century, has multi-talents from Termas village, Pacitan, East Java, has immortalized his scientific transmission in a work “Kifāyat al-Mustafīd Lima 'Alā min al-Asānīd”.This study aims to reveal the network of Nusantara scholars at the time of Shaykh Mahfudz at Haramaian and the implications of ideological transformation and scientific legality through scientific transmission. This research uses a content analysis method with a historical approach and Rijal al-had science. The results of this study prove that the scientific sanad illustrates the network of Ulama in his time and the transformation of ideas among them through access to scientific transmission in addition to scientific legitimacy.Keywords: Isnad; Knowledge; Mahfudz Tarmasi; Network Transmission. AbstrakKeberadaan Isnad atau transmisi mata rantai perawi tidak dapat dipisahkan dari kemunculan hadis-hadis Nabi. Namun ternyata, dalam perkembangannya, isnad tidak hanya digunakan dalam menjaga otentisitas materi hadis-hadis Nabi SAW, tapi sudah digunakan untuk menjaga otentisitas tradisi keilmuan yang telah terbangun. Isnad keilmuan tumbuh pesat di kalangan sarjana-sarjana muslim, khususnya di Timur Tengah dalam mentransfer keilmuan di antara komunitas mereka. Tidak heran, transmisi keilmuan menjadi suatu ‘benchmark’ di kalangan para ulama. Bukan hanya itu, transmisi keilmuan menjadi potret jaringan yang telah terbangun di kalangan para ulama Nusantara yang belajar di Timur Tengah, tidak luput dari pengaruh transmisi keilmuan ini. Di antaranya Syaikh Muhammad Mahfudz at-Tarmasi, seorang ulama yang hidup pada abad XIX, memiliki multi talenta asal desa Termas, Pacitan, Jawa Timur, telah mengabadikan transmisi keilmuan yang dimilikinya dalam sebuah karya “Kifāyat al-Mustafīd Lima ‘Alā min al-Asānīd”. Penelitian ini bertujuan mengungkap jejaring Ulama Nusantara pada masa Syaikh Mahfudz di Haramaian dan implikasi transformasi ideologi serta legalitas keilmuan melalui transmisi keilmuan. Penelitian ini menggunakan metode content analysis dengan pendekatan sejarah dan ilmu rijal al-hadis. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa sanad keilmuan menggambarkan jejaring Ulama di masanya dan transformasi ide di antara mereka melalui akses transmisi keilmuan selain sebagai legitimasi keilmuan. Kata Kunci: Isnad; Jaringan; Knowledge; Mahfudz Tarmasi; Transmission.
Understanding the Kitab al-Kāfī by Abū Ja'far al-Kulainī: A Study of the Prophet's Will to 'Alī ibn Abī Ṭālib in Rauḍat al-Kāfī Jubaedah, Siti; Millah, Mus'idul; Burhani, Nasih
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 18 No 2 (2024)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v18i2.24323

Abstract

AbstractThis article discusses al-Ka>fi>, written by Abu Ja'far Al-Kulaini>, with an emphasis on studying the Prophet Muhammad’s will to ‘Ali>> ibn Abī Ṭālib found in the section Raudat al-Ka>fi>. As the third part of al-Ka>fi>, Raudat al-Ka>fi> consists of a collection of hadiths that cover various religious aspects, including the letters and sermons of the Imam, which have a different system compared to the previous two sections. This article highlights the importance of the Prophet's will in the context of leadership and the spiritual authority of ‘Ali>> by discussing key themes contained in the will, namely justice, wisdom, and social responsibility. This article offers a perspective on the influence of these teachings within the Shia hadith and their relevance in contemporary society. This analysis is expected to deepen understanding of al-Ka>fi>’s contribution to the development of Islamic thought and the significance of the relationship between the Prophet and ‘Ali>> in Islamic history.Keywords: al-Ka>fi>, Raud}at al-Ka>fi>, Will. AbstrakArtikel ini membahas kitab Al-Kāfī yang ditulis oleh Abū Ja‘far al-Kulainī, dengan penekanan pada studi wasiat Nabi Muhammad kepada ‘Alī ibn Abī Ṭālib yang terdapat dalam bagian Rauḍat al-Kāfī. Sebagai bagian ketiga dari Al-Kāfī, Rauḍat al-Kāfī terdiri dari kumpulan hadis yang mencakup berbagai aspek keagamaan, termasuk surat dan khutbah Imam, yang memiliki sistematika berbeda dibandingkan dua bagian sebelumnya. Artikel ini menyoroti pentingnya wasiat Nabi dalam konteks kepemimpinan dan otoritas spiritual ‘Ali>>. Dengan membahas tema-tema kunci yang terkandung dalam wasiat, seperti keadilan, kebijaksanaan, dan tanggung jawab sosial, artikel ini menawarkan perspektif tentang pengaruh ajaran tersebut dalam tradisi Syiah dan relevansinya dalam masyarakat kontemporer. Analisis ini diharapkan dapat memperdalam pemahaman tentang kontribusi Al-Kāfī terhadap pengembangan pemikiran Islam dan signifikansi hubungan Nabi dan ‘Ali>> dalam sejarah Islam. Kata Kunci: al-Ka>fi>; Raud}at al-Ka>fi; Wasiat.
Critical Criticism of the Interpretation of Usury by Al-Jashshash in Tafsir Ahkam al-Qur'an Mauluddin, Moh
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 18 No 2 (2024)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v18i2.24344

Abstract

AbstractTafsir Ahkam Al-Qur'an by Al-Jashshash is an important reference in understanding the laws related to usury in the Qur'an. Al-Jashshash, a 4th century Hanafi scholar, focuses on the interpretation of Qur'anic verses related to law, especially usury. This research aims to critically analyze Al-Jashshash' interpretation, including the arguments and proofs he used, and evaluate the criticisms by using a qualitative method with a literature study. In addition, this study also examines the relevance of Al-Jashshash' interpretation in the context of modern economics, especially regarding the concept of 'required addition' in the definition of usury, which emphasizes exploitation and injustice in financial transactions, and its implications for current Islamic financial practices. The results of this study show that his interpretation has been criticized, especially regarding methodological inconsistencies, fanaticism towards the Hanafi school, and inaccuracy of interpretation in several cases, especially the concept of 'required addition' in defining usury which has been debated, especially in the context of modern economics.Keywords: Al-Jashshash; Critique of Interpretation; Islamic Economics; Tafsir of the Rules of the Qur'an; Usury. AbstrakTafsir Ahkam Al-Qur'an karya Al-Jashshash merupakan rujukan penting dalam memahami hukum-hukum terkait riba dalam Al-Qur'an. Al-Jashshash, ulama mazhab Hanafi abad ke-4 Hijriah, fokus pada penafsiran ayat-ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan hukum, terutama riba. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara kritis penafsiran Al-Jashshash, termasuk argumen dan dalil yang digunakannya, serta mengevaluasi kritik-kritik tersebut dengan menggunakan metode kualitatif dengan studi kepustakaan. Selain itu, penelitian ini juga mengkaji relevansi penafsiran Al-Jashshash dalam konteks ekonomi modern, terutama terkait konsep 'tambahan yang disyaratkan' dalam definisi riba, yang menekankan pada eksploitasi dan ketidakadilan dalam transaksi keuangan, serta implikasinya terhadap praktik keuangan Islam saat ini. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penafsirannya menuai kritik, terutama terkait inkonsistensi metodologis, fanatisme terhadap mazhab Hanafi, serta ketidaktepatan penafsiran dalam beberapa kasus, terutama konsep 'tambahan yang disyaratkan' dalam mendefinisikan riba yang menuai perdebatan, terlebih dalam konteks ekonomi modern. Kata Kunci: Al-Jashshash; Ekonomi Islam; Kritik terhadap Tafsir; Riba; Tafsir atas Aturan-aturan Al-Qur'an.
Study Of Production Verses In Tafsir Al-Jailani Muhaini, Akhmad; Suwito; Khusnul Khotimah
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 19 No 1 (2025)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v19i1.24772

Abstract

This research is entitled Study of Production Verses in Tafsir Al-Jailani which aims to reveal how Tafsir Al-Jailani understands the verses related to the concept of production in Islamic perspective. The problems studied include tafsir's understanding of the spiritual, ethical, and technical aspects of production, as well as its relevance in building production principles that are just and blessed. This research uses a qualitative method with a literature study approach. Tafsir Al-Jailani is used as the main source, supported by the study of production theory in Islam and other tafsir literature to provide a more comprehensive analysis. The data were analyzed using thematic method to identify the main message of the verses related to production and its contribution to Islamic economic theory. The results show that Tafsir Al-Jailani emphasizes the importance of straight intention, honesty, and hard work in production activities. Production is understood not only as an economic activity, but also an act of worship that must fulfill the principles of justice and sustainability. This interpretation also offers an in-depth view of the importance of paying attention to the balance between worldly and ukhrawi needs in the production process.
Hadith Delivery Method by Khatib During the Friday Prayer at Bandar Lampung Jami’ Mosque Ikhwani, Ahmad; Zaki, Muhammad
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 19 No 1 (2025)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v19i1.25881

Abstract

Abstract The Prophet Muhammad’s hadiths are a type of revealed evidence (dalil naqli) that are often conveyed by khatibs in their sermons. As the most noble words after the Qur’an, hadiths must be delivered correctly and appropriately. Hadith scholars have established proper manners and procedures for delivering hadiths, such as the requirement to recite them fluently, adhere to the original text, translate and explain their meanings, and mention both the source and authenticity of the hadith. This study aims to examine the ways or methods used by Friday khatibs in delivering hadiths. The research was conducted on Friday khatibs at jami’ mosques located in the Bandar Lampung area. This is a field study. The researcher conducted surveys at several jami’ mosques in Bandar Lampung to observe and listen directly to how the khatibs deliver hadiths, including their fluency in reciting the hadith, accuracy in translating it, explanation based on correct understanding, and mention of the hadith’s source and authenticity. The evaluation criteria were rated on a scale of good, moderate, and poor. The research findings concluded that, in terms of fluency and translation, most khatibs were rated as good. However, in terms of understanding and explaining the hadith, only some khatibs received good ratings. As for mentioning the source and authenticity of the hadith, it was generally found to be very lacking. Keywords: Hadith; Jami’ Mosque; Khatib; Riwayat.   Abstrak Hadis Nabi saw merupakan dalil naqli yang sering disampaikan para khatib dalam khotbahnya. Sebagai perkataan mulia setelah Alquran, hadis harus disampaikan secara baik dan benar. Ulama hadis sudah menyusun adab dan tata cara penyampaian hadis seperti harus fasih, sesuai teks asli, diterjemahkan dan dijelaskan maknanya, menyebutkan sumber dan kualitas hadis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui cara atau metode khatib Jumat dalam penyampaian hadis. Penelitian dilakukan terhadap khatib Jumat di masjid-masjid jami’ yang terdapat di wilayah Kota Bandar Lampung. Penelitian ini adalah penelitian lapangan. Peneliti melakukan survey ke beberapa masjid jami’ di wilayah Kota Bandar Lampung untuk melihat dan menyimak langsung aktivitas penyampaian hadis oleh para khatib, meliputi kefasihan menyebutkan hadis, ketepatan menerjemahkan hadis, menjelaskan hadis berdasarkan pemahaman yang benar, penyebutan sumber periwayatan  dan kualitas hadis. Standar penilaian tersebut akan diberi mutu atau skala penilaian baik, sedang, dan kurang. Hasil penelitian menyimpulkan, dalam hal kefasihan dan penerjemahan hadis para khatib umumnya sudah dinilai baik. Dalam hal pemahaman dan penjelasan hadis hanya sebagian khatib yang nilainya baik. Adapun berkaitan dengan penyebutan sumber riwayat dan kualitas hadis pada umumnya masih sangat kurang. Kata Kunci: Hadis; Khatib; Masjid jami’; Riwayat
Codicological and Intertextuality Study of the Manuscript of Arba’īn Ḥadīthan Tata'alaq bi Sūrah al-Ikhlāṣ by Yūsuf ibn ‘Abdullāh al-Armayūnī Azzahra, Annisa Fitri; Novizal Wendry; Yulfira Riza
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 19 No 1 (2025)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v19i1.26126

Abstract

Arba'īn Ḥadīṡan Tata'alaq bi Sūrah al-Ikhlāṣ merupakan sebuah manuskrip karangan Yūsuf bin 'Abdullāh al-Ḥusainī al-Armayūnī yang memuat hadits-hadits tentang keutamaan membaca Surah al-Ikhlas. Penelitian ini diawali dengan memaparkan tinjauan seluk-beluk manuskrip atau kodikologi. Kemudian analisis intertekstualitas hadits dalam manuskrip tersebut disertai dengan analisis kutipan hadits Nabi yang kurang lengkap sehingga tidak memenuhi kaidah penulisan hadits yang telah disepakati mayoritas ulama. Dalam penelitian ini juga akan dipaparkan hasil takhrīj dan penelusuran kualitas hadits. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan pengumpulan data melalui studi pustaka. Penelusuran hadis dilakukan dengan metode takhrīj al-ḥadīṡ melalui lafal atau kata (bi al-Lafẓi) dalam hadis matan. Dari hasil penelitian diketahui bahwa naskah ini merupakan naskah berbahasa Arab yang ditulis di atas kertas berwarna coklat. Terdapat rubrikasi dan parafrasa dalam naskah tersebut. Kondisi naskah ini kurang lengkap pada bagian akhir. Hal ini diketahui karena naskah ini hanya memuat 21 hadis dan terdapat interjeksi yang merujuk pada kalimat berikutnya. Hadis-hadis dalam naskah ini terkait dengan kitab-kitab yang ditulis oleh Jalāluddīn al-Suyuṭi. Hal ini dapat terjadi karena periwayatannya yang bersifat ilmiah. Dari 21 hadits dalam manuskrip Arba'īn Ḥadīṡan Tata'alaq bi Sūrah al-Ikhlāṣ, diketahui hanya 2 hadits yang berkualitas ṣaḥiḥ, 17 hadits yang berkualitas ḍa'īf dan 2 hadits yang dinilai sebagai hadits ḍa'īf bahkan maudū'.Kata Kunci: Naskah Hadits; Hadits Arba'in; Kodikologi; Intertekstual; Surah al-Ikhlas. 
A New Civilization After Noah's Flood: An Exploration of the Development and Spread of Descendants to Three Continents in History and the Qur’an Zulfikar, Zaky Zimmatillah; Fadhlurrahman, Zulfi; Bima Rahman Hakim
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 19 No 1 (2025)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v19i1.26864

Abstract

Abstract The story of Noah's Ark is one of the most extensively studied historical narratives by researchers. Available literature remarkably envelops this tale, making it a phenomenal account. However, some texts conclude the narrative of Noah's Ark as soon as the great flood subsides. This has sparked significant curiosity among many. Therefore, this research aims to explore and analyze Noah's condition after the ark landed, what transpired after the great flood ended, who was on board the vessel, whether any humans survived outside Noah's Ark. These points form the core discussion and distinguish this study from previous research. The methodology employed in this study is a literature review, involving in-depth reading and analysis of the events surrounding Noah's Ark, Noah's descendants, and their subsequent dispersion. The findings of this research indicate that Noah's descendants spread across three major continents, becoming the pivotal transition point for civilization from the era of Adam. Keywords: Ark; Civilization; Noah; Transmission.   Abstrak Kisah Bahtera Nuh adalah salah satu cerita sejarah yang paling banyak dikaji oleh para peneliti. Literatur yang tersedia membungkus kisah ini dengan cara yang sangat menakjubkan, menjadikannya salah satu narasi fenomenal. Beberapa literatur hanya mengakhiri penceritaan Bahtera Nuh sampai air bah yang besar surut. Hal ini menimbulkan rasa ingin tahu yang besar bagi sebagian orang. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplor dan menganalisis bagaimana keadaan Nuh setelah bahtera mendarat, apa yang terjadi setelah air bah besar berakhir, siapa saja yang berada di dalam kapal, dan apakah ada manusia yang selamat di luar Bahtera Nuh, menjadi pokok bahasan sekaligus menjadi pembeda dari penelitian sebelumnya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kajian Pustaka, yaitu dengan membaca dan menganalisis peristiwa bahtera Nuh, keturunan Nuh dan penyebaran keturunan Nuh secara mendalam. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penyebaran keturunan Nuh menyebar ke tiga benua besar dan menjadi kunci transisi peradaban dari peradaban Adam. Kata Kunci: Bahtera; Nuh; Peradaban; Penyebaran.
LIFESTYLE CREEP DALAM TINJAUAN HADIS PERINTAH HIDUP SEDERHANA Nisa, Nabila Khairun; Hasanah, Uswatun Hasanah; Almunadi, Almunadi
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 19 No 1 (2025): Al-Dzikra: Jurnal Studi Ilmu al-Qur'an dan al-Hadits
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v19i1.27117

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk membahas lifestyle creep dalam tinjauan hadis perintah hidup sederhana. Lifestyle creep merupakan suatu kecenderungan individu untuk meningkatkan gaya hidup seiring dengan meningkatnya pendapatan. Dalam perspektif hadis ajaran tentang hidup sederhana menjadi landasan penting dalam mengatasi masalah ini dengan menekankan bahwa kesederhanaan dalam hidup membawa kebahagiaan, ketenangan jiwa, dan mendorong fokus pada nilai-nilai spiritual dan sosial. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian library research untuk menganalisis hubungan antara lifestyle creep dan ajaran hadis mengenai hidup sederhana. Temuan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa lifestyle creep tidak sepenuhnya dilarang. Karena perubahan gaya hidup yang dipengaruhi oleh kebutuhan teknologi dan perkembangan sosial budaya akan terus meningkat mengikuti zaman. Namun jika perubahan gaya hidup sudah melebihi batas kemampuan dan membawa pada gaya hidup konsumtif maka akan menimbulkan dampak negatif. Oleh karena itu prinsip hidup sederhana dalam Islam tetap penting diterapkan untuk membantu individu mengelola keuangan dengan bijak. Kesederhanaan dalam hadis bukan perintah yang mutlak akan tetapi ajaran supaya dapat menyesuaikan diri dari lingkungan sosial dan budaya. Perintah berpakaian sederhana dalam hadis bertujuan untuk menjaga kesederhanaan sebagai bentuk syukur atas kenikmatan Allah Swt serta sebagai bentuk toleransi sosial bukan untuk menunjukkan kemiskinan atau perilaku berlebihan.AbstractThis research aims to discuss lifestyle creep in the review of the hadith command to live simply. Lifestyle creep is an individual's tendency to improve their lifestyle along with increasing income. In the perspective of the hadith, the teachings about living simply become an important foundation in overcoming this problem by emphasizing that simplicity in life brings happiness, peace of mind, and encourages focus on spiritual and social values. This study uses a qualitative method with a library research type to analyze the relationship between lifestyle creep and the teachings of the hadith about living simply. The findings in this study indicate that lifestyle creep is not completely prohibited. Because lifestyle changes influenced by technological needs and socio-cultural developments will continue to increase with the times. However, if lifestyle changes exceed the limits of ability and lead to a consumptive lifestyle, it will have a negative impact. Therefore, the principle of living simply in Islam remains important to apply to help individuals manage their finances wisely. Simplicity in the hadith is not an absolute command but a teaching to adapt to the social and cultural environment. The command to dress simply in the hadith aims to maintain simplicity as a form of gratitude for the blessings of Allah SWT and as a form of social tolerance, not to show poverty or excessive behavior
Human Resource Development as a Strategy to Face Environmental Change: A Thematic Interpretation Study of the Qur’an Suhendar, Otong
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 19 No 1 (2025)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v19i1.27897

Abstract

Abstract This article aims to explain the strategy offered by the Qur’an in dealing with environmental change through the development of human resources. The method used in writing this article is the thematic method with a literature review, and it is qualitative. The results of the study show that the Qur’an provides solutions and guidance for humans in facing environmental changes, which, if applied in life, will enable them to adapt well. At least four approaches can be taken from the indications of the Qur’anic verses in this matter: strengthening spirituality, using reason and intellect to the fullest, enhancing environmental education, and developing skills. Keywords: Adaptation; Environmental Change; Human Resource Development.   Abstrak Artikel ini bertujuan untuk menguraikan tentang strategi yang ditawarkan Al-Qur’an dalam menghadapi perubahan lingkungan melalui pengembangan sumber daya yang dimiliki manusia. Adapun metode yang dipakai dalam penulisan artikel ini adalah metode tematik dengan kajian pustaka serta bersifat kualitatif. Hasil kajian menunjukkan bahwa Al-Qur’an memberi solusi dan petunjuk bagi manusia dalam menghadapi perubahan lingkungan, yang jika diaplikasikan dalam kehidupan akan mampu beradaptasi dengan baik. Setidaknya ada empat tawaran yang dapat diambil dari isyarat ayat-ayat Al-Qur’an dalam hal ini, yaitu penguatan spiritualitas, penggunaan akal dan nalar secara maksimal, penguatan edukasi lingkungan dan pengembangan keterampilan. Kata Kunci: Adaptasi; Pengembangan SDM; Perubahan Lingkungan.
Contextualization of Sunnah Ghairu Tasyri’ in the Perspective of Yusuf Al-Qardhawi Alamsah, Johan; Anggun Puspita Ningrum
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 19 No 1 (2025)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v19i1.27898

Abstract

Abstract This research focuses on the perspective of Yusuf al-Qaradawi regarding sunnah ghairu tasyri', particularly the practice of eating with three fingers in the context of modern life. The writer uses a qualitative method with the analytical-descriptive approach to explore how Yusuf al-Qaradawi differentiates between sunnah related to Islamic law and those that are not. In developing the concept of hadith ghairu tasyri', this study emphasizes that sunnah is not limited only to matters of Islamic law but also has implications for ethics and morality. The importance of contextualizing the hadith about eating with three fingers lies in its key to understanding religious teachings within social, cultural, and contemporary settings. This helps to avoid extreme interpretations and highlights that hadith content should not be understood merely in a literal sense. Furthermore, this study underlines the educational values contained within it and points out the significance of the Sunnah as a guiding universal principle. The results of this research show that Yusuf al-Qaradawi's understanding of sunnah ghairu tasyri', especially regarding the hadith on eating with three fingers, reflects values such as patience, avoiding greed, and training in carefulness. In today's Islamic world, Yusuf al-Qaradawi's view on sunnah ghairu tasyri' encourages us to pursue broader knowledge without abandoning or being overly bound by traditions from the past. Keywords: Ghairu Tasyri’; Sunnah; Yusuf Al-Qaradawi.   Abstrak Penelitian ini berfokus pada perspektif Yusuf al-Qaradhawi tentang sunnah ghairu thasri’ khususnya praktik makan dengan tiga jari dalam konteks kemodernan. Penulis menggunakan metode kualitatif dan deskriptif analitis untuk mengeksplorasi bagaimana Yusuf al-Qaradhawi membedakan antara sunnah yang berkaitan dengan hukum syariah dan yang tidak. Dalam menyempurnakan konsep hadits ghairu tashri’, penelitian ini menekankan bahwa sunnah tidak hanya terbatas pada hukum syariah saja namun juga berimplikasi pada etika dan moralitas. Pentingnya mengkontekstualisasikan hadis tentang makan dengan tiga jari menjadi kunci untuk memahami ajaran agama dalam konteks sosial, budaya, dan kekinian untuk menghindari penafsiran yang ekstrim dan mengakui bahwa isi hadis tidak boleh dipahami hanya secara harfiah. Lebih lanjut, kajian ini menekankan nilai-nilai pendidikan yang tertanam di dalamnya dan menggarisbawahi pentingnya sunnah sebagai prinsip pedoman universal. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa sunnah ghairu tasyri Yusuf Qordhowi khususnya terhadap hadits makan tiga jari menunjukkan adanya nilai-nilai kesabaran, menghindari sifat tamak dan melatih skill ketelitian. Kemudian dalam dunia Islam Kontemporer, sunnah ghairu tasyri Yusuf Qordhowi mendorong kita untuk memamahami ilmu yang lebih luas tanpa meninggalkan dan terpaku pada tradisi masa lalu. Kata Kunci: Ghairu Tasyri’; Sunnah; Yusuf Al-Qaradhawi.